» » Lindungi Anak dari Bullying!

Lindungi Anak dari Bullying!

Penulis By on Saturday, July 28, 2018 | No comments


Irwan Nuryana Kurniawan

Zych, Farrington, Llorent, dan Ttofi (2017) mencatat studi tentang school bullying sudah berlangsung sekitar 40 tahun dan ada banyak informasi yang dihasilkan dari studi-studi tersebut tentang apa sebenarnya bullying, bagaimana dinamika terjadinya bullying, apa saja yang predictor bullying, dan bagaimana dampak-dampak bullying, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Bullying merupakan jenis kekerasan yang sangat merusak, melibatkan sejumlah siswa yang dengan sengaja menyerang dan menyakiti siswa-siswa yang tidak mampu membela dirinya, sering dilakukan, dan berlangsung dalam waktu yang lama.

Sejumlah siswa ada yang rentan menjadi korban bullying, beberapa siswa ada yang menjadi pelaku bullying, beberapa siswa menjadi pengamat kejadian bullying yang mungkin saja mendukung pelaku bullying, atau hanya mengamati peristiwa bullying tapi tidak melakukan apa pun.

Orpinas dan Horne (2006) mencatat dari berbagai penelitian bahwa korban-korban bullying melaporkan diri mereka mengalami depresi, memiliki harga diri yang rendah, dan mengalami permasalahan-permasalahan terkait stress seperti sakit kepala, sakit perut, kesulitan tidur, dan mengompol.

Siswa-siswa yang sedang menjadi target bullying cenderung menghindar untuk pergi ke sekolah karena mereka khawatir dengan keamanan mereka. Mereka juga melaporkan memiliki sedikit teman dan karenanya mereka merasa kesepian di sekolah.

Fakta bahwa mereka memiliki sedikit teman membuat mereka mudah menjadi target bullying dan anak-anak yang lain tidak mau berteman dengan mereka karena mereka takut menjadi target bullying selanjutnya.

Zych dkk (2017) juga mencatat dari sejumlah hasil penelitian tentang dampak buruk jangka panjang dari bullying. Anak-anak yang terlibat dalam bullying juga menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi menjadi terlibat dalam perilaku penyerangan dan antisosial di masa dewasa.

Hasil Studi Cambridge dalam Perkembangan Kenakalan, anak-anak yang terlibat dalam bullying di sekolah ditemukan dua kali lebih tinggi peluangnya menjadi tersangka pelaku penyerangan dengan kekerasan pada saat mereka berusia 15-20 tahun, bahkan setelah mengendalikan faktor permasalahan di masa anak-anak, perilaku antisosial di masa anak-anak, dan perilaku agresif yang dilaporkan oleh gurunya.

Hasil studi longitudinal di Selandia Baru juga menemukan anak-anak pelaku bullying memiliki peluang hampir tiga kali lebih tinggi untuk menjadi tersangka pelaku kekerasan saat masa dewasa dibandingkan mereka yang bukan pelaku bullying di masa anak-anak, bahkan setelah mengendalikan faktor gender, IQ, penyimpangan afiliasi teman sebaya, dan sejarah kriminal orangtua mereka.
Memperhatikan dampak buruk yang timbulkan bullying, jangka pendek maupun jangka panjang, bagi korban maupun pelaku, maka perlu dikenali faktor-faktor resiko (yang mempertinggi kemungkinan anak menjadi pelaku maupun korban bullying) maupun faktor-faktor protektif (yang melindungi dan memperkecil kemungkinan anak menjadi pelaku maupun korban bullying),  di level individu, lingkungan keluarga, teman, dan sekolah.

Berikut adalah ringkasan informasi yang dapat dijadikan acuan untuk upaya perlindungan anak, terutama dari sisi pencegahan:
Faktor Resiko
Faktor Protektif

Faktor Pribadi

Anak: laki-laki, memiliki nilai pelajaran rendah, efikasi diri tinggi untuk agresi, berharap sukses ketika melakukan bullying sekaligus berharap tidak konsekuensi negatif yang diterimanya, menganggap berharga akibat yang ditimbulkan dari bullying yang dilakukannya, memegang keyakinan-keyakinan yang mendukung kekerasan, menyalahkan pihak lain ketika bullying tidak berhasil, keterampilan pemecahan masalah yang rendah, menunjukkan perilaku-perilaku beresiko (minum alkohol atau obat-obatan, membawa senjata tajam, anggota geng), dan didiagnosis mengalami gangguang hiperaktivitas, atau gangguan belajar

Anak: perempuan, memiliki prestasi belajar memuaskan, memiliki komitmen untuk belajar, termotivasi di sekolah, membaca untuk kesenangan, terhubung dengan sekolah, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah, menunjukkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, persahabatan, perdamaian, penghargaan, kompeten secara sosial dan budaya (misalnya terampil dalam pemecahan masalah, orietansi tujuan yang jelas, ramah), memiliki identitas positif (misalnya harga diri tinggi, memiliki tujuan hidup yang jelas, pandangan hidup positif, menggunakan waktu secara konstruktif

Faktor Resiko
Faktor Protektif

Hubungan Dekat: Keluarga dan Teman

Orangtua atau pengasuh: memiliki hubungan negatif dengan anak, komunikasi yang buruk dengan anak, tidak mengawasi anak, tidak menetapkan batasan-batasan dan konsekuensi-konsekuensi untuk perilaku-perilaku negatif, menunjukkan perilaku kekerasan yang tinggi, termasuk kekerasan terhadap pasangan, terhadap anak, disiplin yang kasar.

Teman-teman: nakal, melakukan kekerasan, merokok, minumal beralkohol dan atau obat-obatan.

Orangtua atau pengasuh: menyayangi, peduli, komunikasi positif dengan anak, aktif melakukan pengawasan, memiliki aturan dan konsekuensi yang jelas, menjadi contoh peran dalam hal resolusi konflik,  perilaku tenang dan terkendali, terlibat dalam kehidupan anak di sekolah dan secara keseluruhan, berbagi kegiatan dengan anak.

Teman-teman: positif, peduli, menyukai kegiatan akademik

Faktor Resiko
Faktor Protektif

Lingkungan Sekolah

Sekolah: iklim sekolah negatif, tidak mendorong hubungan-hubungan positif antara guru-guru dan siswa-siswa, kurang pengawasan, tidak memiliki kebijakan tentang bullying, mengijinkan perilaku bullying oleh orang dewasa terhadap siswa, mengandalkan sistem disiplin dengan hukuman.

Sekolah: iklim sekolah positif, mendukung hubungan-hubungan positif antara guru-guru dan siswa-siswa, memiliki tingkat pengawasan yang ketat, memiliki kebijakan yang jelas menentang bullying, mengedepankan kualitas tinggi dalam pengajaran, memberikan kesempatan-kesempatan untuk anak-anak yag membutuhkan bantuan akademik, menyediakan kesempatan -kesempatan bagi anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang bermakna di sekolah, memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap semua siswa.

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya