Perpustakaan Daring

Oleh : Akhid Nur Setiawan

Sejak ada kebijakan sekolah dari rumah atau sekolah jarak jauh anak saya asyik menikmati meminjam dan membaca buku di perpustakaan daring. Bagaimana itu perpustakaan daring? Ia mirip sekali dengan perpustakaan biasa, hanya saja serba dalam jaringan. Di perpustakaan daring kita mendaftar sebagai anggota, memilih buku, menjelajahi katalog, mengecek jumlah ketersediaan buku, mengantri buku jika stok habis, membaca melalui perangkat, mengembalikan buku, bahkan bisa berkenalan dengan sesama pengunjung.

Anak saya sangat terkesan dengan buku-buku serial "Ana Solehah" yang bisa dibacanya tanpa biaya. Maklum, komik berwarna dengan tema keseharian anak pondok itu harganya cukup spesial di toko buku. Awalnya anak saya hanya bisa meminjam dua buku dalam sehari. Sekejap selesai membaca dan ingin mengembalikan buku, ternyata tidak bisa, lama peminjaman minimal sehari. Betapa gembiranya ia ketika beberapa hari kemudian bisa meminjam lebih dari dua buku dalam sehari.

Alhamdulillah, kami turut merasa bersyukur bisa agak menghemat anggaran membeli buku. Jika sudah ke toko buku rasanya memang sulit menolak untuk tidak membawa ke kasir buku-buku yang dimasukkan anakanak ke dalam keranjang. Minusnya, koleksi buku di perpustakaan kami jadi tidak bertambah.

Perpustakaan daring bisa diunduh di Google Play Store dengan judul "iPusnas". Anda bisa juga mengunjunginya dengan mengeklik bit.ly/perpusdaring. Aplikasi ini diluncurkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan tidak berbayar. Pendaftaran untuk masuk ke aplikasi ini bisa menggunakan akun facebook atau surat elektronik.

Selain mempermudah para pembaca menikmati buku-buku tanpa harus membeli, perpustakaan daring juga berguna mencegah pembajakan buku. Para penulis dan penerbit banyak dirugikan dengan adanya buku bajakan yang dijual murah. Dengan perpustakaan daring kita bisa menikmati buku secara gratis dan legal, hanya membutuhkan jaringan internet yang memadai.

Guru Sekolah Dasar di Sleman Yogyakarta

Ibumu, Ibumu, Ibumu

"Ibumu, ibumu, ibumu," begitu Rasulullah SAW kepada ummatnya menyebut Ibu sebanyak tiga kali, baru Beliau menyebut, "Bapakmu". 

Bagi kebanyakan manusia, sosok seorang ibu adalah sosok panutan sepanjang hidup dan kehidupannya. Bagaimana dahulu seorang ibu mengasuhnya tanpa pamrih mulai dari bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa, bahkan ketika anak-anak nya menjadi orang tuapun, seorang ibu masih tetap peduli. 

Kepengasuhan seorang ibu telah mendekatkan jiwa dan emosi seorang anak dan seorang ibu. Ketika mendampingi memberi asi, menyuapi makan, memandikan, mengajak bermain, mengajak belajar, mengajak bersenda gurau, bahkan memarahi anak. Semua itu akan melekat pada jiwa anak-anak seorang ibu.

Suatu saat, engkau akan kehilangan, ketika biasanya ibu membangunkan untuk shalat subuh dengan sabar, ketika tidak ada lagi yang bisa membangunkanmu, atau jika ada pun itu dilakukan oleh orang lain dengan cara yang berbeda.

Suatu saat, engkau akan merindukan sosok seorang ibu, ketika engkau melakukan sebuah kesalahan yang biasanya ibu akan cerewet berpuluh-puluh lembar folio karena kesalahanmu tetapi saat itu tidak ada yang menegurmu.

Suatu saat, engkau akan benar-benar kehilangan sosok seorang ibu, ketika tidak ada lagi yang bisa mendengarkan segala jenis keluh dan kesahmu, dengan sabar dan walau jawaban beliau belum tentu memberi jalan keluar, tapi setidaknya engkau merasa lega karena ada sosok orang yang telah mendengar keluh dan kesahmu. Dan tahukah Anda, kadang berita gembira darimu orang yang pertama engkau beri kabar bukanlah ibumu, giliran berita sedih ibu yang akan mendengar pertama kalinya.

Ibumu, ibumu, ibumu. Maka alangkah meruginya orang yang masih mendapati sosok seorang ibu dalam hidupnya tapi dia mengabaikan nya.

Doakanlah ibumu, ketika beliau sudah mendahuluimu. Terangilah kubur ibumu dengan lantunan doa-doa mu seoanjang waktu. Sesekali jenguklah kuburan ibumu, engkau akan merasakan rindu kepadanya. Karena doa seorang anak inilah yang akan menjadi pahala yang tidak terputus bagi seorang ibu.

Ibumu, ibumu, dan ibumu.

TMT

Hikmah Covid-19, Urgensi Persatuan

Oleh : Subliyanto

Sebentar lagi, setelah kebijakan “New Normal” resmi diberlakukan, tagar dirumah saja akan mulai hilang. Semua aktivitas kehidupan akan kembali sebagaimana biasanya (normal). Namun pola hidup normal kali ini disertai aturan-aturan yang mengikat, dimana setiap dari kita wajib mentaatinya, sehingga disebut dengan istilah “New Normal”. Hal itu merupakan proses dari pemulihan dari kelumpuhan segala aspek kehidupan sosial dikala pandemi Corona melanda negeri ini.

Kenormalan baru (bahasa Inggris: new normal), terkadang juga disebut kewajaran baru atau kelaziman baru, adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008-2012, dan pandemi Covid-19. Sejak itu, istilah tersebut dipakai pada berbagai konteks lain untuk mengimplikasikan bahwa suatu hal yang sebelumnya dianggap tidak normal atau tidak lazim, kini menjadi umum dilakukan. (Wikipedia)

Karena new normal bagian dari solusi di tengah pandemi virus Corona, maka diantara aturan yang harus ditaati adalah mematuhi protokol kesehatan. Dan dikutip dari kompas.com 27 Mei 2020 poin-poin protokol kesehatan di era new normal adalah pertama, mencuci tangan, kedua, hindari menyentuh wajah, ketiga, menerapkan etika batuk dan bersin, keempat, menggunakan masker, kelima, jaga jarak sosial, keenam, isolasi mandiri (bagi yang sakit), dan ketujuh, menjaga kesehatan.

Tujuh poin itulah yang nantinya harus ditaati pada era new normal yang entah kapan secara resmi hal itu akan diberlakukan. Lantas apakah konsep ini manjur untuk mengatasi pandemi Corona yang sedang melanda negeri saat ini?

Pro dan kontra wacana konsep ini terus menjadi perbincangan di media, baik secara live maupun secara tertulis. Benang merahnya adalah sebuah apresiasi bagi semuanya karena hal itu menunjukkan bahwa rasa kepedulian terhadap permasalahan negeri masih ada. Sehingga pertukaran ide dan gagasan terus bermunculan yang secara esensial tujuannya sama kendatipun dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Disinilah hakikat pentingnya persatuan di negeri ini. Karena negeri ini tidak bisa dikendalikan oleh satu kepala.

Maka hanya dengan banyak kepala dan secara bersama-sama dalam mengatasi semua permasalahan negeri ini akan terwujud. Apalagi permasalahan Corona yang melanda negeri ini tidak hanya berimbas pada sebagian pihak atau segmen tertentu. Akan tetapi berdampak pada semua lapisan masyarakat dari atas hingga bawah. Semuanya seakan-akan dihantui dengan rasa ketakutan, kekhawatiran, krisis di segala bidang, dan lain-lain.

Melihat hal itu maka sejatinya sudah saatnya sejenak untuk membuka baju warna-warni yang sedang kita pakai sebagai identitas kita. Situasi ini merupakan situasi yang sangat tepat untuk berbaju satu yaitu Indonesia. Dan secara bersama-sama, bahu membahu dalam mengatasi persoalan bangsa. Dengan demikian mudah-mudahan segala kesulitan yang sedang melanda negeri ini segera teratasi sehingga semuanya dapat normal kembali. Amin.

Subliyanto, Pegiat Media Sosial dan Pendidikan, tinggal di Pamekasan Madura

Seburuk-buruk Kaum, Hanya Beribadah di Bulan Ramadhan Saja

BISYR AL HAFI, seorang ulama shalih suatu saat ditanya,”Ada kaum yang hanya beribadah di bulan Ramadhan saja.”

Bisyr pun menjawab,”Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya di bulan  Ramadhan saja. Sesungguhnya seorang disbut shalih ketika ia beribadah dan bermujahadah selama setahun penuh.”

Asy Syibli pernah dintanya,”Mana yang paling utama, Rajab atau Sya’ban?” Maka ia pun menjawab,”Jadilah seorang Rabbani, bukan Sya’bani.”

Maknanya, handaklah seorang Muslim melakukan ibadah secara terus-menerus di setiap waktu. (Latha’if Al Ma’arif, hal. 396).

Sumber : www.hidayatullah.com

Mengikuti Cara Interaksi Nabi Saat Bersama Keluarga

Ketauladanan dalam berinteraksi dengan sanak keluarga dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah ﷺ. Dalam sejarah kehidupan beliau ﷺ, hubungan baik beliau bukan saja berhenti pada istri dan anaknya, bahkan kepada sanak keluarganya pun juga sangat perhatian. Pada contoh berikut, akan diungkap betapa paiawainya beliau dalam berinteraksi dengan sanak keluarga.

Saat Abu Thalib kesusahan karena memiliki anak banyak dengan kemampuan finansial yang memprihatinkan, beliau dengan Hamzah berinisiatif membantunya. Waktu itu nabi Muhammad ﷺ membantu pamannya mengurusi salah satu anaknya. Dibawalah Ali bin Abi Thalib  ke rumahnya untuk diasuh supaya meringankan beban beban Abu Thalib.

Menariknya, ketika ikut bersama Nabi ﷺ , Ali deperlakukan seperti anaknya sendiri. Di rumah itu Ali sejak kecil bisa melihat keteladanan Rasulullah dalam bergaul. Tidak mengherankan jika kemudian Ali sangat berkesan dan terpengaruh dengan akhlak Nabi ﷺ. Kelak, ia menjadi yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Ini adalah salah satu bentuk bagaimana kepedulian Nabi ﷺ kepada sanak familinya yang perlu diteladani.

Lebih dari itu, sampai pada menjelang kematian pun, beliau ﷺ berusaha dengan keras membantu pamannya agar pengorbanan yang selama ini dilakukan tidak sia-sia. Meski pada akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan kafir. Beliau pun sempat memintakan ampun, sampai pada akhirnya beliau ditegur Allah. Dialah yang memberi petunjuk, Muhammad ﷺ hanya bertugas sebagai penyampai.

Akibat dari kematian pamannya yang meninggal dalam kondisi musyrik pada tahun 10 kenabian, beliau ﷺ kesedihan luar biasa. Dalam Sirah Nabawiyah peristiwa itu biasa disebut dengan “Āmu al-Huzni” (Tahun Duka Cita) yang tiga bulan setelahnya disusul oleh isteri tercintanya: Khadijah binti Khuwailid.

Interaksi beliau ﷺ bukan saja kepada sanak keluarga dekat, di sisi lain beliau juga sangat peduli terhadap kerabat dan teman akrab istri. Setiap kali Rasulullah ﷺ menyembelih kambing, ia berkata: ‘Kirimkan sebagiannya kepada teman-teman Khadijah.’ (HR. Muslim). Padahal, Khadijah sudah meninggal dunia. Tapi, tetap saja Rasulullah ﷺ berbuat baik kepada kerabat dan teman akrabnya. Begitu pedulinya beliau kepada keluarga Khadijah, sampai-sampai ‘Aisyah pernah merasa cemburu dengannya.

Peristiwa menarik lain yang bisa diungkap di sini, selepas perang Badar, ada beberapa sanak keluarga nabi ﷺ (seperti: Abbas bin Abdil Muthalib, Abu `Āsh bin Rabi`), menjadi tawanan perang. Rasulullah ﷺ akhirnya bermusyawarah dengan Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berpendapat lebih baik tawanan itu dibebaskan dengan tebusan, karena di antara mereka adalah masih saudara dan famili. Hal itu dilakukan dengan harapan Allah ﷻ memberi petunjuk mereka pada Islam. Umar berpendapat lain. Menurutnya, orang seperti mereka harus dihabis. Rasul ﷺ pun lebih condong pada pendapat Abu bakar (Maqrezi, Imtā`u al-Asmā`, 344). Ini menunjukkan, bagaimana kepedulian nabi kepada kerabatnya.

Demikian juga pasca Perang Hunain (8 H), Kabilah Hawāzin ada yang menjadi tawanan. Saat Nabi Muhammad ﷺ tahu kalau di antara mereka ada saudari sesusunya (Syaimā` binti Halimah As-Sa`diyah), yang dilakukan nabi adalah: memuliakan, melepaskan, diberikan ghanimah, dan kembali ke kampungnya dengan gembira (An-Nimri, Al-Durar fī Ikhtiṣāri al-Maghāzi wa al-Siyar, 230-231). Bayangkan! Saudara sesusu saja diperlakukan dengan sangat baik oleh Rasulullah ﷺ.

Peristiwa lain yang bisa dicatat ialah ketika nabi ﷺ hendak keluar Mekah (pasca Umrah Qadhā`, 6 H), beliau ﷺ dipanggil anak permpuan Hamzah bin Abdul Muthallib, “Paman, Paman.” (Terenyuhlah hati beliau). Berebutlah Ali, Ja`far dan Zaid bin Haritsah untuk mengasuhnya. Rasul ﷺ pun memutuskan agar ia diasuh oleh bibinya [saudara ibunya] (Abu Hasa al-Nadawi, al-Sirah al-Nabawiah, 433).

Semua itu adalah contoh kecil bagaimana perhatian nabi ﷺ kepada sanak familinya. Sebagai Rasulullah ﷺ –yang akhlaqnya digambarkan Aisyah seperti al-Qur`an—interaksi dengan sanak keluarga telah dilakukan dengan sangat baik oleh beliau. Semoga, umat Islam bisa meneladaninya.

Sumber : www.hidayatullah.or.id

Istri Shalihah, Sumber Kebahagiaan

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Suatu ketika Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau ﷺ menjawab:
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam urusan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).
Sesungguhnya istri shalihah merupakan satu dari tiga sumber kebahagiaan, maka jagalah dan perhatikan. Bertaqwalah kepada Allah dalam urusan istri, penuhi amanah dan jangan merendahkannya.
Ingatlah pesan Rasulullah ﷺ pada haji Wada’:
فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ
“Bertaqwalah kalian dalam urusan para wanita (istri-istri kalian), karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorang pun yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian.” (HR. Muslim).
Muliakanlah istrimu, bergaulah dengan sebaik-baik pergaulan dan berbicaralah kepadanya dengan komunikasi yang ma’ruf. Bersyukurlah jika Allah Ta’ala karuniakan bagimu istri shalihah. Bukan istri laksana Corona yang ia membahayakanmu dan membuatmu takut. Jika tidak berhati-hati, ia akan membinasakanmu. .

Sulit saya membayangkan, tetapi ada yang kuat hati mengumpamakan Corona seperti istri sehingga darinya saya bertanya, adakah istri yang seperti itu? Mungkin. Tetapi hendaklah yang belum menikah tidak takut melangkah karenanya. Sebab takaran agama ini sangat jelas. Jika engkau memilih istri atas dasar taqwa, ia akan menenteramkan pandangan matamu meskipun ia tak pandai berhias di hadapanmu.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

“Jika PKI Bangkit, Memangnya Kenapa?"

Oleh : Asma Nadia

Pertanyaan yang tampak sederhana, sesederhana cara berpikir orang yang mengungkapkannya...

Untuk menjawab, mungkin kita perlu menelaah lagi sejarah dan fakta yang ada di lapangan.

Saya tidak akan bercerita tentang peristiwa bulan Oktober di tahun 1945, ketika kelompok pemuda PKI membantai pejabat pemerintahan di Kota Tegal, menguliti serta membunuh sang bupati. Tak cukup di situ, mereka menghinakan keluarganya. Kardinah, adik kandung RA Kartini yang menikah dengan bupati Tegal periode sebelumnya, termasuk salah satu korban. Pakaian wanita sepuh itu dilucuti, kemudian diarak dengan mengenakan karung goni.

Betapa saat rakyat Indonesia tengah berjuang melawan penjajah, ketika arek-arek Suroboyo berebut merobek bendera merah putih biru di Hotel Yamato, lalu bertarung menghadapi sekutu pada 10 November, di belahan lain sebulan sebelumnya, sejumlah pejuang turut berdarah-darah dalam pertempuran lima hari di Semarang, membredeli tentara Jepang, PKI justru merusak tatanan bangsa di mana-mana. Menggerogoti dari dalam.

Anasir PKI bergerak merebut kekuasaan di Slawi, Serang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Cirebon, dan berbagai wilayah lain. Menghilangkan nyawa anak bangsa dan tokoh pejuang. Bupati Lebak dihabisi, tokoh nasional Otto Iskandardinata diculik dan dieksekusi mati bahkan keberadaan jenazahnya menyisakan misteri. Sultan Langkat dibunuh serta hartanya dijarah. Bahkan Gubernur Suryo, tokoh sentral dari peristiwa di Surabaya juga dibunuh PKI.

Ketika tokoh PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil menjadi Perdana Menteri di tahun 1948, arus bawah PKI merasa mempunyai kekuatan. Muso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia, beraliansi komunis. Dan lebih parah lagi dalam Perjanjian Renville, dengan mudah Amir Syarifuddin menyerahkan begitu banyak kekuasaan pada Belanda dan memasung wilayah Indonesia.

Keganasan PKI makin membabi buta.
Saya sebenarnya tidak hendak bercerita tentang peristiwa di Gontor. Ketika setiap pagi menjelang, satu per satu kyai diabsen dan nama yang disebut serta-merta disembelih. Atau kisah Haji Dimyati, aktivis Masyumi yang digorok lehernya sebelum dimasukkan ke sebuah sumur bersama korban pembantaian lainnya.

Juga tentang kesaksian Isra dari Surabaya yang ayahnya diseret ke sawah sembari dihajar beramai-ramai hingga jasadnya tidak berbentuk lagi; hancur, habis terbakar, dan dimakan anjing. Sang anak terpaksa memungut potongan tubuh ayahnya satu per satu dan dimasukkan kaleng.

Atau cerita Moch. Amir yang empat sahabatnya sesama aktivis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga ajal menjemput. Atau testimoni Suradi saat para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Yang berhasil keluar tak lantas bebas, melainkan dibacoki. Pun saya sejujurnya tidak ingin mengisahkan kesaksian Mughni yang melihat tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Telinga kakaknya dipotong, lalu dibuang di sumur tua.

Juga tentang Kapolres Ismiadi yang diseret dengan Jeep Wilis sejauh 3 km hingga wafat. Setelah tentara dibunuhi, gantian polisi dilibas. Kemudian pejabat, ulama, serta para santri.

Pascagerakan komunis berhasil dihentikan di tahun 1948, pada 1965 PKI kembali beraksi.
Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara. Mereka difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan pemerintah berkuasa. Tak hanya menerima siksaan setiap hari, Buya Hamka memperoleh ancaman akan disetrum kemaluannya.

Deretan kisah mengiris hati di atas pernah saya baca, tapi tidak akan saya ceritakan sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Karena mungkin hanya dianggap serpihan dari peristiwa kecil.

Tapi, kini mari kita lihat apa yang terjadi jika komunisme berkuasa.
Di Uni Soviet, sekitar 7 juta orang tewas dalam Revolusi Bolsevik dipimpin oleh Lenin. Di masa Stalin 20 juta orang terbunuh untuk memuluskan program komunisme.

Salah satu cara komunisme bertahan adalah, melestarikan tidak adanya perbedaan pendapat, dan jika berbeda sebaiknya dibunuh, berapa pun jumlah korban yang dibutuhkan.

Di Kamboja, sekitar 2 juta orang atau sepertiga jumlah penduduk dibantai untuk mengukuhkan kekuasaan komunis. Di Cina jumlah korban meninggal dalam revolusi diduga mencapai 80 juta.

Jadi, jika PKI bangkit, memangnya kenapa?
Pertanyaan seperti ini lebih baik dijawab dengan pertanyaan.
Jika PKI pernah mengkhianati kemerdekaan bangsa, apa jaminan mereka tidak akan mengulanginya?
Jika baru mempunyai sedikit kekuasaan saja sudah membantai begitu banyak orang, apa yang terjadi jika memegang kekuasaan besar?

Jika komunisme dilatih tidak bisa berbeda pendapat, lalu di mana letak kebebasan?

Dan yang terpenting dari semua itu, jangan berteriak korban. Mengutip Ahmad Mansur Suryanegara, PKI di Indonesia bukan korban, mereka pelaku. Atau istilah Agung Pribadi dalam buku Gara-Gara Indonesia, ini saatnya rekonsiliasi, kita bisa maafkan, tapi jangan lupakan sejarah pembantaian yang dilakukan PKI.

Asma Nadia, Penulis Buku

Begini Jika Mau Ke Jakarta Ketika PSBB


www.majalahfahma.com | Ada kabar penting nih bagi #SahabatTangguh yang sedang berada di luar DKI Jakarta tapi mau melakukan perjalanan ke Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Nomor 47 Tahun 2020 tentang Surat Izin Keluar-Masuk (SIKM) sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki oleh warga untuk keluar atau masuk ke wilayah Jakarta. Hal ini dilakukan untuk menekan angka kasus COVID-19 dan mengantisipasi potensi Jakarta terkena imbas gelombang kedua penambahan kasus COVID-19 jika masyarakat melakukan perjalanan kembali atau aktivitas arus balik ke Jakarta setelah Hari Raya Idul Fitri.
Selain SIKM, persayaratan lain yang harus dimiliki bagi setiap warga yang hendak memasuki wilayah DKI Jakarta adalah surat keterangan sehat dan dibuktikan dengan hasil tes cepat (Rapid Test) dan tes Swab Polymerase Chain Reaction (PCR), surat dinas dari instansi atau perusahaan dan dokumen perjalanan lainnya seperti kartu identitas resmi. Selain itu ada 11 sektor usaha yang diizinkan berpergian/beroperasi selama masa PSBB DKI Jakarta. SIKM dan informasi selengkapnya dapat diperoleh melalui laman resmi corona.jakarta.go.id atau bit.ly/SIKMJABODETABEK.
Dalam hal ini semua pintu keluar-masuk dari dan menuju wilayah DKI Jakarta dijaga ketat oleh aparat keamanan yang melibatkan unsur Polri, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan dan sebagainya. Para petugas juga tidak segan-segan meminta untuk kembali ke asalnya kepada mereka yang memaksa masuk tanpa memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Penyesatan Khas Komunis

Saya Muslim, Islam ajaran saya, bila ada yang bilang ajaran saya perlu diwaspadai, ya jelas saya tersinggung. Pasti saya akan buat apapun yang saya bisa untuk membela Islam
Logikanya, bila ada yang tersinggung saat ada gerakan waspadai bangkitnya komunis, melakukan apapun untuk membela komunis, maka siapa dia dan ajarannya? Tebak sendiri
Bagaimana caranya membela komunisme? Ada dua cara. Satu, buat citranya jadi baik. Kedua, buat citra musuh-musuh anda jadi buruk. Hingga ramai manusia bersimpati
Lihat saja, bagaimana di tayangan-tayangan kita saksikan bahwa PKI memframing bahwa mereka adalah pendukung pemerintah paling utama, loyalis Soekarno, dan semisalnya
Di lain sisi, mereka memosisikan diri sebagai korban, sebagai tumbal propaganda orde baru, kaum yang patut dikasihani, padahal mereka brutal, sadis dan bengis
Saat ini, isu itu berganti bentuk, dengan melabeli semua gerakan yang anti-komunis seolah sebagai gerakan yang menjadikan isu komunis ini jadi alat menggulingkan pemerintah
Selain itu mereka juga menstigmatisasi Islam dan syariatnya sebagai pemecah bangsa, ulamanya sebagai aktor makar, persis sama dengan cara PKI di masa yang lalu
Saat PKI dekat dengan penguasa dulu, Masyumi dibubarkan, HAMKA, Natsir, dan ulama lainnnya dikriminalisasi. Ini lagu lama dengan penyanyi baru, bahanyanya tetap sama
Khilafah yang merupakan ide Islam dianggap seolah lebih berbahaya daripada ide komunis yang sudah mengakibatkan jutaan nyawa meregang di pelbagai sudut dunia
Perppu Ormas yang dikeluarkan, amaran yang penguasa berikan, ternyata lebih galak dan menghantam ummat Islam, sementara ide atheis, liberalis, komunis, diberi ruang diskusi
Sejarah mencatat, adalah komunis yang pernah membantai manusia tanpa ampun di Indonesia, sejarah mencatat pula, Islam dan Muslim yang selalu menyelamatkan negeri ini
Lalu mengapa sampai saat ini, Islam dan Muslim selalu dituduh dengan tuduhan tak pantas? Mengapa semua Aksi Bela Islam selalu dituduh menggoyang kekuasaan?
#BagikamiMuslim, ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar berkuasa, yang tak dibawa mati. Ada iman, ada amal salih, ada dakwah, ada jihad, yang lebih kami cintai.

Felix Siauw, Penulis Buku dan Pendakwah

Wanita Luar Biasa di Balik Dakwah Rasulullah

Oleh : Dwi Ummu Thoriq 

Mencintai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ahlul bait) adalah bagian yang tak terpisahkan dari upaya kita mencintai beliau. Hal tersebut merupakan perkara badihi (aksiomatis, dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian), baik dalam tinjauan syar’i maupun kesadaran manusiawi. Cinta tersebut akan tumbuh dengan baik dan terarah dalam bingkai ajaran Allah ’Azza wa Jalla jika kita bisa mengenal kehidupan mereka lebih dalam. Tak hanya itu, selain bisa menyelami lebih dalam kehidupan keluarga manusia yang paling mulia ini beserta romantika dan suka dukanya, kita juga akan mendapatkan pelajaran yang sangat banyak dan berharga, khususnya dalam kehidupan berumah tangga.

Di sisi lain, mempelajari kehidupan keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pernak-perniknya, menjadi sangat penting agar kita bisa mendapatkan jawaban dari sejumlah pertanyaan yang kadang muncul di benak kita atau menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Kesimpulannya, kita akan dapat menemukan jawaban dari beberapa syubhat terkait dengan kehidupan rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering dijadikan oleh musuh-musuh Islam sebagai “sasaran tembak” untuk mendiskreditkan kepribadian beliau yang sangat mulia.

Buku yang ditulis oleh ustadz Abdullah Haidir ini menjelaskan tentang peranan para wanita luar biasa yang mendampingi Rasulullah. Wanita-wanita tersebutlah yang menemani Rasul dalam menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Keberadaan mereka, tak ubahnya oase dalam terjalnya jalan dakwah yang dilalui oleh sang Nabi Teladan.

Ketika menyelami lebih mendalam tentang kehidupan masing-masing istri Rasulullah, kita akan mendapati bahwa mereka semua memanglah pilihan Allah lantaran kesungguhan mereka dalam melayakkan diri sehingga bersanding dengan manusia paling utama. Kita juga akan mendapati bahwa kehidupan rumah tangga mereka tak ubahnya kehidupan kita pada umumnya. Ada konflik kecil, kecemburuan, kekurangan materi, hingga masalah-masalah serius yang sempat meruncing dan hampir menuju kepada jenjang perceraian. Bedanya, kehidupan Rasul ini sepenuhnya dibimbing oleh wahyu. Ketika salah, Allah langsung mengingatkan. Sehingga kita tidak akan mendapati cacat sedikit pun dalam hal ini.

Semoga buku ini bermanfaat di dunia dan akhirat, baik bagi penulisnya, pembacanya, maupun siapa saja yang ikut berpartisipasi di dalamnya. Selamat membaca!

Wortel

Oleh : Ana Noorina

 

Wortel memiliki nama latin yaitu Daucus carota L.  Meski lebih dulu dikenal sebagai obat-obatan, daucus carota tetap memiliki banyak manfaat ketika dijadikan makanan. Anda bisa mengolahnya menjadi sup, ditumis, salad, campuran jus, dimakan mentah, bahkan dibuat keripik.

Wortel memiliki banyak jenis antioksidan yang sangat baik untuk tubuh. Salah satunya adalah beta karoten. Wortel yang berwarna oranye sangat tinggi kandungan beta karotennya. Proses penyerapannya oleh tubuh akan lebih baik jika wortel dimasak. Selain beta karoten, umbi dengan beragam warna ini juga mengandung antioksidan dari vitamin A berupa alpha karoten. Selain itu, wortel yang berwarna kuning, putih, dan kekuningan sangat banyak mengandung lutein. Ini merupak antioksidan yang sangat baik untuk kesehatan mata. Sayuran dan buah yang berwarna merah memiliki banyak lycopene dan antisionin, termasuk wortel merah dan ungu.  Antioksidan ini sangat baik untuk kesehatan jantung.

Wortel mengandung serat, kalium, dan lengkap dengan antioksidan seperti lycopene. Nah, kedua nutrisi ini dipercaya dapat menjaga tekanan darah tetap stabil. Selain itu, wortel juga tidak mengandung kolesterol jahat yang baik untuk pembuluh darah.

Manfaat wortel ini akan didapatkan jika Anda mengonsumsi wortel dan sayuran serta buah lainnya yang masih segar, bukan yang sudah dikemas (sayur atau buah kaleng). Bila tekanan darah Anda tetap terjaga, itu artinya Anda terhindar dari hipertensi dan penyakit jantung.

Wortel dikenal dengan kandungan vitamin A yang sangat baik untuk mata. Maka dari itu, banyak orangtua yang sengaja mengenalkan makanan ini pada anak saat usianya masih kecil.  Manfaat wortel ini dapat membantu mencegah gangguan pada mata, seperti glaukomakatarak, dan kelainan refraksi (miopiastigmatisme dan hipermetropi).

Masalah pada mata memang tidak menyebabkan kematian. Namun, bisa membuat kualitas hidup seseorang jadi menurun dan tentunya berisiko juga menyebabkan kecelakaan yang berakhir dengan kematian.

Wortel bukan hanya dikenal dengan vitamin A saja, tapi juga vitamin C. Jika Anda termasuk orang yang mudah tertular dengan flu atau pilek, sebaiknya perbanyak makan wortel. Vitamin C dari wortel dapat mendukung sistem imun jadi lebih kuat.

Ana Noorina, Pemerhati dunia anak

Inilah Jalan Kita

Oleh : Rostika Hardianti

Inilah perjalanan. Selalu memberikan deretan makna hari dan waktu. Bersama tujuan yang sama, jalan tempuh kita berbeda. Dari perbedaan itulah kita belajar, bahwa cerita hidup tidak selalu linier. Kabar baiknya, orang yang belajar lebih banyak, maka akan mampu mencapai lebih banyak. Ketika orang memilih menempuh jalan hidup yang berbeda dari orang kebanyakan, maka ia pun akan bertumbuh menjadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan.

Clasical condiitioning. Ya, itulah istilah dimana proses belajar dimulai dari kebiasaan yang berulang.

Manusia, dikuatkan oleh Allah melalui tekanan dan cobaan berkali-kali. Diuji kesabarannya atas nikmat dan ujian. But,B it! Allah tidak pernah bermaksud melemahkan hamba-Nya, apa-apa yang Allah sampaikan adalah hakikat terbaik dari yang terbaik. Mari, jangan berhenti untuk menikmati setiap jejak-jejak ini, apapun yang sedang berada di hadapan.

Ya. Tidak bisa dipungkiri, pada akhirnya, dalam menempuh perjalanan ini, selalu ada bagian di mana kita harus mengikat hati kuat-kuat, meski berjalan pada lajur hidup masing-masing.

Barakallah atas setiap langkahnya. Inilah jalan kita.

Rostika Hardianti, Penulis Novel Mahabbatillah
Foto : Budi Ccline

Bukan Silaturrahmi

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim
Bukan silaturrahmi jika kita mendatangi rumah seseorang yang bukan keluarga, tak ada hubungan nashab sama sekali. Silaturrahmi itu hanya berlaku untuk upaya kita menyambung kembali hubungan dengan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita, baik dari jalur ayah maupun ibu. Adapun jika kita mendatangi rumah seseorang, maka itu hanya merupakan kunjungan (ziarah) biasa, sebagaimana berkunjungnya seseorang ke rumah teman atau guru. Hanya saja, di negeri ini kata ziarah sudah terlanjur sangat melekat dengan kubur karena seringnya orang menyebut secara berurutan, yakni ziarah kubur. Ketika saya masih tinggal di Jombang, kata ziarah sering digunakan untuk menyatakan maksud berkunjung. Tetapi setelah di Yogya, kata ziarah sudah sangat jarang terdengar.
Maka, sebelum berbincang tentang fadhilah silaturrahmi, kita perlu kembalikan kepada makna silaturrahmi yang dimaksud dalam Islam. Ini penting karena sekarang semakin bergeser jauh dari maknanya. Politisi, tokoh masyarakat dan apalagi trainer wirausaha, sering menggunakan kata "silaturrahmi" sesuai kepentingan masing-masing. Jauh lebih aman, sebenarnya, menggunakan istilah lain agar umat ini tidak semakin asing dengan pengertian sesungguhnya sesuai maksud syari'at. Apalagi jika pemahaman justru sampai bertentangan dengan syari'at.
Mari ingat sejenak sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam tentang silaturrahmi ini. Beliau bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Bukan silaturrahmi orang yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus." (Muttafaqun 'alaih).

Nah. Jadi bukan silaturrahmi kalau kita mendatangi rumah sahabat kita. Bukan silaturrahmi namanya ketika kita berkunjung ke rumah seseorang untuk merayu agar ia mau menjadi anggota dari perkumpulan kita. Bukan pula silaturrahmi ketika kita bersibuk mendekati seseorang agar mau beli produk kita atau mau menjadi down-line di MLM. Bukan. Itu bukan silaturrahmi.

Melalui kegiatan mengunjungi rumah orang-orang yang kita dekati, memang kita bisa membentuk jaringan (business network) sehingga usaha kita berkembang. Tetapi janganlah memperalat istilah syari'at untuk sesuatu yang tidak dimaksudkan oleh syari'at.

Berkunjung ke rumah orang-orang yang shalih di antara teman maupun guru kita serta duduk bersama mereka sangat besar kebaikannya. Tetapi ini bukan termasuk silaturrahmi. Ini merupakan bab yang berbeda.

Silaturrahmi sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadis itulah yang akan berlimpah keutamaan. Sedangkan memutus silaturrahmi merupakan keburukan yang sangat besar. Tentang keutamaan silaturrahmi, mari kita ingat sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi." (Muttafaqun 'alaih).

Ada banyak sebab yang menjadikan hubungan kekerabatan terputus. Bisa karena konflik, baik yang terjadi pada masa kita atau bahkan kita sendiri turut terlibat di dalamnya (na'udzubillahi min dzalik) atau konflik di masa lalu yang terjadi pada generasi orangtua kita atau sebelumnya. Dapat terjadi juga, putusnya silaturrahmi bersebab terlalu jarangnya tidak bertemu atau bahkan sampai tidak saling mengenal muka dan nama. Saat ini misalnya, ada banyak keluarga yang tinggal di Jeddah dan menjadi warga negara Arab Saudi, tetapi saya tidak mengenalnya lagi. Begitu pula di Malaysia dan Singapura. Mereka berpindah atau mukim di sana semenjak generasi orangtua saya, sebagiannya sejak generasi kakek saya. Nah, mengunjungi mereka untuk menjalin hubungan kekerabatan yang telah terputus inilah makna dari silaturrahmi.

Banyak keutamaan silaturrahmi. Tetapi ini tidak berarti silaturrahmi akan selalu berbuah sambutan hangat dan penerimaan yang baik. Ini semua bukan urusan kita. Andai kerabat kita menyambut kita dengan ketus, maka bersabar terhadapnya merupakan kebaikan. Ketusnya sambutan bukan penghapus keutamaan. Yang menjadi pegangan kita adalah: silaturrahmi merupakan sunnah Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Bersama sunnah ada barakah. Maka urusan kita adalah menjalankan sunnah. Bukan memperkirakan sambutan yang akan diterima.

Urusan kita adalah: menjaga diri agar tidak termasuk orang yang memutuskan hubungan kekerabatan. Dan seburuk-buruk pemutusan hubungan kekerabatan adalah terhadap orangtua.

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para shahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulallah,” Nabi bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari).

Mungkin ada di antara kita yang kecewa terhadap perilaku atau perlakuan sebagian orangtua. Tetapi ini tidak dapat menjadi sebab bagi kita berlaku buruk terhadap mereka. Kita mungkin kecewa, tetapi bersabar dan ridha atas apa yang terjadi --jika sekiranya orangtua memang memiliki akhlak yang tidak patut (na'udzubillahi min dzalik)-- merupakan kebaikan. Wallahul musta'an.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga bermanfaat.
Tulisan lawas, awal Februari 2013. Semoga tetap bermanfaat dan barakah.

Mempertahankan Karakter Ramadhan

Oleh : Imam Nawawi

RAMADHAN adalah bulan penuh berkah dan kemenangan, setiap jiwa yang beriman terasa begitu ringan menjalankan ketaatan demi ketaatan. Ada rasa senang mengisi waktu yang tersedia dengan beragam ibadah dan amal sholeh. Membaca Al-Qur’an pun bisa beberapa kali dalam sehari, indah dan nikmat.

Namun, kala kumandang takbir tiba, sholat Id dilaksanakan, perlahan namun pasti sebagian orang mulai masuk dalam suasana dan kondisi berbeda. Makan bisa kapan saja, bicara mulai lebih banyak, dan akhirnya mata mulai melihat beragam promo beragam tawaran, yang menjadikan akal dan hati yang tadinya tenang dengan ibadah kini mulai tertarik pada benda-benda, tawaran barang murah dan beragam diskon-diskon.

Jika tak waspada, bukan semata ibadah yang menurun derajat kualitas dan kuantitasnya, orientasi hidup pun perlahan akan bergeser. Jika dibiarkan maka akan menjadikan jiwa benar-benar merana berpisah dengan Ramadhan. Lantas apa yang harus dilakukan agar diri tetap dalam semangat dan karakter Ramadhan?

Tetap Jadi Pencinta Kebaikan

Hal utama yang harus disadari oleh setiap jiwa ialah Ramadhan bulan dimana orang berlomba-lomba melakukan kebaikan. Banyak orang kesulitan secara ekonomi, tapi kala Ramadhan tiba, mereka tetap bisa makan, bisa tersenyum, dan bisa terbantu.

Tidak lain karena orang banyak yang berlomba mengamalkan perintah sedekah. Mereka yang berada tetap bersedekah walau jumlahnya menurun dari sisi nominal, namun semangat itu tak pernah padam.

Indikatornya cukup sederhana, sebuah website lembaga amil zakat nasional dalam sehari bisa menurunkan laporan dalam bentuk rilis 6 hingga 10 kegiatan kebaikan setiap harinya di seluruh Indonesia.

Sisi lain, kita bisa sama-sama sakiskan bagaimana orang berlomba-lomba menjalankan sholat tarawih, sholat Tahajjud sepanjang Ramadhan. Luar biasa, kekuatan riil ini masih ada dan merata hampir setiap sudut NKRI.

Maka, hal yang penting disadari, kalau di Ramadhan kita bisa lari kencang, maka jangan sampai di luar Ramadhan semangat berlomba dalam kebaikan itu jalan di tempat apalagi mundur dan menyerah.

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan..” (QS: Al-Baqarah [2]: 148).

Tetap Bermesraan dengan Alquran

Betapa bahagia hati saat Ramadhan bisa Khatam sekali bahkan hingga 3 dan 4 kali. Tetapi apakah setelah Ramadhan berlalu, interaksi dengan Al-Qur’an harus dihentikan, dibiarkan tergerus oleh kesibukan, dan tidak ada lagi orang lain yang semangat membaca Al-Qur’an?

Bahkan, mereka yang tak sanggup menghatamkan Al-Qur’an dalam Ramadhan sekalipun, bukan berarti harus rendah diri lantas berpikir tidak mau menyentuh kalamullah itu. Justru harus dibangkitkan semangat itu. Sebab, bagaimana kita akan menjadi pribadi bertaqwa jika Al-Qur’an jauh dalam keseharian kita?

Dan, sungguh Al-Qur’an itu pada hakikatnya adalah kitab yang selain harus dibaca, sejatinya ditekankan untuk bagaimana dipahami kemudian diamalkan. Sebagian ulama menegaskan mengenai hal ini.

نزل القرآن ليعمل به فاتخذوا تلاوته عملا

“Al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Oleh karenanya, bacalah Al Qur’an untuk diamalkan.”

Kemudian Abdurrahman As-Sulami menggambarkan bagaimana sahabat Nabi ﷺ bermesraan dengan Al-Qur’an.

حدثنا الذين كانوا يقرئوننا القرآن، كعثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وغيرهما أنهم كانوا إذا تعلَّموا من النبي -صلى الله عليه وسلم- عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل، قالوا: فتعلمنا القرآن والعلم والعمل جميعًا

“Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kepada kami Al-Qur`an, seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan selain keduanya bahwa ketika mereka belajar 10 ayat (Al-Qur`an) dari Nabi, mereka tidak menambah atau melewatinya hingga belajar ilmu dan amal di dalamnya. Mereka (para guru kami) bertutur, ‘Kami (dulu) belajar Al-Qur`an beserta ilmu dan amal sekaligus.”

Jadi, tinggal dipilih, bagi yang sudah biasa dengan membaca secara kuantitas ada target sebulan hatam sekali, pertahankanlah. Bagi yang memburu kualitas, satu ayat dipahami, dibaca tafsirnya, digali pandangan saintifiknya dan kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka teruskanlah. Prinsipnya, jangan ada hari berlalu tanpa memahami dan mengamalkan ayat Al-Qur’an.

Tetap Mengejar Taqwa

Sebagian orang kadang salah kaprah, terutama kaum hawa. Saat Ramadhan senang dan nyaman menggunakan hijab, lepas Ramadhan tanggal pula hijabnya. Seolah-olah target taqwa yang salah satu manivestasinya menutup aurat hanya berlaku saat Ramadhan.

Tidaklah demikian, di luar Ramadhan, justru target taqwa semakin harus dikejar, karena situasinya kian sulit. Termasuk di dalamnya menjaga lisan dan pandangan. Kala Ramadhan youtube yang dibuka kajian Islam, lepas Ramadhan jangan sampai kembali ke gosip dan beragam tontonan yang tidak mendidik.

Allah SWT berpesan kepada kita bahwa taqwa itu harus diraih dan diupayakan dengan sebenar-benarnya, hingga ajal tiba. Dalam kata yang lain, di luar Ramadhan, taqwa harus semakin dikejar, dipertahankan dan diupayakan sebaik-baiknya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102).

Semoga Allah berikan kemampuan kita tetap menjadi manusia yang bermental, berkarakter, dan bergaya hidup seperti dalam Ramadhan. Aamiin. Allahu a’lam.

Imam Nawawi, Ketua Pemuda Hidayatullah

Sumber : www.hidayatullah.com