Karena Kamu Ada Di Hati

Ada sepasang suami isteri tergesa-gesa berlari menuju ke HELIKOPTER di PUNCAK GEDUNG HOTEL untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi KEBAKARAN .

Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.

Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum HELIKOPTER menjauh .

Kejadian Berikutnya, api SEMAKIN MEMBESAR dan MENGHANGUSKAN seluruh nya (termasuk sang ISTRI)

DOSEN yang menceritakan kisah ini bertanya pada mahasiswa-mahasiswanya, menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan?

Sebagian besar mahasiswa-mahasiswi itu menjawab : Kamu jahat, aku benci kamu, kurang ajar, kamu egois, gak tanggung jawab, gak tahu malu kamu, dan sebagainya.

Tapi ada seorang mahasiswi yang hanya diam saja, dan dosen itu meminta mahasiswi yang diam itu menjawab,
Kata si mahasiswi, Saya yakin si istri pasti berteriak, "Tolong jaga anak kita baik-baik."

Dosen itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?

Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yg dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.

DOSEN  itu menatap seluruh kelas dan berkata :

Jawaban ini benar, HOTEL itu kemudian benar-benar terbakar habis dan
sang suami harus kembali ke kota kecil nya dengan air mata yang terus menetes karena harus menjemput anak-anak mereka yang masih TK dan BALITA, dan mengasuh anak-anak mereka sendirian, dan kisah tragedi tersebut di simpan rapat-rapat, tanpa pernah dibahas lagi.

Bertahun-tahun kemudian, anak-anak itu sudah dewasa. Ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi dokter dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah.

Pada suatu hari ketika anak bungsunya bersih-bersih kamar sang Ayah, anak itu menemukan buku harian ayahnya.

Dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya ke hotel itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dan dia menulis di buku harian itu, betapa aku berharap untuk sang istri yang naik ke helicopter itu.

Isteriku sayang, tapi demi anak-anak kita, terpaksa dengan hati menangis membiarkan kamu terbakar sendirian.

Si anak bungsu kemudian menceritakan  kapada kedua kakak nya dan mereka bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus.

Mereka sujud mencium kaki sang Ayah Bergantian (mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua. Sekalipun dengαn beban mental yαng demikian berat)

Cerita itu selesai dan seluruh kelas pun terdiam. Dosen itu kemudian berkata;
Siapakah sang Ayah?

Sang Ayah Itu saat ini lah yαng ada di hadapan kalian. Mahasiswa dan mahasiswinya segera berlarian memeluk sang DOSEN.
           
Mereka sekarang mengerti hikmah dari cerita nyata tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yαng kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yαng kadang sulit dimengerti.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, tapi karena lebih menghargai hubungan dari pada uang.

Mereka yαng bekerja tanpa ada yαng menyuruh bukan karena bodoh, tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, tapi karena lebih menghargai orang lain.

Mereka yαήg mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, tapi karena menganggap kita adalah sahabat.

Mereka yαήg sering mengontakmu, dan mengajakmu reuni atau silahturahmi bukan karena tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.

Sumber WAG

Kesadaran Bertanggungjawab


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A

Hari itu, kira-kira di pertengahan tahun 2019, ketika saya sedang mengajar salah satu mata kuliah semester lima, tiba-tiba ada seorang peserta kuliah masuk ke ruang, padahal saat itu kuliah sudah berlangsung selama tigapuluhan menit.

Bagi saya keterlambatan sampai tigapuluh menit itu tidak wajar. Karena pada saat pertemuan yang pertamakali, sudah ada kesepakatan bersama yang dituangkan dalam kontrak pembelajaran. Disepakati keterlambatan maksimal sepuluh menit, kalau lebih akan dikenai sanksi termasuk terhadap dosennya. Kalau seorang mahasiswa terlambat sampai 30 menit berarti dia belum membaca kontrak pembelajaran yang sudah disepakati  dua minggu sebelumnya. Karena penasaran, sebelum dia duduk saya tanya “Tahukah saudara sanksi bagi mahasiswa yang datang terlambat lebih dari 10 menit”.  “Tidak tahu Pak, saya tidak hadir di pertemuan pertama.”  
        
Benar dugaan saya, karena jawaban yang seperti ini sudah sering saya dengar dari mereka yang terlambat. Namun yang menjadi keprihatinan saya adalah tidak adanya kesadaran mereka terhadap tanggung jawab dan komitmen sebagai mahasiswa. Seharusnya kalau mereka tidak masuk, menanyakan ke temannya apa saja yang disampaikan oleh dosennya, termasuk tugas-tugas kalau ada. Sehingga mereka tetap bisa mengikuti perkembangan kuliah meskipun berhalangan hadir. Namun mereka tidak peduli dengan hal ini, padahal kuliah sudah berjalan selama dua minggu. Barangkali mereka akan berkilah bahwa materi kuliah bisa diambil dari tempat lain. Memang ini benar, namun dia harus tetap menjalankan tugas sebagai mahasiswa dengan mengikuti perkembangan perkulihaannya.

Hal ini nampaknya sangat berbeda dengan mahasiswa pada beberapa dekade sebelumnya. Ketika ada mahasiswa yang tidak masuk kuliah, pasti hari berikutnya dia sudah kesana kemari mencari pinjaman catatan kuliah, bahkan ada yang meminjam lebih dari satu sumber catatan kuliah, agar catatannya lengkap. Padahal kala itu belum ada mesin fotokopi, atau kalaupun sudah ada, biaya setiap lembarnya masih sangat mahal, sehingga dia harus menulis kembali dengan tangan catatan temannya itu. Bagi mahasiswa yang tulisan tangannya bagus dan catatannya rapi dan lengkap pasti catatannya laris.

Memang dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang ini, telah memungkinkan seseorang belajar dari berbagai sumber, tidak harus dari dosennya. Namun sebenarnya saat tatap muka dengan dosen, tidak hanya materi kuliah yang dibicarakan, tidak hanya proses transfer of knowlegde atau proses pembelajaran, namun juga proses pendidikan. Seperti halnya kesepakatan yang saya buat dengan mahasiswa bahwa keterlambatan maksimal 10 menit tersebut, juga dalam rangka membiasakan mereka untuk berdisiplin dan bertanggung jawab, karena setelah lulus mereka akan memasuki dunia kerja yang mana kedua hal tersebut menjadi salah parameter penting yang dinilai oleh atasan.

Memang saat ini jamannya sudah berbeda, namun saya rasa yang namanya tanggung jawab tersebut harus selalu ada, bahkan di era industri 4.0 ini tanggung jawab tetap diutamakan, hanya apa yang dikerjakan saat dulu dan sekarang berbeda.  Bahkan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini, seseorang dapat menyelesaikan tugasnya tanpa harus masuk ke kantor. Mereka dapat menyelesaikannya dari mana saja, namun komitmen dan tanggung jawab tetap yang utama.  

Kesadaran, kepekaan dan komitmen seseorang terhadap apa yang harus dilakukan, tidak muncul begitu saja dalam diri mereka. Kesadaran tanggung jawab ini akan mudah muncul ketika sudah menjadi kebiasaan, dan hal ini akan terbentuk ketika dilakukan berulang-ulang.

Ketidakpekaan ini jelas akan merugikan diri mereka sendiri, sehingga kita sebagai orangtua maupun pendidik harus mengkondisikan anak-anak didik kita dengan kebiasaan ini, dan harus ditanamkan sedini mungkin.    

Dalam hal penanaman rasa tanggung jawab ini, secara pribadi saya setuju dengan sistem pendidikan dasar yang lebih mengedepankan penanaman kesadaran tanggung jawab dari pada kesadaran akademik. Memahamkan ilmu pengetahuan jauh lebih mudah dari pada membentuk karakter terpuji. Wallahu A’lam Bishawab.||

Penulis : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A, Pimpinan Umum Majalah Fahma, Guru Besar Teknik Mesin Universitas Gajah Mada 
Foto        : Google  

Jangan Berhenti Mengajak Kebaikan


Oleh : Romi Padli, SEI, ME

Pernahkah kita merasakan sedih ketika kita melihat ada sebagian teman atau tetangga kita yang belum melaksanakan sholat.

Atau ada saudara dan tetangga kita yang belum melaksakan kewajiban untuk berhijab dengan sempurna!

Kadang mereka dengan santainya memperhatikan kita dengan seksama. Dan merasakan keanehan kita karena pakaian atau kebiasaan kita yang sering ke masjid. Bahkan mereka ketika mendengarkan adzan-pun biasa saja.

Perasaan sedih melihat peristiwa ini adalah bentuk keimanan kita kepada Allah. Karena mereka yang yakin akan hari pembalasan adalah mereka yang mendapatkan petunjuk dari Allah.

Namun, hidayah dan petunjuk tidak akan bermanfaat ketika kita menjadi orang yang tidak melaksankan apa yang di perintahkan Allah melalui kitab suci yang mulia.

Oleh sebab itulah penting untuk kita ketahui bahwa, menjadi kebaikan untuk orang lain adalah hal yang sangat di sukai oleh Allah.

Bukankah Rasulullah pernah berpesan. Sampaikanlah dariku walau satu ayat. Hadis ini menunjukan kepada kita bahwasanya. Apapun profesi kita. Apapun posisi kita dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Maka wajib bagi kita untuk selalu menyampaikan kebaikan.

Entah itu dengan lisan, tulisan maupun dengan perbuatan. Walaupun dirimu belum baik atau di dalam keluargamu ada yang belum baik. Maka mengajak kebaikan itu tetap menjadi prioritas utama kita.

Dalam sejarah islam. Pada masa khalifah umar bin khatab ada peristiwa yang menarik untuk kita ambil hikmahnya.

Di kisahkan pada waktu itu. Ada seorang laki-laki yang membawa minuman keras di dalam kantong air yang ia bawa. Namun dalam perjalanan ia bertemu dengan khalifah Umar. Maka tak heran hati dan perasaannya menjadi gelisah.

Namun dengan izin Allah. Ketika khalifah Umar bertanya. Wahai fulan apa yang engkau bawa. Tanya Umar! Dengan tegar orang itu berkata. Ini madu wahai Umar. Maka sang khalifahpun melihat isinya. Dan benar ternyata ia memang madu.

Sahabatku, orang yang berniat akan melakukan kebaikan dengan melaksankan apa yang Allah perintahkan. Maka Allah akan memberikan petunjuk dan jalan keluar.

Oleh sebab itulah marilah kita renungkan, apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan.

Romi Padli, SEI, ME, Pendidik di Ponpes Ar Riyadh Palembang

Tentang Cinta



Oleh : Syaiful Anshor

Jatuh cinta tidak pernah salah. Dianya anugerah terindah dari yang Maha Kuasa. Cinta tidak akan pernah mendatangkan petaka. Justru berlimpah selaksa bahagia. Sebab cinta adalah energi, sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir yang selalu hadir untuk membahagiakan.

Tengoklah cinta Nabi Muhammad kepada umatnya. Tiadalah yang dipikir adalah umatnya. Bahkan, sesaat sebelum menutup usia, ada ungkapan yang penuh gelisah, "Ummati." Kata itu diucapkan tiga kali. Berharap Allah melimpahkan rahmat kepada umatnya.

Cinta itu membahagiakan. Cinta itu menggelorakan. Cinta itu menjadi hidup lebih hidup. Bahkan bukan hanya untuk sesaat, seribu tahun. Tapi cinta itu mengabadi hingga akhirat nanti. Sungguh orang yang saling mencinta di dunia akan dikumpulkan di akhirat. Sama-sama. Seperti yang dituturkan oleh Nabi, "Anta ma man ahbabta ilaihi. "

Maka, perhatikanlah kepada siapa Anda melabuhkan cinta!

Syaiful Anshor, Penulis Buku, Wartawan, dan Pendidik

Bermaksiyat di Kala Sepi




Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Ada sebagian orang yang ketika di hadapan orang banyak terlihat alim dan shalih. Namun kala sendirian, saat sepi, ia menjadi orang yang menerjang larangan Allah. Ketika bersama khalayak ramai, dia seakan menjadi orang yang ahli ibadah dan takut pada Allah. Namun ketika sedang bersendirian, dia menjadi orang yang meremehkan larangan Allah.

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.

Padahal Allah itu memiliki sifat Al-Khabiir, yang memiliki makna bahwa Allah mengetahui berbagai rahasia yang tersembunyi, apa yang ada dalam batin secara detail diketahui oleh Allah, dan segala sesuatu secara rinci diketahui oleh Rabb kita.

Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Al-Khabiir maksudnya adalah Allah Maha Mengetahui segala rahasia hamba, Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati, dan segala sesuatu tidak samar bagi Allah. Lihat Jami’ Al-Bayan, 28:103, dinukil dari AnNahju Al-Asma’ fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna, hlm. 187.

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang terdapat dalam hadits di atas. Aamiin...||

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh
Redaksi



Bersikap Positip Terhadap Persoalan Keluarga



Canda Yang Melalaikan

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ فَهُوَ لَعِبٌ ، لَا يَكُونُ أَرْبَعَةٌ: مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَتَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ، وَمَشْيُ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ، وَتَعَلُّمُ الرَّجُلِ السَّبَّاحَةَ

Setiap hal yang tidak mengandung dzikrullah hanyalah permainan, kecuali empat; seorang suami ‘bermain’ dengan istrinya, atau melatih kuda, atau berjalan di antara dua tujuan, serta belajar berenang.” (HR Nasa'i).
.
Canda suami-istri adalah permainan yang mengantarkan pada kemesraan. Canda suami-istri adalah penyegar jiwa yang menautkan hati menguatkan jalinan rasa di antara keduanya. Ini memang bermain bersenang-senang, tetapi agama ini meletakkannya sebagai kebaikan. Tentu saja agar canda itu tidak terlepas dari kebaikan, hendaklah keduanya menjaga agar tidak bercanda dengan hal-hal yang dapat memalingkan hati. Tidak terkecuali canda tentang kehidupan suami-istri.

Jalan-jalan itu boleh. Wisata kuliner juga tidak terlarang, sebagaimana menjaga penampilan bukanlah sesuatu yang tercela. Tetapi jika hal-hal yang asalnya bukan 'amalan utama untuk meningkatkan taqwa justru menjadi pembicaraan sehari-hari sehingga hati condong kepadanya dan bahkan menjadi himmah, maka perubahan itu sangat mungkin beriring perubahan-perubahan lainnya berkait dengan gaya hidup maupun orientasi kehidupan berkeluarga.

Ada canda yang awalnya saya menganggap biasa karena tidak begitu saya perhatikan, tetapi saya melihat canda itu meluas dan pembicaraan tentang canda itu tak jarang menjadi canda serius atau bahkan benar-benar serius. Ada beragam variasi ungkapan, intinya agar istri senantiasa tampil menarik, maka suami perlu memperhatikan:
.
Skin care
Beauty care
Rekening care
Traveling care
.
Serta berbagai "care" lainnya. Sebagian bahkan terjatuh pada keburukan membuka aib atau mengeluhkan suaminya secara terbuka di status WA atau media sosial lainnya, di antaranya ada yang menyebut nama Ustadz ini Ustadz itu.
.
Saya bukan anti jalan-jalan meskipun sangat jarang saya melakukannya (padahal ditawari oleh para panitia), kecuali saat ke luar negeri bersama istri. Tetapi apa yang awalnya tampak seperti canda, dapat membawa pada kelalaian atau mendorong orang lain jatuh pada kelalaian. Jika tak berhati-hati, mengumbar status tak penting seperti itu justru dapat menyentuh titik paling sensitif dari harga diri suami. Atau orientasi suami pun berubah sehingga ia menambahkan satu "care" lagi agar istrinya bersemangat, yakni competitiveness care alias merawat daya saing dengan menghadirkan pesaing bagi istrinya.
.
Poligami itu haq. Tetapi jika suami melakukan karena egonya yang terluka, akan lain ceritanya. Ini bukan jalan yang barakah.
.
Apa tidak boleh memotivasi suami untuk lebih gigih mencari rezeki? Boleh. Sangat boleh bahkan. Tetapi sepatutnya tidak menyebabkan bergesernya orientasi. Urusan apa pun hendaklah iradahnya adalah iradah akhirat, bahkan di saat berupaya lebih gigih mencari rezeki.
.
Saya teringat beberapa kasus yang dikonsultasikan kepada saya. Istri meminta cerai karena menganggap suami tidak perhatian. Apa pasal? Suami tidak pernah mengajak istrinya jalan-jalan ke negeri yang jauh "seperti orang-orang itu" atau ke tempat-tempat yang instagramable. Bahkan ada yang menyandarkan pada perkataan seorang Ustadz. Saya tidak tertarik menggali Ustadz siapa karena kelalaian dapat menimpa saja, termasuk kelalaian seorang Ustadz --barangkali-- ketika sedang bercanda yang dimaksudkan agar forum terasa segar. Bukan saya setuju, tetapi hal pokok yang ingin saya sampaikan ialah hendaklah kita berhati-hati dalam bercanda. Boleh bercanda, apalagi bagi suami-istri, tetapi jangan sampai melalaikan. Jangan pula menyebabkan hati mereka saling menjauh.
.
Waktu kita tak lama. Semoga sisa usia kita Allah Ta'ala ridhai dan menjadi asbab dikumpulkannya kita di surga-Nya dan malaikat menyeru:
.
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
.
"Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu untuk digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf, 43: 70).
.
Kemudian malaikat menyambut kita dengan ungkapan:
.
سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ
.
"Salam sejahtera atas kalian disebabkan kesabaran kalian.” (QS. Ar-Ra'd, 13: 24).
.
.
Penerbangan Bandung - Jogja, 5 November 2019

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Foto     : google 

Marahi Anakmu dengan Doa


Oleh : Jamil Azzaini


Salah satu kegemaran saya adalah bergaul dengan orang baik dari latar belakang dan kalangan yang berbeda. Berbeda suku, agama, status sosial dan profesi. Salah satunya tentunya bergaul dengan para ulama. Banyak cerita, hikmah dan pelajaran yang saya dapat dari mereka. Salah satunya tentang “memarahi anak”.

Salah satu cerita yang saya dapatkan adalah tentang kehidupan Syaikh Sudais, salah satu Imam Masjidil Haram. Ternyata saat Sudais kecil, ia sebagaimana anak pada umumnya, iseng dan usil. Diceritakan, orang tua Sudais kecil akan kedatangan tamu kehormatan. Memuliakan tamu adalah tradisi di keluarga orang tua Sudais.

Untuk itulah sang ibu memasak makanan terenak yang bisa mereka sajikan, ada menu kambing di dalamnya. Saat hidangan sudah siap saji, Sudais kecil masuk ke dalam ruangan dan tanpa ragu ia menaburkan pasir ke dalam hidangan yang sudah disiapkan oleh ibunya.

Sang ibu terkejut dan kesal, keluarlah amarah dari mulut ibunda “ihzab, ja’alakallahu imaman li al haramain.” Terjemahan bebasnya “pergi kamu, agar kamu bisa menjadi imam di masjidil haram atau masjid nabawi”. Dan tentu Anda tahu, Syaikh Sudais kini menjadi salah satu Imam Masjidil Haram, salah satu imam favorit saya. Ucapan sang ibu saat marah ternya terkabul.

Bagaimana dengan Anda, kira-kira apa yang Anda ucapkan saat Anda marah? Umpatan? Sumpah serapah? Keluarnya nama nama penghuni kebun binatang? Atau ucapan yang baik? Doa?

Ucapan orang tua terhadap anak adalah doa. Berkomitmenlah untuk mengucapkan sesuatu yang positif dan juga bernuansa doa, meski kita sedang marah. Sanggupkah?

Jamil Azzaini, Penulis dan Motivator

Doakan Suamimu


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada saat yang Allah Ta'ala istimewakan sehingga dengannya do'a lebih maqbul. Inilah saat ketika kita sedang menempuh perjalanan. Ada keistimewaan, ada berbagai keringanan yang diberikan kepada orang-orang yang sedang menempuh perjalanan. Musafir.

Maka sepatutnya perjalanan menjadi kesempatan untuk mengurangi dosa, kesempatan yang baik pula untuk memohon ke hadirat Allah 'Azza wa Jalla dengan sebaik-baik permohonan.

Tetapi perjalanan juga menjadi saat yang dapat menggelincirkan manusia pada keburukan dan kemungkaran. Hati bisa lalai, mata bisa tersilaukan oleh fahsya dan munkar. Hati pun dapat berpaling sejauh-jauhnya. Maka seseorang perlu penjaga. Di antara hikmah keutamaan melakukan safar diiringi teman yang beriman (bukan sekedar asisten yang mendampingi dan melayani) adalah agar ada yang memberi peringatan, menyampaikan nasehat dan mencegahnya dari pintu-pintu keburukan. Teman yang membantu menegakkan iman. Bukan sekedar meringankan perjalanan. Apalagi membantu dalam keburukan atau yang memegang rahasianya agar tetap dapat memperbuat keburukan.

Sejenak teringat sebuah hadis. Dari Uqbah bin Amir radhiyaLlahu 'anhu, dari Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

مامن راكب يخلو فى مسيرة بالله و ذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر و نحوه إلا كان ردفه شيطان

"Tidak ada seorangpun pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dengan dzikir, maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat. Sedangkan pengendara yang dalam perjalanannya disertai dengan sya'ir (nyanyian) dan lainnya (termasuk musik), maka yang menjadi penumpangnya adalah setan." (HR. Thabarani).

Ada perjalanan yang kita dapat mengendalikan sepenuhnya agar senantiasa beriring dzikruLlah, tetapi ada perjalanan yang bahkan di saat kita ingin menjauhkan hingar bingar dari kita pun, tetap saja ia terjangkau oleh telinga, meskipun mata berpaling darinya. Di saat itulah teman perjalanan sangat besar peranannya dalam menjaga tegaknya iman dan teguhnya komitmen kepada dien.

Ada lagi kebaikan yang sepatutnya mengiringi kita selain teman yang beriman. Dialah do'a. Fii amaniLlah ma'assalamah. Semoga dengan itu Allah Ta'ala berikan sebaik-baik penjagaan. Maka setiap kali suamimu berangkat ke berbagai penjuru muka bumi, lepaslah ia dengan do'a agar Allah Ta'ala genggam hatinya, jaga imannya. Bukan melepasnya dengan ucapan "daaagh..." semata. Selain tak bermakna, ucapan ini seolah ucapan selamat tinggal.

Sesingkat itu do'anya? Yang sangat singkat ini pun telah mencukupi. Apakah yang lebih baik daripada perlindungan Allah? Maka ucapan fii amaniLlah (semoga engkau senantiasa dalam lindungan Allah) yang benar-benar dimaksudkan sebagai do'a, lebih baik daripada pernak-pernik apa pun yang engkau berikan agar ia senantiasa mengingatmu. Dalam lindungan Allah, maka ia terselamatkan dari pandangan yang menggoda, bisikan yang tercela serta berbagai keburukan lainnya.

Pada ucapan ma'assalamah (semoga Allah Ta'ala jadikan perjalananmu senantiasa disertai keselamatan) yang dimaksudkan sebagai do'a, ada pinta yang jika Allah Ta'ala kabulkan jauh lebih baik daripada sekoper oleh-oleh yang wah.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Segenggam Iman Anak Kita

Ikan Gurame




Oleh : Ana Noorina

Ikan gurami merupakan salah satu protein hewani yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Manfaat ikan gurami terdapat banyak yang bisa kita dapatkan apabila mengonsumsi secara rutin. Hal itu dikarenakan lemak yang terkandung pada ikan gurami adalah lemak tak jenuh, hal tersebut membuatnya gampang untuk bisa dicerna oleh tubuh dengan baik.

Kandungan nutrisi ikan gurami sanga banyak, di antaranya omega-3, asam lemak, vitamin: D dan B2 (riboflavin), kalsium, fosfor dan Mineral: seng, zat besi, magnesium, yodium, dan kalium.

Ikan gurami amat bagus bagi yang ingin menjaga kesegaran metabolisme tubuh selain dari yang kita dapatkan dari makan sayur-sayuran. Banyaknya gizi yang terdapat pada ikan gurami juga cukup bagus bagi manusia, seperti asam amino esensiil maupun non esensiil. Disamping itu, Ikan gurami juga mempunyai daya serap yang relatif tinggi yaitu 90-100 persen.

Lebih dari itu, Ikan gurami pun gampang untuk diolah bisa digoreng, dikukus atau direbus yang lebih menyehatkan. Jika Anda sedang menjalani program diet, mengonsumsi ikan gurami merupakan alternatif yang bagus untuk tubuh. Ikan gurami kaya akan mineral, vitamin dan nutrisi. Orang yang kerap memakannya biasanya akan jarang memakan makanan yang memiliki banyak kandungan lemak jenuh seperti halnya yang terdapat pada keju atau daging.

Mengapa ikan gurami bagus untuk diet? Ikan gurami tidak memiliki kandungan kolesterol yang banyak, sangat tinggi vitamin dan protein serta memiliki kandungan omega 3 yang amat banyak. Ikan gurami tidak akan merusak program diet Anda.

Manfaat lain mengonsumsi ikan gurami yakni bisa menghindari timbulnya sakit berat, contohnya gagal jantung, maupun sakit berat yang lain. Olahan ikan gurami yang sehat dapat menghindarkan dari timbulnya pengumpulan trigliserida, mengurangi adanya tingkat trigliserida yang berlebihan, dapat memperbanyak HDL (lemak yang baik ), dan menghindari adanya pembekuan darah. Hal tersebut secara menyeluruh bisa mempermudah sistem kerja kardiovaskuler.


Penulis : Ana Noorina, Pemerhati Dunia Anak 
Foto     : Google 

Saksi Pagiku yang Mengharu



Pagi pukul 02.00 dini hari. Ketika saya tiba di sebuah pesantren, di Muntilan Jawa Tengah. 

Malam yang bagi sebagian orang mungkin lebih enak untuk menenggelamkan diri dalam selimut tebal merèka, atau mungkin sebagian lagi lebih asyik menonton hiburan, atau bahkan ada yang rela mengeluarkan banyak rupiah untuk bersenang-senang.

Di sebuah dusun yang sepi, nan sunyi, ada segelintir makhlukNYA yang rela dengan dinginnya air untuk membasuh wajah mereka dengan wudhu, ada sebagian manusia yang rela meninggalkan selimut hangatnya, ada sekumpulan anak manusia yang tega membuang jauh-jauh malas mereka untuk bangun shalat malam bermunajat pada yang Maha, mengadu peliknya hidup di Dunua yang fana, atau sekedar mencurahkan rasa yang ada.

Entahlah, mungkin ini yang jaman sekarang dinamakan RADIKAL, mungkin ini yang ditakutkan oleh sebagian manusia.

Padahal yang mereka lakukan adalah berdoa, berdzikir, bahkan menyesali perbuatan dosa-dosa yang telah dilakukan.

Nak, aku menjadi saksi kalian tentang perjuangan ini. Semoga kelak semua ini menjadi hadiah bagi orang tua kalian, semoga kelak ini akan meringankan beban berat di yaumil hisab buat kalian dan orang tua serta guru kalian, dan semoga ini menjadi pemberat amal-amal kalian. | TMT

Foto       : Google 

Nak, Dengarlah Ini !!



Oleh : Rofi' Wahyulina 

Nak, bagaimana kabar imanmu hari ini? Semoga ia masih menghujam kuat diakarnya. 

Maafkan orangtua ini yang tak mampu beri bekal di zaman yang sukar, dimana maksiat dianggap wajar. 

Nak, orangtua ini tak bisa berbuat banyak. Sebagaimana fitrahnya, terbatas, serba kurang, dan membutuhkan yang lain. 

Nak, dengarlah seuntai petuah ini!  Saat inilah ujian terhebat terjadi dimuka bumi. Kau hidup di fase mulkan jabariyyan. Inilah babak yang Rasul sebutkan dalam hadits babak keempat akhir zaman. Yaitu kepemimpinan dibawah penguasa yang memaksakan kehendak  atau diktator. Hingga kau kesulitan bedakan mana benar dan mana yang kelihatannya benar. 

Inilah fase dimana ujian terberat terjadi di muka bumi! Inilah masa dimana syaitan sekuat tenaga mengumpulkan sebanyak-banyak kawan. 
Walaupun begitu, yang berlangsung saat ini adalah sunnatullah. Semua terjadi atas izin-Nya, sebagai ujian bagi hamba yang benar-benar beriman. 

Bersabarlah walau tak mudah. Bak menggenggam bara api, rasanya amat panas sekali.  Maka berpegang teguhlah pada Al-Qur’an, niscaya kau akan aman. Siapkan perbekalan, kaji Islam demi menyongsong cahaya kebangkitan Islam. Ingat, Allah tak akan salah pilih orang! 

@najmatsaqib

Penulis  : Rofi' Wahyulina, Guru SDIT Hidayatullah Sleman 
Foto       : @Atinprihatiningsih15

Guru Besar ITS: Nadiem Mendikbud, Proyek Sekulerisasi sebagai Deislamisasi Indonesia Tahap Akhir


“Sudah sejak 10 tahun lalu, saya menganjurkan agar komunitas pendidikan mulai memikirkan kembali deschooling: mengurangi dominasi persekolahan dalam sistem pendidikan dengan memberi tugas-tugas pendidikan yang lebih besar pada keluarga sebagai satuan pendidikan yang sah, dan juga pada masyarakat, terutama masjid bagi komunitas muslim.

Kata Rosyid, di samping persekolahan makin terbukti tidak efektif, pendidikan bagi semua hanya mungkin oleh semua. Pendidikan tidak mungkin dilaksanakan secara efektif dengan memperbesar persekolahan.

“Bahkan Ki Hadjar Dewantara menegaskan tri sentra pendidikan : keluarga, masyarakat, dan perguruan,” ungkapnya.

Menurut Rosyid, persekolahan diciptakan semula untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja trampil sejak revolusi industri sekitar 200 tahun silam. Saat gereja Anglikan Inggris dan Katholik Roma bersikap ambiguous terhadap keluarga, maka memang pendidikan di Barat sangat mengandalkan persekolahan bagi regenerasi nilai-nilai Barat yang sekuler.

“Lalu sejarah menyaksikan secara lambat tapi pasti lembaga keluarga di Barat mengalami degradasi yang sangat serius. Bahkan saat ini pernikahan sesama jenis, dan LGBT sudah dinyatakan legal di banyak negara Barat,” papar Rosyid.

Dalam konteks keluarga itulah, kata Rosyid mesti mencermati bahwa menyerahkan tugas-tugas pendidikan hanya pada persekolahan akan memperlemah keluarga dan masjid.

“Masjid bertugas melengkapi pendidikan dalam keluarga. Persekolahan boleh diberi tugas yang bersifat melengkapi seperti memberikan kecakapan-kecakapan teknis. Bagi muslim, pembentukan adab dan akhlaq hanya bisa dilakukan secara efektif di rumah dan di masjid,” papar Rosyid.

Kata Rosyid, keluarga, masjid dan pesantren, adalah benteng terakhir Islam di Indonesia. Persekolahan adalah ancaman laten bagi ketiga lembaga ini. Namun segera perlu dicatat bahwa sejak lama kantong-kantong Islam adalah kantong-kantong perlawanan terhadap penjajahan.

“Pembukaan dan UUD45 yang asli adalah rumusan perlawanan muslim menghadapi penjajahan itu. Penjajah tahu bahwa agar penjajahan baru nekolimik bisa berlangsung, instrumen penjajahan harus diubah wajahnya agar nampak lebih bersahabat dan mulia : persekolahan, bukan tank, bedil dan mesiu,” kata Rosyid.

Rosyid mengatakan, ummat Islam Indonesia perlu segera meninggalkan paradigma schooling ini, lalu mengambil paradigma learning ( belajar ).

“Bagi ummat Islam, pendidikan tidak boleh lagi diwujudkan dalam pembesaran persekolahan hingga ke pesantren-pesantren, tapi justru mengurangi persekolahan dengan memperluas kesempatan belajar di rumah dan di masyarakat, terutama di masjid-masjid dengan kurikulum yang mandiri dengan lebih mengutamakan relevansi personal dan spasial/lokal, bukan mutu global mbelgedhes,” pungkasnya.[sn/sumber]

Sumber : WAG

Apakah Itu Kita?


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada yang pergi dari barisan pejuang dan bahkan barisan ummat ini, jangan sedih.

Ada yang keluar dari agama ini karena memburu remah-remah dunia, jangan terkejut.

Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.

Mereka inilah kaum anti baper dalam memperjuangkan agama Allah. Mereka tak terhempas karena dibully dengan celaan dan caci-maki, tidak pula suka mencela (وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ). Mereka tegak langkahnya; tak melambung karena disanjung, tak perih hati karena tersisih, tak surut langkah karena dicela. Pandangan mati hatinya tetap lurus ke depan.

Kita turut ambil bagian atau tidak, Allah 'Azza wa Jalla akan datangkan kaum sebaik itu. Kaum yang sungguh-sungguh memperjuangkan agama Allah. Maka beruntunglah mereka yang bersungguh-sungguh menyiapkan generasi dengan lima kualitas utama yang telah disebutkan dalam kitabuLlah. Tak berbusa lisannya dengan mencela, tak berkobar-kobar teriak dengan amarah. Mereka bersungguh-sungguh menyiapkan generasi dengan senantiasa isti'anah (memohon pertolongan Allah) dan menahan diri untuk tetap bekerja dalam keheningan. Senyap, tanpa tepuk tangan.

Kuatkah kita? Termasuk kitakah itu?

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku