» » Adab Pribadi Seorang Guru

Adab Pribadi Seorang Guru

Penulis By on Monday, May 11, 2020 | No comments



Meraih ridha Allah dengan ilmumu, bukan ilmu bertujuan untuk duniawi seperti harta, kedudukan, popularitas. Luruskan niat dalam segala hal, karena niat bagaikan benih, salah niat, maka salah menananam benih. 

Guru adalah kepercayaan Allah yang mengemban ilmuNya. Sehingga dengan ilmu yang dimiliki akan tampak pengaruhnya dalam sikap, tutur kata, dan perbuatan.

Jagalah ilmu sebagaimana para salaf menjaganya dengan menegakkan kehormatan dan kemuliaan ilmu. Jangan mendekat kepada penguasa-penguasa dan anak-anak mereka sebagai budak dunia tanpa alasan yang sangat kuat. Hendaknya ilmu itu didatangi atau murid mendatangi guru, agar kemuliaan guru terjaga. 

Zuhulah terhadap dunia, miliki harta benda seperlunya sepanjang masih dalam kadar kewajaran sebagai manusia. Bersikap qonaahlah dan israf (tidak berlebihan). Al-Harits Al-Muhasibi berkata : “Ilmu itu mendatangkan rasa takut kepada Allah, zuhud mendatangkan kenyamanan, mengenal Allah mendatangkan pertaubatan.”

Hindari profesi selain pendidik, jika engkau hendak memiliki, yang dipandang rendah dan hina. Jauhi pula kondisi yang berpotensi menimbulkan tuduhan buruk bagi orang lain, misalnya berkunjung ke tempat maksiat, dll. Jangan menerima sesuatu yang mengurangi muru’ah diri. 

Tegakkan syariat dalam dirimu sendiri, seperti shalat berjamaah di masjid, menebarkan salam, amar makaruf nahi munkar, dan bersabar dalam menanggung akibat dan tetap tegar. Serahkan kepada Allah jangan takut dicela orang lain. Jangan mudah puas dengan amalan yang telah diperbuat. Lakukan amalan yang terbaik, karena guru adalah teladan dan panutan ummat. Jailah guru yang benar dalam memberi teladan, karena banyak manusia yang salah dalam beramal sepanjang hayat mereka karena mereka salah mengambil contoh dari para guru mereka. 

Jagalah amalan yang dianjurkan syariat, baik perkataan atau perbuatan. Rutin bertilawah Al-Quran, dzikir, berdoa, iwaktu siang atau malam. Perhatikan ibadah nawafil lainnya, shalat malam atau puasa sunnah. Perbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Cobalah merenungi arti al-Quran baik perintah dan larangan yang ada di dalamnya, baik janji dan ancaman-ancaman yang ada di dalamnya. 

Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia, berwajah cerah, menebar salam, menjamu tamu, menahan marah, dan hindari menyakiti orang. Berlakulah mengutamakan orang lain dibanding mengutamakan diri sendiri. Bersyukurlah atas kelebihan diri sendiri, berusahalah mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup. Gunakan pengaruhmu untuk membantu ornag lain di jalan Allah. Sayangilah muri-muridmu, dan berbuat baiklah kepada mereka. Tegurlah mereka dengan cara yang makruf saat melakukan kesalahan.

Bersihkan diri dari akhlak-akhlak yang rendah, seperti iri-dengki, melampaui batas, kikir, riya’, sum’ah, marah dan benci bukan karena Allah, sombong, dan sebagainya. Hiasilah akhlak dengan yang diridhai Allah ikhlas, yakin, qanaah, tawakal, sabar, dan lain sebagainya. 

Amalkan kebiasaan-kebiasaan baik, beribadah, membaca, menelaah, berpikir, mengkritisi, dan sebagainya. Jika ingin menjai pakar, maka pelajarilah satu disiplin ilmu, jika ingin jadi pujanggan maka ambil yang terbaik dari setiap hal. 

Jangan enggan belajar dari orang lain, bahkan yang dianggap lebih rendah dalam pemahaman ilmu, kedudukan, usia, atau nasab mereka. Dari manapun asalnya jika itu ilmu, maka ambillah. 

Cobalah belajar untuk menulis, karena dengan menulis akan banyak manfaat bagimu. Sebuah catatan akhir, guru itu hidup an bergaul dengan siapa saja, maka berlakulah itsar, tawadhu, an futuwah.

TMT
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya