@majalahfahma (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB
» » Menebus

Menebus

Penulis By on Monday, May 18, 2020 | No comments

Oleh : 
@salimafillah

"Menghadap Allah dengan membawa seribu dosa kepadaNya", ujar Imam Sufyan Ats Tsaury, "Rasanya akan lebih ringan daripada membawa 1 dosa kepada sesama."

"Mengapa demikian?", tanya murid-muridnya.

"Sebab Allah itu menutup 'aib, menunggu taubat, mengampuni, dan menghapus kesalahan. Sedangkan manusia menyebarkan cela, tidak menanti penyesalan, sulit memaafkan, meminta ganti rugi, dan mengungkit-ungkitnya; kecuali sedikit saja."

Suatu hari di Madinah, terdengar suara keras dari sesosok yang sedang berbaring. “Injak kepalaku ini hai, Bilal!, Demi Allah, kumohon injaklah!”

Abu Dzar Al-Ghiffari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Rabah segera mendarat di pelipisnya.

“Kumohon Bilal,” rintihnya, “Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliahku.” Abu Dzar ingin sekali menangis. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, “Kumohon injaklah kepalaku!”

Sayang, Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Kemudian sang Muadzin Rasulillah berkata, "Aku sudah memaafkanmu, semoga menjadi kebaikan bagiku di akhirat."

Peristiwa itu memang berasal dari kekesalan Abu Dzar pada Bilal. Dia tak mampu menahan diri ketika Bilal membuatnya kesal dalam suatu hal. Dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Dia berteriak melengking, “Hai, anak budak hitam!”

Rasulullah ﷺ yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, beliau ﷺ menghampiri dan menegur Abu Dzar, “Engkau!” sabdanya dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliah!” Maka demikianlah kegigihan Abu Dzar untuk menebus kesalahannya.

Sebagai sebuah muhasabah di akhir Ramadhan; mari hitung kesalahan-kesalahan kita pada sesama. Lalu mari renungkan, dengan apa kita akan menebus kesalahan itu, agar tak jadi beban kelak di pengadilanNya?😭

Salim Afillah, Penulis Buku dan Motivator
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya