» » Nilai Lebih dalam Proses Pembimbingan

Nilai Lebih dalam Proses Pembimbingan

Penulis By on Saturday, April 14, 2018 | No comments



Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Setiap guru atau dosen pasti mempunyai cara atau kebiasaan tersendiri dalam memberikan bimbingan kepada siswa atau mahasiswanya. Bagi para guru yang hampir setiap hari bertemu dengan siswanya akan lebih mengenal karakter mereka masing-masing, sehingga dalam memberikan nasehat atau bimbingan bisa lebih tepat.

Hal ini berbeda dengan para dosen, dalam satu minggu mereka bertemu dengan mahasiswa yang sama, hanya beberapa kali atau bahkan hanya sekali ketika mahasiswa tersebut mengambil mata kuliah yang diampu oleh dosen itu. Sehingga, tidak mengherankan kalau tidak semua mahasiswa mengenal apalagi dekat dengan dosen-dosen di jurusan atau departemennya. Rata-rata mahasiswa hanya mengenal dosen pembimbingnya saja, baik pembimbing akademik, tugas akhir maupun yang lain.   

Sebenarnya dengan saling mengenal, proses pendidikan dan transfer ilmu bisa berlangsung dengan lebih baik. Sehingga, karena tatap muka dianggap penting dalam proses pembimbingan, maka Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dalam pemeringkatan sebuah program studi, apakah A, B atau C, jumlah tatap muka antara dosen dengan mahasiswa bimbingan, menjadi salah satu kriteria penilaian.

Semakin banyak frekuensi tatap muka ini, nilainya semakin tinggi. Untuk itu, biasanya program studi mewajibkan mahasiswanya minta tanda tangan ke dosen pembimbing untuk pengesahan kartu rencana studi, kartu ujian atau surat yang lain.

Pada kenyataannya, kalau proses pembimbingan tidak diatur, maka tidak otomatis berjalan begitu saja, karena kebanyakan masing-masing pihak enggan untuk bertemu. Bahkan meskipun sudah diatur, tatap muka ini masih tetap saja menyisakan masalah. Pembimbingan terlambat dari waktu yang ditentukan dengan berbagai penyebab.

Kualitas proses tatap muka inipun dari satu dosen ke dosen yang lain juga bervariasi. Ada yang hanya sekedar memberikan tandatangan pada kartu rencana studi lalu berlalu. Ada yang hanya menjawab pertanyaan mahasiswa tanpa ada pertanyaan balik. Namun ada juga yang memberikan nasehat agar mereka lancar dalam kuliah, dalam menempuh karir kelak, atau dalam bersosialisasi. Hal inilah yang sebetulnya diharapkan, betul-betul ada pembimbingan, ada komunikasi dua arah.

Pernah ada sekelompok mahasiswa yang curhat, menceritakan bahwa sebenarnya mereka ingin sekali bisa mengobrol, berkonsultasi dengan dosen pembimbing akademiknya. Namun karena dosennya tidak pernah menanyakan sesuatu tentang diri mahasiswa, apakah mempunyai kesulitan dengan kuliahnya, prestasinya, atau hal kecil yang lain, sehingga mereka juga enggan untuk mengajak berbicara dosennya. Kebanyakan dari mahasiswa sebetulnya ingin sekali bisa mengobrol dengan dosennya.

Sebetulnya bisa saja sang dosen memberikan pengarahan kepada mahasiswa bimbingan berdasarkan pengalamannya. Toh dosen juga pernah menjadi mahasiswa, pernah mengalami kegagalan, kesuksesan, dan apalagi kebanyakan dari mereka juga pernah menempuh studi di luar negeri dengan lingkungan budaya, sosial, tingkat kedisiplinan dan teknologi yang sangat berbeda. Bahkan sebagian dari mereka juga punya pegalaman bekerja di industri sebelum mereka menjadi dosen. Kalau hal-hal ini bisa disampaikan, maka mereka akan mendapatkan tambahan pengalaman dari dosennya, tambahan wawasan sehingga saat mahasiswa mengambil keputusan bisa lebih baik. Dosen juga dapat memberikan keteladanan, dapat ikut membentuk karater mahasiswanya.

Justru hal-hal seperti inilah yang akan memberikan nilai tambah, akan memberikan nilai pembeda dengan perguruan tinggi asing yang sebentar lagi akan masuk ke Indonesia.

Saat ini kita tidak bisa mengelak lagi, karena negara kita sudah terikat dengan perjanjian multilateral, perdagangan bebas, termasuk pendirian perguruan tinggi asing, yang bagi mereka hanya sekedar bisnis. Perguruan tinggi kita harus melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan, termasuk membentuk generasi madani yang tangguh di era teknologi informasi, sekaligus era yang perubahannya tidak bisa diprediksi, era disruptif seperti saat ini.

Wallahu A’lam Bishawab

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Pemimpin Umum Majalah Fahma

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya