» » Kecemasan Orangtua Terhadap "Kenakalan" Anak​, Bagaimana Sebaiknya Menyikapinya?

Kecemasan Orangtua Terhadap "Kenakalan" Anak​, Bagaimana Sebaiknya Menyikapinya?

Penulis By on Wednesday, October 4, 2017 | No comments



Oleh : Imam Nawawi

ORANGTUA kadang dibuat "heboh" oleh perasaannya sendiri kala melihat buah hatinya bertindak "nakal". Padahal, sejatinya tidak ada anak "nakal". Yang ada, mereka belum mengenal atau belum mau berbuat apa yang baik bagi mereka. Tentu saja itu disebabkan faktor umur yang dalam agama disebut mumayiz, atau anak yang dianggap dewasa namun belum berkewajiban untuk melaksanakan beban syariat (baligh).

Di sini orang tua mesti memahami bahwa "nakal" di rentang usia tersebut adalah tantangan untuk diri lebih peka dan sabar dalam mendidik anak. Oleh karena itu, Nabi Muhammad tidak membolehkan hukuman berupa pukulan kepada anak hanya karena anak menolak melakukan kebaikan, kecuali telah mencapai usia baligh, yakni mulai di kisaran usia 10 tahun. Jika anak-anak masih rentang usia 10 tahun ke bawah, menanamkan tradisi dialog jauh lebih baik, daripada memilih cara instan dengan memukul atau pun menstigma mereka dengan sebutan nakal.

Lantas apa saja alternatif yang bisa dipilih kala anak melakukan tindakan "nakal" yang tidak seharusnya?

 
Pertama, evaluasi
Coba cek ke dalam. Apakah selama ini anak telah dididik dengan baik. Apakah antara orangtua dengan anak telah terbangun interaksi yang dialogis. Apakah telah terbebas dari unsur terlalu memanjakan.

 

Rasa sayang, kadang membuat sebagian orangtua tanpa sadar telah memanjakan anak-anaknya secara berlebihan. Sikap ini tentu saja menghambat kemampuan berpikir dan berlatih dewasa pada anak.
 

Anak-anak akan merasa hidup selalu dibantu, disediakan dan mendapatkan apapun dengan mudah. Sehingga, kala situasi itu tidak ia dapatkan, maka segera ia menjadi agresif dan tidak terkontol.

Kalau kita tergesa-gesa, sebagai orangtua diri akan lupa bahwa tindakan anak tersebut justru boleh jadi karena pola mendidik kita sendiri yang keliru terlalu memanjakan.

Apa itu memanjakan, yakni, "Sikap memberikan apa yang tidak dibutuhkan anak dan melakukan berbagai hal buat anak yang sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh anak sendiri, sampai pada tahap dimana orangtua selalu meng-IYA-kan semua kemauan anak," demikian di antara maknanya.


Kedua, dialog.
Dialog merupakan metode pendidikan paling populer dan paling efektif. Kitab umat Islam memberikan bukti bagaimana para Nabi banyak berdialog dengan buah hatinya.

Kadangkala, sebagian orangtua menilai anaknya secara tidak tepat. Yakni menganggap anak-anak tidak mampu berpikir.


Padahal, masa anak-anak adalah masa terbaik untuk menanamkan nilai. Artinya, mengajak anak sering dialog akan menjadikan mereka paham apa kehendak dari orangtuanya.

Sebuah ungkapan mengatakan, "Imajinasi anak adalah sumber kreativitas. Hargai sikap anak meskipun terkesan tidak benar bagi kita sebagai orang tuanya".


Pernah suatu waktu seorang anak kelas PAUD mengambil krayon lalu mewarnai sepeda motor ayahnya yang baru saja dua bulan dibeli. Sontak saja motor menjadi penuh warna.

Beruntung sang ayah suka dialog dengan putranya. "Kenapa dicoret-coret di motor?"

Sang anak sembari tersenyum menjawab, "Motor ini biar lebih keren, yah. Makanya digambarin. Jadi ayah naiknya bisa lebih keren. Seperti itu loh, yah, yang di koran kemarin," terangnya memberikan alasan.


Bayangkan kalau anak itu berhadapan dengan sosok orangtua yang tidak mau berdialog, mungkin anak itu akan merasa dirinya tak berharga dengan apa yang justru ingin ia ungkapkan sebagai wujud luapan perasaan gembira dengan mencoret-coret motor baru orangtuanya.


Maka, berdialoglah dengan anak-anak kita. Mereka adalah manusia kecil yang tentu saja bisa "berpikir" dengan caranya sendiri, yang akan tumbuh dengan pembiasaan yang mereka dapatkan dari keteladanan orangtua dalam mendidik mereka.


Jika orangtua tidak memanjakan anak, dan biasa mengajak mereka berdialog, rasanya "kenakalan" itu tidak lebih dari sekedar mereka lupa atau belum paham, yang segera bisa diobati jika kita benar-benar memiliki emotional bonding kuat dengan generasi penerus peradaban bumi ini.


Penulis : IMAM NAWAWI, ayah muda dengan 3 orang anak, penikmat pendidikan anak.
Sumber Tulisan : www.keluargapedia.com 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya