» » Yuk, Berbagi Mainan !

Yuk, Berbagi Mainan !

Penulis By on Sunday, October 13, 2019 | No comments

OlehNur Muthmainnah

Belajar berbagi memang menjadi sebuah hal yang sangat baik untuk ditanamkan sejak usia dini, khususnya anak-anak. Perkembangan untuk saling berbagi akan menjadikan rasa syukur pada kehidupan ini akan semakin terasa. Pendidikan berbagi yang dikenalkan sejak anak-anak khususnya di sekolah akan mambawah dampak positif bagi si anak di masa yang akan datang atau dewasa. Salah satu hal yang dapat kita mulai bersama dalam mengajarkan konsep berbagi ini adalah dengan berbagi mainan. Lalu bagaimana cara mengajarkan anak berbagi?

Pendidikan anak yang dulu diberikan orangtua kepada kita akan kita rasakan juga pada masa usia tua, misalnya anak akan enggan berbagi sesuatu dengan orang tua, malas membantu dan menolong.

Kebiasaan baik perlu kita mulai dari sekarang kepada anak, ibarat sebuah tanaman kita menyirami sebuah tanaman tersebut dengan air yang baik akan menghasilkan buah yang manis pula. Ada beberapa cara dalam mendidik anak, simak beberapa tips yang mungkin bisa Anda gunakan dalam mendidik anak Anda.

Sekalipun tujuan ini baik, namun hasilnya tidak akan baik bila Anda melakukannya dengan paksaan. Memaksa anak berbagi mainan hanya akan membuat mereka tantrum, kehilangan otoritas dan tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri. Lantas bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan anak agar mau berbagi mainan? Dr. Laura Markham, psikolog klinis yang mendirikan Aha! Parenting sekaligus penulis Peacefull Parent, Happy Kids Workbook membagikan caranya

Tips mengenalkan anak konsep berbagi: 
  Ø  Tekankan prinsip “giliran”.
Ajarkan anak-anak tentang arti giliran dan praktikkan di rumah. Sebagai contoh, Anda bisa mengajaknya bermain dengan prinsip giliran. Biasanya dengan alasan karena “masih kecil”, anak-anak mendapat giliran duluan atau sesuka hatinya. Nah, hilangkan cara ini dan ikuti aturan tentang siapa dulu yang boleh bermain dan berapa lama. Contohkan pula bila gilirannya habis, maka ia harus memberikan mainan itu pada Anda, begitu juga sebaliknya. Dengan begini, ketika sedang bermain dengan anak lain, anak Anda akan terbiasa dengan prinsip giliran. Ia akan dapat mengendalikan impulsnya untuk tidak merebut mainan yang dipegang temannya hanya karena ia menginginkannya. Ia juga bisa memperlakukan temannya yang menginginkannya mainannya dengan cara yang sama

  Ø  Ajari anak membela diri.
Anak-anak tidak perlu diberi tahu kapan giliran mereka habis dan harus segera berbagi mainan mereka dengan orang lain. Jika orangtua terlalu cepat dan banyak ikut campur, kesempatan anak-anak untuk belajar membela diri sendiri dan berkompromi akan hilang. Oleh karenanya, ajarkan mereka untuk membela diri dengan mengucapkan kalimat yang tepat saat temannya meminta mainannya. Mengajari anak cara meminta giliran, cara menunggu, dan cara bergiliran adalah pengalaman belajar. Ketika mereka tidak dipaksa untuk berbagi, kesabaran, empati, dan keterampilan sosial mereka akan terlatih. Mereka akan menangani situasi yang lebih kompleks secara emosional ketika mereka tumbuh dewasa.

  Ø  Mendorong membuat aturan
      Ajarkan anak untuk membuat aturan tentang giliran bila bermain bersama. Anda bisa mencontohkan kalimat berikut, “Gantian ya. Kalau aku udah selesai, kamu boleh pinjam.”

  Ø  Ajak sharing cerita.
Saat waktu luang ajak anak untuk berbagi masalah kisah yang sudah dilakukannya pada hari ini. Ajakan seperti ini mungkin akan Anda anggap biasa saja, namun kondisi ini akan membentuk karakter anak yang terbuka kepada orangtua saat dia dewasa nanti. Sehingga Anda tidak perlu kawatir akan pergaulan anak saat remaja.  

Ø Main berbagi. 
Bermain adalah hal yang sangat disukai oleh anak-anak, saat bermain coba. Anda ajarkan kepada anak Anda cara-cara berbagi misalnya berhitung, mainan pasir, dan beberapa benda untuk sebagai contoh. Misalnya saja kue, 1/2 untuk si Ibu, dan 1/2 untuk ayah. Kondisi ini akan mengajarkan anak berbagi dan menjadikan belajar matematika.

Kini mulai ubah cara Anda dalam mengajarkan Anak Anda berbagi dengan kondisi si Anak. Karena proses ini adalah proses untuk masa depan si Anak dan Anda sendiri.
Oleh : Nur Muthmainnah, Pemerhati Dunia Anak 
Foto by : Google 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya