Perubahan Kecil Berdampak BESAR

Oleh : Jamil Azzaini

Seorang psikolog asal Inggris, Mark Levin, pernah melakukan studi terhadap suporter fanatik Manchester United (MU). Di dalam studi itu, mereka dipertemukan dengan seseorang yang berperan sebagai pelari dan terjatuh saat berlari. Sebelum bertemu dengan pelari, mereka diminta menulis apa yang mereka sukai dari timnya, yaitu MU.

Disisi lain, sang pelari yang telah dipersiapkan Levin diminta berganti kaus sebanyak tiga kali. Saat pertama berlari, ia menggunakan kaus polos. Beberapa saat kemudian, ia berganti menggunakan kaus MU dan terakhir menggunakan kaus Liverpool sebagai rival utama MU. Saat menggunakan kaus tersebut sang pelari melakukan tugas yang sama dan berpura-pura jatuh.

Saat studi tersebut dilakukan, apa yang terjadi? Sepertiga suporter MU menolong pelari, saat pelari yang menggunakan kaus polos pura-pura jatuh. Mayoritas bahkan hampir semua suporter MU menolong pelari tersebut, saat  pelari menggunakan kaus MU pura-pura jatuh. Dan sangat sedikit pendukung MU yang menolong pelari berkaus Liverpool saat pelari tersebut pura-pura jatuh. Salah satu kesimpulan studi Mark Levin ini “kaus yang Anda kenakan dapat berpengaruh penting terhadap pertolongan yang Anda terima. Kecenderungan orang dalam menolong lebih kuat kepada sesama anggota kelompok.”

Menariknya, sedikit perubahan keadaan bisa membuat orang lebih terbuka untuk menolong orang lain. Apa perubahan sederhana yang dilakukan dalam studi tersebut? Bila sebelumnya mereka diminta menulis apa yang mereka sukai dari timnya sebelum bertemu dengan pelari. Kini mereka diminta menulis apa yang mereka sukai dengan menjadi suporter sepak bola. Sungguh perubahan yang sangat sederhana bukan?

Dengan perubahan kecil tersebut ternyata Hasil studinya membuktikan bahwa mereka dua kali lebih ingin membantu seseorang yang menggunakan kaus rival (musuh bebuyutan). Mereka fokus kepada sesama suporter bukan rivaliltas, mereka adalah sama-sama penggemar sepakbola asal Inggris.

aat kita hidup bersama, kita perlu mencari banyak persamaan agar merasa sesama kelompok. Dan menurut Adam Grant dalam bukunya Give and Take, solidaritas tim akan sangat menguat apabila ada persamaan atau kemiripan yang tidak biasa. Artinya, kita perlu fokus kepada kesamaan ciri dengan rekan kerja, dimana kesamaan tersebut sangat sulit dicari di kelompok lain. Ada kemiripan langka yang khas. Begitu kita menemukan hal kecil ini maka perubahan besar dalam kelompok kerja akan datang silih berganti.

Cobalah cari apa kemiripan dan kesamaan yang bisa Anda temukan bersama kolega Anda hingga Anda bisa menemukan kemiripan yang benar-benar khas milik Anda dan koleha Anda. Menemukan yang kecil atau sederhana ini, bisa meningkatkan kolaborasi dan kerjasama tim yang semakin dahsyat, begitulah menurut Adam Grant. Mari kita coba.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com


Lingkungan yang Buruk


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Salah satu yang paling mudah merusak fithrah pada diri anak adalah bi’ah fasidah (lingkungan yang buruk). Kita telah belajar pada pertemuan sebelumnya bahwa bi’ah memiliki empat aspek, yakni makan (tempat), insan (manusia), afkar (pemikiran) dan ‘aadah (‘adat, budaya). Lingkungan terdekat sekaligus paling berpengaruh terhadap anak adalah usrah (keluarga). Maka penjagaan terpenting yang paling perlu mendapat perhatian adalah keluarga, dari sejak memilih jodoh hingga mengaturnya sesudah pernikahan.⁣

Urusan pertama adalah memilih jodoh. Rambu-rambu terpenting adalah perintah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam untuk memilih karena komitmen agamanya (فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ). Kata “فَاظْفَرْ” yang biasanya dimaknai pilihlah, lebih bermakna berjayalah atau bersukseslah. Secara sederhana, ini merupakan landasan sangat mendasar dalam memilih jodoh yang berkait erat dengan penjagaan fithrah anak kelak apabila dari pernikahan itu Allah Ta’ala karuniakan anak. Memilih jodoh yang memiliki komitmen agama sangat kuat juga merupakan upaya penjagaan fithrah diri kita sendiri.⁣
Berikutnya hal yang sangat penting adalah keharusan menegakkan qawwamah (kepemimpinan) seorang laki-laki di rumahnya, terutama dalam memimpin istri maupun keluarga agar mengikuti apa yang Allah Ta’ala kehendaki dalam mengurus rumah-tangga. Termasuk amanah mendasar berkenaan dengan qawwamah adalah menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Konsekuensinya, seorang suami harus berusaha menghalau kebodohan dalam agama pada dirinya serta melindungi keluarga dari maksiat, termasuk dari rezeki yang haram.⁣
Sesungguhnya rumah-tangga yang baik adalah rumah-tangga yang di dalamnya tegak kesungguhan tolong-menolong agar selamat dari neraka sehingga keduanya dapat masuk jannah bersama keturunannya. Perhatian utama suami-istri adalah dalam urusan yang paling mendasar, bukan soal bersenang-senangnya.⁣
Dua hal ini hanyalah yang berkait dengan usrah (keluarga) agar tidak menjadi bi’ah fasidah. Ada beberapa lagi lainnya berkait bi’ah fasidah yang perlu kita cermati dalam Ngaji Kitab Al-Fithrah putaran kesembilan belas ini.⁣

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Makna di Balik Pengulangan ‘Iqra’ Pada Surat Pertama

Oleh : Ustadz Sholih Hasyim

Ada hal yang asing/jarang dibahas dalam kitab tafsir dan diangkat ke permukaan. Padahal, menurut hemat saya, ini amat penting. Yaitu mengapa sosok Jibril  menggunakan kalimat perintah tiga kali : iqra, iqra, iqra.  Tidak mungkin sosok seperti Jibril melakukan redundant; mubazir. Pasti tiap titik koma punya makna tersendiri.

Kosakata Asing 

Rasulullah sendiri juga seperti bingung waktu itu.  Sampai berkata; ma ana biqari. Secara ilmu semantik, qaraah adalah suatu kosakata yang tidak familiar di bangsa Arab waktu itu. Karena qaraah padanan dengan kataba. Qoraa dan kataba selalu terkait. Qaraah artinya membaca kitab suci. Sementara di dunia Arab tidak pernah turun kitab suci. Di Arab, kata qaraah merujuk kepada ‘pembaca kitab suci’. Jadi Jibril mengatakan iqra. Rasulullah menjawab  ma ana biqari.

Mohon maaf, rasanya tidak bisa diterjemahkan bahwa nabi Muhammad buta huruf hanya karena mengartikan ma ana biqari.  Apa kita bangga dipimpin seroang nabi buta huruf  ? Orang secerdas seperti itu masa’ membaca saja tidak bisa, hanya karena kita membaca qaraah dalam perspektif modern. Padahal qaraah pada masa nabi adalah suatu bahasa Arab yang tidak familiar bagi orang Arab sendiri. Kecuali talaa  yatluw, `utlu;  membaca. Palestina tempat orang membaca kitab suci, karena hampir semua kitab suci turun di sana. Tidak pernah ada kitab suci turun di jazirah Arab.  Maka Nabi mengatakan; saya bukan bangsa pembaca kitab. Iqra | ma ana biqari.| … barulah yang keempat; iqra bismi rabbilkallazi khalaq. 

Dalam satu tafsir Isyari disebutkan, ternyata 

Iqra pertama artinya how to read. 

Iqra kedua; how to learn. 

Iqra ketiga; how to understand. 

Iqra keempat; iqra bismi rabbiq ; how to elevate..

Jadi kalau kita baca Al Qur’an kejar target, sudah berapa juz, itu iqra pertama. Ingat, Jibril memerintahkan, bukan hanya satu kali. Ini juga yang perlu kita perjelas, bahwa ustadz kita sering mengatakan iqra; bacalah Al Qur’an. Padahal Al Qur’an belum ada waktu itu.

Jadi yang perlu dibaca, dalam ilmu balaghah. ilmu bahasa Arab, apabila ada fi’il amr tanpa maf’ul/ kalimat perintah tanpa objek. Itu yufidul 'am;  menunjukkan kepada apapun (umum). Semua harus dibaca,  dan yang tentu harus dibaca adalah segala sesuatu selain Allah adalah ayat. Alam raya ini adalah ayat. 

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu ? (QS. Fushilat (41) : 53)..

Kita diperingatkan bahwa tidak hanya mampu membaca dalam pengertian how to read and learn, tapi juga bagaimana lebih melibatkan lagi tingkatan kesadaran berikutnya. how to understand. Iqra ketiga ada keterlibatan tidak hanya intelektual tapi juga emosional. Iqra ketiga lebih mendalam lagi, ada  keterlibatan emosi.

Contoh, kita melihat banyak foto. Kita melihat ibunda kita . di antara sekian banyak foto kenapa kita terpana melihat foto ibunda kita ? Karena ada iqra ketiga di situ. Sejak beliau pergi, tidak ada lagi air mata tumpah mendoakan aku. Demikian kata anaknya. Kita melihat pohon kelapa. Yang menanam adalah bapak saya. Beliau tidak sempat menikmati buahnya. Sayalah yang menikmatinya. Begitu melihat pohon kelapa itu, dia terharu dan terkesan, bahwa di balik buah yang enak ini ada keringat yg pernah mengucur.

Umat Islam seharusnya mensponsori, sekarang sedang era revolusi mental, mustahil ada revolusi mental  tanpa ada perubahan metodologi atau epistimologi. Maka itu perlu iqra, kalau dalam ilmu tafsir, ini perlu disyarah, perlu diberikan anotasi. Banyak sekali, singkat tapi sangat padat.  Iqra ketiga ini yang kurang dalam umat islam. Bisanya hanya sampai di iqra kedua.  Maka banyak orang makin pintar tapi makin kurang ajar. Mungkinkah Umat Islam menjadi ukuran dalam melihat seorang ilmuwan yang tidak mesti harus menyakiti perasaan orang lain.

Baru sedikit orang yang bisa mencapai iqra ketiga. padahal Jibril sudah memperingatkan kita. Iqra.  Lebih sedikit lagi yang mencapai iqra keempat. Kalau orang sudah sampai ke iqra keempat melibatkan spiritualitas, cinta kasih yang sangat dalam. Maka tidak ada satu pun yang tidak bermakna.  

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran (3) : 191)..

Dan inilah yang dipegang sesungguhnya oleh ilmuwan kita pada abad pertengahan. Pribadi yang sangat utuh.

Saya berikan satu contoh; Ibn Rusyd.  Kalau membaca Ibn Rusyd kira-kira otaknya encer. Dia menulis sebuah buku; Bidayatul Mujtahid. Kalau ulama fikih pernah membacanya, seperti tidak ada lagi kitab  fikih komprehensif selengkap Bidayatul Mujtahid. Lupa bahwa buku tersebut ditulis seorang dokter yang menulis buku kedokteran Tidak pernah ada yang menyangka kalau Ibn Rusyd seorang fuqaha. Tapi membaca satu karyanya lagi Fasl al-maqal fi ma bayna hikmal sharia, tidak pernah ada yg menyangka kalau dia seorang dokter. Mungkin dianggap seorang sufi yg sangat hebat. Jadi dia sufi, dokter, dan ahli fiqih.  Prakteknya, kalau pagi hari menjadi qadhi, di siang hari jadi filosof, di malam hari dia sufi. Pribadi yang utuh.

Ilmuwan lagi juga sama. Jabir ibn Hayyan dikenal the father of chemistry. Lebih dahulu dia menjadi seorang sufi baru menjadi ahli kimia. Anak nakal sebelumnya.  Hati-hati terhadap anak nakal yang pada masa muda, biasanya bikin kejutan di masa tua. Jadi tidak perlu takut terhadap JIL di masa muda tapi justru Ibn Arabi, imam al Ghazali, Hasan Basri,  mantan pemikir bebas. Tapi karena faktor umur dan kematangan dia menjadi orang paling hebat. Jadi jangan mengecilkan semangat orang yang mungkin berbeda dengan kita sebagai orangtua. siapa tahu di kemudian hari akan menjadi orang hebat. Jabir mengakui; saya dulu sangat nakal, kasar, keras, tapi di atas sejadah malam kok bisa menangis. Perbuatan cengeng seperti ini. Di siang hari dia merenung, hati yang sangat keras bisa lembut. Dia melihat sebuah bongkahan batu yang keras ini kalau diproses dan diasah akan menghasilkan batu mulia dan harganya akan lebih mahal. Diambilnya batu itu, dibelah, diasah, jadi permata. Dia melihat logam ini, kalau kita proses akan menjadi logam mulia, emas. Jadi al kimia yang melahirkan kimia.

Pengetahuan Keilahian

Kelemahan kita  sebagai seorang ilmuwan modern  mungkin karena terlalu cerebral-oriented. Akhrinya apa yang terajdi, ilmu selalu kita konotasikan dengan akal. Padahal sesungguhnya, wilayah kita ada divine knowledge. Tiap orang memiliki human knowledge dan divine knowledge. Divine knowledge (pengetahuan keilahian) ada 3 tingkatan. Kalau jatuhnya kepada seorang nabi, maka itu disebut wahyu, 100% benar maka itu disebut haqqul yakin. Kalau  jatuhnya kepada seorang wali, kira-kira 90% benar.  Divine knowledge adalah tingkat kebenarannnya ainul yakin. Kalau orang seperti kita jangan kuatir, kita juga punya akses untuk ke sumber knowledge namanya ta’lim. Prosentase kebenarannya di atas 80%. Tingkat kebenarannnya ilmul yakin.

Jadi, semua orang punya kemampuan mengakses alam sana. Kita tidak bisa hanya percaya satu alam. Al Fatihah yang selalu kita  baca. Alamin itu jamak. Kalau hanya satu alam; alamun. jadi ada alam syahadah mutlak, alam syahadah relatif, alam ghaib relatif, alam ghaib mutlak dan ada yang bukan alam.  Itulah wilayah keilahian wahidiyah dan ahadiyah dalam imu tasawuf.  Orang yang bersih hatinya mampu mengakses alam-alam di atas. Makin tinggi alam itu makin dekat  kepada Allah. Makanya kita baca dalam jami karamatul aulia; alangkah miskinnya seorang ilmuwan kalau gurunya hanya orang hidup. Bahkan ada lagi, alangkah miskinnya seorang murid kalau gurunya hanya manusia biasa. Ternyata ulama kita belajarnya kepada macam-macam. Misal, kita dari sunni,  ihya ulumuddin ditulis di puncak menara masjid Damaskus. Ada yg protes, syekh, banyak sekali hadis di ihya ulumuddin yang saya tidak pernah baca di kitab hadis. Ia menjawab; saya tidak pernah menulis sebuah hadis dalam kitab ihya tanpa konfirmasi dulu kepada Nabi. Rasululullah wafat 622 H, al Ghazali 1111 H.  Ada dua ratusan hadis dalam ihya. Berarti bisa dua ratusan kali bertemu Nabi hanya satu kitab.

Kata Rasulullah  dalam hadis Bukhari Muslim, siapa yang bermimpi menjumpai aku, aku betul-betul yang dilihat. Satu-satunya wajah yang tidak bisa dipalsukan iblis adalah wajahku. Itu bukan hanya Imam al Ghazali. Dalam jami karamatul aulia ada 459 wali di situ. Tidak ada wali songo, saya lihat tidak tahu kenapa. Rata-rata  punya akses ke sumber ilmu pengetahuan.  Jadi betapa dangkalnya ilmu pengetahuan kita kalau menafikan apa yang sekarang ini dipandang enteng.  Astrologi. katanya bid'ah. Padahal justru kalau kita lihat ada 27 ilmuwan terkemuka pada abad pertengahan mengakuinya. Hanya astrologi mereka tidak seperti astrologi Cina, Romawi/ Eropa dan India. Itu memang syirik. Astrologi islam tidak lain adalah mukasyafah itu sendiri.  Kita tahu kalau orang bersih hatinya mampu memantulkan cahaya  dari yang Maha Bercahaya.

Jadi sumber pengetahuan dalam Islam ada enam. Sementara Barat hanya akumulasi deduktif keilmuwan itu. kita percaya mimpi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kalau tidak meyakininya, berarti  sebagian ajaran Islam hilang. Wajib hukumnya menyembelih domba saat idul adha dasarnya mimpi. Aku melihat engkau dalam mimpi, aku menyembelih engkau. Kalau menolak mimpi, sebagian ajaran islam  hilang. Dalam Islam ada 5 tingkatan mimpi. Ada yg disebut al hilm; anak remaja yang bermimpi basah; hilmun. Ada lagi manamats; mimpi para nabi. sama dengan wahyu. Ada lagi ru’ya shadiqa; beberapa wali termasuk Nabi Yusuf menggunakan istilah tersebut. Ada lagi yang disebut waqiiyat, para suluk, pemimpin tarekat tempo dulu.  Betul-betul sangat bersih hatinya. Dalam satu kitab kuning. suhra wardi. ‘pak kiyai habis perbekalan ini, setelah tadabur ke gunung. Kita berdoa. Antara tidur dan tidak, dia diperlihatkan, pergilah ke bawah pohon gali di situ ada bungkusan  jubah warna hijau. Hati-hati karena di dalam kantungnya ada keping-keping emas.  Para santri menggali dan benar ada. Kalau kebetulan hanya ada 2-3. Kalau ada ribuan pasti  bukan kebetulan. kalau ini ditiadakan, berarti besar sekali kerugian umat Islam.

Karena itu, kita menuntut ilmu terlalu otak- oriented. Akhirnya kita lihat sekarang apa yang terjadi. divine  knowledge tidak diminati orang.  Padahal diakui atau tidak, pengakuan yang cerdas tiba-tiba muncul dalam benak kita bukan punya kita tapi Allah. Ada dua macam pengetahuan; melalui olah nalar bahasa arabnya ilmun.  Ada olah batin; ma’arifah. ilmun sedikit tapi hikmah dahsyat luar biasa. Unlimited. Tanpa batas. 

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(QS. Al Baqarah (2) : 269) .

Terakhir saya ingin menyimpulkan sudah saatnya kaum muslimin mempromosikan suatu metodologi keilmuwan yang bisa mengeksplor kembali nilai-nilai luhur kita.  Nilai-nilai Al Qur’an itu sendiri. Terlalu banyak kerugian kalau kita menafikan sumber-sumber ilmu pengetahuan  disebutkan tadi, termasuk intuisi yang dipelihara akan sangat tajam. Mintalah pandangan terhadap hati. Tapi bagaiman hati yang tidak pernah terawat bisa dimintai pandangan, karena hati-hati, iblis sekarang bisa menyamar menggunakan jubah malaikat. Sebaliknya malaikat juga kadang menggunakan jubah iblis untuk menguji kita.

Saya akan menutup dengan hadits; suatu saat Abu Hurairah, pemegang kunci baitul maal diperingatkan Rasulullah, hati-hati nanti malam akan datang pencuri. Lewat tengah malam. Muncul dan ditangkap. Ia lalu memohon maaf saya terpaksa mencuri karena orang tua dan anak saya sakit. dilepas. Kata Rasulullah nanti malam akan datang pencuri baru. Begadang. Akhirnya ditangkap lagi. Singkatnya beriba-iba lagi terhadap Abi Hurairah.

Sampai malam ketiga masih ada pencuri yang datang dan ditangkap mengatakan; terima kasih Abu Hurairah, dua malam berturut-turut engkau melepaskan aku. Sekarang engkau akan menyerahkan ke pengadilan, mungkin saya akan dieksekusi, tapi sebelumnya saya akan meghibahkan kepadamu tanda terima kasih. Apa itu ? saya akan mengajari engkau wirid. Kalau engkau membacanya kamu tidak akan pernah bisa digoda oleh iblis. dan kalau engkau baca setan dan iblsi lari terbirit birit sampai mentok ke ujung langit. Tertarik Abi Hurairah. Bacalah ayat kursi. Jadi iblis ini yang menyamar sebagai pencuri fasih sekali membaca ayat kursi.  Yang kita pelajari. justru iblis fasih membacanya. Sekarag susah membedakan mana iblis mana malaikat.

Ustadz Sholih Hasyim, Pengurus DPP Hidayatullah. Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kudus, Jawa Tengah

-------------------------------

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=381044076674230&id=100043059221684

Murid, Guru, dan Wali Murid : 3 Serangkai dalam Dunia Pendidikan


Oleh : Nurrahman, S.Ag.

وقيل :

 يحتاج في التعلم و التفقه الى جدّ ثلاثة :

المتعلم, والاستاذ, والأب ان كان في الأحياء

Dikatakan :

“ Dalam mempelajari dan mendalami ilmu memerlukan kesungguhan  dari 3 pihak, yaitu : Murid, Guru, dan Ayah dari si murid jika ia masih hidup”

Matan di atas dapat kita temukan di buku “ Mausu’ah Adab Thalibil Ilmi “ atau 

“ Ensiklopedia Adab Penuntut ilmu “. 

3 serangkai ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya kecuali satu, yaitu wali murid. Artinya pembelajaran atau proses menuntut ilmu masih tetap akan berjalan hanya dengan dua pihak saja yaitu guru sebagai orang yang akan diambil ilmunya dan murid sebagai orang yang akan mengambil ilmunya. Akan tetapi ketika wali murid, apakah itu orang tua atau orang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan si murid masih hidup, ia harus melakukan perannya secara maksimal. Oleh karena itu bisa kita gambarkan ketiga pihak ini sebagai berikut : 

Guru di sisi yang lain dan murid di sisi yang lain, sedangkan wali murid berada di barisan si murid yang berperan menyiapkan bekal dan perangkat untuk mendapatkan ilmu yang terbaik. 

Murid, adalah orang atau pihak yang akan mecari ilmu. Oleh karenanya, ia harus paham bekal apa yang harus ia siapkan, apa konsekuensinya sebagaimana seorang pemburu yang harus menyiapkan bekal dan peralatan berburunya selengkap mungkin. Bahkan sebelum menuntut ilmu itu sendiri, seorang murid harus memahami dan mengamalkan perangkat yang lain, yaitu adab menuntut ilmu. Satu diantara sekian banyak perkataan salafu shalih tentang adab adalah sebagai berikut,

Imam Malik berkata kepada seorang pemuda Quraisy : 

يا ابن أخي تعلّم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu” 

Setelah adab sudah diamalkan, barulah beranjak untuk menuntut ilmu. 

Apa syarat (bekal) menuntut ilmu? 

Imam Syafi’i Rahimahullah Ta’ala berkata, 

أخي لن تنال العلم الاّ بستة   سأنبيك عن تفصيلها ببيان

ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة   وصحبة أستاذ  وطول زمان

“ wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 syarat

akan kukabarkan 6 syarat tersebut (yaitu) : 

kecerdasan, keinginan yang kuat, mujahadah, bekal, membersamai guru, dan panjangnya waktu”

Apa konsekuensi dalam menuntut ilmu?

Kesengsaraan dan pahitnya hidup. 

Imam Abu Hanifah berkata : 

يستعان على الفقه بجمع الهمّ, ويستعان على حذف العلائق بأخذ اليسير عند الحاجة ولا تزد

“ memahami ilmu itu akan terbantu dengan berkumpulnya kegelisahan, dan memutus semua hubungan dengan mengambil yang mudah ketika membutuhkan serta tidak berlebihan “

Imam Malik berkata : 

لا يبلغ أحد من هذا العلم ما يريد حتى يضرّ به الفقر, ويؤثره على كل شيء

“ Seseorang tidak akan sampai  kepada (mendapatkan) ilmu yang ia inginkan, sampai ia tertimpa kefaqiran dan lebih mengutamakan (ilmu) daripada yang lainnya “

Imam Syafi’i berkata :

لا يدرك العلم الا بالصبر على الذلّ

“Ilmu tidak akan diperoleh kecuali harus bersabar terhadap kehinaan ”

Bagaimana murid memahami bekal ini dengan baik? 

Seorang murid (penuntut ilmu) diawal pembelajarannya belum tentu paham bekal dan perangkat dalam menuntut ilmu (secara keseluruhan). Apalagi yang usianya masih tergolong dini. Maka dua pihak (wali murid dan guru) inilah yang berperan memahamkan bekal atau syarat dalam menuntut ilmu. Bagaimana jika wali murid tidak mengetahui bekal-bekal dalam menuntut ilmu? Jawabannya adalah belajar kepada ahli ilmu (bisa bertanya, membaca dll) agar ia bisa tanamkan kepada anaknya. Kedua, yang harus ia lakukan adalah menyerahkan pendidikan anaknya kepada ahli ilmu (guru) dengan “ikhlas” dan “adab-adab” yang benar. 

Wali murid “wajib” tahu bekal menuntut ilmu sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama terdahulu, diantaranya adalah Imam Syafi’i (sebagaimana yang telah disebutkan di atas). Wali murid berupaya mewujudkan 6 bekal tersebut secara maksimal, agar anaknya dapat menimba ilmu dengan baik dan maksimal. 

Pertama, kecerdasan. Wali murid memberikan makanan yang bergizi, halal dan barakah sehingga nutrisi otak tercukupi dengan baik. 

Kedua,keinginan yang kuat. Wali murid memberikan arahan dan motivasi agar anaknya mau menuntut ilmu dengan baik. Hal yang bisa dilakukan diantaranya adalah dengan mengajak anaknya berkunjung ke lembaga pendidkan islam seperti pesantren, mengunjungi ahli ilmu dan meminta doanya, menceritakan kisah-kisah para ulama dsb. 

Ketiga, mujahadah. Mengerahkan segala kemampuan untuk ilmu. Diantara cara yang bisa dilakukan wali murid kepada anaknya adalah menanamkan kecintaan ilmu sejak dini, tidak terlalu memanjakan , melatih kesederhanaan dll.

Keempat, bekal. Bekal meliputi biaya makan, pakaian, uang atau apapun bentuknya yang bisa digunakan untuk menuntut ilmu sehingga dengan adanya bekal tersebut ilmu bisa dicapai secara maksimal. 

Kelima, membersamai guru. Pembelajaran yang paling ideal adalah talaqqiy yaitu murid bertemu langsung kepada guru. Banyak sekali alasan kenapa harus dengan bertalaqqiy di dalam menuntut ilmu? Sekalipun pembelajaran on line (di masa moderen) seperti saat ini bisa juga dilakukan. Tetapi pembelajaran on line ini tidak ideal. Hanya dilakukan di kondisi-kondisi tertentu saja. 

Diantara manfaat Model pembelajaran talaqqiy adalah murid bisa mempelajari adab dari sang guru, murid bisa berinteraksi langsung dan memperlakukan ahli ilmu sebagaimana mestinya, dapat mengamalkan adab-adab menuntut ilmu yaitu Ilmu itu didatangi bukan mendatangi artinya murid mendatangi guru bukan guru mendatangi murid (di rumahnya).

Keenam, waktunya panjang. Karena panjang, kesabaran harus ditanamkan kepada anak-anak. Imam Ibnul Mubarak berkata : 

لا ينال العلم الا بالفراغ والمال والحفظ والورع

“ Ilmu itu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan waktu kosong (fokus), harta (sebagai bekal), menghafal, dan wara’(menjauhi syubhat dan maksiat) ”

Model pembelajaran di pesantren

Apabila wali murid memilihkan model pembelajaran untuk anaknya model pesantren, maka wali murid harus mematuhi dan mentaati peraturan yang sudah disepakati sebagai bentuk adab kepada guru (pengelola pendidikan). Secara umum, bekal-bekal menuntut ilmu yang sudah digariskan oleh para ulama (seperti imam Syafi’i) itu sudah dikelola dan diatur oleh pihak lembaga/ pesantren, sehingga memudahkan semua pihak (wali murid, murid, dan guru) untuk melakukan proses pendidikan. 

Ulama dulu mengatakan : 

العلم لا يعطيك بعضه الا اذا أعطيته كلّك

“Ilmu tidak akan memberikan sebagiannya saja kepadamu, kecuali engkau memberikan semua (yang kau punya) untuknya” 

Memberikan semuanya untuk ilmu meliputi waktu, harta, tenaga, dll sampai kemudian merasakan pahit dan kesengsaraan dalam hidup. 

Semua pihak berkurban untuk ilmu. Murid sebagai pelaku utama dalam menuntut ilmu harus merasakan kesengsaraan. Kelaparan, kehausan, rasa sakit, rasa kangen dengan orang tua, kehilangan barang, kurang tidur, dan sebagainya terkadang harus ditemui oleh para murid. Sekalipun sarana dan fasilitas sudah sangat memadai dan mencukupi. Bahkan ketika semuanya sudah tercukupi, seorang murid justru harus menahan diri dari sikap berlebih-lebihan dalam urusan dunia seperti makan, tidur, main dll. 

Imam Ibnu Hajar al Asqalani dalam “Fathul Baari” mengatakan terkait dengan kisah perjalanan abu hurairah dalam menuntut ilmu sampai kemudian beliau menjadi faqir dalam urusan dunia (kisahnya cukup panjang). 

أنّ التقلل من الدنيا امكن لحفظ العلم

“Bahwa menyedikitkan dalam urusan dunia itu lebih dapat mengokohkan hafalan ilmunya “

Guru dan juga pengelola pendidikan terus memberikan pelayanan yang terbaik agar para murid dapat menempuh dan mendapatkan ilmu seta keberkahannya.

Wali murid, memaksimalkan peran dan dukungan terhadap anaknya dari berbagai sisinya untuk kemuliaan ilmu.  Biaya pendidikan, mentaati peraturan pesantren, menjaga hubungan dengan pihak pesantren/ pengelola pendidikan. Sampai kemudian wali murid harus ikut merasakan kesengsaraan.  Kehabisan harta untuk pendidikan anaknya, menahan diri untuk tidak mengunjungi anaknya di luar jadwal penjengukan sekalipun rasa kangen yang teramat sangat besar. Jika sudah mengorbankan segalanya untuk ilmu, maka bolehlah berharap agar anaknya menjadi ahli ilmu di masa yang akan datang. Seperti inilah awal orang-orang besar di masa lalu menempuh jalan kemuliaan ilmu. Berpahit pahit dahulu, bermanis manis kemudian. 

العلم أولها مرّ واخرها حلو

“Ilmu itu awalnya pahit tapi akhirnya manis.”

Nurrahman, S.Ag., Mudir Ma'had Hidayatullah Magelang Jawa Tengah

Orang-orang yang Tersembunyi

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Bekal awal dakwah ialah kehendak sangat kuat untuk mengajak manusia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mencintai RasuliLlah ﷺ dan mengikuti apa yang telah digariskan oleh agama ini. Kerinduan terbesar seorang da’I seharusnya adalah, tumbuh cinta kepada agama. Bukan kepada dirinya. Membangkitkan kesadaran manusia bahwa mereka memiliki hajat yang sangat besar kepada agama. Bukan terhadap dirinya. Mendorong mereka untuk “ketagihan” belajar dengan sungguh-sungguh mengenai agama ini. Bukan “ketagihan” mendengarkan perkataannya, tetapi tidak mengambil ilmu darinya.⁣

Di antara tantangan besar seorang da’i ialah menghilangkan dari dirinya hubbusy syuhur (cinta popularitas) sehingga ia lebih sibuk menjadikan dirinya terkenal. Bukan bersibuk menggemakan syiar agama ini hingga menyelusup ke dalam hati sasaran dakwah kita. Sesungguhnya cinta popularitas itu induk segala keburukan.⁣
Di antara orang yang Allah ‘Azza wa Jalla cintai adalah mereka yang tersembunyi. Mereka bertaqwa, merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak dikenali oleh manusia, meskipun mereka sesungguhnya ahli kebaikan yang ‘amal shalihnya melebihi orang-orang lain. Nabi ﷺ bersabda:⁣
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ⁣
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.” (HR. Muslim).⁣
Mengapa orang-orang yang tersembunyi itu istimewa? Manusia memiliki thabi’ah –bukan fithrah—senang dipuji; senang dianggap hebat. Dan manusia-manusia istimewa yang dicintai Allah Ta’ala itu lebih bersibuk menjadikan manusia memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan dirinya. Ia tidak berambisi tampil di hadapan manusia.⁣
Adakalanya mereka harus tampil, tetapi bukan karena sedang menaikkan popularitasnya. Ia sedang berusaha meninggikan syiar agama ini. Maka alangkah banyak di antara mereka yang justru menangis ketika dirinya masyhur, sementara mereka merasakan agama ini kurang hidup di dada manusia. Padahal orang lain melihat mereka justru sedang meraih puncak kenikmatan disebabkan kemasyhurannya.⁣
Sangat berbeda antara meninggikan syiar agama yang dengan itu mereka populer dengan yang mengejar popularitas menggunakan agama.⁣
Foto-foto karya Kang Budi Yuwono.
Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator Keluarga

Rahasia Kaya Raya


Oleh : Jamil Azzaini

Beberapa hari yang lalu, usai memberikan training online saya kedatangan tamu anak muda, usianya belum 30 tahun. Saat jumpa ia berkata “Pak, terima kasih, saya mempraktekkan resep kaya raya dari  bapak dan alhamdulillah saya berhasil.” Karena saya merasa tidak pernah memberikan training tentang kekayaan, saya pun menjawab “ah masak, saya merasa tidak pernah memberikan materi training seputar resep kekayaan.”

Pemuda itu tersenyum dan berkata “memang saya dapat resep kaya raya dari bapak bukan pada saat training tetapi saat ngobrol berdua.” Penasaran dengan resep yang sudah saya berikan, saya pun bertanya “resep kaya raya yang mana yang pernah saya berikan?”

Dengan penuh semangat, pemuda itu berkata, “itu lho pak rumus HAVE = DO X BE” Saya pun jadi teringat resep tersebut. Apabila kita ingin mendapatkan HAVE (kekayaan) sebanyak 10, maka ada beberapa pilihan yang bisa kita lakukan. Kita bisa membuat pilihan DO senilai 10 dan BE senilai 1 atau DO sebesar 1 dan BE sebesar 10. Pemuda itu kemudian berkata “saat itu bapak berpesan kepada saya fokuslah pada BE karena itu tidak terbatas, sementara DO itu sangat dibatasi waktu, tenaga dan energi yang kita punya. Kita bisa kaya raya tanpa harus ngoyo (DO).

BE adalah upaya memantaskan diri menjadi orang kaya raya. BE itu bisa berupa mindset, suasana hati dan keahlian. Apabila mindset seseorang mengatakan bahwa “uang adalah sumber kejahatan” maka orang tersebut berpeluang besar tidak kaya. Tetapi bila mindset kita “uang adalah sumber kebahagiaan dan kebaikan” maka aliran kekayaan akan mendatangi kita.

Begitu pula saat ada orang yang memiliki mindset “gak banyak uang gak apa-apa yang penting bahagia.” Orang ini pun kemungkinan besar bahagia tetapi tidak punya banyak uang. Tetapi bila mindset tentang uangnya kita ubah “bahagia dan kaya raya itu bersaudara, kita bisa memiliki keduaanya secara bersamaan.” Insha Allah, kita bisa hidup bahagia sekaligus kaya raya.

Suasana hati juga bisa meningkatkan dan menurunkan BE. Saat seseorang merasa bahwa dirinya kekurangan maka BE nya turun dan aliran kekayaan (HAVE) akan menurun atau mengecil. Sebaliknya, saat suasana hati itu penuh keberlimpahan, rasa syukur yang besar maka BE meningkat dan aliran kekayaan (HAVE) akan semakin membesar.

Penopang BE yang lain adalah, keahlian. Semakin tinggi keahlian kita maka semakin besar nilai BE-nya. Maka kita perlu mengasah suatu keahlian sehingga kita benar-benar diakui ahli oleh banyak pihak, bukan kita yang mengaku-ngaku ahli. Keahlian yang semakin langka, nilainya semakin besar. Keahlian yang semakin banyak dan saling mendukung juga menaikkan nilai BE.

Nah, Anda ingin kaya raya? Praktekkan Resepnya dengan cara meningkatkan BE, yaitu miliki mindset bertumbuh yang tepat, suasana hati yang berkelimpahan dan terus mengasah keahlian.

Selamat mencoba dan saya menunggu kabar baik dari Anda, kabar bahwa Anda sudah kaya raya. Ditunggu.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com

Adab dalam Mencari Guru/Lembaga Pendidikan


Oleh : Nurrahman, S.Ag.

Imam Abu Hanifah berkata : 

Aku mendengar seorang ahli hikmah dari samarkhand berkata : ada seorang pelajar yang meminta saranku terkait mencari ilmu, sementara ia telah berkeinginan untuk pergi ke Bukhara untuk mencari ilmu. Ahli hikmah itu berkata, “Bila engkau telah pergi ke Bukhara, maka jangan buru-buru mendatangi (majlis) para imam. Tinggallah selama 2 bulan sehingga engkau bisa menilai dan memilih guru. Sebab, bila engkau telah pergi kepada seorang ulama’ dan mulai belajar padanya, boleh jadi pengajarannya tidak menyenangkanmu lalu engkau meninggalkannya dan pergi kepada guru lain ; sehingga engkau tidak diberkahi dalam belajar. Maka, pikirkan selama 2 bulan untuk memilih guru dan musyawarahkanlah, sehingga engkau tidak meninggalkan dan berpaling darinya ; lalu engkau dapat bertahan di sisinya sehingga belajarmu diberkahi dan engkau mendapat banyak manfaat dan ilmumu.” (Adabul ‘Alim wal Muta’allim).

Persoalan lain yang juga harus diingat adalah tidak buru-buru pindah dari madrasah karena persoalan-persoalan sepele; terutama bagi pelajar pemula. Di antara pertanda kekurangseriusan dan kegagalan dalam belajar adalah suka pindah-pindah , baik pindah madrasah maupun ilmu yang dikaji, tanpa alasan yang jelas.  

 Syaikh Az Zarnuji berkata : 

“Abu Hanifah memilih Hammad bin Salamah (sebagai gurunya) setelah merenung dan mempertimbangkannya.” (Kaifa Tahfadzul Qur’an)

Ia (Abu Hanifah) juga berkata,” Aku terus belajar kepada Hammad bin sulaiman hingga aku makin berkembang.” (Ta’lim al Muta’allim).

Nurrahman, S.Pd.I., Mudir Ma'had Hidayatullah Magelang

Foto : Kampus Pesantren Hidayatullah Magelang

Tengok, Siapa Karib Kita!

 

Dari Ibnu Abbas ia berkata, ”Dikatakan kepada Rasulullah ﷺ, ‘Karib seperti apa yang baik untuk kami?’ Rasulullah ﷺ menjawab, “Yakni siapa yang mengingatkan kalian kepada Allah jika kalian memandangnya, dan menambah ilmu kalian perkataannya, dan mengingatkan kalian tentang akhirat amalannya.” (Riwayat Abu Ya’la dalam Al Musnad [2437], 4/326, Al Hafidz Al Bushiri berkata,”Di dalam periwayatannya ada  Mubarak bin Al Hasan dan ia ditisqahkan dan sisa dari periwayat adalah para perawi Shahih,” Majma` Az Zawaid, 10/226).

Sebab itulah, para ulama memberi nasihat agar kita tidak banyak bergaul kecuali dengan orang-orang mulia. Al Muhasibi berkata, ”Janganlah kalian bermajelis kecuali dengan cendekia yang bertakwa, dan janganlah bermajlis kecuali dengan ulama yang shalih.” (Risalah Al Mustarsyidin, hal. 59).

Imam Al Hasan Al Bashri pun berkata, ”Dunia seluruhnya gelap, kecuali mejalis-mejalis para ulama.” (Jami’ Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi, 1/51).

Pengaruh Teman dalam Pergaulan

Kondisi teman, bisa berpengaruh banyak hal kapada kita, sehingga perlu bagi kita berhati-hati memilih teman. Setidaknya, itulah inti dari nasehat yang disebutkan oleh Imam Abu Laits, di mana beliau mengatakan, ”Seorang tidak akan melakukan 8 hal, kecuali Allah akan memberinya 8 hal pula. Kalau ia banyak bergaul dengan orang kaya, maka timbul dalam hatinya kesenangan terhadap harta. Kalau ia akrab dengan orang miskin, maka timbul dalam hatinya rasa syukur dan qana’ah. Kalau ia berteman dengan penguasa, maka timbul rasa sombong. Kalau ia berdekatan dengan anak-anak maka ia banyak bermain. Kalau ia dekat dengan para wanita, maka syahwatnya akan timbul. Kalau ia berkarib dengan orang-orang fasiq, maka datang keinginan untuk menunda-nunda taubat. Kalau ia dekat dengan ahli ilmu, maka ilmunya akan bertambah. Kalau ia dekat dengan ahli ibadah, maka akan termotivasi melakukan ibadah yang lebih banyak.” (Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 9).

Sumber : www.hidayatullah.com

Boikot Produk Prancis, Berhenti Beli Produk Mereka

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Jika ibumu direndahkan, kehormatannya dijatuhkan, apakah kalian bersedia membelanjakan harta kalian di toko milik orang-orang yang menghinakan ibumu? Apakah kalian bersedia mengeluarkan uang untuk membeli produk-produk mereka?⁣⁣

⁣⁣Jika ibumu dihinakan, dibuat gambar untuk menertawakannya, dipajang di tempat-tempat mereka, di rumah-rumah maupun toko-toko mereka, maka apakah kalian akan kuat hati untuk membelanjakan uang kalian? Mengeluarkan harta kalian, membeli produk-produk mereka? Berbelanja di toko-toko mereka, di warung-warung mereka, dengan alasan lapang dada berbesar hati? ⁣⁣
⁣⁣
Tidak. Orang yang sehat akalnya tidak akan melakukan yang demikian. ⁣⁣
Tidak. Orang yang sehat imannya tidak akan melakukan yang demikian.⁣⁣
Tidak. Orang yang sehat jiwanya tidak akan melakukan yang demikian.⁣⁣
⁣⁣
Ini baru ibu kita. Orangtua kita. Apalagi kalau yang direndahkan kehormatannya adalah manusia yang wajib kita cintai melebihi ibu kita, yakni RasuliLlah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Maka lebih kuat lagi alasannya, lebih mendasar lagi alasannya, untuk menahan diri, berhenti membeli produk-produk mereka.⁣⁣

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Sumber Facebook Mohammad Fauzil Adhim

Ayah Abul Jasad atau Ayah Abuddin?


Oleh : Herman Anas

ABUL Jasad adalah ayah secara jasad, fisik dan biologis. Karena dari perantara ayah dan bunda anak lahir ke dunia. Perhatian dan perawatan terhadap anaknya hanyalah terkait dengan fisik dan kesenangan dunia yang fana (sementara dan rusak).

Sifat dunia yang tidak kekal ini atau fana sebenarnya bisa dirasakan saat masih hidup, tidak usah menunggu meninggal dunia. Orang senang makan nasi padang kalau hanya sesekali, tapi kalau tiap hari? Orang senang tidur, kalau tidak terus-menerus. Begitupun orang membayangkan akan selalu senang jika cita-citanya tercapai. Namun, berbeda saat menjadi kenyataan. Orang berfikir akan selalu senang saat mendapat harta, kedudukan, jabatan, kendaraan dst. Kenyataannya tidak selalu demikian saat semua sudah didapat. Apalagi ditambah niat yang keliru.

Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan dalam haditsnya dari Zaid bin Tsabit :

مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan dunia melebihi dari apa yang Allah tuliskan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan atau selalu merasa cukup dalam hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).“

Dalam hadits tersebut, orang yang menjadikan dunia menjadi tujuan utama dan niatnya di dalam berbuat sesuatu maka Allah memberi hukuman dengan mencerai-beraikan urusannya. Urusannya tidak ditolong Allah hingga lupa ibadah, mendapat apapun tidak pernah cukup dan ia hanya mendapatkan tidak melebihi dari yang ditetapkan oleh Allah.

Ayah abul jasad menanamkan hal-hal tersebut kepada anak-anaknya. Ia yang menanamkan cita-cita yang kerdil dalam menuntut ilmu supaya dapat pekerjaaan, hidup enak, mudah punya jabatan dst.

Ayah abul jasad adalah orang tua yang menanamkan kemanjaan pada anak dengan seabrek fasilitas, yang menurutnya membuat anak senang atau bahkan menaikkan level strata sosial. Padahal itu adalah kesenangan sementara yang cepat bosan dan justru menyusahkan orang tua sendiri.

Mengapa seorang ayah menjadi abul jasad? Karena standar berfikirnya adalah manfaat. Baik dan buruk baginya patokannya adalah manfaat secara materi.

Padahal, seharusnya umat Islam standar baik dan buruknya adalah ridha Allah.  Karena Allahlah yang tau sedangkan manusia tidak mengetahui. Sebagaiman firmannya :

(كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تُحِبُّوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ شَرࣱّ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)

[سورة البقرة 216]

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Jadi, ukuran baik dan buruk bukan asas manfaat, tren, dibenci atau disukai manusia dsb. Allah sudah menegaskan bahwa dirinya yang mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui.

Darimana ayah medapatkan standar seperti itu?

Ada banyak yang mempengaruhi ayah dalam hal standar baik dan buruk.

Pertama, televisi. Televisi menayangkan sinetron sinetron glamor yang tidak mendidik. Ghibah ghibah artis yang sama sekali tidak penting bagi keluarga muslim. Kecuali hanya menjadi penambah dosa dan pastinya mempengaruhi ukuran baik dan buruk. Apalagi isi pertelevisian di negeri ini kebanyakan terkait percintaan, pamer kekayaan, pacaran, pernikahan, perceraian dan begitu seterusnya.

Kedua adalah gadget. Telepon genggam android yang hampir semua orang punya saat ini sangat berpengaruh terhadap pola pikir termasuk standar baik dan buruk bagi ayah. Di dalam hp terhimpun banyak hal, mulai kitab-kitab, surat kabar online hingga status teman. Berita atau status teman yang dibaca tidaklah ada yang netral. Semua membawa sudut pandang, bukan fakta semata. Balasan di akhirat juga hanya ada dua, yakni surga dan neraka.

Ketiga adalah teman. Teman ayah sangat berpengaruh terhadap cara pandang ayah terhadap sesuatu. Karena antar teman itu saling mempengaruhi. Bahkan di dalam hadits bisa mempengaruhi agamanya. Untuk mengetahui seperti apa ayah, bisa dilihat temannya. Berteman dengan penjual parfum, dapat harumnya. Berteman dengan pande besi, minimal dapat bau asapnya yang tidak sedap.

Ayah Abuddin

Disamping ayah abul jasad, ada juga ayah abuddin. Ayah abuddin adalah ayah dari sisi agama atau bisa disebut juga aburruh (ayah dari sisi ruh).

Abuddin sebenarnya gelar untuk guru dalam Islam. Karena gurulah yang mengantarkan santri sampai kepada Allah. Jika Abul jasad hanya memikirkan kebutuhan fisik, sandang, papan dan pangan, maka  abuddin adalah ayah yang memikirkan kebutuhan ruh anak.

Ayah abuddin tidak hanya mencari nafkah untuk anak. Tapi juga memberi makanan ruh dengan ilmu, iman dan akhlak akhlak mulia. Dia menanamkan standar baik, buruk dan kebahagiaan adalah ridha Allah. Tujuan di atas segala tujuan adalah ridha Allah (غاية الغاية مرضات الله).

Jika ayah abul jasad begitu perhatiannya memastikan kecukupan anaknya makan tiap hari bahkan hingga 3 kali sehari. Maka ayah abuddin akan mengusahakan kecukupan isi untuk ruh anak. Anak yang tidak makan akan lemas, tapi anak yang tidak diisi ilmu agama bukan hanya berbahaya dalam hal dunia bahkan justru akhiratnya.

Imam al-Ghazali, mengutip pernyataan Imam Fath dalam kitab Ihya’nya:

قال فتح الموصلي رحمه الله : أليس المريض إذا منع الطعام والشراب والدواء يموت؟ قالوا بلى. قال كذلك القلب إذا منع عنه الحكمة والعلم ثلاثة أيام يموت

“Imam Fath al-Mushuli rahimahullah berkata, Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat?  Mereka pun menjawab, Iya benar, akan mati. Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati.”

Bagaimana jika ayah tidak bisa mengajari?

Ajarilah walaupun hanya sekedar mengajarkan huruf hijaiyah, syahadat, rukun islam, rukun iman atau kalimat kalimat thayyibah. Ayah tentu harus mengupgrade ilmu agama sebagai tebusan dulu tidak mempersiapkan secara baik dalam hal ilmu agama. Padahal, menikah bukan hanya tanggungjawab masalah belanja tapi, menjaga keluarga dari api neraka. Semua itu didapat dengan faham ilmu agama. Itulah orang orang yang Allah kehendaki kebaikan baginya.

Apabila ayah mampu menggabungkan tanggungjawab sebagai abul jasad dan aburruh maka sempurnalah tanggungjawab pada keluarga. Anak akan ingat pesan pesan ayah untuk mendekatkan diri pada Allah. Sebagaimana ulama terdahulu ingat pada guru-guru nya bahkan mendoakan gurunya baik di luar shalat atau dalam shalat sebagaimana yang Imam Ahmad dan Imam Yahya mendoakan gurunya Imam syafi’i.

Namun, berbeda jika mejadi ayah abul jasad, saat ayah meninggal bukan sibuk mendoakan, justru bertengkar gara-gara fitnah warisan harta. Wallahu a’lam.*Herman Anasalumnus Ponpes Annuqayah, Sumenep, Madura

Sumber : www.hidayatullah.com

Innalillah… Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi Wafat


Kabar duka datang dari Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, wafat hari ini.

“Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiuun. Ayahanda Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, tutup usia, berpulang ke rahmatullah pada Rabu 21 Oktober 2020, pukul 15.50,” kutip website resmi Gontor.ac.id, Rabu.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi lahir di Gontor pada tanggal 19 September 1942. KH Abdullah Syukri Zarkasyi adalah Putra pertama dari KH Imam Zarkasyi salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Mohon doanya semoga dosanya diampuni, dan amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan semoga husnul khatimah,” informasi yang disampaikan oleh Prof Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

Sebagaimana dikutip dari situs www.hidayatullah.com, “Mohon do’anya. baru saja Allah memanggil ayah kita, guru kita, teladan kita, kesayangan kita ayahanda KH.Dr.Abdullah Syukri Zarkasyi, MA,” pesan yang beredar Rabu sore.

“السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنا لله وإنا إليه راجعون

Telah berpulang ke Rahmatullah Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) pada hari Rabu, 4 Rabi’ul Awwal 1442/21 Oktober 2020 pukul 15.50 WIB di Rumah Gontor.

Semoga Amal Ibadah Beliau diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosanya. Aamiin

Untuk informasi selanjutnya segera menyusul.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekretaris Pimpinan PMDG,” pesan yang beredar pula.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sediakan PC untuk Pembelajaran Daring Anak


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Selama masa pandemi ini, belajar secara online memang tak terelakkan. Pembatasan penggunaan gadget, betapa pun sekarang banyak yang menawarkan fitur Parental Control pada gadget yang kita siapkan buat anak-anak, tetapi tetap tidak sama –sama sekali tidak sama—antara pembelajaran daring dengan pembelajaran secara langsung murid menghadap guru. Apalagi kalau berbicara barakah.⁣⁣

Begitu Anda adalah seorang pendidik, maka selama masa-masa BDR ini, yang paling perlu Anda pikirkan adalah bagaimana memberikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Bukan sekedar pengajaran. Pada saat yang sama, pembelajaran daring pun perlu dirancang agar mendatangkan sebesar-besar maslahat dan menekan madharat hingga sekecil-kecilnya. Jadi bukan hanya pada tersampaikannya materi dan efektivitas pembelajaran. Apalagi kalau ini pun tidak.⁣⁣

Bagi orangtua, jika mampu, sediakan PC —komputer rumah— untuk pembelajaran daring. Bukan laptop, bukan tablet, apalagi handphone. Jika tidak mampu, mengingat di masa pandemi kebutuhan kuota meningkat dan banyak yang mengalami penyusutan pendapatan, bisa meminjamkan laptop untuk kegiatan pembelajaran anak. Jika ini pun tidak memungkinkan karena laptop dipakai untuk bekerja dari rumah –work from home—maka anak dapat dipinjami HP untuk dipergunakan sesuai kebutuhan. Bukan sesuai keinginan.⁣⁣

Begini, semakin personal sebuah gadget maka semakin cenderung menjadikan seseorang senang melakukan interaksi maya yang lebih pribadi, memuaskan keinginan —bukan kebutuhan— untuk mengetahui isu personal dari orang yang ia kenal maupun tidak. Ini sekedar sebagian di antaranya saja. Sebaliknya sama-sama piranti online, PC yang penggunaannya dapat dilihat oleh siapa saja, selain memang tidak didesain untuk “dinikmati” secara personal, lebih mendukung untuk kegiatan belajar yang lebih serius. ⁣⁣

Lho, memang PC tidak bisa untuk berhibur? Sangat bisa. Anak masih bisa mengakses Youtube misalnya, yang dapat ia nikmati secara pasif, tetapi kurang personal. Apalagi jika penggunaan PC di tempat yang mudah diakses oleh anggota keluarga yang lain. Ini meminimalkan resiko kecanduan maupun potensi akses konten bermasalah yang memerlukan privasi untuk mengaksesnya.⁣⁣

Bagaimana jika anak ternyata harus memakai HP untuk pembelajaran daring? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh sekolah:⁣⁣

•  Keluwesan dalam pembelajaran dan penuntasan tugas, tetapi bukan kehilangan target. Ini terutama berkait dengan kecukupan daya dukung sarana maupun non sarana dari orangtua terhadap anak dalam melakukan kegiatan pembelajaran.⁣⁣

•  Keluwesan itu diperlukan selain karena daya dukung sarana yang terbatas pada banyak orangtua, juga untuk meminimalkan ketegangan orangtua dalam mendampingi anak.⁣⁣

•  Pembelajaran daring hendaklah lebih bersifat sebagai sarana untuk komunikasi awal, koordinasi serta proses pengajaran interaktif dari guru kepada anak. Interaktif. Penggunaan gadget diminimalkan. Pendalaman materi semisal Latihan soal dilakukan secara offline; membaca buku fisik, mengerjakan soal di buku fisik pula. Jika ini tidak memungkinkan, semi interaktif, yakni setelah penyampaian materi, anak dapat mengajukan pertanyaan. Jika tidak bisa, barulah pengajaran benar-benar bersifat delivery –penyampaian materi ajar. Tetapi tetap bukan sepenuhnya digital.⁣⁣

•  Proses pendalaman secara konvensional tetap diperlukan untuk memastikan anak belajar. Bukan hanya memegang gadget mendengar penjelasan.⁣⁣

•  Bagaimana jika sekolah berpikir untuk sepenuhnya digital? Materi ajar sepenuhnya berbentuk e-book dan kegiatan lainnya juga sepenuhnya digital? Jika seperti ini, tidak perlu sekolah karena fungsinya sudah tidak ada. Kalau Cuma sekedar pemerolehan materi ajar dan latihan soal, cukup bermodal kuota dan pengetahuan mengenai apa yang perlu dipelajari. Itu pun dapat kita cari di dunia maya.⁣⁣

•  Asesmen tetap diperlukan.⁣

⁣⁣•  Bersama-sama orangtua, sekolah aktif melakukan pengendalian gadget dan pemantauan aktivitas, termasuk memantau sekiranya ada grup-grup WA maupun kanal media sosial antar anak. Ini penting untuk menghindarkan proses BDR (belajar dari rumah) dari faktor-faktor pengganggu yang mengalihkan (distracting factors).

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting 

Guru Penentu Masa Depan Generasi Bangsa

Oleh : Subliyanto, S.Pd.I.

Pada 5 Oktober merupakan Hari Guru Sedunia. Wikipedia menulis, “Hari Guru Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994. Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi pada masa depan ditentukan oleh guru”. Sehingga pada momentum Hari Guru Sedunia ini setidaknya mengingatkan kita bahwa dibalik kesuksesan kita ada orang tua dan guru-guru kita. Maka untaian terimakasih yang sebesar-besarnya layak kita hadiahkan kepada mereka berdua.

Orang tua dan guru merupakan sosok terpenting dalam kehidupan manusia. Secara definitif tugas utama mendidik berada pada pundak orang tua. Namun demikian karena beban tersebut sangat berat bagi para orang tua, maka dibutuhkan sosok guru yang notabeni dikenal professional dalam bidang keilmuan, yang bisa membantu dirinya untuk mendidik anak-anaknya guna menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Maka, bagi orang tua, memilihkan guru yang shaleh bagi anak-anaknya patut menjadi perhatian. Karena hal itu akan menjadi penentu masa depan anak-anaknya. Dan tradisi tersebut merupakan tradisi para sahabat dan ulama’ salaf.

Para sahabat dan ulama’ salaf sangat bersemangat untuk memilih guru yang shaleh bagi anak-anaknya. Mereka benar-benar memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ini. Karena guru merupakan sumber ilmu dan cermin bagi sang anak yang merefleksikan segala gerak-gerik dan tutur katanya, untuk kemudian terpatri dalam jiwa dan akal sang anak.

Dalam buku Prophetic Parenting yang ditulis oleh DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dijelaskan bahwa, Ibnu Sina dalam kitab “as-Syiasah” bab “Syiasatur Rajuli Waladahu” mengatakan, “Sepatutnya anak memiliki guru yang pandai, taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kemauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak di hadapan anak, tidak keras dan kasar, murah senyum, cerdas, enak dipandang, bersih dan rapi”.

Itulah diantara karakteristik guru yang bisa dijadikan pedoman bagi para orang tua dalam mencari guru untuk anak-anaknya. Tidak hanya bagi para orang tua, akan tetapi juga menjadi hal yang penting bagi para guru yang saat ini aktif dalam dunia pendidikan guna sebagai pedoman dalam upaya terus melakukan evaluasi perbaikan-perbaikan di internal pendidikan.

Guru mempunyai tugas yang sangat mulia. Kiprahnya memberikan arahan dan bimbingan kepada generasi bangsa, baik melalui tinta, kata-kata, maupun contoh nyata. Sehingga dengannya dapat terbentuklah karakter manusia yang berilmu dan siap melanjutkan perjuangan dalam segala bidang kehidupan manusia.

Maka, bagi peserta didik menghormati guru merupakan sebuah kewajiban. Karena dengan tintanya manusia bisa menulis dan membaca, dengan petuah – petuahnya manusia bisa mengetahui makna kehidupan, dan dengan suri tauladannya manusia bisa meneruskan perjuangan.

Maka hormatilah guru karena disitulah sumber keberkahan ilmu. Dan hormatilah orang tua karena disitulah sumber keridhaan Yang Maha Kuasa.

Semoga catatan singkat pada momentum Hari Guru Sedunia bermanfaat. Wallahu a’lam

Subliyanto, S.Pd.I. Pemerhati Sosial dan Pendidikan asal Kadur Pamekasan Madura Jawa Timur

Sumber www.limadetik.com

Ketika Hasan Al-Bashri 'Mendemo' Pemimpin Zholim

By: Khairul Hibri

Hasan Al-Bashri termasuk dari segelintir ulama yang berani menyuarakan kebenaran di zamannya, terutama di depan pemimpin yang dinilai lalim, meski untuk itu nyawa menjadi taruhannya.
Saban hari, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, pemimpin lalim yang berkuasa di Irak, merancang mega proyek; pembangunan istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Selesai pembangunan, ia pun mengundang para khalayak ke istana tersebut guna melihat-lihat kemegahan istana barunya serta meminta kepada mereka untuk didoakan.
Mendengar informasi tentang perkumpulan itu, Hasan Al-Bashri tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan nasehat-nasehat serta teguran langsung kepada sang pemimpin. Di tengah-tengah kerumunan itu sang Imam berdiri dan menyampaikan khuthbahnya. Di antara poin yang disampaikan;
“Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam. Dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah dari pada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”
Kritik dan kecaman terhadap kepemimpinan Hajjaj terus disampaikan oleh Hasan al-Basyri dalam khuthbahnya, hingga terdapat beberapa orang mengkhawatirkan keselamatan sang Imam dan memintanya menyukupi khuthbah.
“Wahai saudaraku, Allah SWT telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya,” balas sang Imam.
Benar saja. Ketika berita tentang khuthbah Hasan Al-Bashri sampai kepada Hajjaj, ia murka luar biasa. Keesokan harinya, ia kumpulkan para pejabatnya dengan memendam amarah. Kemudian di hadapan mereka ia luapkan ;
“Celakalah kalian ! seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorangpun dari kalian yang kuasa mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian, wahai para pengecut!,” ucapnya kasar.
Tak lama berselang, pemimpin zholim inipun mengeluarkan titah kepada pengawalnya untuk bersegera menyiapkan pedang serta algojonya dan menyuruh prajurit yang lain untuk menangkap Hasan-Al-Bashri.
Hasan Al-Bashri pun digelandang untuk menghadap sang penguasa; Hajjaj. Semua mata mengarah kepadanya dengan hati berdebar-debar, menanti vonis yang akan dijatuhkan kepada sang Imam.
Begitu kedua sorot mata Hasan Al-Bashri tertuju pada seorang algojo bersama pedang terhunus yang berdiri tepat di tempat eksekusi hukuman mati, Hasan Al-Bahsri nampak menggerak-gerakkan bibirnya, seakan tengah membaca sesuatu. Lalu, ia pun berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim dan kehormatan seorang dai di jalan Allah.
Melihat ketegaran yang diperlihatkan oleh Hasan Al-Bashri, entah pergolakan apa yang terjadi dalam diri Hajjaj, mentalnya tiba-tiba menjadi ciut, terpengaruh oleh wibawa yang terpancar dalam diri Hasan Al-Bashri. Ia justru berkata kepada beliau dengan nada ramah; “Silakan duduk di sini, wahai Abu Sa’id, silakan,” tuturnya mempersilakan sang imam duduk dikursinya.
Semua hadirin terheran-heran dengan peristiwa yang mereka lihat. Selanjutnya, ketika sang Imam telah duduk di kursi, Hajjaj lalu menoleh kepadanya, seraya menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab oleh Hasan Al-Bashri dengan jawaban-jawaban yang menarik serta mencerminkan akan pengetahuannya yang luas.
Merasa cukup dengan hajatnya, Hajjaj berkata kepada sang Imam, “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang benar-benar hebat.” Hajjaj kemudian menyemprotkan minyak ke jenggot Al-Bashri, lalu diantarkan sampai di depan pintu.
Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan Al-Bahsri berkata; “Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda dengan keperluan yang lain. ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedang terhunusnya, saya melihat Anda membaca sesuatu. Apa sebenarnya yang Anda lakukan ketika itu,” selidik si pengawal penuh penasaran.
Beliaupun membongkarnya; (Aku berdoa) “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya (Hajjaj) menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim,” pungkas beliau.

Khairul Hibri, Wartawan Hidayatullah
Sumber FB Khairul Hibri