» » Karbit untuk Membangun Karakter Anak di Sekolah

Karbit untuk Membangun Karakter Anak di Sekolah

Penulis By on Monday, April 10, 2017 | No comments




Oleh : Salim Abu Hanan

Mungkin istilahnya saja yang belum akrab. Tetapi karena cara ini cukup efektif dalam mendukung terbangunnya karakter pada anak, maka perlu kita paparkan. “Karbit” adalah istilah untuk “Lingkar Bimbingan Tauhid”.

Pada dasarnya konsep Islam tentang pendidikan, bertujuan untuk memelihara fitrah manusia, mewariskan nilai-nilai, dan pembentukan manusia seutuhnya insān kāmil yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan hadits. Untuk itulah manusia dibekali dengan akal pikiran agar dapat menciptakan metode pendidikan yang dinamis, efektif dan dapat mengantarkan pada kebahagiaan hidup dunia-akhirat.

Tujuan Karbit adalah untuk menanamkan nilai-nilai tauhid kepada anak didik. Bukankah di kelas regular sudah ada pelajaran Tauhid atau Keimanan? Benar. Tetapi dalam Karbit, tauhid tidak disajikan sebagai bahan ajar formal. Tauhid bukan untuk didalami materinya melainkan untuk dijiwai agar menjadi dasar aktifitas atau kegiatan hidup sehari-hari.

Karbit bukan diorientasikan untuk transfer of knowledge melainkan lebih dititik beratkan sebagai pendukung character building. Karena pada prinsipnya ada tiga hal yang penting dalam membangun karakter, yaitu (1) pembiasaan atau pengulangan, (2) keteladanan, dan (3) keyakinan. Pada sisi keyakinan inilah Karbit diperankan. Yaitu untuk mendasari dan sekaligus mengikat karakter yang sedang dibentuk. Dengan adanya dasar dan ikatan ini, maka karakter yang telah dibangun di sekolah tidak mudah luntur ketika menghadapi benturan nilai di luar sekolah, atau pada sekolah yang baru.

Karbit dilaksanakan dengan tidak mengambil jam pelajaran. Misalnya 10 menit menjelang jam pertama, atau 15 menit sehabis anak melaksanakan dzuhur berjamaah. Setiap kelompok Karbit terdiri seorang guru dan beberapa murid. Maksimal 10 murid. Murid duduk melingkar di  hadapan guru.

Jumlah murid harus dibatasi dengan maksud; lingkaran duduknya kecil sehingga guru tidak perlu berbicara keras, komunikasi lebih intensif, sikap murid mudah dikontrol, lebih mudah menselaraskan hati, dan dalam sebuah masjid bisa dipakai beberapa kelompok Karbit. Guru tidak perlu berbicara keras atau menekan, melainkan bisa berbicara dari hati ke hati. Menyentuh hati murid sehingga murid terlibat secara mental.

Materi yang disajikan bisa mengambil materi PAI berdasarkan kurikulum yang digunakan, tetapi bisa juga materi lain, misalnya hadits-hadits pilihan, kisah nabi, para sahabat nabi, dan  para pejuang  Islam.

Sebenarnya Karbit bukan merupakan hal yang baru. Sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam telah dikembangkan dalam mendidik dan mengkader para shahabatnya. Demikian juga di tanah air yang kemudian berkembang menjadi majelis taklim. Terbukti cara ini cukup efektif dalam membangun masyarakat.

Di sekolah? Sekolah terlalu padat materi. Serba formalitas sehingga sulit untuk menembus hati. Anak menguasai materi sampai pemahaman, tidak mudah hingga tingkat internaisasi. Di sinilah pentingnya Karbit dikembangkan di sekolah.

Sistem halaqah tidak hanya dilaksanakan pada zaman Nabi. Tetapi sejarah membuktikan efektifnya cara ini yang dikembangkan oleh para ulama dan habaib oleh masyarakat Betawi di Jakarta. Halaqah dan majelis taklim telah menjadi dasar yang tak lapuk oleh zaman dalam mempertahankan eksistensi agama Islam di tengah masyarakat Betawi.

Christiaan Snouck Hurgrounje, yang pernah disebut-sebut sebagai orientalis paling berhasil di dunia, mencatat, masyarakat Betawi adalah penduduk pribumi yang paling lama dan paling erat berinteraksi dengan bangsa Eropa.

Lebih jauh Snouck mengatakan, tidak ada satu kampung pun di Jawa yang lebih taat beragama Islam dalam setiap tingkah lakunya daripada Betawi, dan agama Islam di Betawi lebih maju dari daerah lain. Dalam makalahnya, Khazanah Jakarta Menghadapi Tantangan Zaman, K.H. Saifuddin Amsir menguraikan, gambaran Snouck ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat mengerti kultur masyarakat di Indonesia dan bahwa kultur keagamaan di Betawi sudah begitu kuat sejak zaman penjajahan dulu.

Penulis: Salim Abu Hanan, Pimpinan Madin Saqura (Sahabat Al Qur’an) Sleman
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya