» » Berawal dari Sebuah Keinginan

Berawal dari Sebuah Keinginan

Penulis By on Monday, November 6, 2017 | No comments




Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Setiap hari, saya memberikan uang saku kepada anak-anak saya yang masih SD 2 ribu sehari. Jika ada kegiatan tambahan semisal les, saya tambahkan seribu sehingga menjadi 3 ribu rupiah. Bukan jumlah yang besar untuk ukuran zaman sekarang. Bahkan ketika uang saku tersebut sudah bertambah jumlahnya semenjak setahun yang lalu, yakni menjadi 20 ribu per minggu, ada atau tidak ada les tambahan.

Tetapi... 

Ketika anak telah memiliki tekad yang kuat, 2-3 ribu sehari bukan halangan untuk membeli hewan qurban. Selama 3 tahun, Muhammad Navies Ramadhan, anak saya yang nomor 5 ini akhirnya dapat mewujudkan harapannya. Ia menabung setiap hari sejak kelas 3 SD, rela tidak jajan, hingga akhirnya ‘Idul Adha tahun ini tertunaikan. Tahun lalu, hampir saja ia dapat membeli hewan qurban, tetapi uangnya masih kurang 100 ribu. Dia menolak ketika saya menawarkan untuk memberinya uang 100 ribu karena dia ingin membeli hewan qurban murni dari uangnya sendiri.

Adakalanya dia bikin kue di rumah, kemudian dititipkan adiknya untuk dijual di sekolahnya. Kebetulan Navies dan Nida belajar di sekolah yang berbeda. Dari keuntungan bikin kue, sebagian dia berikan kepada adiknya sebagai "gaji" dan sebagian lagi dia pakai sendiri atau menjadi tambahan tabungan qurban. Ia sangat bersemangat untuk mencari penghasilan tambahan dengan membuat makanan untuk dijual demi dapat mewujudkan tekad membeli hewan qurban yang senantiasa dia katakan sebagai “kendaraan di surga”.

Awalnya sebuah keinginan. Sangat senang dia mendengar keutamaan qurban. Dan keinginan itu menjelma menjadi tekad yang diwujudkan dengan upaya bersungguh-sungguh setelah menyaksikan penyembelihan hewan qurban secara langsung saat usianya 8 tahun. Tepatnya kelas 3 SD. Navies sendiri biasa menyaksikan penyembelihan hewan qurban sejak beberapa tahun sebelumnya.

Saat hewan qurban yang dibelinya disembelih, dia pun turut membantu proses penyembelihan dengan turut memegangi kambing tersebut.

Sebuah permulaan. Semoga Allah Ta’ala kokohkan imannya dan melimpahinya barakah. Uang yang masih tersisa dari pembelian hewan qurban tahun ini, dia tabung lagi. Untuk apa? Ada dua yang dia rindukan; beli hewan qurban lagi dan pergi ke Tanah Suci. Semoga Allah Ta’ala mampukan dia dengan tekadnya itu.

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Penulis buku Segenggam Iman Anak Kita
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya