» » » Berjalan untuk, Bukan Jalan-jalan

Berjalan untuk, Bukan Jalan-jalan

Penulis By on Wednesday, September 4, 2019 | No comments

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Mendengar itu berbeda dengan mendengarkan. Pada kata mendengarkan ada unsur kesengajaan, perhatian dan berusaha memahami maksud. Orang yang sangat besar kecintaan serta kepercayaannya kepada seseorang dan apa yang disampaikannya, maka hanya mendengar saja telah cukup baginya untuk bersegera melakukan ketaatan. Ia lebih mudah mencurahkan perhatian untuk bersungguh-sungguh mendengarkan. Sebaliknya, tanpa penghormatan yang kuat dari dalam hati, boleh jadi ia masih perlu berpikir ulang untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, meskipun ia telah mendengarkan secara utuh perihal perintah tersebut.

Berjalan juga berbeda dengan berjalan-jalan, sebagaimana tidak setiap perjalanan adalah jalan-jalan. Jangankan ke tempat-tempat bersejarah maupun majelis ilmu, ke tempat wisata pun belum tentu perjalanan itu dapat disebut jalan-jalan. Sebaliknya jika niatnya memang jalan-jalan, bahkan mengunjungi masjid-masjid bersejarah pun boleh jadi bukan dalam rangka menegakkan ketaatan, tetapi sekedar jalan-jalan saja.

Inilah pentingnya memperhatikan dengan cermat seraya berhati-hati agar tidak salah menyimpulkan, tidak pula menggelincirkan kita pada keburukan yang sangat besar, yakni berdusta tentang Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam beserta keluarga maupun sahabat beliau. Lebih buruk lagi jika terjatuh pada dusta atas nama beliau. Apalagi jika dusta itu dilakukan secara sengaja untuk melakukan pembenaran bagi tindakan maupun jualannya.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” HR. Thabarani.

Amalan apa yang paling disukai Allah 'Azza wa Jalla? Membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Berjalan dalam untuk suatu keperluan saudara seiman (أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ) lebih dicintai oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam daripada i'tikaf sebulan penuh di Masjid Nabawi. Dalam hal kemuliaan berjalan bersama saudara sesama muslim terkait dengan keperluan yang sangat penting, khususnya berhubungan dengan amal-amal yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta'ala. Bukan berjalan-jalan.

Maka berdustalah orang yang mengatakan bahwa mengajak istri jalan-jalan untuk bersenang-senang lebih besar pahalanya dibandingkan i'tikaf sebulan di Masjid Nabawi dengan menyandarkan pada bagian terakhir hadis tadi seraya memotong bagian awalnya. Sungguh أَمْشِيَ (berjalan) tidaklah sama dengan berjalan-jalan. Sepintas sama, tetapi sangat jauh berbeda maknanya.

Apakah tidak boleh kita jalan-jalan bareng istri? Oh, boleh sekali, Tuan-tuan. Tetapi janganlah menawarkan paket wisata dengan memelintir tuntunan. Jangan. Ini perkara serius yang dapat menghapus barakah.
Cengkareng - BIM (Minangkabau), 31 Agustus 2019

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Motivator
Foto : Budi CCLINE
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya