Singa Pun Menjaganya


 
oleh : Asnurul Hidayati

Pada masa Al Hajjaj menjadi penguasa, dan mendengar nama Sa’id bin Jubair, maka ia memerintahkan panglimanya yang bernama Al-Mutalammis bin Ahwash bersama 20 orang penduduk Syam untuk menangkap Said bin Jubair. Tatkala mereka mencari Said, mereka bertemu pendeta di tempat peribadatannya.  Mereka  bertanya tentang Sa’id. Berdasar petunjuk pendeta itu, mereka pun berhasil menemukan Sa’id yang sedang beribadah. Setelah selesai dari shalatnya, Sa’id menjawab salam mereka.

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami diutus oleh Al Hajjaj untuk menjemputmu. Oleh sebab itu penuhilah panggilannya.” Sa’id bertanya, “Apakah aku harus memenuhinya?” Mereka menjawab, “Ya. Kamu harus memenuhinya.” Sa’id memuji Allah sambil bangkit mengikuti mereka. Hingga ketika mereka melintasi tempat pendeta tadi, sang pendeta bertanya, “Wahai para penunggang kuda, apakah kalian berhasil menemukan orang yang kalian cari?” Mereka menjawab, “Ya.” Kalau begitu naiklah ke tempatku! Karena ada singa betina dan singa jantan yang sedang bersembunyi di sekitar tempat ini.” pinta pendeta. 

Mereka memenuhi permintaan pendeta, namun Sa’id tidak mau masuk. Melihat sikapnya,mereka berkata, “Menurut kami, engkau tidak mau masuk karena ingin melarikan diri dari kami.” Sa’id berkata, “Bukan karena itu, tetapi karena aku tidak mau masuk ke rumah orang musyrik selamanya.” Mereka berkata, “Kalau begitu, kami tidak akan meninggalkanmu di luar karena binatang buas bisa membunuhmu.” Sa’id menjawab, Tidak apa-apa. Aku ditemani Rabbku, Dia yang akan memalingkan binatang buas itu dan menjadikannya sebagai penjaga yang melindungiku.” Mereka berkata, “Memangnya kamu ini termasuk seorang Nabi?” Sa’id menjawab, “Bukan, aku hanyalah hamba Allah yang penuh dosa.”

Melihat hal itu  pendeta berkata, “Hendaknya ia memberiku apa yang dapat aku percayai agar kita merasa tenang.” Maka mereka meminta Sa’id untuk memenuhi permintaan pendeta itu. Sa’id berkata, “Sesungguhnya aku akan memberikannya hanya kepada Yang Maha Agung yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku tidak akan beranjak dari tempatku ini sampai besok pagi, insya Allah.” Pendeta itu pun merasa puas dengan jawaban Sa’id dan berkata kepada mereka, “Naiklah kalian dan ikatlah beberapa kayu untuk mengusir binatang buas dari hamba yang shalih ini karena tidak mau masuk di tempat ibadah ini.” Mereka pun naik ke tempat pendeta dan mengikat kayu.

Keesokan harinya, mereka terkejut melihat seekor singa betina dan singa jantan sudah duduk di depan Sa’id. Melihat itu, sang pendeta pun turun menghampiri Sa’id, bertanya tentang syari’at Islam dan sunnah Rasulnya. Maka Sa’id menjelaskan semuanya dan akhirnya pendeta itu masuk Islam. Akhirnya yang lainnya menemui Sa’id, meminta maaf dan mencium tangannya serta membersihkan debu yang menerpanya. Mereka berkata, “Wahai Sa’id, kami telah diberi janji oleh Al Hajjaj akan dilepaskan dan dibebaskan (dari budak) dengan syarat jika kami telah menangkapmu dan mengantarkanmu ke hadapannya. Maka sekarang perintahkan kami untuk melakukan apa yang engkau kehendaki!”

Sa’id berkata, “Lakukan tugas kalian! Aku berlindung kepada Rabbku, dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.” Mereka pun melanjutkan perjalanan. Lalu Sa’id berkata, “Sesungguhnya aku telah mengikuti kalian dan tidak meragukan ajalku sudah dekat. Biarkan aku malam ini mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematianku. Bila sudah datang pagi, lanjutkan perjalanan ini.”

Sebagian berkata, Kami tidak ingin mencari jejaknya jika ia telah pergi dari kami, setelah kami melihat keadaannya dengan mata kepala kami sendiri.” Yang lain berkata, “kalian sudah berhasil menemukan dan memenuhi tawaran al Hajjaj. Janganlah lemah semangat.” Yang lain berkata, “Kalian diberikan apa yang diberikan pendeta itu. Celaka kalian! Tidakkah kalian mau mengambil pelajaran dari singa tadi?”  Mereka pun memandangi Sa’id yang sedang sibuk bermunajat dengan Rabb nya. Mereka berkata, “Wahai sebaik-baik manusia di muka bumi. Andai saja kami belum mengenalmu. Sungguh celaka kami ini! Bagaimana kami sanggup menahan siksa nantinya karena kami telah menangkapmu? Mohonkan ampunan untuk kami kepada Pencipta kita.”

Masya Allah, inilah satu kisah di antara kisah-kisah orang sholih terdahulu yang menginspirasi seorang pendeta menemukan keyakinan yang kuat terhadap Rabb yang Esa. Kesholihan Sa’id yang bisa dipercaya ucapannya. Yang tidak mengingkari ucapannya walau dalam keadaan yang sangat terjepit sekalipun. Hal itu karena keyakinan Sa’id kepada Rabb nya yang kokoh, yang tidak membuatnya gentar sekalipun terhadap ancaman binatang buas. Yah, Sa’id  yakin sepenuhnya kepada Allah dan yakin akan pertolongan-Nya.||

Sumber : Terputusnya Ilmu Para Ulama. Syaikh AMajdi Fathi As-Sayyid

Penulis: oleh : Asnurul Hidayati, Guru MI di Bantul

Daun Pepaya


Oleh: Ana Noorina

Pepaya adalah buah yang sudah lumrah dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Buahnya yang merah dan manis adalah daya tariknya. Beda dengan daun pepaya yang pahit namun ternyata dengan manfaat yang beragam. Tentu kita tidak akan lupa betapa pahit daun pepaya yang kita konsumsi. Inilah yang menyebabkan kebanyakan orang lebih suka mengonsumsi buahnya saja.

Daun pepaya memiliki beragam kegunaan alias manfaat untuk proses penyembuhan atau pencegahan beragam penyakit. Beberapa di antara yang dapat disebutkan adalah: penyakit demam berdarah, sakit perut bagi balita, kanker, pencernaan, nyeri haid, malaria, pencegah katarak, pembesaran prostat, emfisema, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Sejauh ini tidak ada obat yang spesifik untuk penyakit demam berdaerah dengue. Hanya obat penghilang rasa sakit seperti aspirin dan ibuprofen yang bisa diberikan, dan ada efek samping tersendiri. Jus daun Pepaya adalah obat tradisional yang dapat menyembuhkan demam berdarah tanpa efek samping. Penelitian ilmiah dan beberapa studi telah menunjukkan bahwa, jus daun pepaya mengandung enzim papain dan chymopapin yang dapat meningkatkan trombosit . Gejala demam berdarah adalah menurunnya tingkat trombosit secara drastis dalam darah, sehingga jus daun pepaya akan membantu untuk meningkatkannya kembali. Perusahaan farmasi juga sudah menggunakan ekstrak daun pepaya dalam bentuk kapsul dan formula cair. Para dokter juga merekomendasikan bagi penderita agar minum 20 sampai 25 ml jus ini, sebanyak dua kali sehari selama seminggu agar cepat memperoleh hasil.

Daun pepaya mengandung nutrisi penting seperti vitamin A, B1, C, E, kalori, protein , karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi dan air. Jus daun memiliki enzim penting yang disebut dengan papain, yaitu yang membantu pencernaan dengan cara memecah protein secara alami.
Manfaat lain yang tak kalah menakjubkan dari jus daun pepaya adalah kemampuannya untuk melawan infeksi virus seperti virus flu pada umumnya. Ini adalah cara alami untuk meregenerasi sel darah putih dan trombosit. Daun pepaya mengandung lebih dari 50 bahan berkhasiat, termasuk vitamin A , C dan E yang mendukung sistem kekebalan tubuh.

Penulis: Ana Noorina, Pemerhati gizi

Foto Ilustrasi : google

Program Indonesia Pintar (PIP)



Apa itu PIP? Program Indonesia Pintar (PIP) melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) adalah
pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah (usia 6 - 21 tahun)
yang berasal dari keluarga miskin, rentan miskin: pemilik Kartu Keluarga Sejahtera (KKS),
peserta Program Keluarga Harapan (PKH), yatim piatu, penyandang disabilitas, korban bencana alam/musibah. PIP merupakan bagian dari penyempurnaan program Bantuan Siswa Miskin.

Siapa Sasaran Utama PIP?
1.    Peserta didik pemegang KIP;
2.    Peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dengan pertimbangan khusus;
3.    Peserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang:
Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kehutanan, Pelayaran, dan Kemaritiman

Berapa besaran dana manfaat PIP?
1.   Peserta didik SD/MI/Paket A mendapatkan Rp450.000,-/tahun; 
2.   Peserta didik SMP/MTs/Paket B mendapatkan Rp750.000,-/tahun; 
3.   Peserta didik SMA/SMK/MA/Paket C mendapatkan Rp1.000.000,-/tahun. 

Bagaimana jika siswa miskin belum menerima KIP? Siswa dapat mendaftar dengan membawa Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) orang tuanya ke lembaga pendidikan terdekat. 
Jika siswa tersebut tidak memiliki KKS, orang tuanya dapat meminta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT/RW dan Kelurahan/Desa terlebih dahulu agar dapat melengkapi syarat pendaftaran.

Sumber : laman http://indonesiapintar.kemdikbud.go.id/

By @emthorif
Foto Ilustrasi : jpgm.co.id

Memilih Sekolah yang Tepat untuk Anak


Oleh: Suhartono

Semua orangtua pasti menginginkan anak dapat menjadi pribadi yang unggul. Salah satu dasar yang penting untuk mencapai hal tersebut adalah dari pendidikan. Tentu sebagai orangtua, memilihkan sekolah sebagai tempat mengeyam pendidikan anak terkadang menjadi sebuah dilema tersendiri. Sekolah yang tepat tentu akan memengaruhi tumbuh kembangnya. Mulai dari konsep pembelajaran, gurunya maupun lingkungan bermain tentu menjadi pertimbangan tersendiri dalam memilih sebuah sekolah yang tepat.  

Berikut beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk menentukan sekolah yang tepat bagi anak. Pertama, pilihlah sekolah yang memiliki guru "unconditional love". Guru-guru yang memiliki sifat unconditional love ini bisa menerima murid apa adanya, tidak menuntut anak di luar kemampuannya, mampu mengembangkan suasana lingkungan menjadi lebih efektif dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Anda sebagai orangtua harus mencari sekolah yang setiap gurunya memiliki sifat seperti itu. Jika guru kerjanya hanya memarahi anak saja, maka akan mengakibatkan mental anak menjadi kurang percaya diri.

Kedua, pilihlah sekolah yang memiliki konsep belajar berdasarkan pengalaman. Sekolah yang memiliki konsep seperti ini biasanya akan mengajak murid-murid terjun langsung ke alam untuk mempelajari hal-hal yang ada di sekitar. Misalnya seperti belajar langsung menghargai lingkungan sekitar, cara membuang sampah yang benar dan lain-lain. Ketiga, biaya.  Faktor biaya masih menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan bagi semua orangtua dalam menentukan sekolah buat anaknya. Sekarang banyak orangtua yang rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik. Namun, tidak ada salahnya jika Anda mencari sekolah yang memiliki biaya terjangkau tetapi kualitas yang baik.

Keempat, konsep belajar siswa aktif. Dalam hal ini, sekolah akan melatih anak untuk menjadi kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi dari benda-benda sekitar. Anda sebagai orangtua jangan terjebak dengan arsitektur gedung yang bagus dan mewah. Sekolah yang baik tidak hanya dilihat dari gedung, tetapi dari konsep belajar yang diterapkan oleh sekolah dan ini mampu mendorong anak menjadi seseorang yang sukses. Kelima, sesuaikan dengan minat dan kemampuan anak. Contohnya,menempatkan anak dengan kemampuan pas-pasan di sekolah akselerasi akan membuat anak tertekan.

Keenam, kualitas pendidik. Bagaimana akhlak guru, profesionalismenya, kemampuan komunikasinya,  dan apakah mereka mudah diajak kerja sama untuk mendidik anak kita.  Kita tidak perlu tergiur guru bertitel segudang: Prof, Doktor, Ir, Psikolog. Yang terpenting  guru memiliki hati untuk mengajar dan mampu menginspirasi anak. Ketujuh, fasilitas sekolah aman dan nyaman, sehingga anak dapat mengaktualisasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tantangan di masa depan.  Sarana dan prasarana sekolah tidak harus mewah tetapi  tidak membahayakan fisik anak, rapi dan bersih.

Kedelapan, ketertiban dan kebersihan sekolah, membuat siswa senang dan betah di sekolah seperti di rumah sendiri.  Sekolah yang rapi dan bersih mengajarkan anak untuk bersikap rapi dan bersih. Sekolah juga memiliki keteraturan program, fisik bangunan, dan hirarki sekolah. Kesembilan, lokasi sekolah dan lingkungan.  Pertimbangkan jarak sekolah ke rumah dan sarana transportasinya, disesuaikan dengan kesehatan anak. Sekolah yang letaknya strategis biasanya kualitasnya relative baik karena kompetisi antar siswa cukup ketat.  Jika lokasi terlalu jauh, anak akan kurang: istirahatnya, interaksi dengan anggota keluarga yang lain atau dengan lingkungan sekitarnya.

Sekolah yang berkualitas minimal harus memiliki 5 budaya: budaya disiplin waktu, budaya membaca, budaya bersih, budaya prestasi, dan budaya akhlak yang mulia. Semakin beragam kegiatan ekstrakurikuler, anak memiliki banyak pilihan sesuai minatnya hingga menjadi kreatif dan produktif. Perhitungkan biaya pendidikan termasuk SPP, uang gedung, seragam, buku, praktikum, kegiatan ekstrakurikuler, les, uang saku, biaya transportasi, perlengkapan sekolah, dll.  Sekolah negeri tingkat SD sampai tingkat SMP kini punya program bebas biaya SPP dan uang pangkal.  Jangan sampai orangtua terbebani biaya sekolah yang mahal sehingga anak harus putus sekolah. Jika anak bersekolah di sekolah negeri, karena porsi agamanya kurang, maka orangtua harus membuat program penambahan tsaqofah Islam, baik dalam program keluarga maupun program di lingkungan sekitar.

Penulis: Suhartono, Pemerhati pendidikan

Foto Ilustrasi : google

Ajarkan Anak Menyelesaikan Masalahnya Sendiri


Oleh : Budi Haryadi

Apakah anda termasuk orangtua yang tidak sabaran ketika anak menghadapi masalah atau kesulitan? Bahkan saking tidak sabarnya, pasti langsung kita bantu atau ambil alih kesulitan tersebut. Contoh, ketika anak kesulitan mengancingkan baju, orangtua langsung membantu mengancingkannya. Ketika anak kesulitan mengikat tali sepatu, orangtua yang mengikatkan, ketika anak bermusuhan dengan tetangga yang sepantaran dengannya, orangtua langsung datang mengadukan ke orangtua tetangga. Hal ini tentu saja berdampak tidak baik bagi perkembangan anak.

Mengajarkan anak tentang pemecahan masalah bisa dilakukan sedini mungkin agar mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Cara yang bisa dilakukan dan diperhatikan orangtua untuk melatih kemampuan pemecahan masalah pada anak-anaknya, antara lain;

Pertama, beri rasa aman dan nyaman dengan cara menunjukkan penerimaan anak, serta memberi kesempatan pada anak untuk kemungkinan melakukan kesalahan. Perlu disadari, dalam hal ini orangtua sedang mengajarkan anak untuk memiliki keterampilan dalam hidup, bukan sedang menciptakan manusia super tanpa kesalahan.

Selanjutnya, orangtua perlu memahami prinsip-prinsip perkembangan agar metode pembelajaran dalam pola asuh pada anaknya dapat berpihak dan sesuai dengan perkembangan anak. Gunakan metode permainan agar lebih mengasyikkan dan membuat anak tidak merasa tertuntut dan tertekan dalam menerima pembelajaran tersebut.

Kedua, orangtua perlu menjadi model yang baik bagi anaknya. Orangtua yang selalu menunjukkan reaksi marah dengan suara keras serta mengumpat saat menghadapi masalah, maka anak akan belajar untuk melakukan hal yang sama dalam menghadapi masalahnya. Maka, tunjukkanlah perilaku baik dalam menghadapi masalah agar dapat ditiru anak.

Ketiga, jalinlah komunikasi dua arah yang baik antara orangtua dan anak. Keterampilan komunikasi yang dimiliki orangtua dapat memperlancar tujuan pembelajaran pada anak. Komunikasi bukan hanya sekedar memberikan tempat curhat bagi anak, tetapi juga harus terampil dalam memberikan umpanbalik secara jelas dan tegas, serta terampil mengkomunikasikan dukungan positif bagi pembentukan perilaku anak.

Keempat, buatlah proses pembelajaran positif tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Gunakan media bermain anak sebagai tempat pembiasaan tersebut, seperti dengan cara bercerita atau pada kejadian sehari-hari. Biarkan anak belajar memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupannya. Orangtua menyediakan fasilitas dan memberikan bantuan jika anak benar-benar tidak mampu menyelesaikan masalahnya.

Sadarkah bahwa dalam hidup ini, masalah merupakan hal penting yang bisa membuat seseorang bertumbuh jadi dewasa? Perhatikanlah anak-anak yang selalu dibantu masalahnya oleh orangtuanya! Ketika akhirnya anak-anak ini tumbuh menjadi remaja dan dewasa, badannya saja yang makin besar, tapi sifatnya masih kanak-kanak, seperti egois, manja, cengeng, atau sifat kekanakan lainnya.

Maukah kita kalau suatu hari anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi seperti ini yang tidak tahu apa-apa, tidak mengerti apa-apa, naif, bahkan tidak mampu hidup tanpa orangtuanya? Mumpung masih kecil. Ajarkan anak-anak keterampilan untuk mengatasi masalahnya sendiri, orangtua cukup ajarkan caranya, jangan bantu anak terus-menerus. Misalnya ketika anak menengahi pertengkaran teman-temannya. Maka, coba hargai pendapat anak dan berikan mereka kepercayaan bahwa ia akan dapat menemukan solusinya. Berikan waktu untuk dapat menengahinya. Meski tak jarang hal ini akan membuat ia berlari dan meminta bantuan orang dewasa untuk dapat menyelesaikan konflik, akan tetapi tetap berikan ruang dan kepercayaan.

Ketika anda datang menghampiri anda untuk meminta bantuan agar bisa menengahi pertengkaran temannya, cobalah ajukan beberapa pertanyaan padanya. Dengan begitu, umumnya anak-anak akan dapat menerima solusi yang diusulkan oleh orang dewasa. "Kalo kata ibu sih, daripada kalian bertengkar gara-gara ingin satu kelompok, lebih baik bermain bersama-sama sayang."

Meskipun masih kecil dan tumbuh dalam tubuh balita, bukan berarti anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Asal ada usaha dan bantuan serta dorongan dari orangtua untuk melakukannya, maka insya Allah perlahan namun pasti si balita akan belajar bagaiman caranya menyesaikan sebuah konflik. Memang hasil yang diraih tidak akan sempurna, akan tetapi proses lah yang harusnya dinilai bukanlah hasil akhirnya.

Penulis: Budi Haryadi, Pemerhati dunia anak

Foto Ilustrasi : google

Lima Adab dan Larangan Orangtua kepada Anak


Oleh: Drs. Slamet Waltoyo

Hampir semua sekolah, atau katakanlah sebagian besar sekolah saat ini menjadikan pendidikan karakter sebagai program unggulan. Bahkan pemerintah pun mewajibkan melalui muatan kurikulumnya. Sebenarnya pendidikan karakter memang bagian utama dari pendidikan di sekolah. Sehingga tidak bisa dilepas. Bukan pendidikan jika tidak ikut mendidk karakternya.

Dalam Islam, pendidikan manusia adalah membangun adab. Maka tidak hanya adab anak yang selalu disuarakan. Melainkan adab orangtua terhadap anak pun juga lebih penting untuk diperhatikan.  Mengingat pendidikan itu berlangsung dari manusia dewasa kepada anak.

Beberapa adab orangtua terhadap anak yang harus diperhatikan antara lain: Pertama, orangtua harus pandai dan menunjukkan tutur kata yang baik. Anak adalah peniru yang baik. Anak pasti banyak aksi. Untuk beraksi, anak akan menunggu bagaimana orangtua melakukannya Apa yang dilakukan orangtuanya itulah yang akan ia tiru. Maka termasuk hal yang sangat penting, yaitu ketika bertutur harus dengan kata-kata yang baik. Baik pilihan katanya. Baik rangkaian kalimatnya. Baik nada suaranya. Harus baik jua gerak bahasa tubuh yang menyertainya.

Larangannya; Jangan sekali-kali membentak kepada anak, atau kepada orang lain di hadapan anak. Jangan sekali-kali berteriak jika suara pelan bisa diupayakan.

Kedua, sifat dasar manusia adalah suka di atas. Senang dipuji. Maka untuk membesarkan hati anak, orangtua harus pandai dan menunjukkan apresiasinya terhadap anak. Dari setiap usaha positif yang telah dilakukan anak. Apalagi jika telah memberikan hasil positif. Maka berilah penghargaan.

Anak harus terus berkembang. Jika menginginkan anak lebih cepat berkembang maka harus didorong. Respon orangtua terhadap terhadap aksi anak dapat menjadi pendorong, atau bisa juga menjadi penghalang. Respon yang bersifat positif adalah penghargaan yang disertai masukan. Ini akan membesarkan hati anak dan mendorongnya untuk terus melakukan aksi kemajuan.

Respon yang bersifat negatif akan mengecilkan hati dan menghalangi usaha anak. Yaitu respon yang bersifat merendahkan. Maka larangan yang kedua adalah; jangan sekali-kali memaki anak. Apalagi dihadapan orang lain.

Ketiga, sifat dasar manusia yang lain adalah ingin diakui keberadaannya. Sakit jika namanya dikecilkan apalagi jika ditiadakan. Terutama di antara orang-orang di sekitarnya. Jika di dalam keluarga berarti keberadaan di antara saudara-saudaranya. Maka termasuk adab yang penting bagi orang tua adalah berlaku adil terhadap semua anak-anaknya.

Adil tidak berarti harus memberikan hal yang sama kepada semua anak-anaknya. Anak mempunyai kebutuhan yang berbeda berdasarkan sifat, jenis kelamin, usia dan sebagainya. Maka adil adalah memberikan kepada semuanya secara proporsional. Yang terbaik bagi semuanya. Yang menguntungkan bagi semuanya. Yang beresiko terkecil bagi semuanya. Maka larangan yang ketiga adalah; jangan membedakan di antara anak yang satu dengan lainnya.

Keempat, hak utama anak dari orangtua adalah mendapatkan pendidikan yang baik. Maka adab utama orangtua terhadap anak adalah memberi pendidikan yang baik. Pendidikan yang menjaga dan mengembangkan fitrahnya. Tidak hanya pendidikan di usia sekolah. Adab ini harus dilakukan sejak ia siap menjadi seorang bapak. Kalau dirunut maka adab ini dimulai dari adab menentukan pendamping dalam mendidik anak. Adab dalam merencanakan keberadaan anak. Adab ketika anak masih dalam kandungan. Adab ketika anaknya lahir. Dan adab mendidik sesuai dengan perkembangan usianya.

Karena tuntutan kemajuan dan perkembangan anak yang semakin kompleks, maka tidak cukup hanya dari peran orangtua dalam mendidik untuk mengembangkan potensinya. Orangtua selanjutnya membutuhkan mitra untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Dimasukkanlah anak-anak ke madrasah/sekolah pilihannya. Pilihlah sekolah/madrasah yang memberikan pendidikan sesuai dengan harapan orangtua, sehingga bisa bekerjasama dalam menjaga fitrahnya dan mengembangkan potensinya. Maka larangan yang keempat adalah; jangan lengah dalam mendidik, jangan salah dalam memilih lembaga pendidikan sebagai mitra.

Kelima, semua upaya lahir bisa kita lakukan untuk membangun kesholehan anak. Tetapi hasil ada di kekuasaan Allah Ta’ala. Maka adab yang harus dilakukan orengtua adalah mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Doa orangtua apalagi Ibu terhadap anak insyaAllah mustajab. Maka larangan yang kelima adalah; jangan lupa mendoakan anak dan jangan sekali-kali mendoakan keburukan bagi anak dalam semua situasi, seburuk apapun situasinya.

Penulis: Drs. Slamet Waltoyo, Guru MI Al-Kautsar Sleman

Foto Ilustrasi : google

Adil, Tawadhu, dan Sabar


Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Para guru akan menghadapi kondisi yang beragam terkait murid-muridnya, baik itu berupa pembagian tugas maupun kewajiban. Jika memang ada tugas-tugas tertentu yang memerlukan adanya kerja sama kelompok, atau berupa sikap mengistimewakan sebagian dari sebagian yang lain, hendaknya guru bersikap adil dalam memberikan nilai. Tidak ada ruang bagi seorang guru untuk mencintai salah seorang dari mereka, dan bersikap mengistimewakan yang satu dari yang lainnya, baik karena kedekatan, lebih mengenal, ataupun karena sebab lainnya. Sikap seperti ini dapat dikategorikan sebagai sikap yang zhalim yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala dan pelakunya diancam dengan siksaan.

Sikap tidak adil dari seorang guru, seperti membeda-bedakan murid, akan berakibat timbulnya perpecahan, ketidakharmonisan, permusuhan, dan kebencian di antara murid-muridnya. Selain itu, sikap demikian juga akan mengakibatkan terciptanya jurang yang sangat dalam antara seorang guru dan murid-murid yang diperlakukan berbeda dengan murid lainnya. Seorang guru harus bersikap adil terhadap murid-muridnya agar timbul rasa persaudaran dan kecintaan di antara mereka. Jika memang memiliki kedekatan hubungan atau persahabatan dengan salah seorang murid, guru hendaknya berusaha menutupinya dari pendengaran dan penglihatan murid-murid yang lain.

Para guru juga perlu menunjukkan rendah hati dalam berhubungan dan berinteraksi dengan murid-muridnya sebagai rasa cinta dan kasih sayang, nasihat, kelembutan, penghormatan, perlindungan, dan pertolongan terhadap mereka. Guru yang tawadhu tidak akan menemui banyak kesulitan untuk bertanya, berdiskusi, dan memberikan nasihat atas apa yang terdapat dalam jiwa mereka. Sifat tawadhu dapat mengancurkan batas yang menghalangi antara seorang guru dan murid-muridnya. Jika murid-murid dekat dengan gurunya, maka mereka akan lebih mampu menyerap ilmu dengan baik. Dengan kedekatan tersebut, guru dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang sedang mereka hadapi dan hal-hal apa saja yang dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana yang telah digariskan.

Sebaliknya, sikap sombong dapat menjauhkan para murid menjauhi guru-gurunya. Para murid tidak akan merasa nyaman berada bersama guru yang sombong. Mereka tidak akan mau menceritakan perasaan dan permasalahan yang sedang dihadapinya. Mereka juga akan menolak untuk menerima ilmu dari gurunya. Guru yang takabur akan mengalami banyak kesulitan untuk mengetahui sejauhmana hasil yang telah dicapainya. Guru yang demikian juga tidak akan dapat mengetahui apa saja yang ia butuhkan untuk mengevaluasi metode pendidikannya dan menyusun kembali informasi untuk menerapkannya.

Para guru juga membutuhkan kesabaran dalam berinteraksi dengan murid-murid yang memiliki karakter dan pola pikir yang berbeda-beda, menghadapi problematika para murid yang juga terjadi secara terus menerus. Ditambah lagi dengan tugas sebagai seorang guru yang harus melakukan kegiatan pembaharuan, perbaikan, dan pengajaran yang terus-menerus setiap harinya. Setelah mengajar, guru terkadang dikejutkan oleh salah seorang murid yang mengatakan bahwa dirinya belum memahami seluruh pelajaran yang diterangkannya. Seorang guru juga harus menerima pertanyaan-pertanyaan sepele yang tidak pada tempatnya, termasuk jika harus menerima kata-kata yang tidak pantas dari salah seorang muridnya. Seorang guru juga harus sabar melihat salah seorang muridnya tertidur atau bercanda manakala ia sedang menjelaskan pelajaran.

Allah Azza wa Jalla sangat memuji orang-orang yang mampu menahan amarah sekaligus memaafkan kesalahan orang lain (QS Ali Imran [3]:134). Kesabaran dan kemampuan menahan amarah membutuhkan latihan yang sangat panjang agar terpatri dalam diri seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyarankan agar orang yang sedang marah mengucapkan istiadzah, “Aku berlindung kepada Allah  dari godaan setan yang terkutuk,” dan berdiam diri tidak mengatakan apa pun agar tidak berlaku berlebihan yang dapat menjerumuskan ke dalam hal yang lebih membahayakan. Jika orang yang marah sedang berdiri, maka hendaknya ia duduk. Jika amarahnya tidak juga meredam, maka hendaknya ia berbaring. Orang yang sedang marah hendaknya mengambil air wudhu seperti wudhu ketika mau mengerjakan shalat karena amarah itu dapat diredam dengan air.

Penulis: Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pemimpin Redaksi Majalah Fahma, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Foto Ilustrasi : google

Agar Orangtua Menjadi Sahabat Bagi Anak


Oleh: Ahmad Budiman

Orangtua harus mampu menjadi sahabat bagi anaknya. Tak bisa dipungkiri, orangtua lebih tahu pahit manis kehidupan daripada si anak, lebih dahulu tahu, lebih berpengalaman, sehingga mereka perlu selalu menunjukkan apa yang baik dan apa yang buruk dan perlu dihindari supaya anaknya terhindarkan dari hal-hal yang tidak baik.

Setiap anak yang dilahirkan itu dilahirkan atas fitrah (kecintaan kepada yang benar dan sikap mengutamakan yang benar). Ketika anak kita lahir, ia siap diisi apa saja oleh orangtuanya dan pendidiknya. Selain itu ada banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses perkembangan fisik dan mental anak. Orangtua dalam hal ini berperan sebagai penjaga.

Dewasa ini, hal yang sering diabaikan oleh orangtua adalah pola asuh. Banyak ayah yang merasa sudah cukup dengan memberikan uang dan mainan pada anak tanpa mau tahu urusan dan masalah yang sedang dihadapi anak. Padahal ketidak hadiran ayah dalam pola asuh pendidikan anak-anak menurut Elly Risman, cenderung seringkali mengakibatkan anak rentan terkontaminasi lingkungan yang kurang baik misalnya dari tontonan dan sebaran internet yang sampai pada genggaman. Peran ibu menjadi salah satu tonggak dalam pendidikan anak  seperti disebutkan "ummi madrosatul ulla". Sejak dari kecil tidak banyak orangtua yang memberikan pembelajaran mengenai filosofi, cara menjadi hidup cara menjadi manusia seutuhnya,  selama ini kita sebagai manusia berbicara tentang  superior dan interior atau kekuasaan dan materi.

Bagaimana cara tepat untuk menjadi sahabat anak adalah dengan mencontoh hubungan kita dengan pasangan, berbicara dari hati ke hati, berbicara tentang kasih sayang begitupun dalam memperlakukan anak sebagai sahabat. Sebagai contoh kita bisa bergerak adalah berdasarkan konsep pikiran. salah satu anggota tubuh kita,  tangan tidak pernah egois selalu menuruti apa yang ada dalam pikiran. Memakaikan kacamata, mengambil maknan dimasukkan ke dalam mulut itu atas dasar konsep pemikiran.

Apapun anggota tubuh yang kita miliki sebagai manusia punya filosofi di dalamnya. filosofi itu mendasari setiap perilaku manusia.  Hal yang sama berlaku untuk menerapkan anak sebagai sahabat. Penerapan konsep yang baik dari kedua orangtua menjadi dasar anak menuruti apa yang menjadi pemikiran orangtua, menuruti agar mereka mencintai dirinya, ayah bundanya lingkungan dan keluarganya. Dengan konsep ini anak dapat mendapat dukungan penuh dari orangtua dan mendapatkan kenyamanan untuk menvceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

Tips menjadi orangtua sahabat anak
Jadilah pendengar yang baik
Anak cenderung berkeluh kesah tentang teman- temannya di sekolah. Luangkan waktu untuk mendengar semua keluh kesah anak dengan seksama. Jangan menyela atau menyalahkannya.

Menanyakan/memperhatikan kegemarannya
Tanyakan kegemarannya jika kita tak sempat memperhatikan kegemaran buah hati kita. Ajak anak untuk melakukan kegemarannya.Tunjukkan bahwa kita adalah ibu yang siap menjadi sahabatnya.

Akrab dengan temannya
Kenali setiap temannya agar kita tau siapa saja yang dekat anak kita. Ini membantu kita mengetahui pergaulan anak.

Satu hari waktu bermakna
Buat kegiatan yang melibatkan anggota keluarga  waktu satu hari dalam seminggu. Bagi kita keluarga muslim, optimalkan hari Jum’at setelah jum’atan untuk membuat kreatifitas di rumah. Misalnya membuat kue resep sederhana. Bukankah pahala yang banyak di hari Jum’at? Supaya anggota keluarga juga menunggu Jum’at berikutnya.

Berikan ruang privacy
Berikan ruang privacy anak agar dia merasa menjadi pribadi mandiri. Karena tiap – tiap orang memiliki privacy yang harus dihormati.

Penulis: Ahmad Budiman, Pemerhati pendidikan

Foto Ilustrasi : google

Tetap Rendah Hati


Oleh: Salim Abu Hanan

Dua puluh lima persen dari murid di kelas saya bercita-cita ingin menjadi guru. Guru menjadi pilihan terbanyak di antara pilihan profesi lain. Tidak saya tanyakan apa alasannya. Mungkin dengan berbagai alasan yang berbeda. Mereka adalah anak-anak yang masih kuat imajinasinya. Dengan imajinasinya mereka menjadikan guru sebagai idola.

Ketika saya masih duduk di bangku SD, di mata saya guru adalah orang yang serba tahu. Guru adalah tempat bertanya bagi murid-muridnya. Tentang apa saja. Pak Yafiru, wali kelas saya di kelas empat (di tahun 1975) adalah orang yang “sempurna”. Beliau santun, pintar, sehingga sangat disegani. Guru adalah orang yang didengar tutur katanya. Guru adalah orang yang dipatuhi nasehat-nasehatnya. Guru adalah orang yang dihormati di sekolah maupun di masyarakat. Sepertinya guru adalah orang yang tidak punya salah.

Inilah yang mengharuskan guru agar hati-hati. Tidak terperangkap pada sikap ujub. Yang mengiyakan pandangan anak terhadap dirinya. Yang merasa pantas jika ada pujian murid baginya.  Jadilah guru yang merasa kurang meski dihadapan murid. Maka beberapa adab guru berikut perlu direnungkan ketika berhadapan dengan murid.

Pertama, selalu meningkatkan ilmu dan pengetahuannya. Meskipun yang dihadapi adalah anak-anak. Tetapi ilmu terus berkembang dan pengetahuan selalu terbarukan. Jika guru tidak mengikutinya bisa-bisa ketinggalan oleh murid. Dalam hal ini, sebagai manausia biasa, tentu guru memiliki keterbatasan. Jika suatu saat anak murid mengajukan masalah yang belum dikuasainya, jangan merasa rendah, jangan malu dan takut untuk mengatakan “ saya tidak tahu” atau “ Wallahu ‘alam”. Kemudian menjanjikan kepada murid untuk memberi penjelasan di lain waktu.

Hal tersebut tidak akan menurunkan nama anda sebagai guru, tetapi justru menunjukkan tanggungjawabnya sebagai narasumber. Sebagaimana tersebut dalam satu riwayat hadis, bahwasanya nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Pernah ditanyai oleh seorang laki-laki, tentang negeri yang paling buruk, kemudian nabi menjawab, “ saya tidak tahu, saya akan tanyakan kepada Jibril ”, kemudian nabi menanyakan hal tersebut kepada Jibril ‘alaihissalam, Jibril menjawab “ saya tidak tahu, saya akan tanyakan kepada Allah ta’ala”.

Kedua, demokratis dalam berpendapat. Jangan merasa guru selalu benar. Biarkan dan suburkan ide-ide cemerlang anak kita. Jika anak mengkritisi pernyataan guru, dahulukan berpikir “mungkin pendapat anak lebih benar”. Jangan keburu memastikan ; itu pendapat anak-anak pasti belum tahu mana yang benar.  Jangan takut mencabut pernyataan kalau memang salah. Jangan malu mengakui pendapat anak yang lebih benar. Jangan bermain kalimat hanya untuk menutupi kesalahan sendiri. Kebenaran harus dijunjung tinggi, dihargai sekalipun kebenaran itu datang dari orang yang derajatnya lebih rendah.

Ketiga, memberi perhatian kepada semua dan bedakan karena tiap anak memang berbeda. Adil dalam berbagi perhatian. Adil tidak mesti sama  karena pemberian yang sama bukan berarti adil. Pastikan tiap anak mendapatkan porsi perhatian. Terlepas dari kontroversi ada-tidaknya anak “bodoh”, pada tiap kelas selalu ada anak yang lambat dalam belajar. Anak yang dikhawatirkan akan tertinggal. Terhadap anak yang demikian perlu perhatian yang lebih tanpa menghilangkan perhatiannya terhadap anak yang lain. Dibutuhkan teknik dan seni komunikasi tersendiri. Terhadap anak yang lambat, tetap berfikir positif bahwa mereka anak yang membutuhkan waktu dan cara yang berbeda dari temannya dalam menangkap hal yang sama.

Jangan sekali-kali mengatakan atau menyindir yang merendahkan mereka. Perkataan “kamu bodoh” atau “ kamu tidak bisa” bisa menjadi stempel permanen. Demikian juga menjadi penting untuk mengingatkan kepada anak, jangan katakan “Saya tidak bisa” tetapi katakan “Saya harus bisa” atau paling tidak “Saya belum bisa”

Keempat, akrab terhadap murid dan tetap dominan. Ada guru ingin membangun keakraban terhadap murid dengan bercanda dan bersendau-gura bersama murid. Ya, memang bisa menjadi akrab tetapi dapat menghilangkan dominansi guru terhadap murid karena sering main dan bercanda bersama sehingga murid lupa bahwa mereka adalah guru. Bukan salah murid jika kemudian murid menghadapi guru tersebut sebagaimana menghadapi temannya. Yang perkataannya bisa dipatuhi bisa juga diabaikan. Maka kerugian bagi guru karena akan kehilangan wibawa. Dekati murid dan tetaplah sebagai guru.

Penulis: Salim Abu Hanan, Kepala Madin Saqura Sleman

Foto Ilustrasi: google

Memperkuat Ruhiyah Anak


Oleh: Zakya Nur Azizah

Usia dini adalah saat yang tepat untuk menanamkan berbagai karakter dan pembiasaan Islami agar anak lebih mudah mengaplikasikannya dalam keseharian. Usia dini merupakan saat yang tepat untuk mulai menanamkan nilai-nilai ruhiyah pada anak. Pembelajaran tauhid sudah semestinya mulai ditanamkan. Setiap ada keluhan atau kesyukuran, apakah anak-anak kita sudah terampil berdzikir? Ketika jatuh beristighfar, ketika dipuji mengucap hamdalah, melihat keindahan mengucap maa sya Allah. Keterampilan untuk senantiasa mengingat Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang pantas disembah dan dimintai segala permintaan merupakan hal utama yang perlu diajarkan pada buah hati kita.

Banyak orangtua yang sudah mengajarkan anak terampil baca tulis dan hitung sejak kecil, namun belum mengajarkan anak terampil mengingat Allah di waktu sempit dan lapang. Biasakanlah untuk mengucapkan kalimah thayyibah atau kata-kata yang baik dan mengingatkan kepada Allah, akan mudah untuk mengajak anak berbicara baik sekaligus ingat kepada Allah. Hal ini memang tidaklah mudah dilakukan karena pengaruh eksternal yang luar biasa besar. Tapi, kita bisa mengupayakan untuk meminimalisir pengaruh luar dengan banyak memberikan masukan positif untuk otak anak-anak kita.

Sifat-sifat Allah yang tersurat dalam Asmaul Husna layaknya senantiasa kita ajarkan kepada anak. Baik dalam situasi belajar maupun bermain. Asmaul Husna pun bisa kita selipkan dalam doa sehari-hari dan dilakukan secara bergantian dari 99 sifat yang ada. Insya Allah, sifat-sifat Allah akan tertanam kokoh dalam jiwa anak.

Sewaktu dalam kondisi gembira, sebutlah bahwa nikmat dan rasa gembira ini datang dari Allah. Anak-anak yang kondisi otaknya dominan dalam keadaan alpha adalah saat terbaik untuk mengajari bersyukur kepada Allah. Jelilah melihat peristiwa yang bisa kita jadikan momen untuk mengajari anak bersyukur. Walaupun peristiwa tersebut kecil namun jika membekas dalam hati anak, pasti anak akan paham bahwa kita harus bersyukur kepada Allah.

Semua kebaikan yang kita terima pada hakikatnya adalah karena Allah. Bagaimana cara menyampaikan hal itu kepada anak-anak kita? Allah harus senantiasa berada di lisan dan hati seorang ibu. Seorang ibu yang di hatinya selalu mengingat Allah, dengan tulus merupakan tenaga yang amat kuat untuk menularkannya kepada anak. Anak yang sudah tertulari hal positif dari ibunya akan mudah mengaitkan segala apapun kepada Allah SWT.

Jangan dikira anak-anak kita tidak bisa diajak berdialog. Semua anak bisa kita ajak diskusi dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Semakin anak diajak diskusi, akan lebih mudah menerapkan sesuatu yang disepakati bersama. Mengajak anak untuk memulai segala sesuatu dengan basmalah misalnya, akan lebih berarti jika mereka sudah memahami dengan benar mengapa mereka harus melakukan seperti itu.

Untuk melatih ketangkasan fisik, anak bisa diajarkan olahraga memanah dan berenang.  

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap hal yang tidak ada dzikir kepada Allah adalah lahwun (kesia-siaan) dan permainan belaka, kecuali empat: candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, latihan memanah, dan mengajarkan renang." (HR. Imam An Nasa'i)

Kita juga bisa memperkuat spirit ruhiyah anak dengan mengajarkan keterampilan untuk beramar ma'ruf dan nahi munkar pada anak-anak sejak dini. Agar mereka tahu bahwa orang dewasa pun tidak selalu benar, ada kalanya orang dewasa lalai dan perlu diingatkan. Berikan kesempatan pada anak-anak untuk mengingatkan orangtua jika sedang malas shalat misalnya.

Jangan mengatakan, "Kamu masih kecil sok-sokan ingetin abi dan umi..." padahal amar ma'ruf nahi munkar jika tidak kita ajarkan pada anak sejak kecil, kapan ia akan terbiasa?

Penulis: Zakya Nur Azizah, Pemerhati dunia anak

Foto Ilustrasi : budiccline