Mengajarkan “Membaca” Memang Sejak Lahir


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

💦 “Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca do’a penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan do’a, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan do’a yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian do’a, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdo’a sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.
💦 Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.
💦 Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an.
1️⃣ Memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untuk menghafal (memorizing) di kemudian hari.
2️⃣ Memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar.
3️⃣ Mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).
💦 Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan. Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca. Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.
💦 Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama, pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifat reciting aloud maupun reading aloud. Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur'an mereka kerap disebut dengan ungkapan "anak sudah memiliki bacaan Al-Qur'an yang sangat bagus" atau "anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.
💦 Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dan tafrith.
📌 Jadi, dapatkah kita mengajarkan membaca kepada anak semenjak kanak-kanak? Jika yang dimaksud adalah reciting aloud atau pun reading aloud, bahkan sejak bayi pun kita dapat mengenalkannya. Ini merupakan salah satu cara mengakrabkan anak dengan membaca yang sangat baik. Tetapi jika yang dimaksud dengan adalah mengajarkan simbol (huruf dan tanda baca) secara terstruktur kepada anak, maka kita perlu menunggu hingga mereka mencapai kesiapan membaca (reading readiness). Kesiapan ini memang bukan sesuatu yang kita hanya dapat kita tunggu kedatangannya secara pasif. Kita dapat memberi rangsang kepada mereka dengan banyak memberi pengalaman pra-membaca.
❓Apa yang terjadi jika kita mengajarkan membaca secara terstruktur pada saat anak belum memiliki kesiapan? Banyak hal. Salah satu akibat yang sangat mungkin terjadi adalah hilangnya antusiasme belajar pada saat anak memasuki usia sekolah. Dalam hal ini, ada tiga titik usia yang sangat penting, yakni 6, 10 dan 14 tahun. Kesalahan proses yang terjadi pada saat anak di play-group atau TK, mendatangkan masalah di saat anak usia 6 atau 10 tahun. Jika muncul di usia 6 tahun, kita lebih mudah menangani. Semisal, saat TK sangat bersemangat membaca, begitu masuk SD tak punya gairah sama sekali. Yang lebih sulit adalah jika masalah itu baru muncul di saat anak berusia sekitar 10 tahun. Awalnya cemerlang, tetapi kemudian kehilangan motivasi secara sangat drastis. Nah.
💦 Apalah Arti Mampu Membaca Jika Anak Tidak Punya “Mau”….
💦 Sebaliknya jika kita lebih menitikberatkan pada upaya membangun kemauan membaca, memanfaatkan kegiatan bermainnya untuk belajar, menanamkan cinta ilmu, membangun adab serta dorongan untuk siap berpayah-payah belajar demi memperoleh ilmu, maka anak akan lebih antusias terhadap belajar. Bersebab tingginya antusiasme belajar, sangat boleh jadi anak mampu membaca di usia dini melalui proses yang lebih alamiah. Di antara bentuk rangsangan belajar yang sangat baik adalah memberi pengalaman pra-membaca dalam bentuk reciting aloud (mengucapkan serangkaian ayat), lalu anak menirukannya.
💦 Jika ada memiliki adab dan antusiasme belajar, di usia dini ia bermain sambil belajar. Tiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Tetapi jika anak hanya memiliki kemampuan, sementara antusiasme tak terbangun, sudah usia sekolah pun ia masih cenderung belajar sambil bermain. Sekilas sama, tetapi sangat berbeda antara bermain sambil belajar (ia berusaha belajar bahkan di saat bermain) dengan belajar sambil bermain (bahkan di saat seharusnya belajar pun, ia masih main-main).
💦 Tingginya rangsangan membaca dalam bentuk melantunkan “bacaan” (reciting aloud) untuk ditirukan anak atau pun membacakan teks Al-Qur’an kepada anak (reading aloud) lalu anak ikut mengucapkannya, memudahkan anak menghafal. Jika proses itu dilakukan dengan baik, diikuti pengucapan yang benar dan fasih, anak ibarat memiliki blue print (cetak biru) ketika kelak benar-benar belajar membaca teks Al-Qur’an beserta kaidah-kaidahnya. Ia mudah memahami karena ia telah memiliki “bacaan” yang benar, sehingga tidak sulit baginya untuk melafalkan.
💞 Alhasil, benar bahwa kita memang dapat mengajarkan membaca kepada anak semenjak usia dini dan bahkan bayi, tetapi bukan berarti mengajarkan keterampilan memahami huruf dan mengucapkannya secara tepat sesuai kaidah-kaidah membaca. Yang perlu kita lakukan adalah membacakan untuk ditirukan atau melantunkan bacaan sehingga anak akrab dengannya dan mampu mengucapkannya dengan benar. Ini sangat bermanfaat di kemudian hari.
______
Sumber: Dunia Parenting
Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Membuat Anak Gila Membaca

Mulia Karena Taqwa, Bukan Harta

Oleh : Ulfah Hasanah 

Pada suatu hari, Nabi SAW duduk-duduk dengan para sahabat. Kemudian lewatlah seseorang di hadapan mereka. 

Lalu Nabi SAW bertanya kepada kami, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang itu?” 

Kami menjawab : “ Ya Rasulullah, ia keturunan bangsawan. Demi Allah, jika ia melamar seorang wanita, tentu lamarannya tidak akan ditolak. Jika ia mengusulkan sesuatu tentu akan disetujui oleh yang lain.” 

Nabi SAW berdiam diri tidak berkata apapun.

Tidak lama kemudian, seseorang lainnya lewat di hadapan mereka. 

Nabi SAW bertanya tentang orang itu kepada kami. 

Kami menjawab, “Ya Rasulullah, ia seorang muslim yang miskin. Jika ia meminang seorang wanita, tentu akan sulit untuk diterima. Jika ia mngusulkan sesuatu, maka akan ditolak. Jika ia berbicara, tidak ada orang yang akan mendengarnya.” 

Sabda Nabi SAW, “Orang Habsyi kedua itu lebih baik daripada orang pertama. Walaupun dunia dipenuhi orang pertama tadi, maka satu orang ini lebih baik dari mereka semua.”

Allah SWT tidak memandang seseorang dari segi keduniaannya. Terkadang, seorang muslim miskin dipandang rendah oleh orang lain, tidak memiliki keduniaan sedikitpun, dan jika ia berkata-kata maka tidak akan diperhatikan. Namun dalam pandangan Allah SWT ia lebih dekat kepadaNya daripada ratusan bangsawan terhormat yang dimuliakan orang banyak, memiliki keduniaan yang lebih dari cukup, tetapi dalam pandangan Allah SWT ia tidak memiliki kelebihan apapun.

Ulfah Hasanah, Seorang Pendidik, tinggal di Yogyakarta

Film NUSSA Tayang di Bioskop 14 Oktober


Film NUSSA garapan Visinema dan studio animasi The Little Giantz akan tayang di bioskop Indonesia pada 14 Oktober 2021 mendatang. Perilisan tersebut diumumkan bersamaan dengan rilisnya poster dan trailer terbaru dari film NUSSA.

Trailer NUSSA sudah bisa ditonton mulai 19 September melalui kanal YouTube Visinema dan Nussa Official, serta Instagram @filmnussa. Produser Film NUSSA, Anggia Kharisma, mengatakan bahwa film NUSSA kali ini ingin ditunjukkannya ke penonton sebagai nostalgia.

“Dengan dirilisnya offical trailer ini, saya berharap nantinya penonton dapat merasakan kembali memori dan kenangan ketika kecil. Bernostalgia sembari mengingat masa-masa ketika sedang asik bermain, bertualang, dan berimajinasi bersama sahabat dekat,” kata Anggia dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (20/9).

Tidak hanya fokus pada pesan dan ceritanya, film NUSSA juga memiliki visual yang berkelas. Apabila sebelumnya teaser trailer dan poster karakter NUSSA mendapat respon positif mengenai visualnya, official poster kali ini akan menunjukkan lebih detail lagi mengenai visualnya.

Pengembangan dari beberapa teknologi animasi pada film NUSSA akan memberikan pengalaman menonton terbaik ketika menonton filmnya. Film NUSSA juga didukung sejumlah bintang ternama, yakni Muzakki Ramdhan (Nussa), Ocean Fajar (Rara), Alex Abbad (Abba), hingga Fenita Arie (Umma).

Visinema menayangkan special screening pada 25-26 September film NUSSA akan tayang lebih dulu di beberapa kota. Adapun kota-kota yang mendapat kesempatan lebih dulu, yakni Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Untuk tiket special screening sudah dapat dibeli secara online melalui M-TIX.

Sumber : Republika

Menjadi Karyawan Allah SWT


Kemarin, saat perjalanan menuju rumah salah satu tokoh nasional untuk bersilaturahmi, di dalam mobil saya membaca sedikit sejarah sosok Malik bin Dinar. Lelaki ini ternyata pernah mencari perhatian (cari muka) kepada para pengurus salah satu masjid besar dimana ia tinggal. Satu tahun lebih ia melakukan berbagai aktifitas dengan tujuan diangkat menjadi salah satu pengurus di masjid tersebut.

Setelah satu tahun lebih, harapannya tiada kunjung tiba. Ia pun tersadar bahwa niatnya keliru. Ia pun memutuskan bertaubat, memohon ampun kepada Allah swt karena beribadah bukan karena-Nya tetapi karena ingin mendapat jabatan tertentu. Ia meluruskan niatanya, apapun yang ia lakukan hanya untuk Allah swt semata. Ia memutuskan untuk menjadi “karyawan” Allah swt.

Menariknya, saat ia pasrah dan memutuskan menjadi “karyawan” Allah swt justeru keesokan harinya datang tawaran agar ia menduduki jabatan yang sudah setahun lebih ia idam-idamkan. Malik bin Dinar menangis, ia merenungi keajaiban yang terjadi. Dengan tegas ia pun menolak jabatan yang ditawarkan kepadanya.

Usai membaca cuplikan sejarah Malik bin Dinar, saya teringat dengan sahabat saya Rezha Rendy,  Founder Pola Pertolongan Allah (PPA). Mas Rendy lah yang memperkenalkan istilah “karyawan” Allah swt kepada saya. Makna menjadi karyawan Allah swt adalah bahwa apapun yang kita lakukan hanya untuk-Nya, mengikuti aturan-Nya, meninggalkan larangan-Nya. Tugas utama kita adalah “mencari muka” atau mencari perhatian di hadapan Allah swt.

Saat kita memutuskan menjadi “karyawan” Allah swt maka semua kebutuhan kita akan dipenuhi, pengembangan diri kita akan ditopang, berbagai kesulitan hidup kita akan dipermudah,  berbagi solusi dan ide datang silih berganti, tiada henti.

Saya sedang berlatih mempraktekkannya, masih magang menjadi karyawan Allah swt. Meski saya masih magang, saya pun sudah merasakan mendapatkan banyak keajaiban.  Beberapa diantaranya, saya ceritakan dalam tulisan ini.

Pertama, bisnis yang menguntungkan. Bisnis bukan hanya sekadar urusan profit, cash flow, penguatan brand, pengembangan dan keberlanjutan tetapi juga tentang surga dan neraka.  Bisnis bukan soal professional semata tetapi juga berkaitan dengan spiritual. Mindset saya adalah “saya adalah makhluk spiritual yang sedang melakukan perjalanan profesional” Dengang kata lain, saya adalah karyawan Allah swt (makhluk spiritual) yang membersembahkan proses, cara dan hasil terbaik untuk-Nya (profesional).

Saat pandemic covid-19, banyak bisnis yang merugi bahkan bangkrut. Alhamdulillah, bisnis yang kami jalani dengan konsep saya menjadi karyawan Allah swt, tetap survive bahkan beberapa diantaranya mendapatkan profit (keutungan) yang lumayan. Bukan hanya pelanggan lama yang masih menggunakan jasa kami, perusahaan baru pun banyak yang mencicipi jasa yang kami tawarkan. Sungguh indah dan nikmat menjadi karyawan Allah swt, meski saya masih magang (berlatih)

Kedua, dihadirkan banyak orang hebat. Saat kami “mentok” dengan ide, gagasan, cara dan bingung menemukan solusi, tanpa kami duga, Allah swt mengirimkan orang-orang hebat dan pilihan untuk membantu kami. Berbagai solusi, kemudahan dan keajaiban datang bertubi-tubi. Saya terkadang menangis sendiri atas berbagai hal yang datang tidak terduga. Sungguh indah dan nikmat menjadi karyawan Allah swt, meski saya masih magang (berlatih)

Ketiga, dihadirkan ketenangan. Tentu yang juga sangat nikmat adalah dihadirkannya ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalankan peran sebagai pebisnis, inspirator, pengkader orang, kepala rumah tangga, dan peran-peran lainnya.  Gelisah, was-was, khawatir, emosi negatif dan penyakit hati lainnya memang terkadang masih muncul tetapi sudah tidak sesering dulu. Ya maklum, saya khan masih magang menjadi karyawan Allah swt.

Semoga saya lulus dalam proses magang ini, dan kelak saya benar-benar bisa diangkat oleh Allah swt, menjadi karyawan-Nya. Sungguh saya rindu dengan moment pengangkatan itu. Bisakah? Wallahu’alam.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator SuksesMulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Mendidik Generasi

Oleh : Akhid Nur Setiawan

"Kira-kira apa alasan Bapak Ibu menyekolahkan putranya di sini?" tanya petugas pendaftaran saat mewawancara calon wali murid. "Kami ingin anak kami jadi anak yang shalih, Ustadz."

"Baik. Kalau Bapak Ibu hanya ingin agar putranya menjadi anak yang shalih, sekolah lain mungkin banyak juga yang tujuan pendidikannya sesuai dengan harapan Bapak Ibu. Sayang kalau Bapak Ibu hanya ingin putranya menjadi anak yang shalih."

Kedua orang tua itu terdiam.

"Di sini," lanjut petugas.

"Kami berharap alasan orang tua menyekolahkan putra putrinya di sekolah ini sama dengan alasan kami mendirikan sekolah ini."

"Apa itu, Ustadz?" sang ibu penasaran namun merasa sedang berada di tempat yang tepat.

"Kita ingin tidak hanya mendidik anak yang shalih tapi sekaligus berusaha mendidik keturunan mereka menjadi keturunan yang shalih. Sayang jika doa kita hanya sampai pada anak-anak kita. Kalau bisa doa kita ditujukan sekalian untuk anak kita dan anak keturunannya."

Tak salah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu memilihkan istri untuk putranya. 'Ashim bin Umar dilamarkan seorang putri penjual susu. Seorang khalifah memilih menantu dari kalangan rakyat jelata. Apa yang sedang diharapkannya? Sesungguhnya khalifah Umar tidak hanya sedang memilihkan istri untuk putranya tapi calon penghulu shalihah untuk anak keturunannya.

Suatu malam Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu melakukan patroli dan mendengar dari luar rumah suara seorang putri menolak ide ibunya untuk mencampur susu dengan air agar penjualan susunya bisa mendapatkan untung lebih banyak. Rasa takutnya pada Allah membuat putri penjual susu itu nampak begitu istimewa di mata khalifah.

"Khalifah Umar tidak tahu, tapi Rabb-nya khalifah Umar Maha Tahu," tuturnya lembut pada sang ibu.

Kelak masyhur bahwa cucu dari manantu shalihah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu itu menjadi sultan yang amil zakatnya kesulitan mencari mustahiq di seluruh negeri karena kesejahteraan rakyat sudah merata pada masa kepemimpinannya. Dialah Umar bin Abdul Aziz, sultan yang dijuluki khalifah kelima. Ia lahir sebagai jawaban atas doa kakek buyutnya, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan 'Ajam.”

Rasulullah Muhammad, shalawat dan salam atasnya, utusan terakhir penutup para nabi, lahir dari garis keturunan bapaknya para nabi alaihimussalaam. Mungkin Nabi ibrahim tak pernah melihat pengabulan salah satu doanya itu usai meninggikan bangunaan Ka'bah, "Duhai Rabb, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka (penduduk Makkah) seorang utusan dari golongan mereka yang membacakan mereka ayat-ayatmu dan mengajarkan mereka kebijaksanaan dan menyucikan mereka."

Dari jalur Siti Sarah, lahirlah Nabi Ishaq sebagai putra Nabi Ibrahim. Nabi Ishaq memiliki putra yang juga seorang nabi yaitu Nabi Ya'qub. Menjelang ajal Nabi Ya'qub mengaminkan doa kakeknya dengan mengumpulkan seluruh putranya. Ditanyakan kepada para putranya, "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

Nabi Ya'qub merasa tenteram mendengar jawaban para putranya, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Iman Nabi Ibrahim yang lurus terus berlanjut. Nabi demi Nabi lahir dari garis keturunannya. Doa Nabi Ibrahim terpelihara dari generasi ke generasi. Sekian generasi dari doa itu dipanjatkan diutuslah di negeri Makkah seorang Nabi. Nabi itu menjadi tauladan hingga kini, shalawat dan salam teruntuk baginda Rasulullah Muhammad, semulia-mulia Nabi.

Beliau yang mulia mengajarkan kita do'a, "Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman..."

Iman kita hari ini tidak bisa dilepaskan dari iman para pendahulu kita. Barangkali kita bisa melaksanakan shalat bukan semata-mata karena mendapat karunia hidayah melalui doa yang kita minta. Boleh jadi shalat itu merupakan pengabulan atas doa-doa orang tua kita, kakek nenek kita, buyut kita, atau bahkan pengabulan doa Nabi kita, "Ya Rabb, jadikanlah aku penegak shalat, dan juga keturunanku."

Sudah sewajarnya dan sepatutnya jika saat ini kita munajatkan doa serupa untuk anak keturunan kita, untuk generasi-generasi setelah kita, bukan hanya untuk anak-anak kita.

Akhid Nur Setiawan, Pendidik Tinggal di Sleman

Tips Mengelola Pembelajaran di Masa Pandemi


Oleh: Untung Purnomo, S.Pd.

Pandemi berimplikasi terhadap semua sektor kehidupan manusia. Salah satunya sektor pendidikan . Salah satu subyek yang bersinggungan dengan sektor pendidikan ini adalah orangtua/wali murid. Di mana mereka menyampaikan banyaknya keluhan yang dirasakan oleh orangtua.

Keluhan-keluhan tersebut beraneka ragam. Belum siapnya orangtua mendampingi belajar anak, turunnya motivasi dan minat belajar anak, ketergantungan anak terhadap gadged, turunnya prestasi belajar anak dan lain sebagainya.

Kita memang tidak bisa lepas dari efek pandemi. Namun mengurangi efek bahkan jika mampu  menghilangkan itu adalah tugas bagi setiap orang. Apalagi sebagai sebagai guru atau pengelola lembaga pendidikan.

Ada beberapa skema yang bisa dilakukan oleh seorang guru. Pertama, perlunya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah sudah menjadi ketentuan dari Allah subhanahu wa taala. Datangnya pandemi karena Allah, maka hilangnya karena kehendak Allah juga. Keyakinan ini juga perlu dibarengi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah menjadi kebijakan dari pemerintah.

Kedua, perlunya membangun ikatan emosional yang erat antara guru dengan orangtua ataupun murid. Ikatan emosional ini bukan hanya sifatnya lip service, namun berlandasan dari hati nurani. Pengenalan terhadap masing-masing karakter siswa dapat membantu guru melaksanakan tahapan ini. Laporan perkembangan siswa dari guru wali kelas sebelumnya dapat dipakai sebagai landasannya.

Ketiga, guru perlu mengajak peran serta aktif orangtua dalam membimbing putra putrinya di rumah. Bisa jadi orangtua tidak mempunyai kemampuan secara materi terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Kesediaan guru dalam memberi bantuan terhadap kesulitan yang dihadapi orangtua dengan kunjungan atau memberi kesempatan secara lebar jika diperlukan menghubungi gurunya serta membangun komunikasi yang baik dirasakan sangat membantu bagi orangtua.

Keempat, respon positif serta memberikan timbal balik terhadap tugas anak sangat penting dilakukan. Adanya kepercayaan bahwa setiap tugas dievaluasi guru sangat membantu dalam menjaga kontinuitas anak belajar di rumah.

Kelima, kesediaan guru mendatangi anak manakala tugas tersendat atau saat anak mengalami kesulitan dapat membantu siswa memahami materi ajar yang dipelajarinya. Kegiatan ini dapat dilakukan secara privat ataupun klasikal.

Demikianlah beberapa skema yang dapat dilakukan guru di dalam melaksanakan tugasnya selama pandemi. Terakhir semoga pendemi yang terjadi di negeri ini segera berakhir dan proses pembelajaran dapat dilakukan secara ideal kembali.

Untung Purnomo, S.Pd., Pengajar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Negeri yang Menua⁣


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.⁣
Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi, kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Childfree. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak. ⁣
Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara. ⁣
Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini (September 2017) tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak. ⁣
Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga. ⁣
Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit. ⁣
Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor “kasar”, meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras. ⁣
Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga “berumur” agaknya sedang mengabarkan sesuatu. ⁣
Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%. Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar. ⁣
Wallahu a’lam bish-shawab. ⁣
GA 881 Narita – Denpasar, 26 September 2017⁣
Catatan:⁣
⁣Saya mencoba menelusuri data terbaru kependudukan di Yubari, tetapi tidak berhasil memperoleh pemutakhiran data. Kabar yang pernah saya terima, ambang kemusnahan di wilayah itu memang kian nyata. Kodokushi atau mati sendirian tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang menemani, merebak saat itu. Bukan hanya di Yubari. Saya tidak tahu keadaannya sekarang.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting

Allah Sang Pemberi Rezeki


Oleh : Ust Alimin Mukhtar

BILA Anda pergi ke Taman Safari atau Kebun Binatang, di sana terdapat beraneka ragam hewan. Masing-masing hidup dalam kerangkeng atau area tertentu yang membatasi gerak dan aktivitasnya.

Oleh karena itu, wajar jika mereka sangat bergantung kepada manusia untuk kelangsungan hidupnya. Jutaan rupiah dibelanjakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan, dan perkembangbiakan mereka.

Di sisi lain, film-film dokumenter buatan –misalnya – BBC Channel atau National Geographic menyuguhkan pemandangan berbeda.

Di padang-padang stepa dan sabana Afrika terdapat kawanan jerapah, antelop, badak, gajah, aneka jenis burung, dan beragam satwa lain yang masing-masing beranggotakan ratusan sampai jutaan individu.

Mereka hidup dan berkembang di alam bebas tanpa seorang manusia pun yang bertanggung jawab mengurusnya.

Pernahkah terpikir, bahwa untuk menghidupi beberapa ekor gajah di Kebun Binatang diperlukan sekian juta rupiah per bulan, lalu senilai berapa trilyun yang Allah belanjakan untuk merawat ribuan ekor gajah di Afrika? Ini baru satu spesies, bagaimana dengan ribuan spesies lain yang juga hidup di sana?

Bila Anda memiliki kolam atau akuarium, berapa biaya yang Anda anggarkan untuk merawatnya? Semakin besar ukuran akuarium atau kolam jelas semakin besar pula duit yang mesti disiapkan.

Belum lagi jika ia berisi ikan-ikan langka dan perlu perawatan khusus. Di saat bersamaan Allah memiliki laut-laut yang menggenangi duapertiga permukaan bumi, lalu masih ditambah jutaan sungai, rawa, dan danau yang tersebar di seantero dunia.

Jika seluruh perairan itu kosong tak berpenghuni, pasti simpel. Namun, faktanya tidak demikian. Entah berapa juta spesies flora-fauna yang Allah letakkan di sana, sebab dari tahun ke tahun selalu ada penemuan spesies baru, sementara masih banyak bagian samudera dan rimba yang belum terjelajahi sekaligus menyisakan misteri-misteri tak terungkap.

Jelas bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Karunia-Nya melimpahi segenap makhluk, bahkan sebelum mereka meminta dan tanpa mereka sadari. Maka, celakalah manusia yang meminta kepada Tuhan-tuhan selain Allah, sebab permohonan mereka pasti sia-sia belaka.

Tersesatlah mereka yang mempersembahkan sesajian kepada “penguasa” Laut Selatan atau penunggu tempat keramat ini dan itu. Dalam hal ini, sangat wajar bila Allah berulang-ulang mempertanyakan logika kaum musyrikin itu, bagaimana mereka bisa meminta rezeki kepada yang lain padahal hanya Allah-lah sumber rezeki yang sesungguhnya!?

Allah berfirman:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun, sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang?! Berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun mereka itu tidak dapat memberi pertolongan. Jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (yakni, berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah mereka dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau pun kamu berdiam diri. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar! Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku. Maka, (jika kamu bisa melakukannya) jangan memberi tangguh kepadaku!” (QS. Al-A’raf: 191-195)

Maka wajar bila Rasulullah pun pernah mendorong kita untuk mencintai Allah karena Dia telah menganugerahi makanan dan minuman.

Beliau bersabda,

“Cintailah Allah karena Dia telah memberi makan kalian dari nikmat-nikmat-Nya! Cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah! Dan, cintailah Ahli Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku!” (Riwayat at-Tirmidzi, al-Hakim, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab. Dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi).

Coba pikirkan, andai Allah menjadikan seluruh ibadah kita sebagai harga untuk sebagian dari nikmat-Nya, pasti tidak cukup.

Lalu, bagaimana orang-orang kafir dan musyrik akan membayarnya? Mustahil! Mestinya, jika ibadah dan iman adalah faktor di balik rezeki, tentunya hanya kaum beriman yang dilimpahi anugerah-Nya. Tetapi, tidak demikian faktanya.

Semua makhluk di alam raya ini Allah tanggung rezekinya, tanpa memandang keimanan maupun kekafirannya, bahkan tidak peduli apakah dia manusia, jin, hewan, maupun tetumbuhan!

Keliru pula anggapan sebagian orang bahwa keimanan seorang muslim sia-sia hanya karena mereka melihat sebagian besar kaum muslimin hidup miskin dan serba kekurangan. Hewan yang tidak mengenal syariat pun diberi rezeki, sehingga rezeki adalah manifestasi sifat kasih-Nya teramat luas, tidak berhubungan langsung dengan iman maupun kekufuran.

Semua manusia – siapa pun dia – telah dituliskan bagian rezekinya masing-masing, sejak ia masih dalam perut ibunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa ketika malaikat diutus untuk meniupkan ruh ke dalam janin, ia sekaligus ditugasi menuliskan empat hal bagi sang calon manusia itu, yakni: amalnya, rezekinya, ajalnya, dan celaka atau bahagia. (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud).

Jadi, Allah-lah Sang Pemberi Rezeki. Mintalah kepada-Nya! Dia telah menanggung penghidupan seluruh makhluk tanpa sedikit pun menelantarkan mereka. Maka, samasekali tidak sulit bagi-Nya untuk memenuhi permintaan Anda seorang! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar

Sumber : www.hidayatullah.or.id

Childfree, Sebuah Sikap Menyimpang!


Oleh: M. Anwar Djaelani

DI sekitar paro akhir Agustus 2021, masyarakat (terutama seperti yang terbaca lewat percakapan di media sosial) ramai membincang tentang Childfree. Istilah yang disebut terakhir itu mengacu kepada pasangan suami-istri yang memiliki sikap untuk tidak punya anak dalam kehidupan perkawinan mereka.

Lihat, misalnya, judul berita ini: Apa Itu Childfree? Ramai Dibicarakan setelah Gita Savitri Bahas Pilihannya Tak Punya Anak (https://m.tribunnews.com 20 Agustus 2021).

Kita ikuti petikan berita itu. Bahwa, topik Childfree ramai dibicarakan setelah YouTuber Gita Savitri secara terbuka mengungkapkan pilihannya untuk tidak punya anak. Di Instagram Story-nya, dia menjawab pertanyaan dari warganet soal pilihan hidupnya untuk Childfree. “IMO (menurut pendapat saya) lebih gampang ga punya anak daripada punya anak,” kata Gita.

Siapa Penyuara

Meski sebenarnya Childfree sudah lama dipraktikkan dan dibicarakan banyak orang, pilihan hidup Gita perlu kita kritisi. Hal ini penting, sebab jika kita biarkan, dikhawatirkan akan mempengaruhi sikap-terutama-kalangan muda umat Islam. Hal ini terkait dengan posisi Gita. Siapa dia?

Gita Savitri Devi, nama lengkapnya. Dia punya banyak aktivitas sekaligus predikat. Wanita berjilbab ini antara lain dikenal sebagai konten kreator video YouTube, penulis blog, penulis buku, dan influencer di media sosial.

Gita Savitri lahir di Palembang, 27 Juli 1992. Gita menetap di Jerman sejak umur 18 tahun saat memulai kuliah di sana, pada jurusan Kimia Murni di Freie Universitat – Berlin.

Gita Savitri mulai serius sebagai konten kreator untuk channel YouTube miliknya sejak tahun 2016. Di antara kontennya, video blog (vlog), travel vlog, video tentang Jerman, video soal kecantikan, Question and Answer (Q&A), meng-cover lagu, dan lainnya.

Pada 2017, Gita Savitri merilis novel pertamanya, ”Rentang Kisah”. Di tahun yang sama, ia juga merilis lagunya sendiri yang berjudul “Seandainya”.

Gita menikah pada tahun 2018. Penyanyi yang pernah mengisi acara Muslim Travelers di salah sebuah stasiun televisi itu tak mau ambil pusing dengan pendapat orang lain yang berbeda pandangan dengannya, yang tidak ingin memiliki anak (https://www.tabloidbintang.com edisi 16 Agustus 2021).

Anak; Sang Dambaan

Untuk apa menikah? Agar mendapatkan “Apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” yaitu keturunan. Cermatilah ayat ini: “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” (QS Al-Baqarah [2]: 187).

Selanjutnya, dalam Islam, naluri orangtua untuk suka dan cinta kepada anak ditegaskan lewat ayat ini: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imraan [3]: 14).

Terkait penegasan di ayat itu, soal fitrah para orangtua, maka sungguh mengherankan jika ada orang berkeluarga tapi tak menghendaki hadirnya anak-anak sebagai buah kasih dan sayang mereka. Kita perlu mempertanyakan, karena sikap tak ingin punya anak bisa dibilang sebagai melawan sifat asli bawaan manusia pada umumnya.

Sungguh, para orangtua adalah pendamba anak-anak. Mereka cinta kepada anak-anak yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Di titik ini, terutama pasangan suami-istri yang baru berkeluarga, akan tak putus berdoa agar Allah berkenan mengaruniai mereka anak-anak (yang shalih). Doa yang sama juga akan terus dipanjatkan oleh pasangan suami-istri yang belum kunjung dikaruniai anak meski telah lama menikah.

Doa-Doa Itu

Lihatlah, Nabi Zakaria As berdoa memohon dikaruniai anak: “Ia (Nabi Zakaria As) berkata, ‘Yaa Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaa Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, yaa Tuhanku, seorang yang diridhai’.” (QS Maryam [19]: 4-6).

Perhatikanlah, Nabi Ibrahim As berdoa, memohon diberi anak yang shalih:  “Yaa Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS Ash-Shaaffaat [37]: 100).

Bahkan, mereka yang masih mencari jodoh, diberi petunjuk agar berdoa semoga diberi pasangan dan-kelak setelah menikah-diberi pula anak-anak yang bisa menjadi qurrota a’yun (penghibur di kala melihatnya). Berikut ini doa yang dimaksud: “Yaa Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Furqaan [25]: 74).

Terang dan Jelas

Dari kajian ringkas di atas, maka pilihan untuk Childfree (tidak punya anak) tak memiliki tempat dalam Islam. Kita, berkeluarga, terutama untuk menyiapkan lahirnya generasi penerus sebagai hamba Allah. Dengan berkeluarga kita punya amanah untuk melahirkan generasi pelanjut yang punya kapasitas sebagai “Khalifah di muka bumi”. []

Penulis buku “Keluarga Sakinah Perindu Jannah”

Sumber : www.hidayatullah.com

Jika Semua Kita Keluhkan


Oleh : Hamid Abud Attamimi

HIDUP selalu ada pasangan pada setiap momen atau peristiwa. Tak cuma pada diri kita, bahkan pada alam disekitar, ada hujan dan panas, ada tumbuhan yang mekar dan layu, kucing kecil yang lucu berlarian kini sudah tumbuh besar mencari pasangan.

Ini tak patut cuma sekedar kita maknai sebagai fenomena alam, sebagai Muslim, hendaknya kesemuanya itu harus makin mempertebal keyakinan akan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Qur’an, Surat Yasiin:36)

Inilah Sunnatullah, sebagaimana janji-NYA, bahwa semua akan dipergilirkan, dan DIA melakukan semua itu atas murni kehendak-NYA. Sejatinya pengalaman berbeda pada apa-apa yang kita alami, niscaya akan berdampak pada ketahanan mental spiritual kita, seperti Allah sudah mengisaratkan dalam Al-Qur’aan, yaitu kita tidak terlalu gembira atas apapun yang kita raih dan bersedih atas apa yang luput.

Namun khilaf sering menyergap, ketika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, lazim sebagai musibah kita mengistilahkannya, lantas kita mengeluh berkepanjangan.  Padahal Sabar lah yang justru akan menjadi Penolong kita, semua berawal dan berakhir atas kehendak-NYA, bahkan mungkin kebaikan itu justru pada sesuatu yang tidak kita sukai.

Kita sering lebih mampu menyadari ketika kehendak-NYA terjadi pada orang lain, misalnya terucap dari diri ketika mendengar si Fulan wafat, lalu kita bergumam:”Ya.. dia sudah lama sakit.”

Atau ketika mendengar seorang teman mengalami musibah. kita berceletuk:”Dia sering ceroboh dan tidak hati-hati.”

Dengan lebih bijak kita sesekali berujar:”Itu sudah Qadarullah, dan tertulis disisi-NYA!”

Seandainya, hal yang sama mampu kita cerna dan sadari ketika terjadi pada diri sendiri, tak perlu kita keluh kesahkan, sebab mengeluh tak pernah menjadi solusi, bahkan cenderung membuat kita mencari siapa atau apa yang harus kita persalahkan.

Alih-alih berpikir tenang, introspeksi dan berpikir runut mengapa harus dialami, apa yang tak semestinya kulakukan atau selayaknya dilakukan, kadang kita mempersalahkan Si Fulan yang menyarankan ini itu, atau bahkan hujan dan suasana disekitar.

Saat ini jarak fenomena yang dipersepsikan sebagai musibah makin membayang di pelupuk mata, misalnya sakit, ajal, ketakutan, kehilangan mata pencaharian, kebingungan dalam memutuskan sesuatu, ketidaktahuan tentang apa yang terjadi.. dan banyak lagi, yang itu semua cuma punya arti satu, yaitu ketakberberdayaan kita.

Jika satu persatu hal tersebut di atas, taruhlah tidak semua, satu saja yang kita alami dan lalu kita mengeluh dan berkeluh kesah, bukankah bisa seharian suntuk kita kehilangan kemampuan untuk berpikir sehat?

Padahal yang sudah terjadi tak akan pernah mampu kita mengubahnya, tetapi kita selalu punya peluang untuk mengubah yang belum dan akan terjadi.   Tentu.. kita tidak memulainya dengan keluh kesah, atau  jika pun kita mesti mengadu. maka mengadulah pada, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Katakanlah: “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un”, lalu bersabar dengan tetap bermohon pada Allah akan anugerah sabar dan pertolongan untuk mengambil pelajaran dan menangguk hikmah.

Mengapa? Sebab dengan ini kita tak cuma mampu menyadari kelemahan diri, bahkan kita tau persis selalu ada peluang dan khabar gembira yang dijanjikan-NYA bagi yang bersabar.

Bahkan, kita mampu berbagi pengalaman dan meluaskan kesabaran bagi keluarga dan sahabat.* 

Hamid Abud Attamimi, Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

Sumber : www.hidayatullah.com

Bantuan Kuota Internet dan UKT Kemendikbud Cair Bulan September


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) akan kembali menyalurkan bantuan kouta internet bagi seluruh pelaku pendidikan, baik dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga universitas. Tak hanya itu, Kemendikbud Ristek mengalokasikan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi para mahasiswa yang terdampak kondisi ekonominya karena pandemi.

Mengutip laman kemendikbud.go.id, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mengatakan bantuan kuota internet akan disalurkan pada September 2021. Bantuan ini akan dibagikan selama tiga bulan ke depan, yakni 11 sampai 15 September, 11 sampai 15 Oktober, dan 11 dan 15 November.

Besaran kuota gratis Kemendikbud yang dibagikan berbeda-berbeda tergantung pada jenjang institusi pendidikan. Untuk tingkat PAUD, bantuan kuota internet yang disalurkan sebesar 7GB per bulan, sekolah dasar dan menengah sebesar 10GB per bulan, serta untuk pendidik PAUD dan sekolah menengah sejumlah 12GB per bulan.

Sementara itu, untuk mahasiswa dan dosen, besaran kuota yang diberikan, masing-masing 15GB per bulan. Masa aktif kuota akan berlaku tiga puluh hari sejak diterima.

Pemberian bantuan kouta lebih fleksibel dibanding dengan sebelumnya, yakni tidak adanya pembagian kuota utama dengan kuota belajar. Dengan demikian, seluruh kuota merupakan jenis kuota umum yang dapat mengakses semua aplikasi, kecuali aplikasi yang tidak berhubungan dengan pendidikan.

Agar bantuan kuota tersebut sesuai sasaran dan mengurangi potensi kuota terbuang karena tidak terpakai, Kemendikbud Ristek menyiapkan dua mekanisme utama. Pertama, dengan mengganti kuota menjadi kouta umum. Kedua, menyortir pengguna yang sudah tidak aktif di ronde pertama dihapus dari daftar penerima bantuan kouta.

Terkait dengan bantuan UKT, sebagaimana dilansir dari laman kemendikbudristek.go.id, bantuan UKT yang diberikan yaitu maksimal sebesar Rp2,4 juta. Selain itu, sasaran dari bantuan UKT ini adalah mahasiswa aktif yang kondisi finansialnya terdampak pandemi COVID-19, tetapi bukan termasuk penerima bantuan KIP atau Bidikmisi.

Bantuan ini disalurkan langsung Kemendikbud Ristek kepada perguruan tinggi masing-masing sehingga apabila UKT yang ditetapkan melebihi Rp2,4 juta maka perguruan tinggi akan mengatur selisihnya sesuai dengan kebijakan masing-masing.

Sumber : www.tempo.co/

Menerima Kehadiran Anak Perempuan


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Orang-orang Arab di zaman Jahiliyah sangat kecewa dan bahkan marah apabila istrinya melahirkan anak perempuan. Kecenderungan ini juga ada di berbagai suku maupun ras di berbagai belahan bumi, hingga hari ini, sehingga menyebabkan mereka menolak bayinya.⁣
Allah Ta’ala berfirman:⁣
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ⁣
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, jadilah wajahnya hitam suram, dan dia sangat marah.” (QS. An-Nahl, 16: 58).⁣
Kecenderungan ini berlaku umum pada saat itu. Mereka menganggap anak perempuan sebagai musibah, merendahkan derajat dan kehormatan, memutus garis keturunan, menyusahkan, sulit mendidiknya dan berat merawat serta menjaganya. Dan Islam datang membalik keadaan itu. Yang pada mulanya anak perempuan dianggap sebagai kehinaan, Islam meninggikan kemuliaan mengasuh, merawat dan memberikan sebaik-baik pendidikan kepada mereka.⁣
Ungkapan “ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا” bermakna jadilah wajahnya hitam menunjukkan kekecewaan yang amat sangat dan menyebabkan kemarahan. Wajah merupakan jendela hati. Wajah yang berubah menjadi hitam suram menandakan hati yang sangat kecewa, tidak menerima ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka Islam membalikkan keadaan dengan meninggikan kemuliaan mengasuh serta mendidik anak perempuan sepenuh perhatian dan kesungguhan.⁣
Dari Anas bin Malik radhiyaLlahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ⁣
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ⁣
“Barangsiapa yang menanggung-mengurusi (عَالَ) dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku. [Anas bin Malik berkata, Nabi ﷺ menggabungkan jari-jari jemari beliau].” (HR Muslim).⁣
Beliau ﷺ juga bersabda:⁣
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ⁣
“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka dan memberi makan mereka, memberi minum, serta pakaian dari kecukupan (rezekinya), maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah).⁣
Ini adalah sebagian hadis mengenai keutamaan menerima kelahiran anak perempuan, merawatnya, menafkahi dengan sungguh-sungguh, mengasuh, merawat dan mendidiknya hingga dewasa sekaligus benar-benar memiliki kedewasaan. Bukan menunjukkan bahwa mendidik anak perempuan lebih sulit, lebih melelahkan dan merepotkan. Ini penting untuk kita catat agar kita tidak merumit-rumitkan urusan seolah mendidik anak perempuan memerlukan ilmu yang sangat khusus sehingga panduan agama tak lagi mencukupi.⁣
Pelajaran lainnya adalah betapa penting orangtua menerima kehadiran anak dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Laki-laki maupun perempuan adalah amanah yang datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bersungguh-sungguh mendidik mereka, mengurusi dan mengeluarkan biaya untuk keperluan mereka merupakan kemuliaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla jika melakukannya sebagai bagian dari ketaatan dan penerimaan terhadap segala ketentuan-Nya.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Guru dan Penulis Buku