@majalahfahma (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB
» » Agar Nasehat untuk Anak Bekerja Dahsyat (Bagian 2)

Agar Nasehat untuk Anak Bekerja Dahsyat (Bagian 2)

Penulis By on Wednesday, December 25, 2019 | No comments

Oleh : Ust Budi Ashari

Sambungan >> Bagian 1

Orang tua harus menguasai benar cara mengungkapkan dan menyampaikan sesuatu. Dengan bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi di rumahnya. Jika harus dengan Bahasa Indonesia, maka berbahasa Indonesia lah yang benar dan baik. Jika dengan bahasa daerah, maka berbahasa daerahlah yang baik dan benar. Jika dengan bahasa lain, pun demikian. Cara bertutur, dalam bahasa kita tak hanya masalah kaidah, tetapi juga masalah intonasi. Kita harus paham, tema apa yang akan disampaikan dengan pilihan kata dan dengan intonasi seperti apa. Begitu seterusnya, kemampuan bahasa harus dimiliki oleh para orangtua agar nasehat bisa bekerja baik dalam kehidupan anak-anak.

Contoh aplikatif. Jika orangtua ingin menanamkan tentang kejujuran. Maka orangtua harus menguasai benar tentang tema kejujuran ini. Memahaminya dengan baik dari berbagai sisinya dengan ilmu. Bukan hanya definisi jujur. Tetapi berikut segala hal yang mungkin terjadi setelah orangtua menyampaikan dengan tutur bahasa yang baik dan benar. Contoh, ketika suatu hari anak menyampaikan dengan kejujurannya tentang keinginannya untuk melakukan sebuah dosa. Atau terbukti bahwa ia tidak jujur tetapi karena tekanan yang dialaminya. Semua ini memerlukan pemahaman, ilmu dan cara bertutur yang baik dan benar. Sehingga tidak salah dalam bersikap.

Itulah yang dikuasai Luqman sebelum memulai nasehatnya. Hal ini bisa dipahami dari kata (وإذ قال لقمان)huruf waw di awal ayat ini mengaitkan dengan kalimat di ayat sebelumnya. Sehingga maknanya adalah: Dan Kami telah memberikan kepada Luqman Al Hikmah, ketika itulah ia berkata kepada anaknya.

Hal ini menunjukkan bahwa Luqman mulai berkata kepada anaknya dalam rangka menasehati, setelah ia diberi Allah Al Hikmah. (Lihat tafsir At Tahrir Wat Tanwir)

Jika orang tua memiliki Al Hikmah dalam mendidik anak, maka sungguh ia telah mendapatkan anugerah sangat amat besar dalam hidupnya. Karenanya, kata setelahnya bagi Luqman adalah perintah kepadanya untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.

Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata, “Kami perintahkan untuk bersyukur kepada Allah azza wajalla atas pemberian dan anugerah Allah berupa keutamaan yang khusus diberikan kepadanya dan tidak diberikan kepada anak-anak negerinya dan masyarakat di zamannya.”

Luqman adalah contoh ideal untuk sebuah hikmah. Bagi yang bisa mencapai apa yang dicapai Luqman tentu sebuah kenikmatan yang sangat agung dari Allah. Tetapi setidaknya orang tua terus mencoba hingga memiliki pemahaman, ilmu dan cara bertutur sebelum menasehatkan sesuatu bagi anaknya.

“Ini adalah puncak hikmah, karena mencakup analisa terhadap hakekat dirinya sendiri sebelum menganalisa sesuatu yang lain dan sebelum memberi petunjuk bagi orang lain.” (Ibnu Asyur dalam tafsirnya)

Syukur. Sifat mulia yang menjadi kata yang menggabungkan semua makna hikmah yang telah diberikan Allah kepada Luqman. Menjadi orang tua, harus kaya dengan rasa syukur. Pahamilah tema syukur dan hiaskan itu pada diri kita.

Untuk memahami lebih jelas, maka ketahuilah lawan katanya. Kufur: ingkar nikmat. Mengingkari nikmat, sekaligus akan mengingkari Pemberinya. Nikmat yang sesungguhnya besar, tidak terasa nikmat. Sesuatu yang berkurang sedikit, padahal masih dalam batas kenikmatan besar jika dibandingkan dengan orang di bawahnya, tidak terasa nikmat. Apalagi musibah, padahal masih banyak kenikmatan lain dalam hidupnya. Hidup ini serba kurang, gelisah dan keluh kesah. Padahal jika melihat ke bawah, kita masih jauh lebih baik dari kebanyakan orang yang lain. Karenanya Nabi memerintahkan untuk melihat orang yang dibawah kita secara nikmat agar tidak mudah meremehkan nikmat Allah, sekecil apapun.

Bersyukur kepada Allah, kebaikannya tidak dikirimkan kepada Allah yang disyukuri. Tetapi kembali kepada hamba yang bersyukur itu sendiri. {وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ}

“Sesungguhnya manfaat dan pahalanya kembali bagi mereka yang bersyukur.” (Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

Kata (فَإِنَّمَا) semakin menguatkan bahwa kebaikannya syukur itu benar-benar hanya kembali kepada hamba yang bersyukur.

Maka, teruslah memupuk rasa syukur agar ilalang keluh kesah itu perlahan layu dan mati. Untuk menumbuhkan berbagai pohon kebaikan yang lebih manfaat.

Hikmah dan Syukur. Menjadi orang tua yang memiliki hikmah dan menjadi orang tua yang pandai bersyukur. Semua kebaikannya akan kembali kepada mereka yang memiliki hikmah dan pandai bersyukur. Di antara kebaikan itu adalah anak-anak yang terus bergerak menuju sebuah perubahan yang baik dari hari ke hari. Dengan panduan nasehat-nasehat.

Bukankah itu harapan kita semua?

Ustadz Budi Ashari, Pendiri Sekolah Kutab Darussalam
Foto IG @atinprihatiningsih15
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya