Serahkan Pada Ahlinya


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.
              
Saya mengawali tulisan ini saat naik kereta-api Argolawu bersama istri pada Sabtu terakhir bulan April 2017. Kami naik dari Yogya dengan tujuan Cirebon untuk menghadiri acara pernikahan keponakan yang dapat jodoh orang dari sana.

Seperti biasanya setelah tiba di stasiun, sebelum naik ke kereta-api saya terlebih dahulu ke kamar kecil. Sebetulnya agak malas juga ke kamar kecil yang ada di stasiun, karena yang terbayang dalam benak saya adalah kamar kecil yang kotor dan bau. Namun karena tidak ada pilihan lain, saya tetap mencari lokasi yang sudah saya kenal. Ternyata di lokasi tersebut sudah tidak ada, dipindah ke sisi yang lain. Terlihat di situ ada dua pintu yang bertuliskan masing-masing “Ladies” dan”Gentlemen”.

Ketika akan masuk saya sedikit ragu karena bersih, begitu masuk ke salah satu pintu, saya terperanjat. Bayangan tentang ruang sempit, kotor dan bau langsung sirna, yang ada di hadapan saya sebuah ruangan yang cukup besar, dinding dominan putih, bersih, tidak bau sama sekali dan juga terlihat seorang petugas yang selalu mengepel lantai yang terlihat basah, meskipun hanya basah sedikit.

Dalam perjalanan kembali ke ruang tunggu, saya menebak, seperti biasanya pasti istri akan menanyakan kondisi kamar kecilnya. Benar, belum sampai saya duduk, dia sudah menanyakannya. Tanpa menjawab pertanyaan itu, saya langsung mengacungkan ibu jari sebagai tanda bahwa kamar kecilnya bersih. “Oh iya...?”, tanggapan spontannya, dan langsung dia berdiri dan berjalan ke sana. Sekembalinya, dia berkomentar “Wah...hebat, jauh lebih bagus dari pada yang ada di bandara..(dia menyebut sebuah nama)”.

Setelah menunggu kira-kira setengah jam, terdengar pengumunan bahwa kereta api segera datang. Saya melihat jam, “Wah hebat, tepat waktu”. Begitu kereta berhenti, para penumpang masuk dengan cukup tertib tidak berdesakan karena mereka yakin, pasti dapat tempat duduk. Hanya beberapa menit berhenti, kereta langsung berangkat lagi.

Begitu duduk di dalam kereta, saya mengamati interiornya, terlihat bagus, bersih dan rapi, serta semua lampu menyala. Saat kereta mulai jalan, terasa nyaman, tidak banyak goncangan. Perasaan ini membuat saya teringat peristiwa yang terjadi 33 tahun yang lalu, naik kereta api dari Paris ke Nancy, saat pertamakali datang di Perancis.

Waktu itu kami terdiri dari beberapa pelajar yang baru datang dari Indonesia, sangat menikmati kenyamannya. Serasa naik pesawat karena tidak ada goncangan sama sekali. Gelas-gelas berisi minuman yang di atas meja, permukaannya hampir tidak bergoyang. Selain itu, juga tidak ada suara berisik yang berasal dari luar, mungkin selain kabinnya kedap suara, jaringan kereta api di sana juga menggunakan tenaga listrik, sehingga tidak ada suara mesin diesel.  

Istri yang dalam perjalanan ke Cirebon ini duduk di sebelah, tiba-tiba berkomentar “Dalam hal teknologi perkereta-apian, kita tertinggal jauh ya”. Saya tersenyum, sependapat dengan dia. Namun dalam dekade terkahir ini, begitu instansi yang menangani perkereta-apian ini dipimpinan oleh orang-orang yang betul-betul ahli, profesional dan tanpa banyak kompromi, maka perkereta-apian mengalami kemajuan yang luar biasa. Sebelumnya sudah berpuluh tahun tidak ada perubahan signifikan, kereta-api sering terlambat, kotor, suara dari luar masuk sehingga tidak nyaman, begitu pula stasiunnya. Saat ini kereta-api datang dan berangkat tepat waktu, situasi stasiun bersih, tertib, aman dan pelayanan bagus, sehingga sebagian masyarakat yang semula senang naik pesawat mulai beralih ke kereta-api, apalagi pesawat juga sering sekali terlambat.

Seandainya para pimpinan tertinggi di negara ini sejak dulu menyerahkan pengelolaan segala urusan kepada ahlinya, bukan pada orang yang telah mensukseskannya, maka negara ini sudah akan lebih maju. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengingatkannya : “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu”.

Wallahu A’lam Bishawab. 


Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UGM, Pemimpin Umum Majalah Fahma
Foto Ilustrasi : http://keretaapikita.com/wp-content/uploads/2015/04/Gambar-KA-Sancaka.jpg

Program Beasiswa Bidik Misi

Beasiswa bagi sebagian orangtua siswa sangat dibutuhkan, apalagi jika tingkat ekonominya rendah. Nah untuk meraih beasiswa pemerintah sudah menyediakan dari berbagai macam jalur, salah satunya adalah Beasiswa Bidik Misi. Bidik Misi adalah beasiswa pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M. Nasir mengatakan program beasiswa Bidikmisi terkendala sosialisasi yang belum merata di berbagai daerah di Indonesia. Nah salah satu solusinya dengan meningkatkan promosi lewat laman web www.bidikmisi.dikti.go.id yang bisa diakses kapan saja.

Di laman bidik misi tersebut, ada 4 fitur yang ditampilkan yaitu :
Pertama, Fitur Masyarakat yang dapat digunakan untuk melihat pendaftar dari sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Kedua, Fitur Sekolah, fitur ini berisi Sudah Terdaftar/Belum Terdaftar, fitur ini adalah sekolah yang akan atau telah merekomendasikan siswanya untuk mendaftar di bidik misi. Maka disarankan sekolah mendaftarkan diri agar bisa mengakses beasiswa bidik misi ini.

Ketiga, Fitur Siswa, fitur ini untuk siswa atau alumni yang telah direkomendasikan oleh sekolah untuk mendaftar bidik misi. Titik beratnya adalah sekolah merekomendasikan siswanya.

Keempat, Fitur Mahasiswa, fitur ini untuk mahasiswa yang telah menerima bantuan pendidikan bidik bisi (Monev Penerima) sehingga si mahasiswa bisa melakukan pengecekan status pencairan beasiswa mereka.

Web bidikmisi.dikti.go.id juga terdapat Tanya Jawab yang berisi pertanyaan-pertanyaan umum seputar bidik misi. Adapula Petunjuk Teknis, yang berisi pedoman bidik misi dan petunjuk teknis seputar bidik misi, baik petunjuk teknis untuk sekolah atau petunjuk teknis untuk siswa.

Berapa jumlah beasiswa yang diterima?
"Tahun depan, rencananya setiap mahasiswa penerima Bidikmisi menerima Rp 1.050.000 setiap bulan. Rinciannya, Rp 650 ribu untuk biaya hidup dan Rp 400 ribu sebagai uang kuliah, " begitu kata Nasir di laman www.republika.co.id.

Yuk, manfaatkan program beasiswa ini sebaik-baiknya agar orang yang tidak mampu bisa kuliah.


Dinukil oleh : Mahmud Thorif

Apel Hijau


Oleh: Ana Noorina

Apel hijau sangat rendah kalori, sehingga merupakan pilihan buah yang sangat baik untuk manajemen berat badan Anda. Satu cangkir apel hijau iris hanya menyediakan 63 kalori, dan sebaliknya pisang menyediakan 134 kalori dengan ukuran yang sama. Prinsip menurunkan berat badan yang efektif adalah jika Anda membakar kalori lebih banyak daripada yang Anda makan sehari-hari. Mengganti buah atau makanan yang lebih tinggi kalori dengan buah apel hijau merupakan cara alternatif yang dapat membantu mengurangi total asupan kalori Anda.

Dengan asupan kalori 250 hingga 500 hari, seringkali menyebabkan penurunan berat badan sebanyak 230 gram perminggu. Apel hijau kaya akan serat Karena serat yang tinggi dalam buah apel hijau, maka akan membantu Anda supaya merasa kenyang lebih lama. Dengan demikian sudah pasti akan dengan sendirinya akan mengurangi kebiasaan makan banyak dan ngemil makanan tinggi kalori. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal “ISRN Obesity” tahun 2013, bahwa konten serat meningkatkan rasa kenyang, mengurangi rasa lapar, sehingga bermanfaat untuk menurunkan berat badan.

Sebuah review tentang nutrisi yang diterbitkan dalam “Nutrition Review” menjelaskan bahwa makan setidaknya 14 gram serat untuk setiap 1.000 kalori yang Anda makan. Hal ini setara dengan asupan 21 gram serat setiap hari jika mengikuti program penurunan berat badan 1.500 kalori. 1 cangkir apel hijau memberikan Anda 3 gram serat. Jangan hanya makan apel hijau atau terlalu banyak setiap hari, karena walau bagaimana pun buah ini tidak cukup mengandung nutrisi lainnya, seperti protein. Hal ini bisa membuat Anda berisiko kekurangan gizi dan mengalami kelelahan. Oleh karena itu, sebaiknya memakan buah apel hijau dalam porsi yang disarankan pada saat menurunkan berat badan.

The Dietary Guidelines for Americans tahun 2010 menjelaskan bahwa disarankan mengkonsumsi 1 cangkir buah untuk menurunkan berat badan dengan diet 1200 kalori setiap, dan makan 1,5 cangkir buah ketika makan 1.400 sampai 1.800 kalori setiap hari. Kombinasi untuk diet Sehat Protein adalah nutrisi yang bisa meningkatkan rasa kenyang dan energi lebih baik daripada karbohidrat atau lemak, dan apel hijau mengandung kurang dari 1 gram protein per cangkirnya. Dengan demikian mengkombinasikan buah apel hijau dengan makanan kaya protein akan memaksimalkan kenyang dan sekaligus membantu untuk menurunkan berat badan tanpa kekurangan gizi. Cobalah untuk mengkombinasikan yogurt tanpa lemak, keju rendah lemak, kacang-kacangan, biji-bijian atau putih telur dengan apel hijau sebagai camilan yang enak.

Penulis: Ana Noorina, Pemerhati gizi anak

Foto Ilustrasi: google

Peran Penting Orangtua dalam Membentuk Prestasi Anak


Oleh: Ahmad Budiman

Setiap orangtua adalah guru bagi anaknya. Jadi, bukan hanya sekolah tempat anak bisa menimba ilmu, melainkan saat ia di rumah justru merupakan tempat dimana ia belajar banyak hal. Ketika anak pulang sekolah, sambut ia dengan raut muka yang menyenangkan dan jadikan rumah sebagai tempat yang istimewa bagi anak. Karena untuk membentuk anak yang cerdas dan berprestasi, maka rumah harus pula menjadi tempat ia bisa belajar.

Orangtua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tumbuh kembang anak. Cara dan gaya yang digunakan orangtua untuk mendidik anak akan menentukan sebarapa baik konsep diri anak. Semakin baik konsep diri anak, maka semakin mudah anak untuk mencapai kesuksesan yang ia inginkan dalam hidup di masa depan dan begitu juga sebaliknya.

Konsep diri memiliki peran sampai 88% dalam mengatur kehidupan seseorang. Sayangnya, banyak orangtua yang tidak mau repot. Mereka mendidik anak apa adanya, yang penting bisa memberi makan dan menyekolahkan anak. Sekedar seperti itu saja, tanpa memikirkan bagaimana cara membentuk konsep diri anak.

Buruknya konsep diri seorang anak akan mempengaruhi prestasi belajar mereka di sekolah. Memberikan les tambahan atau cara-cara yang diyakini bisa meningkatkan prestasi belajarnya tidak akan maksimal jika konsep diri anak tidak ditingkatkan. Dengan meningkatnya konsep diri anak, maka secara perlahan prestasi belajar mereka juga akan meningkat.

Adalah menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua untuk mendukung anak menjadi pribadi yang lebih unggul dalam kehidupan. Berperan dengan baik sesuai dengan kepribadian anak, perkembangan zaman maka Anda bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan dalam diri anak.

Semua orangtua pasti menginginkan anaknya berprestasi di sekolah. Sayangnya, tidak semua anak memiliki ambisi yang besar untuk meraih prestasi. Orangtua sering memberikan target terhadap anak secara berlebihan, akibatnya akan membuat anak tertekan ataupun stres. Ujung-ujungnya, anak menjadi tidak nyaman untuk belajar. Jadi, apa yang harus dilakukan orangtua?

Tips untuk orangtua dalam membentuk prestasi anak
Lihat potensi dan bakat anak
Ada dua hal yang harus dilakukan orangtua untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam anak. Jika memang kemampuan anak hanya rata-rata, jangan dipaksa untuk meraih prestasi sampai di atas rata-rata. Demikian juga untuk anak yang dibawah rata-rata, tidak boleh dipaksakan untuk melebihi batas itu. Namun, bukan berarti jika kemampuan si anak di atas rata-rata, potensinya tidak dapat dikembangkan. Selain batas kemampuan itu, orangtua juga perlu mengetahui bakat atau potensi yang dimiliki anak.

Mengarahkan dan membimbing anak
Setelah mengetahui potensi dan bakat anak, serta kemampuannya. Orangtua harus mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan yang diminatinya. Dalam hal ini, orangtua harus menyesuaikan dengan jenjang pendidikan dan umur anak. Untuk anak yang masih duduk di SD, harusnya orangtua tidak perlu memberikan target tertentu. Karena pada usia itu, anak senang belajar untuk bersosialisasi dan bermain. Tapi, mulai SMP, orangtua harus mulai memikirkan dengan cermat kondisi anak-anaknya.

Tentukan bersama tanpa paksaan
Target yang diberikan kepada anak hendaknya ditentukan bersama-sama oleh orangtua dan anak. Orangtua jangan sampai merasa paling berhak menentukan sendiri target pada anak, karena anaklah yang menjalani, jadi anak harus dilibatkan. Ada beberapa dampak positif melibatkan anak dalam menentukan target, antara lain anak bisa menentukan sendiri batas maksimal yang mampu dia raih. Selanjutnya, anakpun juga merasa dihargai.

Penulis: Ahmad Budiman, Pemerhati dunia anak

Foto Ilustrasi : google

Pertaruhan Kebenaran


Oleh: Dra. Asnurul Hidayati

Said bin Al Ash adalah pemuka kaumnya, yang dijuluki Pemilik Mahkota. Anaknya bernama Khalid, Aban dan Umar. Said biasa duduk berkumpul dengan para pemuka kaumnya di Makkah. Di antara pembiacaraan mereka adalah tentang Muhammad yang menjadi perhatian masyarakat, baik yang menentangnya maupun yang mengikutinya. Adapun Said adalah di pihak penentang Muhammad yang mengemban tugas sebagai Rasulullah. Sedangkan Khalid bin Said diam-diam penasaran dan mencari tahu tentang Muhammad. Ada apa gerangan dengan orang yang dimusuhi dan dibenci oleh bapaknya dan kaumnyaitu. Khalid mencari berita ke sana sini tentang Muhammad. Namun ia tak mendapati alasan yang dapat membenarkan kebencian dan permusuhan bapaknya.     

Pada suatu malam Khalid tidak bisa tidur. Pikirannya tertuju kepada perkara Muhammad, dakwahnya dan permusuhan bapaknya. Ia khawatir jika bapaknya akan melakukan keburukan seperti para pemuka Quraisy yang sombong dan angkuh. Pada akhir malampun ia tertidur. Namun tak lama kemudian ia terbangun dalam keadaan gelisah dan gemetaran karena apa yang dilihatnya dalam mimpinya. Dia meloncat karena beratnya beban yang dirasakannya. Dia berkata, “Aku bersumpah, ini adalah mimpi yang benar. Aku tidak bermimpi dusta.”

Khalid melihat dalam mimpinya bahwa dirinya berdiri di tepi sebuah jurang yang sangat dalam, di mana pandangan mata tak menjangkau ujungnya dan kedalamannya. Di jurang tersebut api menyala dan bergolak sangat menyeramkan. Membuat hati katakutan yang luar biasa. Ketika dia hendak menjauh dari pinggir jurang itu, bapaknya menghadangnya dan menyeretnya ke dalam api.maka dia pun melakukan perlawanan yang keras dengan bapaknya. Khalid berjuang sekuat tenaga, ketika ia hampir jatuh ke jurang tiba-tiba Muhammad datang, lalu memegang ikat pinggangnya dan menariknya dengan kuat, hingga menyelamatkannya dari jurang itu.

Esok paginya Khalid menemui Abu Bakar dan menceritakan mimpinya. Abu Bakar pun menjelaskan perkara mimpi itu kepada Khalid. Lalu Khalid menemui Muhammad, seraya bertanya, “Kepada apa engkau mengajak kami wahai Muhammad?”

Muhammad menjawab, “Aku mengajak kalian agar kalian beriman kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa aku adalah hamba dan utusannya. Membuang penyembahan kepada batu yang tidak dapat melihat, tidak mendengar, tidak mampu memberi manfaat dan madharat.

Khalid berbinar mendengarnya, lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah dan hambaNya.”

Khalid pun bergabung dengan Muhammad untukmempelajari Islam. Adapun bapaknya, nyaris gila, dia tidak pernah menyangka bahwa anaknya berani membangkang kepadanya dengan meninggalkan menyembah kepada patung. Akhirnya ia mengutus dua putranya untuk mencari Khalid. Mereka berhasil menemukan Khalid dan mengajaknya pulang. Bapaknya berkata, “Celaka kamu. Apakah kamu kafir kepada agamamu dan agama leluhurmu dan mengikuti Muhammad?”

Khalid menjawab, “Aku tidak kafir. Aku beriman kepada Allah semata, aku membenarkan kenabian RasulNya. Aku mencampakkan berhala yang kalian sembah.” Bapaknya pun marah besar dan memaksa Khalid untuk meninggalkan Islam. Kaarena ia tidak mau, bapaknya berkata, “Kalau begitu aku akan menghentikan semua pemberianku kepadamu.” Kemarahan nya memuncak sampai ia memukulkan tongkatnya kepada Khalid, sehingga kepala Khalid berdarah. Khalid disiksa lalu ditahan dengan harapan agar mau pindah agama. Ketika ada kesempatan melepaskan diri dari siksaan bapaknya,Khalid pergi untuk bergabung bersama Rasulullah. Tak lama setelah bergabungnya Khalid, kemudian dua adiknya, Umar dan Aban pun menyusul mengikuti Rasulullah. Alhamdulillah. Khalid bersyukur dua adiknya mendapat hidayah dan masuk Islam.

Masya Allah, ketika kebenaran telah memenuhi jiwa seorang anak, penentangan orangtuanya tak menggoyahkan imannya. Tak tergoyahkan atas ancaman dan siksaan. Karena yakin sepenuhnya atas Allah Ta’ala. Kekuatan iman telah menggerakkan hidupnya untuk mendapatkan keselamatan yang hakiki. Itulah jalan Khalid yang diikuti dua saudaranya, Aban dan Umar.

Sumber : Mereka adalah Para Shahabat. DR. Abdurrahman Ra’fat Basya

Penulis: Dra. Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul DIY
Foto Ilustrasi : google

Menutupi Aib Guru


Oleh: R. Bagus Priyosembodo

Para guru juga mempunyai kekurangan tetap berbuat kesalahan. Tetapi janganlah senang mencari-cari kesalahannya.

Prasangka buruk akan mencuat, jarak akan tambah memanjang, keinginan akrab pun tak terbenak lagi di pikiran. Jika aib para ulama, dan para pengajar kebaikan tersebar.

Sungguh manusia pun akan menjauhi mereka, ilmu yang ada pada mereka seakan tak terlihat.

Oleh karena itu para murid shalih dahulu berkata dalam doanya, “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmuya dari ku.”|

Penulis: R. Bagus Priyosembodo, Penulis Kajian Utama Majalah Fahma

Foto Ilustrasi : http://blog.ruangguru.com

Mari Melatih Anak Berpuasa


Oleh: Arhie Lestari

Anak-anak dapat berlatih puasa tergantung kadar kekuatannya. Sebagian anak mulai berpuasa ketika usia 8-10 tahun. Mereka mula-mula hanya berpuasa setengah hari (dhuhur) atau tiga perempat hari (asar), sampai akhirnya merasa kuat untuk berpuasa penuh (maghrib).

Yang harus diperhatikan ketika anak berpuasa adalah makanan saat sahur.  Bagi sebagian anak, sahur memang terasa kurang nyaman karena mata masih mengantuk dan tidak adanya nafsu makan. Namun demikian, anak tetap harus mengonsumsi makanan secara cukup di saat sahur.

Sebagai orangtua, kita harus melatih anak-anak agar berpuasa dengan benar, dan hal ini harus diawali dengan sahur yang benar yakni cukup memberikan kontribusi gizi. Jadi hidangan saat sahur bisa berupa nasi, sayur (lodeh, sup, bayam), lauk pauk (ikan atau daging ayam ditambah tahu/tempe), buah (pisang, jeruk, apel), dan segelas susu.

Sahur sesuai anjuran didekatkan dengan waktu imsak supaya tubuh tidak berpuasa terlalu lama.    Dengan demikian stamina selama siang hari masih tetap bugar untuk beraktivitas. Ketika berbuka, dahulukan yang manis-manis untuk mempercepat penyerapan sehingga sel-sel yang ‘kelaparan’ segera memperoleh gula dan tubuh menjadi lebih cepat bugar. Setelah itu bisa diikuti dengan makanan lengkap 4 sehat. Makanan cemilan sebaiknya dikonsumsi setelah makan besar.  Ingat, terlalu banyak makanan cemilan berarti hanya kalori yang masuk ke dalam tubuh.

Aktivitas fisik bagi anak yang sedang berpuasa sebaiknya dikurangi, jangan terlalu lincah, jangan berolah-raga terlalu intensif agar tidak banyak cairan hilang dan menyebabkan kehausan.  Olahraga di saat berpuasa dianjurkan dilakukan sore hari menjelang berbuka, dan pilih olahraga ringan seperti jalan kaki.

Di saat berbuka, anak-anak maupun orangtua biasanya mengawali dengan yang manis-manis seperti kurma, kolak pisang, atau koktil. Setelah itu dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah.  Makanan untuk berbuka sebaiknya disantap sesudah maghrib dan sebelum sholat tarawih. Sebab, kalau makan harus menunggu sehabis tarawih maka biasanya kita jadi terlalu banyak makan cemilan antara maghrib-isya. Hal ini kurang sehat, jadi ketika kita berangkat sholat tarawih, perut sudah kenyang dan sehabis tarawih bila masih lapar kita bisa mengonsumsi sedikit cemilan.

Penulis: Arhie Lestari, Pemerhati dunia anak

Foto Ilustrasi : https://hellosehat.com

Republik Medsos


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Aplikasi itu bernama Whatsapp. Sekarang dipakai lebih dari 1 miliar manusia di muka bumi yang meliputi 180 negara. Pada awalnya, Whatsapp hanya dirancang untuk keperluan texting (mengirim pesan tulisan). Bukan untuk menelepon. Melalui WA, orang dapat saling berkirim pesan yang sangat panjang, bisa saling menimpali dan tidak harus ada sinyal selular. Yang penting dapat mengakses internet, melalui Wi-Fi misalnya, kita dapat mengirim dan menerima pesan WA. Ini jauh lebih memudahkan dibandingkan SMS yang harus menggunakan jaringan selular, sehingga begitu berada di suatu daerah yang sulit sinyal, tidak dapat lagi mengirim SMS. Sangat berbeda dengan WA. Nomor kita tetap muncul apa adanya, tetapi kita tetap dapat mengirimkan pesan bahkan pada saat nomor tersebut sedang tidak aktif, semisal ketika berada di luar negeri.

Pengguna WA semakin dimanjakan ketika banyak area publik menyediakan fasilitas Wi-Fi. Bahkan beberapa maskapai penerbangan pun sekarang menyiapkan layanan akses Wi-Fi di udara. Cukup beli paket data yang murah, kita sudah dapat mengirim pesan sepuasnya. Pakai SMS? Harus keluar uang sesuai SMS yang kita kirim. Tidak jarang, pemakaian SMS terasa sangat boros pada saat kita sedang roaming di negara lain.

Tetapi... Akses internet tidak selalu mudah. Di beberapa daerah, sinyal selular sulit didapat, kecepatan internet luar biasa lambat atau bahkan tidak tersedia sama sekali, sementara Wi-Fi pun masih sangat langka. Di Indonesia, banyak kota yang seperti itu.

Ada kemudahan, tetapi ada nalar dan “hukum” tersendiri pada saat kita menggunakan media sosial dengan fungsi utama sebagai penyampai pesan. Tidak adanya tatap muka secara langsung menjadikan orang lain tidak mengerti keadaan kita, kesibukan kita dan situasi yang sedang kita hadapi. Orang tidak ambil pusing ketika dia melihat kita mengirim pesan jam 12:00 hari Jum’at, padahal waktu setempat saat kita mengirim WA sudah jam 14:00. Sebagian orang langsung menyimpulkan dengan sikap miring tanpa merasa perlu tabayyun, “Nggak beres nih orang, jam 12:00 masih sibuk WA. Apa nggak shalat Jum’at?” Ini karena waktu pengiriman yang tampil di gadget sesuai dengan waktu penerima pesan, bukan waktu pengirim pesan. Padahal andaikan zona waktunya sama pun, boleh jadi seseorang tersebut sedang melakukan safar (perjalanan) sehingga sebagai musafir dia boleh melakukan shalat jamak Dzuhur-Ashar. Bukan shalat Jum’at.

Ini hanya salah satu contoh yang mudah. Ketika orang mengirim WA dan melihat ada tanda centang dua warna hijau yang menunjukkan pesan sudah dibaca, emosi bisa mendidih manakala pesan tidak segera memperoleh balasan. Padahal sangat banyak sebab seseorang tidak dapat menanggapi dengan segera. Pesan yang memerlukan balasan panjang, tidak bisa segera memperoleh balasan ketika seseorang hendak mengajar misalnya. Pembahasan panjang perlu pemahaman masalah, sebelum memberi tanggapan. Tetapi betapa sering orang membayangkan seolah kita dapat menjawab dengan sangat mudah, tidak ada kesibukan apa pun sehingga kita dapat langsung menanggapi saat itu, dan sinyal selalu lancar jaya.

Sejumlah konflik perkawinan maupun pertalian persahabatan pun dapat bermasalah karena Whatsapp. Ada sindrom yang disebut sebagai “blue ticks”, yakni seseorang merasa diabaikan, tidak dipedulikan, bahkan direndahkan karena tidak segera memperoleh tanggapan dari orang lain, padahal sudah ada tanda centang dua warna hijau di WA yang menunjukkan pesan sudah dibaca. Pertengkaran hingga mengarah ke perceraian serta putusnya hubungan persahabatan, salah satunya dipicu oleh blue ticks ini. Makin lama jarak responsnya, makin memicu perasaan tidak dipedulikan. Makin ingin segera ditanggapi, makin mudah memantik emosi marah dan kecewa. Padahal sangat banyak sebab yang menjadikan seseorang sangat wajar jika tidak dapat segera menanggapi; salah satunya karena percakapan kita sudah tenggelam oleh berbagai pesan lain. Sementara media sosial termasuk WA, cenderung memiliki rentang perhatian pendek, khususnya jika segera bermunculan pesan lain.

Pesan yang sangat ringkas juga rawan memicu kesalahpahaman dan konflik suami-istri. Emoticon itu bermanfaat untuk menjelaskan maksud kita pada saat sama-sama tenang dan santai. Tetapi emoticon tersenyum pun bisa dimaknai mengejek manakala pesan kita begitu ringkas, di saat emosi kita cenderung panas.

Sumber masalah lain yang banyak memicu rasa dongkol adalah “The Last Seen Time” (LST) alias saat terakhir pesan dilihat. LST menunjukkan jam 03:00, tetapi mengapa pesan saya yang masuk pada jam 01:30 tidak dibaca? Orang yang senantiasa melapangkan diri untuk berprasangka baiklah yang tidak mudah baper.

Sekedar catatan pribadi: saya sendiri sering kesulitan menjawab WA dengan segera. Ada sekitar 70 group, meskipun yang aktif kurang dari 10%. Sudah banyak left, tetapi banyak juga yang memasukkan ke group lain. Pesan pribadi juga sangat banyak. Kalau pesan tidak segera dijawab, sebaiknya Anda berkirim pesan lagi. Kadang WA saya terima saat saya mau naik pesawat; saya lihat sejenak (kadang belum sempat membacanya) dan ketika turun pesawat segera berbincang dengan panitia. Nggak elok kan kalau saat diajak berbicara justru asyik WA-an terus?

Adakalanya, SMS lebih baik daripada pesan melalui WA.||

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Pakar Parenting dan Penulis Buku

Foto Ilustrasi : /www.arah.com

Budaya Adab Pada Guru di Sekolah


Oleh: Drs. Slamet Waltoyo

Entah permasalahan apa yang terjadi. Seorang guru perempuan ingin menasehati muridnya. Bu guru meminta muridnya untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya. Apa yang terjadi? Apakah murid itu segara duduk dan menunduk sebagaimana harapan kita? Ternyata tidak. Yang terjadi, justru anak berseragam SD tadi melawan. Tidak mau duduk. Bahkan menantang bu guru untuk berkelahi. Demikian gambaran kejadian yang beredar luas dalam sebuah video berdurasi kurang dari satu menit ini.

Fenomena yang telah umum terjadi di banyak sekolah. Kurangnya penghormatan murid terhadap guru. Siapa yang ia tiru? Dari mana ia dapatkan? Guru pasti tidak akan menuduh orangtuanya. Tidak mungkin orangtua mengajari anaknya seperti itu. Orangtua pun pasti tidak akan menuduh gurunya. Tidak mungkin. Tentu keduanya sepakat. Inilah pengaruh pihak ketiga. Lingkungan. Tontonan kekerasan yang terus ia dapatkan sehingga tidak tahu lagi dengan siapa ia berhadapan.

Kuatnya arus pengaruh tontonan membutuhkan perimbangan. Yaitu harus makin menguatnya usaha sekolah dalam membentenginya.  Antara lain dengan kuatnya membangun budaya adab murid terhadap guru. Kecil sekali kemungkinan murid SD akan tahu dengan sendirinya, bahwa ia harus menghormati gurunya. Kalaupun kesadaran itu tumbuh, selanjutnya ia akan bertanya; bagaimana caranya? Inilah perlunya sekolah  mengintervensi dan membuat rekayasa.

Pertama, harus ada komitmen yang kuat dari semua gurunya. Komitmen untuk membangun karakter, khususnya adab murid terhadap gurunya. Komitmen yang berbasis tauhid akan lebih kuat dan bernilai.

Kedua, harus ada kekompakan semua warga dewasa di sekolah. Semua warga dewasa harus menjadi teladan atau contoh bagaimana menghormati yang lebih tua atau atasannya. Tidak hanya guru yang masuk kelas. Semua harus menjalankan aturan dengan bahasa yang sama. Termasuk harus memberikan sangsi yang sama (sepadan) jika menjumpai anak yang melanggar.

Ketiga, harus ada aturan yang jelas dan mengikat tentang adab murid terhadap guru. Aturan yang tidak multitafsir dan tidak bisa dibelokkan. Yang dipahami oleh semua guru dan warga dewasa.

Contoh beberapa aktivitas yang bisa dimasukkan dalam aturan atau tata tertib. Ketika bertemu atau berpapasan dengan guru harus memberi salam terlebih dahulu. Untuk guru yang sama jenis kelaminnya dengan bersalaman dan menempelkan tangan guru pada jidatnya. Terutama disaat kedatangan dan kepulangan.

Ketika berjalan dan di depannya ada guru maka tidak melewati depan guru dalam jarak dua meter atau kurang dan tidak melawita diantara dua guru yang sedang berbicara. Jika berjalan melewati guru dalam jarak 2 meter atau lebih maka harus menyapa atau mengucapkan salam sambil membungkukkan badan.

Ada aktivitas makan bersama guru sehingga ada kesempatan murid melayani guru; tidak ada yang mengambil makanan sebelum guru mengambil terlebih dulu, murid mengambilkan piring dan sendok khusus untuk guru. Tidak beranjak dari meja makan sebelum guru selesai makan, bergiliran mencuci piring dan sendok yang dipakai guru.

Ketika mendengar bel masuk, semua murid langsung masuk kelas dan menunggu guru datang. Ada yang menjemput guru dengan membawakan tasnya atau alat peraga lainnya. Ada yang membawakan minum guru dan menambah air minum guru jika air minum di gelas guru sudah  atau hampir habis.

Tidak memotong pembicaraan guru. Mendengarkan dan tidak bicara sampai guru selesai berbicara. jika ingin berbicara, mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan maka terlebih dahulu meminta ijin dengan mengangkat tangan kanan.

Di samping tata-tertib yang mengikat aktivitas murid maka harus ada kesempatan yang memberikan pemahaman tentang adab murid terhadap guru. Baik dalam pertemuan umum, di kelas maupun dalam halaqah.

Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Cebongan Sleman

Foto Ilustrasi : SDIT Salsabila Pandowoharjo

Mau Sukses Menuntut Ilmu? Jaga Kehormatan Gurumu, Nak!


Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Nak, kalau engkau berkehendak mendapatkan dasar keilmuan, engkau harus belajar kepada guru yang mumpuni dan mahir dalam memberimu kunci-kunci ilmu. Hal tersebut akan menghindarkanmu dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karena itu, adab murid terhadap guru adalah perkara paling penting yang harus engkau camkan oleh seorang pelajar. Engkau anggap gurumu sebagai pengajar yang mengajarkan ilmu dan sebagai pendidik yang membimbingmu kepada akhlak mulia.

Bagaimana mungkin engkau akan mengambil manfaat ilmu dari gurumu jika kamu sendiri tidak percaya atau ragu-ragu dengan kemampuan ilmu gurumu? Semua materi yang disampaikan oleh gurumu tidak akan kamu terima sampai kamu menanyakan hal tersebut  kepada orang lain atau kamu menelitinya sendiri. Kesalahan sikap semacam ini menggambarkan engkau sedang membangun ilmumu di atas tepi jurang yang akan runtuh, karena jiwamu sendiri bingung, tidak percaya kepada guru yang mengajarimu. Pada akhirnya akan sia-sia waktu yang engkau tempuh dan serta akan lenyap keberkahan ilmu yang engkau dapatkan.

Jadikan gurumu orang yang engkau hormati, hargai, dan muliakan. Bersikaplah dan berlakulah yang lembut kepadanya. Kalau engkau lihat gurumu datang, berhentilah, dan segera memberinya salam, sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan malah menghindarinya dengan cepat-cepat. Kalau engkau bersama gurumu hendak masuk masjid, persilahkan beliau untuk masuk terlebih dahulu.

Berlakulah penuh sopan santun kepadanya saat engkau duduk bersamanya, saat engkau berbicara dan bertanya kepadanya, dan saat engkau mendengar pelajaran. Janganlah engkau berbicara kepada gurumu seakan-akan engkau sedang berbicara kepada temanmu. Janganlah engkau memanggil gurumu dengan namanya saja  atau hanya dengan gelarnya saja, tapi katakana, “Wahai guru saya,” atau “Wahai guru kami”. Jangan enkau memanggil gurumu dari jarak jauh, kecuali kalau terpaksa, misalnya di hadapannya sedang ada bahaya seperti lubang, ada mobil, atau bahaya lainnya. Jangan engkau memanggil gurumu dengan mengatakan, “Kamu”. Bicaralah seperti seorang anak yang berbicara kepada bapaknya dengan penuh penghormatan dan tawadhu.

Yang tidak kalah penting adalah bersikap baik saat mendengarkan dengan cara jiwa dan ragamu tertuju dan menghadap kepada sang guru. Jangan cuma badanmu saja yang ada di tempat belajar, namum hatimu melayang ke tempat lain. Jika engkau demikian, maka engkau akan kehilangan banyak kebaikan meskipun saat itu kamu duduk di tempat belajarmu. Konsentrasikan pikiran dan hatimu, seluruh waktumu engkau gunakan untuk belajar.

Kalau engkau sedang berada di majelis ilmu dan membutuhkan keseriusan, jangan banyak berbicara dan berdebat dengan gurumu. Jangan tiba-tiba memotong pembicaraannya atau pelajarannya, baik di tengah-tengah pelajaran maupun lainnya. Kalau engkau mengalami kesulitan memahami suatu pembahasan, maka engkau harus bersabar  hingga pembahasan tersebut selesai, kemudian engkau bertanya kepada gurumu dengan penuh adab dan lemah lembut dan jangan memotong ucapan gurumu di tengah pembahasan.

Kalau engkau bertanya, bertanyalah dengan tenang. Jangan ngotot untuk mendapatkan jawaban dari gurumu dan jauhilah banyak bertanya di luar materi kalau engkau berada di tengah khalayak ramai karena ini akan menimbulkan kebanggaan pada dirimu sekaligus menimbulkan rasa bosan bagi gurumu. Janganlah engkau bertanya hal-hal yang menyusahkan diri, atau dengan memfasih-fasihkan ucapan, atau bertanya tentang sesuatu yang engkau sendiri mengetauhuinya dengan maksud untuk melemahkan gurumu atau menampakkan bahwa dirimu lebih berilmu, atau bertanya sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Jika engkau mengetahui kesalahan atau kebimbangan gurumu, jangan menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk meremehkannya. Engkau bisa mengatakan, “Saya tadi mendengar kalimat begini dan begitu. Saya tidak tahu pendengaran saya yang salah atau guru saya yang tidak sengaja salah” atau kalimat yang semisalnya. Jangan membuat gurumu gusar. Hindari perang urat syaraf dengan gurumu dan jangan menguji kemampuan ilmiah maupun ketabahan gurumu. Jika engkau melakukannya, itulah yang akan menjadi sebab engkau tidak akan memperoleh keberkahan ilmu.

Penulis: Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pemimpin Redaksi Majalah Fahma, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Foto Ilustrasi : google

Beradab kepada Guru


Oleh: R. Bagus Priyosembodo

DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula,  hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Betapa sopan para sahabat di depan gurunya. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Umar bin Khattab mengatakan,  “ Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Al Imam As Syafi’i berkata,  “Dulu aku membolak balikkan kertas  di depan  Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.”

Syaikh Utsaimin mengomentari perkataan ini, “Duduklah dengan duduk yang beradab, tidak membentangkan kaki, juga tidak bersandar, apalagi saat berada di dalam majelis.”

Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi  juga tidak membelakangi gurunya”.

Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain.

Para sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah mengeraskan suaranya di depan Rasulullah. Di hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
 “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43).

Allah memerintahkan orang yang miskin ilmu bertanya kepada ulama. Dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang  kerancuan, serta mendapat keilmuan. Para ulama mengajarkan bahwa pertanyaan hendaknya disampaikan adab yang baik berupa dengan tenang, penuh kelembutan,  jelas, singkat dan padat, juga  tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

“Khidir berkata, jika engkau mengikuti maka janganlah engkau menanyakanku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya” (QS. Al Kahfi:70).

Khidir menentukan peraturan belajar kepada Musa. Tidak boleh bertanya hingga diijinkan. Maka jika seorang guru tidak mengizinkannya untuk bertanya maka jangalah bertanya, tunggulah sampai ia mengizinkan bertanya.

Doakanlah guru dengan barakallahu fiik, atau jazakallahu khoiron dan lain lain. Banyak para shalihin terdahulu   berkata,  “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”

Kala belajar sudah semestinya memberi perhatian besar kepada ilmu yang disampaikannya. Tidak mudah teralihkan oleh berbagai gangguan konsentrasi. Sebagaimana Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain. Apalagi sibuk berbicara tanpa ada keperluan belajar, atau sibuk dengan gadgetnya.


Penulis: R. Bagus Priyosembodo
Foto Ilustrasi : google

Do'a untuk Anak Kita

Dr. Subhan Afifi dan Azzam, Ayah dan Anak Pecinta Al-Quran
di Masjid  Ulil Albab UII
 Oleh: Dr. Subhan Afifi, M.Si. 

Kapan kita terakhir bersungguh-sungguh mendo'akan kebaikan untuk anak-anak kita? 

Mengadukan kepada Sang Penggenggam Hati segala keluh kesah kita tentang satu-dua tingkah polah mereka yang mungkin membuat ayah bundanya tak berkenan. Ketika segala nasihat dan petuah telah tertumpah, dan hasil perubahannya masih jauh dari harapan. Do'a menjadi tips praktis parenting paling ampuh. 

Juga ketika rasa syukur ini membuncah, karena gerak-gerik dan tutur kata mereka membuat maknyess hati ini. Ada rasa adem serupa ungkapan qurrata a'yun (penyejuk hati) yang terasa dalam qalbu menyaksikan mereka tumbuh dalam ketaatan pada RabbNya plus bonus aneka prestasi. Saat itu do'a menjadi ungkapan syukur yang akan menambah segala nikmat. 

Sungguh, sholih-sholihah itu, jika pun hadir sifat dan turunannya pada anak-anak kita bukan semata-mata karena Bapak Ibunya sholih-sholihah. Jika rumus baku nya seperti itu, bahwa ayah bunda sholih-sholihah pasti akan melahirkan anak sholih-sholihah, maka tentu kita akan kesulitan menjelaskan mengapa anak Nabi Nuh dan Nabi Luth jadi anak salah, padahal bapaknya Nabi. Kurang sholih apa beliau. 

Ternyata anak sholih-sholihah adalah hidayah dari Allah Ta'ala. Orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi qurrata a'yun tentulah wajib terus memperbaiki diri. Berusaha sekuat tenaga jadi lebih baik dalam semua hal. Itupun kita tak punya daya dan kekuatan untuk menjamin anak kita akan juga menjadi baik segalanya. La haula wala quwwata illa billah. 

Untuk itu kita sangat butuh mendo'akan kebaikan untuk anak-anak itu. Dengan sepenuh hati dan harap. Agar Allah Ta'ala berikan pertolongan, taufik dan hidayahNya agar ayah bunda anak-anak yang menggemaskan itu jadi banyak berzikir, lebih bersyukur dan semakin baik ibadahnya. Allahumma 'ainni ala zikrika wa syukrika wa husni ibadatika. 

Waktu jelang berbuka ketika berpuasa adalah salah satu kesempatan yang mustajabah untuk berdo'a. 

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله u وسلم- « إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah). 

Mari kita do'akan sungguh-sungguh anak-anak manis itu. Kita mintakan agar mereka jadi penyejuk hati, bukan penyebab munculnya aneka gundah di zaman penuh fitnah. 


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)

Memohonkan pada Sang Rabbul Izzati, agar diri ini enteng beramal shalih sekaligus memperbagus semua urusan anak-anak kita. 

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

(Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) (QS. Al Ahqof:15)

Sekaligus meminta agar ananda tercinta semuanya jadi generasi yang menjadikan Sholat sebagai prioritas dalam hidupnya. Tidak menganggap enteng meninggalkan shalat. Sukses yang sesungguhnya adalah ketika kita dan anak-anak kita diberi karunia oleh Allah Ta'ala istiqomah menegakkan shalat. 

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Dan tak lupa menyelipkan pinta agar kita dan anak-anak itu menjadi generasi bertauhid yang menjauhi penyembahan terhadap aneka berhala modern dalam kehidupan. Seperti kesungguhan do'a Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk anak cucu nya :

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35). 

Amin Ya Rabb. Perkenankan do'a kami.

Penulis: Dr. Subhan Afifi, M.Si., Kepala Jurusan dan Dosen Komunikasi Universitas Pembangunan Veteran Yogyakarta
Foto Ilustrasi : Dokumen Pribadi Dr. Subhan Afifi