» » Ketika Anak Dekat dengan Al Qur’an

Ketika Anak Dekat dengan Al Qur’an

Penulis By on Saturday, September 21, 2019 | No comments



Oleh : Galih Setiawan, S.Kom.I.

Anak adalah dambaan dan kebanggaan setiap Ayah-Bunda. anak bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, guru, partner, bahkan pelindung orang tua terutama ketika orang tua sudah berusia lanjut. Tidak ada orangtua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan mata.

Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.

Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.

Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.

Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.

Sebagai penutup, perkenankan saya menyajikan pesan yang dituturkan Syaikh Ibrahim Daud, salah seorang syaikh dari Palestina. Ketika beliau hadir dalam safari dakwah yang diselenggarakan Sahabat Al Aqsho di Batam, beliau ditanya tentang mengapa anak-anak di Palestina begitu mudah menghafal Al Qur’an. Padahal di sana, mereka hidup dalam cekaman teror tentara zionis Israel.

Syaikh Ibrahim pun menerangkan mengapa anak-anak di Palestina begitu mudah menghafal Al Qur’an. Pertama, mereka sangat mencintai Al-Qur’an. Bahkan melebihi cintanya terhadap air, sebagai sumber kehidupan. Kedua, mereka meyakini bahwa Yahudi tidak mungkin dikalahkan kecuali dengan kembali kepada Al-Qur’an, yang dengannya umat ini akan menang. Ketiga, mereka diajari oleh orangtua yang juga penghafal al-Qur’an. Dan terakhir, mereka sangat yakin akan syahid, sehingga hidup mereka habiskan untuk al-Qur’an.

Sepatutnya kita merasa malu. Anak-anak kita yang hidup tenteram tanpa teror, semestinya mampu membuat anak-anak kita lebih dekat dengan Al Qur’an, bukan malah dekat dengan gadget. Jika anak-anak di Palestina saja mampu sedemikian dekat dengan Al Qur’an, di tengah kondisi yang penuh dengan keterbatasan, maka semestinya anak-anak kita bisa jauh lebih dekat lagi. Semoga kita dan anak-anak serta keturunan kita mampu menjadi generasi pecinta Al Qur’an. Aamiin.

Galih Setiawan, S.Kom.I., Redaktur Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya