» » Hidup Sederhana dan Kerja Keras

Hidup Sederhana dan Kerja Keras

Penulis By on Monday, October 30, 2017 | No comments



Oleh : Prof. Dr. Ir. INDARTO, D.E.A.

Biasanya dalam perjalanan ke kantor, saya membuka WA Grup Alumni. Kebanyakan mereka sudah pensiun sehingga mereka aktif berkomunikasi. Saya hanya sebagai peserta pasif, sebagai pembaca yang baik untuk menambah informasi dan wawasan. 

Pagi itu saya membaca sebuah berita tentang cepatnya penguasaan teknologi di China, dan produk Hi-Tech yang dijual dengan harga murah. Dalam berita tersebut dituliskan bahwa saat ini China sudah mampu membuat pesawat penumpang, yang unjuk kerjanya setara dengan pesawat buatan Amerika Boeing 737, atau pesawat buatan konsorsium negara Eropa Airbus A320, dengan harga jual setengahnya...luar biasa, bagaimana hal ini bisa terjadi....

Menurut perhitungan kami, rendahnya harga tersebut, salah satunya pasti disebabkan oleh murahnya tenaga kerja di sana, karena tenaga ini memang menjadi salah satu komponen  cukup besar yang diperhitungkan dalam biaya produksi.

Berita tersebut telah membuat saya teringat pada etos kerja, daya juang dan ketahanan, serta kemauan untuk hidup sederhana yang dipunyai oleh teman-teman dari China, yang saat itu bersama-sama kuliah di Perancis selama hampir tujuh tahun. Sehingga saya tidak heran kalau saat ini dalam waktu relatif singkat China sudah menguasai teknologi, dan bahkan mampu menghasilkan barang berteknologi tinggi dengan harga yang lebihmurah dibanding dengan produk negara lain.

Pada saat itupun kami sudah melihat sendiri bagaimana teman-teman dari China mempunyai semangat kerja yang luar biasa. Secara umum kalau dibandingkan dengan mahasiswa dari negara lain, termasuk yang dari Indonesia, mereka lebih baik. Kemampuan akademik, secara rata-rata mereka juga lebih unggul. Saya kira hal ini tidak lepas dari besarnya jumlah pelajar di China yang ingin belajar ke luar negeri, sehingga tingkat persaingan para calon menjadi sangat ketat.

Mereka, kalau sudah melakukan penelitian di laboratorium, seolah-olah mereka tidak mengenal waktu, ketika yang lain sudah siap-siap pulang, dia tidak bergeming, tetap melanjutkan penelitiannya. Sehingga para profesor disana sangat senang ketika mendapatkan bimbingan mahasiswa dari China. 

Mereka juga sangat telaten, cermat, dan teliti. Kami merasakan sendiri, bagaimana waktu itu ketika bersama-sama menyusun thesis. Semua informasi dan data yang terkait dengan penelitiannya, termasuk peralatan yang digunakan, dimasukkan dalam naskah laporan/ thesisnya, bahkan juga foto, gambar dari rangkaian listriknya. Saat itu kami merasakan apa yang mereka lakukan sangat berlebihan, hal kecil yang menurut kami sepele juga dituliskan dalam thesis. Namun setelah beberapa tahun kami kembali berada di Indonesia, kami baru menyadari bahwa apa yang mereka kerjakan adalah tepat, mereka mempunyai semua informasi yang diperlukan.

Selain etos kerja yang sangat tinggi, mereka juga mampu hidup sederhana atau bahkan menderita. Bagaimana tidak, beasiswa yang kami terima dari pemerintah setempat untuk satu mahasiswa, mereka dapat menggunakan untuk dua orang. Sehingga untuk tempat tinggalpun tidak jarang mereka harus berbagi dengan temannya. Kemudian untuk menghemat biaya makan, sering mereka masak sendiri dan kadang-kadang bahan makanan yang dibeli adalah yang mendekati expired date, batas tanggal kedaluwarsa karena biasanya harganya turun menjadi setengahnya. Kami juga jarang sekali ketemu dengan teman-teman tersebut jalan-jalan dipertokoan atau supermarket, berbeda dengan mahasiswa Asia lainnya termasuk Indonesia, banyak yang hobinya jalan-jalan.

Kami tidak heran kalau saat ini, di bidang teknologi mereka mampu mensejajarkan diri dengan negara maju dan sekaligus produknya bisa bersaing dalam harga. Nampaknya saat ini mereka sedang menikmati hasil jerih payah yang telah dilewatinya, sesuai dengan prinsip hidup “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Sehingga tidak ada salahnya kalau kita perlu belajar hal-hal yang baik dari mereka, sesuai pepatah Arab “Carilah ilmu sampai ke negeri China”. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis : Prof. Dr. Ir. INDARTO, D.E.A., Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UGM, Pemimpin Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya