» » Agar Tak Menjadi Suami Nyebelin

Agar Tak Menjadi Suami Nyebelin

Penulis By on Monday, October 21, 2019 | No comments

Oleh : Fitra Wilis Masril

Mungkin, kita pernah melihat, seorang ibu di Minggu pagi tergopoh mengerjakan semuanya sendiri. Mencuci piring, menyikat kamar mandi, mencuci, mengangkat jemuran, mengepel, menjemur baju, memasak, ke pasar,...

Saat si ibu terlihat kepayahan mengangkat seember penuh cucian yang hendak dijemur, si putra remaja yang ada di dekatnya, diam saja membiarkan. Bahkan saat tetesan air ember yang menitik membecekkan lantai, si anak bujang tetap santai. 

Ibu bergegas mengambil kain pel. Membungkuk dan tertunduk-tunduk mengeringkan lantai, si anak lanang (yang udah SMP/SMA/bahkan kuliah) malah mengangkat kaki ke kursi tanpa mengalihkan mata dari HPnya😔

Salahkah si anak yang tak peduli? Iya, salah...

Tapi anak bukanlah produk instan. Tentu ada penyebab kenapa dia tak tergerak menolong ibunya.

Selama ini, sudahkah kita sebagai orangtua telah mendidik putra kita bertahap untuk bisa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga?

Sering ibu-ibu bilang begini dengan nada santai :

"Lhaa....anakku wong lanang semua, mana ada yang bantu ibunya,"

"Yah namanya juga anak laki-laki. RAJA. Mana mau ngerjain kerjaan perempuan,"

"Enak yaa kamu punya anak perempuan, ada yang bantuin, "

Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Aku menulis ini, berkaitan dengan keseharianku membaca curhatan prahara rumah tangga. Bahwa, pemantik perceraian tak melulu kesalahan besar seperti menyusupnya orang ke tiga. Banyak biduk yang oleng, karena istri merasa lelah sendiri. Apalagi kalo suami juga tak mapan secara financial sehingga istri harus terlibat membanting tulang. "Sama-sama bekerja, tapi kerjaan rumah aku berjibaku sendiri, dia enak-enakan main HP", begitu aduan yang kerap kuterima

Suami tipe begini, sering tak menghargai pekerjaan istrinya di rumah, karena dia tak pernah diajarkan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu. Jadi dia nggak tau, kalo pekerjaan rumah itu juga bisa menghasilkan lelah.

Putra kita, takkan selamanya bersama kita.

Dia milik masa depannya. Ada takdir yang akan menerbangkan sayapnya ke sebuah belahan bumi Allah, yang mungkin saja berjarak puluhan ribu kilo dari kita.

Di sana, mungkin langka sumber daya manusia. Jadi tak ada pembantu. Bisa juga tak ada laundry kiloan, tak ada warteg, nggak ada go food, dan nggak ada dana juga buat manggil go clean.

Kalo tak dibentuk dari awal, mereka akan kelelahan beradaptasi, canggung dan bingung,  bahkan tak sedikit yang frustrasi.

Dan kelak, putra kesayangan kita, yang sekarang kita perlakukan bak raja, dia akan menikahi seorang putri kesayangan sebuah keluarga yang lain. 

Lalu mereka hidup bersama dengan masa depannya. Laku, Apakah dia  selamanya dan seenaknya mengandalkan istrinya?

Kebayangkah jika tak ada bantuan siapa-siapa, lalu saat istrinya sakit, hamil, melahirkan, lelah, lalu siapa yang akan menuntaskan segala kerjaan rumah? 

Istri dari putra kita, adalah gadis kesayangan keluarganya. Kebayang gak sih? duka mendalam di hati keluarga saat melihat betapa lelah putri tercinta mereka mengerjakan semuanya sendiri di saat badannya masih lemah, sementara sang suami, yang notabene adalah putra kita hanya bisa bengong dan ongkang-ongkang kaki?

Aku tak punya anak perempuan. Tapi, andai punya, dan putriku diperlakukan begitu, terlepas soal dharma dan bhakti, aku nggak rela tenaga putriku diperas paksa.

Aku mau putriku bahagia, bergandengan tangan dengan pilihan hatinya berbagi tugas secara adil, tak membuat lelah salah satunya.

Memang, mendidik dan mengajarkan anak laki-laki 'sepertinya' lebih membutuhkan kesabaran ekstra. Kita sering menyerah melihat hasil kerja mereka, udahlah lama, gak bersih, gak rapi, masih kotor, dll. Akhirnya, semua kerjaan rumah kita ambil alih. Harusnya kita lebih bersabar. Karena tak ada hasil bagus yang dibentuk instan dalam semalam.

Padahal, kerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika, memasak, itu bukan hanya milik perempuan. Semuanya itu adalah KETERAMPILAN DASAR HIDUP. 

Pekerjaan-pekerjaan itu tidak memiliki jenis kelamin. itu adalah skill dasar yang harus dikuasai oleh siapa saja. 

Keletihan mengajarkan mereka saat ini, insyaa Allah akan terbayar di masanya nanti.

Meskipun bagimu putramu adalah raja, maka jadikan dia raja bijaksana. Meskipun bagimu dia adalah raja, jangan sampai dia jadi raja yang nyebelin bagi istrinya.

Sekali lagi, bertahap, kita harus mengajarkan dan mendidik agar anak-anak kita, PUTRI MAUPUN PUTRA untuk menguasai pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Karena itu adalah KETERAMPILAN DASAR HIDUP 💖

*menulis caraku menasehati diri sendiri. Memang tak mudah mendidik dan mengajarkan semua ini ke anak laki-laki. Tapi, tetap....ajarkan!

Oleh : Fitra Wilis Masril, pegiat media sosial
Foto : Google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya