» » Saat yang Tepat Memberi Nasihat kepada Anak

Saat yang Tepat Memberi Nasihat kepada Anak

Penulis By on Sunday, February 11, 2018 | No comments

Oleh : Imam Nawawi
Kapan terakhir kali sahabat memberikan nasihat kepada anak?
Saat marah? Mungkin agak sering ya… Saat santai? Mungkin sering lupa ya… Saat senang? Kadang tak terpikirkan.
Sepulang dari acara di Bogor, saya menemani Master Training Qur’ani Ustadz Drs. Zainuddin Musaddad, MA atau yang akrab disapa Abah di Balikpapan.
Di sela-sela makan Coto Makassar beliau tiba-tiba mengatakan sebuah kalimat yang menurut saya sangat penting.
“Buya Hamka memberikan nasihat kepada anak-anaknya saat dalam keadaan bahagia, keadaan senang. Karena dalam situasi seperti itu hati siapapun akan terbuka dengan nasihat,” ucap beliau.
Sekelebat nalar saya menari dan menemukan iramanya. “Betul ini tips,” gumamku dalam hati.
Maka setiap ada di rumah, di momentum-momentum sederhana dimana anak-anak sedang asyik berbagi cerita atau sedang menceritakan sesuatu sepulang sekolah atau bermain, saya coba selip-selipkan nasihat kepada mereka.
Tentu saja respon setiap anak berbeda, tetapi semakin dibiasakan nasehat diberikan saat kita enjoy, tidak terkena penyakit jengkel atau marah, itu membuat anak-anak lebih siap menerima.
Di beberapa artikel saya menemukan, ada tips lain. Memberkan nasihat kepada anak itu tepat di tiga waktu, yakni saat perjalanan, saat makan dan saat anak sakit.
Hanya saja bicara soal nasihat ini menarik yang ditulis oleh Ninik Handrini dalam bukunya “Bidadari itu adalah Ibu.”
“Bunda, pernahkah Anda bertanya kepada anak yang berusia 6 tahun, “Nak, apakah kamu butuh nasihat dari ibu?” Tentu anak akan menjawab, “Tidak.” Sayangnya Anda tak pernah tanyakan hal itu” (halaman: 231).
Namun demikian bukan berarti orang tua berhenti memberikan nasihat kepada anak. Karena nasihat ibu kepada anak adalah ilmu, obat, pengetahuan, dan petunjuk bagi anak.
Oleh karena itu, penting memberikan nasihat pada saat yang tepat, agar nasihat sampai dan dipahami secara benar. Jangan sampai nasihat justru dipahami sebagai ungkapan kekesalan daripada kasih sayang.
Jika hal itu dilakukan, kata Nini, “Anak akan makin merasa bersalah dengan cara itu, sehingga esensi nasihat tidak sampai secara baik dan maksimal kepada anak.”
Namun, nasihat sesungguhnya tak mesti selalu dari lisan kita sebagai orang tua, bisa dengan ceramah para cendekiawan di youtube atau pun membacakan buku yang inspiratif bagi mereka.
Pernah seorang praktisi parenting berkata kepadaku, “Untuk satu tujuan saja, orang tua harus menggunakan banyak cara agar anak lebih bisa menerima dan melakukan setiap nasihat baik dari kedua orang tuanya.” Wallahu a’lam.
Jakarta, Rabu, 22 Jumadil Awwal 1439 H
Penulis : Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia, twitter @abuilmia | www.abuilmiawordpress.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya