» » » Beramal, Jalan Meraih Rahmat Allah

Beramal, Jalan Meraih Rahmat Allah

Penulis By on Saturday, March 2, 2019 | No comments


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Psi.

Anda merasa mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh Allah Ta'ala untuk amal-amal shaleh yang telah Anda kerjakan padahal hak Allah Ta'ala kepada Anda terlampau besar sehingga niscaya Anda tidak akan pernah mempunyai kesanggupan untuk memenuhinya, padahal nikmat-nikmat-Nya terlampau banyak sehingga niscaya Anda tidak akan pernah mampu menghitungnya?

Jabir radhiyallahu'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dari Jibril 'alaihissalam, katanya, 'Seorang abid (ahli ibadah) melakukan ibadah di atas puncak sebuah gunung di tengah lautan selama 500 ratus tahun, lalu ia memohon kepada Rabb-nya agar nyawanya dicabut dalam keadaan sujud.' Jibril 'alaihissalam juga menuturkan, 'Jadi kami selalu mengunjunginya setiap kali kami turun dan naik.' Dan kami mendapatkan dalam ilmu (yakni pengetahuan yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepada kami) bahwa hamba tersebut nantinya akan dibangkitkan di Hari Kiamat dan dihadapkan ke hadapan Allah Azza wa Jalla. Maka berfirmanlah Allah Azza wa Jalla, 'Masukanlah hamba-Ku ini ke surga dengan rahmat-Ku.' Namun si hamba meminta, 'dengan amalanku, wahai Rabb-ku.' Hal itu dilakukannya sampai tiga kali. Maka Allah Ta'ala memerintahkan para malaikat-Nya, 'Bandingkanlah (ukurlah) antara nikmat-Ku kepada hamba-Ku ini dengan amalannya. Para malaikat pun akhirnya mendapatkan bahwa nikmat penglihatan saja telah sebanding dengan ibadahnya yang lima ratus tahun. Karena itu, abid (ahli ibadah) tersebut memelas penuh harap, 'Dengan rahmat-Mu, masukanlah aku ke surga!. Dengan rahmat-Mu, masukanlah aku ke surga!' Lalu Allah Ta'ala pun memasukannya ke surga.' Jibril 'alaihissalam lalu menambahkan, 'Segala sesuatu hanya berkat rahmat Allah, wahai Muhammad.'

Jadi, bagaimana pun amalan dan kesungguhan kita, keselamatan dari neraka dan keuntungan memperoleh surga bukanlah sebagai ganti rugi daripada semua itu. Untuk itulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat beliau, "Setiap kamu tidak akan diselamatkan oleh amalnya." Para sahabat bertanya, "Sekalipun engkau, ya Resulullah?" Resulullah pun menjawab, "Sekalipun aku, kecuali bila Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepadaku." (HR Bukhari dan Muslim)

Setiap individu dituntut untuk mensyukuri berbagai nikmat yang telah dilimpahkan Allah Ta'ala kepadanya, sekalipun seluruh amalnya pasti tidak akan cutup untuk memenuhi hak syukur satu nikmat pun--Masih teramat banyak nikmat yang belum dibalasnya dengan syukur dan oleh karena banyak sekali nikmat yang tidak disyukurinya, maka tentulah pantas ia mendapatkan adzab dari Allah Ta'ala. Jadi, sekalipun Allah Ta'ala menyiksa seluruh penghuni langit dan bumi-Nya, maka sesungguhnya siksa-Nya itu bukan merupakan kezhaliman terhadap mereka.

Ibnu Umar radhiyallahu'anhu meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Seorang laki-laki datang pada Hari Kiamat dengan membawa amalan yang sekiranya diletakkan di atas sebuah gunung, sungguh gunung itu akan morasa berat. Lantas diajukanlah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah Ta'ala yang telah diberikan kepadanya, maka nyaris satu nikmat tersebut menghabiskan semua amalnya, sekiranya Allah Ta'ala tidak melimpahkan rahmat-Nya." (HR Thabrani).

Jadi,beramal dan kesungguhan dalam berbuat kebaikan sesungguhnya merupakan jalan untuk meraih rahmat dan amputan Allah Ta'ala. "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-'Araaf:56). Jika rahmat dan ampunan-Nya telah diperoleh, maka dengan seizin-Nya, hal itu akan disusul dengan masuk surga, sebagai anugerah dan kemurahan-Nya. "

Barangsiapa menganggap besar amal-amalnya serta melihat dirinya punya hak yang harus diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, maka Allah Ta'ala juga akan menuntut hak-Nya kepada orang tersebut. Orang yang datang menghadap Allah Ta'ala dengan membawa laporan amalan-amalan yang telah diperbuat serta mengharap gantinya, maka orang itu telah mengajukan dirinya uituk dihisab lewat cara keadilan, karena ia mempersoalkan hisab Allah, bakhan adzab-Nya. Na'uudzubillahi.

Adapun orang yang menghadap Allah Ta'ala dengan keyakinan bahwa ia sama sekli tidak punya amalan apa-apa yang bisa diandalkan, bahkan sangat menyadari bahwa banyak hak Allah Ta'ala yang telah diabaikan, merasa tidak memiliki hak sama sekali yang harus diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya dan tidak dapat pula ia meminta surga sebagai keuntungan dari amalannya, maka orang tersebut telah mengajukan dirinya untuk mendapatkan kemurahan dan rahmat Allah Ta'ala kepadanya, tanpa mempersoalkan atau mendebat hisab-Nya. 

(Majdi Al-Hilali, 2006, Adakah Berhala pada Diri Kita?)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya