@majalahfahma (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB
» » Sejuta Pena

Sejuta Pena

Penulis By on Wednesday, January 29, 2020 | No comments


Oleh : Rostika

Ibaratkan berlayar, guratan tinta adalah jalan-jalan pelayaran. Tanda bacanya adalah pelabuhan. Makna katanya ibarat angin, musim, dan cahaya yang menunjukkan warna-warni di bumi, langit, bahkan semesta.

Jika teringat sejarah Rasulullah ketika mendapatkan wahyu pertama surat Al-‘Alaq ayat 1-5 melalui malaikat Jibril. Ayat-ayat-Nya seolah berpendar merendahkan hati berniat untuk menjadi cahaya bagi orang-orang muslim di dunia.

Rasulullah yang suci dari dosa bergetar ketika menerima wahyu dari Allah.
Dan Malaikat Jibril berkata: “Iqra’! (Bacalah!)”

Lihatlah bahwa raga, jiwa, dan semesta menjadi saksi pendukung atas perisitwa yang sangat bersejarah ini. Peristiwa agung yang menghantarkan penerang ilmu bagi akal-akal manusia, sebelum sampai ilmu-Nya menjadi jejak-jejak pena yang bernapas.

Ingatlah bagaimana Rasulullah menjawab:

“Maa ana bi qari’! (Saya tidak dapat membaca)”

“Iqra’!” Malaikat Jibril memerintahkan lagi Rasulullah untuk membaca.

Hingga akhirnya, lisan suci Rasulullah mampu membacanya. Wahyu demi wahyu turun melaluinya. Ditulis menjadi suhuf sebelum terkumpul menjadi mushaf.

Begitulah awal mula Al-Quran yang mulia turun melalui manusia terpilih. Penerang peradaban sepanjang zaman. Islam bercahaya dari waktu ke waktu. Selalu ada titah suci yang tumbuh dari dasar hari yang dalam lagi bersih.

Beruntunglah orang-orang muslim, ilmunya adalah cahaya dari-Nya. Amal kebaikannya yang setitik tetap ternilai bagi-Nya.
Sejuta pena telah menuliskan kalimat indah-Nya. Penerang zaman. Pengokoh perdaban. Penghantar jendela dunia untuk menerima cahaya yang berkilauan.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Akan tetapi yang ada ialah kebersesuaian hal dengan ketetapan Allah subhanallahu wata’ala. Lalu kubertanya pada hati.

 Semenjak jemari ini mampu menulis huruf demi huruf, bahkan guratan yang tertulis mampu tertuang lembar demi lembar tulisan, sampai dititik manakah tulisan ini bermanfaat. Sementara ilmu Allah sangat luas dan mendalam. Masihkah kita menyerah?


Sejuta pena yang kau jejakkan guratannya pada untaian tulisan-tulisan menghidupkan, semoga menjadi pahala jariyah yang memberatkan timbangan kebaikan di hadapan Allah. Jangan menyerah, mari kuatkan azzam untuk berbagi, menginspirasi, dan bermanfaat untuk sesama.

Mari kita ingat bersama “Tiada istirahat bagi seorang muslim, kecuali Surga.”
Selamat menempa diri di jalan-jalan berliku nun suci. Selamat berlayar dengan guratan aksara.

Salam, Sejuta Pena!

Penulis : Rostika Hardianti,  Mahasiswi Psikologi UII
Foto : Rostika H
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya