» » Anak Tidak Menyukai Pelajaran Tertentu

Anak Tidak Menyukai Pelajaran Tertentu

Penulis By on Tuesday, January 30, 2018 | No comments


Oleh : Budi Haryadi

Sering terjadi ada seorang anak yang enggan masuk sekolah karena hari itu ada satu pelajaran yang sangat tidak disukai. Padahal sesungguhnya, anak tersebut mampu menguasi pelajaran tersebut. Hana saja dia memang tidak menyukai pelajarannya. Entah apa sebabnya. JikaKhal ini dibiarkan terjadi, maka akan berdampak negatif bagi perkembangan anak di masa mendatang. kesulitan yang dialami buah hati pada satu pelajaran di awal sekolah ternyata dapat berkelanjutan sampai jenjang pendidikan tinggi. Lalu, bagaimana solusinya?

Orangtua harus terbuka terhadap anak, terutama mengenai ketertarikan atau minatnya terhadap sesuatu. Entah itu bernyanyi, menari, berhitung, memecahkan teka-teki, atau olahraga. Dengan demikian, orangtua dapat mendukung dan mengajak mereka membaca informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ketertarikannya tersebut. Orangtua juga harus berperan dalam mendorong minat anak, berikan campuran kreativitas sehingga akan mengahlihkan fokus mereka terhadap “belajar”.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan jika anak tidak menyukai beberapa jenis mata pelajaran. Jika anak bosan atau tidak senang dalam kegiatan membaca sebagai proses belajar, cobalah untuk ikut bersamanya. Dengan membaca bersama-sama atau bergiliran, akan membuat anak akan lebih tertarik. Setelahnya, masing-masing harus membuat ringkasan dari bacaan. Ini dapat menjadi pengalaman yang lebih menarik bagi anak.

Selain itu, orangtua dapat menggunakan pendekatan kreativitas. Kreativitas memang sangat dibutuhkan dalam proses belajar agar anak tidak merasa bosan. Kreativitas juga dapat membuat anak berimajinasi dan bereksplorasi. Untuk pelajaran yang memerulkan praktik, ajaklah mereka untuk bereksperimen bersama. Mengajak anak ke museum juga dapat memberikan mereka pengetahuan secara visual.

Agar pelajaran terlihat menarik, tak ada salahnya menggunakan permainan asah otak. Ajaklah anak untuk memainkan permainan yang mengasah otak, sehingga mereka dapat berpikir secara aktif dan efektif. Ada banyak permainan yang dapat dicoba, mulai dari Scrabble, Sudoku, teka-teki, hingga catur.

Jika anak mendapat hasil atau nilai yang baik dalam pelajaran yang tidak ia sukai, tak ada salahnya melakukan ‘perayaan’. Tak perlu perayaan yang mewah, paling tidak anak akan merasa senang ketika mereka mendapatkan hadiah dari apa yang telah mereka raih dalam prestasi. Ini juga akan menjadi dorongan atau motivasi kepada anak untuk dapat lebih bersemangat belajar.

Namun ada satu hal yang patut menjadi perhatian orangtua, yakni cari penyebab anak tidak suka pelajaran tersebut. Jangan ragu untuk mencari tahu penyebab anak tidak menyukai suatu pelajaran. Misalnya, bila anak kurang menyukai pelajaran karena tidak memahami penjelasan guru di awal pengajaran sehingga berlanjut kesulitan mengikuti materi. Coba gugah minat dan ketertarikan anak untuk belajar, misalnya dengan bercerita atau menggunakan media seperti gambar.

Jangan ragu untuk mengevaluasi guru yang dianggap tidak melakukan pengajaran dengan baik. Misalnya, guru yang menyamaratakan kemampuan semua anak di dalam kelas. Padahal di awal sekolah, tidak semua anak di kelas sudah bisa menulis atau membaca jika tingkat PAUD.

Kesuksesan seorang anak memasuki dunia sekolah turut ditentukan oleh cara orang dewasa yang ada di sekitar lingkungan anak dalam memperkenalkan semua pelajaran dengan porsi yang sama. Orangtua jangan sekali-kali membedakan pelajaran mana yang penting dan tidak penting karena nantinya anak hanya tertarik pada pelajaran yang dikenalnya secara intensif.

Hindari pemberian label pada salah satu pelajaran di sekolah. Pengalaman orangtua di masa sekolah yang mungkin kesulitan mempelajari matematika atau IPA, jangan lantas disampaikan dengan maksud membesarkan hati anak. Hal ini akan dianggap sebagai pembenaran ketika anak tidak mengerjakan tugas mata pelajaran tersebut. Hindari juga memberikan label pada anak, seperti "tidak jago matematika" atau "hanya berbakat pada pelajaran sosial".

Penulis : Budi Haryadi, Pemerhati dunia anak
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya