» » Terpadunya Keyakinan dan Perbuatan

Terpadunya Keyakinan dan Perbuatan

Penulis By on Monday, May 13, 2019 | No comments




Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Pada suatu hari Ahad, saya mengantar istri ke pasar yang paling dekat dengan rumah, meskipun jaraknya masih lebih dari 3 km.

Setelah selesai belanja sayur mayur dan bahan lauk pauk, kami membeli buah duku karena saat itu sedang musimnya, sehingga harganya murah.

Pada saat kami membeli duku, ada seorang perempuan di samping istri saya, yang membeli duku dan telur ayam. Saat proses penimbangan telur, saya melihat dia melakukan tindakan yang tidak terpuji, dia makan beberapa duku yang masih ada di meja penjual, bukan yang ada di dalam tas plastik yang sudah dia beli. Melihat hal ini saya merasa tidak nyaman.

Ketika saya mau memberitahu istri, niat itu saya urungkan karena tiba-tiba datang pembeli lain di dekat kami. Setelah semua yang direncanakan sudah terbeli kami pulang.

Dalam perjalanan pulang kami ngobrol, ternyata tadi istri juga memperhatikan apa yang dilakukan perempuan tersebut. Bahkan komentar istri lebih tajam “Jadi orang kok seenaknya sendiri”. “Sebagai muslimah seharusnya memperlihatkan perilaku terpuji”.

Memang perempuan tadi badan serta rambutnya tertutup rapat dengan jilbab yang lebar dan panjang, sehingga orang yang melihatnya pasti akan menilai dia seseorang yang taat beragama. Tetapi kenyataanya dengan mudahnya dia melakukan hal yang tercela, dengan seenaknya dia makan duku yang bukan miliknya secara sembunyi-sembunyi.

Sangat menyedihkan memang, satu sisi dia memperlihatkan penampilan seorang muslimah yang taat. Namun di sisi lain dia melakukan tindakan yang jauh dari ajaran yang diyakininya. Saat ini tampaknya memang tidak mudah menemukan anggota masyarakat di lingkungan kita yang secara sadar selalu ingin mempertahankan terpadunya keyakinan, perbuatan dan ucapan. Kami berdua juga heran, seberapa mahalnyakah harga duku yang dia makan, sampai dia menodai keyakinannya.

Saya bilang pada istri, dia melakukan itu karena belum tahu kisah tentang Ibrahim bin Adham rahimahullah yang tertolak doanya hanya gara-gara makan satu biji kurma yang dikira kepunyaannya yang terjatuh.

Waktu itu, usai menunaikan ibadah haji, beliau berniat ziarah ke Masjid Al Aqsa. Sebagai bekal di perjalanan, ia membeli satu kilogram kurma dari pedagang tua di dekat masjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Beliau menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, lalu dipungut dan dimakan kemudian berangkat ke Al Aqsa.

Beberapa waktu kemudian atau mungkin beberapa bulan kemudian, karena waktu itu hanya berkendaraan unta, beliau tiba di Al Aqsa. Seperti yang biasa beliau lakukan, beliau selalu memilih tempat dalam rangka beribadah dalam sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra.

Ketika beliau sudah selesai menjalankan shalat, lalu beliau berdoa. Kebiasaan beliau adalah melakukan doa dengan sangat khusuk. Saat itu beliau seolah-olah mendengar percakapan dua malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan Allah Taala,” kata malaikat yang satu.“Tetapi sekarang tidak lagi” jawab malaikat yang satu lagi. “Doanya ditolak karena empat bulan yang lalu ia telah memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram,”

Belajar dari cerita tersebut, Ibrahim bin Adham yang telah berani mengambil karena merasa kepunyaannya yang jatuh, Allah Taala telah memberikan sanksi dengan tidak mengabulkan doanya, apalagi yang dilakukan dengan sengaja, seperti yang dilakukan perempuan itu. Selain itu, sanksi berat yang Allah Taala berikan ini pun hanya untuk sebutir kurma, apalagi koruptor yang telah mengambil harta bukan miliknya dengan sadar, yang nilainya lebih besar dan bermilyar-milyar atau bahkan trilyun kali dari nilai sebiji kurma. Kita tidak bisa membayangkan sanksi seperti apa yang akan Allah berikan.

Ketika kami hampir sampai di rumah, istri bergumam sendiri, “Apakah perempuan tadi termasuk seseorang yang menjalankan Islam secara tidak kaffah ya.., karena tidak terpadunya antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan.” Saya hanya senyum, sambil bergumam juga, biar yang berkompeten yang menjelaskannya.

Wallahu alam bishawab.||

Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A, Guru Besar  Teknik Mesin UGM, Pemimpin Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya