» » Takut Jika Menelantarkan Rakyat

Takut Jika Menelantarkan Rakyat

Penulis By on Sunday, March 18, 2018 | No comments

Assalaamu alaikum a rohmatullahi wa barokaatuh

Apa kabar ayah, ibu, para pendidik dan pemerhati anak yang dirahmati Allah. Kita berjumpa lagi dalam Kisah Fahma. Nah, pada kisah edisi kali ini, kita akan menyelami kisah Umar bin Khathab yag begitu mencintai rakyatnya. Kita bersyukur banyak kaum muslimin mencintai sosok Umar. Mereka mencintai sahabat Nabi yang mulia. Nomor dua kedudukannya jika dirunut bersama Abu Bakar, radhiallahu anhuma. Anas bin Malik radhiallahu anhu pernah berkata, “Aku mencintai Nabi, mencintai Abu Bakar, dan mencintai Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka (di hari kiamat) lantaran kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari, No. 3688). Selain dikenal tegas, Umar juga memiliki sifat lembut dan kasih sayang kepada rakyatnya. Bagaimana kisahnya? Yuk kita simak.



Oleh: Nur Fitriyana

Muawiyah bin Hudaij radhiallahu anhu suatu ketika datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan tunggannya. Kemudian keluarlah seorang budak. Budak itu melihat penat Umar setelah bersafar. Ia mengajaknya masuk. Menghidangkan roti, zaitun, dan kurma untuk Umar. Umar pun menyantap hidangan tersebut. Kemudian berkata keapda Muawiyah,

“Wahai Muawiyah, apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir di masjid?”

“Aku katakan bahwa Amirul Mukminin sedang tidur siang”, jawab Muawiyah.

Umar berkata, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan dan alangkah jeleknya apa yang engkau sangkakan. Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah?”

Mungkin Muawiyah bin Hudaij bermaksud kasihan kepada Umar. Ia ingin Umar beristirahat karena capek sehabis bersafar. Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinnya, sehingga mereka rela jika Umar beristirahat.

Tetapi Umar sendiri malah khawatir kalau hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginannya mereka kepadanya.

Umar berkata, “Jika ada seekor onta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban kepadaku karena hal itu.”

Karena onta tersebut berada di wilayah kekuasaannya, Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika onta itu mati sia-sia; karena kelaparan, atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk, Umar khawatir Allah akan memintai pertanggung-jawaban kepadanya nanti di hari kiamat. Subhanallah…

Kalau rasa tanggung jawab kepada hewan pun sampai demikian, bagaimana kiranya kepada manusia? Semoga Allah meridhai dan senantiasa merahmati Anda wahai Amirul Mukminin…

Pada saat haji terakhir yang ia tunaikan dalam hayatnya, Umar radhiallahu anhu duduk bersimpuh kemudian membentangkan ridanya. Ia mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah langit.

Ia berucap, “Ya Allah.. sungguh usiaku telah menua dan ragaku kian melemah, sementara rakyaku semakin banyak (karena wilayah Islam meluas pen.), cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak disia-siakan.

Inilah seorang pemimpin yang memerankan kepemimpinan dalam arti sebenarnya. Ia memberikan teladan dalam perkataan dan perbuatan. Seorang yang shaleh secara pribadi dan cakap dalam kepemimpinan.

Sesuatu yang perlu kita sadari, pemimpin adalah kader dari masyarakatnya.

Umar bin al-Khattab adalah kader dari masyarakatnya. Dan setiap masyarakat akan mengkader pemimpin mereka sendiri. Masyarakat yang baik akan melahirkan kader yang baik, sehingga sekumpulan kader-kader yang baik ini akan menunjuk yang terbaik di antara mereka untuk memimpin mereka. Dan masyarakat yang jelek akan melahirkan kader yang serba kekurangan.||

*Kisah ini terdapat di kitab Al Muwatha karangan Imam Malik 21:2

Penulis: Nur Fitriyana. Pemerhati pendidikan
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya