Puasa Sehat untuk Anak

Oleh: dr. Nurlaili Muzayyanah, Sp.A, M.Sc.

Ramadhan ceria hadir kembali. Anak-anakpun bersuka cita menyambutnya. Bagaimana agar anak-anak kita tetap sehat selama bulan Ramadhan, dan mengenalkan ibadah puasa tetap berjalan dengan menyenangkan?

Penting untuk menghadirkan suasana menyenangkan dan berkesan untuk anak ketika melatih mereka berpuasa. Berpuasa dengan niat mencari Ridho Allah Ta'ala dan kenapa kita wajib puasa bisa didialogkan bersama anak dengan bahasa yang mereka pahami.

Agar mereka kuat, tetap sehat dan tetap ceria, bisa bermula dari makan sahur yang diakhirkan waktunya menjelang shubuh. Selain sunnahnya begitu, efek untuk kesehatan dan daya tahan tubuh lebih terasa. Menu sahur untuk anak sebaiknya mengandung nutrisi lengkap (karbohidrat, protein,lemak, dan serat). Menu lengkap ini akan mempertahankan rasa kenyang, sehingga anak tidak mudah lapar dan lemas.

Di siang hari, ajak anak-anak untuk tetap beraktifitas seperti biasanya. Arahkan dengan kegiatan dan permainan  yang menyenangkan tapi tidak melelahkan. Hindari menonton televisi, bermain game atau internet. Permainan fisik tapi bukan yang menguras energi bisa dilakukan. Bermain bersama teman, pergi ke masjid atau jalan-jalan di sekitar tempat tinggal bisa jadi alternatif yang menyenangkan.

Ketika berbuka usahakan dengan menu yang membangkitkan energi dan selera. Kurma, kolak, manisan buah, dan lainnya, bisa jadi makanan pembuka sebelum makan besar. Penting untuk menyajikan variasi makanan dalam rasa dan bentuk saat buka dan sahur. Hindari makanan pedas, asam dan bersoda saat berbuka maupun sahur untuk anak. Jangan lupa dorong anak untuk minum yang cukup saat sahur, berbuka, dan malam hari,untuk mencegah kurang cairan.

Jam tidur anak selama ramadhan bisa diatur dan sesuaikan. Jangan tidur terlalu malam agar mudah dibangunkan makan sahur, dan tidur di siang hari secukupnya. Usahakan agar anak tidak tidur setelah sahur dan shalat shubuh. Pola tidur yang baik, cukup dan tepat, bukan tidur yang berlebihan akan membuat anak tetap segar dan tidak merasa lemas. Tentu perlu contoh dan teladan dari orangtua.

Latihan berpuasa bisa disesuaikan dengan usia dan kondisi anak. Anak usia 5-6 tahun latihan puasanya bisa setengah hari saja. Setelah di atas 6 tahun bisa puasa satu hari penuh.

Jangan lupa untuk menyisipkan do'a yang tulus untuk anak-anak pada waktu yang mustajabah selama Ramadhan. Agar mereka jadi anak sholeh-sholehah, qurrata a'yun, cerdas dan sehat selalu.


Penulis: dr. Nurlaili Muzayyanah, Sp.A, M.Sc.
Foto: https://hellosehat.com

Menyiapkan Pasangan untuk Anak Kita


Oleh: Mahmud Thorif

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim).

Tentulah Sabda Rasulullah SAW masih berlaku sepanjang masa, tidak akan kadaluarsa sampai dunia ini sirna. Memilih calon pasangan hidup tentulah setiap manusia mempunyai kriteria sendiri-sendiri. Ada yang ngotot harus mendapat pasangan satu suku, ada yang kriterianya harus sarjana, ada juga yang memilih pasangan harus rupawan, harus kaya, harus punya jabatan, dan lain sebagaianya. Itulah manusia, tentu itu sah-sah saja.

Melihat Sabda Rasulullah SAW tentang kriteria memilih pasangan ini, ada 4 macam tipe calon pasangan kita. Yang pertama adalah memilih pasangan karena hartanya, artinya calon pasangan ini harus kaya, banyak harta. Rasulullah SAW tidak merekomendasikan kriteria calon pasangan yang berharta ini. Kita semua paham, banyak atau sedikitnya harta sesungguhnya tidak menjamin seseorang bahagia. Banyak contoh-contoh keluarga yang dibangun dengan harta berlimpah namun mereka hampa. Ini biasanya menimpa keluarga para artis. Kurang apa sih keluarga para artis ini? Harta benda, rumah, kendaraan bisa dengan mudah mereka dapatkan. Namun banyak mereka terlal u sering berganti pasangan.

Kedua adalah memilih pasangan karena kedudukannya. Jika tidak seorang direktur maka ia mundur teratur, jika bukan pejabat maka ia tolak. Lagi-lagi Rasulullah SAW tidak merekomendasikan memilih pasangan karena kedudukan ini. Karena ukuran bahagia bukan karena ia menjadi suami/istri direktur, ukuran bahagia bukan karena menjadi suami/istri pejabat. Bukan. Jika ukuran bahagia karena kedudukan ini, tentulah keluarga yang beristri/suami para pejabat akan langgeng selamanya. Nyatanya, banyak dari mereka umur pernikahannya tidak berlangsung lama. Jabatan mereka tidak bisa membangun bahtera keluarga menjadi bahagia.

Ketiga adalah memilih pasangan karena parasnya, karena rupawannya, karena kecantikan/ketampanannya. Penulis yakin, sebagian besar manusia memilih kriteria ini. Karena cantik/tampan adalah hal yang pertama dilihat. Jika pandangan pertama hati sudah bergetar karena melihat rupawannya, maka biasanya ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Lagi-lagi Rasulullah SAW tidak merekomendasikan kriteria ini. Kebahagiaan pasangan suami istri tidak hanya dinilai dari paras yang rupawan. Bagaimana jika umur sudah bertambah, di mana kecantikan/ketampanan akan luntur termakan usia? Bagaimana jika usia yang semakin tua yang akan mengikis kecantikan/ketampanan pasangan kita? Apakah pasangan kita akan tidak mencari yang lebih cantik/tampan? Pasangan kita tidak mencari yang lebih muda?

Banyak sekali pasangan yang terlihat serasi karena tampan dan cantik, namun pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Tidak sedikit pasangan yang terlihat biasa-biasa saja, namun pernikahan mereka kekal selamanya.

Keempat adalah memilih pasangan karena agamanya. Inilah kriteria yang dirokemdasikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Namun sungguh, banyak pula manusia mengabaikannya. Padahal kalau ingin anak-anak kita menjadi penghafal Al-Quran, maka pilihlah suami/istri penghafal Al-Quran. Kalau menginginkan anak-anak kita menjadi shalih/shalihah, maka pilihlah suami/istri yang shalih/shalihah. Kalau menginginkan anak-anak kita berakhlak baik, maka pilihlah suami/istri yang berakhlak baik.

Bagaimana mungkin anak-anak kita cinta Al-Quran jika pasangan yang kita pilih bukan ahli Al-Quran. Bagaimana mungkin anak-anak kita shalih/shalihah, jika suami/istri yang kita pilih tidak pernah peduli dengan keshalihan. Bagaimana mungkin anak-anak kita berakhlak baik, jika suami/istri yang kita pilih justru sebaliknya, berakhlak buruk. Walau pernyataan ini tidak selamanya benar, namun sungguh, jika kita sudah berhati-hati dalam memilih calon pasangan sejak dini, resiko anak-anak kita buruk akan semakin kecil.

Banyak dari kita berpikiran, ah untuk agama bagaimana nanti saja, bisa belajar sambil jalan. Nanti juga akan dididik suami/istri kita dengan baik. Namun ternyata sungguh berat mendidik suami/istri. Sekadar untuk menyampaikan bahwa berjilbab itu sebuah kewajiban kepada istri yang telah kita pilih saja sangat berat. Mari pilihlah calon pasangan untuk anak-anak kita sejak sekarang! Agar kelak kita tidak merugi dan menyesal. Wallahu a’lam bishawab.


Penulis : Redaktur Majalah Fahma
Foto: google

Buta Bukan Penghalang Meraih Ilmu


Oleh: Asnurul Hidayati

Di antara orang buta, salah satunya adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Seorang sahabat Rasulullah.  Nama sebenarnya adalah Abdullah bin Umar bin Syuaraikh, ia berasal dari Suku Quraisy yang masih memiliki hubungan saudara dengan Khadijah binti Khuwalid. Ia adalah seorang tunanetra. Sudah sedari kecil matanya tidak bisa melihat.

Penduduk kota Mekkah mengenalnya sebagai orang yang rajin mencari ilmu. Kedekatan Ibnu Ummi Maktum kepada Rasulullah dan kesungguhannya untuk menghafal Al Quran sampai pada tingkat di mana dia tidak membiarkan kesempatan kecuali dia memanfaatkannya dan tidak menyia-siakannya.  Ketidaksempurnaan fisiknya tidak membuat semangatnya untuk belajar dan mencari ilmu luntur begitu saja. Modal ia mencari ilmu adalah pendengarannya. Apa yang didengarnya direkam baik-baik olehnya, sehingga ia mampu menyampaikan kembali apa yang telah didengarnya.

Suatu hari, semangatnya untuk berkeinginan belajar Al-Qur`an membawa ia pergi untuk mencari Rasulullah dengan maksud untuk meminta diajarkan Al-Qur`an oleh yang langsung menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril. Matanya yang tidak bisa melihat membuat ia kesulitan mencari Rasul. Namun berkat bimbingan Allah, ia berhasil menemukan Rasulullah lewat suara Rasul yang telah dihafal dengan baik olehnya.

Ketika itu, Nabi Muhammad Saw sedang sibuk berbicara dengan pemuka-pemuka kaum Quraisy, yakni Utbah bin Rabi`ah, Abu Jahal, Abbas bin Abdul Muthalib, Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf. Pembicaraan ini sedang dimanfaatkan baik-baik oleh Nabi, karena ini dianggap sebagai langkah strategis agar mereka mau memeluk agama Islam. Jika pemuka-pemuka tersebut masuk Islam, maka akan banyak pula pengikut-pengikut dari pemuka-pemuka tersebut yang akan masuk Islam.

Abdullah bin Ummi Maktum yang tidak melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Nabi tiba-tiba datang dan kemudian berkata, "Ya Rasul, ajarkanlah kepadaku Al-Qur`an, sebagaimana Allah mengajarkan Al-Qur`an kepadamu". Rasulullah yang sedang fokus dengan para pemuka Quraisy merasa terganggu dengan Abdullah bin Ummi Maktum, Beliau pun tidak mempedulikan permintaan Abdullah bin Ummi Maktum. Dengan bermuka masam, Nabi  berpaling darinya dan meneruskan pembicaraannya dengan para pemuka kaum Quraisy.

Setelah Rasulullah selesai berbicara  dan menyudahi perbincangan dengan mereka, beliau hendak pulang ke keluarga beliau. Tiba-tiba Allah Ta’ala menahan sebagian pandangannya. Beliau merasakan seolah-olah sesuatu menyentuh kepalanya.  Seketika itu pula Allah kemudian menegur beliau dengan mengirimkan wahyu kepadanya:
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun Orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran) sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)!. Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti." (QS. `Abasa : 1-16).

Sejak mendapatkan teguran dari Allah, setiap kali Rasul bertemu dengan Abdullah bin Ummi Maktum, maka Rasul memberikan tempat yang mulia baginya. Diutamakanlah Abdullah bin Ummi Maktum, ketika ia datang untuk meminta diajarkan Al-Qur`an, meskipun Rasulullah dalam keadaan sibuk sekalipun. Tidak heranlah jika beliau memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum, karena berkat dia, beliau mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah berupa teguran yang tegas.

Begitulah Abdullah bin Ummi Maktum, berkat semangatnya untuk mempelajari Al-Qur`an ditengah keterbatasan fisiknya ia menjadi dimuliakan oleh Rasul,  begitu pula  Allah yang juga memuliakannya.

Pembaca Fahma yang semoga dirahmati Allah, mengapa Allah dan Rasul-Nya sampai memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum?  Allah memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum  karena saat ia datang mencari ilmu, niatnya  hanya untuk menyucikan dirinya (dari dosa) dan mendapatkan pengajaran. Abdullah bin Ummi Maktum adalah seseorang yang sangat mencintai Alquran dan sunnah Nabi-Nya. Rasulullah ditegur  Allah Ta’ala lantaran mengedepankan para pembesar Quraisy daripada Abdullah bin Ummi Maktum. Bukan karena tidak menghormati Abdullah bin Ummi Maktum, akan tetapi beliau berharap kemaslahatan yang lebih besar.  Apabila para pembesar Quraisy ini memeluk Islam. Ternyata hal itu tidak tepat di sisi Allah dan Allah langsung meluruskan dan membimbing Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber : Mereka adalah Para Sahabat. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.

Penulis: Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul DIY

Anak-anak dan Media Sosial


Oleh : Tuswan Reksameja

Jaman sekarang, media sosial atau lebih terkenal dengan sebutan sosmed sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orangtua. Tidak heran, dalam satu keluarga hampir dipastikan ada 2, 3, atau 4 smartphone yang dimiliki.

Di sisi ekonomi, mungkin ini sebuah prestasi, karena nilai penjualan produk smartphone meningkat, penjualan paket pulsa dan data naik tajam, dan banyak lagi kegiatan ekonomi yang merasakan akibat banyaknya orang untuk bermedia sosial.

Tentulah ada dampak ketika smartphone ini diberikan secara bebas kepada anak-anak kita. Penulis mempunyai beberapa tetangga yang terlihat menfasilitasi anaknya yang berusia Sekolah Dasar (SD) dengan smartphone, sehingga ia sudah terbiasa dengan akun-akun seperti FB, instagram, twitter, dan tentu banyak lainnya. Penulis mencoba menelusuri akun twitter si anak tetangga ini, apa yang terjadi? Si anak yang masih usia SD itu mengikuti/follow dengan salah satu akun porno. Penulis yakin, orangtua si anak ini tidak tahu akan hal ini.

Nah, menfasilitasi anak usia sekolah dengan smartphone yang bisa mengakses apa saja dengannya ini tentu dampaknya sangat besar. Di lain sisi, tugas-tugas sekolah yang berkaitan dengan keinternetan bisa lebih mudah dan gampang, sehingga orangtua tidak perlu repot-repot mengantar ke warnet. Namun waspadalah dengan efek sosial lainnya, seperti cerita anak tetangga di atas.

Menarik, penulis pernah mendengar dari Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, salah satu motivator bidang parenting, bahwa anak-anak Beliau diperbolehkan memiliki smartphone saat sudah usia kuliah dan itupun dengan uang mereka sendiri. Ini tentu cara Beliau lebih berhati-hati dengan media sosial untuk anak-anak. Tentu cara Beliau ini bisa kita contoh untuk tidak mudah memberikan fasilitas smartphone kepada anak-anak kita.

Jika sudah terlanjur memberi fasilitas smartphone kepada anak-anak, mari untuk mengecek status media sosial mereka. Apa yang mereka perbincangkan, apa yang mereka sukai, siapa yang mereka ikuti, dengan siapa mereka berteman di dunia maya. Jika ada indikasi penyimpangan segera cari solusi terbaik bagi anak-anak kita tercinta.


Penulis : Pengamat dan Pegiat Media Sosial
Foto: Republika

Jika Si Kecil Sulit Makan


Oleh : dr Nurlaili Muzayyanah, M, Sc, Sp. A

Pernahkah ayah-bunda menghadapi si buah hati yang sulit makan atau bahkan tidak mau makan sama sekali? Pasti sebagian besar ayah-bunda pernah mengalaminya. Cemas dan galau jika si kecil menolak makan. Apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah sulit makan pada buah hati tercinta?

Langkah awal melacak penyebabnya. Adakah penyakit-penyakit yang diderita anak seperti batuk, pilek,diare,TB paru dan sebagainya. Tentu saja perlu konsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab sulit makannya.

Apabila anak sehat-sehat saja, mungkin ada yang salah pada saat ayah bunda melatih dan membiasakan anak mengenal makan. Misalnya usia 1 tahun mestinya anak sudah bisa makan menu keluarga (nasi,sayur,lauk), tetapi ternyata anak malah maunya makan bubur atau nasi tim.

Penyebab lain bisa saja anak sulit makan karena lingkungan yang tidak menyenangkan, misalnya trauma karena anak merasa dipaksa untuk makan.

Ada beberapa tips praktis untuk mengatasi si kecil yang sulit makan. Langkah pertama adalah dengan membuat  jadwal makan utama dan selingan yang teratur. Waktu pemberian makan tidak lebih dari 30 menit. Jangan menawarkan cemilan lain saat makan kecuali minum. Buatlah variasi menu yang disukai anak. Gula, garam, mentega, keju, protein dan aneka lauk pauk sudah boleh dikenalkan pada anak sejak usia 6 bulan.

Buatlah lingkungan yang menyenangkan (tidak boleh ada paksaan untuk makan). Jangab pula  ada distraksi (mainan, televisi, gadget) saat  makan.  Berikan makanan dalam porsi kecil. Bisa ditambah jika  anak sudah menikmati dan menghabiskan porsinya.

Dorong anak untuk makan sendiri. Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan
seperti menutupkan mulutnya, memalingkan kepala atau menangis, tawarkan kembali makanan secara  netral, tanpa memaksa. Jika dalam waktu 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, akhiri proses makan. Bisa dicoba lagi dalam suasana yang lebih nyaman. Jangan mengganti makanan anak dengan pemberian susu formula berlebihan karena membuat anak selalu kenyang dan semakin sulit mengenal proses akan yang benar.

Penting juga untuk diwaspadai jika anak sulit makan adalah komplikasi yang bisa terjadi seperti kekurangan gizi dan nutrisi, daya tahan tubuh menurun sehingga mudah sakit. Semuanya dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan buah hati tercinta.

Selamat berjuang ayah bunda. Semoga si kecil yang awalnya tidak mau makan dapat kembali ceria dan menyantap makanannya dengan lahap. Nyam...nyam..!

Penulis: dr Nurlaili Muzayyanah, M, Sc, Sp.A., Dokter Spesialis Anak di RS Jogja International Hospital Yogyakarta

Adab Terlebih Dahulu


oleh: Bagus Priyosembodo

Imam Malik rahimahullahu mengisahkan, “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’

Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’

Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu.

Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’

Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik,)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207,)


Belajar Efektif dan Menyenangkan


Oleh: Norhikmah

“Anak-anak hari ini insya Allah setelah apel pagi kita akan belajar samil bermain. Kalian lihat apa yang bu guru pegang?” Kata bu guru sambil memegang paku dan kawat. “Paku dan kawat, bu guru.” Jawab anak-anak serempak dengan antusias. Di raut wajah mereka sangat jelas terlihat rasa penasaran dan keingintahuan mereka (untuk apa benda-benda itu?). 

Menit berikutnya, rasa penasaran mereka terjawab setelah bu guru mengatakan, “Gedung sekolah kita baru selesai dibangun. Tentu masih banyak paku dan kawat di sekitar sini, sisa pembagunan gedung. Hari ini kita bersama-sama menyingkirkannya supaya ketika bermain anak-anak terhindar dari paku dan kawat, tidak terluka.” Setelah berkata begitu, bu guru membubarkan apel pagi itu. Dan langsung mendampingi anak-anak melakukan pembelajaran menyingkirkan benda berbahaya.Kebetulan pagi itu saya dapat mendampingi putri saya, Aisyah, belajar. Aisyah dan temannya-temannya saat itu sangat senang melaksanakan tugas dari gurunya. Sampai matahari beranjak naik, haripun sudah mulai panas, mereka tetap bersemangat belajar. 

Sekitar sebulan setelah pembelajaran itu, saya, Mbak Aisyah, dan adiknya, Luqman jalan-jalan pagi. Di tengah jalan menuju pulang ke rumah, Mbak Aisyah berteriak. “Umi, ada paku! “Oh ya, maka?” kata saya. “Ini dia mi”, sahut mbak Aisyah sambil menyerahkan paku besar berkarat ke saya. “Alhamdulillah, mbak Aisyah hari ini bisa bersadaqah, terima kasih,” kata saya. 

Subhanallah, dia masih ingat pembelajaran bulan lalu dan mampu mengalikasikannya dalam keseharian. 

Saya jadi teringat bagaimana metode gurunya mbak Aisyah menyampaikan materi pembelajarannya. Dengan contoh nyata, langsung dipraktikkan dan dalam suasana belajar yang menyenangkan ternyata membuahkan hasil belajar yang sangat begus dan sangat efektif. Apalagi jika pada pembelajaran tersebut dimasukkan unsur tauhidnya, akan lebih bagus lagi. Misalnya ketika menjelaskan ditambahkan bahwa menyingkirkan (membuang) gangguan dari tengah jalan adalah termasuk shadaqah (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, anak selain mengetahui manfaatnya juga mengetahui bahwa perbuatannya itu disenangi oleh Allah berterimakasih dan menjanjikan pahala yang besar bagi siapa yang mengerjakannya. Ini bisa menjadikan motivasi pada anak untuk selalu berbuat kebaikan. 

Suatu pembelajaran akan efektif dan membuahkan hasil yang baik apabila Pertama, materi disampaikan dengan metode yang menarik. Contohnya yang telah dilakukan guru Mbak Aisyah di atas. Dia menyampaikan materi dengan singkat, jelas, dan dalam suasana belajar yang menyenangkan (di luar ruangan). Kedua, menggunakan alat peraga. Alat peraga yang digunakan berhubungan langsung dengan materi yang akan dipelajari. Penggunaan alat peraga ini sedikit banyak akan menfokuskan konsentrasi pikiran anak dan akan menimbulkan banyak penasaran serta keingintahuan anak-anak. Ketiga, pandai mencari momen yang tepat. Ketika masa anak-anak tertuju pada satu titik (alat peraga), ketika telinga mereka mendengar hanya pada satu sumber suara (yaitu suara gurunya) dan ketika hati mereka dipenuhi rasa keingintahuan, detik-detik itulah waktu yang paling tepat untuk menyampaikan inti materi pembelajaran. Dengan begitu “pesan guru” akan terpatri kuat di memori mereka dan akan berproses kembali ketika dia memenuhi hal yang serupa. Keempat, diikuti dengan praktek langsung (kontekstual learning).

Materi yang diajarkan langsung dipraktekkan. Misalnya pembelajaran jual beli, anak-anak langsung diajak ke pasar/toko agar dapat mengamati proses jual beli yang berlangsung atau terlibat langsung dalam proses jual beli. 

Penulis : Norhikmah, Guru SDIT Hidayatullah Sleman

Membaca Secara Mendalam, Bukan Membaca Cepat


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Salah satu kebiasaan penting dalam membaca adalah mencerna isi bacaan secara mendalam. Ini dapat dilakukan dengan membaca secara seksama, tartil, tidak tergesa-gesa. Akan lebih baik lagi jika kegiatan membaca tersebut disertai dengan menulis catatan pinggir (hasyiah), salah satu tradisi para ulama yang sangat berharga. Catatan pinggir tersebut dapat berubah komentar, kesimpulan atau sekedar penulisan butir-butir penting dari bacaan di buku tersebut.

Kegiatan menulis yang menyertai membaca juga bisa dalam bentuk menulis ringkasan (mukhtashar). Ini merupakan keterampilan tersendiri yang memerlukan penguasaan atas apa yang telah dibaca. Jika seseorang membaca hanya untuk menyerap informasi, dia akan sulit membuat rangkuman, sulit pula menulis komentar ringkas maupun kesimpulan. Ketiga hal tersebut merupakan kegiatan berbeda. Merangkum itu menuliskan secara ringkas pokok-pokok isi bacaan secara keseluruhan. Menyimpulkan itu dapat meliputi pernyataan ringkas yang disertai penentuan sikap, pengambilan keputusan, melakukan deduksi dengan terutama menggali alasan penting dari bacaan tersebut, hingga menyatakan pendapat atas isi bacaan. Sedangkan komentar lebih banyak memuat penilaian dan pendapat mengenai isi tulisan maupun cara penyajian buku. Ketiganya sangat bermanfaat dalam membaca.

Catatan pinggir dapat menghubungkan berbagai hal yang ada di dalam bacaan tersebut dengan tulisan lain, mengaitkan dengan persoalan yang sedang terjadi (connecting to the world) maupun berisi muqaranah (pembandingan secara ilmiah dan komprehensif). Yang terakhir ini, yakni muqaranah, juga merupakan salah satu kebiasaan yang sangat bagus dari para ulama sebelum memutuskan satu perkara.

Berbeda dengan membaca secara mendalam, membaca cepat (speed reading) hanya bermanfaat untuk meraup informasi (grabbing information). Ini dapat kita lakukan untuk buku yang hanya berisi informasi umum secara sekilas. Tetapi untuk buku-buku ilmiah, terlebih yang bersifat pemikiran, membaca cepat sangat rawan menjatuhkan kita pada salah kesimpulan disebabkan tidak matangnya pemahaman. Membaca jenis ini jika hanya untuk menilai sekilas sebelum memutuskan membaca atau membeli, tidak masalah. Tetapi jika untuk menyerap isinya, justru rawan mendangkalkan pengetahuan dan pemahaman anak.

Apakah tidak boleh membaca cepat? Boleh, tetapi bukan untuk mengkaji. Di antara keperluan membaca cepat adalah untuk menyegarkan kembali ingatan, khususnya terhadap buku atau tema yang memang sudah sangat akrab. Orang yang ahli dalam suatu bidang, dapat melakukan speed reading (membaca cepat) untuk menjaga dan menguatkan ingatan. Membaca cepat merupakan cara muraja’ah.

Sekedar catatan: bedakan antara membaca cepat dengan orang yang memang cenderung cepat dalam membaca disebabkan sangat biasa membaca, luas pula pengetahuannya. Meskipun demikian, yang terbiasa cepat dalam membaca bukan karena melakukan speed reading (membaca cepat), sekali waktu tetap perlu meluangkan waktu khusus untuk membaca secara lebih pelan dan menuliskan catatan di tiap-tiap bagian atau pada bagian yang penting.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Segenggam Iman Anak Kita

Peran Sentral Wali Kelas


Oleh : Suhartono

Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan unit kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.

Oleh karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan. Setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di dalam organisasi sekolah,

Di sekolah dasar dikenal guru kelas, maka di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dikenal istilah guru wali kelas. Jadi, peran guru wali kelas ini agak lebih spesifik karena melibatkan proses bimbingan secara akademis maupun non-akademis.Wali kelas harus dari guru yang mengajar di kelas tersebut karena berkaitan dengan fungsinya sebagai pembimbing dalam kelas dan ditunjuk oleh kepala sekolah melalui prosedur. Penunjukan wali kelas oleh kepala sekolah dilakukan awal tahun pelajaran.Secara struktural, wali kelas merupakan perpanjangan tangan kepala sekolah dalam mengelola kelas.

Salah satu tugas wali kelas yang sudah sering diketahui adalah mengisi dan membagikan raport kepada siswa. Ini berkaitan dengan tugas seorang wali kelas di bidang administrasi didalam sekolah. Selain memiliki tugas administrasi, wali kelas juga bertugas untuk mengelola siswa di dalam kelas. Pengelolaan siswa di kelas bertujuan untuk membantu proses belajar mengajar agar berjalan optimal.Wali kelas itu sesungguhnya adalah wakil orang tua di sekolah. Mewakili orang tua di sekolah yang berkaitan dengan perkembangan belajar anak.

Adapun peran wali kelas di sekolah sebagai berikut:  (1) Mengatasi masalah-masalah siswa di dalam kelas. (2) Mendiagnosis setiap siswa yang mempunyai masalah. (3) Memberi berbagai pelatihan kepada siswa untuk mendorong timbulnya kesadaran diri. (4) Memasukkan sistem atau pendekatan dan inovasi ke dalam ruang kelas. (5) Mengkomunikasikan antara siswa dan guru, siswa ke kepala sekolah, atau siswa ke orangtua/wali. (6) Memasukkan berbagai alternatif kebutuhan kelas terhadap pemecahan masalah di dalam kelas

Ada juga peran wali kelas yang tidak kalah vital. Bagi siswa yang mengalami masalah baik akademik maupun dalam kedisiplinan bahwa sampai masalah di luar sekolah pun sungguh sangat membantu. Wali kelas adalah tumpuan harapan siswa untuk menyelesaikan masalah mereka, menjadi penengah antara guru dengan siswa, antara orang tua dengan siswa bahkan antara siswa dengan orang lain di luar sekolah jika perlu.

Bagi siswa yang tidak mempunyai masalah sekalipun wali kelas sangat membantu misalnya membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling, dan masih banyak lagi.

Itulah tugas seorang wali kelas, tidaklah mudah. Namun, jika dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan semua akan menjadi mudah. Membangun suasana kekeluargaan, kecerian dan saling menghargai, akan membuat semua menjadi lebih indah dan menyenangkan.
Tersenyumlah wahai guru-guru, tetap semangat. Tak ada yang tak menyenangkan jika dilakukan dengan penuh senyuman. Tataplah keceriaan mereka, canda tawa dan hormat mereka kepada guru, bimbing mereka untuk menjadi insan yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Penulis: Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya

Foto: google

Adab Dulu, Baru Ilmu


Oleh: Drs. Slamet Waltoyo

Adab dan ilmu adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Allah taala mengisyaratkan agar mendahulukan adab sebelum memenerima ilmu. Sebagaimana tersebut dalam surat Thoha (20). Sebelum Allah taala mewahyukan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam bahwa Dia Allah yang Tiada Ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Allah Ta’ala berfirman kepadanya,  “Lepaskan kedua alas kakimu, sesungguhnya engkau sedang berada di lembah suci Thuwa” (QS. Thaha 12). Sebelum menerima wahyu, Allah Ta’ala mengingatkan Nabi Musa ‘alaihissalam akan sebuah adab, melepas alas kaki di lembah suci Thuwa.

Mari kita melihat pembelajaran di sekolah kita. Saya mendengar ada kekompakan suara pada sebagian besar guru dan orangtua. Mereka bersuara yang sama ketika murid atau anaknya memasuki kelas empat atau lima SD. Saat murid atau anak dituntut bernilai tinggi pada ujian akhir. Suara kompak yang saya maksud adalah; anak/murid saya malas belajar. Ini dijadikan salah satu alasan atau kendala sehingga nilai ujian sekolah tidak tinggi.

Kenyataannya itu yang terjadi. Apakah malas belajar ini sudah menjadi karakter anak-anak murid kita di kelas empat atau lima SD? Saya tidak sependapat. Mereka bukan anak-anak yang malas. Termasuk dalam belajar. Betul mereka malas belajar sebagaimana kata guru dan orangtuanya. Tetapi itu akibat akhir dari rangkaian kondisi jiwa ; bingung – tidak tertarik – capek – (akhirnya) malas.

Enam tahun anak belajar di SD adalah rentang waktu yang panjang. Apalagi dalam usia pertumbuhan yang paling cepat dan penting. Hal ini harus menjadi bahan pertimbangan dalam mengelola pembelajarannya.

Kelas satu adalah saatnya anak memasuki dunia barunya, dunia sekolah. Banyak guru-guru di kelas satu dan dua yang tidak sabar. Ingin anaknya cepat pintar. Ingin anak-anak di sekolahnya mengungguli anak-anak di sekolah tetangga. Maka dengan semangat ibu dan bapak guru memberi pelajaran yang padat materi. Inilah kesalahan pertama. Anak-anak belum kenal ; Belajar itu apa? Bagaimana cara belajar? Tetapi sudah mendapatkan pelajaran. Bingunglah jadinya.

Rentang waktu enam tahun harus dipisah dalam rentang tiga tahun awal sebagai kelas bawah, dan tiga tahun kedua sebagai kelas atas. Di kelas bawah anak belum mendapatkan materi ajar. Anak baru belajar bagaimana menjadi pembelajar. Tiga hal yang perlu diberikan pada anak, yaitu: (1) tuntunan dan pembiasaan adab, (2) dasar-dasar pengetahuan, dan (3) aktivitas yang menumbuhkan antusiasme belajar.

Tuntunan dan pembiasaan adab harus mendapat porsi yang besar di kelas bawah. Terutama adab berilmu. Misalnya adab di kelas, adab terhadap guru, adab dalam menggunakan alat-alat tulis dan fasilitas pelajaran, adab terhadap teman. Semua dituntun dan dibiasakan secara detail dan berjenjang per semester.

Di kelas bawah anak dibekali dasar-dasar pengetahuan. Diperkenalkan dengan simbol-simbol dan bunyi kata, huruf dan kalimat. Belajar secara berjenjang mulai dari belajar membaca, membaca lancar, memahami bacaan, membaca cepat hingga gemar membaca. Demikian juga dengan menulis. Mulai dari belajar menulis, menulis dengan baik, menulis dengan runtut, hingga gemar menulis. Termasuk dasar pengetahuan yang diberikan adalah belajar logika sederhana. Berhitung dan logika operasional matematika dengan media yang kongkrit. Hingga kelas tiga anak menguasai dasar-dasar belajar.

Perlu juga di kelas bawah, kepada anak ditunjukkan atau diajak melakukan aktivitas-aktivitas yang menantang, yang menumbuhkan rasa ingin tahu, membangkitkan pemahaman pentingnya ilmu. Kegiatan pengamatan, kunjungan ke perpuatakaan, mengkaji buku, melihat hasil teknologi dan sebagainya, adalah kegiatan yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu. Hingga membangkitkan antusiasme dalam belajar.

Jika anak melewati kelas bawah dengan nyaman, mendapatkan bekal yang memadai maka saatnya memasuki kelas atas ia menjadi pembelajar yang mandiri. Mengamalkan adab belajar, menguasai dasar-dasar untuk belajar, dan memiliki dorongan ingin tahu.

Tentu tidak sesederhana itu. Karena ini baru dari dimensi sekolah. Sedangkan pengaruh yang diterima anak dalam pertumbuhannya dalam dimensi yang sangat kompleks.


Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI di Sleman

Meluruskan Niat dalam Menuntut Ilmu


Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan

Menuntut dan memperdalam ilmu bagi setiap muslim, terutama ilmu syar’i—mengetahui makna-maknanya, memahami rahasia-rahasianya, mengamalkannya, dan mengajarkan kepada manusia  yang dengannya seorang muslim dapat menggapai kebahagiaan dunia akhirat bagi setiap muslim—merupakan pekerjaan mulia, bernilai ibadah, dan pahalanya sangat besar di sisi Allah Ta’ala. Bahkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam (HR Muslim) menegaskan janji Allah Ta’ala bagi orang yang  menempuh jalan untuk menuntut ilmu yaitu akan dimudahkan jalan baginya menuju surga-Nya, dan Allah Azza wa Jalla (QS Al Mujadilah :11) akan meninggikan orang-orang diberi ilmu pengetahuan—bersama-sama dengan orang-orang yang beriman—beberapa derajat.

Akan tetapi, menurut Syaikh Abu Bakar Abu Zaid (disyarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 2005), apabila ilmu tidak didasari dengan keikhlasan niat, dia berubah dari ibadah yang paling mulia menjadi kemaksiatan yang paling hina.  Dan tidak ada sesuatu pun yang paling bisa menghancurkan ilmu semisal riya’, baik riya yang menjerumuskan pada kesyirikan atau pun riya’ yang menghilangkan keikhlasan. Termasuk juga sum’ah, seperti kalau seseorang berkata,” Aku tahu… Aku hafal…”

Maka, selalu berupaya terus menerus untuk memurnikan niat dari semua yang merusak komitmen dalam menuntut ilmu seperti senang popularitas, ingin lebih unggul dibandingkan teman sebayanya, atau menjadikannya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu—misalnya pangkat, jabatan, kekayaan, kehormatan, popularitas, pujian, dan kekaguman orang lain terhadap dirinya—penting untuk diperhatikan. Jika semua hal tersebut di atas sudah mengotori niat seseorang, maka ia merusak dan melenyapkan keberkahan ilmu. Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala semata tetapi dituntutnya untuk mendapatkan kekayaan dunia, menurut Syaikh Al Utsaimin (2005), maka dia tidak akan mencium bau surga.

Oleh karena itu, wajib bagi muslim penuntut ilmu untuk menjaga betul niatnya dari segala tujuan selain ikhlas karena Allah Azza wa Jalla semata. Syaikh Al Utsaimin (2005) menjelaskan ada beberapa cara yang dapat kita upayakan untuk bisa ikhlas dalam menuntut ilmu. Pertama, kita harus berniat bahwa menuntut ilmu itu untuk menjalankan perintah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menganjurkan untuk menuntut ilmu dan anjuran untuk melakukan suatu perbuatan, yang berarti perbuatan tersebut dicintai, diridhai, dan diperintahkan oleh-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Maka ketahuilah, bahwa tiada Ilah Yang Haq melainkan Allah” (QS Muhammad:19).

Kedua, kita harus berniat untuk menjaga syariat Allah Ta’ala. Menjaga syariat Allah Ta’ala dapat dilakukan dengan belajar, baik dengan cara menghafal, menulis, maupun mengarang kitab. Ketiga, kita harus berniat untuk membela syari’at Allah Azza wa Jalla. Seandainya tidak ada ulama, maka syari’at ini tidak akan terjamin kebenarannya, juga tidak akan ada seorang pun yang membelanya. Keempat, kita harus berniat untuk mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihiwa Sallam. Kita tidak mungkin bisa mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kecuali jika kita mengetahuinya terlebih dahulu.

Adab selanjutnya yang perlu kita miliki sebagai penuntut ilmu adalah menghiasi diri dengan rasa takut kepada Allah Ta’ala secara lahir dan batin dengan senantiasa menjaga syari’at Islam, mengamalkan,  menampakkan, menyebarkan, mendakwahkannya, dan menunjukkan jalan menuju Allah Azzawa Jalla dengan ilmu, amal, dan akhlak kita. Inti ilmu, menurut Imam Ahmad, adalah rasa takut kepada Allah Ta’ala, khasyatullah—rasa takut kepada Allah Ta’ala yang dilandasi dengan ilmu dan pengagungan. Jika seseorang telah mengenal Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya, maka dia akan taat kepada-Nya dengan sebenar-benarnya dari hati sanubarinya. Hanyalah para ulama yang takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…”(QS. Faathir:28).

Maka, senantiasa takutlah kepada Allah Ta’ala, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, karena sebaik-baik manusia, sebaik-baik makhluk adalah orang yang takut kepada Allah Azza wa Jalla dan tiada yang yang takut kepada-Nya melainkan orang yang berilmu. Seseorang tidak bisa dikatakan berilmu jika tidak mengamalkan ilmunya dan seseorang yang berilmu tidak akan mengamalkan ilmunya melainkan jika dia takut terhadap-Nya. Sebagaimana perkataan Ali bin AbiThalib radhiyallahu ’anhu, “Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilannya dipenuhi, niscaya ilmu itu akan tetap ada. Namun, jika tidak diamalkan, ilmu akan hilang.” Orang yang tidak mengamalkan ilmunya, akan gagal dalam proses belajarnya, dan ilmunya tidak akan membawa berkah. Bahkan, pada hari Kiamat nanti, seorang ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, akan menjadi orang yang pertama kali diazab dan dimasukan ke neraka sebelum para penyembah berhala.


Penulis: Irwan Nuryana Kurniawan, Pimpinan Redaksi Majalah Fahma

Meraih Berkah Ilmu dengan Adab


Oleh: R. Bagus Priyosembodo

Makhlad bin Al-Husain berkata kepada Ibnul Mubarak, “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.”

Banyak belajar hadits tanpa disertai adab akan menjadikan ilmunya kurang bermanfaat. Demikian juga ilmu lainnya. Bahkan akan membahayakannya. Ibarat memegang pisau tanpa kehati hatian dan penuh kesembronoan.

Belajar adab sebelum belajar banyak ilmu adalah merupakan suatu sebab mendapatkan keberkahan dalam majelis tersebut. Untuk itu adab dan akhlak berkedudukan yang utama serta dipandang serius dalam mempelajarinya, sehingga sejak zaman Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in adab selalu dipentingkan untuk dididikkan. Baik adab batin maupun ada lahir.

Adalah amat penting mengadabkan batin dengan ikhlas dalam mencari ilmu. Menghadapkan hati untuk mencari keridhoan Allah Ta’ala. Hal ini akan memberikan tenaga amat besar baginya untuk mengatasi beratkan langkah, jauhnya jarak yang ditempuh, dan terjalnya perjalanan mencari ilmu. Bahkan keikhlasan inilah yang hendak menjaganya dari beratnya siksa di pengadilan akherat.

Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepada-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak menambahkan kebaikan kepadanya bahkan menjauhkannya dari keridhoan Allah.

Adalah penting mengadabkan batin dengan tekad kesungguhan. Karena dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan untuk mengatasi berbagai rasa berat dalam perjalanannya. Tentu saja tidaklah pantas orang yang mengaku merindu pada ilmu yang banyak meraihnya dengan berbekal malas.  

Takwa kepada Allah hendaklah menghentikan seseorang dari kemaksiyatannya. Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.

Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid mengatakan,  “Dua orang yang tidak bisa belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

Adalah jalan utama memetik ilmu Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan guru. Inilah laku para pelajar yang akan bersuka cita,

… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah  orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

Untuk itu diam memperhatikan merupakan ketrampilan adab pelajar sukses. Tiada terlena karena bersibuk berkata kata yang memalingkan perhatian dan rasa hormat pada majelis ilmu. Pembicaraan yang mengganggu ini juga akan menjauhkan rahmat Allah padanya,  “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

Saat belajar bagaikan saat berburu. Manakala hasil buruan tidak diikat maka mudahlah ia lepas dan akan hanya memayahkan pemburu tanpa hasil di tangan. Ketika belajar, seorang penuntut ilmu mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para sahabat serta ulama, atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawakan oleh gurunya. Agar ilmu yang disampaikan tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatan setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.


Penulis : R. Bagus Priyosembodo, Guru Ngaji

Secangkir Kopi Remaja Kita




Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Selama puluhan tahun kita diajari bahwa kopi baik adalah kopi yang apabila diseduh menghasilkan warna hitam pekat. Seduhan kopi yang sempurna justru tidak ada kremanya sama sekali. Berkali-kali saya menjumpai orang yang mengira krema sebagai kopi jelek yang mengambang. Tidak bisa larut. Itu sebabnya mereka segera membuangnya. Mereka baru yakin setelah mencoba merasakan bahwa krema itu bukan produk gagal, bukan pula perkecualian. Kadang saya sengaja memberi perbandingan, yakni menyeduhkan kopi sebaik yang saya bisa dan menyiapkan seduhan lain dalam jumlah lebih sedikit dengan suhu air yang jauh dari seharusnya. Mengapa? Karena pada kondisi air yang kurang panas, kopi tidak berproses dengan sempurna, tidak larut dengan baik dan menyisakan banyak serbuk yang mengambang tak larut-larut.

Ini tidak enak. Ini bukan krema. Kopi yang kurang matang karena suhu air tidak memadai, efektif untuk membuat perut kita segera kembung. Sempurnalah tragedi itu: rasanya tidak enak, jauh dari yang seharusnya, bikin sakit perut pula.

Mengapa ini terjadi? Karena kopi terbaik hanya dijual untuk konsumsi luar negeri. Selama berpuluh-puluh tahun kita hanya mengenal kopi afkiran atau yang lebih beruntung ketemu kopi kelas 4, 5 atau 6. Specialty nyaris tak dapat kita jumpai. Peaberry, longberry, dan kingberry sangat asing di telinga kita. Padahal deretan kopi terbaik tersebut yang paling unggul justru dari Indonesia.

Selama berpuluh tahun kita juga digempur oleh iklan yang lahir dari dunia industri, baik cetak maupun audio visual bahwa kopi terbaik yang sempurna adalah yang hitam pekat tanpa krema. Kadang dilengkapi dengan gambaran citarasa pahit yang macho.

Sulit mempercayai bahwa ada kopi yang tidak pahit. Citarasa fruity, atau seolah bercampur coklat dan susu, seolah hanya ada dalam mimpi. Padahal semua itu ada pada kopi kita; kopi Indonesia, yang murni tanpa campuran apa pun.

Seperti itu pula anggapan dan bahkan telah menjadi keyakinan yang mendekati tingkat iman tentang remaja. Seolah merupakan kutukan takdir yang harus terjadi bahwa setiap remaja secara mutlak harus mengalami keguncangan, masa badai, stress dan krisis identitas. Padahal yang normal itu justru jika mereka dapat memasuki masa remaja tanpa pernah mengalami krisis. Mereka yakin dengan jatidirinya, bahkan sebelum memasuki masa remaja. Mereka memiliki komitmen yang kuat sehingga bersungguh-sungguh terhadap apa yang diyakini dan dicita-citakan. Ini semua bukan hanya berkemungkinan ada, bahkan justru jika menilik sejarah maupun riset tentang hal ini, remaja yang mengalami krisis tidak sampai 20% atau maksimal hanya 20% saja. Bahkan ketika G. Stanley Hall menyatakan bahwa remaja merupakan masa (yang mengharuskan remaja mengalami) badai, keguncangan dan krisis identitas, penelitiannya sendiri justru menunjukkan bahwa yang mengalami krisis sebenarnya tidak sampai 20%. Tetapi aneh sungguh absurd bahwa teori yang tidak didukung data ini justru diyakini. Hall menulis asumsi yang kemudian diyakini oleh kalangan psikologi sebagai teori yang sepenuhnya benar ini dalam bukunya yang berjudul Adolescence (1904).

Lebih sempurna lagi jika kita akhirnya mengimani bahwa nakal di usia remaja merupakan hal yang sangat wajar dan bahkan sudah seharusnya demikian karena mereka sedang mencari identitas diri, mengalami krisis dan menghadapi guncangan serta badai.

Upps!!!

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting
Foto: google