» » Memaknai Altruisme dalam Kehidupan Anak

Memaknai Altruisme dalam Kehidupan Anak

Penulis By on Wednesday, November 20, 2019 | No comments




Oleh : Netti Ermawati



Suatu hari, di tengah rapat tiba-tiba saya mendapat pesan dari wali kelas anak saya. Hal yang sangat di luar kebiasaan, biasanya saya yang mengirim pesan, walaupun hanya sekedar menanyakan PR yang besok akan dikumpulkan. Sedikit was-was ketika membaca pesan beliau yang isinya mengatakan kalau anak saya tidak mau bermain atau belajar kelompok dengan Bima, jika suatu saat anak saya satu kelompok dengan Bima, anak saya akan berusaha menolak bahkan secara tegas mengatakan lebih baik mengerjakan tugasnya secara mandiri. Ketika anak saya ditanya oleh gurunya hanya mengatakan kalau Bima nakal, hanya kalimat itu saja yang bisa dimunculkan oleh gurunya. Oleh karena itu gurunya meminta bantuan kami sebagai orangtuanya untuk mencari tahu alasan yang sebenarnya.

            Saya mengambil jeda untuk mencoba memahami dan menginterpretasikan kalimat demi kalimat gurunya. Malamnya menjelang tidur,  kami melakukan permainan fast question, jawab dengan cepat, ketika tiba pertanyaan siapa teman sekolah yang paling nyebelin, anak saya dengan cepat menjawab Bima. Kemudian saya mencoba mengajaknya bercanda, “OMG...., Bima kan baik. Waktu Bunda tersesat nyari kelas pertemuan wali murid, Bima yang membantu. Waktu bunda kesulitan nyari parkir Bima yang mencarikan”. Saya lihat anak saya diam dan menatap saya sesaat sebelum badannya bergerak gelisah, “Memang Bima nakal banget sampai nggak mau memafkan? Jangan karena satu kesalahan hilang semua kebaikannya, siapa tahu Bima juga tidak sengaja”  Begitulah sekelumit pembicaaran kami malam itu.

Sebagai mahluk sosial kita diharuskan untuk sering berinteraksi dengan orang lain, sebagaimana orang dewasa, anak-anak terutama mereka yang sudah mempunyai komunitas atau kelompok sosial di usianya mengharuskan melakukan kontak fisik dan verbal, ada aksi dan reaksi. Pada sisi lain, ia tentu pernah mengalami perlakuan dan situasi yang tidak menyenangkan, mengecewakan atau menyakitkan.

Dalam berbagai ajaran agama, kita mengenal sikap altruisme di mana sikap ini harus tertanam secara alamiah muncul. Altruisme lawannya egois, jadi menekan rasa keinginan untuk merasa menang, hebat dan semua sifat ego negatif yang ada pada kita. Sebaliknya sikap  memaafkan sebagai bagian dari sikap altruisme ini harus dimunculkan dan diasah, lalu bagaimana memunculkan sikap ini pada anak-anak, tentu ini bukanlah perkara mudah. Dalam sebuah kajian ilmiah yang ditulis oleh Latifah Tri Wardhati & Faturochman tentang teori pemaafan, dijelaskan bahwa secara psikologis pemaafan akan efektif dan berdampak positif bila ada penuntasan persoalan psikologis yang antara lain ditandai dengan ketulusan dan kesungguhan untuk memperbaiki relasi di masa mendatang pada pihak-pihak yang terlibat. Memaafkan, secara psikologis tanpa diwujudkan secara interpersoanal dapat menyakitkan, ungkapan secara interpersonal tanpa dilandasi ketulusan hanya sekedar ritual. Hal yang terakhir inilah kiranya yang selama ini terjadi pada masyarakat Indonesia sehingga konflik dan ketidakharmonisan hubungan sosial sulit diatasi. Sebagai orangtua kita diharuskan memahami terlebih dahulu situasi anak, berkomunikasi dan mencontohkan dalam praktek bagaimana bersikap terutama ketika terjadi konflik antar orangtua dan anak, karena pada dasarnya, anak-anak hanya akan mencontoh dan meneladani sikap yang ditunjukan oleh kedua orang tuanya atau sikap orang-orang yang dianggap mempunyai peran lebih dalam hidupnya. Jika dalam kehidupannya anak terbiasa melihat bagaimana mudahnya meminta maaf dan memafkan, kebaikan apa saja yang terjadi dengan kata maaf dan memaafkan.

Dan yang paling utama, sikap kita sebagai orangtua tidak perlu berlebihan dan panik, Lewis B. Smedes (1984) dalam bukunya Forgive and Forget: Healing The Hurts We Don‘t Deserve memaparkan dengan gamblang pemecahan masalahnya. Bahkan Allah ingatkan, di antara nikmat besar yang Allah berikan kepada para sahabat adalah Allah jadikan mereka saling mengasihi, saling mencintai, padahal sebelumnya mereka saling bermusuhan.||

Penulis : Netti Ermawati, Aparatur Sipil Negara 
Foto      : Google 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya