Nonton Bareng Film G30SPKI Santri Hidayatullah dan Koramil Ngaglik



www.majalahfahma.com | Sabtu (30/09/2017) Ratusan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta memadati masjid Masjid Markazul Islam Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta. Pada malam itu diadakan nonton bareng film G30SPKI. Hadir pada malam itu para Bapak-bapak TNI dari Koramil Kecamatan Ngaglik.

Ustadz Abu Abdurrahman, dalam sambutannya memberikan motivasi kepada ratusan santri Hidayatullah Yogyakarta untuk memahami sejarah, bahwa PKI itu ada dan sekarang pun masih ada. Beliau juga menyampaikan kepada Bapak-bapak TNI untuk bisa membimbing para santri dari segi fisik atau mental mereka sehingga kelak menjadi santri yang siap membela negara. Gema takbir membahana di ruang masjid menyambut seruan ini.

Sementara itu, salah satu anggota TNI Koramil Ngaglik, ketika menyampaikan sambutan siap bergandeng dengan rakyat untuk membasmi paham komunis ini. 

Kegiatan nonton bareng ini juga bersamaan dengan acara Silaturahmi Anggota Majelis Mudzakarah Ustadz Suharsono bersama DPW Hidayatullah DIY - Jawa Tengah Bagian Selatan yang berlangsung selama 2 hari, yaitu Sabtu dan Ahad ini.

Dalam acara ini juga diserahkan secara simbolis, dana bantuan untuk Muslim Rohingya yang digalang oleh santri-santri Pondok PEsantren Hidayatullah Yogyakarta sebesar lebih kurang Tujuh Puluh Juta Rupiah.

Rep. @EMTHORIF


Negeri yang Menua



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.

Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi,  kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak.

Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara.

Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak.

Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga.

Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit.

Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor "kasar", meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras.

Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga "berumur" agaknya sedang mengabarkan sesuatu.

Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%.

Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar.

Wallahu a'lam bish-shawab.

GA 881 Narita - Denpasar, 26 September 2017


Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi. Penulis Buku-buku Parenting
Foto : google

Belajar Sejak Kecil


Oleh : Prof. Dr. Indarto, DEA

Salah satu perbedaan yang sempat saya amati tentang kebiasaan masyarakat Indonesia dengan masyarakat negara maju adalah ketika mereka sedang menunggu, atau ketika mereka sedang berada di dalam kendaraan umum, menunggu giliran periksa di rumah sakit, antrean di bank atau menunggu bus kota.

Beberapa waktu yang lalu, ketika berkunjung ke suatu negara, saya selalu berusaha menyempatkan diri untuk naik sarana transportasi massal, biasanya kereta listrik bawah tanah, sub-way atau metro. Suatu pemandangan yang selalu saya lihat di dalam kereta tersebut, baik di Seoul, Tokyo maupun di Paris, yaitu banyaknya para penumpang yang duduk sambil membaca, baik buku, majalah maupun koran (waktu itu ebook-reader belum ada). Perilaku mereka hampir sama, untuk memanfaatkan waktu dalam perjalanan kebanyakan mereka membaca. Bahkan beberapa penumpang lebih senang memejamkan mata, istirahat, tidur. Paling tidak mereka berusaha memanfaatkan waktu untuk mengembalikan stamina.

Lalu, apa yang saya lihat ketika beberapa kali saya naik bus Trans Jakarta sebagai salah satu sarana transportasi massal di ibukota? Di dalam bus tersebut jarang sekali saya melihat penumpang yang membaca, yang sering saya lihat adalah sederetan remaja yang duduk sambil mengoperasikan hand-phone.

Untuk membunuh waktu, masyarakat kita lebih memilih sms-an daripada membaca, sebuah kegiatan yang kemanfaatannya masih dipertanyakan terutama bagi remaja. Hal ini menunjukkan bahwa budaya membaca di kalangan masyarakat kita memang masih jauh ketinggalan dibanding mereka. Masyarakat kita lebih senang menulis sms yang busa dilakukan tanpa harus menggunakan pikiran, lebih bersifat entertainment. Meskipun mereka juga membaca tetapi yang mereka baca bukanlah sumber informasi, berbeda dengan membaca buku yang berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Minat membaca saja masih sangat rendah, apalagi minat untuk belajar, busa kita bayangkan kapan bangsa Indonesia akan berhasil mengejar ketertinggalan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara lain. Kalau ini terus berlanjut, kita akan selalu menjadi negara yang terjajah secara ilmu pengetahuan dan teknologi yang implikasinya sangat luas. Kalau kita perhatikan produk kendaraan bermotor, peralatan elektronik yang dibuat di Indonesia kelihatannya laku keras, namun yang mendapat untung besar bukan negara kita tetapi negara yang punya teknologi dan modal, misalnya Jepang, Korea. Hal ini belum ditambah dengan produk-produk berteknologi tinggi dari negara lain yang masuk ke Indonesia.

Budaya gemar membaca atau belajar tidak muncul begitu saja, harus dikondisikan sejak kecil. Pada kenyataannya tidak banyak orangtua yang membuat perencanaan kegiatan agar anaknya mempunyai minat belajar sejak kecil. Memang, untuk menumbuhkan minat belajar pada anak-anak tidaklah mudah. Perlu kesabaran, keseriusan, juga perlu kesepakatan dengan pasangan kita, dan bahkan perlu strategi. Bila kita sudah berhasil membiasakan belajar pada anak-anak sejak kecil, insyaAllah setelah besar mereka akan lebih mudah belajar secara mandiri.  

Nabi Muhammad Shallalahu Allaihi Wasallam sendiri ketika menerima wahyu pertamakali di gua Hira yang dibawa oleh malaikat Jibril juga dimulai dengan perintah “iqra”, bacalah. Nabi menjawab, “Saya tidak dapat membaca.” Lalu malaikat memegang dan mendekap Nabi dengan kuatnya. Kemudian malaikat Jibril melepaskan dan mengatakan, “Bacalah!” Nabi menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Malaikat itu mengulanginya untuk yang ketiga sambil mengatakan, “Iqra’ busmi rabbikal ladzii khalaq,” Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Al-’Alaq: 1).

Hendaknya percakapan malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad Shallalahu Allaihi Wasallam di gua Hira ini dapat dijadikan cambuk bagi umat Islam agar selalu belajar, insyaAllah.


Penulis: Prof. Dr. Indarto, DEA, Pemimpin Umum Majalah Fahma, Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UGM Yogyakarta
Foto: google

Anak Cengeng? Jangan Panik


Oleh : Nur Muthmainnah

Menangis merupakan hal yang sangat lumrah terjadi pada anak-anak.  Namun bukan berarti kita lantas menganggap remeh tangisan anak. Jika seorang anak menangis hanya karena hal-hal kecil, seperti tersenggol sedikit atau kaget, mungkin anak tersebut termasuk kategori cengeng. Karena itu, hal yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah mencari penyebabnya dan memperbaikinya.

Biasanya anak menjadi cengeng karena tidak memiliki cara lain saat ingin mengungkapkan perasaannya. Untuk itu, penting untuk mengajari anak berbicara sejak dini. Mengajak anak mengobrol adalah salah satu cara untuk memancing agar anak bisa bicara banyak.

Anak menjadi cengeng bisa juga karena ingin menarik perhatian orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jika orangtua terlalu memanjakan anak, biasanya anak akan menjadi cengeng. Jika keinginannya tidak terturuti, maka anak akan menangis. Bila sudah begini, orangtua yang memanjakan anaknya akan segera menuruti keinginan anak agar anak berhenti merengek dan menangis. Imbasnya, anak akan menjadikan rengekan dan tangisan sebagai senjata. Hanya dengan merengek atau menangis kecil, ia tahu kalau keinginannya akan segera dituruti.

Mungkin orangtua akan kesal jika anaknya termasuk kategori cengeng. Sebagai orangtua yang bijak, tentu kita tidak akan memukul atau mencubit si kecil. Sebab hal itu justru akan membuat tangisannya semakin kencang. Selain itu, jika orangtua sudah “main tangan”, dikhawatirkan anak akan menirunya, entah kepada teman, guru atau bahkan pada orangtuanya sendiri.

Saat anak mulai menangis, lebih baik orangtua berbicara pada anak. Bicara secara perlahan dan tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Orangtua bisa menasehatinya, jika menginginkan sesuatu ia harus mengatakannya, bukan menangis.

Dengan begitu, anak akan mulai berbicara tentang keinginannya. Jika orangtua memang tidak bisa memenuhinya, beri penjelasan dan alasan kuat mengapa keinginannya tidak terpenuhi. Jika orangtua akan memenuhi keinginannya di lain waktu, tentu harus berjanji pada anak. Tapi janji itu harus ditepati. Jika tidak, anak tidak akan percaya lagi pada orangtua.

Saat anak mulai dengan tangisannya, cobalah sesekali untuk pura-pura tidak mendengarnya. Saat tangisannya mulai mereda, dekati si kecil dan tanyakan apa maunya. Dengan begitu, ia akan mengerti bahwa menangis tidak akan membuat keinginannya terpenuhi.

Orangtua juga bisa mencoba untuk mengalihkan perhatian anak. Misalnya saja dengan menunjukkan buku cerita yang bagus dan mengajaknya membaca bersama. Atau mengeluarkan permainan yang seru seperti bermain ular tangga dan lainnya.

Sifat anak cengeng memang tidak bisa hilang sendiri. Meski demikian, anak harus dilatih untuk tidak cengeng. Jika orangtua membiarkannya, ia bisa tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, tidak mandiri dan selalu merasakan kecemasan.  

Perlu diingat pula, jangan pernah orangtia memberi julukan atau label anak cengeng padanya. Jika orang lain mendengar, otomatis dia pun akan memberi julukan sama pada anak kita. Jika sudah begitu, karena merasa telah diberi cap sebagai anak cengeng, anak akan menjadi lebih sulit untuk diubah perilakunya. Dia akan merasa bahwa dirinya memang anak yang cengeng.

Meski anak cengeng, jangan pernah bosan untuk memberikan ia pujian saat ia melakukan hal yang baik. Termasuk saat ia berusaha menyampaikan keinginannya tanpa menangis. Dengan begitu ia akan belajar dan paham, bahwa untuk menyampaikan keinginannya cukup dengan berbicara, bukan dengan menangis.

Berikan selalu perhatian kita terhadap apapun yang dilakukan si kecil. Jangan hanya memberikan perhatian saat ia menangis. Karena dengan begitu, anak cengeng akan menjadikan tangisan sebagai alat untuk mencari perhatian. Mengatasi anak cengeng memang tidak mudah, kesabaran orangtua adalah kuncinya.


Penulis: Nur Muthmainnah, Yogyakarta
Foto : https://hellosehat.com/wp-content/uploads/2017/04/5-Tips-Jitu-Menghadapi-Anak-Cengeng-1000x400.jpg

Menebar Dengki Menuai Rugi


Oleh : M. Sutrisno

Sifat dengki sungguh tidak terpuji, bisa meracuni pikiran dan hati bahkan membuat orang menjadi lupa diri. Dengki akan menjauhkan kita dari rezeki dan kawan-kawan pun bisa pergi berlari.

Karena jeleknya sifat dengki, Allah Ta’ala  mengajarkan kepada kita untuk berdoa agar terlindung dari keburukan para pendengki. Dalam Alquran Surat Al-Falaq ayat 5 disebutkan, “Min syarri haasidin idzaa hasad” (dari keburukan pendengki jika mereka melakukan kedengkian)”. Ingat, orang yang dengki bisa saja melakukan berbagai perbuatan keji.

Apa  yang dimaksud dengki atau hasad itu? Dengki adalah perasaan seseorang yang menginginkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki. Sifat ini sangat berkaitan dengan iri hati, orang pun sering menyatukannya menjadi iri dengki.

Ketika kita mengikutkan anak-anak dalam suatu lomba, misalnya, pastikan kita dan mereka jauh dari rasa dengki.  Kita boleh berlomba-lomba dalam kebaikan. Tapi mendengki orang lain yang mendapat kesuksesan itu tidak dibenarkan. Silakan saja berlomba adu kepintaran, wawasan, ketangkasan, keterampilan, pengalaman. Jika berhasil menjadi pemenang, bersyukurlah, bergembiralah tapi jangan berlebihan.

Bagaimana jika ternyata anak-anak kita atau anak didik kita kalah? Besarkan hati mereka dan jangan mendengki dengan mencari-cari kesalahan lawan. Jangan sampai berkata,“Penampilannya jelek kok bisa menang. Pasti mereka menyuap juri!”  

Penyebab dan akibat sifat dengki punya kaitan yang erat. Sifat sombong, berbangga diri, merasa lebih tinggi, kikir, dan sejenisnya bisa menjadi penyebab lahirnya sifat dengki. Awas, hati-hati! Dengki pun bisa melahirkan kesombongan, kikir, buruk sangka, fitnah, ghibah, dan sebangsanya.

Orang yang tidak mau bersyukur biasanya mudah diserang penyakit dengki dengan cepat. Kedengkiannya pun akan mengakibatkan dia menjadi orang yang kufur nikmat. Pendengki sering tidak mau mengakui nikmat Allah yang diberikan kepada para sahabat. Akhirnya, dia mudah dibujuk setan untuk berbuat nekat, melakukan maksiat.

Saat dijemput dari sekolah, seorang anak SD berkata pada ayahnya, “Pak, mbok beli motor baru kayak Mas Fulan itu lho. Bisa cepat jalannya, jadi njemput aku tidak telat. Kalau dijemput pakai motor jelek begini aku malu sama teman-teman. Jalannya pelan banget kayak siput.”

“Ya, nggak apa-apa pakai motor jelek tapi hasil beli sendiri. Kalau motor baru ayah temanmu itu bisa jadi dari hasil korupsi. Pakai motor baru bisa bikin sombong, jalannya kencang menyalip orang sembarangan,” sahut sang ayah spontan. Disadari atau tidak, sang ayah sudah menanamkan benih kedengkian ke dalam jiwa si anak. Kelak, cepat atau lambat, dia akan memetik kerugian.

Beda jika tanggapan si ayah begini: “Ya, kita bersyukur masih punya motor meski motor lama. Bisa untuk antar-jemput sekolah, bisa untuk kerja ayah. Biar pelan asal selamat. Besok kalau ayah sudah punya banyak rezeki bisa ganti motor baru. Doakan agar ayah sehat dan sukses bekerja ya.” Sang anak pun diajari untuk bersyukur dan menjauhi dengki.

Bagaimana kiat membersihkan diri dari sifat dengki. Pertama, syukur nikmat.Kedua, bersabar sehingga terjauh dari sifat kasar. Ketiga, berpikiran positif. Semua orang dikarunia kelebihan dan kekurangan. Kita tidak perlu mendengki yang punya kelebihan atau mengejek yang dalam keterbatasan. Kita berpikiran positif bahwa semua pasti ada hikmahnya  (QS. An-Nisa’: 32).

Keempat, jadilah orang kreatif. Punya banyak ide, gagasan, alternatif, solusi, jalan keluar, pilihan, kiat, tips, dan strategi. Ada teman berprestasi, orang kreatif tidak akan mendengki. Prestasi kawan justru dijadikan sarana memotivasi diri untuk dapat berprestasi yang lebih tinggi

Penulis : M. Sutrisno, Aktivis Yayasan Pusat Dakwah & Pendidikan
Silaturahim Pecinta Anak-anak (SPA) Indonesia.
Foto : google

Memahami Proses Belajar yang Berbeda


Oleh : Loka Pendimaran

Proses belajar yang menyenangkan tergantung pada apa yang dilakukan dan digunakan sebagai sarana belajar. Merealisasikan minat pada proses belajar bisa berbeda-beda setiap individu, maka tidak ada pembenaran terhadap pemaksaan metode tertentu pada proses belajar anak. Pemaksaan berdampak pada keinginan untuk sering menolak ajakan belajar, karena anak-anak merasa tidak nyaman dan tertekan selama proses belajar. Hal ini harus disadari betul oleh orangtua dan  pendidik untuk tidak memaksakan kehendak dalam memilih cara belajar pada anak.

Minat yang timbul pada seseorang tidak terlepas dari distribusi bagian-bagian otak. Jika ditelisik lebih jauh, besar presentase bagian otak tertentu berpengaruh pada minat dan mempengaruhi cara belajar yang efektif. Pada dasarnya, dalam otak manusia hanya ada 5% dari ratusan juta sel-sel otak yang mungkin berkembang, dengan demikian ada sekitar 95% yang belum dimanfaatkan. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menemukan sisanya yang kemungkinan besar selama ini menjadi kendala dalam menumbuhkan minat belajar.

Jika anak sering merasa bosan duduk sambil mendengarkan materi, namun terlihat suka menggoreskan penanya dan menghasilkan gambar atau grafis yang menarik, solusinya adalah mengubah narasi materi yang menjemukan dalam bentuk gambar atau bagan sesuai pengertian pribadi. Hal ini membuat anak lebih mudah menghafal dan mengingatnya kembali. Bagian otak yang berperan pada kemampuan ini adalah bagian Occipital Lobe, lebih suka metode yang mengikutsertakan gambar dan grafis.

Ada pula anak yang lebih suka berdiskusi, bertanya, tidak suka membaca dan lebih suka mendengarkan lagu sebagai teman belajar. Bagi anak tipe ini, kesunyian membuat ia susah berkonsentrasi karena merasa sendiri dan sepi, sedangkan berdiskusi membuat ia mudah memahami materi dengan bahasa bertutur, bukan bahasa buku yang sulit dimengerti. Anak dengan kemampuan seperti ini lebih dominan pada otak bagian Temporal Lobe. Kecenderungan belajar dengan media suara atau bahasa.

Ada juga anak yang merasa perlu mengetahui apa tujuan mempelajari sesuatu, bukannya hanya mengerti maksud materi, namun tidak tahu dampak mempelajarinya. Maka, dianjurkan untuk mencari alasan mengapa ia harus mempelajari dan melakukan suatu hal. Alasan-alasan inilah yang nantinya akan menumbuhkan semangat belajar karena merasa semakin dekat dengan cita-cita yang diinginkan. Bagian otak yang berperan dengan kemampuan ini adalah bagian Frontal Lobe.

Tipe yang terakhir adalah anak yang jarang bisa duduk diam, aktif bergerak dan suka mengamati apa yang ada di sekitar. Dengan bagian otak Parietal Lobe yang banyak berperan, tipe macam ini kadang mengundang kejengkelan dari orangtua atau pendidik, karena sulit membuat ia berkonsentrasi dan fokus. Padahal, dalam keaktifan ia bergerak, ia sedang mempelajari sesuatu. Jangan larang ia untuk aktif bergerak, ini bukanlah cara belajar yang keliru dan harus diubah seperti lazimnya proses belajar, duduk di kursi, menghadap meja dan menulis. Alam bebas dan gerak tubuh membuat ia lebih bahagia dan mudah memahami materi belajar.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesalahan menangkap materi bukanlah terletak pada seberapa besar kemampuan akademis anak, namun bisa juga karena sebenarnya orangtua, pendidik atau lingkungan belum mengetahui kemampuan si anak secara utuh. Memaksakan proses belajar sewajarnya yang dinilai akan memberi efek baik, bukanlah cara yang tepat karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap dan memahami materi.

Penulis : Loka Pendimaran, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta
Foto: https://i1.wp.com/mugscope.lontarnews.id/wp-content/uploads/2016/09/belajar-bersama1.jpg?fit=945%2C665

Junk Food? No Way!



Orangtua masa kini cenderung tidak memperhatikan asupan gizi bagi buah hatinya. Banyak di antara mereka yang memberi makan anak-anaknya dengan makanan olahan praktis namun tak mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan anak, atau yang lazim kita sebut junk food.

Sebuah studi di Australia mengungkapkan, bayi dan anak-anak yang diberi junk food akan menunjukkan IQ yang lebih rendah dibandingkan bayi dan anak-anak yang diberi pola makan yang sehat.

Studi yang dipimpin oleh Lisa Smithers dari University of Adelaide Public Health ini mengamati kaitan antara kebiasaan makan pada anak-anak saat berusia 6 bulan, 15 bulan dan 2 tahun serta IQ mereka saat berusia 8 tahun.

Studi yang melibatkan lebih dari 8.000 anak itu mendapati berbagai variasi pola makan anak, mulai dari pola makan tradisional dengan menyediakan makanan yang diolah di rumah, makanan bayi siap saji, ASI dan junk food.

Menurut Smithers, seperti dilansir Zeenews, pola makan itu nantinya menentukan suplai nutrisi yang dibutuhkan bagi perkembangan jaringan otak dalam dua tahun pertama kehidupannya dan tujuan studi ini adalah untuk melihat apa dampak pola makan tersebut dengan IQ anak-anak.

Dari studi ini Smithers dan timnya menemukan fakta anak-anak yang diberi ASI saat berusia 6 bulan dan memiliki pola makan rutin yang sehat dengan makanan pada usia 15 dan 24 bulan terbukti mempunyai IQ 2 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang rutin diberi makan dengan biskuit, cokelat, permen, minuman ringan dan keripik dalam dua tahun pertama hidupnya saat keduanya sama-sama berusia 8 tahun.


Smithers dan timnya juga menemukan fakta makanan bayi siap saji yang diberikan saat anak-anak berusia 6 bulan memberikan dampak negatif terhadap IQ anak yang bersangkutan, namun anehnya ketika menginjak usia 24 bulan, ada beberapa pengaruh positif yang didapatkan dari makanan tersebut.

Foto: http://commonground.ca/wp-content/uploads/2016/09/junk-food-1.jpg

Biarkan Anak Berani!


Oleh : Dwi Lestari Wahyuningsih

Pertengahan Ramadhan yang lalu, suami saya mendampingi kegiatan Mabit for Kids yang diadakan sebuah organisasi remaja masjid yang berada di dekat tempat tinggal kami. Peserta berjumlah sekitar 70 anak, yang dibagi dalam beberapa grup. Salah satu rangkaian acara mabit tersebut adalah jurit malam, yakni jalan-jalan keliling kampung pada malam hari seusai shalat tarawih. Di tengah rute jurit malam tersebut, terdapat beberapa pos. Kebetulan suami saya diminta berjaga di pos terakhir.

Karena berada di pos terakhir, suami saya berinisiatif melakukan ‘inspeksi’ mengelilingi rute untuk memastikan situasi aman. Baru sampai pos pertama, suami saya melihat ada beberapa orangtua yang menunggui anaknya, stand by dengan sepeda motornya tidak jauh dari pos. Suami saya berhenti sejenak. Ketika rombongan anak-anak tersebut meninggalkan pos, para orangtua tersebut bergegas menghidupkan mesin motor dan mengendarainya pelan-pelan tidak jauh dari belakang sang anak.

Suami saya segera kembali ke pos pemberangkatan untuk mengumumkan dengan segala hormat agar orangtua tidak perlu mengikuti anaknya dalam jurit malam tersebut. Setelah itu, suami saya melanjutkan inspeksi. Ternyata rombongan anak tersebut sudah berada di pos kedua. Tidak jauh dari pos, para orangtua masih setia menunggu.

Rombongan pun berjalan meninggalkan pos kedua. Tidak lama kemudian, para orangtua yang menunggui anaknya pun ikut bergegas, membuntuti dari belakang. Suami saya segera mendekati salah satu dari orangtua tersebut dan mencoba mengingatkan dengan cara yang sehalus mungkin.

“Pak, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kami, mohon untuk kegiatan ini, biarkan anak mandiri. Di sepanjang rute sudah ada kakak-kakak remaja masjid. InsyaAllah, keamanan anak-anak terjamin,” begitu lebih kurang apa yang diucapkan suami saya kepada salah satu bapak yang ikut membuntuti anaknya.

“Oh ya, Pak. Terima kasih. Kalau begitu saya pulang saja ya, Pak. Titip anak-anak saja ya, Pak. Terima kasih. Sudah ayo, tidak usah diikuti. Sudah ada yang ngawasi kok!” Jawab Bapak tersebut sambil mengajak orangtua yang lain pulang. Alhamdulillah, hingga acara selesai, sudah tidak ada lagi orangtua yang membuntuti anak-anaknya.

Sebagai orangtua, tentu ada perasaan khawatir dan cemas ketika melepas anak berinteraksi ke dunia luar. Apalagi saat anak melakukan kegiatan yang menantang, seperti outbond, jurit malam, kemah, dan sebagainya. Hal ini tentu sangat manusiawi. Akan tetapi, banyak orangtua yang tidak mampu mengelolanya dengan baik. Mereka sampai rela membuntuti kegiatan outbond, kemah atau jurit malam anaknya. Maksud mereka baik, yakni untuk memastikan anak aman. Akan tetapi apa yang dilakukan orangtua ini justru menghambat perkembangan psikologis anak. Anak yang diawasi tersebut cenderung merasa tidak bebas dalam mengeksplorasi kemampuannya.

Keberanian sang anak juga tidak akan terlatih sebab dia merasa selalu dilindungi dan diawasi oleh orangtuanya. Misalnya, saat jurit malam melewati jalanan yang gelap. Anak yang diawasi orangtuanya dari belakang akan melangkah dengan tenang karena dia tahu ada orangtuanya di belakang. Keberaniannya timbul bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari pengawasan orangtua. Berbeda jika keberanian anak melewati jalan yang gelap tersebut bersumber dari dalam dirinya. Ada atau tidak ada orangtua, dia pasti tidak akan takut untuk melewati jalan yang gelap. Dalam hal-hal yang kecil, anak juga akan terlatih untuk berani, misalnya ke kamar mandi sendiri, mengambil makan atau minum sendiri, dan sebagainya.

Dan yang paling penting tentu adalah penanaman tauhid, bahwa tidak ada yang harus ditakuti selain Allah Ta’ala. Tidak ada yang perlu ditakuti dari jalan yang gelap sebab ada Allah Ta’ala yang selalu menjaga kita. Semoga kita menjadi orangtua yang senantiasa amanah dalam mendidik anak. Amin.


Penulis : Dwi Lestari Wahyuningsih, Yogyakarta
Foto: https://pixabay.com/p-1149671/?no_redirect

Sirsak


Sirsak atau yang juga dikenal dengan nama Soursop (Inggris), memiliki banyak kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Buah sirsak terdiri dari 67,5 % daging buah, 20 % kulit buah, 8,5 % biji buah, dan 4 % inti buah.

Setelah air, kandungan zat gizi yang terbanyak dalam sirsak adalah karbohidrat. Salah satu jenis karbohidrat pada buah sirsak adalah gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) dengan kadar 81,9 – 93,6 % dari kandungan gula total.

Vitamin yang paling dominan pada buah sirsak adalah vitamin C, yaitu sekitar 20 mg per 100 gram daging buah. Kebutuhan vitamin C per orang per hari (yaitu 60 mg), telah dapat dipenuhi hanya dengan mengkonsumsi 300 gram daging buah sirsak. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada sirsak merupakan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan (tetap awet muda).

Mineral yang cukup dominan adalah fosfor dan kalsium, masing-masing sebesar 27 dan 14 mg/100 g. Kedua mineral tersebut penting untuk pembentukan massa tulang, sehingga berguna untuk membentuk tulang yang kuat serta menghambat osteoporosis.

Selain komponen gizi, buah sirsak juga sangat kaya akan komponen non gizi. Salah satu di antaranya adalah mengandung banyak serat pangan (dietary fiber), yaitu mencapai 3,3 g/ 100 g daging buah.


Konsumsi 100 g buah sirsak dapat memenuhi 13% kebutuhan serat pangan sehari-hari. Berbagai manfaat sirsak antara lain sebagai terapi pengobatan batu empedu, antisembelit, asam urat, dan meningkatkan selera makan. Selain itu, kandungan seratnya juga berfungsi memperlancar pencernaan. Sementara itu, studi di Purdue University membuktikan bahwa daun sirsak mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker prostat, pancreas dan paru-paru.

Foto : google

Anak yang Selalu Ingin Menang Sendiri



Oleh : Sri Lestari

Bu Ida melihat anaknya, Arin sedang bermain dengan teman temannya . Mereka terlihat sangat asyik bermain. Bu Ida pun tertarik untuk memperhatikan pembicaraan mereka.

“Nia, kamu yang jadi pasiennya, aku yang jadi dokternya. Doni yang jadi sopir ambulan, Iin yang jadi perawat ya, itu lho yang membantu aku, seperti yang di rumah sakit itu!” perintah Arin.

“Aku tidak mau! Aku saja yang jadi dokternya, soalnya kamu kemarin kan sudah jadi dokternya!” protes Nia.

“Aku juga tidak mau jadi sopir ambulan. Aku mau jadi dokter yang laki-laki. Coba kalau ada pasien yang laki-laki, kan lebih baik yang memeriksa juga dokter laki laki!” seru Doni.

“Tidak bisa! Nia tetap harus jadi pasien dan Doni harus jadi sopir ambulan! Balas Arin tidak mau kalah.

Mendengar jawaban Arin, Bu Ida tercenung dan berkata di dalam hati Subhanallah, ternyata Arin tidak mau mendengar pendapat teman-temannya. Mengapa bisa begitu ya? Padahal, ia paling tidak suka bila ada orang yang maunya menang sendiri. Apa mungkin selama ini dia dan suaminya melakukan hal tersebut?”  Berbagai pertanyaan berkelebat dalam benak Bu Ida.

Sebagai orangtua, tentu kita menginginkan anak-anak kita mempunyai akhlak terpuji. Namun kadang timbul pertanyaan dalam hati, mengapa begitu sulit mewujudkan keinginan tersebut? Lalu bagaimana supaya anak anak kita menjadi anak yang baik, baik terhadap orangtua maupun temannya. Tidak egois menghargai dan menghormati teman-temannya.

Jika kita menemukan sikap tidak terpuji pada diri anak, maka  banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Berikut ini tip-tip yang akan mencoba mengatasi atau meminimalisir sikap tidak menghargai orang lain pada diri anak.

TIP-TIP
§  Teladan orang yang terdekat pada anak, yaitu orangtua.
Tanpa kita sadari terkadang anak hanya menjadi cerminan dari sikap atau perilaku kedua orangtuanya. Berapa banyak kita menemukan anak yang pemarah, ternyata orangtua mereka adalah pemarah. Begitupun apabila orangtua tidak egois, maka anak pun akan terlatih untuk menghargai pendapat oranglain.

§  Ciptakan pola komunikasi keluarga yang positif

§  Pola komunikasi ini sangat erat hubungannya dengan pendidikan keluarga. Sedang pendidikan keluarga begitu besar pengaruhnya pada pola pikir ataupun perilaku anak. Anak yang cenderung tidak menghormati temannya biasanya di rumahnya juga mengalami hal yang sama, anak kurang mendapat penghargaan dari pendapat pendapatnya. Misal, “Bunda, Aku mau meja belajarnya di pojok saja!” Kata anak. “Di dekat jendela saja supaya lebih banyak cahaya yang bisa masuk, Nak!” Kata Bunda. “Tapi Aku bosan tempatnya harus di situ terus, ujar anak. “Nak, tempat di sini sangat baik untuk kesehatan mata karena cukup pencahayaannya,”

Dalam pembicaraan di atas, sang Bunda kurang menghargai pendapat sang anak. Memang pendapat bunda benar menurut kesehatan mata anak, tapi alangkah baiknya  bila dicarikan solusi lain yang bisa mengakomodir pendapat anak. Misalnya, meja dipindah sesuai permintaan anak, tapi kita perbaiki sistem penerangannya sehingga anak belajar dengan pencahayaan yang cukup sehingga tidak mengganggu kesehatan mata.

§  Meneladani Rasulullah Shallahu ‘alai wa sallam
Dari Sahl bin Sa’ad,”Sesungguhnya Rasulullah diberi minuman, lalu beliau minum sebagian. Di sebelah kanan beliau duduk seorang anak dan di sebelah kirinya duduk para orangtua. Beliau berkata kepada anak itu,”Apakah kamu mengizinkan aku memberikan minuman ini pada kepada mereka?” Anak itu menjawab,”Tidak. Demi Allah, Wahai Rasulullah, saya tidak mau mengalahkan bagianku ini dari tuan untuk siapapun. “Rasulullah pun menyerahkan minuman kepada anak tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallahu ’alai wa sallam begitu menghargai pendapat walau anak kecil sekalipun. Tauladan ini bisa kita jadikan ibrah untuk kita tauladani dalam mendidik anak anak kita.


Penulis : Sri Lestari, Ibu rumah tangga, tinggal di Sleman
Foto : http://www.kesekolah.com

Tak Ada Penukar dan Penawar Waktu dalam Mendidik Anak



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Waktu tak dapat diputar kembali. Tak ada pilihan bagi kita untuk mengulang mendidik anak-anak sedari awal. Yang ada ialah perjalanan untuk terus semakin jauh meninggalkan masa lalu. Seburuk apa pun kita mendidik anak, tak ada penukar, tak ada pula penawar. Kita boleh menangis dan merasa bersalah kepada anak-anak kita, patut pula untuk memohon ampun kepada Allah Ta'ala. Tetapi tak ada tempat untuk berandai-andai sebab ini justru membuat kita semakin menjauh dari kebaikan.

Atas tangan yang tak terkendali saat menghadapi anak, atas lisan yang tak terjaga saat menegur mereka, yang kita perlukan hari ini adalah meminta maaf kepada anak-anak. Kita berusaha memperbaiki hari-hari mendatang bersama anak-anak kita agar dapat memberikan pendidikan yang lebih baik kepada mereka. Kita juga memohon ampunan kepada Allah 'Azza wa Jalla atas bertumpuknya dosa, atas lalainya kita dalam mengasuh anak-anak dan atas kerasnya hati yang terburu. Boleh jadi kerasnya kita menghadapi anak dan hilangnya kelembutan saat membersamai mereka disebabkan keruhnya hati kita oleh maksiat. Begitu dekatnya kita dengan keburukan, sampai lupa jalan untuk mengasuh mereka dengan lembut.

Bukankah Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam telah bersabda?


إِنَّ الرِّفْقَ لاَيَكُوْنُ فِيْ شَيْئٍ إِلَّا زَانَهُ وَمَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْئٍ إِلَّا شَانَهُ

“Tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasainya dan tidaklah dicabut darinya melainkan akan memperburukkannya." (HR. Muslim).

Mengingati anak-anak yang telah beranjak besar, mengenang anak-anak yang sekarang sudah tak lagi di rumah demi menuntut ilmu nun jauh di sana, airmata ini jatuh. Belum cukup baik diri ini mendidik mereka. Belum cukup patut diri ini mengasuh mereka. Belum cukup layak bekal yang kuberikan kepada mereka.

Alangkah sering orangtua menuntut, tapi lupa membekali. Tetapi alangkah sering pula orangtua lalai meneguhkan hati, keyakinan dan iman anak disebabkan oleh perasaan kasihan yang salah tempat.

Anak-anak kita yang dulu masih kecil, sekarang telah beranjak besar dan mampu berkiprah sendiri. Adapun kita, secara pasti akan semakin tua dan pada akhirnya kekuatan kita berkurang dan melemah. Atas berbagai kesalahan kita mendidik anak, ada yang dapat kita perbaiki di masa ini. Tetapi banyak yang tidak ruang untuk memperbaikinya kecuali dengan memohon kepada Allah Ta'ala, bermunajat kepada-Nya, mengharap agar Allah Ta'ala baguskan anak-anak kita, betapa pun banyak salah kita dalam mengasuh dan mendidik mereka.

Mohammad Fauzil Adhim, Pakar Parenting dan Penulis Buku
Foto by google

Langkah Pertama Ketika Si Kecil Sakit


Oleh : Dwi Lestari W

Orangtua mana yang tidak panik dan bingung jika anaknya sakit. Mereka selalu cepat-cepat membawa anaknya ke dokter padahal baru sakit satu sampai dua hari.

Padahal jika si kecil sebetulnya orangtua dapat menangani sendiri di rumah dengan cara sederhana. Misalnya ketika si kecil pilek, lebih baik berikan dia obat-obatan sederhana seperti tetes hidung, anak dijemur di pagi hari, banyak minum air putih, atau bisa juga memberikan uap minyak kayu putih. Pada fase awal, kalau anak pilek lalu penyebabnya virus bisa sembuh sendiri. Jangan buru-buru dibawa ke dokter kalau kondisi pileknya tidak sangat mengganggu kegiatan anak atau kalau anak rewel.

Jika anak mengalami demam, maka cari dulu penyebabnya. Banyak hal yang membuat suhu tubuh mereka meninggi, seperti flu atau bahkan sedang tumbuh gigi. Jika memang suhu tubuhnya masih di bawah 38° dan turun saat diberi obat penurun panas yang bisa dibeli bebas di apotek maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, berbeda persoalannya jika demam  sudah nyaris mencapai 39° dan tidak turun meski sudah diberi obat. Segeralah periksa ke dokter anak atau boleh langsung datang ke UGD rumah sakit agar anak segera ditindak untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Sama halnya dengan demam, bayi dan balita mudah sekali menderita buang-buang air. Banyak faktor penyebabnya, salah satunya adalah tidak cocok dengan susu formula yang diminum. Tapi, orangtua sudah harus waspada dan segera pergi ke dokter jika anak buang-buang air lebih dari enam kali dalam semalam. Periksa juga kotorannya seperti apa. Jika sudah berbentuk cairan, berlendir, dan berbau sengit, maka segera periksakan anak ke dokter atau rumah sakit.

Buku berjudul Orangtua Cermat, Anak Sehat ini mengulas berbagai hal yang harus dilakukan kala anak sakit. Buku yang ditulis Dokter Arifianto ini memberi berbagai tips penanganan sederhana yang bisa dilakukan orangtua jika anak menderita sakit. Selain itu, buku ini juga memberi informasi keadaan darurat seperti apa yang mengharuskan anak agar segera ke dokter.


Penulis : Dwi Lestari W, Staf BPH LPIT Insan Mulia Yogyakarta
Foto by google

Data Pokok Pendidikan (Dapodik)


Data Pokok Pendidikan atau Dapodik adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu, ini merupakan sumber data utama pendidikan nasional. Dengan slogan satu nusa, satu bangsa, dan satu data ini, dapodik menjadi hal yang wajib ada di setiap sekolah, mulai dari TK dengan istilah DAPOPAUD, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK.

Apa sih yang ada dalam Dapodik ini?
Dalam Dapodik ada memuat bermacam data, pertama data sekolah yang meliputi alamat sekolah, letak koordinat lintang dan bujurnya, jika sekolah swasta yayasa pengelolanya, sampai dengan luas tanahnya.

Kedua sarana dan prasarana (sarpras) yang ada di sekolah tersebut. Mulai dari meja kuris guru dan siswa, jumlah kamar mandi, jumlah papan tulis, bahkan hingga kondisi atap dan dinding sekolah tersebut.

Ketiga data GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) yaitu berisi data guru, dan pegawai yang ada di sebuah sekolah. Data ini meliputi data-data pribadi guru hingga pengelaman guru tersebut dalam berkarir. Data ini menjadi sangat penting, bagi guru yang telah mempunyai sertifikat pendidik, karena kemendikbud akan mengambil data tunjangan sertifikasi ini dari data ini.

Keempat adalah data peserta didik yang berisi dengan detail setiap murid, mulai dari namanya, alamatnya, orangtuanya, berat dan tinggi badanya, hingga berapa jarak dan waktu yang ditempuh ke sekolah. Data peserta didik ini akan diambil untuk berapa nominal Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang akan diterima oleh sebuah sekolah.

Kelima adalah Rombongan Belajar, yaitu berisi jumlah kelas , jumlah siswa, mata pelajarannya, dan siapa guru yang mengajar di sekolah tersebut. Untuk guru yang mendapat tunjangan sertifikasi, harus memenuhi minimal 24 jam pelajaran dalam sepekan.

Keenam Nilai, data ini adalah berisi nilai-nilai rapaort setiap peserta didik, mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6.

Ketujuh adalah Jadwal Pelajaran, ini adalah data yang baru dirilis di awal tahun ajaran 2017/2018.


Data-data tersebut harus dinput satu persatu oleh operator sekolah. Tugas operator ini memperbaharui data setiap bulan dan harus disinkronisasi ke admin pusat. | Mahmud Thorif