» » Menengok Masa Lalu, Menyadari Nikmat-Nya

Menengok Masa Lalu, Menyadari Nikmat-Nya

Penulis By on Monday, March 12, 2018 | No comments

Oleh : Imam Nawawi
Karena sebuah obsesi, manusia sering lupa akan masa lalunya. Melupakan masa lalu yang tak mendorong produktivitas itu harus. Tetapi mengenang perjalanan hidup untuk mendorong diri semakin bersyukur kepada Allah itu harus.
Ada satu ayat yang mendorong saya menuliskan hal ini, selain juga sempat dua kali menjadi bahasan saya bersama para junior.
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai anak yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Adh-Dhuha: 6).
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an mendorong kita memperhatikan, bagaimana realitas hidup dan kehidupan kita di masa lalu.
Dalam konteks Nabi Muhammad, ia menulis, “Bukankah Dia telah meilputimu dengan pemeliharaan-Nya ketika engkau yatim?”
Sayyid Qutb menambahkan, “Engkau dilahirkan dalam keadaan yatim lalu Dia melindunginmu. Dia menjinakkan hati banyak orang hingga merasa iba kepadamu, bahkan hati pamanmu Abu Thalib yang tidak segama denganmu.
Jika hal ini dilakukan juga oleh sosok-sosok manusia yang sekarang mungkin telah memiliki himpunan harta, kedudukan tinggi dan relasi dimana-mana, maka kesadaran melihat masa lalu akan sangat membantu dirinya bebas dari sikap berlebih-lebihan atau bahkan melampaui batas.
Andai pun atribut kebendaan yang secara sosiologi menaikkan derajat sosial dalam pandangan manusia tidak diraih, setidaknya kita telah berada dalam tahap hidup yang jauh lebih baik dari masa lalu.
Jadi, dilakukan oleh siapapun, melihat kembali masa lalu untuk semakin bersyukur kepada Allah akan melahirkan satu kesadaran sekaligus gerakan spiritual yang mendorong kita tetap tunduk patuh kepada Allah Ta’ala.
Semalam saya coba melakukan hal yang sama sekalipun sekilas.
Alhamdulillah, ternyata begitu banyak nikmat yang Allah berikan, yang dalam rasio keluarga, tetangga dan sahabat, apa yang saya alami adalah hal yang jauh dari jangkauan nalar. Tetapi semua itu terjadi, semata-mata karena kehendak-Nya.
Lihatlah dan sadarilah bahwa diri kita yang hari ini adalah akumulasi dari hari-hari yang telah kita lalui. Dan, dalam proses akumulasi itu ada yang kita sendiri sadari bahwa itu tidak mungkin terjadi kecuali atas pertolongan-Nya. Maka mengapa masih enggan untuk sadar kemudian bersyukur kepada-Nya?
Bahkan tidak sedikit orang yang dulu jahil, mengatakan diri tak punya masa depan, ternyata Allah bentangkan jalan baginya untuk survive dan menginspirasi dunia?
Maka, jangan pernah remehkan iman dalam dada kita. Jangan nilai apapun lebih tinggi dari iman yang Allah hidayahkan kepada kita.
Jangan pernah padam keyakinan dalam hati kita. Karena dua hal itulah yang akan membuat kita terng dan jelas melihat gelapnya kehidupan yang penuh fatamorgana. Allahu a’lam.*
Jakarta, 24 Jumadil Akhir 1439 H
Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia
Twitter @abuilmia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya