Mengingatkan Suami Itu Baik⁣


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Di antara persoalan yang paling menyedihkan ketika mendengarnya adalah mengenai sikap istri terhadap suami. Benar bahwa masing-masing hendaklah mendahulukan kewajiban daripada menuntut hak, tetapi menganggap buruk seorang perempuan yang mengingatkan suami atau meminta langsung haknya kepada suami tatkala suami lalai, merupakan perkataan yang sangat ganjil kalau tidak boleh dibilang bathil. Bersabar terhadap kezaliman suami itu baik, tetapi hak suami untuk diingatkan harus dipenuhi.⁣
Benar hanya kepada Allah Ta’ala kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan. Perkataan “iyya-Ka” menegaskan bahwa tidak satu pun zat selain-Nya yang berhak kita mintai pertolongan. Dan itu yang kita ikrarkan setiap shalat dan setiap kali membaca Al-Fatihah:⁣
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ⁣
“Hanya Engkau (satu-satunya) yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu (semata) kami meminta pertolongan.”⁣
Inilah ikrar yang harus kita pegang erat-erat dengan mengilmui. Jadi bukan menggunakan waham sehingga seolah setiap perkataan meminta atau memohon kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla itu bathil. Jika kaki Anda sedang sakit, sementara Anda perlu meminta tolong untuk mengambilkan sendok, mintalah suami atau anak untuk mengambilkan sendok. Itu bukan syirik. Seperti itu pula seorang istri yang meminta haknya dari suami, atau bahkan bukan dalam rangka meminta hak, melainkan justru untuk menolong suami agar tidak terjatuh pada kezaliman.⁣
Karena itu aneh sekali dan tidak sesuai dengan tuntunan jika ada yang mengajarkan “kalau suami tidak memberikan hak kita, jangan minta kepadanya, minta langsung sama Allah”. Sedemikian rupa sampai-sampai ibu-ibu takut menegur suami atau meminta uang karena khawatir tidak termasuk istri shalihah; tidak termasuk muslimah beriman. Padahal sama seperti kalau Anda menyuruh jasa pengiriman untuk mengirim paket, itu bukan berarti telah melakukan dosa karena meminta kepada selain-Nya. Bukan, Saudaraku. Bukan.⁣
Di masa Nabi ﷺ, pernah ada seorang perempuan bertanya mengenai apa yang dilakukan terhadap harta suaminya disebabkan suaminya pelit. Perempuan itu mengambil harta suaminya diam-diam, tanpa sepengetahuan suami. Lihat, apa yang dipesankan oleh beliau ﷺ kepada perempuan tersebut. Bukan menyuruh perempuan itu agar meminta kepada Allah Ta’ala untuk mengambil uang dari saku suami, tidak. Lalu apa yang dipesankan oleh Nabi ﷺ kepada perempuan tersebut? Mari kita tengok hadis berikut ini:⁣
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?”⁣
Nabi ﷺ bersabda:⁣
خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ⁣
“Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari & Muslim).⁣
Sungguh, yang paling mengenal Allah ‘Azza wa Jalla adalah Rasulullah ﷺ. Beliau yang paling teguh imannya, paling kuat tawakkalnya, paling ridha terhadap segala qadha dan qadarnya. Beliau sebaik-baik pemberi petunjuk. Dan apa yang beliau ﷺ sampaikan? ⁣
Ini semua memberi pelajaran kepada kita agar tidak serampangan mengambil kesimpulan dan menetapkan penilaian. Tidak pula gegabah menetapkan ukuran perempuan shalihah dan yang mengeluarkan darinya.⁣
Apa tidak boleh kita memohon rezeki kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Bukan saja boleh, bahkan sangat baik. Kita berdo’a sepenuh hati karunia rezeki yang halal dan dijauhkan dari yang haram, sekaligus memohon limpahan rezeki dari keutamaan-Nya sehingga tidak memerlukan kepada yang lain. Tetapi ini bukan untuk memintakan hak yang lupa ditunaikan oleh suami. Tugas Anda mengingatkan suami. Semoga yang demikian ini dapat menjadi sebab pahala serta dikumpulkannya suami-istri bersama-sama di jannah.⁣
Adapun jika seorang suami sudah diingatkan, sudah pula diperingatkan, tetapi justru berlaku zalim dan sewenang-wenang sehingga dapat membahayakan diri sendiri jika mengingatkan, maka kepada Allah Ta’ala kita adukan semua. Alangkah buruknya suami yang seperti itu. Sekiranya istri berlapang hati saat berdo’a, maka do’akanlah kebaikan bagi suami. Mohonkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang menggenggam hati manusia agar suami berubah menjadi baik.⁣
Pembahasan ini juga mengingatkan kepada para suami, bagaimana seharusnya sikap, tindakan serta perlakuan kepada istri serta keluarga secara keseluruhan. Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَاخَيْرُكُمْ لِأَهْلِي⁣
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).⁣
Dalam hadis yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا⁣
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isteri-isterinya”. (HR. Tirmidzi).⁣
Begitu. Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator Keluarga

Gurumu, Hormatilah!


Salah satu pintu-pintu ilmu adalah datang dari guru-guru kita. Anak-anak yang dahulu belum bisa membaca, terus belajar mengenal huruf A, B, C, D, dan seterusnya, tentu tidak lepas dari jasa seorang guru. Anak-anak bisa mengeja kumpulan huruf, SAYA, AKU, KITA, BANGGA, dan lain sebagainya, tentu tidak lepas dari bimbingan guru. Anak-anak jadi pandai membaca kata, kalimat, bahkan hingga paragrap, itu semua tidaklah lepas dari bimbingan serta jasa para guru. Anak-anak pandai menulis huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, bahkan paragrap demi paragrap, itu semua karena bimbingan guru. Anak-anak bisa berhitung 1, 2, 3, 4, dan seterusnya tentu berkat ketekunan dan ketelatenan para guru. Anak-anak bisa berhitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan rumus-rumus matematika lain, tentu juga tidak lepas dari bimbingan para guru. 

Simak edisi video di bawah ini :

Anak-anak waktu bayi diajari merangkat, berdiri, berjalan, makan, minum, berbicara, dan sebagainya itu juga bimbingan orang tua kalian sebagai guru-guru ketika di rumah. Sudah tentu banyak hal-hal yang baru kita tahu karena jasa seorang guru. Banyak hal-hal yang kita tidak paham harus ditanyakan kepada guru. 

MasyaAllaah.... kalau kita hitung satu demi satu, maka akan sangat banyak jasa para guru dalam hidup dan kehidupan kita. 

Ilmu datangnya dari Allah Taala melalui perantara guru-guru kita. Maka sudah sangat pantas bagi seorang murid menghormati dan menjaga adab kepada guru-guru mereka.

Nah, salah satu dari menjaga adab adalah, anak-anak tidak boleh memanggil dengan menyebut namanya secara langsung, misalnya nama guru kita Ahmad, maka jangan langsung memanggil "AHMAD", tapi panggilah dengan panggilan yang lembut, misal Bapak Ahmad, Ustadz Ahmad. Bahkan ketika anak-anak tidak bersama guru kalian.

Tidak juga memanggil dengan sebutan kamu, mu, dan lain sebagainya. Misalnya anak-anak bertanya kepada gurunya, "kamu sudah makan belum?" tapi panggilah dengan panggilan yang sopan, "Bapak sudah makan belum?", "Ustadz sudah makan belum?". Begitu juga ketika memanggil kepada Ayah-Bunda, Bapak/Ibu kalian, maka harus dengan sopan dan santun. Misalnya, "Ibu saya berangkat dulu yaa...", atau "Bapak, saya minta uang sakunya."

Tentu masih banyak lagi adab-adab murid kepada guru, adab-adab anak kepada orang tua. Karena pada saat ini, anak-anak sekalian belajar dari rumah bersama orang tua kalian sebagai guru-guru kalian. Jangan sampai guru-guru kita merasa sedih, karena murid nya berlaku tidak sopan, pun demikian, jangan sampai ayah dan bunda kita sedih karena anak-anak sering berbuat kesalahan.

Jika kalian melakukan kesalahan kepada guru-guru kalian, maka akui kesalahannya dan mintalah maaf kepada mereka. Gurumu, hormatilah!

TMT

Hikmah Dari Seorang Tunanetra


Oleh : Jami Azzaini

Saya pernah mendapat cerita dari sahabat saya tentang seorang tunanetra yang memberi pelajaran berharga.  Suatu malam, seorang tunanetra datang ke rumah salah satu warga di komplek perumahannya. Setelah acara ramah tamah selesai, tuan rumah menawarkan diri untuk mengantar pulang sang tunanetra. Namun dengan lembut dijawab “terima kasih pak, saya pulang sendiri saja, saya hafal jalan pulang ke rumah. Namun saya lupa membawa senter, tolong pinjami saya senter pak.”

Tuan rumah sedikit terkejut dengan permintaan tamunya sehingga secara reflek ia berkata “senter?” Tunanetra itu menjawab mantap “benar pak, senter.” Tuan rumah penasaran, ia pun memberanikan diri mengajukan pertanyaan “bukankah Anda tidak melihat? tidak ada bedanya khan Anda pakai senter atau tidak?”

Dengan senyuman manis sang tunanetra itu menjawab “saya memakai senter bukan untuk menerangi jalan tetapi untuk melindungi orang lain. Saat saya menyalakan senter maka orang lain melihat keberadaan saya sehingga mereka tidak akan mengalami kecelakaan yang merugikan orang tersebut dan juga merugikan saya.”

Begitu pula dalam situasi pandemik covid-19, kesadaran kita untuk memakai masker dan menjaga jarak, bukan hanya untuk kepentingan kita semata tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita. Itu juga pertanda bahwa kita tidak egois namun juga memikirkan kesehatan orang lain.

Hidup bukan hanya memikirkan diri kita tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Sebab apapun yang kita lakukan akan berdampak bukan hanya kepada kita tetapi juga kepada orang-orang di sekitar kita.

Sumber : www.jamilazzaini.com

Smart Phone, Smart Muslimah


Oleh: Khairul Hibri

Smart phone telah menjadi bagian kehidupan manusia modern saat ini, tak terkecuali bagi kaum wanita/muslimah. Jangankan kawasan perkotaan. Di pedesaan pun menjamur. Banyak ibu-ibu dan pemudi yang menggunakan gawai. Mudah sekali ditemukan. Di jalan umum, tempat keramaian, ataupun di emperan rumah, sambil mengawasi anak kecilnya yang tengah bermain.

Seperti  sebutannya; smart phone (telepon cerdas/pintar), seharusnya alat ini mampu mengantarkan pemiliknya menjadi sosok-sosok yang cerdas. Bila ia berada di bawah kendali seorang muslimah, maka dengannya muslimah kudu memanfaatkannya untuk menambah kecerdasan diri.

Bukan sebaliknya. Alat komunikasi yang dimiliki kadung cerdas. Tapi yang punya, masih tetap gitu-gitu saja. Bahkan cenderung dibodohi, karena senang mengonsumsi dan mendistribusikan hal-hal yang berunsur hoaks.

Ragam Kecerdasan

Lalu, kecerdasan apa sajakah yang bisa diasah melalui smart phone ini?

Banyak sekali. Tapi dalam catatan singkat ini, penulis mengerucutkan kepada tiga hal saja, yang penulis anggap cukup mendasar.

Pertama, meningkatkan kecerdasan spiritualitas dan intelektualitas muslimah. Untuk mengawali kupasan ini, penulis akan menarik pengalaman pada tahun 2000-an. Saat itu ada seorang sahabat bertutur tentang delimatika seorang muslimah, yang ingin mendalami ilmu Bahasa Arab secara privat.

Persoalannya, gurunya seorang ikhwan (pria). Sebab mencari seorang akhwat (perempuan), akunya sulit. Khawatir menjadi fitnah dan omongan tetangga, akhirnya akhwat dan teman itupun memutuskan untuk mengakhiri les privat Bahasa Arab itu. Meski sejatinya si akhwat

Kok sulit sekali, yah, kalau akhwat mau belajar secara privat,” curhatnya.

Kenapa bisa terjadi demikian? Dimaklumi saat itu smart phone belum semarak seperti saat ini. Untuk konteks kekinian, tidak ada lagi persoalan bagi para muslimah untuk mendalami ilmu-ilmu agama.

Banyak sekali ustadz yang pengetahuan keagamaannya mendalam, memiliki akun media sosial atau chanel youtube. Seperti Ust. Abdul Shomad, Ust. Adi Hidayat, AA Gym, dan sebagainya. Tinggal klik. Sesuka hati.  Pilih tema tertentu yang disukai. Ada akidah, akhlak, sejarah, fiqih, bahasa. Bahkan qiraa’ah  juga ada.

Apalagi di era pandemi ini. Banyak sekali seminar (webinar) atau pun sekolah-sekolah online, baik yang diselenggarakan oleh individu maupun instansi resmi. Semua ini peluang untuk membuka wawasan yang lebih luas lagi.

Bekal ilmu agar menjadi smart muslimah era modern ini sangatlah penting. Karena wasilah ilmu, sebagaimana yang diungkap oleh Imam Syfai’i, akan mengarahkan pemiliknya kepada jalan yang benar. Nuurullah (cahaya Allah SWT). Lebih dari itu, di tangan kaum wanita ini pula diserahkan kepengasuhan generasi-generasi Muslim mendatang.

Terbayang, bagaimana runyamnya generasi masa depan, bila sang ibu, lebih suka ber-selfie dan ber-Tik Tok-ria, ketimbang mendengarkan hal-hal yang positif, yang bisa membangun kecerdasan otak dan  jiwa. Anak akan meniru. Akhirnya lahirlah generasi-generasi lemah yang lebih suka narsis di media sosial, dan abai menghadiri majelis ilmu. Na’udzubillah min dzalik.

Jenis cerdas yang kedua; cerdas ekonomi. Sebelum era smart phone berkembang pesat, kaum wanita dituntut untuk keluar rumah manakala ingin bekerja. Tak ayal, keluarga terutama anak harus ditinggal. Atau dititipkan ke ibu asuh, atau ke tempat penitipan anak.

Era kekinian, sistem kerja kaum wanita seperti itu seharusnya tidak mendominasi lagi. Sebab, bila tujuannya untuk mendapatkan penghasilan. Maka dengan bermodal smart phone di tangan, sudah bisa membangun bisnis dari rumah.

Baca juga: Sayyidah Aisyah: Muslimah Intelek dan Kritis

Pilihannya pun banyak. Bisa dengan mengembangkan skil melalui pelatihan-pelatihan gratis di internet, kemudian dipasarkan. Atau membuka pasar on line. Tidak punya modal banyak, bisa dirintis dengan berperan  menjualkan barang orang lain (reseller/dropship).

Banyak sekali jutawan yang lahir dari bisnis online ini. Pangsa pasarnya sangat besar dan luas. Setali tiga uang. Berlimpah juga sosok-sosok mendadak kreatif gegara smart phone. Misal, keponakan  saya di kampung. Tetiba pandai sekali membuat kue dan memasarkan di daerah sekitar. Laris manis. Padahal mengakunya tidak bisa memasak. Diselidiki, ternyata ilmunya dari internet.

Efek positif yang akan didapat dengan menekuni dunia ini, selain peruntungan ekonomi, juga akan meminimalisir muslimah meninggalkan rumah/keluarga. Dengan demikian, rezeki lancar, keluargapun tidak ambyar. Karena tetap bisa berperan sebagai istri dan ibu secara maksimal di rumah. Insya Allah.

Selanjutnya, kecerdasan yang terakhir; menemukan komunitas nan baik yang senantiasa mengingatkan kepada ketaatan. Bila mendapati, ini adalah anugerah terbesar bagi seseorang. Karena bagaimanapun juga, sebagai orang beriman, butuh asupan ruhani, sehingga tetap bisa istiqomah meniti jalan Allah SWT. Sebab, sifat dasar dari iman; bertambah dan berkurang. “Khairul ash-haabi man yadullu ‘ala al-khairi (sebaik-baik teman adalah yang mengarahkan kepada kebaikan)”

Lebih dari itu. Mereka yang bersahabat dalam ketaatan, akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Dan kelak di hari akhirat, berpeluang memperoleh naungan langsung dari Allah SWT, di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks media sosial, banyak sekali komunitas yang terhimpun di dalam grup-grup. Baik itu FacebookWhatAppInstagram, dan lain-lainnya. Termasuk juga majelis-majelis ilmu online. Ada yang gratis. Adapula yang berbayar. Tinggal pilih. Cari yang sesuai dengan  keinginan. Kalau tidak sesuai dengan yang diharapkan, tinggal pamit undur diri, kemudian cari komunitas lain.

Seiring dengan menemukan komunitas salihah itu tadi, setali tiga uang, akan mendapatkan tempat curhat yang tepat. Amati sosok-sosok yang kiranya bisa menjadi tumpuan mencurahkan isi hati. Pastikan dia bisa menjaga rahasia. Dengan demikian, terurailah persoalan, tanpa harus terpublikasikan kepada khalayak.

Berbeda sekali bila meluapkannya di beranda medsos. Terkadang bukan solusi yang didapat. Malah cibiran dari teman-teman media sosial. Hal buruknya, urusan privasi menjadi santapan publik.

Jadi, ayo berusaha cerdaskan diri (be smart) dengan wasilah smart phone di genggaman. Insya Allah, status smart muslimah yang disayangi Allah SWT dan Rasul-Nya pun akan diraih. Allahumma aamiin.

*Pengasuh Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL), Surabaya

Sumber : www.hidayatullah.com

Setiap Ibu Berhak Memiliki Anak yang Sangat Mulia⁣


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣

Dia tidak yatim. Tetapi ayahnya berangkat ke medan jihad fii sabiliLlah ketika ia masih dalam kandungan. Ayahnya terhalang untuk segera kembali ke Madinah. Tidak tanggung-tanggung. Bukan setahun, bukan dua tahun. Tetapi berpuluh tahun. Satu rentang waktu yang cukup untuk mengantarkan Rabi’ah Ar-Rayyi ibn Al-Farrukh tumbuh menjadi sosok manusia dewasa tanpa kehadiran seorang ayah. Meskipun ayahnya ghaib alias tidak hadir dalam proses tumbuh kembangnya (fatherless), Rabi’ah Ar-Rayyi ibn Al-Farrukh tumbuh menjadi pribadi yang sangat matang, kokoh dan memiliki ilmu sangat tinggi. Dialah ulama hadis terbaik di kalangan tabi’in. Di antara yang berguru kepadanya adalah Imam Malik, guru dari Imam Syafi’i.⁣
Sebuah pelajaran, fatherless tidak menghalangi Rabi’ah Ar-Rayyi menjadi pribadi yang agung, sosok dermawan yang sangat berilmu. Single parent tetap memiliki hak untuk membesarkan anaknya menjadi pribadi yang hebat.⁣
Berbeda dengan Rabi’ah Ar-Ra’yi ibn Al-Farrukh, pada generasi berikutnya kita menjumpai sosok yang juga ahli hadis. Ia digelari Amirul Mukminin fil Hadis disebabkan kepakarannya dalam bidang hadis yang tidak tertandingi oleh ulama manapun di muka bumi pada saat itu. Ia masih sempat bertemu ayahnya, memperoleh didikannya, tetapi ayahnya wafat di saat ia masih kecil. Selanjutnya ia dididik oleh ibunya hingga ia baligh dan bahkan sampai umur dewasa.⁣
Ketika Sufyan Ats-Tsauri telah dewasa sedangkan ia masih menuntut ilmu, maka ibunya menyuruh menyuruh untuk terus mendalami ilmu hadis. Ibunya menyatakan akan membiayai sepenuhnya, padahal beliau termasuk orang yang sangat miskin. Ibunya memperoleh penghasilan dari upah memintal benang. Ini semua sekaligus menunjukkan bahwa membiayai mukallaf bukanlah kezaliman. Sungguh, sebaik-baik generasi adalah sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Dan Sufyan Ats-Tsauri termasuk yang terbaik dari generasi terbaik, yakni generasi tabi’ut tabi’in.⁣
Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah. Aku yang akan menanggungmu dengan usaha memintalku”. ⁣
“Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat bagimu.”⁣
Sekali lagi sebuah pelajaran bahwa setiap ibu berhak untuk memiliki anak yang hebat, bahkan paling hebat di antara orang-orang hebat, meskipun ia sendirian mendidik anaknya. Ia single parent. Pada saat yang sama ia adalah pelajaran bahwa setiap anak berhak untuk meraih kemuliaan yang besar dan derajat yang tinggi, meskipun hampir-hampir tidak merasakan kasih-sayang serta pendidikan dari ayahnya.⁣
Apakah kehadiran ayah tidak penting? Sangat penting. Tetapi jika ayahnya sudah tiada, maka tidak perlu membuatkan patung ayah di rumah agar kehadirannya terasa nyata. Sebaliknya meskipun ayahnya hidup, tidak ghaib (ada tetapi tidak jelas dimana atau ada tetapi praktis tidak hadir dalam kehidupan anak), bahkan bisa lebih buruk manakala ayahnya bukan saja rusak. Lebih dari itu merusak.⁣
***⁣
Memenuhi permintaan pembaca di media sosial, saya tulis sekedar contoh sederhana mengenai orang-orang hebat yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Fatherless. Contoh lain? Masih sangat banyak; di masa itu hingga masa-masa berikutnya yang amat jauh.⁣
Semoga bermanfaat dan barakah.

Mohammad Fauzil Adhim⁣, Penulis Buku-buku Parenting dan Pernikahan

Agar Masalah Tidak Lagi Menjadi Masalah


Oleh : Jamil Azzaini

Dua puluh tahun yang lalu, saya pernah mengalami masalah yang datang bertubi-tubi tiada henti. Bisnis bangkut, istri dirawat di ruang ICU, debt collector yang sering meneror dan derita-derita lainnya. Fakta ini membuat saya tertekan, stres dan terkadang mengalami kebingungan yang tiada ujung pangkalnya.

Saat saya mengadu ke mentor saya, ia hanya berkata “Setiap masalah tidak bisa diselesaikan. Jangan fokus menyelesaikan masalah, buat dirimu bertumbuh jauh lebih besar dan lebih kuat maka masalahmu menjadi tidak relevan.” Ia menambahkan dengan membuat analogi “bagi anak di bawah usia tiga tahun, membawa tas laptop itu berat. Namun bagi kita, membawa tas laptop itu ringan. Mengapa? Karena kita sudah jauh lebih besar dibandingkan tas laptop tersebut. Tas laptop sudah tidak menjadi masalah lagi bagi kita, sudah tidak relevan.”

Sejak itu, saya pun mencari tahu, bagaimana caranya agar kita bisa tumbuh lebih kuat dan lebih besar agar berbagai masalah yang kita hadapi menjadi tidak relevan lagi. Kita bisa menikmati hidup karena masalah sudah tidak lagi mendikte kehidupan kita.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan juga pengalaman saya memberikan treatment kepada banyak orang serta diskusi saya dengan sahabat dan guru saya mas Ahmad Faiz Zainuddin usai ia belajar keliling dunia, maka menurut saya, ada tiga langkah yang perlu kita lakukan agar kita bisa tumbuh lebih cepat dan kuat. Mau tahu? Berikut penjelasannya.

Pertama, Menggunakan “What If” Question (Bagaimana Jika?). Saat saya mau keluar dari Dompet Dhuafa (DD) Republika dan berganti profesi menjadi Inspirator pada tahun 2004, saya mengajukan pertanyaan ini. Bagaimana jika saya keluar dari DD Republika? Bagaimana jika saya ditolak pasar? Bagaimana jika latar belakang pendidikan Inspirator haruslah Psikologi?

Begitu pula saat saya menyiapkan pensiun dini dari CEO Kubik Leadership, dua tahun sebelum pensiun, saya sudah mengajukan pertanyaan “Bagaimana jika saya pensiun dari CEO Kubik Leadership? Bagaimana jika penghasilan tetap saya berkurang? Bagaimana jika ilmu-ilmu saya sudah tidak relevan dengan kebutuhan client? Dengan mengajukan pertanyaan Bagaimana Jika…? Saya lebih siap menghadapi apa yang terjadi.

Kedua, Terus bertumbuh. Awal dari perilaku kita adalah mindset, maka kita perlu memiliki Growth Mindset. Anda bisa memperdalam tentang Growth Mindset dengan membaca buku karya Carol Dweck yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tidak cukup mindset, sikap dan perilaku kita pun perlu terus bertumbuh. Kita perlu secara berkala menghilangkan dan mengurangi hal-hal yang tidak perlu, meningkatkan yang sudah menjadi kelebihan kita dan selalu menciptakan hal-hal baru.

Keahlian pun perlu ditingkatkan bahkan kita perlu terus menambah keahlian baru yang relevan dengan kebutuhan kini dan masa depan. Jangan pernah berhenti belajar. Dengan ini, kita terus bertumbuh.

Ketiga, Fokus kepada kelebihan dan peluang masa depan. Bila kita fokus kepada kelebihan dan kekuatan, yang ada dalam diri kita adalah rasa syukur yang berlimpah. Dan rasa syukur ini akan mengundang banyak kebaikan lainnya mendekat kepada kita. Selain kita fokus kepada kehidupan saat ini, kita pun perlu memikirkan berbagai peluang yang ada dimasa depan. Hal ini akan membuat kita selalu siap dengan apapun perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pendapat David L Cooperrider & Diana Whitney yang dituangkan dalam bukunya Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change.

Nah, apabila Anda masih sering merasa menghadapi masalah yang datang silih berganti, saatnya Anda melakukan tiga hal tersebut di atas agar masalah menjadi tidak relevan lagi bagi Anda. Selamat mencoba.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator Sukses Mulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Anak-anak yang Mati Rasa⁣


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣

Kelak akan tiba masanya, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dari pengetahuan yang dapat diperoleh dari Google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.⁣
Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:⁣
سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا⁣
“Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).⁣
Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.⁣
Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.⁣
Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.⁣
Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.⁣
Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.⁣
Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru. Pesantren tradisional telah melakukannya sudah lebih dari satu atau dua abad yang lalu. Tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.⁣
Apakah ini hanya terjadi pada anak-anak yang dimasukkan pondok pesantren alias boarding school? Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan sangat banyak anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren sama sekali dan mereka tidak memperoleh pendidikan adab (ta’dib) yang baik di rumah maupun sekolahnya. Sebaliknya kita dapati banyak pesantren, khususnya pesantren tradisional yang akarnya kuat (catat: akarnya kuat) memberi tempaan pendidikan adab yang sangat kokoh pada santrinya.⁣
Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.⁣
Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.⁣
------⁣
Tiba-tiba banyak yang menanyakan tulisan lama saya –pernah saya unggah di facebook ini juga—bertajuk “Anak-anak yang Mati Rasa”. Saya cari linknya di akun FB saya ini, tetapi tidak menemukan. Karena itu saya memilih untuk mengunggah ulang, semoga bermanfaat dan barakah.⁣
Pembahasan lebih lengkap mengenai hal ini juga telah saya unggah di facebook, tetapi tidak sebagai satu rangkaian judul. Salah satunya mengenai empati, betapa berpikir empatik saja tidak cukup.⁣
Sekedar catatan, semua anak saya yang sudah lulus SD belajar di pondok pesantren. Ada satu anak yang masih di rumah karena masih tingkat sekolah dasar. Tetapi dia sudah membicarakan pesantren yang ia inginkan sebagai tempat untuk belajar kelak.

Mohammad Fauzil Adhim⁣, Penulis Buku-buku Parenting

Cara Memahami dan Cara Menikmati

Oleh : Cahyadi Takariawan

Apabila kita memiliki botol dengan volume satu liter, yang berisi air mineral setengah bagiannya, apa komentar kita untuk menggambarkan kondisi itu?

Pertama, kita bisa mengatakan “Syukur alhamdulillah, saya masih memiliki setengah botol air mineral. Saya bisa menikmatinya untuk menghilangkan haus”.

Kedua, kita bisa mengatakan, “Ya ampun, air mineralku sudah habis, tinggal setengah lagi. Celaka, aku nanti pasti akan kehausan”.

Apa yang membedakan antara komentar pertama dan kedua di atas? Perbedaannya adalah dalam cara memandang realitas setengah botol air mineral tersebut, dan cara menikmatinya.

Komentar pertama memandang dari segi “setengah botol yang berisi air mineral”, sehingga ia mampu bersyukur karena masih memiliki air untuk diminum.

Komentar kedua memandang dari segi “setengah bagian botol yang kosong”, sehingga merasa sudah tinggal sedikit lagi air mineral yang dimilikinya untuk menghilangkan haus.

Realitas yang dimiliki sama, yaitu volume air mineral tersebut adalah setengah liter, berada dalam botol yang volumenya satu liter. Namun cara memandangnya berbeda, mau memandang setengah liter yang berisi, atau memandang setengah liter bagian botol yang kosong. Karena cara pandang yang berbeda, maka berdampak cara menikmatinya pun berbeda.

Komentar pertama bercorak positif dan optimistik, sehingga akan mampu menikmati dengan sepenuh kesyukuran. Sedangkan komentar kedua bercorak negatif dan pesimistik, sehingga tidak mampu menikmati dengan kesyukuran, bahkan cenderung banyak mengeluh dan menyesali kondisi.

Karena realitas yang dihadapi sama, maka akan lebih nyaman bagi kita untuk memilih cara pandang yang positif dan optimistik, agar lebih bisa menikmati dengan sepenuh kesyukuran dan kelapangan hati.

Demikian pula dalam memandang serta menikmati kondisi pasangan. Seorang suami membuat daftar harapan untuk isteri, dan ia menemukan seratus poin harapan ideal untuk isteri. Setelah dicermati, ternyata isterinya memiliki enampuluh poin harapan dari seratus poin yang diinginkan, alias 60 %.

Sekarang, apa komentar suami atas realitas 60 % tersebut? Hal ini tergantung dari cara memandang dan cara menikmatinya.

Cahyadi Takariawan, Penulis Buku dan Motivator
Sumber : IG Cahyadi_Takariawan

Belajar Leadership dari Muhammad Al Fatih

Oleh : Jamil Azzaini

Tanggal 17 Januari 2021, saya menginjakkan kaki di Turki, dari bandara kami langsung menuju kawasan Topkapi Palace yang bersebelahan dengan Masjid Hagia Sophia.

Sesampai di tempat itu, pikiran saya menerawang ke tahun 1453 saat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun mampu menaklukkan Konstantinopel. Tempat yang pernah disebutkan Rasulullah 825 tahun sebelumnya.

Rasulullah mengabarkan bahwa Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad)

Kunci kemenangan Al Fatih adalah melakukan hal berbeda dan tampak mustahil bagi kebanyakan orang. Apa itu? Saat itu, Al Fatih beserta ribuan tentaranya menarik kapal-kapal mereka melalui perbukitan Galata (tidak lewat laut) agar bisa masuk ke Selat Golden Horn.

Tujuh puluh kapal diseberangkan melalui bukit hanya dalam satu malam. Kejadian ini diabadikan Sastrawan Yoilmaz Oztuna: “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini, Al Fatih telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya di puncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah diilakukan oleh Alexander The Great.”

Selain berani melakukan hal yang berbeda. Al Fatih juga menyuntikkan semangat keimanan dan value yang mendasar bagi pasukannya (timnya). Sehari sebelumnya  ia memerintahkan semua tentaranya untuk berpuasa pada siang hari dan shalat tahajud pada malam harinya untuk meminta kemenangan kepada Allah. Tiada kemenangan tanpa izin-Nya.

Begitu ia menaklukkan Konstantinopel dan memasuki Hagia Sophia ia bersujud menghadap kiblat kemudian mengambil segenggam tanah dan kemudian ia taburkan di atas kepalanya. Ia tidak ingin gelar “pemimpin terbaik” merusak iman dan hatinya. Kita semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel yang sekarang telah berubah menjadi Istambul, ia menjadi pemimimpin di tempat itu. Ia melindungi seluruh rakyat baik yang beragam Islam maupun yang beragama selain Islam. Masyarakatnya jauh lebih sejahtera dibandingkan saat Konstantinopel dalam naungan Kerajaan Byzantium.

Begitulah pemimpin terbaik: menanamkan keimanan dan value, berani berpikir beda, rendah hati dan mengayomi seluruh yang dipimpinnya.

Bursa – Turki, 18 Januari 2021

Sumber : www.jamilazzaini.com

Kebencian Itu Luruh Di Ujung Hidayah⁣⁣

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣⁣

Richard “Mac” McKinney. Keyakinannya bahwa seburuk-buruk agama adalah Islam sehingga harus dihapuskan dari muka bumi mengantarkan ia untuk memilih bergabung dengan korps marinir. Ia memiliki keyakinan kuat bahwa menjadi tantara adalah jalan mulia untuk menyelamatkan manusia, menyelamatkan orang-orang yang seagama dengannya, dari ajaran Islam. ⁣⁣
⁣⁣
Selama 25 tahun menjalani tugas kemiliteran, Mac telah membunuh sangat banyak muslim tanpa alasan khusus. Setiap kali membunuh satu orang yang ia gambarkan sebagai musuh, ia mengabadikan dengan tatoo kecil berbentuk airmata di lengannya. Tatoo yang membuatnya harus menitikkan sedikit airmata karena menahan sakit. Ia berhenti membuat tatoo pada angka ke-26. Tidak ada yang lebih kuat untuk mendorongnya melakukan itu semua kecuali karena kebenciannya kepada Islam dan keyakinan yang mengakar bahwa Islam itu membahayakan manusia.⁣⁣
⁣⁣
Berhenti dari karier kemiliteran karena memang sudah waktunya pensiun, tidak memadamkan keinginannya untuk melakukan “tugas mulia” menyelamatkan manusia dari Islam. Sedemikian besar kebenciannya sehingga tidak segan ia mengekspresikan secara sangat terbuka hingga bahkan berteriak, semisal saat melihat seorang perempuan mengenai cadar. Istri dan anak perempuannya bahkan merasa sangat tidak nyaman dengan perilakunya; perilaku yang lahir dari sikap sangat kuat dalam dirinya.⁣⁣
⁣⁣
Usia kian bertambah. Ia merasa harus berbuat sesuatu yang besar. Pengalamannya di militer memudahkan dia untuk merakit bom dengan daya ledak tinggi. Ia pun melakukan dengan cermat dan mengongkosi dengan uangnya sendiri seluruh keperluan untuk melaksanakan missinya; missi yang sangat ditentang oleh istrinya sampai-sampai mengancam akan melaporkan Mac ke FBI. Tetapi Mac tidak peduli. Ia memang telah mempersiapkan diri untuk masuk penjara sebagai harga dari keyakinan yang dipeganginya sejak muda, keyakinan yang membuatnya sangat terobsesi untuk bisa seperti Rambo. Ia tetap kuat dengan tekadnya melaksanakan apa yang disebutnya sebagai “a final mission”, tugas terakhir, bagi negerinya. ⁣⁣
⁣⁣
“Jika saya harus berakhir di penjara dan disuntik mati, tidak masalah bagi saya," kata McKinney. "Saya pikir dengan meledakkan masjid, saya akan melakukan hal yang baik untuk negara saya... saat itu saya sedang kacau."⁣⁣
Demi missi yang diyakininya, ia siap mati.⁣
⁣⁣
Maka, hari itu pun ia mendatangi Islamic Center of Muncie. Tepat saat ia masuk, seorang laki-laki di masjid itu menyambutnya dengan sangat hangat. Penuh keramahan. Sambutan yang membuatnya terkejut karena benar-benar bertentangan dengan anggapannya selama ini. Laki-laki muslim itu bertanya apa yang dapat ia bantu, dan Mac pun menyatakan ia belajar Islam. Maka hari itu, Richard “Mac” McKinney mulai belajar Islam. Ia juga memperoleh hadiah Al-Qur’an.⁣⁣
⁣⁣
Esoknya ia datang lagi. Setiap hari. Selama satu sampai dua jam sehari ia mengkhususkan waktu datang ke masjid di Islamic Center of Muncie untuk belajar Islam. Tepat 2 bulan kemudian, pada bulan September 2009, Richard “Mac” McKinney mengikrarkan syahadat dan mengganti namanya menjadi Omar Saeed Ibn Mac (‘Umar Sa’id ibn Mac). Kelak tiga tahun setelah bersyahadat, Omar Mac menjadi presiden di Islamic Center of Muncie, semacam ketua umum takmir. Ia pun menjadi imam di masjid yang dulu ia ingin hancurkan dengan bom.⁣⁣
⁣⁣
Kerasnya kebencian Richard McKinney kepada Islam dan gigihnya perjuangan dakwah Omar Saeed ibn Mac (namanya sesudah muslim) setelah bersyahadat, mengingatkan kita pada sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hibban dan lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda:⁣⁣
⁣⁣
تَجِدُوْنَ النَّاسَ مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوْا، وَتَجِدُوْنَ خِيَارَ النَّاسِ فِي هَذَا الشَّأْنِ أَشَدَّهُمْ لَهُ كَرَاهِيَّةً، وَتَجِدُوْنَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ⁣⁣
⁣⁣
“Kalian mendapati manusia itu seperti barang-barang tambang. Orang-orang pilihan (mulia) pada masa jahiliah adalah orang-orang yang mulia pada masa Islam jika mereka faqih (benar-benar memahami agama ini). Kalian mendapati manusia pilihan dalam hal ini adalah orang yang (pada mulanya sebelum Islam) paling keras kebenciannya kepada agama ini. Dan kalian mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua; yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah lain pula." (Muttafaq Alaihi).⁣⁣
⁣⁣
Ada pelajaran sangat menarik di sini yang mengingatkan kita pada hadis lain bermiripan awalannya, tetapi bukan waktunya sekarang untuk membahas. Saya hanya ingin menggaris-bawahi mengenai apakah yang jika di saat jahiliyah ia emas dan sesudah Islam ia emas juga? Karakter. Jika seseorang benar-benar kuat pembelaannya kepada keyakinannya –meskipun itu salah—maka sesudah Islam akan kuat pula kegigihannya berjuang dan mengikatkan diri dengan prinsip-prinsip yang ada pada keyakinannya itu. Sangat berbeda dengan orang yang kebaikan itu hanya menjadi topeng. Bukan karakter.⁣⁣
⁣⁣
---
Diolah dari berbagai sumber. Hadis lebih lengkap dapat dibaca di https://www.dorar.net/hadith/sharh/26202
Mohammad Fauzil Adhim⁣⁣, Penulis Buku-buku Parenting

Berbuat Baik Kepada Kedua Orangtua⁣

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Allah ‘Azza wa Jalla beri keistimewaan kepada orangtua. Padanya melekat kemuliaan sebagai orangtua terhadap anaknya, bahkan sekalipun beliau berdua sangat besar kedurhakaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka kepada kedua orangtua, Allah Ta’ala wajibkan untuk berbicara dengan perkataan yang memuliakan (qaulan karima) dan tidak boleh menyakiti perasaannya meskipun hanya dengan berkata “uff” atau “ah” yang menunjukkan kejengkelan atau rasa tidak suka.⁣
Perbuatan buruk itu bertingkat-tingkat. Tetapi bahkan sampai pada tingkatan ketika orangtua melakukan dosa yang paling buruk, yakni memaksakan anaknya mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla —yang ini merupakan dosa tak terampuni— tetap saja kita diperintahkan untuk bergaul dengan keduanya selama di dunia ini dengan sangat baik. Adapun terhadap perintah yang bertentangan dengan syari’at, kita tidak mentaatinya.⁣
Jadi, sangat berbeda antara birrul walidain dengan taat kepada orangtua. Bentuk birrul walidain bisa saja berupa ketaatan, sejauh ketaatan itu tidak dalam urusan yang diharamkan oleh agama ini. Tetapi bahkan ketika kita tidak boleh mentaati perintah kedua orangtua pun, Allah Ta’ala tetap wajibkan untuk berbuat baik dan memperlakukan kedua orangtua dengan sebaik-baik pergaulan. Apalagi jika hanya berurusan dengan perkara-perkara mubah atau makruh yang tidak ada dosa di dalamnya. Ini bukan meremehkan perkara makruh, tetapi untuk membandingkan derajat keharusan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain).⁣
Olahraga tinju bukan termasuk perbuatan dosa. Tetap nenek-nenek ingin latihan tinju, setahu saya sangat tidak lumrah. Terlebih jika sebelumnya tidak pernah bertinju. Maka pagi ini saya termangu membayangkan ketika melihat Nancy Vanderstraeten, seorang nenek usia 74 tahun –sebagian sumber menyebut 75 tahun—sedang menikmati tinju. Nenek asli Belgia yang semenjak usia 32 tahun sudah menetap di Antalya Turki ini menghabiskan waktu 1,5 jam selama 3 hari sepekan untuk latihan tinju.⁣
"Tinju adalah minat saya. Saya sangat menyukainya. Saya tidak pernah ketinggalan waktu pelatihan. Saya bangun dengan bahagia di pagi hari, saya bersemangat untuk datang ke aula. Saya ingin berlatih setiap hari," kata Nancy Vanderstraeten. Menurut Naciye –panggilan akrabnya— latihan tinju ia lakukan untuk menyembuhkan penyakit Parkinson yang ia alami.⁣
Saya tidak berbicara mengenai pilihan Naciye. Tetapi saya hanya ingin mengambil pelajaran tentang birrul walidain yang salah satu bagian pentingnya adalah berbicara dengan qaulan karima. Khusus mengenai yang terakhir ini, in sya Allah besok malam kita akan membahasnya dalam Kajian Bulanan FKM.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku

Falsafah Telur

 

Oleh : Ustadz Sholih Hasyim, Lc.

Kebaikan bisa saja lahir dari keterpaksaan, meskipun akan lebih terasa nyaman jika kebaikan itu hadir bersama kesadaran. Dari sebutir telur kita bisa mengambil falsafah untuk menerjemahkan penggal kalimat di atas.

Di dalam telur tersimpan benih kehidupan, maka ia dilindungi cangkang yang keras. Jika sedikit saja cangkang retak atau pecah yang disebabkan faktor dari luar, akan membuat telur gagal menetas. Tidak ada kehidupan yang muncul. Sebaliknya jika cangkang itu pecah karena faktor dari dalam, karena memang waktunya menetas, akan melahirkan satu makhluk hidup baru yang siap berkembang.

Sobat, begitu juga dengan diri kita. Jika nilai-nilai kebaikan universal seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, cinta kebersihan dan lainnya kita lakukan karena keterpaksaan atau rasa takut dari pihak luar. Dari guru atau orang tua, misalnya. Maka kebaikan-kebaikan itu akan terasa berat untuk dilakukan, dan mudah terhenti bila tidak ada lagi kontrol dari orang lain. Tidak memberi kesan dalam diri.

Berbeda jika kebaikan itu lahir dari kesadaran diri. Mengingat manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh. Besar kemungkinan, kebiasaan baik itu akan tetap terjaga secara konsisten. Akan melahirkan ‘kehidupan baru’ yang semakin mendekatkan diri kita kepada kesuksesan.

“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Asy Syuura [42]: 23)

Memunculkan kesadaran dari dalam diri untuk melakukan kebaikan memang tidak mudah. Butuh ilmu, keyakinan dan ikhtiar secara terus-menerus. Ilmu yang membuat seorang tahu kemanfaatan dari amal yang dilakukan. Keyakinan akan membentuk jiwa yang percaya kepada diri sendiri. Tidak mudah tergerus oleh pergaulan yang mengajak kepada kerusakan. Sedang ikhtiar yang konsisten akan mengubah kebiasaan menjadi akhlak. Sebab memang ada kalanya pembentukan akhlak harus dipaksa.

Sobat, hari ini kita telah belajar falsafah dari sebutir telur. Semoga membukakan hati kita untuk lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan yang lahir dari kesadaran diri. Allah telah berjanji, setiap kebaikan, akan dibalas dengan kebaikan.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahmaan [55]: 60)

Ustadz Sholih Hasyim, Lc., Anggota DPP Hidayatullah

 
google.com, pub-2899497012032282, DIRECT, f08c47fec0942fa0