» » Liburan Bernuansa Rekreatif & Edukatif (Bagian 2)

Liburan Bernuansa Rekreatif & Edukatif (Bagian 2)

Penulis By on Wednesday, December 25, 2019 | No comments

Sambungan >> Bagian 1

Oleh : Sholih Hasyim, S.Sos.

Dalam riwayat panjang bahwa sahabat Hanzhalah ra. -beliau termasuk salah satu juru tulis Nabi saw.- dan sahabat Abu Bakar merasa dirinya munafik, di mana di depan Nabi mereka semangat beriman dan beribadah, namun jika mereka bertemu dengan keluarga, istri, atau anak-anak, menyebabkan mereka lupa. Sehingga keduanya menemui Nabi saw. dan menceritakan kondisi tersebut. Maka Nabi bersabda: “Demi jiwaku yang berada dalam Genggaman-Nya, jika kalian senantiasa dalam kondisi berdzikir dalam segala kondisi sebagaimana ketika kalian bersama saya, maka para Malaikat akan menyalami kalian, di rumah-rumah kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, Sesaat demi sesaat. Beliau mengatakan ini tiga kali.” HR. Muslim.[4]

Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Sesaat melakukan demikian dan sesaat lainnya melakukan yang lain.”[5]

Imam An-Nawawi mengatakan: “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah, dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tapi juga tidak berpahala.” Sahabat Abu Darda’ ra. menyatakan: “Sungguh, saya merefress jiwa saya dengan melakukan sebagian sendau-gurau atau permainan yang dibolehkan, agar saya kembali giat dalam melaksanakan kebaikan.” Sedangkan Imam Ali ra. berkata: “Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan.”[6]

Mari kita simak juga sabda Rasulullah saw. yang memperingatkan kepada kita agar bersikap seimbang dan tidak memberatkan diri: “Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah, dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore dan sebagian waktu malam kalian -untuk memperbanyak kebaikan-.” HR. Bukhari.[7]

Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini seraya berkata: “Orang yang memberatkan diri dalam masalah agama akan dikalahkan oleh agama itu sendiri, ia nantinya akan bosan melaksanakan amalan agama. Gunakan waktu giat kalian untuk taat kepada Allah dengan melaksanakan beragam amal kebaikan. Gunakan saat suasana hati kalian lagi fress untuk meraskan kenikmatan ibadah, sehingga kalian tidak akan merasa bosan, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”[8]

Rasulullah saw. sebagai panutan umat manusia memberi contoh bagaimana memanfaatkan waktu untuk rehat dan berlibur. Aisyah ra. meriwayatkan bahwa ayahnya, Abu Bakar bertandang ke rumah Aisyah, ketika itu dua budak Aisyah sedang bermain perang-perangan, pada hari-hari Mina. Sedangkan Nabi mengintip perbuatan keduanya di balik bajunya. Abu Bakar melarang keduanya melakukan hal tersebut. Maka Nabi membuka bajunya seraya bersabda: “Biarkan keduanya wahai Abu Bakar, Karena ini adalah hari-hari raya. Itulah hari-hari Mina.”

Aisyah berkata: “Saya berada di belakang Nabi ketika saya melihat sekelompok orang-orang Habasyah sedang bermain di masjid. Ketika itu sahabat Umar memarahi mereka. Maka Nabi bersabda: “Biarkan mereka. Mereka memberi rasa aman, mereka dari Bani Arfadah.” HR. Imam Bukhari.[9]

Bahkan Nabi saw. bercanda bersama para sahabat dalam suatu kesempatan untuk mengibur dan rehat diri. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. berkata: “Para sahabat bertanya; Wahai Rasulullah, Engkau bercanda dengan kami? Beliau menjawab: “Sesungguhnya saya tidak berkata kecuali kebenaran.” HR. Imam At-Tirmidzi, dia berkata: Hadits ini Hasan Sahih.[10]

Dari nash-nash tersebut di atas menyimpulkan kepada kita bahwa Islam sangat memperhatikan keseimbangan dalam hidup; antara serius dan rehat, antara bekerja dan berlibur, antara beribadah dan rahah. Namun kedua kondisi yang berbeda ini bisa bernilai ibadah dan bermanfaat, tergantung niat dan bentuk kegiatannya. Kesimpulan ini diperkuat suatu penelitian yang dirilis dalam suatu jurnal, disebutkan bahwa: “Wanita yang sering melakukan liburan, ternyata dapat terhindar dari serangan depresi dan keletihan. Sebaliknya, para wanita yang jarang berlibur kerap mengalami stres dan insomnia.”[11]


Sholih Hasyim, S.Sos., Penulis Buku dan Dewan Syuro DPP Hidayatullah
Foto : IG @atinprihatiningsih15

Bersambung >>>

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya