@majalahfahma (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB
» » Allah Tahu Yang Ada Dalam Hatimu!

Allah Tahu Yang Ada Dalam Hatimu!

Penulis By on Wednesday, November 13, 2019 | No comments



Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. 

Nak, muraqabah itu merasa diawasi Allah, kamu tahu sekaligus yakin terus menerus bahwa bahwa Allah Ta’ala melihat apa-apa yang nampak dan apa-apa yang tidak nampak pada dirimu, bahwa Allah Ta’ala itu mengawasimu, melihatmu, mendengar ucapanmu, mengetahui apas semua amalan yang kamu dilakukan di setiap waktu, di setiap kesempatan di setiap individu, dan di setiap kedipan matamu. Dalam hadits shahih tentang ihsan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda, “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, bila engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu” (HRBukhari dan Muslim).

Nak, mengutamakan apa-apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla, mengagungkan apa-apa yang diagungkan oleh-Nya, memandang kecil apa-apa yang dipandang kecil oleh-Nya, itulah sebagian tanda-tanda sikap muraqabah telah ada pada diri seorang hamba—sikap demikian dapat memotivasimu untuk melakukan ketaatan, rasa takut dapat menjauhkanmu dari kemaksiatan, dan muraqabah dapat membimbingmu menuju jalan kebenaran. Belajar konsisten untuk terus merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam perjalanan menuju kepada-Nya. Pengagunganmu kepada Allah Ta’ala dapat memalingkanmu dari pengagungan kepada selain-Nya, dari memandang sesuatu selain-Nya, dan untuk tidak mengisi hatimu dengan selain-Nya. Merasakan kehadiran-Nya akan melahirkan rasa dekat dan cinta kepada-Nya. Senangnya hatimu kepada Allah Ta’ala, kebahagiaan dan merasa tentram dengan-Nya, akan mendorongmu untuk senaniasa berjalan menuju Allah Azza wa Jalla, mengerahkan usahamu untuk mendapatkannya, dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Nak, termasuk bentuk muraqabah yang baik adalah jika engkau mengerjakan sesuatu dengan anggota tubuhmu, maka ingatlah bahwa Allah Ta’ala itu melihatmu. Jika engkau mengatakan sesuatu dengan lisan, maka ingatlah bahwa Allah itu mendengarkan hal itu. Jika engkau diam atau menyembunyikan sesuatu, maka ingatlah pengetahuan dan padangan Allah Ta’ala kepadamu. Segala sesuatu tidak bisa tersembunyi dari-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Quran, dan tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Yunus: 61).”

Nak, janganlah engkau tertipu  dengan berkumpulnya manusia di hadapanmu, karena mereka hanya mengawasi apa-apa yang Nampak darimu, sedangkan Allah Ta’ala  mengawasi apa-apa yang ada dalam hatimu. Ketaatan yang paling istimewa adalah perasaan bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi kita di setiap kesempatan. Nak, engkau harus merasa diawasi oleh Allah, yang mana tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Mengarahkan keinginanmu hanya kepada-Nya, yang senantiasa menepati janji-Nya. Senantiasa menghadirkan rasa ikhlas di setiap keadaan, menghadirkan semua hal yang dapat mendatangkan keridhaan Allah, mengganti apa-apa yang dapat membuat-Nya murka dengan apa-apa yang mendatangkan kecintaan-Nya, menghilangkan kemauan dirimu menuju kemauan-Nya meskipun kemauan-Nya tersebut sangat tinggi bagimu.

Nak, janganlah dirimu berpaling dari syariat dan perintah Allah Ta’ala dengan menggunakan pendapat-pendapat dan logika-logika yang mengandung unsur penghalalan apa-apa yang diharamkan oleh-Nya, dan pengharaman apa-apa yang dihalalkan oleh-Nya. Janganlah dirimu berpaling dari hakikat yang ada dalam syariat, keimanan dengan menggunakan perasaan-perasaan dan pandangan-pandangan batin yang mengandung persyariatan agama atau ajaran tertentu yang tidak pernah diizinkan oleh-Nya, kemudian menganggap salah agama yang disyariatkan oleh-Nya.||



Penulis    : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Pimpinan Redaksi Majalah Fahma , Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Foto         : Google
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya