Kebencian Itu Luruh Di Ujung Hidayah⁣⁣

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣⁣

Richard “Mac” McKinney. Keyakinannya bahwa seburuk-buruk agama adalah Islam sehingga harus dihapuskan dari muka bumi mengantarkan ia untuk memilih bergabung dengan korps marinir. Ia memiliki keyakinan kuat bahwa menjadi tantara adalah jalan mulia untuk menyelamatkan manusia, menyelamatkan orang-orang yang seagama dengannya, dari ajaran Islam. ⁣⁣
⁣⁣
Selama 25 tahun menjalani tugas kemiliteran, Mac telah membunuh sangat banyak muslim tanpa alasan khusus. Setiap kali membunuh satu orang yang ia gambarkan sebagai musuh, ia mengabadikan dengan tatoo kecil berbentuk airmata di lengannya. Tatoo yang membuatnya harus menitikkan sedikit airmata karena menahan sakit. Ia berhenti membuat tatoo pada angka ke-26. Tidak ada yang lebih kuat untuk mendorongnya melakukan itu semua kecuali karena kebenciannya kepada Islam dan keyakinan yang mengakar bahwa Islam itu membahayakan manusia.⁣⁣
⁣⁣
Berhenti dari karier kemiliteran karena memang sudah waktunya pensiun, tidak memadamkan keinginannya untuk melakukan “tugas mulia” menyelamatkan manusia dari Islam. Sedemikian besar kebenciannya sehingga tidak segan ia mengekspresikan secara sangat terbuka hingga bahkan berteriak, semisal saat melihat seorang perempuan mengenai cadar. Istri dan anak perempuannya bahkan merasa sangat tidak nyaman dengan perilakunya; perilaku yang lahir dari sikap sangat kuat dalam dirinya.⁣⁣
⁣⁣
Usia kian bertambah. Ia merasa harus berbuat sesuatu yang besar. Pengalamannya di militer memudahkan dia untuk merakit bom dengan daya ledak tinggi. Ia pun melakukan dengan cermat dan mengongkosi dengan uangnya sendiri seluruh keperluan untuk melaksanakan missinya; missi yang sangat ditentang oleh istrinya sampai-sampai mengancam akan melaporkan Mac ke FBI. Tetapi Mac tidak peduli. Ia memang telah mempersiapkan diri untuk masuk penjara sebagai harga dari keyakinan yang dipeganginya sejak muda, keyakinan yang membuatnya sangat terobsesi untuk bisa seperti Rambo. Ia tetap kuat dengan tekadnya melaksanakan apa yang disebutnya sebagai “a final mission”, tugas terakhir, bagi negerinya. ⁣⁣
⁣⁣
“Jika saya harus berakhir di penjara dan disuntik mati, tidak masalah bagi saya," kata McKinney. "Saya pikir dengan meledakkan masjid, saya akan melakukan hal yang baik untuk negara saya... saat itu saya sedang kacau."⁣⁣
Demi missi yang diyakininya, ia siap mati.⁣
⁣⁣
Maka, hari itu pun ia mendatangi Islamic Center of Muncie. Tepat saat ia masuk, seorang laki-laki di masjid itu menyambutnya dengan sangat hangat. Penuh keramahan. Sambutan yang membuatnya terkejut karena benar-benar bertentangan dengan anggapannya selama ini. Laki-laki muslim itu bertanya apa yang dapat ia bantu, dan Mac pun menyatakan ia belajar Islam. Maka hari itu, Richard “Mac” McKinney mulai belajar Islam. Ia juga memperoleh hadiah Al-Qur’an.⁣⁣
⁣⁣
Esoknya ia datang lagi. Setiap hari. Selama satu sampai dua jam sehari ia mengkhususkan waktu datang ke masjid di Islamic Center of Muncie untuk belajar Islam. Tepat 2 bulan kemudian, pada bulan September 2009, Richard “Mac” McKinney mengikrarkan syahadat dan mengganti namanya menjadi Omar Saeed Ibn Mac (‘Umar Sa’id ibn Mac). Kelak tiga tahun setelah bersyahadat, Omar Mac menjadi presiden di Islamic Center of Muncie, semacam ketua umum takmir. Ia pun menjadi imam di masjid yang dulu ia ingin hancurkan dengan bom.⁣⁣
⁣⁣
Kerasnya kebencian Richard McKinney kepada Islam dan gigihnya perjuangan dakwah Omar Saeed ibn Mac (namanya sesudah muslim) setelah bersyahadat, mengingatkan kita pada sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hibban dan lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda:⁣⁣
⁣⁣
تَجِدُوْنَ النَّاسَ مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوْا، وَتَجِدُوْنَ خِيَارَ النَّاسِ فِي هَذَا الشَّأْنِ أَشَدَّهُمْ لَهُ كَرَاهِيَّةً، وَتَجِدُوْنَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ⁣⁣
⁣⁣
“Kalian mendapati manusia itu seperti barang-barang tambang. Orang-orang pilihan (mulia) pada masa jahiliah adalah orang-orang yang mulia pada masa Islam jika mereka faqih (benar-benar memahami agama ini). Kalian mendapati manusia pilihan dalam hal ini adalah orang yang (pada mulanya sebelum Islam) paling keras kebenciannya kepada agama ini. Dan kalian mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua; yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah lain pula." (Muttafaq Alaihi).⁣⁣
⁣⁣
Ada pelajaran sangat menarik di sini yang mengingatkan kita pada hadis lain bermiripan awalannya, tetapi bukan waktunya sekarang untuk membahas. Saya hanya ingin menggaris-bawahi mengenai apakah yang jika di saat jahiliyah ia emas dan sesudah Islam ia emas juga? Karakter. Jika seseorang benar-benar kuat pembelaannya kepada keyakinannya –meskipun itu salah—maka sesudah Islam akan kuat pula kegigihannya berjuang dan mengikatkan diri dengan prinsip-prinsip yang ada pada keyakinannya itu. Sangat berbeda dengan orang yang kebaikan itu hanya menjadi topeng. Bukan karakter.⁣⁣
⁣⁣
---
Diolah dari berbagai sumber. Hadis lebih lengkap dapat dibaca di https://www.dorar.net/hadith/sharh/26202
Mohammad Fauzil Adhim⁣⁣, Penulis Buku-buku Parenting

Berbuat Baik Kepada Kedua Orangtua⁣

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

Allah ‘Azza wa Jalla beri keistimewaan kepada orangtua. Padanya melekat kemuliaan sebagai orangtua terhadap anaknya, bahkan sekalipun beliau berdua sangat besar kedurhakaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka kepada kedua orangtua, Allah Ta’ala wajibkan untuk berbicara dengan perkataan yang memuliakan (qaulan karima) dan tidak boleh menyakiti perasaannya meskipun hanya dengan berkata “uff” atau “ah” yang menunjukkan kejengkelan atau rasa tidak suka.⁣
Perbuatan buruk itu bertingkat-tingkat. Tetapi bahkan sampai pada tingkatan ketika orangtua melakukan dosa yang paling buruk, yakni memaksakan anaknya mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla —yang ini merupakan dosa tak terampuni— tetap saja kita diperintahkan untuk bergaul dengan keduanya selama di dunia ini dengan sangat baik. Adapun terhadap perintah yang bertentangan dengan syari’at, kita tidak mentaatinya.⁣
Jadi, sangat berbeda antara birrul walidain dengan taat kepada orangtua. Bentuk birrul walidain bisa saja berupa ketaatan, sejauh ketaatan itu tidak dalam urusan yang diharamkan oleh agama ini. Tetapi bahkan ketika kita tidak boleh mentaati perintah kedua orangtua pun, Allah Ta’ala tetap wajibkan untuk berbuat baik dan memperlakukan kedua orangtua dengan sebaik-baik pergaulan. Apalagi jika hanya berurusan dengan perkara-perkara mubah atau makruh yang tidak ada dosa di dalamnya. Ini bukan meremehkan perkara makruh, tetapi untuk membandingkan derajat keharusan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain).⁣
Olahraga tinju bukan termasuk perbuatan dosa. Tetap nenek-nenek ingin latihan tinju, setahu saya sangat tidak lumrah. Terlebih jika sebelumnya tidak pernah bertinju. Maka pagi ini saya termangu membayangkan ketika melihat Nancy Vanderstraeten, seorang nenek usia 74 tahun –sebagian sumber menyebut 75 tahun—sedang menikmati tinju. Nenek asli Belgia yang semenjak usia 32 tahun sudah menetap di Antalya Turki ini menghabiskan waktu 1,5 jam selama 3 hari sepekan untuk latihan tinju.⁣
"Tinju adalah minat saya. Saya sangat menyukainya. Saya tidak pernah ketinggalan waktu pelatihan. Saya bangun dengan bahagia di pagi hari, saya bersemangat untuk datang ke aula. Saya ingin berlatih setiap hari," kata Nancy Vanderstraeten. Menurut Naciye –panggilan akrabnya— latihan tinju ia lakukan untuk menyembuhkan penyakit Parkinson yang ia alami.⁣
Saya tidak berbicara mengenai pilihan Naciye. Tetapi saya hanya ingin mengambil pelajaran tentang birrul walidain yang salah satu bagian pentingnya adalah berbicara dengan qaulan karima. Khusus mengenai yang terakhir ini, in sya Allah besok malam kita akan membahasnya dalam Kajian Bulanan FKM.

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku

Falsafah Telur

 

Oleh : Ustadz Sholih Hasyim, Lc.

Kebaikan bisa saja lahir dari keterpaksaan, meskipun akan lebih terasa nyaman jika kebaikan itu hadir bersama kesadaran. Dari sebutir telur kita bisa mengambil falsafah untuk menerjemahkan penggal kalimat di atas.

Di dalam telur tersimpan benih kehidupan, maka ia dilindungi cangkang yang keras. Jika sedikit saja cangkang retak atau pecah yang disebabkan faktor dari luar, akan membuat telur gagal menetas. Tidak ada kehidupan yang muncul. Sebaliknya jika cangkang itu pecah karena faktor dari dalam, karena memang waktunya menetas, akan melahirkan satu makhluk hidup baru yang siap berkembang.

Sobat, begitu juga dengan diri kita. Jika nilai-nilai kebaikan universal seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, cinta kebersihan dan lainnya kita lakukan karena keterpaksaan atau rasa takut dari pihak luar. Dari guru atau orang tua, misalnya. Maka kebaikan-kebaikan itu akan terasa berat untuk dilakukan, dan mudah terhenti bila tidak ada lagi kontrol dari orang lain. Tidak memberi kesan dalam diri.

Berbeda jika kebaikan itu lahir dari kesadaran diri. Mengingat manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh. Besar kemungkinan, kebiasaan baik itu akan tetap terjaga secara konsisten. Akan melahirkan ‘kehidupan baru’ yang semakin mendekatkan diri kita kepada kesuksesan.

“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Asy Syuura [42]: 23)

Memunculkan kesadaran dari dalam diri untuk melakukan kebaikan memang tidak mudah. Butuh ilmu, keyakinan dan ikhtiar secara terus-menerus. Ilmu yang membuat seorang tahu kemanfaatan dari amal yang dilakukan. Keyakinan akan membentuk jiwa yang percaya kepada diri sendiri. Tidak mudah tergerus oleh pergaulan yang mengajak kepada kerusakan. Sedang ikhtiar yang konsisten akan mengubah kebiasaan menjadi akhlak. Sebab memang ada kalanya pembentukan akhlak harus dipaksa.

Sobat, hari ini kita telah belajar falsafah dari sebutir telur. Semoga membukakan hati kita untuk lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan yang lahir dari kesadaran diri. Allah telah berjanji, setiap kebaikan, akan dibalas dengan kebaikan.

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahmaan [55]: 60)

Ustadz Sholih Hasyim, Lc., Anggota DPP Hidayatullah

Jauhi Negativity Bias untuk Hidup yang Lebih Berkualitas

Oleh : Jamil Azzaini

Pernahkah Anda merasa sudah berbuat banyak kebaikan kepada seseorang namun yang diingat oleh orang tersebut justeru keburukan yang Anda lakukan? Padahal boleh jadi, keburukan yang Anda lakukan hanya 3 kali sementara Anda sudah berbuat kebaikan lebih dari 10 kali. Kondisi ini disebut dengan Negativity bias.

Negativity bias adalah fenomena dimana seseorang lebih mengingat pengalaman buruk dibandingkan pengalaman baik. Negativity bias ini biasanya muncul karena seseorang merasa terancam, mengalami ketakutan dan kehilangan sesuatu. Perasaaan ini membuat seseorang menjadi over thinking, cemas, takut, insecure dan bahkan over protective (Anjas Permata, 2020). Negativity bias yang dipelihara akan merusak hidup seseorang.

Seorang ahli bernama Muller Kizler melakukan penelitian tentang negativity bias ini. Sang peneliti menemukan bahwa ketika seseorang sedang berada pada kondisi negativity bias maka rasa kepercayaan diri dan rasa keberhargaan dirinya menjadi terancam. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa merusak hidup orang tersebut.

Bagaimana agar negativity bias ini tidak merusak hidup kita? Tergantung situasinya. Kita sebagai pelaku atau sebagai korban. Apabila kita sebagai pelaku atau dengan kata lain kita pernah berbuat negatif kepada seseorang maka bersegeralah berbuat kebaikan sedikitnya lima kebaikan kepada orang tersebut (Afzan, 2020). Ya, 1 keburukan segera diiringi dengan 5 kebaikan agar negativity bias tidak berdampak negatif . Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, negativity bias akan semakin melemah dan menghilang.

Bagaimana apabila kita menjadi “korban” atau kita yang merasa terkena negativity bias? Tips berikut semoga bisa membantu Anda.

Pertama, sadari bahwa kita sedang dalam kondisi negativity bias. Kita perlu mengenali beberapa tanda bahwa kita sedang mengalami negativity bias, diantaranya muncul emosi marah, jengkel, cemburu, merasa terancam, takut atau kita kehilangan sesuatu.

Kedua, ambil hikmah dan pelajaran dari kejadian tersebut serta lihatlah sisi positipnya. Setiap kejadian negatif pasti ada sisi positif dan pembelajaran yang bisa kita petik, temukan dan jadikan “bahan bakar” untuk kita terus bergerak maju.

Ketiga, bersyukur atas berbagai kebaikan yang telah diberikan orang tersebut kepada kita.  Ingat pula berbagai pengalaman indah yang pernah kita rasakan bersama orang tersebut. Menyadari bahwa orang tersebut manusia biasa yang juga berpeluang untuk keliru seperti halnya kita.

Saat negativity bias bisa kita kendalikan, hidup kita akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan rasa syukur yang berlimpah. Dengan meningkatnya rasa bahagia dan rasa syukur ini kehidupan kita semakin indah dijalani, kehidupan kita semakin berkualitas dan layak kita rayakan setiap waktu. Cobalah.

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com

Ruang Kosong Muslimah Kita

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Hari ini ketika pengetahuan semakin mudah didapat, yang membaca semakin banyak, maka marilah kita ingat sejenak hadis tentang zaman fitnah. Inilah masa penghafal Al-Qur’annya semakin banyak, tetapi fuqaha-nya semakin sedikit. Kian banyak yang membaca dan menyampaikan berbagai hal yang terasa seperti pengetahuan agama, tetapi ruhnya semakin hilang, tafaqquhnya kian rendah. Di masa itu pula penceramah semakin banyak, tetapi fuqaha semakin sedikit.

Jika kita memperhatikan, istilah faqih senantiasa berkaitan dengan kematangan memahami agama dan kesungguhan tekad untuk memegangi agama ini. Maka akan kian terasa pentingnya mengingat tanda lain dari zaman fitnah, yakni kian banyaknya orang berlomba-lomba mengejar dunia dengan amal akhirat. Pada saat yang sama kita mengingat keadaan memilukan di saat itu, yakni di antara sedikitnya fuqaha itu, sebagian besar tafaqquh fiddien bukan untuk kemuliaan dan kehormatan agama, tetapi demi memungut remah-remah dunia.

Maka berbicara tentang muslimah, tentang menjadi orangtua maupun guru yang mendidik anak-anak kita di masa thufulah, ada ruang yang rasanya dibiarkan kosong, hampa tanpa penghuni. Padahal inilah masa terpenting, masa yang sangat menentukan agar anak kita syakir saat memasuki masa mumayyiz. Dan itu berarti para ibu dan maupun guru benar-benar perlu mempelajari ilmu mendidik anak yang kuat akarnya, jelas pijakannya dan tegak kokoh prinsipnya.

Hari ini, menyedihkan sekali rasanya ketika mendengar perkataan yang begitu merdu terdengar, “Jadi orangtua maupun guru PAUD itu jangan hanya memahami agama. Perlu juga menguasai teknik-teknik parenting yang kreatif dan kekinian.”

Ungkapan semacam ini seolah agama tak memadai. Pada saat yang sama seakan-akan sudah sangat sempurna menanamkan agama ini kepada diri anak. Padahal masih sangat banyak orangtua maupun pendidik di PAUD yang bahkan tidak dapat membedakan antara ikhlas dan ridha.

Mengapa masa thufulah ini sangat mendasar? Mari kita ingat sejenak sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يُعرب عَنْهُ لِسَانُهُ فَإِذَا عَبَّرَ عَنْهُ لِسَانُهُ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Setiap anak lahir di atas fithrah, sehingga lisannya dapat mengutarakan (keinginan, perasan, gagasan) dengan lisannya. Apabila lisannya telah dapat mengungkapkan kemauan dirinya, maka adakalanya ia menjadi syakir (orang yang bersyukur; Islam), dan adakalanya ia menjadi orang yang pengingkar (kafir).” (HR. Ahmad).

Di fase mana anak “إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا” (adakalanya ia menjadi syakir (orang yang bersyukur; Islam), dan adakalanya ia menjadi orang yang pengingkar) tersebut? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah sebagaimana dinukil oleh Syaikh ‘Ali ibn ‘Abdullah ibn ‘Ali Al-Qarni dalam Al-Fithrah: Haqiiqatuha wa Madzaahibunnaas Fiiha menunjukkan bahwa ini terjadi ketika anak sudah mumayyiz, yang anak-anak itu tetap lurus dan berada di atas keimanan ataukah menunjukkan arah menyimpang dari fithrah disebabkan oleh penggunaan akal mereka.

Mumayyiz adalah masa ketika kita perlu mengevaluasi anak maupun diri kita. Tetapi kapan masa yang sangat menentukan untuk menyiapkan anak kita agar di masa ketika ia mulai diperintahkan untuk mulai mendirikan shalat, sungguh ia menjadi syakir? Bukan condong kepada ingkar? Masa sangat strategis itu qabla mumayyiz.

Maka membicarakan tentang apa yang sangat penting bagi muslimah, cukuplah kita merasa sedih jika madrasah pertama anak-anak kita itu berkecenderungan pada atba’u kulli naaiq (mengikuti setiap yang berteriak, yang sedang viral) dan bukan menjadi muta’allim ‘alaa sabilinnajah (penuntut ilmu di atas jalan keselamatan). Cukuplah kita bersedih apabila kemauan untuk berbenah tidak seiring untuk semakin idealis dan ideologis. Hanya bersibuk dengan isu populis, termasuk dalam soal parenting maupun keluarga secara umum.

Hari ini, kita memerlukan upaya serius yang benar-benar menggali panduan dari agama ini. Bukan mengambil serampangan dari apa saja yang sedang ramai dibicarakan, lalu mencomot ayat maupun hadis sebagai pembenaran. Apalagi jika meninggikan apa yang dianggap ilmiah, padahal menurut psikologi pun bukan termasuk ilmu (pseudoscience), sementara kepada agama ini merasa cukup dan bahkan merasa lebih dari cukup.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator

Dua Faktor Pemutus Mata Rantai Kezaliman : Menjadi Shalih & Mushlih

Oleh : Ustadz Sholih Hasyim

Terdapat dua dosa yang disegerakan balasannya di dunia ini, yaitu melakukan praktek kezaliman (al baghyu) dan durhaka kepada orang tua ('uq uqul walidain).
اِثنانِ يُعَجِّلُهما اللهُ في الدنيا البَغيُ وَ عُقوقُ الوالِدَيْنِ
Dua dosa yang dipercepat balasannya di dunia ini, yaitu berlaku zalim dan durhaka kepada orang tua (HR. Thabrani dari Ibnu Asakirah)..
Dalam upaya menghentikan/memutus mata rantai kezaliman, marilah kita merujuk taujih Allah Ta’ala pada surat Al Anam : 129 berikut ini, yaitu menghentikan segala bentuk praktek kezaliman dari diri kita sendiri (ishlahun nafs), berikutnya kita melangkah membuat shalih orang lain (mushlih). Untuk menjadi shalih linafsihi tidak mudah dan tidak sederhana. Lebih sulit lagi menjadi shalih lighoirihi. Jalan yang terakhir ini beresiko tidak ringan..
وَكَذَلِكَ *نُوَلِّي* بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal (maksiat) yang mereka lakukan” (QS Al An’am:129).
Tentang makna *‘nuwalli’* yang ada dalam ayat di atas ada empat pendapat ahli tafsir (mufassir).
Pertama, Kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai kekasih bagi sebagian yang lain. Pendapat ini diriwayatkan oleh Said dari Qotadah.
Kedua, Sebagian orang yang zalim itu kami jadikan mengiringi yang lain di neraka disebabkan amal yang mereka lakukan. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ma’mar dari Qotadah.
Ketiga, Kami jadikan orang yang zalim sebagai penguasa bagi zalim yang lain sebagai hukuman atas perbuatannya. Pendapat ini diungkapkan oleh Ibnu Zaid.
Keempat, Kami pasrahkan sebagian orang yang zalim kepada yang lain dalam artian tidak kami tolong. Pendapat ini disebutkan oleh Imam al Mawardi.
Sedangkan yang di maksud dengan ‘amal’ dalam ayat di atas adalah berbagai bentuk maksiat dan kezaliman. (Zadul Masir fi ‘Ilmi Tafsir karya Ibnul Jauzi 3/124, cetakan ketiga Al Maktab Al Islamy tahun 1984/1404).
Ibnu ‘Asyur mengatakan,
“Ayat tersebut bisa dipahami mencakup seluruh orang yang zalim. Sehingga ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah akan menjadikan seorang yang zalim akan dikuasai dan dizalimi oleh orang selainnya. Praktek kezaliman itu beranak-pinak (mengajak kezaliman berikutnya). Inilah penafsiran yang diberikan oleh Abdullah bin Zubair, salah seorang shahabat Nabi, saat beliau berkuasa di Mekkah. Ketika Ibnu Zubair mendengar bahwa Abdul Malik bin Marwan membunuh ‘Amr bin Said al Asydaq setelah ‘Amr memberontak terhadap Abdul Malik, beliau naik ke atas mimbar.
Di sana Ibnu Zubair berkata,
“Ketahuilah bahwa Ibnu Zarqa’ - yaitu Abdul Malik bin Marwan. Marwan diberi gelar Azraq dan Zarqa’ yang berarti biru karena kedua matanya berwarna biru- telah membunuh Lathim Syaithan (orang yang ditampar oleh setan yaitu ‘Amr bin Said)” kemudian Ibnu Zubair membaca ayat di atas.
Lathim Syaithon adalah gelar ejekan yang diberikan untuk Amr bin Said disebabkan dua ujung mulutnya tidak simetris. Banyak pihak yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan setan pernah menamparnya.
Oleh karena itu, ada orang yang mengatakan bahwa jika orang yang zalim itu tidak menghentikan kezalimannya maka dia akan ditindas oleh orang zalim yang lain.
Fakhruddin Ar Razi mengatakan,
“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan” (Tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu Asyur 8/74 cetakan Dar Tunisiah 1984).
Dalam Tafsirnya yang sebagiannya telah dikutip oleh Ibnu Asyur di atas, Ar Razi mengatakan, “Ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan jika rakyat suatu negara itu zalim (baca : gemar maksiat, berzina, korupsi dll) maka Allah akan mengangkat untuk mereka penguasa yang zalim semisal mereka. Jika mereka ingin terbebas dari kezaliman penguasa yang zalim maka hendaknya mereka juga meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan.
“Ayat di atas juga menunjukkan bahwa di tengah-tengah suatu komunitas manusia harus ada yang menjadi penguasa. Jika Allah tidak membiarkan orang-orang yang zalim tanpa pemimpin meski juga sesama orang yang zalim maka tentu Allah tidak akan membiarkan orang-orang shalih tanpa pemimpin yang mendorong rakyatnya agar semakin shaleh dan beradab.
Ali bin Abi Thalib berkata,
لا يَصْلحُ للِنّاسِ إلاَّ أمِير عَادِل أوْ جَائِر ، فأنكَروا قَوْلَه : أوْجائر فقال : نعَم يؤمن السّبيل ، ويمكن من إقامَة الصلوات ، وحج البَيْت .
“Tidaklah baik bagi suatu masyarakat jika tanpa pemimpin, baik dia adalah orang yang shalih ataupun orang yang zalim”.
Ada yang menyanggah beliau terkait dengan kalimat ‘ataupun orang yang zalim’. Ali menjelaskan, ; “Memang dengan sebab penguasa yang zalim jalan-jalan terasa aman, rakyat bisa dengan tenang mengerjakan shalat dan berhaji ke Ka’bah”. (Tafsir Al Kabir wa Mafatih Al Ghaib karya Muhammad ar Razi 13/204 cetakan Dar al Fikr 1981/1401).
Sudahkah kita semua bertaubat (kembali kepada Allah) dan meninggalkan berbagai bentuk maksiat dan penyimpangan fitrah dan kezhaliman baik pada skala kehidupan infiradi, usrah, dan jama'i dan secara berkesinambungan melakukan kerja-kerja ishlahiyyah dan khidmah tarbawiyyah untuk mempersiapkan generasi pelanjut (menjadi murabbi, mudarris, mu'allim, mursyid, muaddib, muzakki), hingga pada saatnya dan pada momentum yang tepat, Allah hadirkan pemimpin yang adil ?. Sungguh, masa depan kita tergantung pada kiprah kita mempersiapkan generasi penerus. Yaitu, dengan bermujahadah memaksimal peran, fungsi, dan kontribusi murabbi..
Allah menghendaki kita kembali kepada-Nya pada surat An-Nisa' Ayat 27
وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا
Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).
Yang perlu diberi titik tekan disini bahwa dimanapun kelahiran seorang pemimpin adalah foto copy dari karakter mayoritas bangsanya. Karena, pada umumnya masyarakat itu paternalistik (patuh kepada panutannya). Jika kita bermujahadah menjadi rajulun shalih, kelak akan lahir pemimpin semisal kita. Demikian pula berlaku sebaliknya..
Sebagaimana ungkapan pujangga Arab :
الرَّعِيَّة على دِين مُلكِه
Rakyat itu berbanding lurus dengan agama rajanya.
Multi Talenta Kiprah Murabbi
Langkah berikutnya, upaya mendasar yang sedang kita ikhtiarkan secara lahir dan batin adalah memformat diri ini menjadi murabbi. Sebuah posisi dan profesi yang mulia. Mewarisi tugas kenabian dan kerasulan. Meniupkan ruh di jasad umat. Mempertemukan umat dengan sumber energinya (keimanannya)..
Allah memberikan taujih pada Surat Asy-Syura Ayat 52
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Kita menemukan definisi yang tidak dijumpai pada dunia pendidikan, yang hanya menggunakan tiga kata :
فَنُّ تَشْكِيْلِ الاِنْسَانِ
Seni memformat manusia.
Merujuk definisi diatas dapat dipahami bahwa pendidikan pasti melakukan pengajaran. Dan aktifitas mengajar tidak identik dengan mendidik. Maka, pendidikan yang benar adalah cara interaksi yang benar dengan manusia dengan segala potensinya. Menata ulang fikrah, ruh, dan pisik manusia secara terpadu.
Dalam konteks pendidikan islam pendidik di sebut murabbi, mu’allim, muaddib, mudarris, muzakki, dan ustadz. Istilah yang digunakan menggambarkan peran dan fungsi yang diembannya. Maka, tidak perlu ada dikotomi dengan beragam terma tersebut.
1. Murabbi
Istilah murabbi merupakan bentuk (sighah) al-ism al fail yang berakar dari tiga kata.
Pertama, berasal dari kata raba, yarbu : رَبَى - يَرْبُو -, yang artinya zada - زاد - dan namaa -نمى - ( bertambah dan tumbuh ). Contoh kalimat dapat di kemukakan, artinya, saya menumbuhkannya.
Kedua, berasal dari kata rabiya, yarba - ربِيَ - يربَى - yang mempunyai makna tumbuh (nasya’) dan menjadi besar ( tarara’).
Ketiga, berasal dari kata rabba , yarubbu - رَبّ يرُبُّ - yang artinya, memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara. Kata kerja rabba semenjak masa Rasulullah sudah di kenal dalam ayat al-Qur’an dan Hadits nabi.
Firman Allah SWT :
وقُل رَبِّ ارْحَمْهُما كَما رَبّيانِي صَغِيرا
“Dan ucapkanlah Wahai Tuhanku, sayangilah mereka berdua, sebagaimana ia telah menyayangiku semenjak kecil. “ (QS. al-Isra’ (17) : 24)
Dalam bentuk kata benda, kata rabba digunakan untuk Tuhan, hal tersebut karena tuhan juga besifat menciptakan, mendidik, mengasuh, memelihara. Setelah diciptakan, tidak dibiarkan tanpa arah..
Firman Allah SWT:
الحَمدُ لله رَبِّ العالمِين
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. ( QS. al-Fatihah : 2).
Dan Firman Allah pada Surat Ali 'Imran Ayat 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata) : "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
Oleh karena itu istilah murabbi sebagai pendidik mengandung makna yang luas, seluas medan tarbiyah yang akan diterjuninya, yaitu:
1. Mendidik peserta didik agar kemampuannya terus meningkat.
2. Memberikan bantuan terhadap peserta didik untuk mengembangkan potesnsinya.
3. Meningkatkan kemampuan pesrta didik dari keadaan yang kurang dewasa menjadi dewasa dalam pola pikir, wawasan, dan sebagainya.
4. Menghimpun semua komponen-komponen pendidikan yang dapat mengsukseskan pendidikan.
5. Memobilisasi pertumbuhan dan perkembangan anak.
6. Bertanggung jawab terhadap proses pendidikan anak.
7. Memperbaiki sikap dan tingkah laku anak dari yang tidak baik mnjadi yang lebih baik.
8. Rasa kasih sayang mengasuh peserta didik, sebagaimana orang tua mengasuh anak-anak kandungnya.
9. Pendidik memiliki wewenang, kehormatan, kekuasaaan, terhadap pengembangan kepribadian anak.
10. Pendidik merupakan orang tua kedua setelah orang tuanya di rumah yang berhak atas petumbuhan dan perkembangan si anak.
Secara ringkas terma murabbi sebagai pendidik mengandung empat tugas utama yaitu:
1. Memlihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa.
2. Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3. Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4. Melaksanakan pendidikan secara bertahap (tadrijiyyan).
2. Mu’allim
Mu’allim berasal dari al-fi’l al-madhi ‘alama, mudhari’nya yu’allimu dan mashdarnya al-ta’lim. - علّم - يعلّمُ - التّعلِيم - . Artinya, telah mengajar, sedang mengajar, dan pengajaran. Kata mu’allim memiliki arti pengajar atau orang yang mengajar. Istilah mu’allim sebagai pendidik dalam Hadist Rasulullah adalah kata yang paling umum di kenal dan banyak di temukan. Mu’allim merupakan al-ism al-fa’il dari ‘alama yang artinya orang yang mengajar. Dalam bentuk tsulasi mujarrad, mashdar dari ‘alima adalah ‘ilmun, yang sering di pakai dalam bahasa indonesia disebut ilmu.
Dalam proses pendidikan istilah pendidikan yang kedua yang di kenal sesudah al-tarbiyyat adalah al-ta’lim. Rasyid Ridha, mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu.
Firman Allah SWT pada Surat Al-Baqarah : 151
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (QS. al Baqarah (2) : 151).
Berdasarkan ayat di atas, maka mu’allim adalah orang yang mampu untuk merekonstruksi bangunan ilmu secara sistematis dalam pemikiran peserta didik dalam bentuk ide, wawasan, kecakapan, dan sebagainya, yang ada kaitannya dengan hakekat sesuatu. Mu’allim adalah orang yang memiliki kemampuan unggul di bandingkan dengan peserta didik, yang dengannya ia di percaya menghantarkan peserta didik ke arah kesempurnaan dan kemandirian.
3. Muaddib
Mu’addib merupakan al-ism al-fa’il dari madhinya addaba. Addaba artinya mendidik, sementara mu’addib artinya orang yang mendidik atau pendidik. Dalam wazan fi’il tsulasi mujarrad, mashdar aduba adalah adaban artinya sopan, berbudi baik. Al-adabu artinya kesopanan. Adapun mashdar dari addaba adalah ta’dib, yang artinya pendidikan.
Secara bahasa mu’addib merupakan bentukan mashdar dari kata addaba yang berarti memberi adab, mendidik. Adab dalam kehidupan sehari-hari sering di artikan tata krama, sopan santun, akhlak, budi pekerti. Anak yang beradab biasanya sering di pahami sebagai anak yang sopan yang mempunyai tingkah laku yang terpuji.
Dalam kamus bahasa arab, Al-mu’jam al-wasith istillah mu’addib mempunya makna dasar sebagai berikut :
1. Ta’dib berasal dri kata “aduba-ya’dubu”- ادُب - يادُب - yang berrti melatih, mendisiplinkan diri untuk berprilaku yang baik dan sopan santun.
2. Kata dasarnya “adaba-yadibu” - ادَبَ - يادِبُ - yang artinya mengadakan pesta atau perjamuan yang berarti berbuat dan berprilaku sopan.
3. Addaba mengandung pengertian mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin, dan rmemberikan tindakan.
Dalam kitab-kitab hadist dan kitab lain-lainya tentang agama islam, pengertian adab adalah etiket atau tata cara yang baik dalam melakukan suatu pekerjaan, baik ibadah ataupun mu’amalah. Karena itu ulama menggariskan adab—adab tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Hadist. Adab tertentu itu misalnya, adab memberikan salam, minta izin untuk memasuki sebuah rumah, adab berjabat tangan dan berpelukan, adab hendak tidur, adab bangun tidur, adab berwudhu, dan masih bnyak adab-adab yang lainnya yang tdak bsa di sebutkan satu persatu, karena setiap pekerjaan kita sllu didasari dengan adab.
Berdasarkan tinjauan etimologi di atas, maka secara terminologi mu’addib adalah seorang pendidik yang bertugas untuk menciptakan suasana belajar yang dapat menggerakkan peserta didik untuk berprilaku atau beradab sesuai dengan norma-norma, tata susila, dan sopan santun yang berlaku dalam masyarakat.
4. Mudarris
Secara etimologi mudarris berasal dari bahsa arab, yaitu shigat al-ism al-fa’il dari al-fi’il al-madhi darrasa - دَرَّسَ - يُدَرِّسُ - التَّدْرِيس - . Darrasa artinya mengajar sementara mudarris artinya guru, pengajar. Kata yang mirip dengan mudarris adalah al-midras - ُالمِدْرَاس - adalah suatu rumah untuk mempelajari al-Qur’an, sama halnya dengan al-midras orang Yahudi, adalah suatu tempat untuk mempelajari kitab mereka. Dalam bentuk al-fi’il al-madhi tsulasi mujarrad, mudarris berasal dari kata darasa, mudhari’nya yadrusu mashdarnya darsan/dirasatan, artinya telah mempelajari, sedang/akan mempelajari dan pelajaran. Mashdar dari darasa adalah durusan, yang artinya hilang, hapus, buruk.
Secara terminologi mudarris adalah orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih ketrampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa mudarris adalah orang yang mengajarkan suatu ilmu kepada orang lain dengan metode-metode tertentu dalam membangkitkan usaha peserta didik agar sadar dalam upaya meningkatkan potensinya. Dalam bahasa yang lebih ringkas mudarris adalah orang yang dipercayakan sebagai guru dalam upaya membelajarkan peserta didik.
5. Mursyid.
Mursyid adalah istilah lain yang di pergunakan untuk panggilan pendidik dalam pendidikan islam. Secara etimologi istilah mursyid berasal dari bahasa arab dalam bentuk al-ism al- ja’il dari al-fi’al al-madhi rassyada artinya ‘allama; mengajar. Sementara mursyid memiliki persamaan makna dengan kata al-dalil dan mu’allim, yang artinya penunjuk, pemimpin, pengajar, dan istruktur. Dalam bentuk tsulasi mujarrad mashdar nya adalah rusydan/ rasyadan, artinya balaghah rasyadu ( telah sampai kedewasaanya). Al-rusydu juga mempunyai arti al-‘aqlu, yaitu akal, fikiran,kebenaran, kesadaran, keinsyafan. Al-irsyad sama dengan al-dilalah, al-ta’lim, al-masyurah artinya petunjuk, pengajaran,nasehat, pendapat, pertimbangan, dan petunjuk.
Berdasarkan pengertian secara etimologi diatas, maka mursyid secara terminologi adalah merupakan salah satu sebutan pendidik/guru dalam pendidikan islam yang bertugas untuk membimbing peserta didik agar ia mampu menggunakan akal fikirannya secara tepat, sehingga ia mencapai keinsyafan dan kesadaran tentang hakekat sesuatu atau mencapai kedewasaaan berfikir. Mursyid berkedudukan sebagai pemimpin, penunjuk jalan, pengarah, bagi peserta didiknya agar ia memperoleh jalan yang lurus.
6. Muzakki
Sebagaimana istilah yang di pakai untuk pendidik sebelumnya, maka muzakki juga merupakan kalimat ism dalam bahasa arab dengan shigat al-ism al-fa’il atau yang melakukan suatu perbuatan. Muzakki berasal dari al-fi’il madhi empat huruf, yaitu zakka yang artinya nama dan zakka adalah menyucikan, membersihkan, memperbaiki, dan menguatkan. Dalam bentuk kata lain terdapat juga tazakka artinya tashaddaq, yakni memberi sedekah, berzakat, menjadi baik bersih. Azzakat sama artinya dengan al-Thaharat dan Al- Shadaqat, yakni kesucian, kebersihan, shadaqat, dan zakat.
Surat Al-Jumu’ah Ayat 2
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Berdasarkan pembahasan secara bahasa di atas, maka secara istilah muzakki adalah orang yang membersihkan, mensucikan sesuatu agar ia menjadi bersih dan suci terhindar dari kotoran. Apabila di kaitkan dengan pendidikan islam, maka muzakki adalah pendidik yang bertanggung jawab untuk memelihara, membimbing, dan mengembangkan fitrah peserta didik, agar ia selalu berada dalam kondisi suci dalam keadaan ta’at kepada allah terhindar dari perbuatan yang tercela.[1]
[1] Ramayulis dan samsul nizar, filsafat., .h. 139-144

Ajukan Pertanyaan ini Setiap Bangun Tidur?

Oleh : Jamil Azzaini

Bill Gates pernah mengatakan “Kualitas hidup seseorang sangat tergantung dengan kualitas pertanyaan yang diajukan.” Sementara Steve Jobs setiap pagi selalu mengajukan pertanyaan “Jika hari ini adalah hari terakhir hidupku, akankah aku melakukan apa yang ingin aku lakukan hari ini? Jika jawabannya ‘tidak’ selama berhari-hari, maka aku tahu aku harus mengubah sesuatu.”

Belajar dari dua tokoh tersebut saya membiasakan diri mengajukan empat pertanyaan setelah bangun tidur. Tentu empat pertanyaan tersebut saya ajukan setelah saya membaca doa bangun tidur. Setelah membaca doa bangun tidur, saya tetap duduk di atas tempat tidur dan mengajukan tiga pertanyaan berikut:

Pertama, Apa yang perlu saya lakukan hari ini agar Allah swt semakin mencintai saya?

Kedua, apa yang perlu saya lakukan hari ini untuk meningkatkan kemampuan saya?

Ketiga, kebaikan apa yang perlu saya lakukan hari ini?

Keempat, hal berbeda apa yang perlu lakukan hari ini?

Setelah menjawab 4 pertanyaan tersebut dalam “dialog imajiner” di pikiran, saya kemudian turun dari tempat tidur dan meneruskan aktivitas rutin harian.

Pertanyaan pertama perlu kita ajukan karena pada hakekatnya kita semua adalah makhluk spiritual yang sedang melakukan perjalanan profesional. Pekerjaan utama kita dimuka bumi adalah berusaha agar Allah swt semakin mencintai kita, selain itu adalah pekerjaan sambilan.

Pertanyaan kedua kita ajukan agar kita selalu bertumbuh. Nilai-nilai dan keahlian yang melekat pada diri kita mampu mengikuti perkembangan zaman bahkan bisa menaklukkan perubahan yang terjadi sangat cepat, seperti saat ini.

Pertanyaan ketiga kita ajukan agar keberadaan kita memberi manfaat kepada banyak orang. Kita selalu berupaya membantu orang lain untuk menemukan solusi atas berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Kita menyuntikkan kebahagiaan kepada banyak orang, memberikan inspirasi dan menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.

Pertanyaan keempat kita ajukan agar setiap hari kita selalu melakukan hal yang baru, tidak terjebak rutinitas. Hal yang baru tersebut tidak harus sesuatu yang besar, boleh jadi sarapan yang berbeda, jalan menuju kantor yang berbeda, memperlakukan pasangan hidup secara berbeda, ngobrol dengan anggota keluarga dengan topic yang berbeda.

Dengan mengajukan empat pertanyaan ini saya merasakan banyak kebaikan yang bisa saya dapatkan setiap harinya. Semoga pengalaman saya ini menginspirasi Anda. Mau mencoba?  

Jamil Azzaini, Penulis Buku dan Motivator

Sumber : www.jamilazzaini.com

Khutbah Jumat: Mahalnya Darah Seorang Muslim

Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Hidayatullah.com | DALAM kitab Al-Kaba’air karya al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabiy atau yang sering disingkat dengan Imam Dzahabiy, terdapat daftar hitam dosa-dosa besar. Pada urutan pertama beliau menyantumkan dosa besar adalah menyekutukan Allah SWT. Syirik kepada Allah. Menyembah kepada selain Allah. Perbuatan ini merupakan dosa besar bahkan paling besarnya dosa yang dilakukan oleh seorang manusia. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang menyembah sesembahan selain Allah. Allah yang Maha Esa, hanya Allah yang berhak disembah, tiada tuhan selain Allah.

Syirik kepada Allah merupakan kezaliman terbesar dalam kehidupan seorang manusia yang melakukannya. Allah SWT berfirman :

إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13).

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Setelah menyantumkan syirik sebagai dosa besar di urutan pertama, selanjutnya Imam Adz-Dzahabiy menyebutkan daftar dosa besar yang kedua, yaitu menghilangkan nyawa manusia. Jika syirik hubungannya bersifat vertikal, dosa antara hamba dengan Tuhannya, maka menghilangkan nyawa manusia tanpa hak, adalah dosa besar yang bersifat horizontal.

Pembunuhan yang dilakukan atas dasar kebencian, di luar proses pengadilan, pembunuhan yang terjadi karena ketidaksukaan pada diri seseorang, pasti akan menyebabkan kegaduhan dan kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, Islam melarang keras aksi main hakim sendiri yang dilakukan kepada siapa saja, baik kepada orang yang dia sukai atau dia benci.

Dalam kitab Al-Kaba’air, dosa kedua ini mengandung kehinaan bagi pelakunya khususnya ketika mereka di alam akhirat. Dalam surat An-Nisaa’ ayat 93 disebutkan apa saja yang diterima oleh si pelaku pembunuhan. Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Dari ayat ini ada lima hukuman di akhirat  untuk para pembunuh

Pertama, dia dimasukkan ke dalam api neraka jahanam.  Kedua, pelakunya akan tinggal selama-lamanya di Neraka. Ketiga, mendapatkan murka Allah. Empat, jauh dari rahmat Allah, dan kelima,  dia akan mendapatkan siksa yang dahsyat nan pedih.

Tidak heran jika Rasulullah ﷺ mengkategorikan pembunuhan sebagai perbuatan yang membinasakan. Nabi ﷺ  bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan!” Lalu beliau menyebut salah satunya membunuh seorang manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkanNya.

Jama’ah Salat Jum’at yang dimuliakan Allah

Kehinaan yang akan diberikan kepada para pembunuh yang disinggung dalam kitab Al-Kaba’air bahwa dosa menghilangkan nyawa manusia yang tidak bersalah seperti dosa membunuh seluruh umat manusia di muka bumi. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya.” (QS: Al-Ma’idah: 32).

Menghilangkan nyawa seorang mukmin dosanya lebih berat dari hancurnya dunia. Artinya, darah dan nyawa seorang mukmin harus dihormati, dijaga, tidak boleh ditumpahkan karena ia lebih mahal dari apa yang ada di dunia. Rasul ﷺ  bersabda:

لقتل مُؤمن أعظم عِنْد الله من زَوَال الدُّنْيَا

“Sungguh, pembunuhan atas seorang mukmin itu lebih besar dari pada luluh lantaknya dunia di sisi Allah.” (HR. Tirmidzi).

Jangankan menumpahkan darah orang beriman, kita juga dilarang menghilangkan nyawa orang kafir yang mengikat perjanjian dengan kita atau disebut kafir dzimmi. Beliau, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Siapa yang membunuh (kafir) mu’ahad (terikat perjanjian damai) maka dia tidak akan dapat mencium wangi surga. Padahal harumnya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).

Mari kita renungkan, membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian damai, mendatangkan hukuman berupa tidak bisa mencium bau Surga, apalagi jika pembunuhan itu dilakukan kepada orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika untuk membunuh orang yang terikat perjanjian saja sedemikian halnya, lalu bagaimana dengan membunuh seorang Muslim?

Jama’ah yang dimuliakan Allah

Menurut Nabi, pelaku pembunuhan adalah orang yang putus asa dari rahmat Allah. Beliau bersabda:

مَن أعانَ علَى قَتلِ مؤمنٍ بشَطرِ كلِمةٍ لقيَ اللَّهَ عزَّ وجلَّ مَكْتوبٌ بينَ عَينَيهِ آيسٌ مِن رحمةِ اللَّهِ

“Barangsiapa membantu pembunuhan atas seorang muslim walau dengan sepenggal kata niscaya akan bertemu dengan Allah sedangkan di antara kedua matanya tertulis ‘orang yang putus asa dari rahmat Allah ta’ala’.” (HR:Ibnu Majah).

Siapa saja yang turut andil dalam aksi pembunuhan, baik pihak pemberi dana, pemberi senjata,  sutradaranya hingga eksekutor di lapangan, siapa pun yang punya andil, sekecil apapun andil dan sahamnya, kelak tertulis di antara kedua matanya, “Aayisun min Rahmatillaah (Orang yang putus asa dari rahmat Allah).”

Saudara-saudaraku sekalian

Dari uraian khutbah ini kita bisa menarik kesimpulan betapa besarnya dosa yang akan ditanggung kepada mereka yang membunuh tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Berapa beratnya beban yang dipikul oleh para pembunuh.

Hidupnya akan terisi kegelisahan, ketidakbahagiaan, kegundahan, wajah-wajah mukmin yang mereka bunuh akan terngiang-ngiang di benak para pembunuh dan pembantai sepanjang hidupnya. Kesusahan yang mereka rasakan akan lebih mereka rasakan di akhirat. Allah SWT tidak tidur. Allah Maha Tahu kekejaman dan kekejian yang telah mereka lakukan kepada orang-orang beriman yang telah mereka bunuh.

Semoga Allah SWT melindungi diri kita dan keluarga dari perbuatan yang keji agar kita selamat dari berbagai hukuman yang sangat menakutkan di akhirat itu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتِلَاوَتِهِ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ  فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَر، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَر.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْن، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَن وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

__________

Penulis, pengajar di Pesantren Daruttauhid Malang dan Anggota Bidang Dakwah Rabithah Alawiyah Jawa Timur

Sumber : www.hidayatullah.com