» » “Saya Wisuda, Ayah Menangis”

“Saya Wisuda, Ayah Menangis”

Penulis By on Wednesday, October 3, 2018 | No comments



Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Meskipun tugas visitasi dalam rangka akreditasi tidaklah selalu menyenangkan, karena kadang perjalanannya melelahkan, namun selalu saja menjumpai hal-hal yang mengesankan. Termasuk visitasi yang terakhir setelah lebaran kemarin.

Seperti biasanya, kami dijemput di bandara oleh salah satu pengelola program yang akan diakreditasi. Kali ini yang menjemput ketua programnya sendiri, sebut saja namanya Pak Andi. Setelah mobil yang kami tumpangi meninggalkan bandara, dia menyampaikan titipan salam dari dua dosen universitas lain, yang saya kenal sekali. Saya tanyakan “ Lho...Pak Andi kok kenal beliau”. Jawabnya “Iya Pak, saat saya menempuh S2, beliau berdua itu pembimbing tesis saya Pak”.

Saya berkomentar sambil bergurau “Kalau begitu Pak Andi itu cucu bimbingan saya ya...”. Dia ketawa sambil menjawab “Iya Pak, karena beliau berdua dulu kan bimbingannya bapak”. Memang di akhir tahun sembilan puluhan yang satu bimbingan saya di program S1 dan satunya bimbingan saya di program S2 di UGM. Saya bersyukur ternyata selain cucu biologis, saya juga sudah punya cucu bimbingan.

Saya tanya ke dia, kapan wisuda S2 nya, ternyata baru beberapa bulan yang lalu. ”Wisuda yang sangat berkesan Pak, karena saat saya dipanggil untuk menerima ijasah dari rektor, ayah saya menangis”. Beliau tidak membayangkan sebelumnya, bahwa Allah Ta’Ala telah memberikan kesempatan kepada dia, yang hanya sebagai seorang pengemudi becak, menyaksikan anak sulungnya wisuda program magister. Meskipun sang ayah ini hanya mampu membiayai anaknya sampai SMP.

Saat Andi kecil lulus SMP orangtuanya sudah tidak sanggup membiayai lagi, sang ayah masih harus membiayai dua adiknya. Akhirnya Andi kecil minta izin kepada orangtuanya untuk meneruskan sekolah ke SMK dengan biaya sendiri. Si Andi hanya minta dibiayai pada semester satu saja, sebelum dia mendapatkan pekerjaan.

Saya bertanya dalam hati, bagaimana Andi kecil yang baru lulus SMP akan sekolah sambil bekerja, apakah dia mampu membagi waktu. Namun ternyata Andi kecil itu sudah mempunyai pengalaman bekerja semenjak dia kelas empat SD. Waktu itu, sebelum berangkat sekolah dia menjadi loper koran. Subhanallah, anak berumur 10 tahun sudah bisa membantu meringankan orangtuanya dalam membiayai sekolahnya.

Memasuki semester dua SMK, dia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai pencuci piring di sebuah restoran. Dia diterima dengan catatan, kalau sampai prestasi belajarnya turun, maka dia akan diberhentikan oleh majikannya. Sang majikan tidak ingin dianggap sebagai penghambat pendidikan anak sekolah. Namun justru ancaman ini dijadikan motivasi anak itu untuk belajar seefisien mungkin.

Nampaknya si anak memang cerdas dan pekerja keras, dia berhasil memanajemen waktu dengan sangat baik. Kalau di semester satu, sebelum bekerja, dia menduduki ranking tiga di kelasnya, namun di semester dua ketika dia sekolah sambil bekerja justru ranking satu, Subhanallah. Allah Ta’Ala selalu memberi jalan bagi umatnya yang berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan prestasi itu, akhirnya dia tetap bekerja, bahkan diperbolehkan menyajikan makanan bagi tamu yang memesan.

“Pantas dalam usia relatif muda sudah mendapat amanat untuk mengelola program studi” kata saya dalam hati. Dalam lingkungan kerjanya, pasti dia termasuk orang yang menonjol, karena di usia SD, SMP dan SMK dia sudah mempunyai pengalaman bagaimana cara membagi waktu, cara memprioritaskan pekerjaan, dan juga cara menghadapi orang lain, yang semua itu bisa menjadi sebuah kecerdasan tersendiri yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan karirnya.

Lulus SMK, dia bekerja di perusahaan asing sambil kuliah dan bahkan mampu menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu. Prestasi inilah yang membuat dia ditawari menjadi asisten dosen. Kesempatan studi lanjut dia ambil, amanah wakil dekan dia jalani dengan baik termasuk menjadi ketua program studi. Dia menjadi dosen favorit di departemennya. Saya tidak heran dengan prestasi ini, karena mudah diprediksi. Saya yakin dengan pengalamannya yang luar biasa itulah yang membuat dia mampu untuk membuat para mahasiswa “merasa dekat dengannya”... Wallahu A’lam Bishawab.

Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Pemimpin Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya