» » Allah Maha Penyayang

Allah Maha Penyayang

Penulis By on Monday, December 11, 2017 | No comments

Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Pada akhir bulan September kemarin, sewaktu saya keluar dari ruang dosen, ada tiga mahasiswa yang mendekati saya dan menanyakan apakah betul saya Pak Indarto. Saya jawab “Betul, ada apa?”. Ternyata mereka bertiga adalah mahasiswa baru angkatan 2017 yang pembimbing akademiknya saya. Mereka akan minta kartu ujian tengah semester.

“Baik, tetapi saat ini kartu ujiannya tidak saya bawa”. “Nanti diambil di ruang saya ya... di gedung rektorat lantai dua”. “Baik pak”, jawab mereka hampir bersamaan. Siang harinya mereka datang. Seperti biasanya, karena saat itu saya agak longgar, maka kesempatan tersebut saya gunakan untuk memberikan motivasi pada mereka, agar bersungguh-sungguh dalam menghadapi masa peralihan ini, yaitu dari status siswa menjadi mahasiswa. Hal ini saya lakukan karena salah satu tugas pembimbing akademik adalah memberikan nasehat atau saran ketika mereka mempunyai persoalan.

Ternyata ketiganya mempunyai kesulitan yang hampir sama, yaitu kesulitan dalam menghadapi perubahan atmosfer akademik. Saat inilah yang saya tunggu agar saya bisa masuk ke persoalan mereka, untuk memberikan motivasi dan mengarahkan agar mereka bisa melewati masa transisi dengan baik.

Saya katakan pada mereka, bahwa semester satu ini merupakan masa kritis sehingga harus dihadapi dengan serius dan kerja keras. Karena bila hasil belajar di semester awal ini bagus, maka secara tidak langsung akan menjadi motivasi, menjadi penyemangat untuk menempuh mata kuliah di semester berikutnya. Secara moral dia merasa sudah berhasil melewati masa transisi.

Dengan percaya diri dia akan menceritakan keberhasilan pada orangtuanya yang telah membiayai. Mereka akan senang, dan ini akan membuat kita semakin semangat, semakin kerja keras. Hal ini akan berbeda bila hasil semester awal jelek, karena akan menjadi beban terus menerus di semester berikutnya.      

Agar mereka bertiga semakin termotivasi, saya menceritakan apa yang saya lakukan di tahun 1973 sebagai mahasiswa baru, seperti halnya mereka saat ini. Saya sampaikan juga, memang saat itu gangguan-gangguan yang dialami oleh mahasiswa lebih ringan dibanding sekarang. Saat ini pengganggu yang namanya gadget itu sungguh luar biasa. Hampir mustahil menghindar dari gangguan ini, kecuali mereka yang memang mempunyai prinsip sangat kuat terhadap efek negatif alat tersebut. Gangguan saat itu paling-paling hanya nonton film di gedung bioskop, itupun hanya bagi mereka yang mempunyai uang, atau terlalu aktif ikut organisasi kemahasiswaan.

Kepada ketiga mahasiswa tadi, memang saya sengaja menekankan bagaimana saat itu saya kerja keras dan sungguh-sungguh dalam menghadapi perkuliahan. Saya katakan bahwa kita itu bukan superman, artinya kita semua mempunyai keterbatasan. Apalagi saya juga bukan mahasiswa yang sangat cerdas, bukan mahasiswa yang sekali baca bisa langsung paham, maka saya harus berstrategi.

“Kira-kira apa yang saya lakukan untuk itu?”, pertanyaan saya kepada salah satu dari mereka. Sambil menggelengkan kepala dia menjawab “Saya tidak tahu Pak”. Lalu saya katakan, bahwa saya harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, saya isi waktu tersebut dengan membiasakan diri membaca kembali catatan begitu kuliah selesai. Kalau tidak ada kuliah lagi, maka saya langsung ke perpustakaan untuk membaca catatan. Bila ada hal yang kurang paham, saya langsung mengambil buku pegangan dosen yang ada di perpustakaan. Biasanya agar pemahaman teori bisa lebih baik, saya mempelajari contoh-contoh soal yang berasal dari berbagai buku pegangan dosen tersebut.

Saya juga membentuk kelompok diskusi yang terdiri dari tiga atau empat orang, kalau terlalu banyak tidak efektif. Sebelum ketemu, kami masing-masing berusaha membaca terlebih dahulu agar diskusinya lancar. Selain teman kelompok, saya juga masih punya beberapa teman diskusi perorangan. 

Saya katakan kepada ketiga bimbingan tersebut, bahwa Allah Ta’Ala itu sangat menyayangi hambanya yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah telah memberikan hadiah pada saya. Karena saat itu masih sistem paket, belum sistem SKS, di antara teman-teman seangkatan, saya yang paling duluan yudisium naik tingkat.  Wallahu A’lam Bishawab.


Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UGM, Pemimpin Umum Majalah Fahma
Sumber Foto : www.duniadosen.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya