» » Hargai Anak

Hargai Anak

Penulis By on Tuesday, March 6, 2018 | No comments

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Di antara beban yang harus ditanggung oleh anak-anak dari para orangtua yang memiliki prestasi di bidang dan ranahnya masing-masing adalah, upaya mereka kerapkali tak dihargai. Kesungguhan mereka diabaikan. Saat anak-anak itu meraih prestasi, betapa sering orang dewasa dan bahkan guru menganggapnya sebagai hal yang wajar. Tak ada kebaikan anak yang patut memperoleh umpan balik agar semakin bersungguh-sungguh sekaligus siap berpayah-payah

Ketika anak mencapai kemampuan istimewa, betapa sering anak-anak itu dikerdilkan jerih payahnya. Adakalanya itu dimaksudkan sebagai pengakuan terhadap orangtuanya, tetapi lupa bahwa anak lebih memerlukan pengakuan karena ia masih baru berusaha berkembang. Kadangkala ungkapan itu juga sebagai bentuk kekaguman pada keberhasilan orangtua, tetapi lupa bahwa anak memerlukan penguatan mental untuk meraih keberhasilan lebih besar

Ketika anak meraih prestasi melalui upaya yang menuntut kesungguhan lebih, upaya anak itu diabaikan dengan ungkapan, “Maklum, ibunya memang hebat. Wajar ibunya saja lulus cum laude.” Dan masih ada sederet ungkapan lain yang serupa

Sedihnya, ketika anak sedang mengalami kesulitan mencapai standard yang diharapkan, kadang nama orangtua menjadi bahan menekan anak. Maksudnya barangkali memotivasi. Memberi dorongan. Tetapi dampaknya justru tekanan mental. “Lha, kamu kok bisa begini toh? Padahal ibumu itu hebat, lho. Apa ibumu kurang perhatian?”

Tanpa sadar, kadang ada yang sampai terjatuh kepada corporal bullying atau perundungan oleh orang dewasa yang memiliki kekuasaan terhadapnya semisal guru. Perundungan teman itu bisa berakibat sangat serius. Apalagi perundungan oleh guru

Tetapi bagaimana jika itu dimaksudkan sebagai tindakan mendisiplinkan? Di sinilah pentingnya ilmu. Sama seperti lembut yang tanpa ilmu berarti kelemahan, ketegasan dan pendisiplinan tanpa ilmu justru dapat bermakna perundungan.

Lalu apa yang diperlukan anak-anak sukses dari orangtua yang –bi idzniLlah—sukses? Berikan umpan balik kepadanya sesuai keadaan anak. Pada remaja utama misalnya, ia lebih memerlukan umpan balik terhadap pilihan kegiatan dan kinerja. Beda keadaan, beda titik tekan umpan baliknya. Ada yang lebih memerlukan umpan balik terhadap dirinya, lebih dari umpan balik terhadap kinerjanya.

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Pakar Parenting dan Penulis Buku
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya