» » Calon Mahasiswa UGM

Calon Mahasiswa UGM

Penulis By on Monday, October 7, 2019 | No comments

Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Mungkin baru kali ini setelah 30 tahun menjadi dosen, saya berbicara di depan 80 anak sekolah dasar bersama para gurunya. Kesempatan ini saya alami ketika menerima kunjungan rombongan SDIT Islamic-Centre Purwodadi di area kampus Universitas Gadjah Mada. Biasanya yang saya hadapi adalah para mahasiswa yang sudah hampir terbentuk karakternya, karena mereka sudah dididik selama 12 tahun di sekolah dasar, menengah pertama dan atas. Ada yang berwajah ramah, murah senyum, acuh, tidak peduli, dan ada yang berwajah sombong serta egois. Namun ketika berhadapan dengan anak-anak ini, terlihat wajah-wajah ramah, senyum, penuh optimisme, sehingga saya pun merasa bahagia.



Perasaan ini berkembang menjadi sebuah harapan, insya Allah dalam sepuluh tahun lagi sebagian dari mereka adalah para wisudawan yang menerima ijazah dari rektor kami di dalam gedung yang letaknya tepat di belakang tempat saya menyambut mereka. Harapan ini tidaklah berlebihan karena dengan begitu kami akan mempunyai alumni yang tidak hanya berkualitas secara akademik tetapi juga akhlak, moral dan etika yang insya Allah lebih terjamin. Bukan alumni yang mempunyai indeks prestasi tinggi tetapi kering dari akhlak terpuji.

Saya sangat bersyukur, pada zaman sekarang yang penuh dengan pengaruh negatif terhadap perkembangan anak, telah bermunculan berbagai lembaga pendidikan terpadu berbasiskan Islam yang mana orangtua dapat menaruh kepercayaan kepadanya. Kekhawatiran para orangtua sedikit terobati, karena sebetulnya tanggungjawab untuk memberi warna karakter pada anak sepenuhnya ada pada mereka, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitroh (Islam) dan kedua orangtuanyalah yang menjadikan Nasrani, Majusi atau Yahudi” (HR.Bukhori).Keterlibatan dan tanggungjawab orangtua, minimal pada siang hari, telah terwakili oleh para pengasuh, para guru yang insya Allah berdedikasi tinggi yang telah meniatkan diri beribadah lewat pendidikan.

Orangtua mungkin tidak bisa berharap banyak terhadap perguruan tinggi karena proses yang terjadi di dalam ruang kuliah sering hanya sebatas transfer of knowledge, hanya mempersiapkan mahasiswa untuk bisa bekerja, namun tidak mempersiapkan untuk hidup. Keterampilan hidup harus dicari di luar ruang kuliah, bagaimana mereka berinteraksi, baik dengan teman kuliah maupun dengan teman organisasi, juga dengan lingkungan tempat tinggalnya.Kemampuan mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan hidup ini sangat dipengaruhi oleh proses-proses pendidikan yang mereka lalui sebelumnya.

Tidaklah keliru kalau sebenarnya yang paling berhak mendapatkan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa adalah para guru dan pengasuh di pendidikan pra-sekolah, sekolah dasar, dan menengah, yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Karena merekalah yang meletakkan dasar atau pondasi kesuksesan pada tahap berikutnya. Apalagi saat ini, anak-anak hidup di era teknologi informasi dan komunikasi, hidup di zaman tanpa batas dan jarak sehingga hal-hal negatif yang berasal dari luar, dari negara yang berkebudayaan sangat berbeda, dengan mudah dan cepat mempengaruhi perilaku anak-anak kita.

Berbeda dengan era masa kanak-kanak saya dulu, gangguan atau pengaruh negatif yang dominan hanya berasal dari pergaulan di lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Ketika orangtua mampu menjaga pergaulan anak-anaknya dan menyekolahkannya sampai di perguruan tinggi, maka mereka akan berhasil dalam kehidupannya. Lagi pula saat itu persaingan tidak seketat sekarang. Keteladanan dengan mudah ditemukan di masyarakat, masih banyak tokoh masyarakat yang disegani, bahkan profesi guru merupakan profesi yang sangat terhormat.     
     
Mudah-mudahan apa yang saya harapankan dan rasakan ini, juga dialami oleh dosen yang lain, sehingga kelak kami bisa mengajar di depan kelas dengan nyaman. Para mahasiswa mengikuti kuliah dengan tenang dan penuh konsentrasi karena mereka sudah terbiasa sejak kecil, melakukan sholat khusyuk minimal lima kali sehari dan setelah sholat tahujud serta mengaji mereka belajar mata kuliah yang akan ditempuh pada siang harinya. Insya Allah.||

Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. || Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UGM, Pimpinan Umum Majalah Fahma. 

Foto : Google 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya