» » Penyebab Perilaku Buruk Murid

Penyebab Perilaku Buruk Murid

Penulis By on Saturday, January 20, 2018 | No comments


Hampir di setiap kelas, guru akan menjumpai murid yang berperilaku buruk. Yaitu murid yang berperilaku tidak seperti yang diharapkan oleh guru. Di mana perilaku ini akan mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Baik berupa ucapan, suara yang dibunyikan, aktivitas yang kontra produktif, maupun perhatian murid terhadap hal-hal selain guru. Apa penyebab murid melakukan perilaku buruk?

Banyak penyebab yang dapat memicu munculnya perilaku buruk pada murid. Pada dasarnya ada dua penyebab, yaitu penyebab yang datangnya dari dalam kelas dan penyebab yang datangnya dari luar kelas. Penyebab utama berasal dari luar kelas kemudian diperkuat dengan situasi di dalam kelas.

Keadaan di rumah dapat menjadi pemicu awal atau bibit munculnya perilaku buruk murid. Misalnya, adanya hubungan yang buruk di antara kedua orangtuanya. Murid yang orangtuanya baru saja atau sedang mengalami proses perceraian sering kali dapat bersikap menarik diri atau sebagai disruptive di sekolah. Demikian juga, murid yang berasal dari latar belakang keluarga yang tidak stabil cenderung lebih disruptive di sekolah. Di rumah anak merasa tidak memiliki figur dan “penguasa” yang kuat, serta tidak adanya perhatian yang cukup.

Adanya kondisi keluarga sebagaimana dipaparkan di atas maka  sekolah -  sebagai lembaga yang diamanahi orangtua untuk membangun karakter anaknya- harus mengantisipasi dengan menciptakan kondisi yang dibutuhkan oleh anak. Sehingga sekolah bisa mencegah atau meminimalisir perilaku buruk murid yang mungkin akan muncul. Sekolah bisa mengimbangi dengan menciptakan lingkungan yang disiplin, terstruktur, dan penuh perhatian untuk membantu mengkompensasi apa yang tidak dapat diperolah anak-anak ini di rumah.

Masalah lain yang bisa menjadi pemicu dari luar kelas adalah standar nilai yang berbeda. Misalnya sekolah menerapkan dengan ketat beberapa adab yang dicontohkan Nabi, misalnya adab makan, adab menuntut ilmu, adab berteman. Sementara di rumah longgar dalam pelaksanaan adab.

Sebagian orangtua menyadari kelemahannya dalam pendidikannya di rumah. Tidak bisa memberi perhatian sepenuhnya. Tidak bisa menjadi tauladan bagi anak-anaknya, sehingga untuk membangun kepribadian anaknya ia mempercayakan sepenuhnya kepada pihak sekolah. 

Dalam perkembangannya, usia remaja awal adalah saat di mana anak akan merasakan kebutuhan untuk memberontak dan mencari perhatian. Ada anak yang mampu mengendalikan tetapi ada juga yang dinampakkan, bahkan ditonjolkan dalam perilakunya. Anak bisa mengekpresikan di rumah, di sekolah.  Di salah satu atau kedua lingkungan yang memberi peluang.

Disisi lain, kondisi sekolah dan guru dapat menjadi pendorong atau pemicu potensi perilaku yang buruk. Pelajaran yang disajikan dan berkesan membosankan dapat menjadi alasan murid menunjukkan perilaku yang buruk. Materi ajar yang tidak relevan dengan murid dapat memprovokasi perilaku buruk dengan lebih mudah.

Sementara sekolah dan guru yang terlalu otoritarian atau sebaliknya, terlalu longgar dalam hal kedisiplinan lebih berkemungkinan untuk menghadapi perilaku buruk bagi murid-muridnya.

Hal lain -di sekolah- yang bisa memicu munculnya perilaku buruk adalah prestasi. Prestasi yang rendah sering menimbulkan perilaku buruk karena jurid merasa kecewa dengan sekolahnya. Sebaliknya murid dengan prestasi yang memuaskan cenderung mampu mengendalikan perilaku buruknya. Kebaikan yang menutup potensi keburukan. Dengan demikian perilaku buruk dapat dibatasi dengan memberikan target kurikulum yang relevan, yang memungkinkan semua murid untuk mengalami kesuksesan. Perilaku adalah ungkapan jiwa. Bentuk ekspresinya tergantung kekuatan kalbu dalam mengendalikan.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya