» » Generasi Home Service

Generasi Home Service

Penulis By on Thursday, February 21, 2019 | No comments



Oleh: Ahmad Budiman

Generasi home service adalah generasi yang memiliki kebiasaan kurang baik, yaitu untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya, mereka akan selalu minta dilayani. Hal ini terjadi pada anak-anak yang selama masa kecilnya sudah terbiasa untuk selalu dilayani oleh orangtuanya atau oleh orang yang diberikan amanah untuk menjaganya, seperti Asisten Rumah Tangga (ART) atau baby sitter yang 24 jam  selalu berada di samping sang anak untuk memenuhi kebutuhannya .

Apakah meminta bantuan pengasuh atau ART adalah tinakan yang salah? Tentu saja tidak. Meminta bantuaan kepada ART atau baby sitter bukanlah suatu hal yang keliru, melainkan akan menjadi keliru apabila orangtua terlalu mengandalkan mereka dalam menjaga anak tanpa mengontrolnya sendiri.

Orangtua harus peduli terhadap kondisi tumbuh kembang anak. Orangtua tidak boleh terlalu membiasakan mereka mendapatkan yang diinginkan dengan mudah. Didiklah mereka untuk terbiasa berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu sebab itu akan  membuat mereka kelak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Dengan demikian, mereka tidak akan menjadi anak yang melulu minta untuk dilayani dengan manja.

Mengutip dari perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan.”

Permasalahannya, tak semua orangtua terbiasa memberikan hadiah terindah itu kepada anaknya. Dapat dilihat bahwa saat ini begitu banyak orangtua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan justru memberikan tantangan kepada anaknya sebagai cara untuk mendidik mereka.

Misalnya ketika anak memakai kaus kaki dan sepatu. Seringkali orangtua tidak sabar melihat si anak mencoba memakai sepatunya sendiri dengan perlahan. Orangtua segera mengambil peran untuk memakaikan itu kepada sang anak, padahal dengan memakai kaus kaki dan sepatu sendiri, anak akan terlatih dan terbiasa melakukan hal tersebut serta menjadikannya mandiri. Sebaliknya, semakin anak dimanjakan dengan dipakaikan kaus kaki dan sepatu oleh orangtua, kelak mereka akan meminta untuk dilayani seperti itu sebab mereka tidak terbiasa melakukannya seorang diri.

Contoh lain yang seringkali terjadi ialah ketika anak bertengkar dengan temannya karena persoalan  mainan. Bermain, lalu bertengkar karena berebut mainan merupakan hal biasa bagi anak. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Namun, jika memang sang anak belum mengerti, cukup jelaskan kepada anak bahwa bertengkar bukanlah  hal yang baik. Bukan justru sebaliknya, seringkali kita melihat banyak orang tua malah memarahi teman anaknya itu dan dengan sengaja membela sang anak. Ada pula yang langsung membawanya pulang dan mengatakan bahwa nanti orang tuanya akan membelikan mainan seperti itu lagi kepada anaknya. Ini merupakan  metode yang salah.

Banyak orang tua yang belum peka dengan dampak dari kejadian seperti ini. Padahal, sang ummi dapat mendidik sang anak dengan memberikannya sebuah tantangan, yaitu jika sang anak rajin belajar dan mendapatkan peringkat kelas, sang ummi akan memberikan mainan bagus untuknya.

Dilihat dari sisi parenting Islami, hal ini akan mendidik sang anak bahwa ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus berusaha terlebih dahulu.

Setiap anak yang berada dalam  masa tumbuh  kembang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi akan banyak hal sehingga seringkali membuat mereka ingin mencoba melakukannya secara leluasa. Namun, orang tua tak jarang selalu memiliki ketakutan jika hal-hal buruk akan terjadi pada anaknya jika melakukan ini dan itu. Oleh sebab itu, orang tua memberi larangan atau batasan terhadap suatu hal yang bisa membahayakan anak. Padahal, larangan hanya akan membuat sang anak takut pada banyak hal dan membuat mereka menjadi sangat bergantung pada orangtuanya.

Sesekali biarkanlah sang anak untuk melakukan yang mereka inginkan selama hal tersebut tidak berbahaya. Biarkan mereka mengetahui dampak atas yang mereka lakukan, seperti jika mereka bermain lari-larian di tempat licin, mereka akan terjatuh sehingga mereka kelak tidak akan melakukan yang sama lagi.

Dalam hal ini, orang tua harus berkomunikasi dengan sangat baik kepada anaknya. Ketika anak ingin melakukan berbagai hal, cukup ingatkan mereka tentang risiko yang mungkin terjadi dan mintalah anak untuk berhati-hati. Tak perlu sampai melarang sang anak untuk melakukan hal ini dan itu selama hal itu tidak berbahaya.||

Penulis: Ahmad Budiman, Pemerhati pendidikan
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya