» » Logo Halal di Restoran

Logo Halal di Restoran

Penulis By on Tuesday, March 10, 2020 | No comments



Oleh : Prof. Dr. Indarto, D.E.A

Kita sebagai orangtua, kadang-kadang secara tidak langsung diingatkan oleh anak-anak untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan tuntunan agama. Mereka melakukannya itu bukan karena tidak ada yang menyuruh, namun karena ajaran dari guru-guru mereka di sekolah. Mestinya bukan sekolah sembarangan yang bisa memberikan pemahaman pada anak-anak seperti itu.

Pemikiran ini muncul ketika saya dan seorang teman sedang makan malam di sebuah mall di Jakarta, karena kebetulan saat itu kami berdua ada pertemuan di sana. Pada awalnya kami tidak berniat makan di mall tersebut karena jaraknya relatif jauh, dibanding rumah makan padang yang kata resepsionis hotel dekat, cukup jalan keluar kemudian belok ke kanan. Namun meskipun kami sudah berjalan sekitar tiga ratus meter, tetapi belum menemukan rumah makan yang dimaksud. Kami mulai bimbang jangan-jangan petugas hotel itu salah dalam memberi informasi. Sejauh mata memandangpun sepertinya juga tidak ada tanda-tanda keberadaan rumah makan itu.

Akhirnya kami putuskan untuk menyeberang jalan, yang kebetulan tidak jauh dari tempat kami berdiri ada zebra-cross tempat penyeberangan, yang sekaligus dilengkapi dengan tombol lampu untuk menghentikan kendaraan lewat yang padat sekali. Kalau tidak dilengkapi dengan lampu merah penghenti kendaraan tersebut, jelas sekali kami akan kesulitan untuk menyeberang. Setelah beberapa saat meneruskan jalan kaki sambil mengobrol, akhirnya tanpa terasa sudah sampai di depan mall yang gedungnya bisa terlihat dari hotel itu.

Untungnya restoran-restorannya berada di lantai satu sehingga kami tidak perlu naik lagi, dan yang membuat kami heran, restoran-restoran dengan menu yang berbeda-beda itu hampir semuanya penuh dengan pengunjung, sehingga kami juga sempat bingung mau masuk restoran yang mana. Karena teman saya ini dulu studi lanjutnya di Jepang, akhirnya kami masuk ke restoran cepat saji masakan Jepang. Betul, meskipun kami harus antri tetapi karena pelayanannya cepat, sehingga tidak sampai limabelas menit pesanan kami sudah siap.

Saya termasuk jarang sekali makan masakan Jepang, kecuali pada saat tugas ke sana. Karena mereka tidak mengenal makanan halal dan haram, sehingga kita sendiri yang harus ekstra hati-hati. Tetapi karena teman ini seorang muslim, sehingga saya merasa tenang menyantap menu yang saya pesan. Namun ada juga keinginan untuk meyakinkan kehalalannya, dan saya bertanya ke beliau. Dengan mantapnya dia menunjukkan tanda gambar lingkaran hijau yang tertera di kertas alas makan yang bertuliskan “halal” di tengah dan Majelis Ulama Indonesia di sekelililingnya.

Ternyata mengapa dia memilih restoran Jepang tersebut, salah satunya adalah karena adanya lingkaran warna hijau yang terpampang di papan nama restoran, sedangkan beberapa restoran yang lain tidak ada tandanya. Sebelumnya beliau sekeluarga jarang memperhatikan keberadaan tanda halal ketika akan masuk ke sebuah restoran, dengan pertimbangan karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim sehingga harapannya adalah makanan yang mereka jual juga halal.

Teman tadi mengucap “Alhamdulillah bapak..., semenjak anak perempuan saya yang bungsu masuk ke SDIT..... (dia menyebut sebuah nama), setiap kali kami akan makan di sebuah restoran, si bungsu selalu menanyakan gambar lingkaran hijau tersebut”. Kalau tidak ada, dia tidak mau makan di situ. Si bungsu selalu mengatakan “Kata ustadzah di sekolahku, kalau makan di restoran harus dipilih yang ada lingkarannya”, maklum si bungsu belum lancar membaca, dia hanya hafal dengan bentuk lingkaran hijaunya.

Memang tidak sedikit orangtua yang tersadarkan untuk lebih hati-hati dalam berkehidupan, karena pelajaran, anjuran ataupun pembiasaan yang dilakukan oleh para guru di sekolah terhadap anak-anaknya.  Namun pembiasaan ini bisa saja tidak didapatkan apabila mereka dimasukkan di sekolah yang tidak berbasiskan agama. Mungkin hal ini pula yang  mendorong para orangtua yang lebih senang menyerahkan pendidikannya ke sekolah terpadu berbasiskan agama, meskipun harus membayar, bahkan yang sangat mahalpun orangtua rela demi masa depan anak-anaknya. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis : Prof. Dr. Indarto, D.E.A., Guru Besar Teknik mesin UGM, Pimpinan Redaksi Majalah Fahma
Foto     : Google 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya