» » Anak Suka Mengacak-acak Rumah

Anak Suka Mengacak-acak Rumah

Penulis By on Saturday, March 10, 2018 | No comments


Oleh : Nur Muthmainnah

Pernahkah kita melihat anak-anak mengacak-acak atau membuat berantakan barang-barang di rumah? Bagaimana perasaan kita ketika melihat hal itu? Jengkel, marah, kesal, atau senang malah bercampur menjadi satu? Perlu diketahui bahwa anak belajar dengan cara mengeksplorasi semua benda yang ada di sekitarnya dan benda yang terdekat ada di dalam rumah. Dinding, kasur,piring, gelas, sendok, garpu, pisau, kompor, kran air, tanah, kasur, bantal, dan sebagainya. Itu adalah media belajar anak.Mereka mengeksplorasinya yang disisi lain mungkin kita menyebut mereka mengacak-ngacaknya.

Studi yang dilakukan tim peneliti dari University of Lowa (2014), menemukan bahwa balita yang memahami, menyentuh, dan merasa bahkan melempar-lempar benda, termasuk mainan dan makanannya, bisa terus mengumpulkan informasi tentang dunia sekitarnya. Peneliti menguji 72 balita berusia 16 bulan. Kemudian, mereka diberi beberapa benda.

Peneliti pun memperhatikan apakah anak itu bisa mempelajari nama-nama benda yang ada. Mereka menemukan bahwa anak yang cenderung berantakan saat bermain lebih baik dalam mempelajari benda sekaligus mengingat namanya. Salah satupeneliti,  Larissa Samuelson mengatakan informasi dari suatu benda yang dilempar atau diacak-acak oleh anak akan lebih mudah mereka ingat. Sebab, mereka melakukan tindakan itu sambil mencatat informasi di pikirannya. Dalam penelitian tersebut, para peneliti juga memberi objek non padat seperti selai, keju, mentega, oatmeal, dan saus cokelat.

Kemudian, mereka diberi nama masing-masing objek dengan kata yang sederhana. Lalu, mereka diberi objek yang sama dengan bentuk berbeda. Ternyata, anak-anak yang lebih berantakan saat bermain, lebih akurat dalam memberi nama benda. Menurut peneliti, cara yang cenderung mengacak-acak, misalnya menggenggam, mengambil, lalu memasukkan benda-benda ke dalam mulut mereka. Sedangkan, anak yang tidak berantakan misalnya hanya menyentuh dan menusukkan jari ke suatu benda.

Berdasar penelitian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa mereka yang bermain dengan cara berantakan bisa mengidentifikasi benda hampir 70 persen benar sedangkan yang tidak berantakan hanya 50 persen. Mereka yang duduk di kursi tinggi pun bisa mengidentifikasi objekdenganlebihbaik.Studiinisudahditerbitkan dalam jurnal Developmental Science. Dalam laporannya, peneliti mengatakan informasi yang diperoleh melalui eksplorasi aktif terkadang penting untuk mengetahui sesuatu.

Kita semua punya harapan untuk mempunyai anak yang cerdas dan pintar. Anak yang cerdas dan pintar adalah anak yang banyak belajar. Jadi, seharusnya kita senang apabila anak mengeksplorasi isi rumah kita walau kita harus sering melihat seisi rumah berantakan. Seharusnya kita juga bersyukur bila mempunyai anak yang aktif.

Dengan alur berpikir ini, berarti tidak seharusnya kita marah bila anak mengacak rumah. Apabila kita memang tidak mau rumah kita diacak-acak, kita harus menyediakan sesuatu untuk diacak oleh anak-anak kita. Atau jika tidak ada waktu untuk menyediakan, ikhlaskan saja barang-barang rumah demi pendidikan anak. Jika ada barang yang memang tidak boleh dipegang anak, sebaiknya disembunyikan di tempat tidak dapat dijamah oleh anak.

Meski demikian, bukan berarti kita bisa membiarkan begitu saja anak untuk membuat berantakan. Sebab kita juga harus mengajarkan kerapian, kebersihan dan keteraturan pada anak-anak. Bagaimana caranya? Ketika mengacak makanan, atau tanah atau apapun, baiknya kita temani anak sambil menanamkan nilai-nilai tersebut. Misalnya : “Wah, adik lagi apa? Bikin kue dari tanah ya? Bunda ikut ya. Kita main tanah di halaman saja, kan tanahnya kotor.  Supaya bebas kuman, setelah main tanah kita cuci tangan dulu.”

Jadi, dalam keadaan bermain yang menyenangkan, kita bisa menjalin kedekatan sambil menanamkan berbagai macam nilai. Dalam keadaan senang, anak lebih mudah menerima apa yang kita sampaikan. Tips ini bisa fleksibel untuk semua kegiatan mengacak di rumah.

Penulis : Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia pendidikan
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya