» » Akhlak Kepemimpinan

Akhlak Kepemimpinan

Penulis By on Saturday, May 16, 2020 | No comments


Oleh : Galih Setiawan, S.Kom.I.


Hari demi hari kita disuguhi beritamakin banyaknya tokoh dan pejabat yang tidak amanah di negeri ini. Ada yang tersandung kasus korupsi. Tak jarang pula ada yang terkena kasus kriminal lain.

 

Lalu,bagaimana Islam menyikapi fenomena ini? Bagaimana seharusnya etika kepemimpinan seorang muslim? Hasil penelitian Brian Caroll dalam Kouznes and Posner, “Leadership Chalenge” tahun 1995 di Amerika, menunjukkan salah satu ciri khas pemimpin yang sangat dikagumi adalah pemimpin yang jujur (memiliki integritas). Integritas bahkan menempati urutan teratas dibandingkan visi,  kecakapan, adil dan cerdas.

 

Dalam syariat Islam yang penuh keindahan ini, kejujuran adalah akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi, sedangkan kedustaan adalah dosa besar yang sangat dicela. Wajib bagi seorang Muslim,  untuk berhias dengan kejujuran dan meninggalkan kedustaan.

 

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan akan bahaya dusta dalam kitab beliau, al-Fawaid.

 

“Berhati-hatilah dari dusta! Sebab, perbuatan dusta akan merusak pemahaman Anda terhadap suatu perkara sehingga Anda tidak bisa memahaminya sebagaimana hakikatnya. Selanjutnya, dusta akan membuat Anda tidak bisa menggambarkan perkara tersebut dan menjelaskannya kepada manusia sesuai dengan keadaan sebenarnya.”

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman;  “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama dengan orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

 

Islam adalah agama yang mengajak kepada keadilan, oleh karena itu Islam memerintahkan untuk memberikan hak kepada masing-masing yang memiliki hak. Inilah yang disebut keadilan. Adil bukanlah persamaan hak dalam segala hal. Namun adil adalah menempatkan setiap manusia pada tempat yang selayaknya dan semestinya, serta menempatkan segala sesuatu pada posisinya yang telah diatur dalam syariat-Nya.

 

Allah Ta’ala berfirman:“Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS: An-Nisa`: 58)

 

Islam memerintahkan berbuat adil, membenci perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.  Hatta, adil pada kaum yang kita benci. (Al-Ma`idah: 8)

 

Kepedulian kita terhadap sesama karena Allah ta’ala semata, bukan karena organisasi, partai, aliran, marga, atau kepentingan dunia yang lain. Bentuk kepedulian kita terhadap sesama adalah atas dasar persaudaraan. Allah Ta’ala memberitakan tentang persaudaraan yang hakiki karena keimanan:

 

“Hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

 

Rasulullah menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan karena Allah Ta’ala;“Permisalan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi, seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merintih atau mengeluh, semua anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun alaih dari an-Nu’man bin Basyir radiallahuanhuma)

 

Islam mengajarkan adab dan akhlak yang mulia. Adalah  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita teladani dan kita tiru amalannya.

 

Dari Anas radhiallahu ‘anhu berkata :“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekali pun berkata kepadaku “Ah”. Tidak pula beliau berkata, “Mengapa engkau berbuat begini? Tidakkah engkau melakukan demikian?”

 

Beginilah seharusnya kepempimpinan yang dibutuhkan. Jika perangainya mulia, ketika ia telah kehilangan jabatan, ia tak akan kehilangan legitimasi. Sebab suri tauladan dan akhlaknya akan dikenang orang. Tanpa nilai-nilai di atas, siapapun pemimpin ia tak akan dikenang kebaikannya di saat dia jatuh atau turun dari jabatannya.

 

Galih Setiawan, S.Kom.I., Redaktur Majalah Fahma

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya