» » Untung Anaknya Peduli

Untung Anaknya Peduli

Penulis By on Tuesday, June 20, 2017 | No comments


Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Dalam sebuah perjalanan naik kereta api, saya mengobrol dengan seorang bapak yang sama-sama naik dari Yogya. Beliau menceritakan putranya yang saat itu mulai kuliah di kota lain, sebuah kota yang kata orang kehidupannya “lebih modern”.

Seperti orangtua pada umumnya, bapak tadi bersama istrinya juga berusaha mencarikan tempat kos yang bisa membuat anaknya nyaman, dan yang sekaligus bisa bersosialisasi. Pilihan jatuh pada sebuah rumah dengan enam kamar, ada dapur, ruang makan dan ruang tamu. Harapannya sesama penghuni ada tempat untuk berinteraksi. Mereka tidak ingin anaknya hanya menjadi kutu buku, tahunya hanya belajar dan belajar. Mereka ingin agar putranya masih berkesempatan untuk menimba berbagai keterampilan hidup, apalagi kalau mereka bisa bergaul dengan tetangga kos. Untuk ini semua, mereka harus membayar lebih mahal.

Yang terjadi jauh dari harapan. Belum ada sebulan, putranya sudah minta izin untuk pindah. Wajar kalau orangtuanya kaget, karena merasa sudah memilih kos dengan berbagai pertimbangan dan juga sudah mengeluarkan biaya mahal.  Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, si bapak dan istri pergi menengok putranya, dan sengaja tidak menginap di hotel tapi di kos.

Sesampainya di kos, menjelang sore mereka berdua duduk di ruang tamu. Selang beberapa saat, masuk seseorang yang dilihat dari pakaian dan penampilannya, mahasiswa ini pasti anaknya orang kaya. Saat melewati ruang tamu, jelas sekali dia melihat ada dua orangtua yang sedang duduk, namun dia lewat begitu saja acuh tak acuh, tanpa menyapa ataupun tersenyum. Padahal pasangan suami istri tadi sudah siap untuk menyapa. Kira-kira selang setengah jam, masuk lagi dua anak muda laki-laki dan perempuan. Seperti sebelumnya, tanpa menyapa, langsung masuk kamar tanpa mempedulikan sekelilingnya. Cukup dari dua kejadian tersebut, suami-istri sepakat untuk memindahkan putranya, meskipun harus kehilangan uang kontrak yang sudah dibayarkan.     

Untuk mencari tempat kos yang baru, mereka lebih hati-hati dan menyarankan kepada putranya agar minta tolong kepada temannya yang sudah dikenal berkarakter baik. Memang sudah rejekinya si anak, di kos temannya masih ada satu kamar kosong, dengan kondisi fasilitas yang hampir sama, sewanya jauh lebih murah, hanya tempatnya agak masuk ke dalam.

Kedua orangtuanya bersyukur karena putranya sudah menemukan tempat kos baru. Mereka semakin bersyukur ketika datang kembali untuk membantu putranya pindahan dan bermalam di tempat kos tersebut. Sebetulnya putranya tidak minta bantuan, namun mereka tidak tega melihat kerepotan putranya yang harus mengurus pindahan di tengah-tengah ujian tengah semester.

Empat mahasiswa penghuni kos itu, semuanya baik dan ramah. Kedua orangtua itu semakin tenang ketika pagi harinya, salah satu temannya mengetuk pintu kamar untuk diajak ke masjid begitu terdengar suara adzan subuh. Selain itu, rasa haru yang luar biasa juga muncul saat para penghuni kos membuatkan nasi goreng dengan telur dadar yang dipotong tipis-tipis untuk sarapan suami istri itu. Alhamdulillah Allah Ta’Ala telah mengganti dengan kos lain seperti yang diharapkan.

Sepanjang perjalanan pulang ke Yogya, suami-istri itu tiada henti-hentinya mengucapkan syukur atas segala upaya yang dulu dilakukan dalam rangka memberikan pendidikan agama yang kuat terhadap putranya, termasuk menanamkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Seandainya dulu mereka tidak mendidik tentang kepedulian terhadap orang lain, hanya peduli pada diri sendiri, maka si anak akan nyaman juga pada suasana kos yang pertama. Pasti dia akan kerasan karena suasana tanpa kepedulian dan acuh tak acuh seperti itu bukan hal baru. Namun di tempat kos tersebut bukan hanya sikap acuh tak acuh yang ada, tetapi juga pergaulan bebas mereka.

Sekuat apapun jiwa anak muda, yang sebenarnya masih dalam masa perkembangan, kemudian hidup di lingkungan seperti itu, jauh dari pengawasan orangtua, akhirnya secara pelan akan terpengaruh juga. Sehingga bukan kebahagiaan akherat yang didapatkan. Saran ini pula yang sering saya sampaikan kepada para sahabat yang akan menyekolahkan putra-putrinya ketika baru saja lulus SMU, ke negara lain yang sekuler. Wallahu A’lam Bishawab.


Penulis: Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Pemimpin Umum Majalah Fahma, Guru Besar Fakultas Teknik Mesi UGM Yogyakarta
Foto Ilustrasi by google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya