» » Sang Pemberani

Sang Pemberani

Penulis By on Monday, October 16, 2017 | No comments





Oleh : Luluk Nur Afifah, S.Th.I.,M.Pd.I

Cobalah dan perhatikanlah niscaya kau jadi orang yang mengetahui

“Man jadda wajada” “work harder get better” semangat anak-anak meneriakkan kata motivasi pagi. Yah...begitulah sebelum pembelajaran dimulai, untuk menumbuhkan semangat tholabil ‘ilmi, siswa siswi SDIT Salsabila jetis bersama-sama dengan walikelas meneriakkan motivasi, muhadasah dan conversation setiap harinya. Hal ini menjadi ruh siswa siswi dalam aktivitas mereka.

Pepatah Arab mengatakan Jarrib wa laahidz takun ‘aarifan yang artinya cobalah dan perhatikan niscaya engkau jadi orang yang tahu. Mahfudzot inilah yang mengilhami siswa-siswi untuk mencoba dan sungguh-sungguh dalam pembelajaran. Berani mencoba hal-hal yang baru mereka kenal. Berani bersosialisasi dengan lingkungan yang baru. contohnya. Masih lekat dalam ingatan delapan tahun yang lalu ananda Hiki begitu tidak mau ditinggal pulang oleh ibunya, tiap hari sang ibu dengan sabarnya menunggui mas Hiki disekolah, dan ini berlangsung lama. Setiap ditanya “mas Hiki kenapa masih ditunggui ibu? Ibu biar pulang ya…, mas Hiki memberi alasan “aku kangen sama ibuku” Alhamdulillah dengan dukungan guru dan teman-teman akhirnya mas Hiki mulai berani mandiri tidak ditunggui sang ibu lagi, walau ini berlangsung setahap demi setahap, beberapa bulan ibu menunggu di teras sekolah, kemudian di halaman jauh dari kelas, lalu dirumah pak Ponidi karyawan sekolah dan akhirnya bisa ditinggal ibundanya pulang ke rumah. Tentunya keberanian mas Hiki untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru hasil dari tasyji’ dan membesarkan hati dari guru dan teman-temannya disekolah.

Lain halnya dengan mas Hiki yaitu mbak Dini, waktu itu mbak Dini tidak mau sekolah kalau mbak Dinda tidak masuk kelas karna tidak merasa cocok dengan mbak Tiara, maklum satu kelas tigabelas siswa karna pasca gempa tahun 2006 dan dikelas siswa putri tiga anak, Alhamdulillah selang beberapa bulan mbak Dini sudah bisa beradaptasi, tentunya hal ini merupakan latihan-latihan dan tempaan-tempaan pembelajaran di sekolah yang tidak hanya mengembangkan keilmuan tetapi juga sikap sosial yang mendewasakan anak.

Keanekaragaman karakter anak yang menjadi tantangan bagi para pendidik, mas Afa yang cool pendiam, mas Taufik yang super cool lagi, mas Danis yang awal sekolah selalu di lapangan bermain sepakbola dan ditunggui oleh sang ayah dan tidak mengikuti KBM, mas Bayu yang naik-naik meja saat pelajaran berlangsung, mas Zanu dan mas fathur yang sering nangis dikelas, tapi seiring berjalannya waktu mereka beranjak menjadi pribadi yang pemberani karna tempaan dan gemblengan untuk menjadi pemimpin, sesuai slogan “Salsabila Sekolah para pemimpin”

Adapun selain motivasi siswa-siswi memaknai dari sebuah kisah keteladanan yang disampaikan bapak ibu guru seusai sholat dhuha, kisah Rosululloh, sahabat Nabi, maupun orang-orang yang berprestasi. Siswa-siswi dapat mengambil nuktoh jauhariyah baik dari segi keberanian, kejujuran, swadisiplin, saling menyayangi, dan saling menghormati.

Dari kisah sahabat nabi kita bisa mengambil pelajaran, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, dia berkata “seorang laki-laki bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra tentang sebuah permasalahan dan dia pun menjawabnya. Laki-laki tadi mengatakan , bukan begitu, wahai amirul mkminin, akan tetapi begini. Ali ra berkata, kamu benar dan aku telah salah, dan diatas setiap yang memiliki ilmu ada yang lebih berilmu.

Allah Akbar! Lihatlah murid-murid hasil didikan Muhammad saw, mereka telah memberikan contoh paling indah dalam keberanian dan sikap adil, walaupun itu harus membayar harga diri. Ini, demi Allah, akan menambah izzah dan wibawa seseorang dan tidak mengurangi kehormatannya sedikit pun, dan barangsiapa yang menyangka selain itu, maka dia telah keluar dari jalan yang benar.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Diantara bentuk keberkahan ilmu dan adab-adabnya adalah bersikap adil di dalamnya. Barang siapa tidak bersikap adil, maka dia tidak akan paham dan tidak akan mampu memahamkan yang lain.

Penulis : Luluk Nur Afifah, S.Th.I.,M.Pd.I. Guru SDIT Salsabila Jetis Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya