Pujian yang Tidak Mendidik



Oleh : M Abdurrahman



Orangtua pastinya akan  melakukan banyak hal untuk bisa membangun semangat anak dalam belajar. Salah satunya adalah dengan seringkali memberikan pujian sebagai penghargaan atas pencapaian yang dilakukan oleh anak-anak. Dengan diberikan pujian, seolah memberikan semangat dan motivasi baru pada anak agar mereka berusaha lebih keras dan menikngkatkan kemampuannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun, meskipun pujian terkadang memang diperlukan dalam rangka membangun semangat pada diri anak. Ternyata, terlalu banyak memberikan dan mengobral pujian pada mereka juga berdampak tidak baik. Mengapa demikian? Ketika anda seringkali memuji anak atau bahkan nada pujian ini seolah bernada memuja anak-anak dengan mematikan oranglain yang notabene adalah kompetitornya, akan dapat berdampak tidak baik pada mental si anak.

Keseringan memuji anak dengan nada yang berlebihan akan membangun mental pada anak yang mana mereka cenderung lebih berpikir hanya dirinya yang terbaik dan mengganggap oranglain berada dibawahnya. Nah, ketika mental seperti ini terbangun dalam diri anak, maka yang terjadi adalah kekhawatiran kita sebagai orangtua.

Sewaktu harapan anak yang menganggap dirinya adalah yang terbaik dan orang lain tidak akan bisa menandingi kemampuan, namun hal ini tidak berbanding lurus dengan kenyataan sebenarnya. Maka bisa jadi tekanan yang hebat dan kecewa yang mendalam menerpanya. Alhasil, depresi dan bahkan frustasi adalah hal yang akan dihadapinya dengan susah payah.

Ada beberapa pujian yang sebaiknya tidak dikatakan pada anak. Pertama, “Kamulah yang terbaik di kelas”. Biasanya perkataan ini diucapkan orangtua ketika anak memperoleh nilai ulangan terbaik di kelas. Atau mendapat peringkat pertama di rapot, Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Sudah tentu orangtua akan memuji anak atas capaiannya tersebut. Namun, jika tidak hati-hati dalam memuji, justru bisa melemahkan mental anak.  Memuji anak dengan menyatakan bahwa mereka adalah yang terbaik di kelas secara tidak langsung membentuk pola pikir baru pada anak yang mana mereka beranggapan bahwa pencapaian mereka adalah sesuatu yang hebat, namun dengan membuat mereka berpikiran jika teman-teman yang lainnya tidak akan mampu lebih hebat dari kemampuannya.

Nah, jika hal ini terjadi pada anak anda, maka tebak hal apa yang akan terjadi dengannya? Ya, karakter arogan dan merasa dirinya paling hebat akan secara otomatis tertanam dalam diri anak. Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan? Untuk itulah, ketika anda hendak menyampaikan pujian pada anak-anak atas pencapaiannya di sekolah. Maka sebaiknya, perhatikan kalimat yang akan anda sampaikan. Sampaikan pada anak dengan lembut dan upayakan maksud anda tersampaikan dengan baik yang akan membuat mereka termotivasi untuk lebih baik.

Kedua, kamu hebat! Memberikan pujian dengan mengatakan “kamu anak hebat” memang boleh-boleh saja disampaikan pada si buah hati. Akan tetapi, anda juga harus piawai membaca situasi, apakah anak anda benar-benar layak diberikan pujian hebat atau tidak. Jika ia hanya berhasil merapikan kamar tidurnya atau mempersiapkan buku pelajaran untuk dipelajari esok hari di sekolahnya, apakah anda tidak berpikiran jika memberikan pujian ini terlalu berlebihan? Sebaiknya, jangan mencipatakan kesan bahawa anak tidak perlu berjuang keras dan mengupayakan segala hal pun mereka akan meajadi seseorang yang hebat.

Nah untuk itulah, sebaiknya perhatikan sewaktu ibu memberikan predikat ini pada si kecil. Daripada menghujani si kecil dengan pujian yang demikian, sebaiknya ijinkan anak untuk mengerjakan pekerjaan yang terkesan lebih sulit dan sedikit menantang di usianya. Seperti memberikan support agar anak ikut lomba MIPA atau lomba pelajaran lain yang sedikit menguras otaknya. Nah, pada waktu inilah anda bisa memberikan predikat 'anak hebat' pada si kecil. Dengan begini mereka akan mampu berpikir bahwa untuk menjadi anak yang hebat mereka perlu menaklukan dan melalui tantangan yang cukup sulit untuknya.

Ketiga, “Kamu paling berani, yang lain penakut.” Sewaktu anak diikut sertakan dalam sebuah tantangan seperti mengikuti lomba, anak berhasil melewati tantangan lomba dengan sangat baik. Tidak seperti anak lain yang terlihat rewel atau takut. Pada situasi ini, memang tidak salah memberikan pujian pada anak atas keberaniannya dalam menaklukan tantangan tersebut. Namun, anda juga perlu mengingat bahwa pujian tersebut tidak boleh disertai dengan nada merendahkan oranglain, apalagi membandingkan bahwa oranglain penakut dengan menyebutkan anak anda paling berani. Memberikan pujian seperti, "Kamu berhasil menaklukan tantangan itu, sayang. Mama sangat bangga padamu", saja cukup membuat kerja keras anak dihargai dengan baik.

Selain itu, agaknya akan lebih baik jika anda mempercayakannya pada kemampuan anak anda dibandingkan dengan terus-menerus memuji anak dengan seolah menaikan derajat mereka lebih tinggi dari anak-anak lainnya. Percayalah, hal ini malah akan semakin membuat harapan anak akan kemenangan semakin besar, sementara ketika harapannya ini tidak sebanding dengan kenyataan, maka yang akan mereka dapatkan adalah kekecewaan. Nah, ketika anak sudah kecewa, hal yang paling ditakutkan terjadi pada mereka adalah keengganan dan rasa percaya diri mereka yang lenyap dan enggan mencoba kembali.||

Penulis : M Abdurrahman, Pemerhati dunia anak 
Foto     : Google 



Semangat Belajar di Pekan Pertama Sekolah



Oleh : Slamet Waltoyo 

Peralihan semester diselingi dengan libur sekolah. Bagi sekolah, libur dimanfaatkan untuk persiapan kegiatan belajar pada semester berikutnya sehingga ketika masuk awal semester sekolah sudah mempunyai kesiapan.  Bagi anak, libur sekolah adalah saatnya refreshing. Melepas kepenatan dari padatnya kurikulum. Sehingga ketika memasuki awal semester, ada rasa tidak ingin mengulangi kepenatan lagi.

Bayangan rutinitas kegiatan belajar di sekolah, aturan yang mengekang “kenyamanan”, membuat anak kurang bersemangat dalam memulai kegiatan belajar. Padahal memulai dengan semangat adalah momen yang amat penting. Maka sekolah atau guru secara pribadi harus mengelola secara khusus hari-hari pertama anak masuk sekolah agar momen semangat saat memulai bisa didapatkan.

Pada dasarnya anak akan bersemangat melakukan sesuatu kalau sesuatu itu ia butuhkan. Sesuatu itu penting baginya. Ini menjadi dasar kita mengelola hari-hari pertama belajar. Kita harus berusaha meyakinkan pada anak bahwa materi pelajaran yang akan dipelajari itu penting baginya. Bagaimana caranya?

Pertama, guru membuka kembali kompetensi dasar apa saja yang harus dipelajari anak pada semester ini. Tidak perlu semua kompetensi dasar. Cukup beberapa kompetensi dasar saja pada beberapa muatan. Misalnya muatan matematika, muatan IPA, muatan IPS dan sebagainya.  

Kedua, menghubungkan kompetensi-kompetensi dasar tersebut dengan sesuatu yang membanggakan bagi anak. Baik itu berupa hasil teknologi maupun suatu profesi. Hubungannya adalah bahwa hasil-hasil teknologi maupun profesi yang membanggakan ini dimulai dari dasar. Dibangun dari kompetensi-kompetensi dasar yang akan dipelajari oleh anak di semester ini.

Ini yang kita kelola. Kita konkritkan. Anak kita bawa untuk melihat langsung hasil teknologi yang membanggakan. Atau anak kita ajak mengunjungi orang-orang professional yang anak banggakan. Ini banyak kita jumpai di perguruan tinggi atau lembaga-lembaga lainnya.

Maka kegiatan yang bisa kita lakukan pada hari-hari pertama belajar antara lain kunjungan sekolah atau kunjungan kelas. Pilihan tempat yang bisa menjadi sasaran kunjungan antara lain; laborium pada Perguruan Tinggi, laboratorium pada dinas-dinas pemerintahan, misalnya pertanian, tenaga nuklir, penerbangan, kesehatan, ataupun perkantoran misalnya Polri dan TNI.  Banyak pilihan disesuaikan dengan keberadaan dan jarak tempuh karena kunjungan ini dikelola dalam jam pelajaran.

Kita bisa bekerjasama dengan meminta bantuan agar dalam kunjungan ada personil setempat yang berkenan memberikan informasi. Informasi berupa pengayaan kepada anak-anak tentang obyek yang dikunjungi dihubungkan dengan kompetensi dasar yang harus dipelajari oleh anak-anak. Tentu sebelumnya kita menginformasikan tentang kompetensi dasar yang akan dipelajari anak terkait dengan obyek kunjungan.

Jika tidak memungkinkan mengadakan kunjungan maka cara lain yang bisa dilakukan adalah menghadirkan orang-orang professional dari lembaga yang bersangkutan. Syukur ada obyek konkrit yang dibawa atau model yang bisa ditunjukkan kepada anak. Kita mohon bantuan kepada beliau untuk memberikan wawasan kedepan dan kesiapan yang harus dipelajari oleh anak-anak. Kompetensi dasar yang harus dimiliki sejak dini.

Sebenarnya informasi demikian bisa kita berikan dari koran, majalah, jurnal, maupun internet.  Tetapi bentuk kunjungan keluar akan lebih disukai oleh anak. Pada hari-hari pertama anak tidak langsung belajar di kelas, melainkan kita kembali mengingatkan budaya sekolah, tata tertib sekolah pada saat jam kunjungan. Kunjungan dengan mengatur jam pelajaran.||


Penulis : Slamet Waltoyo, Redaktur Majalah Fahma
Foto     : Atin

Tentang Subyektif dan Obyektif

Oleh : O. Solihin
Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.
Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalisme–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu.
Saya sampaikan di sini, berdasarkan pengalaman juga tentunya, bahwa tidak pernah ada yang namanya media massa yang obyektif dalam pemberitaan. Sebab, jika memang ada, semua pesan yang ada seharusnya menjadi menu berita sebuah media. Nyatanya? Nggak begitu. Semua sudah disaring, sampai-sampai sekadar surat pembaca pun itu akan ditampilkan setelah diseleksi di sana-sini, mungkin ditambahi ini dan itu oleh redaksinya.
Nggak usah bingung. Itu wajar saja kok. Selama saya bekerja di penerbitan Islam, memang selalu harus ada keberpihakan kepada kepada sesuatu, dalam hal ini berpihak kepada kebenaran. Cenderung membela Islam. Kamu kudu tahu, mana mungkin kan kita yang menggembar-gemborkan kampanye antipacaran, tapi tiba-tiba memasukkan tulisan yang justru propaganda pacaran? Itu sebabnya, memang tidak ada media yang obyektif. Tidak satu pun di dunia ini. Semua berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuatnya.
Oke, berangkat dari kenyataan ini, apa yang bisa kita lakukan ketika akan menulis? Di sinilah kamu kudu belajar juga tentang kesadaran politis. Unsur pendukung kesadaran politik itu adalah pandangannya mondial alias mengglobal, dari kelas RT sampe kelas dunia. Kedua, kudu dilakukan dengan zawiyatun khashah alias sudut pandang yang khas. Nah, itu artinya kamu kudu bertindak subjektif dan objektif. Kok bisa? Iya, itu artinya, setiap kamu menyeleksi berita atau akan membuat tulisan, pastikan kamu udah bertindak objektif sekaligus subjektif. Masih bingung?
Begini penjelasannya. Cara paling mudah untuk melakukan ini adalah saat kamu membaca, menyaring berita, mengumpulkan data dan fakta, pastikan itu objektif. Artinya, memang frakta dan data itu benar adanya. Bukan hasil karangan, tebakan, atau prasangka lainnya dari pikiranmu. Semua data itu kudu didapatkan dengan hasil seobjektif mungkin. Bahkan bila perlu dari sekian banyak sumber. Nah, kalo kebetulan ada perbedaan dalam penyajian fakta itu, pastikan kamu kroscek dengan mengandalkan subjektifitas kamu sebagai seorang muslim. Ya, sudut pandang Islam itu harus dipakai dalam bersikap. Jadi, standar untuk melakukan penilaian itu adalah sudut pandang Islam. Bukan yang lain. Di sinilah mengapa kita harus subjektif. Iya dong, masak kita mau percaya kepada kabar dari selain Islam? Tul nggak?
Bagaimana kalo berita dari kalangan Islam justru khawatirnya malah yang salah? Oke, kita bisa menilai suatu informasi atau data atau fakta itu salah atau benar adalah dari tingkat kenyataan di lapangan dengan membandingkan hasil investigasi dari orang lain untuk masalah yang sama itu. Sebab, meski mebela Islam, bukan berarti kita mengabaikan aspek profesionalisme. Nggak lah. Kita justru kudu bisa membangun keberpihakan kepada Islam itu dengan cara mengkoordinasikan antara fanatisme, militansi, dan juga profesionalisme. Artinya, kita nggak mudah terkecoh oleh kabar dari pihak-pihak yang menyudutkan Islam, tapi juga terhindar dari taklid buta terhadap informasi yang muncul. Jadi, kudu main cantik memang.
Tugas kita dalam menulis berita tentang Islam dan kaum muslimin, tentunya kita pastikan sumbernya dari kalangan kita sendiri. Boleh juga dari kalangan yang lain, asal benar-benar sudah terbukti kenyataannya. Sekali lagi, ini bukan menafikan peran media asing dalam memberikan informasi kepada kita, tapi kita sekadar bersikap waspada. Jangan sampe kita malah menjadi mesin penghancur bagi Islam itu sendiri.
Nah, inilah yang saya maksud mengapa kita harus pandai dalam menilai suatu informasi atau data. Salah-salah, malah bikin berabe di kemudian hari. Jadi, carilah data sesusai prosedur dalam pencarian data dan informasi sumber berita pada umumnya, tapi sudut pandang penilaian tetep dengan kerangka berpikir Islam. Objektif tapi sekaligus subjektif. Kita males tuh dikibulin terus dengan pemberitaan aneh bin ajaib media asing yang nggak suka dengan kebangkitan Islam.
Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika ratusan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, Bro!
Contoh lain masalah ini adalah kasus terorisme selama ini. Terakhir Amerika sepertinya berusaha mengakhiri war on terrorism-nya dengan episode berita tewasnya Osama bin Ladin oleh pasukan US Navy Seal pada 1 Mei 2011. Begitu banyak opini dilancarkan. Beritanya malah nyaris tidak ada. Pembaca dan pemirsa disuguhi berita yang sudah diselipi dengan opini.  Tujuannya, Amerika berharap bisa mendapat simpati publik dunia atas keberhasilannya membunuh musuhnya. Opini yang kadung berkembang seputar terorisme adalah mencitraburukkan Islam dan kaum muslimin.  Itu sebabnya, amat wajar jika kita menilai dan menulis sebuah berita atau tulisan dengan sudut pandang Islam. Bukan yang lain. But, tetep menjaga profesionalisme dalam mencari berita dengan mengedepankan keobyektifan terhadap masalah yang dibidik. Oke deh, paham kan?
Jadi, mulai sekarang menulislah dengan data selengkap-lengkapnya dan seakurat-akuratnya. Tapi ingat, hasil akhir dan arah berita or tulisan itu adalah dengan sudut pandang Islam. Kudu ada keberpihakan kepada Islam yang tinggi. Memang harusnya begitu kok. Oke deh, selamat mempraktikkan dan tetap semangat wahai para calon jurnalis muslim pembela Islam!

*) O. Solihin, Penulis dan Motivator Remaja
Sumber : www.osolihin.net

Mengajarkan “Membaca” Memang Sejak Lahir

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

“Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca do’a penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan do’a, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan do’a yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian do’a, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdo’a sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.

Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.

Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an. Pertama, memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untuk menghafal (memorizing) di kemudian hari. Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar. Ketiga, mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).

Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan. Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca. Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.

Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama,pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifat reciting aloud maupun reading aloud. Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur'an mereka kerap disebut dengan ungkapan "anak sudah memiliki bacaan Al-Qur'an yang sangat bagus" atau "anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.

Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dan tafrith.

Jadi, dapatkah kita mengajarkan membaca kepada anak semenjak kanak-kanak?  Jika yang dimaksud adalah reciting aloud atau pun reading aloud, bahkan sejak bayi pun kita dapat mengenalkannya. Ini merupakan salah satu cara mengakrabkan anak dengan membaca yang sangat baik. Tetapi jika yang dimaksud dengan adalah mengajarkan simbol (huruf dan tanda baca) secara terstruktur kepada anak,maka kita perlu menunggu hingga mereka mencapai kesiapan membaca (reading readiness). Kesiapan ini memang bukan sesuatu yang kita hanya dapat kita tunggu kedatangannya secara pasif. Kita dapat member rangsang kepada mereka dengan banyak memberi pengalaman pra-membaca.

Apa yang terjadi jika kita mengajarkan membaca secara terstruktur pada saat anak belum memiliki kesiapan? Banyak hal. Salah satu akibat yang sangat mungkin terjadi adalah hilangnya antusiasme belajar pada saat anak memasuki usia sekolah. Dalam hal ini, ada tiga titik usia yang sangat penting, yakni 6, 10 dan 14 tahun.Kesalahan proses yang terjadi pada saat anak di play-group atau TK, mendatangkan masalah di saat anak usia 6 atau 10 tahun. Jika muncul di usia 6 tahun, kita lebih mudah menangani. Semisal, saat TK sangat bersemangat membaca, begitu masuk SD tak punya gairah sama sekali.  Yang lebih sulit adalah jika masalah itu baru muncul di saat anak berusia sekitar 10 tahun. Awalnya cemerlang, tetapi kemudian kehilangan motivasi secara sangat drastis. Nah.


Apalah Arti Mampu Membaca Jika Anak Tidak Punya “Mau”….

Sebaliknya jika kita lebih menitikberatkan pada upaya membangun kemauan membaca, memanfaatkan kegiatan bermainnya untuk belajar,menanamkan cinta ilmu, membangun adab serta dorongan untuk siap berpayah-payah belajar demi memperoleh ilmu, maka anak akan lebih antusias terhadap belajar. Bersebab tingginya antusiasme belajar, sangat boleh jadi anak mampu membaca di usia dini melalui proses yang lebih alamiah. Di antara bentuk rangsangan belajar yang sangat baik adalah memberi pengalaman pra-membaca dalam bentuk reciting aloud (mengucapkan serangkaian ayat), lalu anak menirukannya.

Jika ada memiliki adab dan antusiasme belajar, di usia dini ia bermain sambil belajar. Tiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Tetapi jika anak hanya memiliki kemampuan, sementara antusiasme tak terbangun, sudah usia sekolah pun ia masih cenderung belajar sambil bermain. Sekilas sama, tetapi sangat berbeda antara bermain sambil belajar (ia berusaha belajar bahkan di saat bermain) dengan belajar sambil bermain (bahkan di saat seharusnya belajar pun, ia masih main-main).

Tingginya rangsangan membaca dalam bentuk melantunkan “bacaan” (reciting aloud) untuk ditirukan anak atau pun membacakan teks Al-Qur’an kepada anak (reading aloud) lalu anak ikut mengucapkannya, memudahkan anak menghafal. Jika proses itu dilakukan dengan baik, diikuti pengucapan yang benar dan fasih, anak ibarat memiliki blue print (cetak biru) ketika kelak benar-benar belajar membaca teks Al-Qur’an beserta kaidah-kaidahnya. Ia mudah memahami karena ia telah memiliki “bacaan” yang benar, sehingga tidak sulit baginya untuk melafalkan.

Alhasil, benar bahwa kita memang dapat mengajarkan membaca kepada anak semenjak usia dini dan bahkan bayi, tetapi bukan berarti mengajarkan keterampilan memahami huruf dan mengucapkannya secara tepat sesuai kaidah-kaidah membaca. Yang perlu kita lakukan adalah membacakan untuk ditirukan atau melantunkan bacaan sehingga anak akrab dengannya dan mampu mengucapkannya dengan benar. Ini sangat bermanfaat di kemudian hari.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Foto Atin

Mana Yang Anda Prioritaskan “Burung” Atau “Sangkar?”


Menurut Anda, apabila ada burung di dalam sangkar, pada umumnya mana yang harganya lebih mahal, burung atau sangkarnya? Orang yang sehat dan normal, apalagi penggemar burung pasti menjawab, yang mahal adalah burungnya bukan sangkarnya.

Di dalam diri manusia, sangkar itu adalah fisik manusia, sementara burung adalah hati manusia. Namun sayang, fakta dalam kehidupan sehari-hari, fisik atau jasmani lebih sering dirawat dibandingkan hati manusia. Sesuatu yang harganya lebih mahal justeru jarang dirawat, jarang dibersihkan.

Padahal nabi pernah berpesan: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari – Muslim).

Jangan biarkan hati kita tidak terawat, hal ini ditandai dengan sering munculnya emosi negatif dalam kehidupan sehari-hari. Seperti mudah marah, sering mencari kesalahan orang lain, baper, membicarakan keburukan orang lain, enggan menerima nasehat, sedih bila melihat orang lain happy serta bahagia saat melihat orang lain menderita. Dan tentu masih banyak tanda tanda rusaknya hati seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Hati yang rusak membuat kehidupan lainnya bisa rusak. Hati yang kotor membuat hidup mudah gelisah jauh dari kebahagiaan dan kenikmatan hidup. Untuk itu, menjaga, membersihkan, memperluas dan mengharumkan hati perlu kita lakukan setiap hari.

Rawatlah hati dengan sering mengingat kematian, memohon kepada Sang Pemilik Hati, Allah swt untuk menjaga, membersihkan dan memuliakan hati, sering memohon ampun atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan, senang berbagi kepada sesama, bergaul dan beriteraksi dengan banyak orang yang memiliki kejernihan hati serta melakukan banyak kebaikan tanpa harus diketahui oleh orang lain.

Jagalah hati karena harga hati itu sangatlah tinggi.

Kembalikan Semangat Mereka

Oleh: Galih Setiawan

“Abi...., aku masuk sekolahnya kapan? Aku sudah pengen sekolah lagi,” celetuk anak pertama saya, Zahra, yang berusia lima tahun. Saya tersenyum mendengar ‘kegalauannya’ karena libur yang dirasa cukup lama. Padahal libur sekolah juga baru seminggu. Masih ada seminggu lagi hari liburnya. “Seminggu lagi baru masuk, sayang,” jawab saya. Hari demi hari, Zahra makin semangat menanyakan kapan masuk sekolah. Selalu bertanya, ini hari apa? Besok hari apa? Besok sudah masuk sekolah? Dan sebagainya.

Bagi sebagian anak, hari pertama masuk sekolah adalah saat-saat yang menyenangkan. Namun, bagi  sebagian kecil yang lain, hal serupa justru tidak terjadi. Mereka malah terlihat tertekan dan seolah masa kembali ke sekolah seperti mimpi buruk di malam hari yang membuat mereka tak tenang.

Nah, jika hal ini terjadi, rasanya orangtua perlu sekali menelusuri dan mencari tahu apa yang membuat anak-anaknya demikian. Faktor paling sederhana yang mungkin melatarbelakangi anak malas masuk sekolah bisa jadi dipengaruhi karena libur panjang yang lama membuat mereka kesulitan beradaptasi dengan suasana yang baru.

Selain itu, ada pula beberapa hal yang mungkin terjadi dengan anak, salah satunya bisa jadi anak merasa tertekan dan stres dengan lingkungan sekolahnya. Karena itu, maka orangtua dituntut untuk bisa mencari solusi yang dapat mengembalikan semangat anak dengan meredam stres yang menghinggapi mereka.

Ketika anak terlihat malas saat bangun di pagi hari untuk pergi mandi dan bersiap pergi ke sekolah, bisa mungkin hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal yang membuat mereka enggan pergi ke sekolah, salah satunya adalah anak-anak tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Anak-anak yang masih kecil, belum memahami dan belum memiliki kepiawaian untuk mengukur batas kemampuannya. Sehingga ia akan cenderung mendorong dirinya meski telah melewati batasannya, termasuk untuk beristirahat. Jika tidak dikontrol dan diatur oleh orangtuanya, anak-anak akan kesulitan mengatur waktu istirahatnya. Orangtua harus mengontrol jam tidur dan waktu istirahat anak terutama di malam hari. Jangan biasakan anak-anak tidur terlalu larut.  

Ketika masuk sekolah, biasakan anak untuk mulai tidur di jam dan waktu yang telah ditentukan. Ketika anak mendapatkan waktu istirahat dan tidur yang cukup, maka akan lebih mungkin baginya mendapatkan pagi yang lebih segar dan bersemangat. Ketika pagiya bersemangat, maka akan semakin mungkin bagi anak menekan stresnya.

Keengganan anak pergi ke sekolah mungkin juga disebabkan adanya masalah yang ia hadapi di sekolah. Nah, untuk itulah sebagai orangtua anda perlu mencari tahu jika hal ini memang menimpa anak. Tidak ada salahnya jika orangtua bertanya pada si kecil dengan perlahan apa yang terjadi di sekolahnya.

Namun, jika si kecil menolak menceritakan, sebaiknya hindari unsur paksaan yang malah akan membuat mereka semakin tertekan. Tunggulah waktu yang tepat saat pikiran dan moodnya menjadi lebih baik, dengan begini ketakutan dan keengganan mereka bercerita bisa diredam sehingga mereka akan dengan mudah berkomunikasi dengan ibu dan orangtuanya.

Beritahukan pada anak dan berikan mereka pemahaman bahwa kita akan selalu ada untuk mereka dan siap menjadi pendengar setia. Tidak perlu memaksa anak untuk mau bercerita, bisa jadi mereka merasa waktunya belum tepat atau rasa malu dan belum terbiasa masih menghinggapi diri mereka yang membuat mereka belum mau bercerita. Untuk itu, bersabarlah dan terus tunjukan perhatian dan kasih sayang. Tunjukkan pula pada mereka sikap apa yang kita lakukan ketika anak melakukan kesalahan. Jangan sampai menakuti mereka dengan ancaman dan reaksi yang akan kita berikan pada mereka, yang pada akhirnya membuat mereka semakin enggan mengungkapkannya.||

Penulis : Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma 
Foto     : Google 

Semangat nan Menyala


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Para cerdik pandai bergegas mendekati ahli ilmu agar bisa mendapat bagian ilmu yang banyak. Syaikh Abdullah bin Hamud Az Zubaidi belajar kepada Syaikh Abu Ali Al Qaali. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangannya di sana. Suatu ketika, murid beliau, Abdullah bin Hamud Az Zubaidi, tidur di kandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid yang lain menjumpai sang guru sebelum mereka datang. Agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Allah menakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya sebelum terbit fajar. Az Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri mengikutinya di kegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakai dirinya, Abu Ali berteriak, “Celaka, siapa Anda?”. Az Zubaidi berkata, “aku muridmu, Az Zubaidi”. (Inaabatur Ruwat ‘ala Anbain Nuhaat, Al Qifthi, 2/119).

Bahkan dalam keterbatasan, orang orang mulia bersemangat mencari ilmu. Imam Asy Syafi’i berkisah, “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Beliau menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Beliau tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai gaji mengajari saya. Saya mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua” (Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhilihi, Ibnu ‘Abdil Barr, 1/98).

Jarak yang jauh hingga perlu ditempuh lama pun bukan hal bisa meredupkan semangat ulama kita. Abu Ad Darda radhiallahu’ahu mengatakan. “Seandainya saya mendapatkan satu ayat dari Al Qur’an yang tidak saya pahami dan tidak ada seorang pun yang bisa mengajarkannya kecuali orang yang berada di Barkul Ghamad (yang jaraknya 5 malam perjalanan dari Mekkah), niscaya aku akan menjumpainya.” Sa’id bin Al Musayyab juga mengatakan, “Saya terbiasa melakukan rihlah berhari-hari untuk mendapatkan satu hadits,” (Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/100).

Imam Baqi bin Makhlad melakukan rihlah dua kali: dari Mesir ke Syam (sekitar Suriah) dan dari Hijaz (sekitar Mekkah) ke Baghdad (Irak) untuk menuntut ilmu agama. Rihlah pertama selama 14 tahun dan yang kedua selama 20 tahun berturut-turut (Tadzkiratul Huffadz, 2/630).

Ilmu Syar’i adalah cahaya penerang bagi kehidupan seorang hamba di dunia menuju ke alam akhirat. Maka, barangsiapa menuntut ilmu syar’i dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar meraih keridhoan-Nya semata, niscaya ia tidak akan berhenti dan bosan dari menuntut ilmu syar’i sebelum kematian menjemputnya.

Imam Ahmad, begitu bersemangat dan istiqomah.  Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah selalu membawa pena dan tinta untuk mencatat hadits dan faedah ilmiyah, meskipun beliau telah lanjut usia. Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Sampai kapankah engkau berbuat demikian?” Beliau jawab, “Hingga aku masuk ke liang kubur.”. (Lihat Manaaqibu Ahmad karya Ibnul Jauzi hal.31, dan Talbiisu Ibliis, karya Ibnul Jauzi hal.400). Beliau juga pernah berkata, “Aku akan terus-menerus menuntut ilmu agama sampai aku masuk ke liang kubur.”.

Abu Ja’far Ath-Thobari rahimahullah menjelang wafatnya berkata: “Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kewajiban) menuntut ilmu sampai ia mati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dlm Tarikh Dimasyqo juz.52 hal.199. Lihat pula Al-Jaliisu Ash-Shoolih karya Al-Mu’afi bin Zakariya III/222).

Ada seseorang bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok (ulama tabi’in) rahimahullah, “Sampai kapan engkau menulis (mempelajari) hadits?” Beliau jawab: “Selagi masih ada kalimat bermanfaat yang belum aku catat.” (Lihat Al-Jaami’ Li Akhlaaqi Ar-Roowi, karya Al-Khothib Al-Baghdadi IV/419). Beliau tidak merasa kenyang hanya karena sudah memiliki banyak. Juga tidak terhalang oleh rasa telah menjadi yang terpandai.

Qotadah bin Da’amah As-sadusi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan tidak membiarkan lolos seorang pun di antara kalian. Bahkan ia datang melalui pintu ilmu. Setan membisikkan, “Untuk apa kamu terus menuntut ilmu? Seandainya kamu mengamalkan apa yang telah kamu dengar, niscaya itu cukup bagimu.” Qotadah berkata: Seandainya ada orang yang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Musa ‘alaihis salam adalah orang yang paling layak merasa cukup dengan ilmunya. Akan tetapi Musa berkata kepada Khidr (yang artinya), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau bisa mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan Allah kepadamu.” (QS. al-Kahfi: 66).” (Lihat Syarhu Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/136]).

Para imam merasa perlu terus mencari ilmu. Maka orang orang awam lebih patut untuk merasa lebih butuh kepada ilmu.

Penulis : R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Majalah Fahma 
Foto      : Google 

Tak Ada Kata Menyerah


Oleh: Prof. Dr. Indarto, D.E.A

Allah tidak akan membiarkan umatnya yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah, untuk mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi”. Begitulah kira-kira ungkapan yang pantas disampaikan kepada seseorang yang belum saya kenal sebelumnya, meninggalkan ruangan tempat saya memberi kuliah.  

Suatu pagi sekitar jam 6.30, saya sudah sampai di kampus, karena memberikan kuliah jam tujuh. Saat masuk ke gedung yang suasananya masih sepi, saya berpapasan dengan seseorang yang berpenampilan sahaja, menurut perkiraan saya dia bukan mahasiswa. Dari jalannya yang pelan dan wajah penuh keraguan, saya menebak pasti dia belum pernah masuk ke gedung ini. Agar dia tidak merasa asing, saya mengajaknya senyum, siapa tahu dia memerlukan informasi dari saya. Dia membalasnya juga, meskipun rasa keraguan di wajahnya tidak berkurang. Ternyata dia lewat begitu saja, tidak menanyakan sesuatu. Lalu saya masuk ke ruang dosen menunggu waktu kuliah.

Menjelang jam tujuh, saya pergi ke ruang tata usaha untuk mengisi daftar hadir, mengambil lembar absensi mahasiswa dan juga tas yang berisi perlengkapan sarana kuliah. Saya naik ke lantai dua, masuk ke ruang dan mulailah kegiatan perkuliahan. Setelah  berlangsung dua setengah jam, saya mengakhiri kuliah, mematikan viewer, komputer dan microphone. Lalu saya mempersilahkan mahasiswa untuk keluar terlebih dahulu, karena kalau tidak, biasanya mereka akan menunggu sampai dosennya keluar. Hal ini juga menjadi salah satu perilaku yang saya hargai, mereka masih membiasakan diri, anak muda mendahulukan yang lebih tua.

Pada saat semua mahasiswa sudah keluar, dan selagi saya sibuk membenahi sarana perkuliahan, tiba-tiba di samping saya sudah berdiri seseorang yang ternyata orang yang tadi pagi ketemu di lantai bawah. Tanpa memperkenalkan diri, dia langsung mengatakan “ Pak, saya ingin mengajukan proposal”.

“Oh...dugaan saya keliru, ternyata dia juga mahasiswa,” kata saya dalam hati, karena biasanya yang menghadap saya untuk mengajukan proposal adalah mahasiswa. “Proposal penelitian mas?”. “Bukan Pak, proposal peminjaman dana”, jawabnya pelan, hampir tidak terdengar; saya jadi heran.

Dokumen yang dia sebut sebagai proposal saya terima, saya baca. Ternyata bukan proposal, hanya surat selembar yang isinya singkat, identitas dan permohonan peminjanan sejumlah dana yang akan dipakai untuk usaha.

“Lho, kalau seperti ini ya namanya bukan proposal mas Imam (bukan nama sebenarnya)Mestinya, mas Imam juga membuat rencana usaha yang akan dilakukan dengan dana itu,” Karena saya tertarik akan keberaniannya untuk meminjan dana pada orang yang belum dikenalnya, lalu saya ajak diskusi untuk mengetahui siapa sebenarnya mas Imam.  

Memang benar dia baru pertama kali masuk ke gedung perkuliahan kami, dan dia juga bukan mahasiswa. Mas Imam menceritakan perjalanannya mengapa sampai dia memberanikan diri pagi-pagi sekali masuk ke gedung ini. Mas Imam saat itu sebetulnya sedang menjalankan kewajibannya sebagai suami untuk berupaya menghidupi keluarganya. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai tenaga pemasar sebuah produk rumah tangga di ibukota. Namun karena  produk tersebut tersaingi dengan produk impor yang lebih murah, maka produk tersebut kurang laku dan perusahaan mengurangi jumlah pegawainya, termasuk dia.

Atas kesepakatan dengan istrinya, mereka kembali ke kota asal dan membuka usaha dengan sedikit modal yang dibawa dari ibukota. Namun, keberuntungan belum memihak mereka, usahanya gagal. Untuk sementara, sambil menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, istrinya bekerja sebagai tenaga kontrak di sebuah pabrik, yang gajinya jauh di bawah UMR.   

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan, baik di perkantoran, pabrik, toko, namun selalu nihil. Akhirnya dia memutuskan kembali untuk berwira usaha, namun dia sudah tidak mempunyai modal lagi, meskipun dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Untuk pinjam ke lembaga keuangan dia juga tidak mempunyai apapun sebagai tanggungannya, yang akhirnya Allah Ta’ala telah memunculkan niat dan keberaniannya untuk masuk ke gedung yang sebenarnya sangat asing baginya. Wallahu A’lam Bishawab.||

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A, Guru Besar Teknik Mesin UGM, Pimpinan Umum Majalah Fahma 
Foto     : Google 

Psikolog: Orangtua Harus Jadi Sahabat Bagi Anak


Orangtua harus sering mencium dan memeluk anak mereka, supaya sang buah hati tumbuh menjadi pribadi yang penyayang. Mencium dan memeluk anak juga akan melembutkan hati sang anak.
Hal ini diingatkan oleh psikolog dari Biro Psikologi Metafora Purwokerto, Ketty Murtini. “Orangtua perlu sesering mungkin memeluk dan mencium anak, karena secara psikologis ini akan melembutkan hati anak dan menjadikan anak sebagai pribadi penyayang,” ujarnya di Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (17/02/2020) kutip Antaranews.com.
Ketty menambahkan bahwa keluarga adalah wahana pertama dan utama dalam mendukung tumbuh kembang seorang anak.
Sebelumnya Ketty juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi antara orangtua dan anak, hal ini untuk mendukung pembentukan karakter positif pada setiap anak.
Ia mengajak para orangtua agar membangun komunikasi yang lebar dengan anak. “Dengan adanya jalur komunikasi yang hangat dan terbuka, maka orangtua akan akan mudah mengarahkan anak ke jalur yang benar,” imbuhnya.
Oleh karena itu, orangtua harus menjadi pendengar yang baik dan menjadi sahabat bagi anak-anak mereka. Orangtua, tambahnya, harus menjadi tempat bertanya dan berkeluh kesah yang nyaman bagi anak-anak mereka. “Sehingga anak tidak canggung untuk bercerita soal apapun,” imbuhnya.
Ketty menilai bahwa hal itu adalah sesuatu yang sederhana namun terkadang sering dilupakan oleh orangtua. Termasuk, tuturnya, saat orangtua sedang sibuk dan anak ingin bercerita, maka sang anak jangan ditolak dengan dalih sedang sibuk.
“Karena dikhawatirkan anak malah merasa ditolak dan lama kelamaan menjadi enggan untuk bercerita kepada orangtuanya,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa cinta kasih yang diperlihatkan kedua orangtua akan tertanam dalam otak anak dan ditiru oleh anak mereka hingga usia dewasa.
Kalau anak melihat orangtuanya sebagai figur penyayang dan penuh cinta kasih, maka anak-anak juga akan tumbuh penuh cinta kasih dan memiliki hati yang lembut.
Sebaliknya kalau anak melihat contoh yang tak baik termasuk kekerasan dari orangtua, maka anak itu pun bisa menirukan perbuatan tidak baik itu. Sehingga, pesannya, orangtua harus memberi teladan yang baik.
“Termasuk jika orangtua sedang bertengkar atau berdebat maka jangan dilakukan di hadapan anak-anak mereka,” pesannya.
Apabila orangtua memang memiliki tingkat kesibukan yang cukup tinggi, Ketty berpesan, maka perlu ada strategi khusus agar tetap menjaga komunikasi dengan anak-anak mereka.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Memuji Tapi Tak Mendengarkan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Bukan telinga kita yang hilang, bukan pula pendengaran. Dua telinga Allah Ta’ala berikan dan keduanya memiliki ketajaman menangkap suara dengan baik. Pendengaran berfungsi normal. Tidak jarang sedemikian tajam. HP yang sedang mode sunyi diletakkan di lantai, saat bergetar pun dengan sigap kita menangkapnya. Bukan karena merasakan getarnya, tetapi karena ada suara yang cepat tertangkap telinga.

Apakah yang terjadi pada diri kita? Suara motor berubah sedikit saja, segera gelisah hati kita karena khawatir ada masalah di sana. Begitu pula saat pintu mobil tak tertutup rapat saat kita mengemudi, telinga kita segera menangkap keanehan suara. Kita segera tahu karena begitu dekat dan penuh perhatian, sehingga merasa tidak mengkhususkan diri untuk mendengarkan pun, kita segera mengenalinya. Tetapi alangkah banyak anak yang tidak betah berbincang dengan kita sebab kita pun tak sabar mendengarkan penuturan mereka. Kita mendengar, tetapi bukan mendengarkan.

Bersebab tidak adanya kesabaran itulah maka kita tidak betah berlama-lama membiarkan mereka bertutur berbagi cerita. Baru saja ia mengungkapkan isi hati, buru-buru kita berpanjang-panjang menasehati. Baru saja anak bercerita, panjang lebar kita berkhotbah. Sementara ketika anak berbagi gagasan, bukan rasa antusiasme yang kita tunjukkan, tetapi hujan pujian yang kita berikan. Padahal saat anak membicarakan gagasan, bahkan sekedar cerita, yang ia perlukan adalah telinga yang mau bersungguh-sungguh mendengarkan. Bukan pujian. Apalagi pujian tergesa-gesa. Tidak tulus pula.

Malu rasanya mengingat akhlak Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Ia seorang ahli tafsir, ahli fiqih dan perawi hadis. Tetapi tengoklah bagaimana akhlaknya saat mendengarkan penuturan orang muda. Atha' bin Abi Rabah rahimahuLlah berkata, “Ada seseorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarkannya seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu. Padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.”

Inilah nasehat Atha’ bin Abi Rabah rahimahuLlah kepada murid-muridnya dan kepada kita semua; nasehat yang ditunjukkan dengan memberi contoh. Betapa bersemangatnya kita apabila saat bertutur disambut dengan kegairahan mendengarkan, seakan-akan apa yang kita tuturkan merupakan sesuatu yang baru dan sangat berharga. Betapa besar hati anak-anak kita kalau orangtua mempunyai telinga yang sempurna; berfungsi pendengarannya, berfungsi pula hati orangtua untuk mendengarkan sepenuh semangat, sepenuh kesungguhan.

Jika anak-anak tidak mendapati orang yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian dan semangat, maka kemanakah anak-anak itu harus pergi untuk menemukan orang yang mau menyambut cerita dan gagasannya? Padahal tatkala anak didengarkan dengan baik, saat itulah ia lebih mudah menerima nasehat. Dan sebaik-baik nasehat adalah yang ringkas, padat, penuh makna.

Seperti pil, nasehat untuk anak itu hendaknya tidak berpanjang-panjang sampai-sampai anak tak kuat mendengarnya. Padahal mendengar belum tentu mendengarkan. Perbanyak “airnya” agar anak mudah menelan dan mencernanya dengan baik.


Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting
Sumber Fans Page Mohammad Fauzil Adhim

Perayaan Cinta Internasional


Oleh : Aya Faina

Februari 2018

Bulan kedua dalam penanggalan Masehi. Banyak yang menyebut sebagai bulan cinta, cokelat dan bunga laris di mana-mana. Tak sedikit orang yang mengaku beragama Islam tahu bahwa perayaan kasih sayang di bulan ini berasal dari budaya Barat. Namun, mata mereka buta, telinga mereka tuli, mulut mereka bisu, antara tidak tahu atau pura-pura tak tahu. Tak pandang usia, anak-anak, remaja, tua hingga muda turut bersukacita menyambutnya. Budaya ikut-ikutan seakan mendarah daging dalam tiap tetes darah yang mengalir ditubuhnya. Saat di zaman sekolah teman-teman saling berbagi cokelat, bahkan dikomando oleh beberapa guru yang mengajar. Bahkan menjadikan momen ini untuk ‘menembak’ teman perempuan dan mendeklarasikan pacaran. Tontonan di televisi tak henti menyiarkan siaran bertema Romeo and Juliet. Ditambah mengudaranya berbaga konser music bertema lagu cinta nan mendayu. Momentum Valentine’s Day biasanya berakhir dengan perayaan zina internasional. Kehormatan wanita tak ada harganya, begitu murah.

Memori Urfa melayang di masa beberapa tahun silam, tatkala dirinya duduk dibangku SMA dan tergabung dalam organisasi Rohis. Bersama teman-temannya turun di jalanan alun-alun kota, dengan membawa berbagai poster menolak Valentine’s Day. Tak lupa sticker dengan tulisan bertema senada dibagikan kepada siapa saja orang yang melintas di Car Free Day tersebut. Senyuman kecil mengembang dibibirnya, melihat sticker yang menempel dalam diary nya. Sticker itu berbunyi, ‘Cintaku tak semurah cokelatmu’ dan juga ‘Yang bawa cokelat akan kalah sama yang kasih seperangkat alat sholat’. Manis sekali!

“Mbak, di medsos pada lebay amat sih! Pakai tagar no valentine’s day segala, norak banget sih!” suara nyaring itu membuyarkan lamunan Urfa. Nampak gadis Ayu berumur belasan mendekatinya.

Urfa menghela nafas perlahan, “Emang kenapa sih, Dik! Kan valentine bukan budaya orang Islam,”

“Tapi kan nggak gitu juga caranya, kita harus hormat dan toleransi sama non-muslim yang merayakan valentine dong! Sampai ada yang bikin spanduk di jalan dengan tulisan gede #SAYNOTOVALENTINE!”

“Terus salahnya dimana?”

“Ya salah, itu kan perayaan keagamaan mereka. Misal ada non muslim yang nulis tagar #NORAMADHANDAY, gimana coba? Nggak terima kan?”

“Jadi gini ya adik sepupuku sayang, cantik, sholihah, sini duduk dulu! Santai, nggak usah ngegas,”

“Tapi jangan lama-lama ya Mbak Urfa, aku mau ke toko beli cokelat buat sahabatku.”
Gadis imut didepannya sungguh polos. Memang tidak mudah lahir di zaman sekulerime seperti ini. Dimana agama dibuang jauh dari kehidupan. Maksiat dianggap wajar, karena biasa dilakukan. Sangat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang kelihatannya benar.

“Dik Nisa ikut ngerayain Valentine?” Tanya Urfa selembut mungkin. Karakter sepupunya memang sedikit temperamental dan gampang emosi-an. Oleh karena itu diperlukan pemilihan kata yang pas untuk memahamkannya. Semua ini tak lepas dari kondisi masa kecilnya yang kehilangan figur ayah, dikarenakan perpisahan kedua orangtuanya.

“Iya, emang kenapa? Hampir semua teman sekolahku ikut ngerayain, Bu Tari suruh satu kelas bawa cokelat untuk ditukar sama teman-teman besok!”

Dugaan Urfa tak meleset sesenti pun. “Kamu tahu nggak sejarahnya hari valentine?”

“Valentine kan hari kasih sayang, berbagi cinta, kayak Romeo and Juliet, so sweet banget pokoknya.”

“Eits, tidak sesederhana itu Ferguso! Jadi tahun 270 SM valentine itu awalnya festival yang dirayain kaum pagan Romawi tiap tanggal 15 Februari. Festival itu dinamain Lupercalia, tujuannya buat menghormati Lupa, serigala betina yang menyusui Romulus dan Remus, pendiri kerajaan Romawi.”

Tiba-tiba Nisa menyela, “Lhoh, emang bisa serigala menyusui bayi manusia? Nggak logis.”

“Namanya juga mitologi Yunani, bertentangan sama akal manusia. Tapi anehnya, buanyaakk banget yang percaya. Festival Lupercalia diawali dengan mengorbankan domba atau anjing, lalu para wanita dicambuk memakai cambuk yang dilumuri darah hewan yang dikorbankan, tujuannya buat meningkatkan kesuburan wanita. Namun pada abad ke-5 Paus Gelasius menganggap festival itu bertentangan dengan kepercayaan Kristen. Terus dia menggantinya dengan perayaan untuk mengenang Saint Valentine, yang dilaksanakan tiap 14 Februari.”

“Pernah dengar sih nama Saint Valentine, tapi akum alas baca. Emang sejarahnya gimana?”

“Menurut legenda Saint Valentine adalah pendeta yang hidup antara tahun 214-270 M, masa pemerintahan Claudius II. Dia melarang tentaranya untuk menikah muda, agar kuat di medan perang dan nggak berpikir untuk pulang. Kemudian Saint Valentine secara diam-diam menikahkan tentara muda yang mau menikah. Karena kesal, Kaisar Claudius II agar Valentine dihukum mati. Oleh gereja, Valentine dinobatkan sebagai Santo (orang suci) kematiannya dikenang dan dirayakan masyarakat Kristen Eropa.”

“Kasihan banget ya Saint Valentine, padahal baik eh malah dihukum mati. Emang kaisarnya aja tuh dzalim. Wajar aja Valentine dihormati banget.”

“Dengerin dulu ya sampai selesai! Di abad ke-14 M, hari tersebut jadi perayaan cinta dan romantisme. Di masa penjajahan budaya valentine mulai menyebar ke penjuru dunia. Muncul satu pertanyaan, sebenarnya apa aja sih yang dilakukan pada perayaan Valentine sekarang?”

“Masa nggak tahu sih, Mbak? Kan udah jelas Valentine kan dirayain dengan kasih cokelat, bunga, menebar kasih sayang, begitulah pokoknya.”

“Salah satu universitas Thailand pernah melakukan riset tentang Valentine. Hasilnya 15,4% anak muda usia 16-18tahun menginginkan hubungan seksual pertama kalinya di hari valentine. 12,5% dari yang berusia 19-22 tahun dan 16% dari yang berusia 23-29 tahun menginginkan hal yang sama, hubungan seksual. Menurut peneliti Kristen Mark, hampir 85% pria dan wanita mengatakan hubungan seksual penting saat valentine. Di Indonesia penjualan kondom meningkat 25% menjelang valentine.”

“Masa sih kayak gitu? Perasaan disekolah juga biasa aja, nggak sampai zina kayak gitu.”

“Emang sih nggak semua yang merayakan valentine berujung zina, tapi faktanya nggak sedikit yang ending-nya kesana. Ini coba lihat!” kata Urfa sambal menyodorkan beberapa screenshoot koran online yang memberitakan fakta meningkatnya penjuaan kondom beberapa kota di seluruh Indonesia.

Suasana hening sejenak.

“Lalu, kamu mau pilih mana? Di akhirat nanti pengen kumpul sama Rasulullah atau orang kafir yang kamu tiru, puja-puja dan banggakan gaya budayanya?”

“Mbak Urfa kok nakut-nakutin gitu sih?”

“Bukannya nakutin, Mbak Cuma pengen kamu berpikir aja. Jangan sampai ikut-ikutan dan kebawa arus. Ingat nggak hadist yang diriwayatkan Abu Dawud, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dalam bagian dari mereka.”

***

Foto google