» » Nasihat dari Ibu Pembelajar

Nasihat dari Ibu Pembelajar

Penulis By on Monday, April 27, 2020 | No comments


Oleh : Rostika Hardianti

"Nak, kau perempuan. Pendidik anak-anak kelak, in syaa Allah. Di sinilah kita belajar Al-Qur'an. Al-Qur'an ini lengkap, karenanya Al Qur'anlah pedoman hidup manusia. Kita sedang berjuang disini. bedanya, ibu sudah berusia sangat jauh lebih tua dari dirimu.

Nak, generasi Indonesia sebenarnya hebat, pintar, dan cerdas. Akan tetapi, Generasi Muslim Indonesia sedang dilemahkan pikirannya lewat berbagai perkembangan IPTEK yang semakin dikonsumsi bebas seolah tanpa batas. Dilemahkan pada sisi apa? Imannya. Sebab orang Barat mengetahui, jika pemikiran dilemahkan, Pikirannya disibukkan nilai nominal dan kesenangan, ia terlena dengan ikhtiar dan tujuan hidupnya. iman pun menjadi lemah. Mengapa? Karena amunisi pemikiran generasi muslim sudah diracuni dengan gaya pemikiran Barat yang menjauhkan kita dari Islam. Pengetahuan dan wawasan terkait Islam semakin tipis di kalangan Muslim. Semakin semaraklah kristenisasi dan budaya asing yang menggerogoti jati diri seorang muslim. Agama kita memiliki toleransi, namun kau tau 'kan antara toleransi dan iman adalah dua hal yang berbeda. Iman adalah tauhid yang tidak boleh tergoyahkan.
.
Nak, buka hati dan matamu. Lihat keadaan umat Islam. Kau yang nanti mendakwahkan para orangtua. Calon ibu yang berdakwah, calon pekerja yang berdakwah. Perjuangkan agama ini. Ajak kami memahami Islam. Sebarkan. dan berikan anak-anak kami keteladanan. dan tidak ada salahnya sejarah umat Islam, terlebih peperangan. Maka pelajari lagi, Nak. Sejarah perang badar, perang pertama dalam sejarah umat Islam. Lihat, bukan umat islam yang merongrong maju berperang. Sebab- musababnya bukan dari kalangan muslim. Telisik kembali, sejarah pemuda 21 tahun bernama Muhammad Al Fatih penakluk Konstantinopel dan sejarah perang kaum muslimin lainnya. dimanakah point sejarah perang kaum muslimin yang mengarah pada "radikalisme"?"
.
Terketuklah hati. Tertajamkanlah pikiran. Dan... melihatmu, anak-anak, semakin tertajamkanlah asa dan rasa. Bahwa dalam diri mereka, ada estafet yang harus diperkuat dan diperdalam. Iman dan Islam. Dua kata yang sekilas sederhana, namun memiliki cabang makna dan perjuangan luar biasa.

Selamat berjuang

Rostika Hardianti, Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Indonesia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya