Yang Terbaik Menurut Allah


Oleh : Prihatiningsih, S.Si.

Yakin tidak sih sama janji Allah? Yang DIA tidak akan pernah ingkar walau sekata, tak pernah dusta

Sesuatu yang pergi pasti akan kembali atas izinNya, tinggal kita yakin atau tidak.

Pun jika dia tidak kembali, berarti Allah telah menyiapkan yang terbaik yang lebih baik dari apa yang kamu fikirkan.

Yang pasti, sesuatu yang terbaik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Tapi sesuatu yang datangnya dari Allah, pasti yang terbaik buat kita. Bahkan ketika kita merasa itu tidak baik, sejatinya Allah hanya sedang menguji imanmu saja.

Bagaimana kamu bertahan dalam ketidaknyamananmu selama ini, untuk memetik hikmah yang datang kemudian.

Memang kejutan itu selalu datang dengan unik, entah di awal atau di akhir, yang pasti kita hanya perlu bersabar dalam menunggu hikmah itu datang.

Yaa muqallibal qulub, tsabbits quluubana 'aladdinik.

Prihatiningsih, S.Si. Seorang Pendidik, tinggal di Yogyakarta

Tak Ada Jalan untuk Memutar

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Waktu tak dapat kita putar kembali. Apa yang sudah berlalu, tidak dapat kita jalani lagi, tidak terkecuali tugas kita sebagai orangtua. Ada saat-saat berharga untuk anak kita yang sekali terlepas, tak dapat kita rebut kembali. Maka jagalah dan manfaatkan saat berharga yang masih ada.

Tak ada pilihan bagi kita kecuali bergerak ke masa depan. Tak ada jalan untuk kembali ke masa lalu. Kita dapat menengok waktu-waktu yang terlewat, mengingati kesalahan serta kecerobohan kita dalam urusan mendidik anak seraya berusaha berbenah dan berdo'a semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kesalahan kita, memperbaiki kesalahan kita dan baguskan anak kita.

Kita tidak punya jalan memutar ke masa silam. Kita hanya dapat mendo'akan mereka, menginsyafi kesalahan kita dan mengajak mereka untuk dapat mengambil pelajaran bagi langkah mereka ke depan. Sulitnya melangkah dengan benar memang kerap bermula dari miskinnya contoh. Tetapi memiliki figur nyata yang nyaris sempurna bukan berarti bekal memadai untuk kelak menjadi orangtua yang baik jika mereka tak mengambil pelajaran. Karena itu, kita bukan hanya perlu berbenah. Kita juga perlu mengingatkan mereka agar berbekal dan belajar untuk kelak dapat menunaikan tugas sebagai orangtua, lebih baik daripada orangtua mereka.

Selebihnya, di sisa perjalanan hidup kita sebelum kembali menghadap Allah 'Azza wa Jalla, ada yang perlu kita perbaiki. Kita berupaya untuk berbenah dengan terus belajar menjadi orangtua. Kita juga mencari jalan untuk meraih pertolongan Allah Ta'ala agar anak-anak kita dibaikkan.

Isti'anah. Berupaya meraih pertolongan Allah 'Azza wa Jalla dalam tugas kita sebagai orangtua inilah yang tidak boleh kita abaikan. Bukankah bekalan awal menjadi orangtua justru rasa takut (khasy-yah)? Tengok kembali QS. An-Nisaa' ayat 9. Rasa takut. Bukan percaya diri.

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

https://facebook.com/story.php?story_fbid=2331443000238148&id=183316298384173

Hebat dengan Al-Qur’an


Oleh : Imam Nawawi

“Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 24: 34).
Sahabat, sekali waktu tengoklah kitab sucimu dengan penghayatan.
Ayat di atas misalnya, menegaskan kepada kita bahwa Al-Qur’an itu berisi ayat-ayat yang jelas. Artinya tak sukar dipahami, bahkan dalam beberapa hal, ayat itu tinggal dijalankan dengan penuh keimanan.
Misalnya, ayat “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah Menciptakan.”
Apa yang sukar dari ayat tersebut untuk dipahami dan dijalankan. Tinggal pandai-pandai dan semangat menggunakan indera dan akal serta hati untuk membaca segala keadaan, tentu saja semua diarahkan untuk semakin teguhnya keimanan.
Dan, dalam Al-Qur’an itu disampaikan kisah-kisah, contoh-contoh perbuatan dan akibat yang mereka terima di masa lampau, semua itu sejatinya adalah bahan untuk kita terbiasa berpikir.
Mau curang, silakan pelajari Surah Al-Muthoffifin, di sana kita akan dapati betapa Allah murka terhadap pelaku kecurangan.
Mau sombong, silakan simak kisah Fir’aun, yang merupakan sosok raja diraja, dimana tidak ada manusia yang berlaku melampaui batas seperti dirinya. Itu juga pelajaran.
Jadi, pelajaran contoh, sekaligus peringatan sepenuhnya termaktub di dalam Al-Qur’an.
Maka, bagaimana mungkin kita tidak mau bertaqwa kepada Allah Ta’ala.
Terkait hal ini, Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah memberikan penjelasan gamblang dan menarik.
“Di dalamnya terdapat hukum di antara kalian, kabar-kabar ummat-ummat sebelum kalian, dan berita ummat-ummat setelah kalian. Al-Qur’an benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang bathil dan sekali-kali bukanlah senda gurau. Barang siapa meninggalkannya karena takabbur, maka Allah akan menghancurkannya, barang siapa mencari petunjuk pada selainnya, maka Allah akan menyesatkannya.”
Alhamdulillah, besok insya Allah kita akan bertemu Ramadhan 1440 H. Semoga Al-Qur’an terus menjadi panduan hidup, cahaya yang menerangi hati, dengan ikhtiar dan pertolongan-Nya, senantiasa membimbing perjalanan hidup kita.
Seperti Nabi dan para sahabat yang hebat dengan Al-Qur’an, semoga kita pun bisa mnejadi manusia hebat, yakni manusia yang hidupnya bermanfaat bagi maslahat ummat dunia-akhirat. Aamiin.

Ngobrol Yang Menentramkan Hati


Oleh : Jamil Azzaini


Beberapa waktu yang lalu saya mengalami kejenuhan yang luar biasa, ditambah gelisah dan munculnya emosi-emosi negatif yang sangat menguras energi. Kesibukan dan rutinitas yang bertambah membuat hati semakin gundah.

Saya pun menyadari, bila hal ini berlangsung lama maka bisa merusak banyak hal, ibarat mesin sudah sangat panas, bila tidak didinginkan bisa terbakar.

Solusi yang murah, mudah dan jitu untuk hal tersebut di atas bagi saya adalah NGOBROL.

Pertama, saya ngobrol pada diri sendiri. “Jamil, kehidupan seperti inikah yang kamu harapkan? Adakah cara lain yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan kualitas hidupmu? Bagaimana kamu bisa meningkatkan kualitas komunikasimu dengan istri dan anakmu? Apa hal-hal yang patut kamu syukuri dalam hidupmu? Dan obrolan panjang pun berlangsung lama meski hanya imajiner.

Kedua, saya ngobrol dengan istri. Habisnya tiket pesawat ke Jogja membuat saya memutuskan untuk membawa kendaraan sendiri karena pentingnya acara di Sentolo Jogja. Saya perlu menemui 34 future leader (santri) Tahfizh Leadership yang sedang belajar properti dengan ahlinya.

Sepanjang 10 jam perjalanan ke Jogja membuat saya leluasa bisa ngobrol dengan istri saya. Obrolan mendalam dengan istri di lanjutkan di Jakarta. Hati menjadi lapang, gundah gulana entah pergi kemana.

Dan puncak obrolan ternikmat adalah saat saya ngobrol atau mengadu kepada Allah. Saya adukan berbagai permasalahan yang saya hadapi dengan penuh penghayatan, penuh kesungguhan disertai permohonan agar Allah swt menolong, membantu dan membimbing saya.

Ajaib, setelah sering ngobrol dengan Allah swt diberbagai waktu dan tempat yang berbeda ternyata banyak hal yang tuntas dengan sendirinya. Solusinya tanpa diduga, tanpa disangka datang dari berbagai penjuru.

Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?

Ya, ngobrol dengan diri sendiri, ngobrol dengan istri dan ngobrol dengan yang menguasai hati (Allah swt) itu menentramkan hati dan menghadirkan banyak solusi.
Cobalah, karena hanya yang melakukan yang bisa merasakan.

Jamil Azzaini, Motivator dan Penulis Buku

Berapa Lama Bulan Madu?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Gejala bulan madu pada pengantin baru, disebut juga sebagai fase romantic love, adalah masa penuh dengan keindahan.

Namun, berapa lamakah masa ini bertahan? Dailymail melaporkan hasil sebuah survei terhadap 2.000 pasangan menikah, bahwa setelah tiga setengah (3,5) tahun usia pernikahan, mereka mulai kehilangan semangat untuk berkencan.

Bahkan survei lainnya memberikan hasil yang lebih pendek, yaitu 14 bulan saja.

Setelah melewati masa tersebut, banyak pasangan lebih memilih tidur daripada bercinta, lebih memilih aktivitas sendiri daripada berdua, dan mulai berhenti mengatakan kata cinta.

Penelitian menunjukkan bahwa usia 3,5 tahun ---dalam survei lainnya : 14 bulan--- merupakan masa-masa bulan madu yang sudah berakhir.

Setelah itu pasangan mulai jarang saling memeluk, jarang tidur bersama, atau bahkan makan bersama.

Mereka mulai tidur di waktu yang berbeda, makan di waktu yang berbeda, dan tidak saling mengobrol ketika berdua.

Pada saat itulah mereka mulai sering bertengkar, karena sudah berada dalam situasi yang “normal” setelah selesai dengan masa bulan madunya.

Pada masa bulan madu, suami dan istri melewati hari-hari dengan penuh kebahagiaan. Satu dengan yang lainnya memiliki semangat yang tinggi untuk membahagiakan pasangannya.

Berbagai upaya dilakukan untuk tampil sempurna di hadapan pasangan dan sekaligus usaha membahagiakan pasangan dengan menjaga penampilan, kebersihan, aroma yang menyenangkan, serta pelayanan yang memuaskan.

Namun seiring perjalanan waktu, suasana itu memudar, maka suasana menjadi “normal” dan biasa saja.

Sesungguhnya suasana bulan madu bisa dipertahankan oleh suami istri, walau tentu saja bentuk dan kondisinya berbeda, namun suasana kejiwaannya masih tetap sama.

Yang diperlukan adalah kesediaan dari suami dan istri untuk selalu menjaga dan memperbarui suasana kedekatan dan kebersamaan dengan pasangan.

Walau bulan madu telah berlalu, namun cinta mereka semakin menggebu.
Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : IG Cahyadi_Takariawan

Mereka yang Patut Kita Harap Do’anya

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada hadis ringkas yang patut untuk kita renungkan. Sesungguhnya RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ 

“Tiga do’a mustajabah yang tiada diragukan di dalamnya: do’a orang terzalimi, do’a musafir, do’a orangtua pada anaknya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ada pelajaran yang penting untuk kita petik dari hadis ini. Di antara yang patut senantiasa kita harapkan do'anya adalah orangtua kita; bapak dan terutama emak kita. Begitu pula do'a musafir, patut kita harapkan. Sebagaimana do'a orang-orang yang dizalimi, Allah 'Azza wa Jalla akan ijabahi.

Adakalanya pada diri seseorang terkumpul berbagai keutamaan; ia orang yang dizalimi, sedang melakukan safar (perjalanan) dan perjalanan itu dalam rangka menegakkan ketaatan kepada Allah Ta'ala.

Sesungguhnya ada tiga golongan tamu Allah Jalla wa 'Alaa yang hidangan terbaiknya berupa pengabulan do'a. Salah satu dari tiga golongan tersebut ialah mereka yang pergi ke Tanah Suci dengan niat benar-benar berhaji, semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah 'Azza wa Jalla. Maka perjuangan paling awal dari setiap yang berangkat haji (maupun umrah) ialah meluruskan niat, membersihkannya dari hal-hal yang mengotori dan bersungguh-sungguh mengharap ridha Allah 'Azza wa Jalla agar mereka benar-benar digolongkan sebagai tetamu Allah. Nah.

Mari kita ingat sejenak hadis berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Al-Ghazi (orang yang berperang di jalan Allah), orang yang berhaji, serta orang-orang berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri.” (HR. Ibnu Majah).

Jadi, mereka inilah yang sangat perlu kita mohonkan do'anya. Bukan sebaliknya, kita suruh mereka meminta do'a orang yang bahkan tak menadahkan tangan untuk bermunajat bagi mereka.

Adapun seorang pemimpin, maka perhatikanlah bagaimana ia menjalankan amanahnya ini. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. At-Tirmidzi).

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

Jangan Rendahkan Suamimu


Oleh : Jamil Azzaini


Tulisan sebelumnya tentang adab seorang suami terhadap istri ternyata mendapat banyak respon. Banyak permintaan untuk menulis sebaliknya, yaitu adab istri terhadap suami.
Seyognyanya, penulis yang tepat tentang adab istri terhadap suami adalah seorang wanita, bukan lelaki seperti saya. Karena saya bukan pelaku tetapi pemetik manfaat dari adanya adab istri terhadap suami.

Saya tetap memenuhi permintaan pembaca dari perspektif yang saya pahami. Dari berbagai literatur yang saya dalami, diskusi dan juga pengalaman pribadi ternyata banyak sekali adab istri terhadap suami. Namun, dari sekian banyak adab, yang paling mendasar adalah jangan rendahkan suamimu.
Baca : Adab Suami kepada Istri
Merendahkan suami itu banyak bentuknya. Ada yang melalui mulut sang istri. Terlalu banyak memberikan penilaian sinis, kritik tajam, komentar negatif terhadap berbagai kebaikan yang dilakuan suami adalah bentuk merendahkan suami melalui kata-kata.

Berkonsultasi masalah pribadi non kewanitaan kepada orang lain juga bentuk merendahkan suami. Apalagi lebih mendengar pendapat orang lain dibandingkan pendapat suami. Sering menceritakan kehebatan lelaki lain, baik itu tokoh yang ia kagumi maupun orang biasa adalah bentuk merendahkan suami yang jarang disadari seorang istri.

Tidak mengindahkan permintaan suami dan tetap mengerjakan apa yang tidak disukai suami juga merupakan bentuk merendahkan suami.

“Merendahkan suami adalah penghalang turunnya keberkahan, ketenangan dan menjadi penghalang terkabulnya doa” begitulah nasehat guru spiritual saya. Wallahu’alam.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Adab Suami Kepada Istri


Oleh : Jamil Azzaini

Pekan lalu saya mewancarai staf senior di perusahaan saya karena karyawan ini ingin saya angkat menjadi supervisor. Saat wawancara, staf yang juga seorang ibu ini memohon kepada saya “pak, bolehkah dengan jabatan baru ini apabila ada kegiatan kantor yang sampai malam hari saya tidak ikut?”

Saya kemudian bertanya “mengapa tidak mau ikut kegiatan hingga malam hari?” Wanita yang akhirnya saya angkat menjadi supervisor ini menjawab “saya ingin menjaga adab seorang istri terhadap suami. Saya tidak ingin saat suami saya pulang kantor tetapi saya tidak ada di rumah. Saya harus sampai rumah terlebih dahulu dibandingkan suami saya.”

Jawaban supervisor itu membuat saya membuka literatur, menonton video dan bertanya kepada orang berilmu tentang adab suami dan istri. Ternyata pergaulan suami dan istri itu ada adabnya. Dan bila adab itu diterapkan, kebahagian dan ketenangan akan meliputi keluarga tersebut.

Setelah mengkaji dan mengaji serta melakukan perenungan, menurut saya adab terpenting seorang suami terhadap istri ada tiga.

Pertama, jangan mengungkit-ungkit kesalahan. Setiap orang pasti punya salah, termasuk istri. Namun demikian, kesalahan yang sudah berlalu jangan pernah diungkit atau dibahas kembali apalagi bila istri sudah mengakui dan minta maaf.

Kedua, menjaga kemuliaan istri. Jangan sampai istri merengek-rengek meminta uang belanja. Bentuk memuliakan istri dengan cara memberi uang belanja sebelum istri meminta. Atau saat istri meminta maka segeralah berikan uang belanja itu penuh dengan suka cita.

Memuliakan istri bisa juga dilakukan dengan tidak menceritakan kelemahan dan kekurangan istri kepada siapapun. Termasuk kepada saudara maupun orang tua. Mengingatkan istri dengan cara yang baik saat istri salah dan lalai juga merupakan bentuk memuliakan istri.

Ketiga, senang mendengarkan cerita istri. Saat di rumah atau saat berdua, beri kesempatan istri untuk lebih banyak bercerita dan berbicara. Selain melepas stres, bercerita itu bisa menambah kebahagiaan dan perasaan berharga bagi istri kita. Beri apresiasi untuk cerita yang disampaikan sekaligus ambil pelajaran dari sesuatu yang diceritakan.

Ada banyak adab suami terhadap istri tetapi itulah tiga adab yang saya anggap paling penting.

Jamil Azzaini, Motivator
Sumber : www.jamilazzaini.com

Energi Inti Kehidupan



Oleh : Imam Nawawi



Setiap yang bernyawa menyimpan energi, yang jika disadari dan diaktualisasikan dengan baik, maka akan tercipta kemaslahatan berkelanjutan.

Sebagai contoh ringan, di sebuah daerah terjadi musibah. Di sana belum banyak orang melek internet. Tetapi di sana ada seorang remaja yang sedang berkunjung dan memiliki akses internet. Sontak remaja itu menguploadnya ke media sosial.

Netizen jadi tahu, ramai, bahkan kemudian viral.

Perhatikan, semua itu dipicu oleh sebuah kesadaran sang remaja tentang kejadian yang melanda sekaligus kebiasaannya menggunakan internet.

Pada akhirnya, bukan saja masyarakat yang bergerak, beragam lembaga kemanusiaan pun turun tangan, bahkan pemerintah dibuat sibuk untuk segera memberikan bantuan.

Nah, dalam lingkup yang lebih sederhana, dalam diri kita sendiri, energi itu selalu ada, tersedia, selama nyawa masih dikandung badan. Tinggal disadari atau tidak terus mau atau tidak diaktualkan.

Ustadz Zainuddin Musaddad dalam taushiyah pernikahan mubarokah kader Hidayatullah Jawa Timur di Surabaya pekan lalu menyampaikan bahwa energi itu ada pada keimanan.

Orang yang punya iman tidak akan tergerak melakukan apapun yang melanggar dengan alasan mau makan. Miskin tak masalah. Asal jangan makan harta haram.

Kesadaran itu sebenarnya seperti sinar matahari yang tidak saja mengusir gelap, tetapi menjadikan dedaunan menari bahagia karena persenyawaan zat yang diperlukan untuk melanjutkan fotosintesis.

Energi iman akan menjadikan seseorang tahu mana hak mana bathil, sehingga dalam hidupnya ia tidak berpikir ini sedikit ini banyak, tetapi yang ada ini mari disyukuri. Kaya, tak membuatnya kian buas dan serakah. Miskin pun tak akan menghalalkan yang syubhat.

“Jangan-jangan coba berbohong, apalagi berkaitan dengan keuangan, karena darah daging yang ada syubhatnya, tidak bisa dekat dengan Allah SWT,” tegas ayah dari anak-anak yang seluruhnya hafal Qur’an itu.

Jadi, hidup ini adalah soal energi, energi iman. Sudahkah disadari dan akankah diaktualisasikan. Atau justru angan-angan, gengsi, dan beragam prestise yang fana yang akan jadi panduan di dalam meniti kehidupan fana ini.

Jika demikian, mari hidupkan energi iman.

Yakini Allah benar-benar Maha Besar. Tidak ada yang lebih besar dalam hati ini, selain Allah. Apakah itu ilmu, uang, sistem hidup, bahkan ungkapan-ungkapan yang sepintas rasional namun mengikis akidah dan kesadaran iman seorang Muslim.

Ya Allah, bimbing kami yakin kpada-Mu dengan sebenar-benarnya. Bimbing kami tetap gagah dan gigih menantikan pertolongan dan kasih sayang-Mu. Sungguh hidup ini tak ada artinya, entah itu jabatan, predikat, kedudukan, kekayaan, jika Engkau marah kepadaku.

Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia