» » Minuman Ideologis Bernama Kopi

Minuman Ideologis Bernama Kopi

Penulis By on Thursday, November 14, 2019 | No comments



Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Pertanyaan tentang Baba Budan pada akhirnya membawa saya untuk menelusuri juga bagaimana kopi ditemukan. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai asal muasal nama kopi. Sebagian ulama menyebutkan bahwa “إسم القهوة مأخوذ من كلمة (كافا caffa) وهى قرية فى الحبشة” (Nama kopi diambil dari kata Kaffa, sebuah desa di Ethiopia). Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa nama qahwah berasal dari kata quwwah, yakni kekuatan, yakni minuman berasal dari al-bunn (diserap dalam bahasa Inggris menjadi bean) yang menghalau kantuk serta kehilangan gairah sehingga menimbulkan kekuatan untuk qiyamul lail, munajat dan telaah kitab.

Pada awalnya kopi ditemukan oleh Khalid, seorang ahlur ribath di Gisya (kelak lebih dikenal dengan ejaan Geisha) setelah proses panjang mencari zat yang menguatkan ibadah sekaligus menyegarkan mata dan pikiran saat berjaga, tetapi tidak bersifat khamr (memabukkan, merusak akal pikiran). Khalid yang apabila malam melakukan ribath, siang hari sering melakukan pekerjaan menggembala. Ia pun mencobakan berbagai tetanaman kepada kambingnya, sehingga melihat bahwa ada satu tanaman yang menjadikan kambing lebih energetic. Kelak tanaman inilah yang dinamai qahwah alias kopi.

Agar dapat memahami lebih utuh, kita perlu mengetahui siapakah yang dimaksud dengan ahlur ribath. Secara umum, ahlur ribath adalah orang yang memiliki tugas berjaga di garis depan. Ia dipilih dari orang yang memiliki kepekaan tinggi untuk memetakan, memiliki ilmu yang memadai, daya tahan fisik yang bagus, kuat berjaga semata-mata untuk ketaatan kepada Allah, sigap dalam menyampaikan informasi kepada pihak yang bertanggung-jawab serta tidak mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat yang bersifat segera. Ini menunjukkan bahwa ahlur ribath memiliki kualifikasi yang ketat dan berat.

Ahlur ribath juga menjadi istilah dalam dunia sufisme dan tetap merujuk kepada orang yang pada pokoknya memiliki kualifikasi sangat ketat, khususnya terkait dengan daya tahan untuk berjaga semata-mata untuk meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

Dari sini kita dapat memahami bahwa ketika seorang Khalid atau populer disebut Khaldi melakukan pencarian terhadap tetumbuhan yang menguatkan berjaga dan menyegarkan pikiran, maka urusannya bukanlah dengan tana’um (gaya hidup yang orientasinya bernikmat-nikmat). Al-bunn (bebijian kopi) hanyalah wasilah; sarana untuk menguatkan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk untuk berjaga, duduk berlama-lama di majelis ilmu serta qiyamul lail.

Pendapat lain menyatakan bahwa kopi pada mulanya berasal dari Sana’ah, sebuah wilayah di Yaman, yang kelak penyebaran kopi tersebut melalui pelabuhan utama di kota Mocha (المخا). Dari nama kota inilah kita mengenal Mochacino. Titik persamaannya, kopi dikembangkan untuk menguatkan seseorang menegakkan punggung dalam rangka thalabul ‘ilmi, qiyamul lail dan beragam ketaatan lain sebagai ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, pada awalnya kopi merupakan minuman yang bersifat ideologis. Wajar kalau kemudian juga mendapat perlawanan ideologis sehingga gereja menyebutnya minuman iblis dan orang-orang kafir

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku, Motivator
Foto      : Google  
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya