Meneguhkan Tauhid Saat Sakit⁣


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣

Ada dua macam nikmat, yakni nikmat muqayyadah dan nikmat muthlaqah. Nikmat muqayyadah adalah segala nikmat yang dapat membawa manusia kepada kebaikan, dapat pula membawa manusia kepada keburukan. Kesehatan, kebugaran, harta, kecerdasan, waktu luang, keahlian (meskipun dalam bidang agama) adalah sebagian di antara contoh nikmat muqayyadah. Di saat sehat orang bisa sungguh-sungguh taat terhadap syari’at, tetapi sehat juga dapat menggelincirkan manusia kepada maksiat maupun perilaku terlaknat. Maka sehat bukanlah nikmat yang memastikan kebaikan. ⁣
Betapa banyak yang di saat sakit justru sangat dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Ia memurnikan tauhid dan tidak berpengharapan selain hanya kepada Allah Ta’ala, tetapi begitu sembuh lain lagi ceritanya. Itu sebabnya ketika sakit, saya sering mengingatkan agar orang yang mendo’akan sembuh tak sekedar sembuh, melainkan sembuh yang penuh barakah. Apalagi jika yang datang bukannya mendo’akan, melainkan mengajari takabbur kepada Allah, “Semangat, Pak. Bapak pasti kuat melawan sakit ini.”⁣
Tidak. Sakit itu bukan pertarungan antara kita dengan kondisi sakit. Takabbur orang yang mengatakan bahwa mental yang kuat akan menjadikan kita sebagai pemenang melawan penyakit. Ia bergantung kepada diri sendiri, sedangkan Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk berdo’a agar kita tidak bergantung kepada diri sendiri walaupun hanya sekejap mata. Kita hanya bergantung kepada Allah Ash-Shamad; Dzat yang hanya Dia saja tempat bergantung.⁣
Lalu apa itu nikmat muthlaqah? Nikmat yang mengantarkan kepada keselamatan dan kebahagiaan akhirat, yakni Al-Islam yang kita semua dilahirkan dalam keadaan di atas al-Islam. Tugas kita menjaganya dan tidak mengotori dengan maksiat, syirik maupun kezaliman.⁣
Setiap nikmat muqayyadah adalah ujian. Begitu pula tetapnya, berkurangnya maupun bertambahnya juga merupakan ujian. Sesiapa yang lulus dalam ujian itu, maka ia termasuk orang-orang yang bersyukur, yakni orang yang tetap memuji Allah Ta’ala dengan sebenar-benar pujian dalam segala keadaan, menegakkan imannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebaik-baiknya, mengikrarkan syukurnya kepada manusia dan menggunakan nikmat itu untuk mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Seorang mukmin yang lulus ketika diberi ujian sakit bukanlah mereka yang sembuh dengan sempurna, tetapi mereka yang tetap bertawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam berusaha dan menegakkan tauhid dalam segala keadaan. Sakit itu bukanlah pertarungan melawan penyakit. Bukan. Tetapi sakit adalah ujian yang membedakan manusia menjadi dua; orang-orang yang bersyukur dia tetap beriman, gigih, tawakkal dan senantiasa menegakkan isti’anah (memohon pertolongan) hanya kepada Allah Ta’ala; orang-orang yang kufur, dia bertawakkal kepada selain Allah saat berusaha, atau dia berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Mari sejenak kita mengingat seraya tadabbur terhadap do’a memohonkan kesembuhan sebagaimana kita dapati dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.⁣
‘Abdul ‘Aziz dan Tsabit pernah menemui Anas bin Malik. Tsabit berkata, “Wahai Abu Hamzah (gelaran dari Anas), aku sakit.” Anas berkata, maukah aku meruqyahmu (mengobatimu) dengan ruqyah Rasulullah ﷺ.” Tsabit pun menjawab, “Tentu.” ⁣
Lalu Anas membacakan do’a:⁣
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا⁣
“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, Penghilang segala yang membahayakan, sembuhkanlah. Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu; kesembuhan yang tidak kambuh lagi.” (HR. Bukhari & Muslim).⁣
Perhatikan dan hayati, cermati dan renungi sepenuh keyakinan. Do’a ini diawali dengan pengakuan saat meminta, bahwa Allah adalah tuhannya seluruh manusia; tuhan yang menciptakan semua manusia tanpa terkecuali. Penyebutan “rabb” merujuk kepada kedudukan Allah ﷻ sebagai pencipta yang Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu; Maha Memelihara. ⁣
Selanjutnya kita juga berikrar, menyatakan pengakuan bahwa Allah ﷻ adalah Dzat Yang Menghilangkan segala sesuatu yang membahayakan ﷻ Maknanya adalah bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala dan sungguh-sungguh hanya Allah ﷻ semata yang maha kuasa untuk menghilangkan penyakit dan kesusahan pada diri setiap manusia. Kita mengawali do’a dengan mengatakan pengakuan kita bahwa hanya Allah ﷻ yang dapat menghilangkan segala kesusahan dan atas perkenan-Nya semata segala upaya menghilangkan kesusahan akan dapat membawa manusia keluar dari kesusahan.⁣
Pengakuan ini sekaligus sebagai pengharapan kita agar selain memberi kesembuhan, Allah ﷻ juga menghilangkan kesusahan. Kadang ada yang sembuh dari sakitnya, tetapi tidak hilang kesusahan maupun bahaya dari dirinya. Maka kita mengawali do’a dengan menyatakan pengakuan bahwa sesungguhnya Allah ﷻ Dzat Yang Maha Menghilangkan Segala Kesusahan. Ini kita ikrarkan sesudah menyatakan pengakuan setulus-tulusnya bahwa Ia Rabb seluruh manusia karena kita berharap Allah Ta’ala karuniakan kesembuhan dan sekaligus hilangkan kesusahan serta bahaya darinya.⁣
Selanjutnya, barulah kita memohon kesembuhan dengan menyampaikan hajat kita, “Sembuhkanlah (اشْفِ)”. Sangat ringkas dan singkat karena yang perlu kita mohonkan hanyalah yang paling pokok. Bukankah Allah Ta’ala Maha Tahu, Maha Bijaksana dan Maha Penyayang?⁣
Sesudah itu, kita kembali menyatakan kalimat pengakuan dengan tatkala mengucapkan “أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا”. Inilah pengakuan yang saling menegaskan, saling menguatkan dan memurnikan pengakuan tauhid kita bahwa hanya Allah dan semata-mata Allah saja yang menentukan kesembuhan. Tidak ada kesembuhan kecuali hanya dari-Nya.⁣
Mari kita ingat kembali maknanya dan perhatikan dengan sepenuh keyakinan, “Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu; kesembuhan yang tidak kambuh lagi.”⁣
Inilah yang harus kita yakini. Ini pula yang harus kita pegangi kuat-kuat. Bila perlu kita gigit dengan gigi geraham kita agar keyakinan bahwa hanya Allah dan semata-mata Allah yang dapat memberikan kesembuhan kepada kita atau siapa pun yang sedang sakit. Maka kepada-Nya kita meminta pertolongan (isti’anah). Dan sesungguhnya isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) itu merupakan konsekuensi dari shalat kita; dari bacaan Fatihah kita. Bukan setiap shalat kita berikrar “hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”?⁣
Apakah kita tidak boleh berobat? Boleh, bahkan harus. Apakah kita tidak perlu berobat? Sangat perlu sebagai bentuk tawakkal kita dan sikap tidak berputus asa dari rahmat Allah, bahkan ketika tampaknya sudah tidak ada harapan.⁣
Nabi ﷺ bersabda:⁣
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ⁣
“Semua penyakit ada obatnya. Jika sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (HR Muslim).⁣
Dari Usamah bin Syariik radhiyaLlahu ‘anhu, ia berkata: “Aku berada di samping Nabi ﷺ kemudian datang seseorang dan berkata, “Ya RasulaLlah, apakah aku perlu berobat?” ⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غير داء واحد ⁣
“Ya, wahai hamba Allah, berobatlah Sesungguhnya Allah tidak memberikan penyakit, kecuali Allah juga memberikan obatnya, kecuali untuk satu penyakit.” ⁣
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ قَالَ الْهَرَمُ⁣
Orang tersebut bertanya, “Ya RasulaLlah, penyakit apa itu?” ⁣
Rasulullah ﷺ bersabda, “Penyakit tua.”⁣
Dalam riwayat lain disebutkan:⁣
إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ وَأَنْزَل لَهُشِفَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ و جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ⁣
“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR Ahmad dan yang lainnya, shahih).⁣
Ini mengisyaratkan bahwa berobat itu penting. Mencari tahu apa obatnya juga penting. Tetapi harus kita ingat bahwa tidak akan pernah ada kesembuhan, kecuali dengan izin Allah. Bi idzniLlah. Kesesuaian obat dengan penyakit yang diobati itu jelas penting dan sungguh sangat penting. Tetapi jika Allah tidak izinkan terjadi kesembuhan, maka kesembuhan itu tidak pernah terjadi. Karena itu jangan takabbur dengan mengatakan, “Nggak usah repot-repot. Begitu merasa sakit, langsung saja kasih ini. Dijamin penyakitnya pasti kabur.”⁣
Jangan pula berkata seolah dapat menentukan takdir, semisal, “Kemenangan hanya milik mereka yang mentalnya kuat. Jika Anda tenang dan mental Anda kuat, maka Anda pasti akan keluar sebagai pemenang melawan pandemi ini.”⁣
Merinding rasanya ketika mendengar kalimat-kalimat semacam ini terus-menerus diucapkan manusia semenjak awal pandemi; dari yang muslim maupun kafir, dari yang alergi kepada agama maupun yang tampak bersemangat kepada agama ini. Maka alangkah perlu kita menjaga diri dari syubhat-syubhat yang berkelebat. ⁣
Hari-hari ini banyak saudara kita yang sakit. Tidak sedikit pula justru ada di antara kita yang sakit. Siapa pun itu, hendaklah sakit menjadikan kita semakin memurnikan tauhid, menjaganya dan memeganginya dengan kokoh. Kita berobat dengan segala upaya syar’i; melakukan langkah-langkah medis maupun non medis yang dibenarkan oleh ilmu, yakni memiliki landasan ilmiah, tidak berputus asa terhadap pertolongan-Nya dan menguatkan isti’anah kita hanya kepada Allah Ta’ala seraya mengingat bahwa hanya Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa menyembuhkan siapa saja yang ia kehendaki,⁣
Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah. Semoga upaya-upaya kita, begitu pula keyakinan kita, tidak menyelisihi rangkaian ucapan do’a memohonkan kesembuhan sebagaimana yang telah dituntunkan oleh RasuluLlah Muhammad ﷺ sebagaimana kita dapati dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim tersebut.⁣

Mohammad Fauzil Adhim⁣, Penulis Buku-buku Parenting

Jangan Pernah Membenci Nasihat


Oleh : Imam Nawawi

Kala jiwa manusia enggan bahkan benci terhadap nasihat, maka ia berada dalam kondisi sakit yang amat berbahaya. Karena boleh jadi, seseorang yang benci nasihat jiwanya dalam keadaan sakit yang akut, sehingga matanya buta, telinganya tuli dan hatinya terkunci mati dari memahami kebenaran. Perkataan yang ia suka hanyalah yang berupa sanjungan, pujian, dan segala macam yang melenakan. Walaupun sebenarnya ia tahu bahwa itu hanyalah kepalsuan. 

Namun, kala jiwa sakit, maka yang berkuasa di dalam diri adalah hawa nafsu.
Hawa nafsu inilah yang menjadikan jiwa manusia tidak butuh terhadap nasihat, sampai-sampai ia memusuhi sang pembawa nasihat, hingga akhirnya ia terus terjerumus pada kezaliman. 

Nasihat dari Imam Al-Ghazali 

Menjelaskan perihal nasihat, Imam Ghazali menulis satu kitab yang diberi judul “Ayyuhal Walad.” Imam Al-Ghazali menuliskan, “Wahai anakku, menasihati itu mudah, yang sulit adalah menerimanya, karena bagi penurut hawa nafsu nasihat itu terasa pahit.” Terasa pahit itu hadir dalam lidah orang yang tubuhnya sedang sakit. Seperti itulah kala jiwa tidak sehat, nasihat terasa pahit, tidak enak. Namun bagaimanapun itu amatlah diperlukan. Imam Al-Ghazali kemudian meneruskan penjelasannya. “Sebab hal-hal yang dilarang lebih disukai oleh hati mereka. Terlebih lagi bagi penuntut ilmu rasmi (yang didapat karena kebiasaan, bukan dengan maksud diamalkan) yang sibuk mencari kedudukan diri dan kepentingan dunia. Dia mengira bahwa ilmu yang dimiliki itu sendiri yang akan menjadi penyelamat baginya, dan tidak perlu mengamalkannya. Inilah keyakinan para filsuf.” 

Kemudian Al-Ghazali menyampaikan hadits Nabi, “Manusia yang paling keras siksaannya pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang berilmu tetapi Allah tidak memberi manfaat dengan ilmunya.” (HR. Thabrani). 

Nasihat Luqman Kepada Anaknya 

Berbicara nasihat kita tidak bisa lepas dari sosok Luqman. Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menulis bahwa pernah Luqman memberi nasihat kepada anaknya. “Wahai anakku! Butir kata yang berisi hikmah dapat menjadikan orang miskin dimuliakan seperti raja.” Sebuah penjelasan bahwa manusia tidak diukur dari jumlah saldo di dalam rekeningnya. Melainkan seberapa jauh hikmah yang dapat ia sampaikan. Tidaklah seseorang sampai kepada hikmah, melainkan ia komitmen dalam hidupnya untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki. 

Nasihat dalam Pergaulan Luqman juga memberi nasihat kepada anaknya perihal pergaulan. “Hai anakku! Jika masuk ke suatu majelis, panahkanlah panah Islam, yaitu salam, kemudian duduklah agak ke tepi dan jangan bercakap sebelum orang bercakap. Kalau yang mereka percakapan itu adalah soal ingat akan Allah, duduklah dalam majelis itu agak lama. Tetapi kalau pembicaraan hanya urusan-urusan dunia saja, tak perlu engkau campur bicara dan dengan cara teratur tinggalkanlah majelis itu dan pergilah ke tempat lain.”

Semoga dengan hadirnya uraian ini ada kebaikan yang datang di dalam hati kita sekalipun sebesar atom, maka Insha Allah kesehatan hati akan datang. Sebab ketika diri sadar bahwa hati harus dijaga dari penyakit yang disebabkan hawa nafsu, maka secara berangsur diri akan cinta kepada ilmu dan kebenaran.* Mas Imam Nawawi


Sumber : https://masimamnawawi.com/jangan-pernah-membenci-nasihat/ .

Mengapa Wanita itu Mau Menikah Dengan Saya?


Oleh : Jamil Azzaini

Ada seorang wanita yang sangat cantik, cerdas, lembut dan sangat supel dalam pergaulan. Ada seorang lelaki yang jatuh cinta dengannya dan ingin mengenalnya lebih dekat. Setelah keduanya saling berkenalan, sang wanita sering menyapa sang lelaki sehari minimal 5 kali melalui smartphone yang ia punya. Bahkan sang wanita terkadang menyapanya saat orang masih terlelap tidur. Karena interaksi yang sangat intensif, lelaki itu pun semakin jatuh cinta. Dan gayung pun bersambut, wanita itu jatuh cinta juga kepada lelaki yang memiliki banyak rumah dengan perobatan lengkap ini.

Lelaki yang hidupnya sudah mapan itu semakin tergila-gila dengan wanita idamannya, apalagi apapun yang ia minta, selalu dipenuhi oleh sang wanita. Saat sang lelaki meminta untuk sedikit menurunkan berat badannya, wanita itu pun melakukan diet, dan akhirnya berat badannya sesuai harapan sang Lelaki. Tentu, perjaka ting-ting itu yang kaya raya ini, semakin klepek-klepek dengan sang wanita.

Karena mereka berdua sudah dilanda asmara, akhirnya mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan di waktu yang disepakati. Akad pernikahan dengan protokol kesehatan yang ketat pun terjadi. Meski yang hadir di pernikahan terbatas, mereka berdua benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Di malam pertama, di kamar pengantin, sang lelaki mengajukan pertanyaan sederhana kepada istrinya “duhai adinda, bolehkah saya tahu, apa alasan terbesarmu mau menikah denganku?” Sanga wanita nan rupawan itu menjawab merdu “Aku menikahimu karena ingin mendapatkan salah satu rumah milikmu dengan perabotan lengkap di dalamnya.” 

Mendengar jawaban itu, sang lelaki tentu sangat kecewa. Dia berkata dalam hati “oh, ternyata dia menikahiku bukan karena jatuh cinta kepadaku, tetapi berharap dengan fasilitas yang saya punya.” Meski kecewa, karena lelaki itu sudah sangat mengasihi dan juga sangat sayang, ia tidak menceraikannya. Kepada wanita itu, ia berikan rumah terindah yang ia punya lengkap peserta perabotan dan pembantunya. Namun, sang lelaki tidak pernah mau lagi melihat sang istri. Ia pun tidak mau bila sang istri ingin berjumpa melihat wajahnya.

Begitulah ibarat seseorang yang rajin beribadah, rajin sholat bahkan tahajud, dan juga rajin puasa namun niat beribadahnya karena ingin mendapat surga, bukan karena Cinta yang tulus kepada Allah SWT (meski tentu Allah SWT tidak bisa dibandingkan dengan siapapun dan apapun). Boleh jadi kelak, surga didapatkan oleh sang ahli ibadah, namun ia tidak pernah ditengok oleh Allah SWT, tidak juga bisa melihat wajah Sang Maha Kekasih. Bukankah niatnya untuk mendapatkan surga sudah ia dapatkan?

Karena pentingnya niat yang tulus hanya karena berharap cinta dan rahmatnya Allah SWT, seorang sufi ternama Rabi’ah Al Adawiyah pernah berkata : “Ya Allah, kalau aku menyembah-Mu karena menghindar dari neraka-Mu, campakkan saja aku ke neraka. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap surga, tutup pintu-Mu rapat-rapat, tapi kalau aku menyembah karena mengharap Cinta dan rahmat-Mu, jangan pisahkan aku dari rahmat-Mu,”

Duduklah sejenak dan renungkan, selama ini, apa niat terdalam dalam hati kita saat beribadah dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Benarkah karena berharap cinta dan rahmat dari Allah SWT? Wallahu ’alam bishawab.

Jamil Azzaini, Penulis dan Trainer Sukses Mulia

Sumber : www.jamilazzaini.com

Aku Sakit Kenapa Engkau Tak Menjenguk-Ku⁣


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣, S.Psi.

Ada hadis riwayat Muslim yang terdengar sangat puitis. Inilah qudsi berderajat shahih yang menunjukkan betapa Allah ‘Azza wa Jalla menyayangi hamba-hamba-Nya yang sedang sakit. Sesungguhnya Allah ﷻ kelak di hari kiamat akan bertanya, “Hai Anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa engkau tidak menjenguk-Ku?”⁣
Jawab Anak Adam, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku harus menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”⁣
Allah ﷻ berfirman, “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya?”⁣
“Hai Anak Adam, Aku minta makan kepadamu tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku makan?”⁣
Jawab Anak Adam, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau Tuhan Semesta Alam?”⁣
Firman Allah ﷻ, “Apakah engkau tidak tahu hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkannya di sisi-Ku?”⁣
“Hai Anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum?”⁣

Jawab Anak Adam, “Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau Tuhan Semesta Alam?”⁣
Allah ﷻ berfirman, “Hamba-Ku si fulan minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum, maka sudah pasti engkau mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR. Muslim).⁣
Apakah mungkin Allah ﷻ sakit? Tentu saja tidak. Sama sekali tidak mungkin. Akan tetapi Allah ﷻ menggunakan ungkapan itu untuk menunjukkan betapa sesungguhnya orang-orang yang sakit itu, apabila ia ridha dengan sakitnya dan tidak berputus asa terhadap kasih-sayang-Nya, maka tidak ada yang lebih dekat dengannya melebihi dekatnya Allah ﷻ dengan dirinya. Maka inilah saat setiap rasa sakit menggugurkan dosa-dosa, setiap kali ridha dengan ujian yang diterima akan menaikkan derajatnya di sisi Allah ﷻ dan pada setiap helaan nafas yang ia hembuskan untuk berdo’a, maka Allah ﷻ sungguh-sungguh mendengarkannya. ⁣
Do’a orang yang sakit serupa dengan do’a para malaikat. Itu sebabnya kita dianjurkan untuk meminta do’a kepada orang yang sakit. Setiap kali kita berkesempatan untuk menjenguk, atau berkomunikasi dengan orang yang sakit, maka saat itulah kita perlu memohon agar ia berkenan mendo’akan kita dengan do’a-do’a yang terbaik.⁣
RasuluLlah ﷺ bersabda:⁣
إِذَا دَخَلْتَ عَلَى مَرِيضٍ فَمُرْهُ أَنْ يَدْعُوَ لَكَ فَإِنَّ دُعَاءَهُ كَدُعَاءِ الْمَلَائِكَةِ⁣
"Jika kamu mengunjungi orang sakit maka mintalah agar ia mendo'akanmu. Sebab do`anya seperti do`a para malaikat." (HR. Ibnu Majah).⁣
Hari ini, tidak semua yang sakit boleh dijenguk, meskipun kerabat maupun kerabat dekat dan sahabat sangat ingin berkunjung dan menyapa. Sedih? Saya tidak mengingkari jika ada yang merasakan seperti itu. Tetapi pada saat yang sama, keadaan ini menjadikannya semakin dekat dengan Allah, bahkan di saat ia tidak sedang berdo’a. Allah hadir di sisinya. Maka inilah saat-saat yang paling dekat sekaligus paling tepat untuk berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah saatnya setiap lantunan do’a, meski ia ucapkan dengan terbata-bata, sungguh-sungguh Allah Ta’ala muliakan dan junjung tinggi.

Mohammad Fauzil Adhim⁣, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting

Pak Guru Sembodo, Sang Mujahid Dakwah itu Telah Kembali

Pak Guru Sembodo, celana putih, foto diupload 28 Juni 2013

Oleh : Mahmud Thorif

Nama Beliau R. Bagus Priyosembodo, seorang Ustadz yang malang melintang mengajarkan tentang Al Islam ini kepada ummat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagian kami biasa memanggil Ustadz Sembodo ini dengan sebutan Pak Guru, karena Beliau adalah guru kami selama ini. Beliau telah mengajarkan kepada kami, tentang istikomah dalam berdakwah, yang tak pernah absent dalam memberikan kajian-kajian, bahkan kadang saya sendiri yang merasa malu, karena sering tidak hadir dalam majelis Beliau.

Beliau aktif menulis di Majalah Fahma, majalah pendidikan dan parenting yang dirintis oleh beberapa anak muda, Pak Saryo, Pak Makruf, Mas Ilyas, dan saya sendiri yang terbit sejak tahun 2005. Nama Pak Guru kami ukir dalam majalah mungil di susunan redaksi majalah ini, sebagai Redaktur Ahli. Tulisan-tulisan Beliau bisa Anda nikmati dalam label #KajianUtama (InsyaAllah secara spesifik akan saya berikan label #GuruSembodo sehingga mudah untuk mencari tulisan Beliau).

Diskusi-diskusi kecil yang kadang menghasilkan ide besar dan brilian kadang kami lakukan bersama Beliau. Kajian-kajian yang diselenggarakan menghadirkan Beliau selalu penuh dihadiri oleh jamaah yang haus akan ilmu, yang rindu akan nasihat.

Namun apakah dakwah Beliau selalu mulus? Tidak jendral! Tidak! Kajian Beliau pernah dibubarkan oleh orang-orang yang tidak senang. Apakah Beliau putus asa lalu berhenti menjadi mujahid dakwah? Tidak bro! Tidak! Beliau tetap melangkahkan kaki dengan gagah, terus malantangkan kalimat-kalimat tauhid nan penuh hikmah kepada jamaah. 

Pada hari Ahad, 8 Dzulhijjah 1442 H atau bertepatan dengan 18 Juli 2021 M, Pak Guru kami, Ustadz R. Bagus Priyosembodo meninggal dunia. Sebuah kabar yang membuat tulang ini menjadi lunglai, membuat mata ini sembab karena menahan air mata.

Berkelebat dalam pikiran saya kenangan-kenangan bersama Beliau. Asyik dan gamblangnya Beliau menjelaskan tafsir Al-Qur'an, menjelaskan tafsir Hadits, menjelaskan aqidah, dan menjelaskan tentang fiqih-fiqih kepada kami. 

Perjumpaan saya dengan Beliau adalah ketika diakhir-akhir pekan bulan Ramadhan 1442 H/2021 M di rumah Dr. Subhan Afifi, M.Si. saat menjelang berbuka puasa, dan berbuka puasa. Beliau tetap hadir di tengah kesibukan Beliau mengisi ceramah-ceramah di bulan Ramadhan kala itu.

Beliau hadir dan memberi motivasi kepada kami yang hadir pada waktu itu, ada Dosen  Psikologi UII, Bapak Irwan Nuryana Kurniawan, ada Pak Doktor Komunikasi UII, Bapak Subhan Afifi selaku tuan rumah, ada juga Dosen Desain Grafis, Bapak Budi CC Line, ada juga Mas Galih Setiawan, orang yang paling sangat berjasa di balik layar Majalah Fahma, ada juga Mas Kanjeng Ilyas, kepada Beliaulah urusan keuangan Majalah Fahma ini diberikan. Keputusan dari pertemuan kecil itu adalah terus berdakwah melalui tulisan di Majalah Fahma.

"Ternyata, kunci dari itu semua adalah ISTIQOMAH." Begitu ungkapan Beliau yang bisa saya tangkap ketika itu. Satu kata yang sangat berat dijalankan oleh diri saya sendiri.

Kini Beliau telah pergi meninggalkan kami, semoga Guru Sembodo ditempatkan di sorga bersama para syuhada, bersama orang-orang sholeh, bersama para nabi, bersama para thabiit dan thabiin. 

Selamat jalan wahai Guruku, selamat jalan wahai Mujahid Dakwah.

Santrimu yang kadang imannya tidak menentu, Mahmud Thorif

Nasehat Kematian


Hari-hari ini, berita kematian sering sekali kita terima, baik melalui media televisi, radio, koran, media online, sosial media, di dusun-dusun melalui toa masjid. Kematian orang-orang yang kita sayangi, ada orang tua, saudara kandung, teman dekat, tetangga, ustadz-ustadz kita, guru-guru kita, kabar kematian itu begitu menyesakkan dada, melunglaikan tulang belulang kita, membuat air mata ini menetes, sehingga membuat merah mata ini, kadang ketika iman ini sedang menghunjam ke bawah bersuudzon kepada Allah Ta'ala, bahwa seakan Allah tidak adil terhadap kita.

Kematian memang akan datang bukan kepada orang-orang yang sudah tua renta saja, tapi kematian itu akan datang kepada siapa saja, apakah itu anak kecil, remaja, orang dewasa. Ia tidak mengenal ruang dan waktu. Kematian akan datang disaat kita sedang sibuk atau senggang waktu, sedang beribadah atau bermaksiat, sedang iman naik atau ketika iman ini menurun. Itulah kematian yang datang secara tiba-tiba. 

Apalagi dimasa pandemi covid-19 yang akhir-akhir ini semakin menggila. Durasi kabar kematian menjadi nyanyian sehari-hari para wartawan televisi, koran, dan media online lainnya. Informasi kematian bisa dibaca di seluruh grup-grup WA yang kita miliki, di media-media sosial yang kita ikuti. Kabar yang kadang membuat kita merinding, kabar yang mau tidak mau harus kita dengar dan lihat setiap hari.

Kematian adalah sebuah nasehat kepada manusia yang masih diberi kehidupan. Maka Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam mengajarkan kepada ummatnya untuk berziarah kubur agar mengingat begitu dekatnya kematian. Maka alangkah beruntung manusia yang menyiapkan bekal untuk kematiannya, dengan bekal takwa.

Semoga kelak, ketika kematian ini menghampiri kita, semua kita diberi husnul khatimah, diberi akhir yang baik, sehingga tiada balasan bagi orang-orang beriman ini balasan sorga.

Wallahu a'lam bishawab

Berikut sebuah nasyid tentang nasehat kematian "Selimut Putih"


TMT

Foto SindoNews

Mari Lindungi Anak-anak di Zaman Fitnah


SEBUAH media online membuat judul yang cukup membelalakkan mata para orang tua. “4 ABG Terlibat Kejahatan Jalanan, Mulai dari Begal hingga Penipuan, Hasilnya untuk Foya-foya”.  Berita mengisahkan empat anak baru gede (ABG) yang terlibat serangkaian kejahatan jalanan,  mulai dari begal hingga penipuan di wilayah Surabaya Timur, Jawa Timur.

Yang mengagetkan, usia mereka antara 15-17 tahun. Hasil tindak pidana pencurian itu digunakan para pelaku untuk foya-foya.

Tahun lalu, kita juga dikejutkan berta 37 pasangan remaja yang digerebek tengah melakukan pesta seks di Jambi. Mereka tertangkap tim gabungan TNI/Polri yang sedang melakukan razia penyakit masyarakat (pekat) bersama pemerintah Kecamatan Pasar Kota Jambi.

Tim mengamankan puluhan remaja di kamar hotel, rata-rata mereka berusia antara 13- 15 tahun. Sebagian dari mereka yang terjaring di hotel itu bahkan merayakan ulang tahun dengan cara pesta seks.

Anak-anak kita yang masih kecil itu jangan dikira hanya diam terhadap perkembangan yang terus bergerak maju di lingkungannya. Apalagi di era digital ini,  merepa mudah menyerap informasi, yang seharusnya belum waktunya. Mereka bisa melakukan apa saja hanya cukup di dalam kamar.

Anak-anak dengan memori pikirannya yang masih baik, seharusnya diisi dengan informasi dan ilmu yang baik pula. Namun gegap gempita dunia komunikasi dan informasi, membuat mereka lebih mudah menerima apasaja, hatta, hal-hal yang tidak seharusnya. Inilah zaman fitnah.

Akibatnya sungguh sangat fatal. Mereka berkembang liar di tengah lingkungannya sendiri.

Mereka beramai-ramai mendemonstrasikan makna-makna kehidupan dalam imajinasi kenikmatan yang dijabarkan dengan versinya sendiri. Sehingga ketika mereka pulang, orang tua pun kehilangan kemampuan untuk mengendalikan.

Kita kemudian seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ada temali yang terputus. Benang nasihat terlepas sebelum keyakinan dan keimanan kita berikan sebagai bekal menghadapi gelombang kehidupan.

Sebagai orang tua kita dituntut untuk selalu mawas diri agar keluarga dapat selamat dari bahaya peradaban yang semakin kelam ini.

Pelajaran dari Luqman al-Hakim

Semestinya kita tidak melepas anak-anak kita begitu saja sebelum memberinya bekal yang cukup. Sekalipun mungkin berbagai nasihat sering dinilai sebagai kolot, namun selagi hal itu akan menyelamatkan perjalanan hidup mereka dan keselamatan aqidah, tetap harus ditegakkan.

Kelonggaran kita selama ini cenderung terdorong oleh perasaan-perasaan; cinta kasih dan rasa sayang berlebihan, yang justru menyusahkan mereka di kala dewasa. Mereka menjadi lebih mudah goyah dan kehilangan kendali.

Mengenai hal ini Luqman memberikan pelajaran:

اِذۡ قَالَ لُقۡمٰنُ لِا بۡنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِاللّٰهِ ‌ؕاِنَّ الشِّرۡكَ لَـظُلۡمٌ عَظِيۡمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS: Luqman: 13).

Sebelum anak-anak kita lepas dan berinteraksi dengan kehidupan, kita berkewajiban menanamkan ke dalam jiwa mereka rasa ketergantungan hanya kepada Allah swt. Hendaklah mereka jangan dilepas begitu saja hingga keliru mengambil sandaran dan pegangan selain kepada Allah dan kitab-Nya.

Arahkan penidikan aqidah ini sebagai basis yang kuat sebelum mereka mengayunkan langkah pertamanya. Menanamkan keyakinan perihal kekuasaan Allah ini harus diutamakan.

Sebab kekokohan aqidah akan membawa pengaruh yang sangat besar bagi motivasi hidup anak, utamanya untuk memelihara dan menyelamatkan imannya dari banyak godaan. Bila nama Allah sudah tegak, maka pribadi mereka akan terbentuk dengan tegak dan kokoh pula.

Selanjutnya Luqman berkata:

يٰبُنَىَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَاۡمُرۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَانۡهَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَاصۡبِرۡ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ‌ؕ اِنَّ ذٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِ‌ۚ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS: Luqman: 17)

Jadikanlah shalat menjadi ‘perisai’ yang selalu ditegakkan ke manapun pergi. Di sini tentu perlu ketelatenan menuntun dan membimbing mereka.

Sampai terlihat bahwa shalat telah menjadi bagian dari kegiatan dan kehidupannya. Bila shalat mereka telah baik, ada jaminan mereka bisa membawa diri, masih tahu kewajibanya kepada Allah.

Sejujurnya kita (sebagai orang tua) sering tidak bertanggungjawab, dengan berlindung dibalik  kalimat  “Bukankah mereka masih kecil, mengapa harus dipaksakan untuk beribadah, nanti kalau sudah besar juga akan jalan sendiri!”

Sekalipun tidak terucap tapi sikap yang mencerminkan pengesahan pernyataan seperti itu. Anehnya, di lain waktu dengan enteng kita ‘mempersilakan’ anak-anak membaca,  menonton tayangan yang justru cenderung merusak, membiarkan pikiranya berselandar di alam maya dengan HP di kamar pribadinya . Alasannya, anak-anak itu perlu istirahat,  perlu menambah wawasan dan perlu behubungan dengan temamnya.

Padahal apakah artinya alasan istirahat,  menambah wawasan, atau berkomunikasi,  bila dibandingkan dengan mahalnya persiapan benteng iman yang kelak akan dibawa sampai di yaumul akhir?

Budak Nafsu

Yang kita harapkan adalah agar anak-anak kelak terut menciptakan suasana yang baik. Anak-anak yang bisa mencegah kemungkaran, dan dapat bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya.

Sehingga sebagai orang tua berarti kita telah menciptakan susana hidup bagai Surga. Jika anak-anak baik aqidah dan akhlaknya, keluarga akan baik dan lingkungan pun otomatis baik.

Kita tidak ingin sebaliknya. Anak dan generasi penerus kita menjadi generasi yang malah menumbuhsuburkan kejahatan dan kemungkaran. Generasi yang semata menjadi budak nafsu dan keserakahan,  hanya mementingkan kepuasan yang sifatnya sangat semu, generasi yang mementingkan dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ mensinyalir karakter mereka itu seperti yang termaktub dalam hadits berikut:

سيأتي على الناس زمان همتهم بطونهم و شرفهم متاعهم و قبلتهم نساؤهم و دينهم دراهمهم و دنانيرهم . أولئك شر الخلق لا خلاق لهم في الأخرة .

Akan tiba suatu zaman atas manusia dimana perhatian (obsesi) mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya pada kekayaan (benda) semata, kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah uang (harta, emas dan perak). Mereka adalah makhluk Allah swt yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian di sisi Allah swt di akhirat kelak. (HR. Ad-Dailami)

Generasi seperti itu hanya akan membawa pencemaran bagi lingkungannya.  Tidak ada yang bisa diharapkan dari generasi yang seperti ini selain dari musibah saja. Semoga kita semua Allah memberkahi kita keluarga yang baik dan anak-anak yang sholih dan shalihat.*

Sumber : www.hidayatullah.com

Benarkah Memotong Kuku dan Rambut Pada Bulan Dzulhijjah Bagi Pengurban adalah Haram?


Oleh : Abdullah Saleh Hadrami

PERMASALAHAN hukum memotong kuku dan rambut setelah masuk bulan Dzulhijjah bagi yang berniat untuk berkurban telah dibahas para ulama. Menurut para ulama empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Masalah ini saya tulis agar wawasan kita menjadi luas dalam masalah ini sehingga lapang dada menyikapi perbedaan dengan saling menghargai dan menghormati yang berbeda, tanpa memaksakan pendapat.

Dalil yang dijadikan landasan dalam masalah ini adalah hadits Ummu Salamah dan Aisyah Radhiyallahu ‘Anhuma.

Pertama: Hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha riwayat Imam Ahmad dan Muslim berupa larangan.

Berikut redaksinya;

حديث أم سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
(( إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي , فليمسك عن شعره وأظفاره ))
[رواه أحمد ومسلم ] ,
وفي لفظ : (( فلا يمس من شعره ولا بشره شيئاً حتى يضحي )).

Hadits Ummu Salamah –Radhialahu ‘Anha, bahwa Rasulullah –ﷺ bersabda: “Apabila telah masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Dalam lafadh (redaksi) lain: “Maka janganlah ia menyentuh (mengambil) sedikitpun dari rambut dan kulitnya sehingga ia menyembelih hewan kurbannya.”

Larangan ini hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri-istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

روى مسلم من طريق سعيد بن المسيب عن أم سلمة تقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من كان له ذِبح يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي )

فقوله ” من كان له ذِبح يذبحه ” أي أنه عينه ومن المعلوم أن الأضحية إذا تعينت لا يستطيع العبد أن يرجع عن نية الاضحية

Imam Muslim Rahimahullah melalui jalan Said bin Al-Musayyab, dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: Barangsiapa telah memiliki hewan untuk disembelih (sebagai kurbannya) maka jika telah memasuki bulan Dzulhijjah janganlah ia menyentuh (mengambil) sedikitpun dari rambut dan kukunya sehingga ia menyembelih hewan kurbannya.”

Kedua: Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha riwayat yang disepakati Bukhari dan Muslim tidak ada larangan.

Berikut redaksinya;

وعن عائشة – رضي الله عنها – قالت : “فتلت قلائد بدن النبي – صلى الله عليه وسلم – بيدي ، ثم قلدها ، وأشعرها ، وأهداها ، فما حرم عليه شيء كان أحل له”.
(متفق عليه)

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata; “Aku memintal kalung-kalung unta Nabi ﷺ dengan tanganku sendiri, kemudian Beliau mengalungkannya, memberinya tanda dan mengirimkannya (menjadikannya sebagai hadyu untuk disembelih). Maka, tidak ada sesuatupun yang tadinya halal menjadi haram bagi beliau.”.

Kesimpulannya menurut para ulama ada tiga pendapat;

1- Haram. Ini pendapat Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah.

2- Makruh, tidak haram. Ini pendapat Imam Syafi’i Rahimahullah dan Imam Malik Rahimahullah dalam salah satu pendapatnya.

3- Mubah. Ini pendapat Imam Abu Hanifah Rahimahullah dan Imam Malik Rahimahullah dalam salah satu pendapatnya.

Pendapat yang menyatakan makruh, bukan haram, adalah pendapat yang paling adil, pertengahan dan paling mudah. Juga di dalamnya terkumpul semua dalil dalam masalah ini serta memperhatikan keadaan manusia, situasi dan kebutuhan mereka yang berbeda-beda.

Kapan larangan memotong kuku dan rambut pada bulan Dzulhijjah bagi yang hendak berkurban? Menurut Qatadah, Said bin Musayyab dan sebagian ulama Madzhab Syafi’i larangan memotong kuku dan rambut berlaku setelah membeli hewan kurban dan menentukannya pada 10 hari pertama Dzulhijjah.

Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Muslim Rahimahullah melalui jalan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

( من كان له ذبح يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي )

“Barangsiapa telah memiliki hewan untuk disembelih (sebagai kurbannya) maka jika telah memasuki bulan Dzulhijjah janganlah ia menyentuh (mengambil) sedikitpun dari rambut dan kukunya sehingga ia menyembelih hewan kurbannya.”

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kita semua terutama dalam membiasakan diri memahami perbedaan pendapat para ulama sehingga wawasan menjadi luas dan menyikapi perbedaan dengan penuh hormat dan menghargai tanpa merendahkan yang berbeda dalam permasalahan furu’iyyah atau cabang-cabang agama seperti ini, karena semuanya mempunyai dalil, hujjah dan argumentasi menurut sudut pandang masing-masing, aamiin ya Robb.*/Abdullah Saleh Hadrami, Malang

Sumber : www.hidayatullah.com

Kemana Ilmu Membawa Kita?

Oleh: 
Salim A Fillah

BETAPA agungnya ilmu, betapa hebatnya belajar, dan betapa mulianya mengajar.

“Menuntut ilmu karena Allah adalah bukti ketundukan padaNya”, ujar Sayyidina Mu’ad ibn Jabal. “Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majelisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di tengah kajiannya adalah Taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikannya kepada orang yang belum tahu adalah shadaqah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah qurbah.”

api di setiap jalan keluhuran manusia, syaithan juga berjaga-jaga. Maka pada perkara seindah mengajipun, kita sewajibnya waspada. Mari berhenti sejenak untuk bertanya, ke mana buku yang kita baca, kajian yang kita cerna, dan ilmu yang kita telaah ini membawa?

Apakah mengaji ini membawa kita pada perasaan “Ana khairun minhu, saya lebih baik daripada dia”, hingga kita merasa paling berada di atas kebenaran, paling berhak atas ridhaNya dan Surga, lalu menganggap diri lebih utama dan memandang sesama remeh dan hina?

Subhaanallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, dengan ibadah yang tak tertandingi di mayapada, tapi ujungnya terlaknat sepanjang masa.

قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ

Berkata Iblis, ‘Aku lebih baik daripada dia..” (QS: Al A’raaf: 12)

Ataukah mengaji ini membawa kita pada perasaan “Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa.. Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri..”, lalu kita kian menginsyafi aneka kekurangan diri, merasa betapa lemahnya kita, betapa mudah jatuh dalam alpa, serta betapa faqir akan ampunan dan rahmatNya?

Masyaallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, dimuliakan di atas para malaikat, dipilih di antara semesta, menjadi bapak yang membawa keturunannya mewarisi bumi dunia. Dia bermaksiat, tapi bertaubat, menjadikan cinta Allah padanya berlipat-lipat.

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Berkata Adam dan Hawa, ‘Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Andainya Kau tak mengampuni dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk mereka yang rugi.” (QS: Al A’raaf: 23)

Lalu apakah mengaji ini membawa kita pada perasaan, “Innamaa utiituhu ‘alaa ‘ilmin ‘indii.. Aku diberi segala kelimpahan ini karena ilmu yang ada padaku”; hingga kita menyangka kitalah makhluq paling utama, dengan titian hidup paling gemerlap, dan sesama dengan berbagai deritanya adalah karena dosa mereka yang lebih banyak atau ibadah yang lebih cekak?

Subhaanallaah, yang seperti ini ada pendahulunya, dengan perbendaharaan yang kunci-kuncinya tak dapat dipikul orang-orang perkasa, tapi terbenamnya dia ke bumi menjadikan namanya abadi sebagai sebutan untuk harta temuan yang tergali.

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي

“Berkata Qarun, ‘Sesungguhnya aku diberi segala kelimpahan ini disebabkan oleh ilmu yang ada padaku..” (QS: Al Qashash: 78)

Ataukah mengaji ini membawa kita pada keinsyafan, “Haadzaa min fadhli Rabbi, liyabluwani a asykuru am akfur.. Ini semata-mata adalah karunia dari Rabbku; untuk menguji diriku apakah aku mampu bersyukur ataukah justru akan kufur”; bahwa bertambahnya nikmat adalah juga kenaikan jenjang ujian yang membuat kita harus kian peka menyembahkan kehambaan?

Masyaallaah yang seperti ini ada pendahulunya, dialah raja dunia yang tak hanya berkuasa atas manusia, tapi juga hewan, burung, jin, serta angin; tapi kerendahan hatinya pada Sang Pencipta membuatnya menjadi buah bibir sejarah.

هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Berkata Sulaiman, “Ini semata-mata adalah karunia dari Rabbku; untuk menguji diriku apakah aku mampu bersyukur ataukah justru akan kufur.” (QS: An Naml: 40)

Juga, apakah mengaji kita membuat kita ingin diakui dan disebut-sebut dalam gelar megah, seperti ucapan, “Innii Anal ‘Aziizul Kariim.. Sungguh aku ini orang perkasa lagi mulia”?

Subhaanallaah, yang seperti ini ada pendahulunya. Lelaki yang tak menyangkal kejujuran Rasul mulia, yang tahu benar kebenaran di pihak siapa, namun demi kepentingan dan harga diri lebih memilih membutakan hati, memusuhi, dan binasa dalam api, hingga Allah memuaskan siksa itu baginya dengan gelar yang dipilihnya. Pada Abu Jahl dikatakan:

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

“Rasakan ‘adzab ini, sungguh engkau lelaki perkasa lagi mulia!” (QS Ad Dukhaan: 49)

Ataukah mengaji ini membuat kita kian merasa berhajat pada Allah, bersangka baik padaNya, dan bersandar sepenuhnya hingga berkata, “Rabbii innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir.. Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat sangat memerlukan”?

Masyaallaah; yang inipun ada pendahulunya, seorang yang sejatinya sungguh perkasa, tepercaya, lagi mulia, yang di tengah takut, lelah, dan laparnya masih bisa menawarkan bantuan pada sesama lagi sama sekali tak meminta terimakasih dan balasan dari mereka. Cukup Allah baginya.

فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Berkata Musa, ‘Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat sangat memerlukan.” (QS Al Qashash: 24)

Kemudian apakah mengaji ini membuat kita terjangkit keinginan menyingkirkan, “Layuhrijannal a’azzu minhal adzall.. Sungguh orang mulia ini akan mengeluarkan orang hina..”; sebab kita merasa lebih berhak atas apa-apa, mana-mana, atau sesiapa di dalam perlombaan yang semu maupun yang nyata?

Subhaanallaah; yang inipun ada pendahulunya, bagai pokok kayu tersandar, memikat bicaranya, mempersaksikan isi hatinya dengan sumpah bermadah, tapi sebenarnya hatinya luka, penyakit tumbuh di sana, permusuhan dinyalakan apinya, kejahatan dibalut sutra, dan dia mengira tiap teriakan keras ditujukan padanya.

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Berkata ‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul dan pengikutnya, ‘Jika kita kembali ke Madinah, maka sungguh orang mulia ini pasti akan mengeluarkan orang hina itu.” (QS Al Munafiqun: 8)

Ataukah mengaji menjadikan cita kita sederhana tapi penuh kerendahan hati, “Tawaffanii musliman, wa alhiqnii bish shaalihiin.. Ya Allah, wafatkan aku sebagai seorang muslim yang berserah diri, dan himpunkan aku bersama orang-orang yang shalih”; merasa tak pantas menjadi orang shalih, hanya karena rahmat Allah maka teranugerahi nikmat dihimpun bersama mereka.

Masyaallaah, yang inipun ada pendahulunya, seorang bernasab terbaik, yang lika-liku hidupnya dalam Al Quran dikisahkan sebagai cerita terbaik, dengan pengisahan terbaik.

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنُيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Berkata Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim, ‘Ya Allah, wafatkan aku sebagai seorang muslim yang berserah diri, dan himpunkan aku bersama orang-orang yang shalih.” (QS: Yusuf: 101)

Dan apakah mengaji ini menjadikan kita suka berkata, “Maa uriikum illaa maa araa, wa maa ahdiikum illaa sabiilar rasyaad.. Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang kupandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”; sebab ilmu yang dikhazanahi membuat kita merasa mengetahui segala hal padahal ia nafsu diri?

Subhaanallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, abadi sebagai puncak kesombongan manusia, menjadikan diri sebagai tuan maha tinggi, lalu menganggap dia berhak memaksakan mana yang benar dan mana yang batil.

قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَىٰ وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

“..Berkata Fir’aun, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (QS: Ghaafir: 29)

Ataukah mengaji ini membuat kita mampu menghargai bahkan si kecil dalam perintah Allah yang mutlak sekalipun, “Ya Bunayya, innii araa fil manaamii annii adzbahuka fanzhur madzaa taraa.. Duhai putraku, kulihat dalam mimpi perintah Allah untuk menyembelihmu, cobalah kemukakan apa yang jadi pandanganmu”; yakni sepenuh hati memahami bahwa agama harus tegak di atas pemahaman dan tiada manfaat untuk memaksakan pengertian kita yang sungguh keshahihannya jauh dibanding mimpi di atas.

Sungguh inipun ada pendahulunya, seorang Kekasih Ar Rahman yang lulus terus dalam berlapis-lapis ujian cinta. Dia meyakini perintah Rabbnya, tapi betapa berharganya musyawarah dengan siapapun yang terdampak perintah itu.

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى

Berkata Ibrahim, ‘Duhai putraku, kulihat dalam mimpi perintah Allah untuk menyembelihmu, cobalah kemukakan apa yang jadi pandanganmu.” (QS: Ash Shaaffaat: 102)

Semoga Allah membimbing ilmu kita, belajar kita, mengajar kita; agar mengaji ini membawa kita menyusuri jalan cahaya Adam, Sulaiman, Musa, Yusuf, serta Ibrahim; bukan lorong gelap Iblis, Qarun, Abu Jahl, ‘Abdullah ibn Ubay, serta Fir’aun.

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Dan katakanlah hai Muhammad, ‘Duhai Rabbku, tambahkanlah padaku ilmu.” (QS Thaaha: 114).*

Sumber: www.hidayatullah.com FB Salim A Fillam dan twitter @Salimafillah