» » Inilah Kiat Pendidik Sukses

Inilah Kiat Pendidik Sukses

Penulis By on Wednesday, February 14, 2018 | No comments


Oleh : Nur Imam Mahdi

Waktu kosong merupakan gejala penyakit yang harus segera kita cegah sebelum benar-benar menjadi penyakit. Jangan sampai waktu kita terbuang sia-sia. Kalau orang Barat punya semboyan time is money, orang Arab punya semboyan al waktu kasayyif, kalau orang Indonesia kira-kira apa ya? Nah bicara tentang waktu kosong tadi terkadang naluri kita muncul. Kira-kira sesuatu apa yang bisa kita lakukan dan juga bermanfaat bagi diri kita?

Berangkat dari kesulitan ekonomi, akhirnya saya memilih untuk mengajar di TK Arif Rahman Hakim, Maguwoharjo, Yogyakarta dengan tujuan mencari pengalaman dan biaya tambahan untuk kuliah. Sungguh sangat sedih, sebab awalnya yang muncul dalam benak saya hanyalah uang. Saya juga tidak menyalahkan diri sendiri, orangtua, bahkan Tuhan. Tapi saya juga berterimakasih karena dengan hidup keterbelakangan ekonomi membuat otak, otot dan jiwa spiritual saya bergerak.

Dengan izin kepala sekolah yang akrab dikenal dengan Ayah Widi, beruntung saya diperbolehkan untuk tinggal bersama di lembaga Arif Rahman Hakim. Di sini selama 4 bulan saya menggeluti dunia anak. Tak lepas dari itu semua, banyak kegiatan yang harus saya lakukan. Di antaranya bersih-bersih dari dalam hingga luar lingkungan TK, mengajar TK B dan kuliah, Khusus hari Ahad, saya fokuskan mengikuti kajian Ahad di Asrama An- Nahl yang memang sebelumnya saya sudah tinggal di sana.

Alhamdulillah, saya juga tidak menyangka bisa mengajar seperti ini padahal sebelumnya saya belum pernah berkecimpung di dunia anak. Mungkin ini sebagai pijakan awal untuk melangkah sebagai orang hebat. Ya, saya pernah mendengar kata-kata ini dari salah seorang aktivis SPA (Silaturahim Pecinta Anak), dan ini sangat perlu untuk kita tanamkan pada diri kita dan orang lain khususnya untuk para pendidik. Jika kita ingin semangat dalam hidup, kita harus menanamkan tiga jiwa pekerja ini pada diri kita. yakni,

Pertama, kerja keras. Kerja keras merupakan wujud semangat kita untuk mencapai sesuatu yang sangat kita inginkan. Kerja keras merupakan sebuah perjuangan, dan sesuatu yang didapat dengan perjuangan itu akan terasa lebih manis dari pada gula dan lebih enak dari pada sate.

Kedua, kerja cerdas. Walaupun kita tipe pekerja keras, namun jika tidak diimbangi dengan kerja cerdas, hasilnya akan kurang atau tidak efisien. Pertama  kali saya mengajar, anak-anak lebih suka dibimbing ustadz/ah yang lain daripada saya. Saya bingung sampai-sampai kebingungan itu saya bawa sampai rumah setelah tiga kali seperti itu. Akhirnya ketemu juga solusinya. Ternyata anak itu juga ingin sosok gurunya itu aktif dan mengerti mereka, bukan hanya transfer ilmu. Di sini kita dituntut cerdas dalam menghadapi berbagai situasi, baik dalam penyampaian ataupun pendekatan. Besoknya lagi saya mencoba untuk lebih aktif. Ternyata mereka merasa senang sekali. Itulah wujud dari kerja cerdas, kita bisa merencanakan, membuat, dan melaksanakan model atau cara kita mengajar dan akhirnya anak akan mudah dan senang dengan ilmu yang kita berikan.

Ketiga, kerja ikhlas. Ikhlas merupakan elemen pertama kita jika kita mengerjakan sesuatu. Tanpa dilandasi dengan ikhlas, sudah tentu apa yang kita lakukan hanya hampa. Kita sulit menerima sesuatu jika sesuatu itu kurang sesuai dengan kita. Kita menjadi kurang semangat, kita gampang  mengeluh. Banyak dampak negatif yang lainnya yang jika kita tidak mengamalkan rasa ikhlas  tersebut. Hal inilah yang membuat saya tambah semangat dalam menjalani hidup terutama rutinitas saya sebagai guru Taman Kanak- Kanak. Karena tiga jiwa pekerja ini sudah saya terapkan. Intinya bagi pendidik pemula yang baru mengajar atau belum berpengalaman dalam mengajar harus memperhatikan tiga jiwa pekerja yang sudah saya uraikan.

Sebenarnya kalau kita menyadari memang benar adanya, kunci sukses pendidik dalam mengajarkan pembelajaran terletak pada tiga pilar, yakni kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Jadi ketiga ini tidak bisa ditinggalkan oleh para pendidik.

Penulis : Nur Imam Mahdi, Mahasiswa STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya