» » Pangkal Baik Sangka

Pangkal Baik Sangka

Penulis By on Monday, September 24, 2018 | No comments


Oleh : Salim A. Fillah

Di rumah besar yang pernah menjadi tempat tinggal Sang Nabi ﷺ di awal hijrah, sekaligus menjadi tampungan yang memadai bagi puluhan Muhajirin miskin itu, sepasang suami-istri saling bertukar suara hati ketika gelisah kian mencekam jiwa seiring beredarnya kabar miring tentang Bunda ‘Aisyah yang tertinggal rombongan lalu disusulkan seorang sahabat bernama Shafwan.

“Hai Ummu Ayyub,” ujar sang suami, “Andai engkau adalah ‘Aisyah, mungkinkah engkau melakukan hal itu?”

“Aku berlindung kepada Allah dari yang sedemikian. Sesungguhnya aku memandang zina sebagai sesuatu yang hina dan keji. Ia adalah seburuk-buruk jalan, sesuatu yang takkan kulakukan meski datang kesempatan untuk itu. Aku bukanlah orang yang suci dari dosa, tetapi hal ini sungguh perkara yang tak terbayangkan.”

“Padahal ‘Aisyah itu jauh lebih baik daripada engkau. Maka demi Allah, dia pastilah suci dari semua tuduhan ini.”

“Bagaimana denganmu sendiri wahai Suamiku?”, tanya Ummu Ayyub. “Seandainya engkau adalah Shafwan ibn Al Mu’aththal, akankah peristiwa itu terjadi?”

“Subhaanallah”, sahut Abu Ayyub. “Sehina-hinanya aku, mengkhianati junjunganku, Rasulullah ﷺ apalagi menista keluarga beliau ﷺ adalah perkara yang tak terpikirkan.”

“Dan Shafwan itu lebih baik daripada dirimu, maka lebih tak mungkin lagi dia melakukkannya.”

“Subhaanallah. Sungguh berita ini adalah sebuah kedustaan yang nyata!”, simpul sang suami.

“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukmin lelaki dan perempuan tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri? Dan mengapa mereka tak berkata, ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.’” (QS An Nuur: 12)

Al Quran memang menyebut sangka baik, sebab sebelum seseorang berburuksangka pada sesama, sebenarnya dia telah membayangkan bahwa seandainya menjadi yang tertuduh, dia memang akan melakukan sesuatu yang jelek itu.

Maka jika kabar tentang keburukan orang berembus kencang, yang pertama perlu diperiksa adalah diri kita, bagaimana jika berada pada kedudukan para tersangka. Jadilah prasangka baik pada diri, pangkal bersangka baik pada sesama.

Salim A. Fillah, Penulis Buku
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya