» » Lelaki Muslim Harus Jadi Pemimpin yang Bertanggung Jawab

Lelaki Muslim Harus Jadi Pemimpin yang Bertanggung Jawab

Penulis By on Monday, March 5, 2018 | No comments



Oleh: Irwan Nuryana Kurniawan

Menurut penulis, setiap anak laki-laki muslim yang berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah ketika telah mampu untuk menikah, maka ia harus menikah.

Dengan menikah ia akan cenderung dan merasa tentram (sakinah; QS Ar-Rum:21), telah menyempurnakan separuh agamanya (HR Baihaqi), lebih dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, memohon karunia-rahmat kepada Allah Subhanahu wa Taala agar upaya-upaya menyiapkan anak laki-laki muslim memiliki kompetensi kepemimpinan keluarga yang bertanggung jawab berhasil dilakukan adalah sangat penting dan prioritas.

Dalam konteks kehidupan keluarga,“Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu bertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Dan laki-laki adalah pemimpin terhadap ahli rumahnya. Dan wanita adalah pemimpin terhadap rumah tangga suaminya dan anaknya. Maka tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemiminannya. (HR Muslim).”

Laki-laki memikul tanggung jawab kepemimpinan dan memberi nafkah, sedangkan wanita memikul tanggung jawab memelihara dan mendidik anak, dan mengatur urusan rumah tangga.

Perlunya menyiapkan anak laki-laki muslim untuk memiliki kompetensi kepemimpinan keluarga yang bertanggung jawab, menurut Syuqqah (1999) karena keluarga adalah organisasi yang memiliki kekhususan.

Keluarga ditegakkan di atas dasar cinta kasih dan hubungan internalnya terjalin dengan suatu cara yang tidak terdapat dalam organisasi manapun yaitu meliputi seluruh sisi kehidupan pribadi, dimulai dari hubungan yang paling khusus yaitu hubungan hubungan biologis, ditambah pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, makanan, minuman, dan pakaian, sampai yang terpenting adalah pemeliharaan dan pendidikan anak.

Dengan demikian, hubungan seorang laki-laki dengan istrinya lebih khusus dan lebih dalam daripada hubungan manapun dan keluarga merupakan tempat ketenangan dan ketentraman.

Kepemimpinan dalam keluarga, lanjut Syuqqah (1999), bukanlah sistem otokrasi, tapi sistem musyawarah karena musyawarah merupakan akhlak Muslim dalam segala urusannya. Kepemimpinan keluarga adalah syariyah yakni diatur dengan kaidah syariah, seperti kaidah yang luhur, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf,” (QS Al Baqarah:228).

Utamanya yang berhubungan dengan seluruh hukum khusus tentang perkawinan, talak, dan adab-adab pergaulan yang mengatur kehidupan dan mengarahkannya kepada kebaikan.

Kepemimpinan keluarga adalah kepemimpinan cinta kasih, ditegakkan atas dasar cinta dan kasih sayang.
Dalam bahasa Baharits (2007), kepemimpinan keluarga bukan dimaksudkan sebagai kekuasaan sewenang-wenang, tetapi bermakna kepemimpinan cinta kasih, perlindungan, pendidikan, bimbingan dan kekuasaan yang manusiawi. Kepemimpinan keluarga tidak dimaksudkan untuk menghilangkan kerjasama antar suami-istri dalam mengatasi persoalan rumah tangga dan mendidik anak. Tolong menolong di antara suami-istri merupakan sesuatu yang vital untuk kesempurnaan penunaian tanggung jawab di satu sisi dan untuk memelihara rasa cinta kasih dari sisi lain.

Ibnu Abbas dalam tafsir Al Qurthubi tentang “Dan para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada para istri” menegaskan bahwa kaum laki-laki dianjurkan untuk bergaul dengan lebih baik dan bersikap lapang terhadap istri dalam hal harta dan akhlak. Laki-laki yang mempunyai kelebihan—baik kelebihan itu berupa jihad, kepemimpinan, atau dalam memuliakan istrinya dan menolerir sebagian hak yang merupakan kewajiban istrinya—seyogianya memikul beban atas dirinya sendiri karena kasih sayang kepada keluarganya.

Kelebihan dan kemulaian kepemiminan keluarga adalah kelebihan kepemimpinan yang penuh kasih sayang dan kemuliaan memikul tanggung jawab.
Tidaklah otomatis seorang laki-laki muslim yang sukses menjadi lulusan perguruan tinggi dan memiliki pengalaman sukses memimpin organisasi intra maupun ekstra kampus, pasti sukses menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab dalam keluarganya.||
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya