Bersih dan Luruskan Niat

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada hadis yang selama bertahun-tahun menghiasi dinding garasi saya, tempat saya biasa menulis dan berdiskusi. Inilah hadis yang saya sangat ingin menulis uraiannya untuk anak muda maupun anak-anak yang masih di bawah sepuluh tahun. Abu Hurairah radhiyaLlahu‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
.
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikannya sendiri-sendiri. Bersungguh-sungguhlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan hanya kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa suatu musibah, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qadarullah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘لَوْ (seandainya)’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).
.
Hadisnya sama, tetapi kedalaman memahami maupun menghayati dapat berubah seiring kadar penerimaan, perenungan dan keyakinan kita. Berjalannya waktu dan bertambahnya umur tidak dengan sendirinya menjadikan kita semakin matang dalam memahami, tidak pula menjamin semakin kuat meyakini. Betapa banyak yang semakin bertambah umurnya, imannya seakan semakin mendekati habis sebagaimana jatah umurnya yang semakin mendekati kematian. Betapa banyak yang semakin banyak berbicara agama justru semakin menjauhkannya dari agama. Sebab saat lisannya bicara agama, hatinya sedang menghendaki dunia melalui perkataannya. Na’udzubiLlahi min dzaalik tsumma na’udzubiLlahi min dzaalik.
.
Kembali pada hadis tadi. Di faedah merenungi hadis itu ialah lebih kokohnya hati, tak mudah terombang-ambing oleh apa yang sudah berlalu. Berbekal hadis itu pula kita dapat lebih sigap menyikapi keadaan dengan tetap memperhatikan amanah yang berkait dengannya. Ada sedih ketika panitia mengabarkan acara ditunda disebabkan Banjarbaru dikepung asap sebagaimana halnya Riau. Tetapi bukan penundaan itu yang bikin sedih, melainkan kepungan asap yang rupanya harus diderita oleh banyak warga bangsa di berbagai wilayah Indonesia. Terbayang wajah anak-anak, bayi dan lansia. Terbayang pula betapa beratnya mereka yang memiliki potensi asma. Tanpa asap pun, bernafas berat tidur pun susah saat asma datang. Terlebih jika bertambah-tambah oleh kepungan asap yang begitu pekat.

Ada duka ketika tak jadi berangkat ke Papua. Bukan disebabkan banyaknya yang meminta untuk dijadwalkan di tanggal yang sama. Tidak. Sama sekali tidak. Duka itu ada karena mengingati nasib bangsa ini. Terlebih belum lama saya membaca buku Prelude to Colonialism: The Dutch in Asia karya Jurrien Van Goor yang menuturkan proses awal penjajahan Belanda di Indonesia. Haruskah akan ada penjajahan kembali di negeri ini?

Kalau pun ada airmata yang harus menetes, maka yang paling perlu ditelisik dan ditangisi adalah niat dalam setiap langkah. Niat inilah yang menentukan kebaikan dan barakah setiap kali menerima atau menolak suatu acara. Jadi atau tidak akan tercatat sebagai kebaikan jika niatnya lurus bersih. Adapun kalau kemudian tidak jadi, resepnya sangat sederhana, yakni menggunakan kesempatan itu untuk bersungguh-sungguh dalam hal-hal yang bermanfaat. Ini berlaku untuk setiap waktu dalam berbagai kesempatan.

Mohammad Fauzil Adhim, Motivator dan Penulis Buku

Mendoakan Kebaikan untuk Anak


Oleh : Ahmad Budiman

Wajib bagi kita untuk mengarahkan doa, memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki keturunan kita, memberkahi dan menjaga mereka dari hal-hal yang buruk dan tidak kita inginkan. Menjaga mereka dari gangguan setan dari kalangan manusia dan jin [1]. Demikianlah kebiasaan dan amalan yang ditempuh oleh orang-orang shalih.

Lihatlah doa para hamba Allah (‘ibadurrahman) dalam Al Qur’an. Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (jiwa) kami [2], dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Lihat pula doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam, Anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi (ilmu dan kenabian [3]) dari sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai di sisi-Mu.” (QS. Maryam [19]: 5-6)

Beliau ‘alaihissalam juga berdoa, Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 38)

Lihat pula doa Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam,

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 128)

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

Doa untuk mendapat anak keturuan yang baik bukanlah sebatas hanya doa ketika pasangan suami istri hendak melakukan hubungan atau masih pengantin baru. Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Meskipun usia beliau tidak lagi muda, beliau tetap berdoa untuk mendapatkan keturunan yang baik atau memperbaiki keturunan beliau kepada Allah Ta’ala. Selain itu, doa kebaikan untuk anak bukan hanya ketika sang anak masih di usia kecil. Hingga dewasa pun, kita tetap harus mendoakan kebaikan untuk anak.

Jika kita ingin mendoakan kebaikan untuk putra-putri kita, maka tak ada salahnya juga kita mendoakan kebaikan untuk anak-anak orang lain juga. Seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendoakan cucu beliau, Hasan radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan dari sahabat Al-Baro’ bin ‘Azhib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

Aku (Al-Baro’) melihat Al-Hasan bin ‘Ali digendong di bahu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya (Al-Hasan), maka cintailah dia.” (HR. Bukhari no. 3749 dan Muslim no. 2422).

Beliau juga pernah mendoakan cucu beliau, Al-Hasan dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memeluknya (Usamah) dan Al-Hasan. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah keduanya.” (HR. Bukhari no. 3747 dan Muslim no. 3735)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun dalam kesempatan lain pernah mendoaakan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata, Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merasakan beratnya sakit beliau, aku bersama orang-orang pun ikut turun menuju Madinah. Kemudian aku pun menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau diam tidak bicara sedikit pun. Setelah itu beliau mengangkat kedua tangannya ke arah langit,kemudian menurunkannya dengan memberikan isyarat kepadaku sehingga aku (Usamah) mengetahui bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan (kebaikan) untukku. (HR. Ahmad no. 21803. Dinilai hasan oleh Syaikh Musthafa Al-’Adawi dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah.)

Ahmad Budiman, Pemerhati dunia anak

Tuntutan Akademik Orangtua kepada Anak


Oleh : 

Beberapa saat yang lalu, salah satu orangtua murid saya mengirim nilai ujian tengah semester via whats App. Nilai itu difoto lalu dikirim ke saya dengan disertai emot menangis. Karena saya dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta dari Ponorogo, saya tidak begitu menggubris, hanya melihat sekilas. Saat saya memindai (skimming) pun saya tidak paham korelasi antara menangis dengan nilai yang tertera disana. Itu nilai UTS yang kemarin. Memang saya guru bahasa Inggris (defaultnya) tapi saya diminta membersamai untuk mata pelajaran lainnya seperti, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Jawa, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Ujian Tematik Dasar anak SD. Ya pokoknya nemenin belajar sang anak.

Saat saya membersamai anak tersebut. Orangtuanya seringkali menekan sang anak (dan saya juga secara nggak langsung) untuk mendapat ranking baik. Misal begitu saya sampai di rumah anak les saya, orangtuanya akan berkata “Mbak, kemarin nilai si Bunga segini, harusnya bisa segini mbak,” atau ketika sang anak bosan dan bermain-main dengan menggambar sesuatu di buku catatannya dan ibunya lewat, akan keluar nada, “Ayo, Bunga, jangan menggambar terus. Kamu itu kalau konsentrasi nilainya bagus, kamu cuma begini dan begitu”.

Pada suatu waktu yang lain sang anak sempat bercerita ke saya, “Ibu pengen aku masuk lima besar kak,” katanya. Seketika kegiatan saya berhenti, “Memang kamu selama ini rangking berapa?” saya bertanya balik. “Sepuluh besar, kak.” Katanya polos. “Wah, sudah bagus itu, bagus banget, apalagi kakak ngelihat Bunga belajarnya rajin, tinggal ditingkatkan lagi aja. Bunga itu pinter kok, tinggal cari cara belajar yang pas aja,” “Masih kurang, kak. Dulu kakak sering ranking satu ya?” Kata dia dengan sorot mata yang meredup. Duh, anak kecil kelas empat SD ngelihat saya kayak gini jadi nggak tega. “Iya tiga besar, tapi kan sekolah kakak kecil, jadi lebih gampang ranking satunya, hehe.” Kata saya berhati-hati sambil tertawa ringan.
“Tapi tetap aja ranking,” katanya sedih. Duh. Hancur hati saya. Bukan karena dia, tapi karena iklim yang dia rasakan.

Saya mengajar les itu untuk memberi tahu sang anak cara belajar mandiri. Bukan menuntut dia menjadi yang terbaik. Saya mengajar les itu untuk menunjukkan bahwa belajar itu menyenangkan, bahwa belajar itu tidak selalu harus berbasis kertas dan duduk, bahwa belajar itu adalah keinginan mandiri yang berdasarkan rasa ingin tahu dan keinginan yang meluap-luap untuk mencari tahu. Bukan seperti ini. Dan semua ini seperti berseberangan dengan permintaan klien (orang tua) agar anak yang penting bin pokoknya ranking dan bernilai baik.

Tidak hanya Bunga, saya bertemu Bunga-bunga yang lain dalam kehidupan saya. Seperti suatu saat saya sempat mengisi jumat siang di salah satu Fakultas ternama di UGM tentang Muslimah Beriman, Sehat Mental dan Bahagia. Seusai acara, ada salah satu  peserta yang mendekat ke saya dan bercerita tentang permasalah-permasalahannya, salah satunya adalah soal traumanya untuk menelpon keluarganya. Mengapa? Ternyata, keluarganya selalu menanyakan IPKnya berapa, sudah juara apa, berprestasi apa semester ini, sudah melakukan apa saja, dll yang membuat dia tertekan. Saat bercerita bahkan ia sampai menangis sesenggukan, ia tidak kuat lagi menahan rasa takutnya sendirian. Duh, hati saya.

PR Besar Dunia Pendidikan Dan Kita Semua

Saya merasa bersyukur memiliki orang tua yang mendidik saya untuk berani memilih dan bertanggungjawab termasuk pada masalah akademis saya. Sampai sekarang, orang tua saya tidak pernah menanyakan saya ranking berapa selama saya di SD, SMP, SMA hingga kuliah! Bahkan, dulu saat nyantri, saya selalu menjadi tiga besar paralel seangkatan baik mata pelajaran agama maupun umum. Tapi orang tua tidak pernah membuka sedikitpun raport saya (kalau di pesantren, tidak ada kewajiban paraf ortu di raport). Pertanyaan-pertanyaan paska ujian lebih ke “bagaimana ujiannya, bagaimana perasaannya, ada kesulitan apa, jujur atau tidak,” Saya sampai sempat ngambek karena rangking satu saya seperti tidak dihargai, hehe.
Dulu juga, saya dibebaskan untuk bolos sekolah. “Yah, kakak bosen sekolah hari ini, boleh ya nggak sekolah,” ayah saya pasti mengiyakan dengan konsekuensi misal PRnya harus sudah dikerjakan. Kebebasan memilih yang bertanggungjawab.

Fase lain dalam hidup saya adalah selepas saya SMA, orang tua saya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya ingin memilih apa. Bahkan tercetus kalimat, “Kalau kamu mau kuliah ya kami support, kalau nggak kuliah, dan kamu mau usaha ya kami support,” begitu. Akhirnya saya memilih kuliah di tempat yang mahal hehe.

Sedikit demi sedikit, saya memahami bahwa saya haus ilmu bukan karena rangkingnya. Tapi, karena saya pengen. Makanya, saya ambil skripsi tentang koruptor (yang mayoritas teman langsung nggak percaya karena saya anak psikologi dan bukan ekonomi, karena saya perempuan dan harus keluar masuk lapas, karena saya berkerudung lebar dan lapas bukan tempat untuk orang yang katanya kayak saya). Pendeknya, karena saya pengen belajar tentang korupsi. Bodo amatlah lulus agak lama (ya ini saya usahakan ga ngaret banget juga), dan susah setengah gila baca referensi lintas jurusannya. Tapi, saya merasa perjalanan belajar saya ini menyenangkan tanpa beban tuntutan apapun. Kecuali, target pribadi sih, hehe.

Balik ke adik les saya dan tuntutan akademik. Saya jadi berpikir ulang. Padahal kedua orangtua adik les saya ini berpendidikan dan ayahnya adalah dosen tapi tidak menentukan bisa mengakomodir iklim apresiatif yang dibutuhkan. Bunga sudah berada di sekolah hingga jam empat sore, setelah itu harus les mata pelajaran dan tambahan-tambahan lainnya. Malamnya dia harus mengerjakan PR dan menonton sesekali. Kemana perginya masa kecil yang penuh keingintahuan, eksplorasi dan keberanian mencari tahu hal-hal bari. Kemana perginya kehidupan bahagia masa kanak-kanak yang tidak pernah bisa terulang kembali. Dan kemana jiwa anak-anak itu pergi.

Last, mari jadi pribadi yang apresiatif kawan. Ini bukan urusan remeh temeh. Ini urusan membagun budaya mental. Ini urusan membentuk generasi yang tangguh karena mendorong orang percaya pada kemampuan dirinya sendiri, tidak takut mencoba dan menguatkan mereka yang harus dikuatkan.

Iklim apresiatif akan membuka kran kreativitas dan keberanian pada individu yang diapresiasi. Memang dorongan yang stressful bisa mendorong orang untuk meloncat lebih tinggi. Tapi, jika bisa meloncat dengan bahagia, mengapa harus dengan susah hati? Iklim apresiatif yang pada tempatnya akan membuat orang juga menjadi lebih positif. Ia akan menularkan apresiasi itu ke orang lain juga.

, social psychology researcher, writer and multiplatform storyteller

Beri Mereka Dukungan, Perhatian, dan Umpan Balik


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada perasaan berbeda kali ini ketika bakda Maghrib anak saya yang ketujuh berpamitan mengajari teman sebayanya baca Al-Qur'an. Saat ia hendak mencium tanganku, segera kuraih tangannya dan menciumnya. Teringatlah saya panggilan kesukaannya semasa play group dan TK. Ia senantiasa memperkenalkan diri sebagai "Bu Sakin", alih-alih menyebut nama lengkap. Setiap kali ada tamu datang dan menanyakan namanya saat ia bergegas menemui, senantiasa ia memperkenalkan diri dengan “Bu Sakin”. Ia segera mengoreksi kalau ada tamu yang menyebut namanya dengan Sakin atau Sakinah saja tanpa kata “Bu”.

Aku termangu saat ia melangkah keluar. Bukan. Dulu bapaknya tidak seperti itu. Saat seusianya, di awal kelas 4 SD, saya belum dapat mengajarkan baca Al-Qur'an kepada teman-teman seumur. Di usia itu saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku pinjaman yang seringkali bukan bacaan anak-anak. Maklum, mengandalkan buku pinjaman. Jika punya uang hasil dari menabung, hari Ahad merupakan saat yang tepat mengayunkan kaki sejauh 6 kilometer demi mendapatkan buku bacaan. Kelak ketika SMP kelas 2 barulah saya dapat mengajarkan bahasa Inggris kepada teman sebaya maupun kakak kelas yang mau Ebtanas (sekarang disebut UAN).

Sejenak kuteringat pada surat Al-Furqan, ada sebuah do'a di sana:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan, 25: 74).

Ibnu 'Allaan rahimahuLlah berkata dalam Daliilul Faalihiin, "(Pada ayat tersebut) Allah memulai dengan menyebut istri-istri karena pada kebaikannya terdapat kebaikan anak keturunannya."

Artinya, jika malam ini ia berpamitan mengajarkan Al-Qur'an, itu bukan tentang bapaknya. Itu tentang ibu yang mengasuh, mengusap kepalanya dan mendampingi anak belajar. Juga tentang guru-gurunya yang mengajar dengan sabar di sekolah.

Sudah beberapa pekan ini ia belajar mengajar. Tak sendirian. Ada juga kakak kelasnya, putri seorang sahabat saya, yang turut belajar mengajar. Di rumahnyalah kegiatan ini berlangsung. Harapan saya cuma satu, semoga langkahnya barakah sehingga hatinya betul-betul terikat dengan Al-Qur'an. Ia membaca, meyakini dan memegangi sepenuh kekuatan.

خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ

Maka bukan hadiah yang perlu diberikan untuk menguatkan motivasinya. Bukan. Yang ia perlukan adalah dukungan, perhatian dan umpan balik.

Tak boleh memberi hadiah? Boleh saja, tetapi tidak sebagai balasan bagi kegiatannya, melainkan tanda cinta dan perhatian yang tak terikat oleh waktu. Sayang sekali kalau motivasi dari dalam diri justru rusak oleh hadiah. Mendapatkan kepercayaan mengajari teman sebaya maupun yang sedikit di atasnya, sudah merupakan kehormatan tersendiri. Ini tak dapat dibeli dengan uang maupun hadiah-hadiah.

Sekali lagi, ini bukanlah tentang seorang bapak yang baik. Bukan. Saya masih teramat jauh. Ini adalah tentang ibu dan guru-guru yang mendidik dengan telaten dan sabar.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivasi

Sumber : www.facebook.com/183316298384173/posts/2437556152960165/
Foto : ATIN

Jadilah Orang Tua Sayang Anak, Bukan Sayang HP


ADA hal menarik yang disampaikan oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman ketika menjadi Khathib Jum’ah di AQL Islamic Centre (13/09/2019).
Salah satunya, beliau menukil perkataan Imam Ibnu Qayyim yang bahasa Arabnya demikian:
وكم ممّن أشقى ولده وفلذة كبده في الدنيا والآخرة بإهماله وترك تأديبه، وإعانته له على شهواته
Artinya: “Betapa banya orang tua yang menyengsarakan anak serta buah hatinya di dunia dan akhirat dengan cara menelantarkan, tak mendidik serta membantu anak melampiaskan hawa nafsunya. (Bisa dibaca dalam buku “Al-Majmuu’ al-Qayyim min Kalaam Ibni Qayyim” Jilid I, 2005: 569)
Pada poin “membantu anak melampiaskan hawa nafsunya”, beliau mengaitkan dengan para orang tua (ibu dan ayah) pada zaman gadget & digital yang begitu melimpah, kadang-kadang kurang sabar dalam mendidik anak, sehingga memberikan keleluasaan bagi anak bermain gadget.
Kebutuhan dasar anak kecil salah satunya adalah hiburan, orang tua yang tak bersabar, tidak mau susah atau repot, biasanya langsung memberi HP kepada anak yang merengek agar diam.
Hal ini kelihatannya sederhana. Tapi dampaknya bisa luar biasa negatif. Dulu sebelum ada gadget, tempat hiburan anak adalah orang tuanya. Ketika anak rewel, yang menghibur adalah orang tuanya dengan berbagai cara. Sehingga menimbulkan kesan mendalam bagi sang anak.
Kalau anak dibiasakan diberi video HP ketika merengek (entah itu U*N I*N dan lain sebagainya), nanti ketika ada masalah yang dicari bukanlah orang tua, tapi HP-nya.
Ada kasus yang diceritakan Ustadz Bendri terkait hal ini. Suatu ketika ada anak yang dipondokkan orang tua. Kebiasaan anak ini sebelum mondok adalah main HP.
Kebetulan, anaknya mau. Di pondok ada peraturan hanya boleh dikunjungi setiap 6 bulan sekali. Setelah 6 bulan berlalu, berkunjunglah orang tua ke pondok anaknya.
Alangkah kagetnya, orang tua tersebut saat sampai pesantren. Keduanya hanya disikapi dengan cium tangan dan sambutan dingin. Yang ditanya justru adalah HP-nya yang selama enam bulan tidak diakses.
Betapa hancurnya hati orang tua jika mengalami hal tersebbut. Anak yang dibesarkannya hingga kecil, lantaran kelalaian dan kesilapannya dalam mendidik dan salah dalam memberikan hiburan, akhirnya jiwa anak bukan menjadi miliknya. Malah dimiliki oleh orang lain, bahkan gadget.
Salah satu solusi menghadapi gencarnya gadget di era digital seperti saat ini yang dampak negatifnya bisa menyerang keluarga setiap saat (terutama anak), maka orang tua harus meluangkan waktu untuk bertatap muka, mengurangi bermain gadget di depan anak, mencoba lebih dekat lagi dengan anak-anaknya. Kalau meminjam istilah Ustadz Bendri, mari kita kembali pakai pola Rasulullah ﷺ yaitu makan bareng keluarga di satu meja. Di situ tanpa ada HP, semuanya fokus kepada keluarga.
Kalau itu dibiasakan, kelak ketika anak lagi susah, senang, atau lagi butuh hiburan, yang dicari mereka pertama kali adalah orang tua. Bukan gadget, teman, orang lain dan sebagainya.
Bagaimana dengan kita? Seberapa dekat dan peduli dengan anak? Masih ada waktu untuk berubah menjadi orang tua terbaik dunia-akhirat bagi anak. Jangan sampai, kita masuk pada kategori yang disebut Ibnu Qayyim Rahimahullah sebagai orang tua yang menyengsarakan anak atau buah hatinya di dunia dan akhirat. Na’udzubillah min dzalik.*

Kurikulum Tersembunyi


Oleh : RUA Zainal Fanani

Akhir-akhir ini Bu Ruslina sering uring-uringan. Pasalnya, banyak perilaku dan akhlak Angga, putri satu-satunya yang sudah sekolah, yang sering mengagetkannya, “Anak kita kok ucapannya sering jorok ya Bi. Padahal  kita kan tidak pernah mengajari seperti itu.”

Pak Ruslan sebenarnya juga sama herannya. Beberapa kali ia memergoki Angga mengumpat kepada teman-temannya. Kepada ayahnya pun putri semata wayangnya itu sering mempertunjukkan sikap yang kurang hormat. “Abi juga merasakan begitu, di rumah memang tidak diajari berakhlak seperti itu, tapi barangkali di sekolah.”

Bu Ruslina agak kaget. “Di sekolah? Masak guru-guru di sekolah Islam mengajari anak kita berakhlak  yang tidak terpuji, rasanya Umi kok tidak percaya.”

Pak Ruslan tersenyum. Sebagai orangtua yang belajar ilmu pendidikan, istrinya tentu masih kurang paham tentang apa yang sesungguhnya bisa terjadi di sekolah. Namun, belum sempat Pak Ruslan memberi penjelasan, Bu Ruslina sudah tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

“Bi, sekolahnya Angga kan sekolah Islam. Kurikulumnya kan pasti islami. Masa ada pelajaran untuk berbicara sejorok itu.”

Yang terakhir ini. Bu Ruslina menyebut-nyebut soal kurikulum. Rupanya Bu Ruslina belum terlalu paham makna dari kata kurikulum. Yang dipahaminya hanyalah kurikulum sebagai sekumpulan mata pelajaran, atau lebih luas sedikit, muatan materi dalam mata pelajaran. Tentu itu tidak keliru. Tapi yang dipahami Bu Ruslina adalah kurikulum dalam arti sempit.

Memang, dalam arti formal, kurikulum meliputi semua hal, yang memungkinkan tujuan belajar di sebuah sekolah bisa tercapai. Ini berarti, apa saja yang diprogramkan oleh pihak sekolah, termasuk oleh para guru, dapat dimasukkan dalam pengertian kurikulum. Misalnya saja, dalam membentuk pribadi siswa yang tangguh, sekolah menerapkan tata tertib dan disiplin yang cukup tegas. Peraturan dibuat untuk diterapkan secara adil, konsekuen dan tidak pandang bulu. Hal demikian, sesungguhnya termasuk kurikulum, karena secara sengaja diberlakukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Kegiatan ekstrakurikuler, pengembangan organisasi kelas dan organisasi sekolah, pembinaan koperasi sekolah, kepanduan, dan sebagainya juga termasuk di dalamnya. Para cerdik pandai menyebutnya sebagai keseluruhan pengalaman belajar, yang dirasakan oleh siswa, dan telah ditetapkan tujuannya.

Penjelasan Pak Ruslan tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh Bu Ruslina. ‘Yah Umi tahu, semua yang Abi terangkan memang punya tujuan baik. Berorganisasi memang baik untuk belajar kepemimpinan dan mematangkan kepribadian. Kepanduan juga sama. Kegiatan ektrakurikuler bagus untuk mengembangkan bakat dan minat. Itu sih Umi juga tahu. Yang Umi baru, ternyata itu semua masuk dalam kurikulum, ya Bi?”

Pak Ruslan mengangguk, “Yang jelas kurikulum bukan hanya susunan mata pelajaran.”

“Cuma Bi, apa hubungannya kurikulum dengan perilaku buruk anak kita, akhir-akhir ini?”  tanya Bu Ruslina lebih lanjut. “Umi tidak percaya kalau sekolah tempat Angga belajar membuat program seperti itu.”

“Ya jelas tidak,” Pak Ruslan tertawa. “Tapi, walaupun tidak diprogram atau disengaja, ini termasuk kurikulum juga.”

“Eh, bagaimana Bi? Ahklak  buruk kita termasuk kurikulum?” Bu Ruslina agak tersentak.

“Begitulah.”

“Umi kok jadi semakin tidak mengerti.”

Pak Ruslan tidak menyalahkan istrinya, kebanyakkan orang juga memiliki pemahaman seperti itu. Orang cenderung kurang menyadari bahwa sesungguhnya siswa banyak belajar dari hal-hal lain yang tidak diprogramkan, atau tidak disengaja. Terkadang, pembentukkan karakter, kebiasaan-kebiasaan lebih banyak terbentuk oleh hal-hal yang tidak disengaja. Suasana sekolah dan kelas yang jorok, kurang bersih, akan membentuk karakter siswa yang kurang peka pada masalah-masasalah kebersihan. Siswa tertentu, belajar merokok, mengompas (meminta dengan paksa. Red), dan sebagainya justru dari pergaulan dan suasana sekolah yang kurang kondusif. Bahkan, bisa saja siswa belajar mengembangkan kekerasan dari sikap kasar para gurunya. “Yang begini-begini ini jelas tidak diprogram oleh sekolah. Tetapi terbukti menimbulkan pengaruh.”

“Tapi masak iya sih ini masuk kurikulum?” tanya Bu Ruslan dengan nada agak tinggi.

“Kalau di kurikulum formalnya ya tentu saja tidak. Tapi inilah yang disebut kurikulum tersembunyi. Istilah kerennya hidden curriculum,” jawab Pak Ruslan. “Disebut kurikulum tersembunyi, karena sering tidak disadari, tak terlihat, tapi nyata akibatnya.”

Bu Ruslina terlihat mulai paham. Ia mulai bisa memahami apa yang terjadi pada putrinya, Angga. Dalam keluarga Pak Ruslan dan Bu Ruslina terbilang cukup sungguh-sungguh dalam membina ahklak putrinya. Mereka berduapun tidak henti-hentinya memberi teladan. Mereka juga yakin, pihak sekolahpun tidak akan memprogramkan hal-hal buruk. Tapi ternyata, putrinya telah belajar sesuatu, tanpa disadari. “Wah, kalau begitu anak kita korban hidden curriculum ya Bi?”

Pak Ruslan tersenyum kecut. Ia sangat menyadari, tugas dan tanggungjawab sekolah memang tidak ringan. Salah satunya, berusaha keras agar akibat negatif dari hidden curriculum dapat dicegah dengan sekuat tenaga. Sebaliknya. “Kalau toh ada hidden curriculum, mudah-mudahan yang akibatnya itu positif.”

“Lho ada juga yang berakibat positif to Bi?” tanya Bu Ruslina.

“Tentu saja ada. Misalnya karena ada teman-temannya yang suka berkelahi, anak kita jadi tahu kalau berkelahi itu menyebalkan. Lalu, Angga sadar dan terlatih untuk melerai orang yang berkelahi. Ia jadi banyak belajar bagaimana caranya memimpin dan mengajak berbuat baik. Ini kan positif.”

Mata Bu Ruslina tampak berbinar-binar. Senyumnya mengembang. “Umi kira, yang suka sembunyi-sembunyi cuma ada dipermainan petak umpet, eh ternyata ada kurikulum yang tersembunyi ya Bi?” ujarnya sambil memijat mesra pundak Pak Ruslan, suami tercinta. “Nanti soal Angga Umi bicarakan dengan gurunya di sekolah. 


RUA Zainal Fanani, Trainer & Ketua Yayasan SPA Yogyaka

Jangan Jadi Ayah Bisu!


Oleh : Adi Sulistama

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Di antaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?

Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Luqman 31:13)

Bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, hendaknya seorang ayah tidak melemparkan tanggung jawab kepada sang istri. Contohnya adalah bagaimana kesuksesan Nabi Zakaria dalam mendidik dan membesarkan Maryam. Begitu intensifnya peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya, hingga tatkala menjelang sakaratul maut pun, seorang ayah yang baik memastikan sejauh mana keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya dengan bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu sembah sepeninggalanku?

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al Baqarah 2:133).

Sudah sangat jelas bahwa di dalam Islam, peran ayah bukan hanya sebatas memberi nafkah saja. Ayah juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam pendidikan anak. Jangan sampai ayah hanya menjadi orang yang apatis dan tidak peduli pada pendidikan anak, atau biasa disebut ayah ‘bisu’.

Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias marah-marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menebak apa yang akan dikatakan ayahnya. Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.

Ayah, kembali ke al-Qur’an. Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.

Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian. Jangan jadi ayah bisu!

Adi Sulistama, Pemerhati dunia anak

Kebaikan yang Mudah Dilupakan

Oleh : Anonimous

Seorang suami Bertengkar dengan istrinya dan Meninggalkan Rumah. Saat berjalan tanpa tujuan Ia Baru Sadar bahwa Ia sama Sekali tidak Membawa uang. Ia Lapar sekali, ingin makan.

Acong Pemilik Restoran melihat seorang laki laki separuh baya itu Berdiri Cukup lama didepan Restorannya, lalu Bertanya.

"Pak, apakah Engkau ingin Memesan makanan?"

“Ya, tapi aku tidak Punya Uang," jawab laki laki itu dengan malu-malu.

"Tidak Apa-apa, aku Akan Memberi Gratis".

Laki laki itu Segera Makan. Kemudian air Matanya mulai Berlinang.

“Ada apa Pak ?" tanya Acong Pemilik Warung.

“Tidak apa-apa, Aku Hanya terharu Karena Seorang yang Baru Kukenal Memberi aku makan sedangkan istriku telah Mengusirku dari rumah. Kamu seorang yang Baru Kukenal tapi Begitu Peduli Padaku."

Acong Pemilik warung itu Berkata, "Pak, mengapa kau berpikir begitu ; renungkan hal ini,
aku hanya memberimu semangkok bakmi & kau begitu terharu, sedangkan istrimu telah memasak nasi, lauk, dll mengurus anakmu setiap hari sampai kamu setua ini dari seorang pemuda dan mengurus anakmu hingga dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya."

Laki laki itu kaget mendengar hal tersebut.

Mengapa untuk semangkok bakmi dari orang yang baruku kenal aku begitu berterima kasih, tapi terhadap istriku yang memasak untukku dan mengurus anakku selama bertahun-tahun, aku tak pernah berterima kasih. Laki laki itu segera bergegas pulang.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat istrinya dengan wajah cemas.

Ketika melihat suaminya, kalimat pertama-tama yang keluar dari mulutnya adalah "Mas, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam."

Mendengar hal itu, si laki-laki tidak dapat menahan tangisnya  dan menangis di hadapan istrinya.

Sahabatku, kadang satu kesalahan, membuat kita begitu mudah melupakan kebaikan yang telah kita nikmati tiap hari. Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima lasih untuk suatu pertolongan kecil yang kita terima. Namun kita sering tidak sadar & lupa berterima kasih akan kebaikan-kebaikan dari orang-orang yang sangat dekat dengan kita.

Berterimakasih lah Kepada : Ayah - ibu kita, istri/suami kita, pegawai rumah tangga kita, pegawai di kantor kita, office boy di kantor kita, semua orang orang terdekat dengan kita,

Hidup itu Indah, kalau kita pandai berterima kasih dan bersyukur, belajar menerima apa adanya.

Ketika GELAP , baru tersadarkan apa arti dari TERANG .

Ketika KEHILANGAN, baru tersadarkan arti dari MEMILIKI

Ketika BERPISAH, baru tersadarkan arti dari KEBERSAMAAN .

Kemarin sudah TIADA, besok belumlah TIBA ,
kita hanya punya 1 hari, yaitu HARI ini. Jangan sesali yg telah berlalu, itu perbuatan sia-sia. Syukuri apa yang telah dimiliki, agar kebahagiaan selalu berada disisi kita.

Dalam kehidupan NYATA, kadang kita suka mempermasalahkan hal yang KECIL, yang tidak PENTING, sehingga akhirnya merusak NILAI yang BESAR.

Persahabatan yang INDAH selama puluhan tahun BERUBAH menjadi permusuhan yang HEBAT ,  karena SEPATAH kata PEDAS yang tidak DISENGAJA .

Keluarga yang RUKUN dan HARMONIS pun bisa HANCUR hanya karena perdebatan KECIL yang tidak PENTING. yang REMEH  kerap dipermasalahkan, tetapi yang lebih PENTING dan berharga LUPA dan TERABAIKAN .

Seribu KEBAIKAN sering tidak BERARTI , TAPI SETITIK kekurangan DIINGAT seumur hidup.

Mari belajar MENERIMA kekurangan apapun yang ada -dalam kehidupan kita, bukankah tak ada yang SEMPURNA didunia ini ... ?

SEHATI bukan karena saling MEMBERI, tetapi sehati karena saling MEMAHAMI. BETAH bukan karena MEWAH , tetapi betah karena saling MENGALAH. INDAH bukan karena selalu MUDAH ,
tetapi INDAH karena dihadapi bersama setiap KESUSAHAN.
       
Semoga bermanfaat.

Sumber : WAG

Melatih Anak Membantu Pekerjaan Rumah



Oleh : Nur Muthmainnah

Pekerjaan rumah adalah titik tolak terbaik bagi anak untuk dapat mengurusi dirinya sendiri. Sederhana mudah dilakukan, mudah dikendalikan. Sebenarnya sesudah si anak belajar berjalan, Anda sudah boleh menyuruh mereka mengerjakan sebagian hal-hal kecil, misalkan menyodorkan sandal kepada sang ayah, membantu ibu mengambilkan barang dan lain sebagainya.

Walau pekerjaannya kecil, yang terpenting ialah memupuk kesadaran si asisten cilik tersebut. Sesudah berusia 2-3 tahun, kemampuan meniru anak sangat kuat, segala hal ingin sekali dicobanya. Tak ada salahnya terkadang memberikan mereka kesempatan. Misalnya memberi mereka sapu kecil, penyedot debu mainan dan lain sebagainya, dengan begitu juga bisa melarutkan diri anak ke dalam “peranan pekerjaan rumah”.

Sebetulnya pada banyak kesempatan, para anak tidak hanya menerima pengaruh kelakuan orangtua, juga menerima pengaruh sikap dari orangtua. Sebagai guru nomor satu dari anak-anak, apakah Anda merasa tertarik dengan bekerja sama dengan orang, di dalam pekerjaan rumah tangga apakah Anda dengan riang larut di dalamnya, apakah Anda menyukai lingkungan yang bersih, hal-hal tersebut bisa berdampak kepada sikap anak.

Jikalau Anda sendiri malah merasakan pekerjaan rumah tangga sangat sengsara dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, bagaimana mungkin anak bisa menjadi proaktif?

Namun Perlu dipahami bahwa anak tidak memiliki struktur nilai yang sama seperti orang dewasa. Kebanyakan orangtua merasa sudah menjadi kewajiban anak untuk melakukan tugas rumah, untuk  berbagi tugas dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga. Mungkin beberapa anak bisa memahami kalau mereka harus melakukan tugas rumah karena mereka adalah bagian dari keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Tapi mereka masih sulit untuk menghubungkan konsep ini dalam bentuk tindakan. 

Di awal masa prasekolah, nilai sesungguhnya bukanlah untuk membuat semua tugas rapi dikerjakan. Tujuan yang lebih mendasar adalah menanamkan kebiasaan untuk membantu. Anak usia 2, 3, dan 4 tahun senang sekali membantu. Memanfaatkan dorongan natural ini membuat lebih mudah untuk mulai melakukan pekerjaan rumah. Seiring pertumbuhan si kecil, ia bisa mengatasi tugas yang lebih kompleks dan mulai melakukan beberapa hal secara mandiri.

Pertama orangtua harus melihat bahwa kegiatan sehari-hari adalah kegiatan yang asyik. Orangtua yang ikhlas menjalani keseharian akan membuat anak-anak tak memandang kegiatan itu sebagai beban. Kalau orangtua sering mengeluh dan menganggap kegiatan keseharian itu tidak asyik, persepsi itu juga akan ditangkap anak sehingga mereka akan berpandangan bahwa pekerjaan rumah adalah beban yang harus dihindari.

Kedua, Ketika kita melakukan pekerjaan rumah, banyak hal yang bisa dilakukan anak karena pada dasarnya anak senang melakukan pekerjaan orangtua. Apalagi ketika orangtua melakukan dengan bahagia dan anak melihatnya sebagai hal yang menantang baginya.

Mungkin anak belum bisa menyapu karena tangannya belum kuat memegang sapu dan mengayunkannya dengan benar. Tapi ketika orangtua sedang menyapu, anak bisa membantu mengambilkan sapu. Anak belum bisa mencuci, tapi dia bisa membantu mengambilkan sapu.

Ketiga, Lakukan kegiatan bersama anak secara insidental, tanpa perencanaan. Jadikan kegiatan itu menjadi hal yang asyik dan menyenangkan, bukan beban. Setelah Anda menyeterika pakaian, sesekali ajak anak untuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Lakukan hanya sesekali, tidak setiap hari. Lebih baik lagi kalau kegiatan itu dilakukan atas permintaan anak.

Keempat, Jangan lupa untuk memuji dan mengapresiasi anak setelah dia selesai melakukan kegiatannya. Walaupun pekerjaannya belum sempurna dan banyak kekurangan, tetap berikan pujian kepadanya. Berilah pujian pada inisiatifnya, kesediaannya membantu, dan pertanda bahwa dia besar.

Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia anak

Pembiasaan Ibadah di Sekolah



Oleh : Galih Setiawan

Jam menunjukkan pukul 12.00. Suara adzan pun terdengar dari mushola. Para siswa PAUD Amanah pun segera mempercepat makan siangnya. Setelah selesai merapikan kelas yang digunakan untuk makan siang bersama, beberapa anak bahkan terlihat segera mengambil air wudhu untuk menunaikan Shalat Dzuhur berjamaah. Tanpa perintah bertubi-tubi, mereka seakan mengerti ritme kegiatan yang harus mereka lakukan, terutama pada siang hari.

Setelah selesai berwudhu, dengan ditemani oleh ustadzah masing-masing mereka bersiap berkumpul untuk melakukan Shalat Dzuhur berjamaah. Sambil menunggu yang lainnya berkumpul, para ustadzah mengajak anak-anak mengisi waktu dengan murajaah dan hafalan surat-surat pendek.

Salah satu aspek perkembangan nilai agama dan moral untuk anak usia dini adalah mengenal kegiatan beribadah sehari-hari dengan tuntunan orang dewasa. Salah satu caranya, anak dapat mengenal dan melakukan tata cara shalat dengan benar.

Di sekolah, anak sudah diajarkan berbagai pembiasan ibadah. Tidak hanya shalat wajib berjama’ah saja, melainkan juga ibadah lain, seperti shalat dhuha, al ma’tsurot, doa bersama, hafalan Al Qur’an, dan sebagainya. Ada juga pembiasaan sederhana, namun bermakna, seperti mengucapkan dan menjawab salam, adab masuk dan keluar kamar mandi, makan dan minum dengan tangan kanan, serta membaca basmallah. Anak juga diajak terbiasa dengan kalimat thoyyibah.

Anak usia dini punya kecenderungan meniru apa yang dilihatnya. Karena itu faktor lingkungan sekitar menjadi peran penting dalam perkembangan mereka. Selain lingkungan keluarga, sekolah menjadi lingkungan penting kedua dalam menanamkan nilai- nilai agama dan moral pada anak. Pembiasaan ibadah yang telah diajarkan di sekolah tentunya harus diulang-ulang di rumah. pengulangan atau pembiasaan adalah induk dari ilmu atau pun pengetahuan dan keterampilan.

Teladan kita, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dalam sabdanya, yang artinya, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”
(HR. Bukhari&Muslim).

Hadits ini memberi penegasan pada kita bahwa salah satu kewajiban kita sebagai orangtua adalah mewarnai anak dengan nilai-nilai keagamaan. Dan salah satu caranya adalah dengan memberikan pendidikan yang baik, yakni memilihkan sekolah yang tepat, sekolah yang bukan hanya mentransfer ilmu, namun juga bisa mengajak anak untuk mengenal Rabbnya.

Ibadah-ibadah keseharian yang harus sudah mulai diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini antara lain adalah sholat, berdoa, berpuasa, zakat dan sedekah, bahkan ibadah haji. Tentu saja metode pendekatan yang digunakan adalah metode yang sesuai dengan psikologi anak-anak dengan menjauhkan unsur-unsur pemaksaan dan mendisain prosesnya dalam nuansa yang gembira dan menyenangkan. Untuk itu kreativitas para guru menjadi salah satu keberhasilan proses ini.

Pada anak usia dini, tahapan yang dilakukan orangtua dalam mendidik dan membiasakan ibadah kepada anak adalah tahap pengenalan. Kesadaran beragama anak usia dini dalam ibadah ditandai dengan sikap yang reseptif (menerima) meskipun banyak bertanya. Oleh karena itu, pada masa ini mulailah mengajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ibadah.

Dalam hal mengajarkan pembiasaan ibadah kepada anak, praktek pembiasaan ibadah harus konsisten dilakukan setiap harinya. Misalnya pembiasaan wudhu dan praktek shalat. Melalui pembiasaan praktek wudhu dan shalat yang dilakukan setiap hari, secara tidak langsung anak mengenal cara-cara berwudhu, mengenal gerakan shalat serta mengenal bacaan shalat. Dari pembiasaan praktek ibadah tersebut, diharapkan anak akan terbiasa dengan ibadah yang wajib dilakukan tanpa ia merasa terbebani.

Dalam tahap memberikan pengenalan ibadah kepada anak, satu faktor yang diutamakan adalah memberikan kesan positif terhadap pelaksanaan ibadah. Dengan demikian diharapkan anak akan mencintai kegiatan ibadah dan dapat termotivasi melaksanakan ibadah karena kesadaran yang muncul darinya.

Agar pembiasaan tersebut selalu membekas pada anak, maka dibutuhkan kerjasama orangtua untuk juga menerapkan pembiasaan-pembiasaan yang sudah biasa diterapkan di sekolah. Agar pendidikan anak selalu berkesinambungan. Sebaik-baik tauladan bagi anak adalah orangtua mereka sendiri. Karena bagaimanapun juga, masa kanak-kanak adalah masa paling tepat untuk menanamkan benih-benih keimanan.

Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma