» » Ketika Duduk Lebih Baik Daripada Berdiri

Ketika Duduk Lebih Baik Daripada Berdiri

Penulis By on Monday, March 12, 2018 | No comments


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kelak akan ada masa, dan aku khawatir masa itu telah dekat atau bahkan sedang menghampiri pintu-pintunya. Inilah masa ketika seseorang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Ini bukan karena tak peduli, bukan pula karena membiarkan kemungkaran dan kerusakan terjadi.

Tetapi justru karena dahsyatnya fitnah, sehingga melibatkan secara aktif untuk menangkal maupun memerangi yang kita anggap sebagai keburukan yang nyata, justru memperbesar keburukan itu sendiri. Inilah masa ketika ajakan untuk berhati-hati dalam masalah yang berhubungan dengan kesesatan justru dianggap sebagai membela kesesatan dan kekafiran, tidak peduli telah berapa jauh perjalanan yang ditempuh dan berapa banyak upaya yang diperbuat oleh orang itu untuk mengajak manusia ke jalan yang lurus.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.

"Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

Maksud dari "...pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari..." yaitu, pada pagi harinya ia mengharamkan dirinya dari menumpahkan darah saudaranya (seiman), kehormatan dan hartanya. Tetapi pada sore hari ia menghalalkannya. Ia menganggap halal darah, kehormatan dan harta saudaranya karena menganggapnya kafir.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Inilah masa yang penuh kejutan. Gegar. Seseorang yang beriman, tiba-tiba berubah menjadi kafir disebabkan oleh gelapnya fitnah. Kekafiran itu sendiri banyak sebabnya; ada yang disadari sepenuhnya bahwa ia telah terjatuh pada kekafiran, ada yang ia sepenuhnya tidak sadar bahwa dirinya telah terjatuh kepada keburukan yang sangat besar itu. Maka, sangat perlu bagi kita memahami apa saja yang membatalkan syahadat dan merusaknya. Kita belajar dengan sungguh-sungguh, sekaligus penuh kehati-hatian. Dan yang terbaik adalah memahami sesuai pemahaman para salafush shalih; dari mereka yang telah melalui ujian dalam menempuh jalan kebenaran ahlussunah wal jama'ah ini. Salah satu yang paling samar dan mengkhawatirkan adalah memvonis kafir dalam berbagai bentuknya kepada seorang mukmin sehingga vonis tuduhan itu berbalik kepada dirinya, sedangkan ia tidak menyadari.

Inilah masa ketika memilih diam padahal kemungkaran dan kerusakan itu telah sangat nyata, justru jauh lebih baik. Bukankah kita berdosa apabila membiarkan kemungkaran padahal kita mampu mencegahnya, dengan kekuatan atau lisan kita? Betul. Dan ketentuan ini tidak berubah. Tetapi di zaman fitnah, tindakan yang kita maksudkan untuk amru bil ma'ruf serta mencegah kemungkaran justru semakin mengobarkan kemungkaran dan memadamkan yang ma'ruf. Maka, sungguh, ini masa-masa yang sangat sulit. Perlu ilmu, keteguhan hati dan kesabaran dalam melaluinya. Kita memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar tidak termasuk yang menyulut dan mengobarkan api fitnah.

Tapi bukankah penggugur syahadat dan pembatal keislaman itu salah satunya adalah tidak meyakini kekafiran orang kafir dan kesesatan orang-orang yang sesat? Benar dan ini pun tidak berubah. Bahkan setiap hari kita berdo'a di dalam shalat kita, di setiap penghujung Al-Fatihah yang kita baca, memohon ditunjuki jalan yang lurus dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai, bukan pula jalan orang yang sesat. Maka, meyakini adanya kesesatan dan membenci kesesatan itu merupakan bagian sangat penting di setiap shalat kita. Tetapi itu bukan berarti kita dapat dengan mudah menghukumi seseorang sebagai sosok yang sesat dan kafir tanpa bukti yang utuh dan lengkap. Begitu pula kita tidak dapat menghukumi orang yang tidak ikut memvonis sesat terhadap seseorang yang dianggap sesat, sebagai orang yang rusak syahadatnya. Bukankah telah banyak berlalu sebelum kita orang yang dinyatakan sesat, tetapi kelak ternyata kita tahu bahwa ia justru seorang yang sangat lurus? Imam Bukhari salah satunya.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam memberi gambaran yang sangat terang dan rinci tentang sikap yang seharusnya kita ambil saat fitnah agama ini meluas. Yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri. Yang duduk, tidak lalai, tidak lengah, tetapi memilih diam tidak turut dalam gejolak silang sengkarut fitnah dan kerusakan, justru itulah cara terbaik untuk memadamkan fitnah dan kerusakan. Diam dan menjaga kejernihan, tidak tergesa-gesa turut membenarkan tuduhan yang boleh jadi benar dan boleh jadi salah, menahan diri dari ikut saling menghujat dan melaknat, justru merupakan jalan yang paling selamat. Ia seolah pasif, padahal sesungguhnya harus menahan diri lebih dari yang lain. Ia justru sedang bersabar sesabar-sabarnya agar tidak tergesa-gesa dalam bersikap.

Yang berdiri lebih baik daripada yang berlari. Yang memilih untuk tetap mengingatkan, meluruskan yang menurutnya bengkok, lebih baik daripada yang aktif dalam gelombang perlawanan terhadap apa yang dirasakannya sebagai kemungkaran. Saya perlu menyebutnya sebagai "yang dirasakannya sebagai kemungkaran" karena di masa fitnah begitu bercampur aduk antara yang sungguh-sungguh lurus dengan yang bengkok; dan mudah kabur antara memerangi kemungkaran dengan memerangi orang yang dituduh mungkar, sementara belum jelas apakah ia sungguh-sungguh seseorang yang menjadi biang kemungkaran ataukah justru sebaliknya.

Yang berjalan lebih baik daripada yang berlari..... Renungilah....

Imam Nawawi rahimahullah ta'ala berkata, "Makna hadis ini menjelaskan betapa besar bahaya fitnah dan dorongan untuk menjauhi dan menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari fitnah tersebut, serta dari sebab-sebabnya. Sesungguhnya, besarnya keburukan dan fitnah tersebut tergantung dari seberapa dekatnya dia dengan fitnah itu. Semakin dia jauh dari fitnah, maka semakin baik baginya."

Lalu, apa yang harus kita kerjakan kita masa itu tiba? Patahkanlah busur-busur panah kalian sehingga tidak ada bekal maupun perlengkapan kalian untuk turut berperang dan melakukan perlawanan terhadap apa yang disangkakan sebagai kemungkaran. Putuskanlah tali-tali busur kalian sehingga tidak ada lagi yang dapat kalian lontarkan untuk turut di kancah perlawanan. Pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu sehingga habislah semua yang dapat kalian pergunakan untuk memusuhi mereka yang dianggap sebagai musuh berbahaya. Diam dan terus berusaha memperbaiki diri seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala untuk keselamatan diri, anak-anak, keluarga dan keturunan. Tidak turut menyebar api fitnah.

Di saat api fitnah sangat besar, hal yang paling utama bagi setiap orang adalah memastikan keselamatan agama bagi dirinya sendiri (catat: bagi dirinya sendiri) dan tidak terlibat sama sekali dalam gelombang fitnah yang sangat dahsyat. Ia menjaga keselamatan agama bagi dirinya sendiri dan keluarga paling dekat yang ia mampu, dari anak, istri dan orangtuanya, lalu saudara dan kerabatnya. Tetapi jika ini pun dapat menyebabkan meluasnya fitnah, maka yang paling pokok adalah menjaga dirinya sendiri dan keluarga paling dekat yang ia mampu.

Berupaya mengubah sedangkan kekuatan lemah, padahal fitnah amat besar, adalah tindakan membahayakan diri sendiri. Bukan saja secara fisik, tetapi terutama bagi keselamatan agamanya. Selain itu, ini justru dapat semakin mengobarkan api fitnah.
Diam bukan berarti tidak peduli. Kita diam justru karena menetapi sunnah, menahan diri kuat-kuat meskipun amat risau dengannya agar fitnah tidak semakin meluas. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengilmui sesuai tuntunan Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam tentang bagaimana cara tepat menghadapi fitnah. Tidaklah kita berbicara kecuali yang benar-benar baik, berdasarkan ilmu yang haq, tidak menimbulkan keguncangan di tengah-tengah ummat, tidak memuji kaum perusak meskipun mereka tampaknya memperbaiki, tidak membenarkan perbuatan mereka dan berlepas diri darinya. Berbicara hanya hal-hal yang baik dan tidak menimbulkan keguncangan berarti, pada saat-saat fitnah memuncak kita lebih memilih membicarakan urusan lain yang tidak bersinggungan dengan persoalan yang sedang mengobarkan api fitnah. Tetapi jika ini pun tetap menyulut fitnah, diam itu lebih baik.

Sikap yang harus kita tegakkan adalah menetapi al-jama'ah. Inilah garis tegas yang harus dipegangi oleh Ahlussunnah wa Jama'ah. Tetapi apakah al-jama'ah itu, khususnya di saat sangat sulit itu? 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

“Al-jama’ah adalah siapa saja yang teguh di atas kebenaran meskipun engkau sendiri.”

Bagaimana jika dengan sikap itu kita justru dituduh sebagai pembelanya sehingga ikut terkena fitnah? Na'udzubillahi min dzaalik. Inilah keadaan paling sulit. Kita membenci kesesatan, tetapi kita justru dituduh sebagai pendukung dan pejuang kesesatan. Tetapi jika itu terjadi, ikutilah perintah Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam (semoga Allah Ta'ala menolong kita), ".... Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil)."

Bagaimanakah Habil itu? Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 27:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَىْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ اْلأَخَرِ قَالَ لأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceiritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu. ’Dan berkata yang diterima kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’

Apakah Habil melawan ketika diancam oleh saudara lelakinya ini? Tidak. Dan itu bukan karena takut. Allah Ta'ala ceritakan perkataan Habil kepada kita di ayat berikutnya:
لَئِن بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَآأَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."

Tetapi Habil juga mengingatkan saudara laki-lakinya mengenai dosa membunuh. Ia berkata, sebagaimana kita baca di ayat berikutnya lagi:
إِنِّي أُرِيدُ أَن تَبُوأَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَآؤُا الظَّالِمِينَ

"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (pembunuhan ini) dan dosa kamu sendiri yang lain maka kamu menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itu adalah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.”

Semoga catatan ringkas ini bermanfaat. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. Semoga pula Allah Ta'ala menolong kita, menyelamatkan kita dan keluarga kita dari api fitnah yang menyala-nyala sekiranya fitnah itu sempat kita jumpai masanya.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya