Hadiah Lebaran


Jika kita berlangganan berbelanja di sebuah warung, tentu si pemilik warung akan hafal wajah dan nama kita,bahkan mungkin tidak sekedar wajah dan nama, si pemilik warung lambat laun akan mengenal kebiasaan kita membeli barang apa saja di warungnya, bahkan jika sudah akrab bisa jadi akan tahu barang-barang yang tidak disukai. Lebih jauh lagi si pembeli dan pemilik warung bisa saling bersenda gurau ketika berjumpa.

Si pemilik warung tentu tidak akan pernah mengecewakan si pelanggan setia ini, dia akan melakukan berbagai cara agar si pelanggan tetap mau berbelanja di warungnya. Mulai dari mengajari seluruh karyawannya untuk tetap tersenyum, menyapa, bahkan menanyakan kabarnya, terus mendoakannya. Jika sudah tahu namanya, cobalah sesekali dengan menyebut namanya, misalnya, "Wah ada Mbak Ulfah, selamat berbelanja ya Mbak.", "Wah ada Mbak Inas, apa kabar Mbak Inas? Mau masak apa hari ini mbak?" Dan banyak lagi trik-trik sederhana yang biasa saja, tapi dampaknya luar biasa. Karena apa? Sekedar sapaan dari pemilik warung atau para penjaga warung ke palanggan, maka si pelanggan akan merasa nyaman belanja di warung tersebut. Bahkan ada yang rela menjadi marketing dengan bercerita ke teman, tetangga, dan lainnya. Tentu efeknya akan berbeda hasilnya, jika si pemilik warung tidak pernah menyapa, tidak peduli kepada para pelanggannya.

Nah, ketika lebaran tiba, maka si pemilik warung ini akan menghitung kebutuhan untuk menyediakan paket atau hadiah lebaran kepada para pelanggannya. Tidak terlalu mahal memang, misalnya mug/gelas, mangkok, handuk, jilbab, sarung, baju, celana, sabun cuci, sabun mandi, atau lainnya. Itu semua dilakukan untuk menyenangkan hati pelanggannya. "Eh ternyata kalau belanja di sini dapat ini, dapat itu." 

Tentu berbeda jika kita jarang berbelanja di warung tersebut. Si pemilik warung tidak akan pernah kenal siapa kita, nama kita, di mana tinggalnya, kesukaan kita apa, yang dibenci apa, dan banyak lainnya. Tidak akan mengenal. Maka wajar, jika si pemilik warung tidak menyediakan hadiah spesial saat lebaran tiba.

Pun demikian dengan TUHAN kita, jika hambaNYA tidak pernah singgah ke rumahNYA, jika hambaNYA lalai akan kewajibannya, jika hambaNYA tidak pernah menyebut namaNYA, maka sangat wajar 'HADIAH LEBARAN' tidak akan pernah diberikan kepadanya. Bagaimana mungkin akan memberikan hadiah lebaran, shalat ke masjid saja tidak pernah. Bagaimana mungkin akan diberi paket lebaran, bersedekah saja kagak penah, shalat-shalat sunah saja jarang dikerjakan, puasa-puasa sunahNYA sering diabaikan, anak-anak yatim dan fakir miskin tidak pernah diberi makan. Karena TUHAN kita tidak mengenal siapa kita. Nama kita tidak terkenal di langitNYA. 

Mungkin, nama kita terkenal karena memiliki jabatan yang tinggi di kantornya, wajah kita terlalu terbayang karen kerupawanan kita. Namun ingat, itu semua bukan jaminan kita diberi 'hadiah lebaran' olehNYA.

Maka, cintailah rumahNYA, kerjakanlah perintahNYA, jauhilah laranganNYA, insyaAllah Hadiah Lebaran akan selalu hadir di setiap kehidupan kita.

Wallahu a'lam bi showab

TMT


Jangan Berlebihan dalam Cinta dan Benci


Terkadang Allah mengirimkan teman untuk menentramkan jiwa-jiwa kita yang telah merenta

Terkadang Allah mengirimkan musuh untuk menguji seberapa kuat kemampuan kita dalam bertahan

Terkadang teman menjadi musuh dan musuh pun menjadi teman. Itulah kehidupan

Maka benar pesan kekasih Allah, jika mencintai seseorang jangan memberikan cinta secara berlebihan, bisa jadi suatu saat nanti ia kan menjadi orang yg paling engkau benci.

Pun sebaliknya, jika membenci seseorang jangan berlebihan, bisa jadi suatu saat nanti ia kan menjadi orang yang paling engkau cintai.

TMT

Menguji Sang Kekasih


Oleh : Jamil Azzaini

Sepasang kekasih yang jatuh cinta itu memiliki banyak tanda. Bila kita ingin tahu apakah kita benar-benar jatuh cinta atau tidak dengan kekasih, kita pun bisa mengujinya. Alat ujinya cukup sederhana, kita perlu menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

Pertama, apakah kita senang saat berjumpa dan berdua dengannya? Apabila jawabannya sangat senang itu pertanda bahwa kita memang mencintainya. Apabila menggunaka skala 1-10, dimana 1 tidak senang dan 10 sangat senang, nilai kita mendekati 10, itulah pertanda kita jatuh cinta. Bukan hanya itu, terkadang pun kita mencari-cari alasan untuk bisa berjumpa dan berdua dengan-Nya.

Sebaliknya, apabila kita sebel atau merasa tidak nyaman dan bosan saat berjumpa dan berdua, sehingga kita ingin buru-buru berpisah atau mengakhiri pertemuan, itu pertanda kita belum jatuh cinta. Cinta kita semu, cinta kita hanya ngaku-ngaku.

Kedua, apakah kita mengutamakan apa yang dicintai sang kekasih? Apabila jawabannya Ya, itu pertanda bahwa kita jatuh cinta. Apa yang disukai kekasih selalu kita prioritaskan, bahkan mengalahkan apa yang kita sukai. Kekasih kita menjadi top of mind dalam pikiran kita. Apa yang dicintai sang kekasih selalu diupayakan ada atau selalu dilakukan meski kita jauh dengannya, itulah pertanda bahwa kita memang sangat mencintainya.

Ketiga, apakah kita sering mengingatnya? Apabila jawabannya Ya, bahkan hampir dalam setiap kesempatan kita selalu mengingatnya, itulah tanda bahwa kita memang sangat mencintainya. Terkadang kita melihat fotonya, mencari tahu statusnya di social media, membayangkannya saat sendiri, menghubunginya lewat berbagai cara, bahkan terkadang kita berharap sang kekasih hadir dalam mimpi kita.

Tiga pertanyaan ini, juga bisa menjadi alat uji apakah kita mencintai Sang Maha Kekasih, Allah swt. Apakah kita senang saat berjumpa dan berdua dengan-Nya? Misalnya, Allah swt hadir di sepertiga malam, apakah kita senang menjumpainya? Apakah kita senang ngobrol atau bercengkerama di waktu itu?

Atau kita biarkan Sang Maha Kekasih hadir, sementara kita masih terlelap tidur. Hingga kemudian Dia berkata: “Aku hadir, tetapi kau lupa untuk datang.” Bila kejadian ini terlalu sering, layakkah bila kita mengaku bahwa kita sangat mencintai-Nya?

Begitupula dalam hal mengutamakan, benarkah kita sering memprioritaskan Allah swt? Saat kita dipanggil dengan suara Adzan, apakah kita bersegera memenuhi panggilannya? Atau kita masih sibuk mengerjakan yang lain? Tentu Anda lebih tahu jawaban Anda. Begitu pula dalam aktivitas sehari-hari, apakah kita sudah memprioritaskan apa yang dicintai Sang Maha Kekasih?

Bagaimana dengan mengingat-Nya? Seberapa sering kita mengingat-Nya? Seberapa sering kita rindu ingin berjumpa dengan-Nya dan seberapa sering kita terus berharap bisa menatap wajah-Nya?

Setelah membuat tulisan ini, saya terpaku sejenak sambil berucap: “Duh, Kekasihku, maafkan aku bila aku hanya ngaku-ngaku mencintai-Mu tapi ternyata ucap dan lakuku belum mencerminkan bahwa aku benar-benar mencintai-Mu. Namun demikian, izinkan aku untuk tetap berharap menjadi kekasih-Mu, duhai Sang Maha Kekasih yang selalu kurindu.”

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator Sukses Mulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Foto : Freepik

Didik Anak dengan Lembut, Bukan Lemah⁣


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Betapa banyak orangtua yang mencintai anaknya, sepenuh hati, tetapi tak mencurahkan waktunya untuk mendampingi anak bertumbuh. Mereka bilang cinta, tetapi anak tak merasakannya karena orangtua tidak meluangkan waktu untuk anak. Sebaliknya, ada pula orangtua yang sangat besar keinginannya untuk dapat mendampingi anak, ia mencurahkan segenap waktunya, tetapi tak memiliki ilmunya sehingga anak justru tak berkembang karena merasa dikekang.⁣
Ada anak yang sangat terinspirasi oleh harapan orangtua, nilai-nilai dan idealisme orangtua. Orangtua tak mengharuskan, tetapi mereka tergerak mewujudkannya. Di antara mereka ada yang bahkan memilih belajar dan mengambil jurusan bukan karena itu bidang yang sangat disukai, tetapi karena terinspirasi oleh orangtua atau besarnya keinginan membahagiakan orangtua, mereka pun memilih bersungguh-sungguh seraya belajar mencintai bidang yang semula tak diminatinya. ⁣
Sebaliknya, ada anak-anak yang merasa tertekan dengan pilihan orangtua. Ini bukanlah tentang siapa anak kita, tetapi tentang bagaimana kita menjadi orangtua.⁣
Ada orangtua yang mendorong anaknya mengambil keputusan hidup secara mandiri. Tetapi tak sedikit pula orangtua yang merasa memberi kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan secara mandiri, tetapi mereka justru merasa dibiarkan dan tidak dipedulikan. Dimana letak masalahnya? Tak sedikit pula orangtua yang sulit membedakan antara memberi kepercayaan kepada anak dengan permisif. Tak peduli apa keputusan anak dan kemana mereka akan melangkah. Banyak pula orangtua yang inginnya memberi kepercayaan kepada anak, tetapi karena tidak menunjukkan dengan kelembutan (rifq), anak justru merasa tidak dipedulikan. Di sisi lain, tak sedikit orangtua yang merasa bersikap lembut, padahal sebenarnya dia bersikap lemah.⁣
Lalu, bagaimana seharusnya kita menghadirkan kelembutan dalam mendidik anak?

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting
Foto : Freepik

Ekonomi Umat Islam, Lebaran, dan Baju Baru


Bagi sebagian orang, lebaran masih identik dengan baju baru, sepatu baru, sandal baru, sarung baru, dan semua serba baru. Dari jaman dahulu hingga kini, menjelang lebaran pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua. Tentu tak lain dan tak bukan adalah membeli baju lebaran.

Tidak heran memang, lebaran atau Idul Fitri menjadi moment yang sangat ditunggu-tunggu bagi para produsen pakaian. Pundi-pundi rupiah mengalir dari bisnis pakaian ini. Bisa dibayangkan, jika 1 anak belanja baju baru senilai Rp 100.000,- jika dalam keluarga ada 4 , orang, maka kebutuhan keluarga untuk baju baru ini Rp 400.000,-. Nah bagaimana jika 1 RT ada 30 keluarga? Maka bisa mencapai Rp 12.000.000. Nah bagaimana jika 1 RW, 1 kelurahan, dan seterusnya. Itu semua jika belanja minimal Rp 100.000, tentu ada yang lebih dari itu dan mungkin hanya sebagian kecil yang kurang dari angka tersebut.

Perputaran ekonomi dalam urusan baju baru sangat fantastis nominalnya, nah jika umat Islam Indonesia bisa mengatur perputaran uang ini, misalnya dengan membeli ke produsen-produsen muslim, maka tentu ekonomi ini semakin kuat. Umat Islam bukan hanya sekedar menjadi konsumen atau pemakai produk-produk pakaian ini. Kalau sekedar menjadi pemakai, maka yang diuntungkan yang para cukong-cukong asing dan aseng yang bermodal gedhe.

Para pengusaha muslim harus berpikir besar, bagaimana memproduksi benang, memproduksi kain, membuat pabrik-pabrik pewarna kain, dan tentu memproduksi pakaian-pakaian jadi. Jika para pemodal muslim semua bergerak, maka sangat berpotensi ekonomi ummat Islam akan kembali jaya. Belanja di warung tetangga tidak sekedar menjadi slogan semata.

Nah, itu baru dari produksi pakaian. Tentu masih banyak hal-hal lain yang bisa diperbuat oleh para pemodal muslim di negeri ini, misalnya dalam hal makanan, minuman, produk-produk kecantikan, produk obat-obatan, produk rumah tangga semisal kebutuhan mandi dan cuci.

Bangkitlah wahai ummat Islam Indonesia.

TMT
Foto Republika

Ridho Rahmadi, Menantu Amien Rais Terpilih Jadi Ketua Umum Partai Ummat


www.majalahfahma.com | Kamis (19/04/2021) Ridho Rahmadi terpilih sebagai Ketum Partai Ummat, partai besutan Sang Mertua, Amien Rais. Dilaksanakan secara virtual dan disiarkan secara langsung di channel YouTube Amien Rais Official Ridho yang meraih gelar doktor Radboud University, salah satu universitas di Nijmegen, Belanda, yang juga sebelumnya dosen Universitas Islam Indonesia dan akhirnya mengundurkan diri dikarenakan akan menjadi pengurus partai.

Partai Ummat ini hebat dan menarik. Setidaknya ada 5 hal yang membuat Partai Ummat ini hebat dan menarik.

Pertama, didirikan oleh Prof Dr M. Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah 1995-1998, Ketua MPR 1999-2004 dan Ketua Umum PAN 1998-2020.

Kedua, Partai Ummat dipimpin oleh seorang cendekiawan muda bergelar Ph.D pakar IT.

Ketiga, Partai Ummat diisi para politisi senior dari berbagai macam partai politik dan aktivis.

Keempat, Partai Ummat selalu viral di google dalam pemberitaan yang tidak terjadi pada partai politik manapun.

Kelima, Partai Ummat mendapat apresiasi dari publik di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Begitu tulis Musni Umar dalam sebuah artikel di laman www.arahjaya.com .

Menantu Amien Rais, Ridho Rahmadi, menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Ummat. Ridho Rahmadi diusulkan salah satu anggota Majelis Syuro Partai Ummat menjadi Ketum Partai Ummat.

Berbagai sumber

TMT

Mudik


Secara resmi pemerintah melarang mudik tahun 1442 H/2021 M, hal ini dengan alasan untuk mencegah tersebarnya virus Covid-19 dari kota ke desa, atau sebaliknya yang dibawa oleh pemudik. Berbagai pos pantauan mudik diberlakukan oleh pemerintah daerah di masing-masing daerahnya. Sebagai contoh di Daerah Istimewa Yogyakarta, propinsi ini mendirikan 10 pos penjagaan selama 24 jam untuk mengantisipasi pemudik yang nekad, begitu yang telah dilansir oleh CNN Indonesia.

Sebagaimana mana dilansir oleh CNN Indonesia, "Itu sepuluh titik yang kita siapkan untuk mengantisipasi kegiatan memutar balikkan atau penyekatan masyarakat yang diduga akan mudik berpindah satu daerah ke daerah lain," kata Direktur Lalu Lintas Polda DIY Kombes Pol Iwan Saktiadi, di Yogyakarta, Rabu (28/4).

Ia mengatakan sepuluh pos itu dibuat berlapis. Empat di antaranya yang masuk kategori vital ada di perbatasan, yakni pos Prambanan di Sleman yang berbatasan langsung dengan Klaten, Jawa Tengah. Lalu, pos Tempel di Sleman yang menjadi pintu masuk pendatang via Magelang, Jawa Tengah.

Tentu banyak masyarakat yang kecewa dengan keputusan pemerintah ini. Banyak pengusaha-pengusaha transportasi yang kecewa, karena sudah 2 lebaran ini armada mereka tidak terpakai untuk mengangkut para pemudik. Banyak warung makan-warung makan yang kecelik karena biasanya warung mereka disinggahi para pemudik yang hilir mudik silih berganti. Tentulah terbayang, berupiah-rupiah hilang di depan mereka. Banyak pula perusahaan-perusahaan hotel yang harus menahan diri karena kamar-kamar hotel mereka kembali kosong di lebaran ini karena para pelancong tidak bisa datang ke kota-kota mereka. Belum lagi sopir bus yang sudah setahun nganggur harus kembali menggantungkan setir mereka, belum lagi para kenek bus juga tidak bisa berteriak lantang karena apa yang akan diteriakkan mereka ketika nggak ada pemudik. Belum lagi para calo-calo penumpang yang biasanya panen raya saat lebaran harus gigit jari karena mudik dilarang. Dan tentu masih banyak lagi dampak dari dilarangnya mudik ini.

Apapun sekarang keputusan pemerintah, maka rakyat harus mentaatinya, tentu jika melanggar berbagai hukungan ringan hingga berat sudah dipersiapkan oleh pemerintah kepada masyarakat yang nekad mudik.

Nah masih nekad mau mudik? 

TMT

Foto CNN Indonesia






Tunggu Aku Di Pintu Sorga Kapten


Ketika suami akan pergi bekerja, maka tahanlah amarah, kesel, benci karena tidak pernah akan tau bahwa ajal akan menjemputnya.

==================

Judul : Eternal Patrol, Eternal Love

Penulis : Langit Rindu

Jumkat : 1314

"Dek, tolong siapin perlengkapan seperti biasa, dong. Besok ada latihan," pinta Mas Dwi padaku selepas makan sahur. 

"Oke, kali ini berapa lama?" tanyaku.

"Latihannya hari Rabu, dini hari ngeluncurin torpedo, dilanjutkan menembakkan peluru perang. Pagi kemungkinan udah nggak di air lagi. Cuma, ada banyak yang harus dipersiapkan, jadi besok Mas udah harus berangkat." 

"Bali lagi, ya?"

"Iya, Sayang. Kenapa memangnya?" 

"Nggak, banyak bule pakai baju kurang bahan. Kasihan Masku yang lagi shaum ini. Mesti ekstra jaga pandangan."

Dia tertawa sehingga matanya menyipit. Tawa yang menjadi canduku sejak awal bertemu. 

"Mas kan nggak main ke pantai, mainnya sama peralatan tempur di dalam kapal, di kedalaman yang nggak mungkin ada bule berenang. Palingan juga duyung. Tapi, kalau pun ada duyung, pasti nggak secantik kamu."

Entah kenapa aku masih saja malu saat Mas Dwi mulai bersikap dan berkata manis. 

"Tuh, pipinya merah. Padahal udah hampir sepuluh tahun menikah," godanya lagi sambil menunjuk pipiku yang terasa hangat.

"Ish, udah ah. Kira-kira, Mas bisa pulang nggak pas anniversary kita? Udah mau sepuluh tahun, aku belum pernah dikasih kue." Aku pura-pura menggerutu untuk mengalihkan pembicaraan. Sungguh aku masih belum imun dengan segala sikap manisnya. 

"Your wish is my command, Sayang," sahutnya sambil menundukkan punggungnya di hadapanku seolah-olah sedang berhadapan dengan seorang putri seperti di film-film Disney.

Sisa hari kami habiskan berdua dengan Mas Dwi yang menempeliku ke mana pun aku bergerak, kecuali ke toilet. Kebetulan dua anak kami sejak kemarin menginap di rumah nenek mereka. 

Kami ke minimarket di depan gang dengan menggunakan sepeda motor, membeli barang belanjaan pengisi kulkas dan camilan. Mas Dwi kemudian memintaku untuk memasak tumis kangkung dan ayam kecap, menu kesukaannya. Aku memasak dengan gugup karena ia duduk di meja dapur, tak melakukan apa pun selain memperhatikanku. 

"Ini enak banget. Terima kasih, Dek, selama ini udah jadi istri yang baik dan sempurna buat Mas."

"Aku yang terima kasih karena Mas mau bersabar denganku. Mas itu suami terbaik di dunia yang khusus diciptakan untukku," pujiku tulus. 

***

"Mas berangkat, Dek. Hati-hati di rumah. Semoga Allah melindungimu dan anak-anak kita," pamitnya selepas salat Subuh. Sempat tadarus dan menyimak hafalan anak-anak juga sebelum bersiap-siap.

"Mas juga hati-hati, ya. Semoga Allah menjaga Mas juga di mana pun berada. Aku udah masukin sambel kacang dan tempe buat makan sahur dan buka puasa. Kalau memungkinkan untuk menghubungi, jangan lupa kabari ya, Mas?"

Mas Dwi mengangguk, kemudian memeluk erat dan mencium ubun-ubunku seraya melafalkan doa lirih. Aku telah terbiasa mengantarnya berangkat dinas, tetapi kali ini rasanya sungguh berat. Saat mobil yang menjemputnya telah hilang dari pandangan, seketika hatiku merasa kosong. 

Beberapa kali Mas Dwi menghubungi sampai Rabu dini hari sebelum masuk kapal selam. 

"Mas sudah mau nyelam, Dek. Doakan ya. Oiya, sambel kacangnya udah habis waktu buka puasa semalam. Mas bagi sama kawan-kawan. Besok Mas sahur apa, ya?" katanya di telepon.

"Makan makanan kapal." Aku tertawa di antara kantuk, sebelum kembali bicara. "Ntar kalau Mas pulang, boleh request mau dimasakin apa aja."

Hening dari seberang sana, aku sampai mengecek apakah sambungannya terputus, ternyata tidak. 

"Mas ... Mas Dwi. Ngelamun, ya?" tanyaku.

"Eh, iya. Kangen banget," keluhnya. "Sayang, jaga anak-anak baik-baik, ya? Kamu pasti bisa."

"Kok Mas ngomongnya gitu?" protesku. "Kayak mau ke mana aja." 

"Nggak apa-apa, tiba-tiba kepikiran aja. Udah dulu, ya. Sebentar lagi dipanggil, nih. Uhibbuki fillah, ya zaujati."

Sebelum sempat aku membalas ucapannya, sambungan pun terputus. 

Aku juga, mencintaimu karena Allah, Mas. 

Setelah telepon itu, entah kenapa hatiku gelisah dan memutuskan untuk tidak melakukan apa pun. Sore harinya, kegelisahanku sempurna menciptakan tangis. Kapal selam mereka hilang kontak.

Kuambil wudu dengan harapan sedikit meredakan kusutnya pikiran. Setelah itu, menunaikan salat dua rakaat dan menumpahkan segala resah ke sisi langit. Sadar betul, tidak ada yang lebih kuasa dan tempat memohon pertolongan selain Allah. 

Waktu berjalan lambat. Kala statusnya masih dinyatakan hilang pertama kali, harapanku masih meninggi. Setidaknya, menurut keterangan mereka membawa cukup logistik dan persediaan oksigen masih mencukupi hingga 72 jam. 

Hari pertama berlalu, aku berbuka dan sahur ditemani derai air mata dan selaksa doa. Tidak ada informasi yang menumbuhkan positif vibes. 

Hari kedua, informasi menyatakan kapal mereka ada di kedalaman kurang lebih 850m di bawah laut. Allahu Rabbi ... tak dapat kubayangkan lelakiku dan rekan-rekannya berjuang di tengah tekanan udara yang begitu besar. Baja saja akan remuk di kedalaman itu, apalagi tubuh manusia.

Hatiku semakin hancur kala informasi mengenai munculnya kepingan dan barang-barang yang diyakini bagian dari kapal selam yang mereka naiki. Mataku menyorot pada sebuah gulungan di layar televisi. Tidak salah lagi, itu sajadah waterproof yang kubeli setahun yang lalu untuk Mas Dwi. 

Ya Allah ... inikah saatnya untuk merelakan?

Saat aku tenggelam dalam kesedihan, terdengar bel pintu berbunyi. Seorang laki-laki membawa buket bunga mawar beserta kotak kue.

"Dengan Ibu Zea Fridayanti?" tanyanya. 

"Iya."

"Ini ada paket untuk Ibu, mohon ditanda tangan." 

"Terima kasih," ucapku setelah menandatangani bukti terima. 

Untuk pertama kalinya di anniversary kami, Mas Dwi memberiku bunga sekaligus kue. Sepertinya ia menyiapkan semuanya sebelum berangkat.

Ya Allah ... andai aku diperkenankan memilih, aku memilih tidak mendapat kue anniversary selamanya asal lelakiku masih ada di sisiku. 

Sepucuk surat yang menyertai buket bunga itu berisi tulisan khas Mas Dwi.  

"Assalamualaikum, Sayang. Sudah lihat kue dan bunganya? Suka? Apa kabarmu? Pasti sedang cantik. Kapan, sih, kamu jeleknya?  Izinkan aku bernostalgia pada pertemuan pertama kita."

Aku menarik napas sebelum meneruskan membaca. Harusnya wajahku bersemu malu, nyatanya hanya ada perih, sesak, seperti ribuan jarum menghujam dada.

"Kamu tahu, Sayang. Saat Mas diajak pamanmu ke rumahnya, pertama kalinya Mas melihat gadis cantik dengan seragam SMA dan membuatnya menangis di pertemuan pertama. Mas menyindirnya yang memperlihatkan rambut indahnya. Pulang dari sana, pamanmu menghajar Mas karena membuat keponakannya menangis. Akan tetapi, seminggu setelahnya pamanmu justru berterima kasih karena kamu akhirnya menutup aurat dengan sempurna."

Aku tersenyum mengingat pertemuan pertama kami itu. Lelaki yang menyita atensi sejak awal sosoknya tertangkap oleh mataku. Namun, kekaguman itu berubah menjadi kekesalan saat ia menyindir rambutku yang digerai asal tanpa kerudung. Sindiran yang merasuk di hati dan dengannya Allah menuntunku untuk mengenakan kerudung.

"Dua tahun tidak bertemu, pada akhirnya Mas menemukanmu dengan  metamorfosa sempurna. Kamu menjelma menjadi gadis salihah. Mas yang sudah di ambang 30 tahun dengan tak tahu dirinya melamarmu, siap dengan penolakan. Tapi kami adalah prajurit, pantang mundur sebelum berperang." 

Usia kami memang terpaut hampir sepuluh tahun. Namun, pesona seorang Dwi Naresta tidak ingin kulewatkan begitu saja.

"Mas sudah siap ditolak, tapi Allah Maha Baik. Kamu menerima, apa jangan-jangan kamu memang udah suka, ya, sama Mas?"

Tepat. Aku memang menyukainya sejak awal bertemu. Kekesalan atas sindirannya tak mampu mengalahkan rasa suka yang mulai tumbuh. Dua tahun memendam rasa tanpa pernah bertemu lagi, lalu ia datang menawarkan bahagia, kenapa mesti ditolak?

"To be my wife, thank you so much."

And I'm blessed to have you as my husband, Mas.

"Terima kasih untuk semua ekspresi cintamu selama ini. Mas berharap kita akan senantiasa saling mencintai di bumi, kemudian mati dan hidup lagi untuk bersama kembali di surga."

Terima kasih juga untuk seluruh cintamu yang melengkapiku, Mas. Insyaallah ... insyaallah kita akan berkumpul kembali di surga. 

"Didik anak-anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik seperti Mama mereka, ya. Mas ridho padamu. Miss you and love you to the sky sampai under the sea haha."

Aku tak mampu tertawa membacanya, Mas. Sebab tahu, setelah ini aku tak akan mendengarkan gombalanmu lagi. 

Selamat jalan, cintaku. Purna sudah tugasmu mengabdi. Sebegitunya engkau mencintai laut, sampai-sampai menemui takdir kematian juga di sana. 

Aku tak tahu sedang apa engkau kala Malaikat Izrail mendatangimu. Sedang sahur? Salat Subuh? Salat Duha? Sedang menikmati lapar puasa? Atau saat berbuka?

Satu yang kuyakini, engkau kini tengah bahagia. Sebab cita-citamu ialah syahid. Engkau kini syuhada, dipanggil oleh Allah dengan cara yang indah karena ini bulan mulia. Sebagaimana rekan-rekanmu yang lain. 

Hanya sepuluh tahun Allah beri waktu membersamaimu di dunia. Janji, ya. Setelah ini kita akan bersama lagi, tidak hanya untuk sepuluh tahun. Tunggu aku di pintu surga, Kapten!

Garut, 26 April 2021

#RamadanLR #DiaryRamadan

Mengenalkan Gadget Secara Bertahap Kepada Anak


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Pada dasarnya setiap anak senang berinteraksi dan berkomunikasi dengan orangtua. Tanpa disuruh pun, anak-anak senantiasa mencari orangtuanya. Interaksi akan menyenangkan apabila memperoleh tanggapan yang gegas dan hangat. Ada pembicaraan yang hidup di antara mereka. Maka duduk bersama orangtua, berkumpul dengan saudara-saudara maupun anggota keluarga lainnya akan menyenangkan. Bukan hanya saat mereka kecil, tatkala usia sudah remaja dan beranjak dewasa pun, saat duduk bersama merupakan kesempatan yang berharga.

Akan tetapi tidak menunggu remaja untuk menjadi anak tidak betah berbincang bersama orangtua. Jika sekedar untuk membuat ibunya menoleh saja memerlukan perjuangan yang keras, itu pun tanggapannya dingin, maka anak belajar semenjak dini mencari saluran komunikasi lainnya. Boleh jadi saluran itu bernama teman, boleh jadi bernama pembantu atau gadget. Sementara dengan orangtua pelahan-lahan tidak nyambung.

Berkenaan dengan gadget, kitalah yang perlu mengenalkannya secara bertahap agar anak kelak dapat mempergunakan dengan baik dan bertanggung-jawab. Anak yang memanfaatkan gadget, bukan dimanfaatkan. Anak yang mengendalikan. Bukan dikendalikan.

https://youtu.be/R31_uVvqpfE

Cinta itu Amanah


Oleh ; Rostika Hardianti, S.Psi.

Saat rindu mulai menggebu dan mengelabui akal sehat, tidak ada tempat terbaik selain sajadah yang terhampar dan sujud-sujud keikhlasan yang tak membuat hati gentar. Sayup-sayup doa sunyi lantas teriring rindu yang tetap terjaga. Tersenyum pada pemiliknya, bukan diumbar pada tempat-tempat yang bukan semestinya.

Rindu tidaklah salah, katanya. Namun, menjaga cinta untuknya hanya karena-Nya adalah pilihan. Disaat itulah, temaram seolah menyetujui, bahwa keindahan cinta adalah saat kita mampu amanah dengan cinta itu sendiri. Cinta yang selalu bertaut dengan penghambaan, terjalin atas dasar keikhlasan. Keikhlasan, barangkali cinta itu bukan milik kita. Lantas pergi dan hinggap di bunga yang lain. Menerima manfaat dari keindahan taman-taman di teritorial lain yang tak terbayangkan sebelumnya.

Jika kita percaya, bahwa cinta ini adalah amanah. Maka sebaik-baik pemilik cinta adalah menjaga kehormatan rasa dan raga. Hingga kelak, jika semesta ini mendukung dua insan saling bertemu dan Allah izinkan bersatu, bukankah menjadi lebih indah, karena menerima hadiah kesabaran dan keikhalasan dalam rentang waktu yang tak sebentar.. kita berhasil menjalani amanah dengan semestinya.

Rembulan, tiada jeda engkau menemani malam. Tiada pernah curiga saat mentari kembali datang. Kami harap, cinta kami seperti itu. Siap menerima, dan siap melepas. Tanpa saling curiga... Menyisakan makna rasa saling percaya.

Cirebon, 25 April 2021


Sosok Penuh Semangat Itu Telah Pergi

(Tulisan ini ditulis bersebab Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Ustadz Abdul Mannan, MM Meninggal dunia)

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Ma sya Allah…

Alangkah cepat perjalanan hidup ini. Rasanya belum lama mendengar Pak Manan bertutur penuh semangat sembari lesehan di rumah Pak Indarto, menceritakan perjalanan Hidayatullah dari rintisan awal berupa kursus, tantangan yang dihadapi hingga akhirnya mempunyai tempat di Karangbugis, lalu dinamika awal di Gunung Tembak, orang-orang yang ghuluw sampai mengkultuskan Ustadz ‘Abdullah Sa’id hingga diasingkan sebagai langkah korektif dan beragam kisah di lapangan, khususnya saat merintis dakwah pedalaman.

Malam itu Pak Manan seolah-olah hanya bercerita. Tetapi tidak. Pak Manan sedang memotivasi. Pak Manan sedang menyuntikkan sikap, keyakinan dan prinsip-prinsip yang harus dipegangi oleh seorang muslim, meningkat lagi yang harus dipegangi oleh aktivis dakwah, oleh pejuang dakwah, tantangan yang kadang terabaikan ketika sudah berhimpun bersatu dalam harakah, bahayanya ghuluw dan ‘ashabiyah, serta berbagai hal lain. Semua mengalir begitu saja, duduk santai tetapi bertutur penuh semangat, kata-kata tersusun rapi dan berisi. Ini menandakan bahwa kalimat-kalimat itu keluar bukan karena kecermatan memilih kata, tetapi karena benar-benar ada dalam pribadi Pak Manan. Ini bukan kalimat motivator. Ini kalimat yang lahir dari jiwa.

Sebagaimana ketika beliau berubah nada dan hentakan suaranya, terasa sekali bahwa ini bukan teknik komunikasi. Saya lama belajar tentang teknik-teknik olah suara untuk presentasi. Saya pernah belajar kepada Mike Handcock dan Dave Rogers dalam soal public speaking, meskipun tidak lama dan setelah itu tidak saya pakai ajaran keduanya. Saya juga pernah intens belajar teater, terkhusus dalam olah suara sehingga menjadi peka mengenali mana yang alamiah dan mana yang hasil polesan. Apalagi yang polesan teknik suaranya masih kasar. Dan penuturan Pak Manan malam itu, rasanya hamper tidak mungkin kalau hentakan nada, perubahan suara dan berbagai hal lainnya merupakan teknik yang sengaja dipilih.

Tidak. Itu adalah spontanitas yang merupakan cerminan diri beliau. Ia menyatu dan begitu adanya, sehingga benar-benar terasa hidup. Dan kami pun terduduk, termangu, berkecamuk menyadari betapa sedikitnya yang sudah kami perbuat untuk agama ini. Mungkin saja ada yang mengambil pelajaran dari cara beliau berbicara, tetapi suasana yang terasa, ekspresi wajah-wajah yang hadir, pembicaraan yang mengikuti sesudahnya hingga waktu yang agak jauh adalah apa yang beliau sampaikan. Kalau sekedar menangis, di banyak training kita akan mudah sekali menjumpai airmata yang tumpah dengan harga murah. Tetapi itu hanya mengaduk-aduk emosi. Bukan membangkitkan kesadaran jiwa. Menangis sesaat saat suara trainer melengking hebat, sesudah itu padam seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Tetapi pembicaraan Pak Manan malam itu tidak demikian. Beliau tak beranjak dari tempatnya duduk, tetapi jiwa ini rasanya seperti diaduk-aduk. Beliau bertutur mengalir, tak perlu sampai berteriak, tetapi jiwa ini rasanya menggelegak menyadari sedikitnya yang sudah kami perbuat untuk agama ini. Beberapa waktu sesudahnya, pembicaraan di antara yang hadir masih terkait dengan apa beliau tuturkan. Dalam bahasa psikologi, cerita beliau malam itu benar-benar menghasilkan authentic learning (pembelajaran yang otentik). Salah satu dari empat ciri pembelajaran otentik adalah substantive conversation; percakapan spontan yang menyibukkan diri dengan isi pembicaraan dan menggali pelajaran lebih dalam. Bukan membincang asyik dan lucunya pembicaraan maupun pembicaranya.

Hari ini, sosok penuh semangat itu telah pergi. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla ampuni segala dosanya, terima seluruh ‘amal shalihnya dan tinggikan kedudukan beliau di akhirat, dihimpunkan bersama para anbiya’, syuhada, shiddiqin dan orang-orang shalih. Semoga beliau termasuk yang disebut oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat An-Nisaa’ ayat 69:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisaa’, 4: 69).

Dan cepat atau lambat, kita pun akan menyusul. Semoga kelak Allah hadiahkan kepada kita akhir kehidupan yang baik, sehingga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan ‘alal fithrah; dalam keadaan nafsul muthmainnah.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting

Hari-hari Itu Semakin Mendekat


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Banyak yang bertanya kepadaku, bagaimana cara menulis buku. Aku termangu. Ingin kujawab, tetapi aku tahu mereka semua adalah para penulis buku yang karyanya sedang disusun. Ada yang mendekati selesai, ada pula yang masih jauh. ⁣

Ada yang bertanya kepadaku, bagaimana cara menulis buku yang bagus. Aku bingung bagaimana harus menjawab. Sebenarnya cara menulis buku yang bagus adalah dengan beramal shalih dan beribadah, sebaik-baiknya, sejernih-jernih niat semata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tetapi aku sendiri mendapati diriku masih jauh dari kebaikan dan kemuliaan. Padahal aku sangat berharap kelak akan menerima buku itu dengan tangan kanan, penuh penghormatan. Bukan dengan kaki atau yang lebih buruk lagi.⁣
Hari-hari yang semakin dekat. Kita semua sedang bergerak mendekati masa ketika tak seorang pun sanggup mengelak. Hari-hari yang mengantarkan manusia menerima buku yang ditulisnya. Di antara mereka ada yang menerima dengan tangan kanan, ada pula yang menerima dengan tangan kiri atau dengan anggota tubuh yang lebih buruk.⁣
Kian rinci manusia harus dihadapkan pada catatannya, berarti kian berat hisab yang harus ia tanggung. Dan aku berharap kelak termasuk orang yang dapat memasuki Jannah-Nya tanpa hisab; tanpa keharusan memeriksa isi buku yang kita sendiri penyusunnya.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku dan Motivator
Foto by OkeZone

Harga Sebuah Rindu


Oleh : Rostika Hardianti, S.Psi.

Lirih suara hati berbisik tentang senja hari ini. Senja yang tak lagi sama, senja 23 tahun miliknya.

Selamat datang dan selamat melakukan perjalanan dalam titian jalan hidup ini. Menguntai benang kisah dalam rajutan perjuangan, pakaian ketabahan, dan tongkat kegigihan. Dunia ini tak menyajikan banyak kemenangan, pun kebahagiaan yang sempurna. Atau sebaliknya, dunia ini tidak sempurna dipenuhi kekalutan dan kepedihan dalam goresan perjalanannya. Tapi, bukankah saat kita pejamkan mata, ada rindu yang tak pernah mampu dibayar dengan harga? Rindu, satu kata yang sama dengan ragam makna yang kita punya. 

Dibalik rindumu, mungkin ada jeda, jarak, kegelisahan, dan senyuman yang tak terlukis oleh goresan warna dan tinta. Malu-malu senyum tergurat diwajah, menyinari hari demi hari, menyimpan rindu dengan amat sangat terpuji. Tak harap menghindar, tapi ingatan selalu datang tiba-tiba, tanpa permisi. 

Namun... Barangkali ada rindu yang sama. Rindu pada cinta. Rindu kita sebagai saudara dan hamba. Rindu pada Tuhan dan Rasul-Nya. Sejauh jarak membentang, seluas area semesta, agama kita menyatukan rindu ini dalam ikatan keimanan yang jujur. Menangisi kerinduan ini bukan berarti lemah, menemui kerinduan ini disepertiga malam bukanlah kepayahan.

Bertemu rindu ini adalah rindu yang dijumpai dengan perjuangan hakiki, perjuangan yang Rabb nilai dengan penilaian langit. 

Dan kita... Disatukan atas satu rindu yang berharga. Satu rindu yang membuat hati ini ingin segera berjumpa. Satu rindu yang membuat perjalanan ini terasa kuat dalam ketabahan dan kesabaran, demi menjumpai yang dirindukannya.

Kak Rostika Hardianti, S.Psi., Penulis Novel, tinggal di Cirebon

Tugas Kita Sebelum Anak Mumayyiz


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Begitu ‘aqil baligh, anak seharusnya menjadi seorang fatan yakni remaja atau pemuda dengan arah hidup yang jelas, berani bersikap, tidak ragu menyuarakan kebenaran serta mempunyai pendirian yang kokoh. Ia memiliki komitmen yang  kuat, tak takut menunjukkan sikapnya meskipun tak ada yang berpihak kepada apa yang diyakininya. Ini merupakan sebaik-baik masa sehingga mereka tampil sebagai sosok asyudda  dimana berbagai kebaikan berada pada puncaknya. Tetapi jika mereka tidak kita siapkan dengan baik,  masa-masa ini justru menjadi cabang kegilaan ketika tindakan ngawur, melanggar hukum, akhlak yang rusak dan berbagai hal menyimpang lainnya justru tampil menonjol dalam diri mereka.

Fatan  juga memiliki kandungan makna mudah menerima kebenaran, cenderung kepada apa yang benar. Ini dekat sekali dengan taqwa. Mudah menerima kebenaran berarti anak memiliki kesiapan untuk menyambutnya. Bukan mudah ikut-ikutan dimana anak mudah terpengaruh oleh kebaikan maupun keburukan.

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar masa muda anak-anak kita tidak menjadi masa penuh gejolak, terombang-ambing, berontak, lari dari orangtua dan hal-hal buruk yang semisal itu? Menyiapkannya agar mereka memiliki arah yang jelas, komitmen yang kuat serta identitas diri yang matang. Kapan kita melakukannya? Yang paling penting adalah masa-masa sebelum mumayyiz untuk mempersiapkan mereka agar benar-benar memiliki tamyiz yang kuat dan baik tepat pada waktunya. Agama kita, Islam, menuntut kita agar anak-anak mencapai tamyiz (selambatnya) di usia 7 tahun. Di usia inilah kita mulai dapat memerintahkan anak mengerjakan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَلاَةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَ إذا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anakmu shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun. Dan jika mereka telah berusia sepuluh tahun, pukullah mereka (jika tidak shalat).” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ad-Darimi, dll).

Apa konsekuensi perintah ini? Pertama, menyiapkan anak agar sebelum usia 7 tahun telah memiliki kecintaan terhadap apa yang akan diperintahkan, yakni shalat. Cinta itu berbeda dengan kebiasaan. Anak yang terbiasa melakukan setiap hari boleh jadi tidak mencintai sama sekali. Kedua, perintah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah perintah untuk memerintah. Ini menunjukkan bahwa pada kalimat perintah ada kebaikan. Karena itu kita perlu mengilmui. Ketiga, menyiapkan anak agar memiliki bekal yang cukup sehingga ketika usia 10 tahun tidak mengerjakan shalat, anak memang telah dapat dikenai hukuman. Apa yang menyebabkan seseorang dapat dikenai hukuman? Apabila ia telah memiliki ilmu yang terkait dengannya.

Secara ringkas, berikut ini yang perlu kita lakukan pada anak-anak sebelum mereka mumayyiz. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menolong kita.

Baca:  Awas! Usianya Sudah 10 Tahun –

Menanamkan Kecintaan terhadap Kebaikan

Apakah cinta itu? Bertemunya tiga hal, yakni meyakini sebagai kebaikan, kemauan yang kuat terhadapnya serta komitmen yang besar. Meyakini sebagai kebaikan akan melahirkan kebanggaan terhadapnya, bukan membanggakan diri sendiri, sehingga orang bersemangat terhadapnya, baik membicarakan maupun melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

Inilah yang perlu kita tanamkan pada anak-anak sebelum mumayyiz. Kita tanamkan cinta pada diri mereka terhadap kebaikan, khususnya berkait dengan ibadah. Kita kobarkan cinta mereka dengan membangun keyakinan bahwa syariat ini sempurna dan pasti baik. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ. Berbahagialah yang dapat memperoleh petunjuk dari keduanya.

Satu hal yang perlu kita ingat, keyakinan sangat berbeda dengan pengetahuan dan pemahaman, sebagaimana cinta tidak sama dengan terbiasa. Bahkan terbiasa melakukan tidak serta merta membentuk kebiasaan (habit). Betapa banyak anak-anak yang telah terbiasa melakukan praktek ibadah, bahkan sebelum waktunya. Tetapi ketika telah tiba masanya untuk bersemangat, gairah mengerjakannya seolah padam.

Apa yang menumbuhkan kecintaan? Bercermin pada riwayat shahih yang sampai kepada kita, di antara jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada ibadah itu ialah, memberi pengalaman berharga dan mengesankan pada diri anak-anak. Tengoklah, betapa senangnya cucu Rasulullah ﷺ menaiki leher kakeknya tatkala sedang shalat; betapa Umamah binti Zainab digendong oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sembari tetap melaksanakan shalat. Dan dua kisah ini hanyalah sekedar contoh di antara berbagai contoh lainnya.

Sebagian orang tergesa-gesa sehingga menyuruh anak shalat sebelum usia tujuh tahun. Bahkan ada yang melampaui batas, yakni mewajibkan anak shalat Dhuha yang bagi orang dewasa saja sunnah. Alasannya? Menumbuhkan kebiasaan. Padahal kebiasaan tanpa kecintaan akan kering dan mudah pudar.

Tak jarang, orangtua maupun pendidik memaksa anak mengerjakan shalat, termasuk shalat sunnah, sebelum mumayyiz. Padahal pemaksaan itu, baik secara halus maupun kasar, justru dapat menimbulkan karahah (kebencian) yang bentuk ringannya adalah malas, enggan.

Baca:  Tiga Fase Usia dalam Hidup Kita

Menumbuhkan Tamyiz

Apakah yang dimaksud dengan tamyiz? Banyak penjelasan, tetapi pada pokoknya adalah kemampuan membedakan, dalam hal ini membedakan benar dan salah serta baik dan buruk dengan akalnya. Mampu membedakan sangat berbeda dengan mengetahui perbedaan. Mampu membedakan menunjukkan adanya pengerahan kemampuan berpikir untuk menentukan nilai atau kedudukan sesuatu.

Apa yang kita perlukan untuk berpikir? Sekurang-kurangnya ada dua hal, yakni menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya untuk menilai sesuatu serta mendayagunakan akal untuk menemukan prinsip-prinsip.

Rumit? Sebagaimana pengetahuan, kemampuan berpikir juga bertingkat-tingkat. Kemampuan tamyiz seseorang juga demikian. Tetapi jika tidak kita persiapkan maka anak tidak akan memilikinya, kecuali sangat terbatas, meskipun usia sudah 10 tahun dan bahkan lebih. Maka ada orang yang usianya sudah dewasa, tetapi ia termasuk ghair mumayyiz (orang yang tidak memiliki tamyiz).

Jadi, apa yang perlu kita berikan kepada anak? Pertama, keyakinan berlandaskan ilmu tentang kebenaran dan kebaikan. Kedua, kemauan kepada agama, kebaikan dan ilmu. Ketiga, merangsang kemampuan anak untuk berpikir sehingga mampu membedakan benar dan salah serta baik dan buruk dengan akalnya. Ini secara bertahap kita arahkan untuk mulai belajar menilai mana yang penting dan mana yang tidak penting.

Satu hal lagi, disebut tamyiz apabila ia mengenal (‘arafah) kebenaran dan kebaikan. Kata ‘arafah menunjukkan bahwa unsurnya bukan hanya mengetahui, melainkan ada idrak (kesadaran yang menggerakkan kemauan) terhadapnya.

Nah. Inilah yang sangat penting. Inilah tugas kita, para orangtua maupun guru TK untuk menyiapkannya.*

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis buku buku parenting

Sumber : www.hidayatullah.com

Maafkanlah Orang Tuamu


Oleh : Rostika Hardianti, S.Psi. 

Salah seorang guru berkata, "Sungguh ananda, aku tidak ridha jika dirimu belajar agama, lalu kau ucapkan sebuah kalimat 'Ayah itu awam ilmu agama ustadz, ibu tidak pandai mengajari ilmu-ilmu qur'an, ustadz.' Sungguh aku tidak rida, wahai anandaku.

Bayangkan perasaannya, ketika kau ucapkan bahwa " Ibu/ayah tidak tau apa-apa." 

Rasa tak berwarna, rasa memang tak berwujud. Tapi barangkali lukanya begitu nyata di hati.. 

Hari itu, ada hati yang bergemuruh perih. Luka atas kesalahan sendiri yang terobati dengan aliran nasihat yang berlaku sepanjang masa. Inilah mutiara kasih dari seorang pendidik dan pendakwah. 

Ketika ia membiarkan murid-muridnya khidmad mendengarkan, setetes air mata menjadi saksi pertama di antara langit dan bumi bahwa lisan yang nampak indah di telinga, yang membaca Ayat alquran dengan fasih, yang pernah menghafalkannya dan sekaligus memberikan simpul hikmah bagi kebermanfaatan sesama, tertegun oleh satu periode waktu. Kini, dunia saatnya memberikan pelajaran pada penghuninya yang setiap hari mengukir kisahnya di lembaran amal. 

"Orangtuamu memilih untuk terus hidup dan menghidupi keluarganya. Bukan karena mereka tak mau paham agama. Akan tetapi, saat kesempatan waktu mereka dipersatukan oleh Allah, engkau lahir dan mereka memilih untuk memberikanmu kesempatan besar menjalani kehidupan baru. Maafkan jika mereka tak sama seperti kebanyakan orangtua yang nampak begitu ideal dalam merengkuh anak-anaknya. Ketahuilah, bahwa in syaa Allah, setiap orangtua melakukan yang terbaik. Sadarilah, bahwa setiap orangtua memiliki pilihan, dan mereka memilihmu untuk segalanya. Meski terlihat tak sempurna dan kurang dari harapan, Allah memilihmu untuk lahir dari rahim ibumu. Diusapnya engkau dengan kasih sayang dalam pelukannya pertama kali. Allah memilih ayahmu untuk menjadi superhero pertama yang mendampingimu tumbuh. Maafkanlah atas ketidaktahun mereka, maafkan atas kesalahannya, Maafkan. "

Semoga Allah mengukuhkan ilmu dan amal kita dalam rintisan jalan hidup ini. Mengkaruniakan keberkahan dalam setiap ikhtiar, serta perbaikan akhlak yang semakin mendamaikan semesta. 

Rostika Hardianti, S.Psi., Penulis Novel Mahabbatullah dan Novel Menata Laksa a

Pelajaran dari Perjalanan Hidup


Oleh : Inas Fathimah

Tentang seorang anak dengan mata berbinar datang ke sekolah diantar oleh ayahnya. Ia menaiki panggung dengan ceria seraya bercerita bahwa ia sudah menghias sepedanya di rumah. Di belakangnya sang ayah tak kalah semangat membantu membawakan sepeda. 

Tentang seorang anak yang mengayuh sepeda melewati rute dengan terampil. Berbelok mengerem mahir ia lakukan. Tak lupa ia menyemangati temannya, mengajak berputar lagi berkeliling rute. Rupanya ia belum lelah. 

Tak lama ia berhenti di depanku, "Ustadzah bisa gak naik sepeda? " tanyanya. 

"Bisa doong, coba sini ustadzah boncengin" jawabku sembari mencoba menaiki sepedanya. 

"Yaah sepedanya kan kecil, Ustadzah besar.. jadi gak muaat" serunya. Lalu kami tertawa bersama. 

Seketika, aku tersadar bahwa pelajaran-pelajaran berharga datang seiring perjalanan hidup. Maka benarlah bahwa yang terbaik memang hanya pada takaranNya. Aku tidak pernah menyangka Allah akan melangkahkan kakiku untuk membersamai anak-anak ini. Anak-anak sholeh yang padanya Islam ini akan jaya.

Inas Fathimah, S.Pd. Guru TK BIAS Sleman

Tingkatkan Pengaruh dengan Menjadi Emphatic Listener


Oleh : Jamil Azzaini

Stephen R Covey pernah berkata : “Cara terbaik untuk meningkatkan pengaruh adalah dengan menjadi pendengar.” Tidak semua orang yang mendengar adalah pendengar yang baik. Stephen R Covey dalam bukunya The 7 habits of Highly Effective People menjelaskan ada 5 level mendengar. Kira-kira kita termasuk di level yang mana ya? Mari kita lihat.

Level terendah adalah Ignore (mengabaikan). Pada level ini, kita sibuk melakukan aktifitas lain saat orang lain berbicara. Level kedua pretend to listen (pura-pura mendengar), saat orang lain berbicara, kita berada di depannya, namun pikiran kita melayang kemana-mana.

Level ketiga, selective listening, kita mendengarkan hanya dibagian-bagian yang kita anggap penting.

Level keempat, attentive listening, mendengar dengan penuh perhatian namun tetap dengan menggunakan kacamata kita.

Di level yang paling tinggi adalah emphatic listening,  mendengar dengan sepenuh hati, menangkap perasaan, melihat apa yang dibicarakan dari sudut pandang pembicara, menempatkan posisi sebagai orang yang berbicara, tidak melakukan penilaian dan evaluasi atas apa yang sampaikan orang tersebut.

Nah, kira-kira Anda termasuk pada level yang mana? Apabila Anda ingin meningkatkan pengaruh di rumah, di kantor dan di pergraulan sosial, berlatihlah untuk sampai pada level yang tertinggi.

Ada tiga cara untuk menjadi emphatic listener, silakan Anda coba tiga cara berikut ini;

Pertama, Hadir penuh, sadar utuh.  Bukan hanya fisik kita yang hadir tetapi juga pikiran, hati dan perasaan kita. Saat kita mendengar bukan hanya mengoptimalkan peran telinga tetapi juga menggunakan mata untuk melihat bahasa tubuh, mimik wajah, tingkah laku orang yang sedang berbicara. Selain itu, gunakan pikiran dan perasaan kita untuk menangkap pesan sesungguhnya dan emosi mereka.

Kedua, menggali pikiran dan perasaannya. Apabila kita ingin memperjelas apa yang dimaksud oleh lawan bicara dan juga mengapresiasi perasaannya, kita boleh menggali atau mengajukan pertanyaan konfirmasi dengan tujuan untuk memahami pesan dengan tepat dan juga menangkap perasaannya. Bukan untuk mengevaluasi, menasehati, apalagi menghakimi.

Gunakanlah kata-kata yang digunakan oleh lawan bicara. Misalanya orang itu mengatakan “Pak, saya sebel banget dengan pimpinan baru saya saat ini.” Maka kita boleh mengajukan pertanyaan  “oh, saat ini Anda sedang sebel banget ya, kalau menggunakan skala 1-10, dimana 1 itu biasa saja dan 10 itu sebel banget. Kira-kira sebel Anda saat ini, berada di level berapa? Mengulang kata yang digunakan oleh lawan bicara akan membuat orang tersebut meyakini bahwa kita menyimak apa yang mereka sampaikan.

Ketiga, bersabar untuk tidak berkomentar. Orang memang cenderung berkomentar dengan sudut pandang, ilmu dan wawasan yang dimilikinya saat mendengarkan sesuatu. Mulai saat ini, bersabarlah untuk berkomentar mengevaluasi apalagi menasehati orang yang berbicara dengan kita.

Semula saya mengganggap, dengan berkomentar orang tersebut akan semakin menghargai dan respek dengan kita. Ternyata faktanya tidak. Mereka justeru akan menghargai dan respek dengan kita saat kita tidak berkomentar, kecuali setelah mereka meminta komentar dari kita.

Apabila ketiga hal tersebut di atas kita latih, secara perlahan pengaruh kita kepada orang lain terus meningkat. Apabila Anda pimpinan, pengaruh Anda kepada anggota tim semakin meningkat. Apabila Anda orang tua, pengaruh Anda kepada anak-anak juga akan semakin meningkat. Teruslah berlatih menjadi emphatic listener, berbagai keajaiban akan datang kepada Anda tanpa diundang.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com

Sebuah Perjalanan


Dunia kita adalah perjalanan menuju arah pulang. Saat angin berbisik pada dedaunan, juga pada siang yang hendak menarik malam, setiap diri selalu dalam pemantauan. 

Riak-riak senyum dan deru-deru tawa yang setiap hari tak lagi sama, menandakan bahwa semesta ini memiliki ceritanya, atas setiap pengaturan jalan takdir dari Tuhan. 

Jadilah, maka jadilah!

Jika genap bahagia bersama apa yang kita miliki, jika setapak demi setapak yang kita jalani, jika luka demi luka terus menyiksa diri, lantas sebenarnya kepada siapa kita hendak pulang? Kembali. Karena sejatinya diri kita bukanlah milik kita. Setiap kita ada yang memiliki. Ya, tentu, kita milik-Nya.

Nuansa berganti.

Awan mendung yang berarak, mengantarkan kita pada perjalanan hari. Menemui terik hingga turun hujan. Berbasah-basah sambil turut berdoa. Hari esok, mungkin pagimu lebih cerah tersenyum. Bahagiamu, mungkin akan ditemui pada titik oase yang paling tak disangka, perisitiwa sederhana yang bermakna. Kenangan yang akan kita kenang selamanya.

Semoga kita bisa bersama sampai pada perjumpaan langit. Saat terpisahnya jarak, membuat kita lebih taat. Saat waktu Allah titipkan agar kita semakin banyak mengintrospeksi diri lantas bertaubat daripada maksiat. Sampai tiba saatnya nanti, kita sadar pada pertemuan bersama bahwa kita sujud menghadap kiblat yang sama, dan hidup kita adalah ikhtiar untuk terus melintasi jalan pulang dengan bersungguh-sungguh menjaga keistiqomahan, menuju rumah yang sama.

Al-Kautsar | 

Kak Rostika Hardianti, S.Psi.