Ayah Abul Jasad atau Ayah Abuddin?


Oleh : Herman Anas

ABUL Jasad adalah ayah secara jasad, fisik dan biologis. Karena dari perantara ayah dan bunda anak lahir ke dunia. Perhatian dan perawatan terhadap anaknya hanyalah terkait dengan fisik dan kesenangan dunia yang fana (sementara dan rusak).

Sifat dunia yang tidak kekal ini atau fana sebenarnya bisa dirasakan saat masih hidup, tidak usah menunggu meninggal dunia. Orang senang makan nasi padang kalau hanya sesekali, tapi kalau tiap hari? Orang senang tidur, kalau tidak terus-menerus. Begitupun orang membayangkan akan selalu senang jika cita-citanya tercapai. Namun, berbeda saat menjadi kenyataan. Orang berfikir akan selalu senang saat mendapat harta, kedudukan, jabatan, kendaraan dst. Kenyataannya tidak selalu demikian saat semua sudah didapat. Apalagi ditambah niat yang keliru.

Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan dalam haditsnya dari Zaid bin Tsabit :

مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan dunia melebihi dari apa yang Allah tuliskan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan atau selalu merasa cukup dalam hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).“

Dalam hadits tersebut, orang yang menjadikan dunia menjadi tujuan utama dan niatnya di dalam berbuat sesuatu maka Allah memberi hukuman dengan mencerai-beraikan urusannya. Urusannya tidak ditolong Allah hingga lupa ibadah, mendapat apapun tidak pernah cukup dan ia hanya mendapatkan tidak melebihi dari yang ditetapkan oleh Allah.

Ayah abul jasad menanamkan hal-hal tersebut kepada anak-anaknya. Ia yang menanamkan cita-cita yang kerdil dalam menuntut ilmu supaya dapat pekerjaaan, hidup enak, mudah punya jabatan dst.

Ayah abul jasad adalah orang tua yang menanamkan kemanjaan pada anak dengan seabrek fasilitas, yang menurutnya membuat anak senang atau bahkan menaikkan level strata sosial. Padahal itu adalah kesenangan sementara yang cepat bosan dan justru menyusahkan orang tua sendiri.

Mengapa seorang ayah menjadi abul jasad? Karena standar berfikirnya adalah manfaat. Baik dan buruk baginya patokannya adalah manfaat secara materi.

Padahal, seharusnya umat Islam standar baik dan buruknya adalah ridha Allah.  Karena Allahlah yang tau sedangkan manusia tidak mengetahui. Sebagaiman firmannya :

(كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تُحِبُّوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ شَرࣱّ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ)

[سورة البقرة 216]

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Jadi, ukuran baik dan buruk bukan asas manfaat, tren, dibenci atau disukai manusia dsb. Allah sudah menegaskan bahwa dirinya yang mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui.

Darimana ayah medapatkan standar seperti itu?

Ada banyak yang mempengaruhi ayah dalam hal standar baik dan buruk.

Pertama, televisi. Televisi menayangkan sinetron sinetron glamor yang tidak mendidik. Ghibah ghibah artis yang sama sekali tidak penting bagi keluarga muslim. Kecuali hanya menjadi penambah dosa dan pastinya mempengaruhi ukuran baik dan buruk. Apalagi isi pertelevisian di negeri ini kebanyakan terkait percintaan, pamer kekayaan, pacaran, pernikahan, perceraian dan begitu seterusnya.

Kedua adalah gadget. Telepon genggam android yang hampir semua orang punya saat ini sangat berpengaruh terhadap pola pikir termasuk standar baik dan buruk bagi ayah. Di dalam hp terhimpun banyak hal, mulai kitab-kitab, surat kabar online hingga status teman. Berita atau status teman yang dibaca tidaklah ada yang netral. Semua membawa sudut pandang, bukan fakta semata. Balasan di akhirat juga hanya ada dua, yakni surga dan neraka.

Ketiga adalah teman. Teman ayah sangat berpengaruh terhadap cara pandang ayah terhadap sesuatu. Karena antar teman itu saling mempengaruhi. Bahkan di dalam hadits bisa mempengaruhi agamanya. Untuk mengetahui seperti apa ayah, bisa dilihat temannya. Berteman dengan penjual parfum, dapat harumnya. Berteman dengan pande besi, minimal dapat bau asapnya yang tidak sedap.

Ayah Abuddin

Disamping ayah abul jasad, ada juga ayah abuddin. Ayah abuddin adalah ayah dari sisi agama atau bisa disebut juga aburruh (ayah dari sisi ruh).

Abuddin sebenarnya gelar untuk guru dalam Islam. Karena gurulah yang mengantarkan santri sampai kepada Allah. Jika Abul jasad hanya memikirkan kebutuhan fisik, sandang, papan dan pangan, maka  abuddin adalah ayah yang memikirkan kebutuhan ruh anak.

Ayah abuddin tidak hanya mencari nafkah untuk anak. Tapi juga memberi makanan ruh dengan ilmu, iman dan akhlak akhlak mulia. Dia menanamkan standar baik, buruk dan kebahagiaan adalah ridha Allah. Tujuan di atas segala tujuan adalah ridha Allah (غاية الغاية مرضات الله).

Jika ayah abul jasad begitu perhatiannya memastikan kecukupan anaknya makan tiap hari bahkan hingga 3 kali sehari. Maka ayah abuddin akan mengusahakan kecukupan isi untuk ruh anak. Anak yang tidak makan akan lemas, tapi anak yang tidak diisi ilmu agama bukan hanya berbahaya dalam hal dunia bahkan justru akhiratnya.

Imam al-Ghazali, mengutip pernyataan Imam Fath dalam kitab Ihya’nya:

قال فتح الموصلي رحمه الله : أليس المريض إذا منع الطعام والشراب والدواء يموت؟ قالوا بلى. قال كذلك القلب إذا منع عنه الحكمة والعلم ثلاثة أيام يموت

“Imam Fath al-Mushuli rahimahullah berkata, Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat?  Mereka pun menjawab, Iya benar, akan mati. Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati.”

Bagaimana jika ayah tidak bisa mengajari?

Ajarilah walaupun hanya sekedar mengajarkan huruf hijaiyah, syahadat, rukun islam, rukun iman atau kalimat kalimat thayyibah. Ayah tentu harus mengupgrade ilmu agama sebagai tebusan dulu tidak mempersiapkan secara baik dalam hal ilmu agama. Padahal, menikah bukan hanya tanggungjawab masalah belanja tapi, menjaga keluarga dari api neraka. Semua itu didapat dengan faham ilmu agama. Itulah orang orang yang Allah kehendaki kebaikan baginya.

Apabila ayah mampu menggabungkan tanggungjawab sebagai abul jasad dan aburruh maka sempurnalah tanggungjawab pada keluarga. Anak akan ingat pesan pesan ayah untuk mendekatkan diri pada Allah. Sebagaimana ulama terdahulu ingat pada guru-guru nya bahkan mendoakan gurunya baik di luar shalat atau dalam shalat sebagaimana yang Imam Ahmad dan Imam Yahya mendoakan gurunya Imam syafi’i.

Namun, berbeda jika mejadi ayah abul jasad, saat ayah meninggal bukan sibuk mendoakan, justru bertengkar gara-gara fitnah warisan harta. Wallahu a’lam.*Herman Anasalumnus Ponpes Annuqayah, Sumenep, Madura

Sumber : www.hidayatullah.com

Innalillah… Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi Wafat


Kabar duka datang dari Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, wafat hari ini.

“Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiuun. Ayahanda Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, tutup usia, berpulang ke rahmatullah pada Rabu 21 Oktober 2020, pukul 15.50,” kutip website resmi Gontor.ac.id, Rabu.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi lahir di Gontor pada tanggal 19 September 1942. KH Abdullah Syukri Zarkasyi adalah Putra pertama dari KH Imam Zarkasyi salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Mohon doanya semoga dosanya diampuni, dan amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan semoga husnul khatimah,” informasi yang disampaikan oleh Prof Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

Sebagaimana dikutip dari situs www.hidayatullah.com, “Mohon do’anya. baru saja Allah memanggil ayah kita, guru kita, teladan kita, kesayangan kita ayahanda KH.Dr.Abdullah Syukri Zarkasyi, MA,” pesan yang beredar Rabu sore.

“السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنا لله وإنا إليه راجعون

Telah berpulang ke Rahmatullah Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) pada hari Rabu, 4 Rabi’ul Awwal 1442/21 Oktober 2020 pukul 15.50 WIB di Rumah Gontor.

Semoga Amal Ibadah Beliau diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosanya. Aamiin

Untuk informasi selanjutnya segera menyusul.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekretaris Pimpinan PMDG,” pesan yang beredar pula.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sediakan PC untuk Pembelajaran Daring Anak


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Selama masa pandemi ini, belajar secara online memang tak terelakkan. Pembatasan penggunaan gadget, betapa pun sekarang banyak yang menawarkan fitur Parental Control pada gadget yang kita siapkan buat anak-anak, tetapi tetap tidak sama –sama sekali tidak sama—antara pembelajaran daring dengan pembelajaran secara langsung murid menghadap guru. Apalagi kalau berbicara barakah.⁣⁣

Begitu Anda adalah seorang pendidik, maka selama masa-masa BDR ini, yang paling perlu Anda pikirkan adalah bagaimana memberikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Bukan sekedar pengajaran. Pada saat yang sama, pembelajaran daring pun perlu dirancang agar mendatangkan sebesar-besar maslahat dan menekan madharat hingga sekecil-kecilnya. Jadi bukan hanya pada tersampaikannya materi dan efektivitas pembelajaran. Apalagi kalau ini pun tidak.⁣⁣

Bagi orangtua, jika mampu, sediakan PC —komputer rumah— untuk pembelajaran daring. Bukan laptop, bukan tablet, apalagi handphone. Jika tidak mampu, mengingat di masa pandemi kebutuhan kuota meningkat dan banyak yang mengalami penyusutan pendapatan, bisa meminjamkan laptop untuk kegiatan pembelajaran anak. Jika ini pun tidak memungkinkan karena laptop dipakai untuk bekerja dari rumah –work from home—maka anak dapat dipinjami HP untuk dipergunakan sesuai kebutuhan. Bukan sesuai keinginan.⁣⁣

Begini, semakin personal sebuah gadget maka semakin cenderung menjadikan seseorang senang melakukan interaksi maya yang lebih pribadi, memuaskan keinginan —bukan kebutuhan— untuk mengetahui isu personal dari orang yang ia kenal maupun tidak. Ini sekedar sebagian di antaranya saja. Sebaliknya sama-sama piranti online, PC yang penggunaannya dapat dilihat oleh siapa saja, selain memang tidak didesain untuk “dinikmati” secara personal, lebih mendukung untuk kegiatan belajar yang lebih serius. ⁣⁣

Lho, memang PC tidak bisa untuk berhibur? Sangat bisa. Anak masih bisa mengakses Youtube misalnya, yang dapat ia nikmati secara pasif, tetapi kurang personal. Apalagi jika penggunaan PC di tempat yang mudah diakses oleh anggota keluarga yang lain. Ini meminimalkan resiko kecanduan maupun potensi akses konten bermasalah yang memerlukan privasi untuk mengaksesnya.⁣⁣

Bagaimana jika anak ternyata harus memakai HP untuk pembelajaran daring? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh sekolah:⁣⁣

•  Keluwesan dalam pembelajaran dan penuntasan tugas, tetapi bukan kehilangan target. Ini terutama berkait dengan kecukupan daya dukung sarana maupun non sarana dari orangtua terhadap anak dalam melakukan kegiatan pembelajaran.⁣⁣

•  Keluwesan itu diperlukan selain karena daya dukung sarana yang terbatas pada banyak orangtua, juga untuk meminimalkan ketegangan orangtua dalam mendampingi anak.⁣⁣

•  Pembelajaran daring hendaklah lebih bersifat sebagai sarana untuk komunikasi awal, koordinasi serta proses pengajaran interaktif dari guru kepada anak. Interaktif. Penggunaan gadget diminimalkan. Pendalaman materi semisal Latihan soal dilakukan secara offline; membaca buku fisik, mengerjakan soal di buku fisik pula. Jika ini tidak memungkinkan, semi interaktif, yakni setelah penyampaian materi, anak dapat mengajukan pertanyaan. Jika tidak bisa, barulah pengajaran benar-benar bersifat delivery –penyampaian materi ajar. Tetapi tetap bukan sepenuhnya digital.⁣⁣

•  Proses pendalaman secara konvensional tetap diperlukan untuk memastikan anak belajar. Bukan hanya memegang gadget mendengar penjelasan.⁣⁣

•  Bagaimana jika sekolah berpikir untuk sepenuhnya digital? Materi ajar sepenuhnya berbentuk e-book dan kegiatan lainnya juga sepenuhnya digital? Jika seperti ini, tidak perlu sekolah karena fungsinya sudah tidak ada. Kalau Cuma sekedar pemerolehan materi ajar dan latihan soal, cukup bermodal kuota dan pengetahuan mengenai apa yang perlu dipelajari. Itu pun dapat kita cari di dunia maya.⁣⁣

•  Asesmen tetap diperlukan.⁣

⁣⁣•  Bersama-sama orangtua, sekolah aktif melakukan pengendalian gadget dan pemantauan aktivitas, termasuk memantau sekiranya ada grup-grup WA maupun kanal media sosial antar anak. Ini penting untuk menghindarkan proses BDR (belajar dari rumah) dari faktor-faktor pengganggu yang mengalihkan (distracting factors).

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting 

Guru Penentu Masa Depan Generasi Bangsa

Oleh : Subliyanto, S.Pd.I.

Pada 5 Oktober merupakan Hari Guru Sedunia. Wikipedia menulis, “Hari Guru Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994. Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi pada masa depan ditentukan oleh guru”. Sehingga pada momentum Hari Guru Sedunia ini setidaknya mengingatkan kita bahwa dibalik kesuksesan kita ada orang tua dan guru-guru kita. Maka untaian terimakasih yang sebesar-besarnya layak kita hadiahkan kepada mereka berdua.

Orang tua dan guru merupakan sosok terpenting dalam kehidupan manusia. Secara definitif tugas utama mendidik berada pada pundak orang tua. Namun demikian karena beban tersebut sangat berat bagi para orang tua, maka dibutuhkan sosok guru yang notabeni dikenal professional dalam bidang keilmuan, yang bisa membantu dirinya untuk mendidik anak-anaknya guna menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Maka, bagi orang tua, memilihkan guru yang shaleh bagi anak-anaknya patut menjadi perhatian. Karena hal itu akan menjadi penentu masa depan anak-anaknya. Dan tradisi tersebut merupakan tradisi para sahabat dan ulama’ salaf.

Para sahabat dan ulama’ salaf sangat bersemangat untuk memilih guru yang shaleh bagi anak-anaknya. Mereka benar-benar memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ini. Karena guru merupakan sumber ilmu dan cermin bagi sang anak yang merefleksikan segala gerak-gerik dan tutur katanya, untuk kemudian terpatri dalam jiwa dan akal sang anak.

Dalam buku Prophetic Parenting yang ditulis oleh DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dijelaskan bahwa, Ibnu Sina dalam kitab “as-Syiasah” bab “Syiasatur Rajuli Waladahu” mengatakan, “Sepatutnya anak memiliki guru yang pandai, taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kemauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak di hadapan anak, tidak keras dan kasar, murah senyum, cerdas, enak dipandang, bersih dan rapi”.

Itulah diantara karakteristik guru yang bisa dijadikan pedoman bagi para orang tua dalam mencari guru untuk anak-anaknya. Tidak hanya bagi para orang tua, akan tetapi juga menjadi hal yang penting bagi para guru yang saat ini aktif dalam dunia pendidikan guna sebagai pedoman dalam upaya terus melakukan evaluasi perbaikan-perbaikan di internal pendidikan.

Guru mempunyai tugas yang sangat mulia. Kiprahnya memberikan arahan dan bimbingan kepada generasi bangsa, baik melalui tinta, kata-kata, maupun contoh nyata. Sehingga dengannya dapat terbentuklah karakter manusia yang berilmu dan siap melanjutkan perjuangan dalam segala bidang kehidupan manusia.

Maka, bagi peserta didik menghormati guru merupakan sebuah kewajiban. Karena dengan tintanya manusia bisa menulis dan membaca, dengan petuah – petuahnya manusia bisa mengetahui makna kehidupan, dan dengan suri tauladannya manusia bisa meneruskan perjuangan.

Maka hormatilah guru karena disitulah sumber keberkahan ilmu. Dan hormatilah orang tua karena disitulah sumber keridhaan Yang Maha Kuasa.

Semoga catatan singkat pada momentum Hari Guru Sedunia bermanfaat. Wallahu a’lam

Subliyanto, S.Pd.I. Pemerhati Sosial dan Pendidikan asal Kadur Pamekasan Madura Jawa Timur

Sumber www.limadetik.com

Ketika Hasan Al-Bashri 'Mendemo' Pemimpin Zholim

By: Khairul Hibri

Hasan Al-Bashri termasuk dari segelintir ulama yang berani menyuarakan kebenaran di zamannya, terutama di depan pemimpin yang dinilai lalim, meski untuk itu nyawa menjadi taruhannya.
Saban hari, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, pemimpin lalim yang berkuasa di Irak, merancang mega proyek; pembangunan istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Selesai pembangunan, ia pun mengundang para khalayak ke istana tersebut guna melihat-lihat kemegahan istana barunya serta meminta kepada mereka untuk didoakan.
Mendengar informasi tentang perkumpulan itu, Hasan Al-Bashri tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan nasehat-nasehat serta teguran langsung kepada sang pemimpin. Di tengah-tengah kerumunan itu sang Imam berdiri dan menyampaikan khuthbahnya. Di antara poin yang disampaikan;
“Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam. Dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah dari pada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”
Kritik dan kecaman terhadap kepemimpinan Hajjaj terus disampaikan oleh Hasan al-Basyri dalam khuthbahnya, hingga terdapat beberapa orang mengkhawatirkan keselamatan sang Imam dan memintanya menyukupi khuthbah.
“Wahai saudaraku, Allah SWT telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya,” balas sang Imam.
Benar saja. Ketika berita tentang khuthbah Hasan Al-Bashri sampai kepada Hajjaj, ia murka luar biasa. Keesokan harinya, ia kumpulkan para pejabatnya dengan memendam amarah. Kemudian di hadapan mereka ia luapkan ;
“Celakalah kalian ! seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorangpun dari kalian yang kuasa mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian, wahai para pengecut!,” ucapnya kasar.
Tak lama berselang, pemimpin zholim inipun mengeluarkan titah kepada pengawalnya untuk bersegera menyiapkan pedang serta algojonya dan menyuruh prajurit yang lain untuk menangkap Hasan-Al-Bashri.
Hasan Al-Bashri pun digelandang untuk menghadap sang penguasa; Hajjaj. Semua mata mengarah kepadanya dengan hati berdebar-debar, menanti vonis yang akan dijatuhkan kepada sang Imam.
Begitu kedua sorot mata Hasan Al-Bashri tertuju pada seorang algojo bersama pedang terhunus yang berdiri tepat di tempat eksekusi hukuman mati, Hasan Al-Bahsri nampak menggerak-gerakkan bibirnya, seakan tengah membaca sesuatu. Lalu, ia pun berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim dan kehormatan seorang dai di jalan Allah.
Melihat ketegaran yang diperlihatkan oleh Hasan Al-Bashri, entah pergolakan apa yang terjadi dalam diri Hajjaj, mentalnya tiba-tiba menjadi ciut, terpengaruh oleh wibawa yang terpancar dalam diri Hasan Al-Bashri. Ia justru berkata kepada beliau dengan nada ramah; “Silakan duduk di sini, wahai Abu Sa’id, silakan,” tuturnya mempersilakan sang imam duduk dikursinya.
Semua hadirin terheran-heran dengan peristiwa yang mereka lihat. Selanjutnya, ketika sang Imam telah duduk di kursi, Hajjaj lalu menoleh kepadanya, seraya menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab oleh Hasan Al-Bashri dengan jawaban-jawaban yang menarik serta mencerminkan akan pengetahuannya yang luas.
Merasa cukup dengan hajatnya, Hajjaj berkata kepada sang Imam, “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang benar-benar hebat.” Hajjaj kemudian menyemprotkan minyak ke jenggot Al-Bashri, lalu diantarkan sampai di depan pintu.
Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan Al-Bahsri berkata; “Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda dengan keperluan yang lain. ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedang terhunusnya, saya melihat Anda membaca sesuatu. Apa sebenarnya yang Anda lakukan ketika itu,” selidik si pengawal penuh penasaran.
Beliaupun membongkarnya; (Aku berdoa) “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya (Hajjaj) menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim,” pungkas beliau.

Khairul Hibri, Wartawan Hidayatullah
Sumber FB Khairul Hibri

Diabetic Parenting

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Yang paling diperlukan oleh anak adalah orang yang benar-benar mendampingi dan peka terhadap anak. Mereka ngemong (nurturing) sehingga bersabar mendampingi anaknya berproses. ⁣

Sikap gemati (memberi perhatian dengan tulus dan gegas) jauh lebih penting daripada orangtua yang sangat sering memuji, tetapi tidak dapat menunjukkan kepada anak apa yang perlu ditingkatkan maupun dikuatkan. Pun, apa yang perlu diperbaiki dan dikoreksi dari kesalahan yang ada.⁣
Obral pujian tanpa membangun individuality (kemandirian) –bedakan dengan egoisme maupun independence– serta connectedness (nyambung) justru dapat menjadikan anak rentan; individuality-nya lemah sehingga rawan mengalami krisis identitas yang serius saat remaja atau sebaliknya mudah tersinggung ketika menghadapi perbedaan pendapat. Tidak siap berbeda, apalagi terhadap penolakan pendapat.⁣
Anak yang dibesarkan orangtua dalam suasana menghargai perbedaan tanpa merendahkan, mengoreksi dan mengkritik tanpa mencela, serta terbiasa dimintai masukan tentang apa yang perlu diperbaiki dari diri kita, mereka akan belajar minimal tiga hal penting:⁣
  • Menerima kritik, saran maupun nasehat meskipun tidak menyetujui⁣
  • Menghargai iktikad baik orang yang memberi nasehat maupun kritik, baik dari saudara, orangtua maupun teman serta orang lain⁣
  • Menghargai pentingnya belajar dari kesalahan⁣
Dan ini semua menjadikan mereka mudah menyampaikan gagasan maupun pandangan berbeda tanpa membuang sikap respek kepada orang lain yang ia berbeda. Ia juga tidak mudah baper –justru sebaliknya berterima kasih– kepada orang yang menasehati dan mengkritiknya.⁣

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator Parenting

Karena Cinta

Oleh : Jamil Azzaini

Ada yang bertanya kepada saya “pak boleh tahu, bagaimana agar saat kita menjadi pemimpin, selain kita mendapat cinta dari anggota tim, kita juga mendapat cinta dari Tuhan kita?” Pertanyaan ini mengingatkan saya kepada penjelasan salah satu guru spiritual saya. Saat menjelaskan tentang hal ini, ia mengandaikan kita punya tiga orang anak, sebut saja namanya Juni, Juli dan Agus.

Si Juni hobinya hanya meminta kepada orang tuanya tetapi tidak mau bekerja. Si Juli mau mengerjakan sesuatu apabila ada imbalannya, dengan kata lain si Juli sering berkata “saya dapat apa?” Sementara si Agus, saat diminta tolong atau disuruh oleh orang tuanya selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya penuh suka cita, jauh dari keluhan.

Saat ditanya kepada Agus “mengapa kamu tidak meminta sesuatu kepada orang tuamu?” Si Agus menjawab “orang tuaku sudah memberikan begitu banyak nikmat sejak saya dalam kandungan hingga sekarang, malu ah kalau saya banyak menuntut kepada mereka.”

Apabila Anda orang tua dari Juni, Juli dan Agus, mana kira-kira diantara ketiga anak tersebut yang paling Anda cintai? Saya yakin sebagian besar Anda menjawab sama seperti saya, memilih Agus. Dan bila Agus meminta sesuatu pasti dengan suka cita kita akan memberikan kepadanya.

Meski tidak bisa disamakan, tetapi begitu pula cara Allah swt mencintai hamba-Nya. Si Juni mewakil sosok seseorang yang mendapat banyak nikmat dari Allah swt namun enggan beribadah kepada-Nya. Ia sudah diberi berlimpah nikmat berupa kehidupan, oksigen gratis, panca indera cuma-cuma, dan berbagai nikmat lainnya. Namun saat diminta mengingat-Nya termasuk beribadah kepada-Nya, ia berpaling.

Sementara si Juli mewakili sosok seseorang yang “transaksional” melakukan ibadah karena mendapat imbalan. Sholat dhuha karena ingin mendapat rezeki. Sedekah supaya rezekinya berlimpah, hormat ke orang tuanya agar bisnisnya lancar dan lain sebagainya. Dorongan utama melakukan sesuatu karena imbalan, baik itu imbalan di dunia maupun imbalan berupa pahala dan sejenisnya.

Sementara Agus, mewakili sosok seseorang yang melakukan sesuatu karena cintanya kepada Allah swt. Tugasnya sebagai hamba menjalankan semua yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya dengan penuh suka cita, minim keluhan dan minim penyangkalan. Dia menikmati prosesnya, dia sangat mensyukuri berbagai nikmat yang pernah didapatnya. Dia melakukan sesuatu hanya semata-mata mengharap cinta dan ridho dari sang Maha.

Bila kita refleksikan kepada diri kita, kira-kira kita termasuk yang mana, Juni, Julia atau Agus? Dan semoga kita termasuk seseorang yang terus berusaha menjadi seperti Agus. 

Setuju?

Sumber : www.jamilazzaini.com

Ikatan Keimanan

 

Di dunia ini ada sebuah ikatan yang sangat kuat, melebihi ikatan darah seorang anak manusia. Ikatan itu mengikat sangat kencang, melebihi cinta kasih dua orang insan. Ikatan itu selalu ada dan akan tetap ada, walau mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu. Ikatan itu akan terus menggelora dan tidak akan pernah sirna. Itulah ikatan iman, ikatan yang dibangun karena Allah.

Ikatan darah manusia bisa pudar atau bahkan bisa hancur lebur, misalnya karena masalah hak-hak warisan, masalah nggak pernah saling sapa, atau bahkan masalah sangat sepele, ayam peliharaaan saudara kandung makan tanaman di depan rumah. Bisa jadi karena masalah itu semua, ada yang sampai berazzam "saya nggak akan bakal membantu dia, apapun yang terjadi." 

Dan tentu masih banyak lagi hal remeh temeh yang karena nggak dipikir panjang, jadilah hal terebut menjadi prinsip.

Apa sih susahnya ketika ayam saudara kandung makan tanaman lalu dimaafkan? Toh tanaman bisa ditanam kembali. Nah kalau hati, ketika sudah disakiti, dicaci maki, dia akan susah kembali baik lagi.

Pun dengan ikatan kesukuan. Anak-anak perantau akan lebih kuat kebersamaannya ketika tahu ada orang yang 1 desa, 1 kecamatan, atau bahkan 1 kabupaten dalam perantaun mereka. Sebelumnya mereka tidak pernah kenal sama sekali. Tetapi berasa ada teman ketika tahu, oh dia satu kecamatan dengan saya, dia satu kabupaten dengan saya. Tapi itu semua bisa hilang ditelan masa. 

Nah, ikatan karena iman inilah yang sangat kuat. Karena iman inilah yang telah membelalakan hati Umar bin Khatab ketika mendapati saudaranya teguh dalam memegang iman mereka. Karena iman inilah yang telah menguatkan seorang budak hitam, Bilal bin Rabah, kuat menahan pedihnya siksa tuannya. Karena iman inilah yang telah membukakan jiwa Abu Bakar Ashidiq rela merogoh kantong dalam-dalam untuk memerdekakan budak Bilal bin Rabah.

Iya, semua itu karena iman, bukan karena harta. Karena harta justru sebaliknya, dia bisa memecah belah persaudaraan.

Iya, semua itu karena iman, bukan karena tahta. Kadang tahta inilah yang bisa menjadikan segala cara untuk mendapatkannya.

Iya, semua itu karena iman, karena dengan iman semua mengerjakan karena Allah, bukan yang lain.

TMT

Kita Butuh Bahagia Bukan Sekedar Senang


Oleh : Imam Nawawi 

APAKAH susah dan senang itu ada dalam kehidupan dunia ini? Sebuah pertanyaan sederhana tentunya. Tetapi, adakah nikmat hidup yang lebih luar biasa yang bisa manusia dapatkan selain melalui perjuangan?

Dalam satu sesi taushiyahnya, Ustadz Abdullah Said berkata, “Tanya dan silakan bandingkan. Mana yang lebih bahagia orang yang baru pulang dari luar negeri dibandingkan dengan orang yang malamnya digunakan untuk Tahajjud!”

Dalam kata yang lain, hidup nikmat itu tidak bisa diperoleh dengan sensasi, gengsi apalagi sekedar mimpi. Kalau bicara senang, binatang sudah cukup senang. Itulah mengapa tak ada air mata dalam kehidupan ayam, kambing, dan yang lainnya. Dan, kalau sebagai manusia yang dikejar sebatas kesenangan, Allah sebut orang-orang seperti itu “kal an-‘am” (seperti binatang ternak).

Dengan demikian, orientasi hidup manusia sejatinya bukan pada kesenangan apa yang diperoleh tapi perjuangan (jihad) seperti apa yang ditempuh. Tanpa perjuangan menuju jalan Allah, sungguh kebahagiaan tidak akan benar-benar bisa didapatkan.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (berjuang) di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 142).

Surga adalah puncak kebahagiaan. Dalam tafsirnya Ibn Katsir menjelaskan, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal kalian belum diuji dengan peperangan dan berbagai penderitaan.”

Rasulullah bukan tidak sedih ketika sang putri, Fatimah Az-Zahrah kedua tangannya melepuh karena setiap hari menggiling gandum. Beliau sadar itu berat bagi putri kesayangannya. Akan tetapi itu harus dijalani sebagai bekal mendapatkan kebahagiaan.

Suatu waktu Nabi malah mencium tangan orang biasa dalam status sosial, bahkan seorang pembelah batu yang hasil kerjanya dijual di pasar. Tangan kasar itu dicium oleh Nabi karena perjuangannya mendapatkan rezeki yang halal.

Jadi, jihad itu sangat luas, perjuangan itu bisa apapun, asalkan demi menjaga kemuliaan diri di hadapan Allah, sekalipun itu berat, itulah perjuangan yang harus dilakukan dan diupayakan sepanjang hayat.

Konkretnya kita bisa belajar banyak dari kehidupan Amirul Mukminin, Umar bin Khathab. Sosok pemimpin umat yang meskipun kekuasaannya terus meluas, panglima, gubernur, dan pasukannya gagah berani dalam medan jihad, beliau membuat banyak pihak musuh heran sekaligus kagum.

Bukan karena busananya yang mewah dan malah, tetapi karena saat ditemui ternyata sang Amirul Mukminin adanya nyaris selalu di bawah pohon kurma sedang rebahan tanpa pengawal dan pengamanan.

Dalam kata yang lain, ada kah manusia di muka bumi ini, terutama di era sekarang yang kebahagiaannya selevel dengan kebahagiaan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘ahnu?. Jadi, kalau jiwa seseorang memang ingin bahagia, bukan hawa nafsu yang dia umbar. Tetapi penempaan diri, sabar, tawakkal, dan terus berharap hanya kepada Allah.

Kata Ustadz Abdullah Said kalau benar ingin bahagia dan sabar dalam perjuangan meraih kebahagiaan, mulailah dengan memperbaiki kualitas syahadat (halaman 29).

Kalau syahadat beres, insya Allah apapun perintah Allah mudah dijalankan. Jika tidak maka syahadatnya impoten (halaman 30). Apa yang bisa diraih oleh orang yang tidak punya kekuatan untuk berjuang?

IMAM NAWAWI, Ketua Pemuda Hidayatullah

Kepingin Tau Apa Itu OMNI BUS LAW

Oleh : Dahlan Iskan

Saya berdoa keras. Agar program Omnibus Law sukses. Agar Presiden Jokowi tidak hanya dikenang di bidang jalan tol --yang memang hebat itu.

Itulah konsolidasi terbesar di saat sulit melakukan ekspansi ekonomi. Yang memang lagi sulit.

Kata kuncinya: di saat tidak bisa melakukan ekspansi, lakukanlah konsolidasi.

Omnibus Law adalah konsolidasi besar-besaran.

Saya tahu program Omnibus Law itu berat sekali. Bahkan berani memulainya saja sudah hebat. Apalagi bisa melakukannya --dan siapa tahu sukses.

"Bus Omni" memang mengagetkan. Saat itu. Tahun 1820. Saat pertama kali dipakai di Paris. Kok ada kendaraan yang bisa dipakai mengangkut orang begitu banyak --pun dengan berbagai jenis barang milik penumpang. Apa saja bisa masuk. Semua bisa dimuat.

Paris pula yang pertama kali menggunakan istilah Omnibus. Bus jenis Omni.

Tapi baru menjadi istilah generik ketika dipakai di Amerika Latin. Di sana segala sesuatu yang bisa dimasuki apa saja disebut Omnibus.

Seorang yang sangat rakus makan disebut punya perut Omnibus.

Bus Omni lantas sangat populer. Itulah kendaraan besar "pengangkut berbagai jenis" keperluan.

Omnibus pun dipakai sebagai istilah generik. Apa pun yang bisa dipakai ramai-ramai disebut Omnibus.

Pun di bidang hukum.

Omnibus Law adalah satu paket hukum yang isinya berbagai jenis hukum.

Atau, satu UU yang di dalamnya melingkupi banyak UU terkait.

Maka UU seperti itu disebut Omnibus Law.

Misalnya UU Investasi. Yang, katakanlah, isinya sudah sangat bagus. Tapi bisa jadi UU Investasi itu sulit mencapai tujuan: meningkatkan modal masuk ke Indonesia.

Bisa saja investasi terhambat oleh UU yang lain. Misalnya UU Otonomi Daerah, UU Ketenagakerjaan, UU Lingkungan Hidup/Amdal, UU Bangunan/IMB. Dan banyak lagi.

Mengubah salah satu UU itu saja tidak menyelesaikan masalah. Bahkan bisa saja isinya bertabrakan lagi dengan UU lain.

Repotnya sama. Hasilnya tidak tuntas.

Maka dilakukanlah paket Omnibus Law. Semua UU yang terkait akan dijadikan satu. Akan diangkut dalam satu bus besar Omni: Omnibus Law.

Betapa besar pekerjaan itu. Betapa mendasarnya. Belum pernah yang seperti ini bisa dilakukan presiden siapa pun.

Di Amerika sudah lama pemerintah mengajukan paket RUU Omnibus Law: menyempurnakan banyak UU dalam satu payung.

Misalnya saat Amerika kesulitan mengatasi meningkatnya kriminalitas.

Saya bisa membayangkan betapa rumitnya pengajuan satu RUU Omnibus Law. Terutama menyusun RUU-nya.

Misalnya satu Omnibus Law itu akan diberi nama 'Cipta Lapangan Kerja'. Lebih dari 7 UU berada dalam satu bus itu. Total berisi lebih dari 1. 000 pasal.

Apalagi, saya dengar, pemerintah sekarang ini tidak hanya mengerjakan satu bus Omni.

Saya dengar pemerintah sedang menyiapkan pemberangkatan sekaligus 11 bus Omni.

Tiap bus akan ada namanya sendiri. Masing-masing bus mengangkut banyak UU terkait.

Dramatik.

Masing-masing bus punya sopir sendiri-sendiri --para Menko. Punya kernetnya sendiri --para menteri terkait. Punya ahli-ahli tekniknya sendiri --para Dirjen.

Juragan bus Omni tinggal memberi komando: kapan bus harus berangkat ke terminal.

Apakah harus berangkat satu persatu atau ke terminal ramai-ramai --konvoi 11 bus.

Kabarnya sang juragan bus, Presiden Jokowi, tegas: bus itu sudah harus tiba di terminal bulan depan.

Betapa banyak pekerjaan di kandang bus masing-masing sekarang ini. Betapa rumitnya menyingkronkan 1.000 pasal. Bisa jadi mereka tidak punya kesempatan libur akhir tahun. Apalagi jenis penumpang bus itu begitu beragam. Punya keinginan sendiri-sendiri. Ada yang ingin bawa kopi. Ada juga yang ingin bawa rendang. Bahkan ada yang tidak ingin berangkat --dengan alasan masuk angin.

Semua penumpang adalah jenis UU yang rewel-rewel.

Saya menunggu dengan berdebar: bus apa yang akan duluan berangkat ke terminal. Saya ingin memberikan handuk putih kepada Menko-nya. Untuk lap keringatnya yang berlelehan. Agar selamat sampai ke terminal.

Terminalnya ada di Senayan --di gedung yang atapnya seperti pantat wanita cantik sedang telungkup itu: DPR.

Masuk terminalnya mudah. Tinggal bayar karcis retribusi masuk terminal.

Tapi kita belum tahu: diapakan bus Omni itu di dalam terminal.

Saya juga tidak tahu apakah banyak preman di terminal itu.

Apakah preman-preman itu punya bos masing-masing: preman besar.

Misalnya preman khusus yang tugasnya mencopet penumpang. Yang menyedot bensin. Yang memalak sopir. Dan seterusnya.

Atau terminal itu sekarang sudah bersih dari preman. Sehingga bus Omni yang masuk ke situ segera diizinkan berangkat mengantar penumpang sesuai tujuan.

Koalisi besar di Senayan ternyata diperlukan. Agar ban bus Omni tidak digembosi di situ.

Bulan depan terminal itu akan sibuk sekali. Bayangkan: membahas satu UU saja ruwet. Apalagi ini akan membahas UU induk yang di dalamnya banyak UU bidang masing-masing.

Apalagi kalau 11 Omnibus Law benar-benar tiba di terminal dalam waktu berdekatan.

Periode kedua kepresidenan Jokowi ternyata benar-benar untuk membenahi hukum.

Dan membangun terminal.

(Dahlan Iskan)

Foto : Tempo

Tutup Warung untuk Hormati Warung Baru


Salah satu Pemilik restoran di Arab ini menutup restorannya selama sehari , karena ada restoran baru buka di sebelahnya , sehingga ia memberikan kesempatan orang-orang akan mencoba restoran baru yang dibuka di sebelahnya. 

Dia menyebutkan hadits :

Rasulullah (ﷺ) besabda , "Jibril terus menganjurkan agar aku memperlakukan tetangga dengan kebaikan ". [Al-Bukhari dan Muslim]

Fuad zarkasi (Arab Saudi)

Tarbiyah Robbaniyah Covid-19 bagi Dunia Pendidikan

 

Munculnya virus Covid-19 dari kota Wuhan, negeri tirai bambu China ini membuat dunia berasa mati dari segala aktivitas. Mulai dari kegiatan anak-anak di sekolah, kegiatan mahasiswa di perguruan tinggi, kegiatan perkantoran, dan kegiatan masyarakat lainnya.

Sudah barang tentu hal ini meruntuhkan perokomian di semua negara, rakyat miskin pun sudah barang tentu bertambah. Bagaimana tidak, roda perekomian serasa berhenti total atau jika pun berjalan, berjalan sangat lamban. Cobalah kita tengok dunia pariwisata, hampir seluruhnya lumpuh total dikarenakan virus ini. Coba tengok juga dunia transportasi, karena akses aktivitas manusia dibatasi, maka otomatis kebutuhan transportasi sangat kecil, sehingga pengusaha transportasi ini tentu kesulitan menjalankannya. Masih sangat banyak dampak dari virus yang mematikan ini bagi hidup dan kehidupan manusia.

Bagi lembaga pendidikan yang dikelola oleh swasta, tentulah dengan diberlakukannya belajar di rumah, selama beberapa bulan ini, membuat lembaga yang dikelola oleh mereka menjadi oleng. Bagaimana tidak, banyak orang tua siswa yang biasa mampu membayar biaya pendidikan bulanan dengan rutin, kini karena faktor ekonomi, mereka harus menunda pembayaran biaya pendidikan anak-anak mereka. Tentu hal ini sangat memberatkan pengelola lembaga pendidikan swasta. 

Apakah lembaga pendidikan swasta ini mampu bertahan di tengah wabah ini? Lembaga pendidikan mereka harus menggaji seluruh guru dan pegawainya walaupun orang tua siswa hanya beberapa persen yang mampu membayar penuh biaya pendidikan bulanan anak-anak mereka? Berapa bulan lembaga pendidikan ini akan bertahan?

Sudah barang tentu, dalam setiap peristiwa ada banyak pelajaran yang perlu diambil hikmahnya, ada banyak manfaat yang diambil pelajarannya. Maka yang perlu diperhatikan bagi lembaga pendidikan, bagi guru, bagi orang tua siswa yang menyekolahkan pendidikan anak-anak mereka di sekolah swasta harus bersinergi.

Pertama bagi orang tua, pahami juga bahwa sekolah tempat anak-anak belajar, dibawah yayasan pengelola yang harus membayar seluruh guru dan pegawai mereka, alangkah 'dholimnya', ketika sesungguhnya mampu membayar biaya pendidikan anak-anak mereka tetapi menundanya atau bahkan enggan membayarkannya. Kecuali jika memang benar-benar tidak mampu, tentu itupun harus tetap dikomunikasi kepada sekolah tentang kondisi keluarga. Ada berapa banyak guru dan pegawai yang menjadi penopang ekonomi keluarga akan berdampak jika menunda pembayaran biaya pendidikan ini? 

Dibutuhkan sinergi dari orang tua siswa pada situasi seperti saat ini, karena ini adalah salah kepedulian orang tua siswa kepada lembaga pendidikan dan juga kepada guru dan pegawai yang ada dibawahnya.

Coba juga orang tua siwa memperhatikan, apakah lembaga pendidikan sekolah anak-anaknya memiliki usaha produktif, semisal koperasi, atau usaha lainnya. Nah sinergi orang tua siswa bisa diwujudkan dengan berbelanja di usaha produktif yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Putarlah uang kita untuk kepentingan lembaga tersebut, yakinlah dengan cara seperti itu, maka akan menyelamatkan banyak manusia di tengah wabah yang belum pasti kapan akan berakhir ini. Jangan biarkan uang kita diputar oleh orang lain yang tidak pernah membantu kepentingan pendidikan anak-anak kita.

Kedua bagi guru dan pegawai, harus juga mampu bersinergi dengan orang tua dan lembaga pendidikan tempat bekerja. Sinergi dengan orang tua siswa, jalin komunikasi yang baik, tanyakan kabar keluarga mereka, apa kendala yang dihadapi dimasa pandemi ini? Dan lain sebagainya, 

Tunjukkan kepada mereka bahwa para guru dan pegawai peduli dengan keberadaan orang tua siswa yang sangat membantu dalam proses belajar mengajar yang berlangsung selama di rumah ini. Para orang tua siswa pada saat ini adalah orang tua sekaligus guru bagi anak-anak didik yang biasa mereka ajar di kelasnya.

Berikan laporan-laporan perkembangan anak didik mereka dengan tugas-tugas yang diberikan selama di rumah. Sekecil apapun tugas yang diberikan, tentu harus diberi nilai, baik dalam bentuk angka-angka atau dalam bentuk apresiasi lainnya.

Cari informasi lebih mendalam ketika ada orang tua siswa yang lama tidak berkabar atau anaknya tidak melaporkan tugas-tugas mereka. Jangan-jangan mereka memang benar-benar membutuhkan uluran tangan semuanya untuk meringankan beban mereka.

Jangan lupa, guru atau pegawai juga tetap bersinergi dengan lembaga pendidikan mereka sendiri, dengan ikut memutar perekonomian lembaganya, beli produk-produk lembaga tersebut, yakinlah gaji yang diterima setiap bulan adalah salah satu hasil dari putaran ekonomi yang dihasilkannya. Jangan biarkan rupiah-rupiah Anda diputar oleh orang lain yang kadang menjadi 'musuh' dalam hidup dan kehidupan kita.

Ketiga, bagi lembaga pendidikan. Ini memang beban yang sangat berat. Maka diperlukan lompatan-lompatan ide, cara, dan upaya agar lembaga ini bisa memutar roda perekonomian untuk menghidupi lembaga pendidikan yang tentulah dahulu sangat berat ketika merintisnya. Bangun komunikasi dengan guru, pegawai, orang tua siswa, atau lembaga-lembaga pemerintah atau swasta agar terjalin komunikasi yang bagus dan tentu dengan jalinan tersebut memudahkan lembaga pendidikan ini mampu bertahan di tengah ketidak pastian ini.

Ajak sebanyak mungkin orang-orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan yang dikelola untuk memutarkan roda perekonomian yang dimiki. Jangan sampai justru lembaga pendidikan ini akan digulung oleh ego-ego dari semua civitas akademis karena enggan menghidupkan roda ekonomi di lembaga ini.

Belilah produk-produk dari hasil lembaga pendidikan yang anak-anak kita berada di dalamnya. Ubah mindset kita, bahwa kalau bukan kita yang menghidupkan ekonomi lembaga pendidikan tersebut siapa lagi?

Yakinlah, pandemi ini adalah cara Allah mendidik kita semua, inilah yang dinamakan Tarbiyah Robbaniyah  bagi hidup dan kehidupan kita. Semoga tarbiyah ini akan terus berjalan selamanya. Bukan pada saat pandemi ini masih ada.

TMT