» » Agar Anak Terampil Merawat Barang Pribadinya

Agar Anak Terampil Merawat Barang Pribadinya

Penulis By on Monday, November 5, 2018 | No comments


Oleh: Adi Sulistama

Apakah anak anda sering mengalami kehilangan barang atau mainan? Hilang bukan karena mainan tersebut diambil orang. Melainkan karena dia lupa menaruhnya.

Itu tandanya anak kita belum belajar untuk merawat barang-barang pribadinya. Padahal, merawat barang-barangnya adalah sebuah bentuk tanggung jawab dan rasa syukur sudah diperbolehkan punya barang tertentu.

Sebagian dari kita mungkin melihat ini sebagai hal yang sepele. Mungkin kita sering berpikir bahwa anak tidak perlu diajari bagaimana cara merawat barang-barangnya karena ia nanti akan mengetahuinya sendiri.

Pendapat ini sepertinya benar. Akan tetapi tentu butuh waktu yang sangat lama. Padahal jika kita menginginkan anak kita mengetahui sesuatu, kita harus memang harus memberitahu dirinya. Namun, bila kita menginginkan anak kita melakukan sesuatu atau tergerak oleh sesuatu, tidak cukup dengan memberitahu dirinya.

Terlebih bila hal tersebut menyangkut nilai-nilai, cara berpikir, atau mentalitas. Penting bagi kita untuk menanamkan kepada anak sedari kecil melalui penyadaran, pembiasaan, dan pengasuhan. Meski semua orang akan tahu kejujuran itu baik, namun hanya orang yang dilatih untuk bersikap jujur yang dapat menjalankannya.

Demikian juga dengan kebiasaan merawat barang-barang. Ini bukan sekedar soal barang yang mudah dibuang dan mudah dibeli. Namun, ini menyangkut banyak hal, dari soal mental hingga moral.

Anak yang dilatih untuk menjaga barang-barangnya, akan belajar untuk menghargai usaha orangtua. Ia juga akan belajar menghargai pemberian orangtua. Dalam prosesnya, ia juga akan belajar untuk bertanggung jawab.

Sebaliknya jika kita mengabaikan hal ini dan lalai mengajarkan anak mengenai apa yang dilakukan terhadap barangnya, akan dilakukan juga terhadap barang orang lain, misalnya mengotori buku temannya atau tidak mengembalikan barang yang dipinjamnya.

Bahkan jika tidak segera dibenahi, dapat memungkinkan munculnya perilaku yang sangat kita takutkan. Sebut saja misalnya memakai barang milik orang lain tanpa izin, merusak atau mencuri.

Lalu bagaimana agar anak dapat dilatih menjaga barang pribadinya?

Pertama, sebelum dibelikan barang, ingatkan anak agar menjaganya baik-baik. Tidak boleh hilang dan tidak boleh dirusak. Ingatkan kalau kita mau membelikan anak sesuatu karena kita percaya padanya. Dengan begitu, sebelum minta dibelikan barang baru anakpun terbiasa berpikir ulang, apakah nanti ia akan mampu merawatnya.

Kedua, berikan konsekuensi kalau anak lalai. Misalnya anak menghilangkan atau merusakkan tempat makannya tanpa sengaja, sebaiknya berikan konsekuensi atau hukuman yang sepadan. Tak perlu membentak-bentak anak. Cukup tegaskan bahwa kita tidak mau lagi membelikannya mainan dalam jangka waktu tertentu.
Anak bisa membawa bekal ke sekolah dengan tempat makan seadanya. Kemudian perhatikan sikapnya. Bila anak sudah mulai menunjukkan perubahan, barulah kita bisa mencabut kembali hukuman tersebut.

Ketiga, sediakan tempat khusus untuk barang milik anak. Supaya anak lebih semangat merawat barang-barang miliknya, sediakan tempat khusus untuk menyimpan hal-hal tertentu. Misalnya, laci khusus alat tulis anak, kotak mainan untuk menyimpan mobil-mobilan, atau rak untuk memajang buku-buku koleksi anak. Dengan begitu, anak akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk merawat barang-barangnya. Nantinya anak juga akan merasa bangga dengan barang-barang yang berhasil ia jaga dengan baik.

Keempat, ajarkan anak menghargai barang. Bila selama ini kita selalu memberikan barang-barang yang diinginkan si kecil tanpa usaha, tak heran kalau anak jadi teledor. Ia tak mengerti kalau untuk mendapatkan barang tersebut tak mudah. Maka, kalau anak minta dibelikan mainan, misalnya, jangan langsung kabulkan. Ajak anak untuk menabung terlebih dahulu. Misal dalam jangka waktu sepekan atau sebulan, anak diajak menyisihkan sebagian uang jajannya. Hal ini akan membuat anak berpikir bahwa untuk memperoleh sesuatu harus dengan usaha. Anak pun akan lebih merasa bertanggungjawab atas hasil usahanya.||

Penulis: Adi Sulistama,Pemerhati dunia anak
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya