Hari-hari Itu Semakin Mendekat


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Banyak yang bertanya kepadaku, bagaimana cara menulis buku. Aku termangu. Ingin kujawab, tetapi aku tahu mereka semua adalah para penulis buku yang karyanya sedang disusun. Ada yang mendekati selesai, ada pula yang masih jauh. ⁣

Ada yang bertanya kepadaku, bagaimana cara menulis buku yang bagus. Aku bingung bagaimana harus menjawab. Sebenarnya cara menulis buku yang bagus adalah dengan beramal shalih dan beribadah, sebaik-baiknya, sejernih-jernih niat semata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tetapi aku sendiri mendapati diriku masih jauh dari kebaikan dan kemuliaan. Padahal aku sangat berharap kelak akan menerima buku itu dengan tangan kanan, penuh penghormatan. Bukan dengan kaki atau yang lebih buruk lagi.⁣
Hari-hari yang semakin dekat. Kita semua sedang bergerak mendekati masa ketika tak seorang pun sanggup mengelak. Hari-hari yang mengantarkan manusia menerima buku yang ditulisnya. Di antara mereka ada yang menerima dengan tangan kanan, ada pula yang menerima dengan tangan kiri atau dengan anggota tubuh yang lebih buruk.⁣
Kian rinci manusia harus dihadapkan pada catatannya, berarti kian berat hisab yang harus ia tanggung. Dan aku berharap kelak termasuk orang yang dapat memasuki Jannah-Nya tanpa hisab; tanpa keharusan memeriksa isi buku yang kita sendiri penyusunnya.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku dan Motivator
Foto by OkeZone

Harga Sebuah Rindu


Oleh : Rostika Hardianti, S.Psi.

Lirih suara hati berbisik tentang senja hari ini. Senja yang tak lagi sama, senja 23 tahun miliknya.

Selamat datang dan selamat melakukan perjalanan dalam titian jalan hidup ini. Menguntai benang kisah dalam rajutan perjuangan, pakaian ketabahan, dan tongkat kegigihan. Dunia ini tak menyajikan banyak kemenangan, pun kebahagiaan yang sempurna. Atau sebaliknya, dunia ini tidak sempurna dipenuhi kekalutan dan kepedihan dalam goresan perjalanannya. Tapi, bukankah saat kita pejamkan mata, ada rindu yang tak pernah mampu dibayar dengan harga? Rindu, satu kata yang sama dengan ragam makna yang kita punya. 

Dibalik rindumu, mungkin ada jeda, jarak, kegelisahan, dan senyuman yang tak terlukis oleh goresan warna dan tinta. Malu-malu senyum tergurat diwajah, menyinari hari demi hari, menyimpan rindu dengan amat sangat terpuji. Tak harap menghindar, tapi ingatan selalu datang tiba-tiba, tanpa permisi. 

Namun... Barangkali ada rindu yang sama. Rindu pada cinta. Rindu kita sebagai saudara dan hamba. Rindu pada Tuhan dan Rasul-Nya. Sejauh jarak membentang, seluas area semesta, agama kita menyatukan rindu ini dalam ikatan keimanan yang jujur. Menangisi kerinduan ini bukan berarti lemah, menemui kerinduan ini disepertiga malam bukanlah kepayahan.

Bertemu rindu ini adalah rindu yang dijumpai dengan perjuangan hakiki, perjuangan yang Rabb nilai dengan penilaian langit. 

Dan kita... Disatukan atas satu rindu yang berharga. Satu rindu yang membuat hati ini ingin segera berjumpa. Satu rindu yang membuat perjalanan ini terasa kuat dalam ketabahan dan kesabaran, demi menjumpai yang dirindukannya.

Kak Rostika Hardianti, S.Psi., Penulis Novel, tinggal di Cirebon

Tugas Kita Sebelum Anak Mumayyiz


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Begitu ‘aqil baligh, anak seharusnya menjadi seorang fatan yakni remaja atau pemuda dengan arah hidup yang jelas, berani bersikap, tidak ragu menyuarakan kebenaran serta mempunyai pendirian yang kokoh. Ia memiliki komitmen yang  kuat, tak takut menunjukkan sikapnya meskipun tak ada yang berpihak kepada apa yang diyakininya. Ini merupakan sebaik-baik masa sehingga mereka tampil sebagai sosok asyudda  dimana berbagai kebaikan berada pada puncaknya. Tetapi jika mereka tidak kita siapkan dengan baik,  masa-masa ini justru menjadi cabang kegilaan ketika tindakan ngawur, melanggar hukum, akhlak yang rusak dan berbagai hal menyimpang lainnya justru tampil menonjol dalam diri mereka.

Fatan  juga memiliki kandungan makna mudah menerima kebenaran, cenderung kepada apa yang benar. Ini dekat sekali dengan taqwa. Mudah menerima kebenaran berarti anak memiliki kesiapan untuk menyambutnya. Bukan mudah ikut-ikutan dimana anak mudah terpengaruh oleh kebaikan maupun keburukan.

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar masa muda anak-anak kita tidak menjadi masa penuh gejolak, terombang-ambing, berontak, lari dari orangtua dan hal-hal buruk yang semisal itu? Menyiapkannya agar mereka memiliki arah yang jelas, komitmen yang kuat serta identitas diri yang matang. Kapan kita melakukannya? Yang paling penting adalah masa-masa sebelum mumayyiz untuk mempersiapkan mereka agar benar-benar memiliki tamyiz yang kuat dan baik tepat pada waktunya. Agama kita, Islam, menuntut kita agar anak-anak mencapai tamyiz (selambatnya) di usia 7 tahun. Di usia inilah kita mulai dapat memerintahkan anak mengerjakan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَلاَةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَ إذا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anakmu shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun. Dan jika mereka telah berusia sepuluh tahun, pukullah mereka (jika tidak shalat).” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ad-Darimi, dll).

Apa konsekuensi perintah ini? Pertama, menyiapkan anak agar sebelum usia 7 tahun telah memiliki kecintaan terhadap apa yang akan diperintahkan, yakni shalat. Cinta itu berbeda dengan kebiasaan. Anak yang terbiasa melakukan setiap hari boleh jadi tidak mencintai sama sekali. Kedua, perintah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah perintah untuk memerintah. Ini menunjukkan bahwa pada kalimat perintah ada kebaikan. Karena itu kita perlu mengilmui. Ketiga, menyiapkan anak agar memiliki bekal yang cukup sehingga ketika usia 10 tahun tidak mengerjakan shalat, anak memang telah dapat dikenai hukuman. Apa yang menyebabkan seseorang dapat dikenai hukuman? Apabila ia telah memiliki ilmu yang terkait dengannya.

Secara ringkas, berikut ini yang perlu kita lakukan pada anak-anak sebelum mereka mumayyiz. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menolong kita.

Baca:  Awas! Usianya Sudah 10 Tahun –

Menanamkan Kecintaan terhadap Kebaikan

Apakah cinta itu? Bertemunya tiga hal, yakni meyakini sebagai kebaikan, kemauan yang kuat terhadapnya serta komitmen yang besar. Meyakini sebagai kebaikan akan melahirkan kebanggaan terhadapnya, bukan membanggakan diri sendiri, sehingga orang bersemangat terhadapnya, baik membicarakan maupun melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

Inilah yang perlu kita tanamkan pada anak-anak sebelum mumayyiz. Kita tanamkan cinta pada diri mereka terhadap kebaikan, khususnya berkait dengan ibadah. Kita kobarkan cinta mereka dengan membangun keyakinan bahwa syariat ini sempurna dan pasti baik. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ. Berbahagialah yang dapat memperoleh petunjuk dari keduanya.

Satu hal yang perlu kita ingat, keyakinan sangat berbeda dengan pengetahuan dan pemahaman, sebagaimana cinta tidak sama dengan terbiasa. Bahkan terbiasa melakukan tidak serta merta membentuk kebiasaan (habit). Betapa banyak anak-anak yang telah terbiasa melakukan praktek ibadah, bahkan sebelum waktunya. Tetapi ketika telah tiba masanya untuk bersemangat, gairah mengerjakannya seolah padam.

Apa yang menumbuhkan kecintaan? Bercermin pada riwayat shahih yang sampai kepada kita, di antara jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada ibadah itu ialah, memberi pengalaman berharga dan mengesankan pada diri anak-anak. Tengoklah, betapa senangnya cucu Rasulullah ﷺ menaiki leher kakeknya tatkala sedang shalat; betapa Umamah binti Zainab digendong oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sembari tetap melaksanakan shalat. Dan dua kisah ini hanyalah sekedar contoh di antara berbagai contoh lainnya.

Sebagian orang tergesa-gesa sehingga menyuruh anak shalat sebelum usia tujuh tahun. Bahkan ada yang melampaui batas, yakni mewajibkan anak shalat Dhuha yang bagi orang dewasa saja sunnah. Alasannya? Menumbuhkan kebiasaan. Padahal kebiasaan tanpa kecintaan akan kering dan mudah pudar.

Tak jarang, orangtua maupun pendidik memaksa anak mengerjakan shalat, termasuk shalat sunnah, sebelum mumayyiz. Padahal pemaksaan itu, baik secara halus maupun kasar, justru dapat menimbulkan karahah (kebencian) yang bentuk ringannya adalah malas, enggan.

Baca:  Tiga Fase Usia dalam Hidup Kita

Menumbuhkan Tamyiz

Apakah yang dimaksud dengan tamyiz? Banyak penjelasan, tetapi pada pokoknya adalah kemampuan membedakan, dalam hal ini membedakan benar dan salah serta baik dan buruk dengan akalnya. Mampu membedakan sangat berbeda dengan mengetahui perbedaan. Mampu membedakan menunjukkan adanya pengerahan kemampuan berpikir untuk menentukan nilai atau kedudukan sesuatu.

Apa yang kita perlukan untuk berpikir? Sekurang-kurangnya ada dua hal, yakni menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya untuk menilai sesuatu serta mendayagunakan akal untuk menemukan prinsip-prinsip.

Rumit? Sebagaimana pengetahuan, kemampuan berpikir juga bertingkat-tingkat. Kemampuan tamyiz seseorang juga demikian. Tetapi jika tidak kita persiapkan maka anak tidak akan memilikinya, kecuali sangat terbatas, meskipun usia sudah 10 tahun dan bahkan lebih. Maka ada orang yang usianya sudah dewasa, tetapi ia termasuk ghair mumayyiz (orang yang tidak memiliki tamyiz).

Jadi, apa yang perlu kita berikan kepada anak? Pertama, keyakinan berlandaskan ilmu tentang kebenaran dan kebaikan. Kedua, kemauan kepada agama, kebaikan dan ilmu. Ketiga, merangsang kemampuan anak untuk berpikir sehingga mampu membedakan benar dan salah serta baik dan buruk dengan akalnya. Ini secara bertahap kita arahkan untuk mulai belajar menilai mana yang penting dan mana yang tidak penting.

Satu hal lagi, disebut tamyiz apabila ia mengenal (‘arafah) kebenaran dan kebaikan. Kata ‘arafah menunjukkan bahwa unsurnya bukan hanya mengetahui, melainkan ada idrak (kesadaran yang menggerakkan kemauan) terhadapnya.

Nah. Inilah yang sangat penting. Inilah tugas kita, para orangtua maupun guru TK untuk menyiapkannya.*

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis buku buku parenting

Sumber : www.hidayatullah.com

Maafkanlah Orang Tuamu


Oleh : Rostika Hardianti, S.Psi. 

Salah seorang guru berkata, "Sungguh ananda, aku tidak ridha jika dirimu belajar agama, lalu kau ucapkan sebuah kalimat 'Ayah itu awam ilmu agama ustadz, ibu tidak pandai mengajari ilmu-ilmu qur'an, ustadz.' Sungguh aku tidak rida, wahai anandaku.

Bayangkan perasaannya, ketika kau ucapkan bahwa " Ibu/ayah tidak tau apa-apa." 

Rasa tak berwarna, rasa memang tak berwujud. Tapi barangkali lukanya begitu nyata di hati.. 

Hari itu, ada hati yang bergemuruh perih. Luka atas kesalahan sendiri yang terobati dengan aliran nasihat yang berlaku sepanjang masa. Inilah mutiara kasih dari seorang pendidik dan pendakwah. 

Ketika ia membiarkan murid-muridnya khidmad mendengarkan, setetes air mata menjadi saksi pertama di antara langit dan bumi bahwa lisan yang nampak indah di telinga, yang membaca Ayat alquran dengan fasih, yang pernah menghafalkannya dan sekaligus memberikan simpul hikmah bagi kebermanfaatan sesama, tertegun oleh satu periode waktu. Kini, dunia saatnya memberikan pelajaran pada penghuninya yang setiap hari mengukir kisahnya di lembaran amal. 

"Orangtuamu memilih untuk terus hidup dan menghidupi keluarganya. Bukan karena mereka tak mau paham agama. Akan tetapi, saat kesempatan waktu mereka dipersatukan oleh Allah, engkau lahir dan mereka memilih untuk memberikanmu kesempatan besar menjalani kehidupan baru. Maafkan jika mereka tak sama seperti kebanyakan orangtua yang nampak begitu ideal dalam merengkuh anak-anaknya. Ketahuilah, bahwa in syaa Allah, setiap orangtua melakukan yang terbaik. Sadarilah, bahwa setiap orangtua memiliki pilihan, dan mereka memilihmu untuk segalanya. Meski terlihat tak sempurna dan kurang dari harapan, Allah memilihmu untuk lahir dari rahim ibumu. Diusapnya engkau dengan kasih sayang dalam pelukannya pertama kali. Allah memilih ayahmu untuk menjadi superhero pertama yang mendampingimu tumbuh. Maafkanlah atas ketidaktahun mereka, maafkan atas kesalahannya, Maafkan. "

Semoga Allah mengukuhkan ilmu dan amal kita dalam rintisan jalan hidup ini. Mengkaruniakan keberkahan dalam setiap ikhtiar, serta perbaikan akhlak yang semakin mendamaikan semesta. 

Rostika Hardianti, S.Psi., Penulis Novel Mahabbatullah dan Novel Menata Laksa a

Pelajaran dari Perjalanan Hidup


Oleh : Inas Fathimah

Tentang seorang anak dengan mata berbinar datang ke sekolah diantar oleh ayahnya. Ia menaiki panggung dengan ceria seraya bercerita bahwa ia sudah menghias sepedanya di rumah. Di belakangnya sang ayah tak kalah semangat membantu membawakan sepeda. 

Tentang seorang anak yang mengayuh sepeda melewati rute dengan terampil. Berbelok mengerem mahir ia lakukan. Tak lupa ia menyemangati temannya, mengajak berputar lagi berkeliling rute. Rupanya ia belum lelah. 

Tak lama ia berhenti di depanku, "Ustadzah bisa gak naik sepeda? " tanyanya. 

"Bisa doong, coba sini ustadzah boncengin" jawabku sembari mencoba menaiki sepedanya. 

"Yaah sepedanya kan kecil, Ustadzah besar.. jadi gak muaat" serunya. Lalu kami tertawa bersama. 

Seketika, aku tersadar bahwa pelajaran-pelajaran berharga datang seiring perjalanan hidup. Maka benarlah bahwa yang terbaik memang hanya pada takaranNya. Aku tidak pernah menyangka Allah akan melangkahkan kakiku untuk membersamai anak-anak ini. Anak-anak sholeh yang padanya Islam ini akan jaya.

Inas Fathimah, S.Pd. Guru TK BIAS Sleman

Tingkatkan Pengaruh dengan Menjadi Emphatic Listener


Oleh : Jamil Azzaini

Stephen R Covey pernah berkata : “Cara terbaik untuk meningkatkan pengaruh adalah dengan menjadi pendengar.” Tidak semua orang yang mendengar adalah pendengar yang baik. Stephen R Covey dalam bukunya The 7 habits of Highly Effective People menjelaskan ada 5 level mendengar. Kira-kira kita termasuk di level yang mana ya? Mari kita lihat.

Level terendah adalah Ignore (mengabaikan). Pada level ini, kita sibuk melakukan aktifitas lain saat orang lain berbicara. Level kedua pretend to listen (pura-pura mendengar), saat orang lain berbicara, kita berada di depannya, namun pikiran kita melayang kemana-mana.

Level ketiga, selective listening, kita mendengarkan hanya dibagian-bagian yang kita anggap penting.

Level keempat, attentive listening, mendengar dengan penuh perhatian namun tetap dengan menggunakan kacamata kita.

Di level yang paling tinggi adalah emphatic listening,  mendengar dengan sepenuh hati, menangkap perasaan, melihat apa yang dibicarakan dari sudut pandang pembicara, menempatkan posisi sebagai orang yang berbicara, tidak melakukan penilaian dan evaluasi atas apa yang sampaikan orang tersebut.

Nah, kira-kira Anda termasuk pada level yang mana? Apabila Anda ingin meningkatkan pengaruh di rumah, di kantor dan di pergraulan sosial, berlatihlah untuk sampai pada level yang tertinggi.

Ada tiga cara untuk menjadi emphatic listener, silakan Anda coba tiga cara berikut ini;

Pertama, Hadir penuh, sadar utuh.  Bukan hanya fisik kita yang hadir tetapi juga pikiran, hati dan perasaan kita. Saat kita mendengar bukan hanya mengoptimalkan peran telinga tetapi juga menggunakan mata untuk melihat bahasa tubuh, mimik wajah, tingkah laku orang yang sedang berbicara. Selain itu, gunakan pikiran dan perasaan kita untuk menangkap pesan sesungguhnya dan emosi mereka.

Kedua, menggali pikiran dan perasaannya. Apabila kita ingin memperjelas apa yang dimaksud oleh lawan bicara dan juga mengapresiasi perasaannya, kita boleh menggali atau mengajukan pertanyaan konfirmasi dengan tujuan untuk memahami pesan dengan tepat dan juga menangkap perasaannya. Bukan untuk mengevaluasi, menasehati, apalagi menghakimi.

Gunakanlah kata-kata yang digunakan oleh lawan bicara. Misalanya orang itu mengatakan “Pak, saya sebel banget dengan pimpinan baru saya saat ini.” Maka kita boleh mengajukan pertanyaan  “oh, saat ini Anda sedang sebel banget ya, kalau menggunakan skala 1-10, dimana 1 itu biasa saja dan 10 itu sebel banget. Kira-kira sebel Anda saat ini, berada di level berapa? Mengulang kata yang digunakan oleh lawan bicara akan membuat orang tersebut meyakini bahwa kita menyimak apa yang mereka sampaikan.

Ketiga, bersabar untuk tidak berkomentar. Orang memang cenderung berkomentar dengan sudut pandang, ilmu dan wawasan yang dimilikinya saat mendengarkan sesuatu. Mulai saat ini, bersabarlah untuk berkomentar mengevaluasi apalagi menasehati orang yang berbicara dengan kita.

Semula saya mengganggap, dengan berkomentar orang tersebut akan semakin menghargai dan respek dengan kita. Ternyata faktanya tidak. Mereka justeru akan menghargai dan respek dengan kita saat kita tidak berkomentar, kecuali setelah mereka meminta komentar dari kita.

Apabila ketiga hal tersebut di atas kita latih, secara perlahan pengaruh kita kepada orang lain terus meningkat. Apabila Anda pimpinan, pengaruh Anda kepada anggota tim semakin meningkat. Apabila Anda orang tua, pengaruh Anda kepada anak-anak juga akan semakin meningkat. Teruslah berlatih menjadi emphatic listener, berbagai keajaiban akan datang kepada Anda tanpa diundang.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com

Sebuah Perjalanan


Dunia kita adalah perjalanan menuju arah pulang. Saat angin berbisik pada dedaunan, juga pada siang yang hendak menarik malam, setiap diri selalu dalam pemantauan. 

Riak-riak senyum dan deru-deru tawa yang setiap hari tak lagi sama, menandakan bahwa semesta ini memiliki ceritanya, atas setiap pengaturan jalan takdir dari Tuhan. 

Jadilah, maka jadilah!

Jika genap bahagia bersama apa yang kita miliki, jika setapak demi setapak yang kita jalani, jika luka demi luka terus menyiksa diri, lantas sebenarnya kepada siapa kita hendak pulang? Kembali. Karena sejatinya diri kita bukanlah milik kita. Setiap kita ada yang memiliki. Ya, tentu, kita milik-Nya.

Nuansa berganti.

Awan mendung yang berarak, mengantarkan kita pada perjalanan hari. Menemui terik hingga turun hujan. Berbasah-basah sambil turut berdoa. Hari esok, mungkin pagimu lebih cerah tersenyum. Bahagiamu, mungkin akan ditemui pada titik oase yang paling tak disangka, perisitiwa sederhana yang bermakna. Kenangan yang akan kita kenang selamanya.

Semoga kita bisa bersama sampai pada perjumpaan langit. Saat terpisahnya jarak, membuat kita lebih taat. Saat waktu Allah titipkan agar kita semakin banyak mengintrospeksi diri lantas bertaubat daripada maksiat. Sampai tiba saatnya nanti, kita sadar pada pertemuan bersama bahwa kita sujud menghadap kiblat yang sama, dan hidup kita adalah ikhtiar untuk terus melintasi jalan pulang dengan bersungguh-sungguh menjaga keistiqomahan, menuju rumah yang sama.

Al-Kautsar | 

Kak Rostika Hardianti, S.Psi.

Mengingatkan Suami Itu Baik⁣


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Di antara persoalan yang paling menyedihkan ketika mendengarnya adalah mengenai sikap istri terhadap suami. Benar bahwa masing-masing hendaklah mendahulukan kewajiban daripada menuntut hak, tetapi menganggap buruk seorang perempuan yang mengingatkan suami atau meminta langsung haknya kepada suami tatkala suami lalai, merupakan perkataan yang sangat ganjil kalau tidak boleh dibilang bathil. Bersabar terhadap kezaliman suami itu baik, tetapi hak suami untuk diingatkan harus dipenuhi.⁣
Benar hanya kepada Allah Ta’ala kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan. Perkataan “iyya-Ka” menegaskan bahwa tidak satu pun zat selain-Nya yang berhak kita mintai pertolongan. Dan itu yang kita ikrarkan setiap shalat dan setiap kali membaca Al-Fatihah:⁣
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ⁣
“Hanya Engkau (satu-satunya) yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu (semata) kami meminta pertolongan.”⁣
Inilah ikrar yang harus kita pegang erat-erat dengan mengilmui. Jadi bukan menggunakan waham sehingga seolah setiap perkataan meminta atau memohon kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla itu bathil. Jika kaki Anda sedang sakit, sementara Anda perlu meminta tolong untuk mengambilkan sendok, mintalah suami atau anak untuk mengambilkan sendok. Itu bukan syirik. Seperti itu pula seorang istri yang meminta haknya dari suami, atau bahkan bukan dalam rangka meminta hak, melainkan justru untuk menolong suami agar tidak terjatuh pada kezaliman.⁣
Karena itu aneh sekali dan tidak sesuai dengan tuntunan jika ada yang mengajarkan “kalau suami tidak memberikan hak kita, jangan minta kepadanya, minta langsung sama Allah”. Sedemikian rupa sampai-sampai ibu-ibu takut menegur suami atau meminta uang karena khawatir tidak termasuk istri shalihah; tidak termasuk muslimah beriman. Padahal sama seperti kalau Anda menyuruh jasa pengiriman untuk mengirim paket, itu bukan berarti telah melakukan dosa karena meminta kepada selain-Nya. Bukan, Saudaraku. Bukan.⁣
Di masa Nabi ﷺ, pernah ada seorang perempuan bertanya mengenai apa yang dilakukan terhadap harta suaminya disebabkan suaminya pelit. Perempuan itu mengambil harta suaminya diam-diam, tanpa sepengetahuan suami. Lihat, apa yang dipesankan oleh beliau ﷺ kepada perempuan tersebut. Bukan menyuruh perempuan itu agar meminta kepada Allah Ta’ala untuk mengambil uang dari saku suami, tidak. Lalu apa yang dipesankan oleh Nabi ﷺ kepada perempuan tersebut? Mari kita tengok hadis berikut ini:⁣
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?”⁣
Nabi ﷺ bersabda:⁣
خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ⁣
“Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari & Muslim).⁣
Sungguh, yang paling mengenal Allah ‘Azza wa Jalla adalah Rasulullah ﷺ. Beliau yang paling teguh imannya, paling kuat tawakkalnya, paling ridha terhadap segala qadha dan qadarnya. Beliau sebaik-baik pemberi petunjuk. Dan apa yang beliau ﷺ sampaikan? ⁣
Ini semua memberi pelajaran kepada kita agar tidak serampangan mengambil kesimpulan dan menetapkan penilaian. Tidak pula gegabah menetapkan ukuran perempuan shalihah dan yang mengeluarkan darinya.⁣
Apa tidak boleh kita memohon rezeki kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Bukan saja boleh, bahkan sangat baik. Kita berdo’a sepenuh hati karunia rezeki yang halal dan dijauhkan dari yang haram, sekaligus memohon limpahan rezeki dari keutamaan-Nya sehingga tidak memerlukan kepada yang lain. Tetapi ini bukan untuk memintakan hak yang lupa ditunaikan oleh suami. Tugas Anda mengingatkan suami. Semoga yang demikian ini dapat menjadi sebab pahala serta dikumpulkannya suami-istri bersama-sama di jannah.⁣
Adapun jika seorang suami sudah diingatkan, sudah pula diperingatkan, tetapi justru berlaku zalim dan sewenang-wenang sehingga dapat membahayakan diri sendiri jika mengingatkan, maka kepada Allah Ta’ala kita adukan semua. Alangkah buruknya suami yang seperti itu. Sekiranya istri berlapang hati saat berdo’a, maka do’akanlah kebaikan bagi suami. Mohonkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang menggenggam hati manusia agar suami berubah menjadi baik.⁣
Pembahasan ini juga mengingatkan kepada para suami, bagaimana seharusnya sikap, tindakan serta perlakuan kepada istri serta keluarga secara keseluruhan. Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَاخَيْرُكُمْ لِأَهْلِي⁣
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).⁣
Dalam hadis yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا⁣
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isteri-isterinya”. (HR. Tirmidzi).⁣
Begitu. Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator Keluarga

Gurumu, Hormatilah!


Salah satu pintu-pintu ilmu adalah datang dari guru-guru kita. Anak-anak yang dahulu belum bisa membaca, terus belajar mengenal huruf A, B, C, D, dan seterusnya, tentu tidak lepas dari jasa seorang guru. Anak-anak bisa mengeja kumpulan huruf, SAYA, AKU, KITA, BANGGA, dan lain sebagainya, tentu tidak lepas dari bimbingan guru. Anak-anak jadi pandai membaca kata, kalimat, bahkan hingga paragrap, itu semua tidaklah lepas dari bimbingan serta jasa para guru. Anak-anak pandai menulis huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, bahkan paragrap demi paragrap, itu semua karena bimbingan guru. Anak-anak bisa berhitung 1, 2, 3, 4, dan seterusnya tentu berkat ketekunan dan ketelatenan para guru. Anak-anak bisa berhitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan rumus-rumus matematika lain, tentu juga tidak lepas dari bimbingan para guru. 

Simak edisi video di bawah ini :

Anak-anak waktu bayi diajari merangkat, berdiri, berjalan, makan, minum, berbicara, dan sebagainya itu juga bimbingan orang tua kalian sebagai guru-guru ketika di rumah. Sudah tentu banyak hal-hal yang baru kita tahu karena jasa seorang guru. Banyak hal-hal yang kita tidak paham harus ditanyakan kepada guru. 

MasyaAllaah.... kalau kita hitung satu demi satu, maka akan sangat banyak jasa para guru dalam hidup dan kehidupan kita. 

Ilmu datangnya dari Allah Taala melalui perantara guru-guru kita. Maka sudah sangat pantas bagi seorang murid menghormati dan menjaga adab kepada guru-guru mereka.

Nah, salah satu dari menjaga adab adalah, anak-anak tidak boleh memanggil dengan menyebut namanya secara langsung, misalnya nama guru kita Ahmad, maka jangan langsung memanggil "AHMAD", tapi panggilah dengan panggilan yang lembut, misal Bapak Ahmad, Ustadz Ahmad. Bahkan ketika anak-anak tidak bersama guru kalian.

Tidak juga memanggil dengan sebutan kamu, mu, dan lain sebagainya. Misalnya anak-anak bertanya kepada gurunya, "kamu sudah makan belum?" tapi panggilah dengan panggilan yang sopan, "Bapak sudah makan belum?", "Ustadz sudah makan belum?". Begitu juga ketika memanggil kepada Ayah-Bunda, Bapak/Ibu kalian, maka harus dengan sopan dan santun. Misalnya, "Ibu saya berangkat dulu yaa...", atau "Bapak, saya minta uang sakunya."

Tentu masih banyak lagi adab-adab murid kepada guru, adab-adab anak kepada orang tua. Karena pada saat ini, anak-anak sekalian belajar dari rumah bersama orang tua kalian sebagai guru-guru kalian. Jangan sampai guru-guru kita merasa sedih, karena murid nya berlaku tidak sopan, pun demikian, jangan sampai ayah dan bunda kita sedih karena anak-anak sering berbuat kesalahan.

Jika kalian melakukan kesalahan kepada guru-guru kalian, maka akui kesalahannya dan mintalah maaf kepada mereka. Gurumu, hormatilah!

TMT

Hikmah Dari Seorang Tunanetra


Oleh : Jami Azzaini

Saya pernah mendapat cerita dari sahabat saya tentang seorang tunanetra yang memberi pelajaran berharga.  Suatu malam, seorang tunanetra datang ke rumah salah satu warga di komplek perumahannya. Setelah acara ramah tamah selesai, tuan rumah menawarkan diri untuk mengantar pulang sang tunanetra. Namun dengan lembut dijawab “terima kasih pak, saya pulang sendiri saja, saya hafal jalan pulang ke rumah. Namun saya lupa membawa senter, tolong pinjami saya senter pak.”

Tuan rumah sedikit terkejut dengan permintaan tamunya sehingga secara reflek ia berkata “senter?” Tunanetra itu menjawab mantap “benar pak, senter.” Tuan rumah penasaran, ia pun memberanikan diri mengajukan pertanyaan “bukankah Anda tidak melihat? tidak ada bedanya khan Anda pakai senter atau tidak?”

Dengan senyuman manis sang tunanetra itu menjawab “saya memakai senter bukan untuk menerangi jalan tetapi untuk melindungi orang lain. Saat saya menyalakan senter maka orang lain melihat keberadaan saya sehingga mereka tidak akan mengalami kecelakaan yang merugikan orang tersebut dan juga merugikan saya.”

Begitu pula dalam situasi pandemik covid-19, kesadaran kita untuk memakai masker dan menjaga jarak, bukan hanya untuk kepentingan kita semata tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita. Itu juga pertanda bahwa kita tidak egois namun juga memikirkan kesehatan orang lain.

Hidup bukan hanya memikirkan diri kita tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Sebab apapun yang kita lakukan akan berdampak bukan hanya kepada kita tetapi juga kepada orang-orang di sekitar kita.

Sumber : www.jamilazzaini.com

Smart Phone, Smart Muslimah


Oleh: Khairul Hibri

Smart phone telah menjadi bagian kehidupan manusia modern saat ini, tak terkecuali bagi kaum wanita/muslimah. Jangankan kawasan perkotaan. Di pedesaan pun menjamur. Banyak ibu-ibu dan pemudi yang menggunakan gawai. Mudah sekali ditemukan. Di jalan umum, tempat keramaian, ataupun di emperan rumah, sambil mengawasi anak kecilnya yang tengah bermain.

Seperti  sebutannya; smart phone (telepon cerdas/pintar), seharusnya alat ini mampu mengantarkan pemiliknya menjadi sosok-sosok yang cerdas. Bila ia berada di bawah kendali seorang muslimah, maka dengannya muslimah kudu memanfaatkannya untuk menambah kecerdasan diri.

Bukan sebaliknya. Alat komunikasi yang dimiliki kadung cerdas. Tapi yang punya, masih tetap gitu-gitu saja. Bahkan cenderung dibodohi, karena senang mengonsumsi dan mendistribusikan hal-hal yang berunsur hoaks.

Ragam Kecerdasan

Lalu, kecerdasan apa sajakah yang bisa diasah melalui smart phone ini?

Banyak sekali. Tapi dalam catatan singkat ini, penulis mengerucutkan kepada tiga hal saja, yang penulis anggap cukup mendasar.

Pertama, meningkatkan kecerdasan spiritualitas dan intelektualitas muslimah. Untuk mengawali kupasan ini, penulis akan menarik pengalaman pada tahun 2000-an. Saat itu ada seorang sahabat bertutur tentang delimatika seorang muslimah, yang ingin mendalami ilmu Bahasa Arab secara privat.

Persoalannya, gurunya seorang ikhwan (pria). Sebab mencari seorang akhwat (perempuan), akunya sulit. Khawatir menjadi fitnah dan omongan tetangga, akhirnya akhwat dan teman itupun memutuskan untuk mengakhiri les privat Bahasa Arab itu. Meski sejatinya si akhwat

Kok sulit sekali, yah, kalau akhwat mau belajar secara privat,” curhatnya.

Kenapa bisa terjadi demikian? Dimaklumi saat itu smart phone belum semarak seperti saat ini. Untuk konteks kekinian, tidak ada lagi persoalan bagi para muslimah untuk mendalami ilmu-ilmu agama.

Banyak sekali ustadz yang pengetahuan keagamaannya mendalam, memiliki akun media sosial atau chanel youtube. Seperti Ust. Abdul Shomad, Ust. Adi Hidayat, AA Gym, dan sebagainya. Tinggal klik. Sesuka hati.  Pilih tema tertentu yang disukai. Ada akidah, akhlak, sejarah, fiqih, bahasa. Bahkan qiraa’ah  juga ada.

Apalagi di era pandemi ini. Banyak sekali seminar (webinar) atau pun sekolah-sekolah online, baik yang diselenggarakan oleh individu maupun instansi resmi. Semua ini peluang untuk membuka wawasan yang lebih luas lagi.

Bekal ilmu agar menjadi smart muslimah era modern ini sangatlah penting. Karena wasilah ilmu, sebagaimana yang diungkap oleh Imam Syfai’i, akan mengarahkan pemiliknya kepada jalan yang benar. Nuurullah (cahaya Allah SWT). Lebih dari itu, di tangan kaum wanita ini pula diserahkan kepengasuhan generasi-generasi Muslim mendatang.

Terbayang, bagaimana runyamnya generasi masa depan, bila sang ibu, lebih suka ber-selfie dan ber-Tik Tok-ria, ketimbang mendengarkan hal-hal yang positif, yang bisa membangun kecerdasan otak dan  jiwa. Anak akan meniru. Akhirnya lahirlah generasi-generasi lemah yang lebih suka narsis di media sosial, dan abai menghadiri majelis ilmu. Na’udzubillah min dzalik.

Jenis cerdas yang kedua; cerdas ekonomi. Sebelum era smart phone berkembang pesat, kaum wanita dituntut untuk keluar rumah manakala ingin bekerja. Tak ayal, keluarga terutama anak harus ditinggal. Atau dititipkan ke ibu asuh, atau ke tempat penitipan anak.

Era kekinian, sistem kerja kaum wanita seperti itu seharusnya tidak mendominasi lagi. Sebab, bila tujuannya untuk mendapatkan penghasilan. Maka dengan bermodal smart phone di tangan, sudah bisa membangun bisnis dari rumah.

Baca juga: Sayyidah Aisyah: Muslimah Intelek dan Kritis

Pilihannya pun banyak. Bisa dengan mengembangkan skil melalui pelatihan-pelatihan gratis di internet, kemudian dipasarkan. Atau membuka pasar on line. Tidak punya modal banyak, bisa dirintis dengan berperan  menjualkan barang orang lain (reseller/dropship).

Banyak sekali jutawan yang lahir dari bisnis online ini. Pangsa pasarnya sangat besar dan luas. Setali tiga uang. Berlimpah juga sosok-sosok mendadak kreatif gegara smart phone. Misal, keponakan  saya di kampung. Tetiba pandai sekali membuat kue dan memasarkan di daerah sekitar. Laris manis. Padahal mengakunya tidak bisa memasak. Diselidiki, ternyata ilmunya dari internet.

Efek positif yang akan didapat dengan menekuni dunia ini, selain peruntungan ekonomi, juga akan meminimalisir muslimah meninggalkan rumah/keluarga. Dengan demikian, rezeki lancar, keluargapun tidak ambyar. Karena tetap bisa berperan sebagai istri dan ibu secara maksimal di rumah. Insya Allah.

Selanjutnya, kecerdasan yang terakhir; menemukan komunitas nan baik yang senantiasa mengingatkan kepada ketaatan. Bila mendapati, ini adalah anugerah terbesar bagi seseorang. Karena bagaimanapun juga, sebagai orang beriman, butuh asupan ruhani, sehingga tetap bisa istiqomah meniti jalan Allah SWT. Sebab, sifat dasar dari iman; bertambah dan berkurang. “Khairul ash-haabi man yadullu ‘ala al-khairi (sebaik-baik teman adalah yang mengarahkan kepada kebaikan)”

Lebih dari itu. Mereka yang bersahabat dalam ketaatan, akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Dan kelak di hari akhirat, berpeluang memperoleh naungan langsung dari Allah SWT, di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks media sosial, banyak sekali komunitas yang terhimpun di dalam grup-grup. Baik itu FacebookWhatAppInstagram, dan lain-lainnya. Termasuk juga majelis-majelis ilmu online. Ada yang gratis. Adapula yang berbayar. Tinggal pilih. Cari yang sesuai dengan  keinginan. Kalau tidak sesuai dengan yang diharapkan, tinggal pamit undur diri, kemudian cari komunitas lain.

Seiring dengan menemukan komunitas salihah itu tadi, setali tiga uang, akan mendapatkan tempat curhat yang tepat. Amati sosok-sosok yang kiranya bisa menjadi tumpuan mencurahkan isi hati. Pastikan dia bisa menjaga rahasia. Dengan demikian, terurailah persoalan, tanpa harus terpublikasikan kepada khalayak.

Berbeda sekali bila meluapkannya di beranda medsos. Terkadang bukan solusi yang didapat. Malah cibiran dari teman-teman media sosial. Hal buruknya, urusan privasi menjadi santapan publik.

Jadi, ayo berusaha cerdaskan diri (be smart) dengan wasilah smart phone di genggaman. Insya Allah, status smart muslimah yang disayangi Allah SWT dan Rasul-Nya pun akan diraih. Allahumma aamiin.

*Pengasuh Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL), Surabaya

Sumber : www.hidayatullah.com

Setiap Ibu Berhak Memiliki Anak yang Sangat Mulia⁣


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣

Dia tidak yatim. Tetapi ayahnya berangkat ke medan jihad fii sabiliLlah ketika ia masih dalam kandungan. Ayahnya terhalang untuk segera kembali ke Madinah. Tidak tanggung-tanggung. Bukan setahun, bukan dua tahun. Tetapi berpuluh tahun. Satu rentang waktu yang cukup untuk mengantarkan Rabi’ah Ar-Rayyi ibn Al-Farrukh tumbuh menjadi sosok manusia dewasa tanpa kehadiran seorang ayah. Meskipun ayahnya ghaib alias tidak hadir dalam proses tumbuh kembangnya (fatherless), Rabi’ah Ar-Rayyi ibn Al-Farrukh tumbuh menjadi pribadi yang sangat matang, kokoh dan memiliki ilmu sangat tinggi. Dialah ulama hadis terbaik di kalangan tabi’in. Di antara yang berguru kepadanya adalah Imam Malik, guru dari Imam Syafi’i.⁣
Sebuah pelajaran, fatherless tidak menghalangi Rabi’ah Ar-Rayyi menjadi pribadi yang agung, sosok dermawan yang sangat berilmu. Single parent tetap memiliki hak untuk membesarkan anaknya menjadi pribadi yang hebat.⁣
Berbeda dengan Rabi’ah Ar-Ra’yi ibn Al-Farrukh, pada generasi berikutnya kita menjumpai sosok yang juga ahli hadis. Ia digelari Amirul Mukminin fil Hadis disebabkan kepakarannya dalam bidang hadis yang tidak tertandingi oleh ulama manapun di muka bumi pada saat itu. Ia masih sempat bertemu ayahnya, memperoleh didikannya, tetapi ayahnya wafat di saat ia masih kecil. Selanjutnya ia dididik oleh ibunya hingga ia baligh dan bahkan sampai umur dewasa.⁣
Ketika Sufyan Ats-Tsauri telah dewasa sedangkan ia masih menuntut ilmu, maka ibunya menyuruh menyuruh untuk terus mendalami ilmu hadis. Ibunya menyatakan akan membiayai sepenuhnya, padahal beliau termasuk orang yang sangat miskin. Ibunya memperoleh penghasilan dari upah memintal benang. Ini semua sekaligus menunjukkan bahwa membiayai mukallaf bukanlah kezaliman. Sungguh, sebaik-baik generasi adalah sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Dan Sufyan Ats-Tsauri termasuk yang terbaik dari generasi terbaik, yakni generasi tabi’ut tabi’in.⁣
Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah. Aku yang akan menanggungmu dengan usaha memintalku”. ⁣
“Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat bagimu.”⁣
Sekali lagi sebuah pelajaran bahwa setiap ibu berhak untuk memiliki anak yang hebat, bahkan paling hebat di antara orang-orang hebat, meskipun ia sendirian mendidik anaknya. Ia single parent. Pada saat yang sama ia adalah pelajaran bahwa setiap anak berhak untuk meraih kemuliaan yang besar dan derajat yang tinggi, meskipun hampir-hampir tidak merasakan kasih-sayang serta pendidikan dari ayahnya.⁣
Apakah kehadiran ayah tidak penting? Sangat penting. Tetapi jika ayahnya sudah tiada, maka tidak perlu membuatkan patung ayah di rumah agar kehadirannya terasa nyata. Sebaliknya meskipun ayahnya hidup, tidak ghaib (ada tetapi tidak jelas dimana atau ada tetapi praktis tidak hadir dalam kehidupan anak), bahkan bisa lebih buruk manakala ayahnya bukan saja rusak. Lebih dari itu merusak.⁣
***⁣
Memenuhi permintaan pembaca di media sosial, saya tulis sekedar contoh sederhana mengenai orang-orang hebat yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Fatherless. Contoh lain? Masih sangat banyak; di masa itu hingga masa-masa berikutnya yang amat jauh.⁣
Semoga bermanfaat dan barakah.

Mohammad Fauzil Adhim⁣, Penulis Buku-buku Parenting dan Pernikahan

Agar Masalah Tidak Lagi Menjadi Masalah


Oleh : Jamil Azzaini

Dua puluh tahun yang lalu, saya pernah mengalami masalah yang datang bertubi-tubi tiada henti. Bisnis bangkut, istri dirawat di ruang ICU, debt collector yang sering meneror dan derita-derita lainnya. Fakta ini membuat saya tertekan, stres dan terkadang mengalami kebingungan yang tiada ujung pangkalnya.

Saat saya mengadu ke mentor saya, ia hanya berkata “Setiap masalah tidak bisa diselesaikan. Jangan fokus menyelesaikan masalah, buat dirimu bertumbuh jauh lebih besar dan lebih kuat maka masalahmu menjadi tidak relevan.” Ia menambahkan dengan membuat analogi “bagi anak di bawah usia tiga tahun, membawa tas laptop itu berat. Namun bagi kita, membawa tas laptop itu ringan. Mengapa? Karena kita sudah jauh lebih besar dibandingkan tas laptop tersebut. Tas laptop sudah tidak menjadi masalah lagi bagi kita, sudah tidak relevan.”

Sejak itu, saya pun mencari tahu, bagaimana caranya agar kita bisa tumbuh lebih kuat dan lebih besar agar berbagai masalah yang kita hadapi menjadi tidak relevan lagi. Kita bisa menikmati hidup karena masalah sudah tidak lagi mendikte kehidupan kita.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan juga pengalaman saya memberikan treatment kepada banyak orang serta diskusi saya dengan sahabat dan guru saya mas Ahmad Faiz Zainuddin usai ia belajar keliling dunia, maka menurut saya, ada tiga langkah yang perlu kita lakukan agar kita bisa tumbuh lebih cepat dan kuat. Mau tahu? Berikut penjelasannya.

Pertama, Menggunakan “What If” Question (Bagaimana Jika?). Saat saya mau keluar dari Dompet Dhuafa (DD) Republika dan berganti profesi menjadi Inspirator pada tahun 2004, saya mengajukan pertanyaan ini. Bagaimana jika saya keluar dari DD Republika? Bagaimana jika saya ditolak pasar? Bagaimana jika latar belakang pendidikan Inspirator haruslah Psikologi?

Begitu pula saat saya menyiapkan pensiun dini dari CEO Kubik Leadership, dua tahun sebelum pensiun, saya sudah mengajukan pertanyaan “Bagaimana jika saya pensiun dari CEO Kubik Leadership? Bagaimana jika penghasilan tetap saya berkurang? Bagaimana jika ilmu-ilmu saya sudah tidak relevan dengan kebutuhan client? Dengan mengajukan pertanyaan Bagaimana Jika…? Saya lebih siap menghadapi apa yang terjadi.

Kedua, Terus bertumbuh. Awal dari perilaku kita adalah mindset, maka kita perlu memiliki Growth Mindset. Anda bisa memperdalam tentang Growth Mindset dengan membaca buku karya Carol Dweck yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tidak cukup mindset, sikap dan perilaku kita pun perlu terus bertumbuh. Kita perlu secara berkala menghilangkan dan mengurangi hal-hal yang tidak perlu, meningkatkan yang sudah menjadi kelebihan kita dan selalu menciptakan hal-hal baru.

Keahlian pun perlu ditingkatkan bahkan kita perlu terus menambah keahlian baru yang relevan dengan kebutuhan kini dan masa depan. Jangan pernah berhenti belajar. Dengan ini, kita terus bertumbuh.

Ketiga, Fokus kepada kelebihan dan peluang masa depan. Bila kita fokus kepada kelebihan dan kekuatan, yang ada dalam diri kita adalah rasa syukur yang berlimpah. Dan rasa syukur ini akan mengundang banyak kebaikan lainnya mendekat kepada kita. Selain kita fokus kepada kehidupan saat ini, kita pun perlu memikirkan berbagai peluang yang ada dimasa depan. Hal ini akan membuat kita selalu siap dengan apapun perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pendapat David L Cooperrider & Diana Whitney yang dituangkan dalam bukunya Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change.

Nah, apabila Anda masih sering merasa menghadapi masalah yang datang silih berganti, saatnya Anda melakukan tiga hal tersebut di atas agar masalah menjadi tidak relevan lagi bagi Anda. Selamat mencoba.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator Sukses Mulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Anak-anak yang Mati Rasa⁣


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣

Kelak akan tiba masanya, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dari pengetahuan yang dapat diperoleh dari Google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.⁣
Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:⁣
سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا⁣
“Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).⁣
Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.⁣
Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.⁣
Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.⁣
Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.⁣
Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.⁣
Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru. Pesantren tradisional telah melakukannya sudah lebih dari satu atau dua abad yang lalu. Tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.⁣
Apakah ini hanya terjadi pada anak-anak yang dimasukkan pondok pesantren alias boarding school? Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan sangat banyak anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren sama sekali dan mereka tidak memperoleh pendidikan adab (ta’dib) yang baik di rumah maupun sekolahnya. Sebaliknya kita dapati banyak pesantren, khususnya pesantren tradisional yang akarnya kuat (catat: akarnya kuat) memberi tempaan pendidikan adab yang sangat kokoh pada santrinya.⁣
Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.⁣
Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.⁣
------⁣
Tiba-tiba banyak yang menanyakan tulisan lama saya –pernah saya unggah di facebook ini juga—bertajuk “Anak-anak yang Mati Rasa”. Saya cari linknya di akun FB saya ini, tetapi tidak menemukan. Karena itu saya memilih untuk mengunggah ulang, semoga bermanfaat dan barakah.⁣
Pembahasan lebih lengkap mengenai hal ini juga telah saya unggah di facebook, tetapi tidak sebagai satu rangkaian judul. Salah satunya mengenai empati, betapa berpikir empatik saja tidak cukup.⁣
Sekedar catatan, semua anak saya yang sudah lulus SD belajar di pondok pesantren. Ada satu anak yang masih di rumah karena masih tingkat sekolah dasar. Tetapi dia sudah membicarakan pesantren yang ia inginkan sebagai tempat untuk belajar kelak.

Mohammad Fauzil Adhim⁣, Penulis Buku-buku Parenting
 
google.com, pub-2899497012032282, DIRECT, f08c47fec0942fa0