» » » » Guru Kehidupan : Dedikasi Tinggi Seorang Pengabdi

Guru Kehidupan : Dedikasi Tinggi Seorang Pengabdi

Penulis By on Sunday, January 5, 2020 | No comments


Oleh : Atin

Pekerjaan adalah sesuatu yang sangat melekat pada setiap manusia yang hidup secara normal. Semua perkerjaan pasti dilakukan selama dia masih mampu. 

Saat aku mulai mengarungi samudera kehidupan yang berbeda dari biasanya, terkadang rasa jetlag itu masih meliputi nafsu idealis yang ada. Dari dunia mahasiswa menuju dunia kerja.. 

Sekali saja, Allah tak akan pernah salah menempatkan kita diposisi yang ada.  Mungkin jika kita kurang nyaman, bukan Allah yang salah menempatkan atau kita tidak sesuai dengan ritmenya, tapi coba kita yang menyesuaikan dan berfikir "Oh aku harus nya begini", sehingga akhirnya bisa sejalan dengan ritme kerja yang ada. 

Bicara tentang dedikasi, tidak semua orang memiliki. Hanya dia yang mampu menjiwai setiap profesi dengan nurani yang bersih dan suci. Tidak ada niat buruk yang hinggap di kepala saat menjalani setiap inchi profesi yang dihadapi. Bukan seberapa kuat posisi dia dalam ruang kerjanya, tapi seberapa besar pengorbanan dan keikhlasan yang dia punya untuk mengerjakan setiap masalah yang ada.  Membantu urusan orang lain, yang sudah cukup membuatnya bahagia. Entah ada atau tidak tambahan upahnya, yang jelas, kebahagiaan itu hadir sejalan dengan tuntasnya kerja yang ada.

Pekerjaan dan dedikasi adalah 2 hal yang harus dimiliki oleh seorang insan yang mengharap Ridho Illahi. Bahkan, kalaupun dia ditakdirkan harus menjadi seorang penyapu jalanan, hendaknya dia menyapu jalan dengan sempurna selayaknya Chairil Anwar yang menyuratkan bait-bait puisinya. Begitu juga dengan profesi lain, hendaknya mengerjakan setiap amanah yang dibebankan dengan sungguh-sungguh. 

Mendedikasikan diri dari awal, mengazamkan niat saat pertama amanah itu datang. Bukan untuk mencari pujian atau gaji tambahan, tapi untuk menuntaskan amanah yang diemban, agar tidak menyisakan siksa saat kita telah dimakamkan. 

Aku, selalu tak mampu menahan air mata saat melihat pengorbanan orang-orang yang begitu besar untuk satu amanah pekerjaan yang ada.  Bukan aku merasa kasihan terhadap bertumpuknya kerjaan, tapi karena aku iri, mereka yang sudah tidak muda saja mampu, bagaimana dengan aku yang masih muda namun suka mengeluh?

Menganggap amanah itu beban yang sangat berat, padahal amanah bukanlah beban, dia adalah pemberat amalan yang Allah sediakan saat kita menjalankan dengan hati yang lapang. Menganggap apa yang mereka kerjakan bukanlah apa-apa. Ini nih yang membuat aku sangat terkesan. Seakan dia sedang menerapkan peribahasa "Tangan kanan memberi, tangan kiri tak tahu", ya… mereka itulah sesungguhnya peribahasa itu. Keikhlasan itu begitu terlihat jelas di dalam jiwa-jiwa mereka.

Oh Allah, bagaimana bisa aku menahan airmata sata Engkau mempertemukan aku dengan orang-orang hebat yang selalu memberiku inspirasi dan membakar kembali semangat saat api itu sudah mulai padam? Air mata haru atas kasih sayang Allah yang selalu menyadarkan bahwa aku tidaklah boleh menjadi wanita yang mudah menyerah dan putus Asa.

Allah memang Maha Tahu. Dia tahu kalau makhluknya ini masih suka mengeluh dan kurang sabar, sehingga Dia datangkan langsung di depan mata, orang yang menyadarkan "tidur panjangku" selama ini.

Wahai anak muda, seberapa besar dedikasimu atas profesi indahmu itu? 

"GURU"

Terimakasih guru kehidupanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu.

Atin, Pimpinan Redaksi www.majalahfahma.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya