» » Pemimpin Mengayomi, Bukan Membuat Rakyat Tersisih

Pemimpin Mengayomi, Bukan Membuat Rakyat Tersisih

Penulis By on Wednesday, April 12, 2017 | No comments



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Al-Walid bin Hisyam berkata, ”Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin." Maka baik tidaknya pemimpin akan sangat menentukan seperti apa rakyat ini akan berubah; kepada yang lebih baik ataukah menuju pada keburukan dan kerusakan. Pemimpin yang baik, amanah dan akhlaknya mulia dapat menjadi cerminan bagi anak-anak yang sedang bertumbuh berkembang membentuk dirinya. Mereka menemukan sosok yang layak dianut.

Siapakah pemimpin yang baik itu? Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan kepada Al-Mughirah bin Syu'bah bin Abi Amir ats-Tsaqafi tatkala mengangkatnya sebagai gubernur Kufah, “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu.”

Inilah ukuran minimal seorang pemimpin yang baik; pemimpin yang amanah. Jika sebuah negeri di bawah pengelolaan pemimpin yang baik, maka orang-orang jahat akan mencegah dirinya dari melakukan kejahatan besar, terlebih secara terbuka. Mereka jauh lebih berhati-hati karena takut terhadap ketegasan pemimpin dalam menegakkan hukum dan kegesitannya dalam mengurai persoalan. Sementara orang-orang baik akan bergembira dengan hadirnya pemimpin yang amanah karena wilayah itu akan lebih mudah menghidupkan kebaikan dan kesantunan. Akhlaqul karimah lebih hidup di masyarakat.

Apa yang akan terjadi jika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang buruk akhlak dan fazhzhan (buruk perkataan kotor ucapan)? Pertikaian mudah merebak dan permusuhan antar sesama banyak terjadi. Terlebih jika keduanya diiringi dengan kezaliman yang menandakan hilangnya keadilan, culasnya hakim dan bermunculannya ulama su'.

Ingatlah perkataan 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, ’Seorang yang amanah tak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanah, maka wajarlah jika ia berkhianat’.”

Akan tiba suatu masa ketika amanah hilang dan muncullah para penjilat yang mengumbar pujian kepada seorang pemimpin padahal tidak ada kepatutan padanya, bahkan sangat jauh dari keimanan. Mereka berlomba mendekat, berlomba memuji untuk mengambil hati dan mendapatkan dunia yang hanya setetes ini. 

Mereka menjilat dengan kalimat pujian:
مَا أَجْلَدَهُ! مَا أَظْرَفَهُ! مَا أَعْقَلَهُ! وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ.

‘Sungguh kuat! Sungguh cerdas! Dan sungguh cerdik!" Sementara tidak ada keimanan seberat biji sawi pun. (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah masa yang perlu kita khawatiri. Semoga keadaan itu belum ada di zaman kita sekarang. Inilah masa ketika banyak musibah yang datang slih berganti. Dan di saat itu, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah munculnya imam yang menyesatkan; karena kebodohannya sehingga tidak dapat memberikan petunjuk yang benar, karena keruhnya akal mereka sehingga mengingkari ilmunya demi memenangkan hawa nafsunya, atau karena mereka telah berlumur syubhat.

Dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan." (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Inilah masa ketika berbagai keburukan bertemu; zalimnya penguasa, buruknya sebagian ulama dan merajalelanya kemasiatan.

Jika keburukan semakin meluas, kerusakannya kian sempurna dan para ulama pun banyak yang larut dalam kemungkaran itu, maka Allah Ta'ala akan halalkan bencana buat mereka.

Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan merajalela.” (HR, Al-Bukhari).

Semoga masa ini belum tiba. Dan sekiranya kita menjumpai masa semacam ini, semoga Allah Ta'ala melindungi kita dari ikut terjatuh pada kemungkaran yang sangat besar. Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita dari fitnah-fitnah yang mencekam.

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, penulis buku dan pakar parenting 
Foto: google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya