» » » Bagaimana Menaklukkan Hati Mertua?

Bagaimana Menaklukkan Hati Mertua?

Penulis By on Friday, November 29, 2019 | No comments

Oleh : Cahyadi Takariawan

Masih edisi menantu mertua nih. Konflik menantu vs mertua menjadi salah satu dinamika yang kerap terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Studi yang dilakukan oleh Ayu Kinanti & Fabiola Hendrati dari Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang (2013) menunjukkan, 60% menantu perempuan mengalami ketegangan hubungan dengan ibu mertua akibat kurangnya komunikasi.

Sementara itu sebuah studi untuk masyarakat Inggris menunjukkan, 40 % menantu perempuan mengalami konflik dengan ibu mertua. Konflik tersebut banyak bermula dari kecemburuan kedua belah pihak. Harapan mertua terhadap menantu yang tidak menjadi kenyataan juga potensial menjadi sumber konflik.

Oleh karena itu, harus ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara menantu dan mertua. Seperti sudah saya tulis pada postingan terdahulu, salah satu cara membahagiakan hari mertua adalah dengan mengerti bahasa cintanya. Nah, saya akan berbagi cerita tentang bagaimana saya dan istri berusaha untuk menaklukkan hati ibu saya, alias ibu mertua istri saya, menggunakan bahasa cinta ibu saya.

Begini ceritanya. Pada jaman dahulu kala ... weleh weleh...

Intinya, sebagai anak kandung, saya sangat mengerti sifat dan karakter ibu saya. Nah inilah yang harus saya sampaikan kepada istri, agar ia mengerti bagaimana berinteraksi dengan ibu saya. Ini penting, agar terbangun hubungan yang harmonis antara ibu saya dengan istri saya. Kalau sampai hubungan mereka tidak harmonis, saya akan dibuat pusing oleh mereka berdua. Keluarga saya menjadi tidak nyaman jika istri saya tidak akur dengan ibu saya.

Saya harus membantu istri saya untuk memahami ibu saya, di saat yang sama saya harus membantu ibu saya mengerti istri saya. Posisi ini harus dipahami dengan baik oleh para suami. Ingat, konflik yang paling banyak terjadi dalam kaitan menantu vs mertua adalah antara menantu perempuan dengan ibu mertuanya.

Di antara yang saya pahami dari sifat ibu kandung saya ---yang sangat saya cintai--- adalah sebagai berikut. Pertama, beliau terbiasa berbicara secara vulgar kepada orang lain. Apa yang beliau suka, atau yang beliau tidak suka, akan diungkapkan apa adanya, tanpa basa basi. Kedua, beliau sangat menghargai orang yang rajin bekerja, dan tidak suka melihat orang menganggur.

Ketiga, bahasa cinta beliau adalah pelayanan atau act of service. Beliau sendiri sangat senang melayani ayah kandung saya. Luar biasa cara ibu saya dalam melayani ayah saya. Ini kami lihat secara nyata. Keempat, walau suka bicara vulgar apa adanya, namun intonasi suara beliau tidak tinggi. Maka beliau tidak suka orang yang berbicata dengan intonasi tinggi --- bahasa Jawanya : bengok-bengok.

Nah, hal-hal ini saya sampaikan secara baik-baik kepada istri saya, agar ia mengerti bagaimana cara berinteraksi yang menyenangkan ibu saya. Alhamdulillah istri saya bisa mengerti dan berusaha untuk menyesuaikan diri.

Di awal-awal kami hidup berumah tangga, saat saya mengajak istri silaturahim ke rumah orangtua saya, berbagai hal sudah saya sampaikan untuk ia lakukan. Kami tinggal di lereng gunung Merapi, Yogyakarta, sedangkan orangtua saya tinggal di lereng gunung Lawu, Karanganyar. Perjalanan sekitar empat jam dengan naik bus umum kami tempuh, sambil ‘mengkondisikan’ istri saya sebelum ketemu orangtua saya.

Saya bilang begini kepada istri saya.

”Pertama, kamu jangan tersinggung jika ibu saya biasa berkomentar vulgar. Misalnya kita membawa oleh-oleh gudeg khas Jogja saat silaturahim, maka bersiaplah jika ibuku akan berkomentar secara vulgar tentang penilaian beliau terhadap gudeg yang kita bawa”.

Benar saja, setelah sampai di rumah orangtua, gudeg kami sampaikan, dan langsung dicicipi oleh ibu. Secara spontan ibu saya berkomentar, ”Gak enak. Gudeg apaan ini?” saya sama sekali tidak terkejut oleh pernyataan vulgar ini. Namun istri saya masih kaget, walau sudah saya beri tahu kebiasaan ibu. Coba kalau tidak saya beri tahu terlebih dahulu, mungkin istri saya akan sangat tersinggung oleh penilaian tersebut. Bahkan mungkin dianggap sebagai penghinaan.

”Kedua, kalau kamu berbicara dengan ibuku, gunakan suara yang lembut dan nada rendah. Jangan pernah menggunakan nada tinggi, karena ibuku berdarah Kraton. Kakekku adalah abdi dalem Kraton Solo, wajar jika ibu sangat menjaga tata krama Kraton dalam berbicara”.

Alhamdulillah, istri saya berusaha menyesuaikan diri dengan hal ini. Saya merasa penting untuk menyampaikan hal ini kepada istri saya, mengingat istri saya berdarah Ponorogo yang secara kultur berbeda dengan Kraton Solo. Maka istri saya sangat ingat dengan pesan saya dalam bahasa Jawa, ”Ojo bengok-bengok”. Istri saya selalu bertutur pelan kepada ibu saya.

”Ketiga, ibu saya itu sangat senang dengan pelayanan. Itu bahasa cinta beliau. Maka kalau nanti di rumah ibu, jangan hanya diam menganggur. Lakukan sesuatu, seperti membersihkan dapur, mencuci gelas dan piring kotor, membuatkan teh panas untuk ayah dan ibu, dan lain-lain”.

Nah, di sisi inilah yang membuat ibu saya sangat senang dengan menantu yang satu ini. Ibu saya melihat, setiap kali ke rumah, istri saya selalu aktif ‘bekerja’ melakukan sesuatu. Ibu tidak senang melihat orang nganggur tidak mau melakukan aktivitas kerumahtanggaan. Maka begitu melihat istri saya adalah menantu yang ‘rajin’, ibu saya langsung jatuh hati.

Faktor inilah yang melelehkan hati ibu. Sangat leleh, oleh sifat ‘rajin’ yang ditunjukkan oleh istri saya. Tak segan istri saya membersihkan dapur yang kotor, gelas piring kotor langsung dicuci, menyapu lantai yang kotor, dan lain sebagainya. Ibu saya sangat senang menyaksikan menantu yang tidak canggung dan tidak sungkan ‘bekerja’ merapikan rumah mertua.

Ibu saya tidak terlalu suka dengan hadiah, karena memang bukan itu bahasa cintanya. Maka kalaupun kami datang ke rumah ibu tanpa membawa hadiah, itu tidak menjadi masalah bagi beliau. Oleh karenanya membawa oleh-oleh bagi kami bukan keharusan, hanya kepatutan saja. Dan ketika oleh-oleh tersebut tidak diapresiasi secara positif oleh ibu, maka kami tidak sakit hati.

Demikianlah kisah menaklukkan hati mertua. Alhamdulillah dengan cara itu, istri saya termasuk menantu yang sangat disayangi ibu. Bahkan sering dipuji ibu di hadapan menantu yang lain. Istri saya tidak pernah konflik dengan ibu saya, sampai akhir hayat ibu saya. Oleh karena itu, taklukkan hati mertua dengan menggunakan bahasa cintanya. Jangan malas untuk melakukan tindakan yang menunjukkan bakti serta penghormatan kepada mertua. Sekali lagi ---sesuai bahasa cinta mertua.

Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Motivator
Sumber : www.pakcah.id
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya