» » » Pentingnya Bisa Membaca di Kelas 1

Pentingnya Bisa Membaca di Kelas 1

Penulis By on Sunday, December 9, 2018 | No comments



oleh: Muhammad Mohtadin, S.Pd.I

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak.

Tujuan membaca permulaan di kelas 1 adalah agar siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995:4). Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas 1. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa.

Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan organisator dalam proses pembelajaran. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa, mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli. Sedangkan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tanpa tatap muka.dengan orang lain, Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan dimiliki seseorang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik secara terus-menerus. Dengan menulis secara terus-menerus dan latihan yang sungguh-sungguh, keterampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja.

Keterampilan itu juga bukanlah suatu keterampilan yang sederhana, melainkan menuntut sejumlah kemampuan. Betapapun sederhananya tulisan yang dibuat, penulis tetap dituntut memenuhi persyaratan seperti yang dituntut apabila menulis tulisan yang rumit.

Berdasarkan penelitian selama mengajar saat ini, alokasi waktu pembelajaran membaca dan menulis di sekolah-sekolah yang salah satunya di SD, relatif lebih kecil . Hal ini berdampak pada keterampilan mereka belum maksimal sehingga setelah para siswa menamatkan jenjang sekolah, dikhawatirkan belum mampu menggunakan keterampilan berbahasa secara baik dan benar. Oleh karenanya, kami akan membahas lebih lanjut tentang proses membaca dan menulis permulaan pada anak SD dikelas rendah.

Setidaknya, ada enam tahapan yang memudahkan anak untuk bisa dan senang membaca. Pertama, senam otak. Anak didik  diajak  untuk bernyanyi sambil menyebutkan huruf-huruf yang dibaca misalnya huruf a dan ba (dibaca dengan lagu balonku ada lima tanpa dieja). Kedua, remidi. Anak diajak untuk membaca kembali huruf-huruf yang telah dikuasai. Misalnya huruf yang sudah dikuasai a, ba, ca, dan da. Saat mau membaca ke huruf fa huruf sebelumnya harus dibaca dan betul-betul tahu ciri dan bentuk hurufnya. Ketiga, baca modul. Kita sebagai pengajar harus punya buku pegangan guru (modul) sehingga apa yang sudah kita ajarkan dapat dipertanggung jawabkan. Misalnya buku level 1 (Vokal a ), level 2 (Vokel i), level 3 (Vokal u) dst.

Keempat, pengayaan. Yaitu mengajarkan kepada siswa dari huru-huruf yang sudah di kuasai kemudian dirangkai menjadi kalimat-kalimat sederhana yang anak-anka mudah mengerti. Misalnya  : level 1 vokal a (a-ba-ta, ma-ma, pa-pa ) tanpa dieja. Level 2 vokal i  (bi-bi, mi-si, vi-vi )tanpa dieja dan seterusnya. Kelima, menulis. Dengan pembiasaan menulis, anak-anak akan terlatih otak kanan dan otak kirinya, sehingga mampu menyelesaikan tahapan menulis dengan baik dan benar. Keenam, permainan. Tanpa kita sadari bahwa dunianya  anak-anak kelas 1 adalah dunia permainan. sehingga ketika kita mengajarkan membaca kepada anak jangan sampai lupa kita berikan alat permainan berupa kartu game (kartu permainan huruf).

Penulis: Muhammad Mohtadin, S.Pd.I., Mahasiswa PPs MSI FIAI UII, Pendidik di SDIT Salsabila Klaseman, Sleman
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya